Work Text:
Di sebuah dusun kecil yang dikelilingi hamparan sawah hijau dan jalan tanah berdebu, hiduplah seorang pemuda bernama Hadi. Usianya baru sembilan belas tahun, namun kesepian telah lama menjadi sahabat paling setia dalam hidupnya. Sejak umur tiga tahun, kedua orang tuanya menghilang entah ke mana. Orang-orang desa hanya berkata mereka “pergi jauh”, sebuah ungkapan yang kabur namun diterima begitu saja, seperti kabut yang menyelimuti pagi tanpa pernah diminta untuk hilang. Bagi Hadi, kehilangan bukanlah air mata, melainkan kekosongan yang sunyi, yang mengisi hari-hari tanpa nama.
Hadi tinggal bersama kakeknya, seorang lelaki tua yang tubuhnya mulai bungkuk dan langkahnya pelan seperti waktu yang kelelahan. Dari kakeknya, Hadi tidak mewarisi harta, tidak pula kemewahan, melainkan keteguhan hidup dalam kesederhanaan sepiring nasi dingin yang kadang hanya ditemani garam, sepetak rumah bambu yang dindingnya mulai keropos, dan baju-baju lungsuran dari tetangga yang berhati iba.
Namun dalam keterbatasan itu, Hadi tumbuh dengan wajah lembut nyaris terlalu halus untuk seorang anak desa. Tatap matanya bening, suaranya jarang terdengar, dan geraknya pelan seolah takut menyinggung udara. Ia pemalu, sering menunduk bila disapa, tetapi di balik diamnya tersimpan rasa ingin tahu yang besar tentang dunia di luar sawah, di luar batas jalan desa yang berakhir di bukit.
Setiap sore, ketika matahari mulai condong dan kakeknya terlelap di tikar tua, Hadi duduk di beranda bambu, menatap langit jingga yang memantulkan cahaya keemasan di pelepah kelapa. Angin sore membawa aroma jerami basah dan suara jangkrik yang mulai bersahutan. Dalam hening itu, hatinya dipenuhi tanya tentang siapa dirinya sebenarnya, tentang orang tuanya yang hilang, dan tentang kehidupan yang mungkin menantinya di luar cakrawala kecil yang mengurung masa mudanya.
Namun di balik kesederhanaan hidup mereka, tersimpan sebuah rahasia yang tak pernah diucapkan dengan lantang bahkan oleh sang kakek sendiri. Hadi tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya seorang laki-laki. Itulah yang selalu dikatakan sang kakek, dan itulah yang diyakini seluruh desa. Tak seorang pun meragukannya. Bagi mereka, Hadi hanyalah seorang anak muda pemalu yang rajin membantu di sawah, pandai menimba air, dan sopan terhadap orang tua. Tak ada alasan untuk berpikir lain.
Tetapi di mata kakeknya, setiap kali memandang cucu itu, terselip kegelisahan yang tak pernah benar-benar padam. Ada sesuatu pada diri Hadi, sesuatu yang berbeda, yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Sejak Hadi kecil, saat ia baru belajar berlari di halaman, kakek kerap merasakan keganjilan yang samar, seolah alam sedang berbisik tentang sesuatu yang disembunyikan. Ia tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang ia sembunyikan dari dunia, dan waktu pun berjalan, membawa rahasia itu semakin dalam ke dalam diam.
Lalu, pada suatu malam yang dingin, di bawah cahaya lampu minyak yang bergetar oleh hembusan angin, kakek mengambil keputusan dalam batinnya yang sudah terlalu lelah. Biarlah Hadi hidup sebagai laki-laki. Biarlah dunia mengenalnya demikian. Biarlah ia tumbuh tanpa beban, tanpa tanya yang mungkin akan melukai hatinya sendiri. Ia menyimpan rahasia itu rapat-rapat, bukan hanya untuk melindungi Hadi dari cemoohan, tetapi juga karena ia sendiri tak tahu di mana letak kebenarannya. Yang ia tahu, cucunya itu berbeda dan perbedaan itu baginya bukan kutukan, melainkan misteri yang harus dijaga, setenang embun pagi yang tak pernah minta dijelaskan.
***
Hari-hari di desa berjalan lambat dan sunyi, seperti air di parit yang mengalir tanpa tergesa. Hingga pada suatu pagi, datanglah seorang pemuda asing yang mengguncang keseimbangan itu. Ia muncul dari arah jalan kabupaten dengan pakaian rapi, sepatu mengilap, dan aroma sabun yang asing bagi hidung orang desa.
Namanya Marson, seorang tabib muda yang diutus pemerintah kabupaten untuk mengabdi di pedalaman. Orang-orang menyebutnya “orang pintar dari kota”, sebab sebutan dokter terdengar terlalu megah bagi lidah mereka. Kehadirannya bagai sinar baru di tempat yang lama tenggelam dalam bayang kesunyian.
Berita tentangnya menyebar secepat desir angin membawa bau hujan. Dalam sehari, semua warga sudah tahu bahwa kini ada seseorang yang bisa menyembuhkan luka tanpa mantra. Rumah-rumah bambu yang dulu sepi kini ramai oleh langkah orang yang ingin melihat wajah sang tabib muda. Dan ketika ia berbicara, suaranya tenang dan meyakinkan sesuatu yang belum pernah didengar warga dari siapa pun di desa itu.
Marson bukan hanya pandai. Ia sabar, santun, dan rendah hati. Ia duduk bersama petani di pematang sawah, menatap luka di tangan mereka tanpa jijik, tertawa bersama anak-anak yang menatap kagum pada stetoskopnya yang berkilat di leher. Para ibu berbisik-bisik di balik pintu, memuji wajahnya yang tampan dan tutur katanya yang lembut.
Dan di antara semua mata yang menatap penuh rasa ingin tahu itu, berdirilah Hadi paling belakang, paling diam. Ia memperhatikan Marson dari jauh, seolah takut bila pandangan mereka bertemu. Namun dalam hatinya, sesuatu bergetar, rasa ingin tahu yang dalam, tak sekadar pada sosok sang tabib, tetapi pada dunia yang dibawanya dunia yang seolah penuh warna dan jawaban.
Ia belum tahu, bahwa sejak hari itu, hidupnya dan rahasia yang selama ini dijaga kakeknya dengan segenap sisa tenaga perlahan akan mulai berubah. Bahwa di balik pertemuan sederhana itu, takdir sedang menulis ulang garis yang selama ini tersembunyi di balik kesunyian dusun mereka.
Sudah hampir seminggu Marson tinggal di dusun itu. Sejak hari pertama ia menjejakkan kaki, suasana desa berubah. Rumah panggung di depan rumah bambu milik Hadi yang dulunya hanya berdiri sepi di pinggir jalan tanah kini selalu ramai didatangi warga. Ada yang datang dengan batuk yang tak kunjung reda, ada yang sekadar ingin berbincang ringan sambil membawa hasil kebun, dan ada pula yang hanya ingin melihat dari dekat sosok tabib muda yang kabarnya berasal dari kota. Dari balik dinding bambu rumahnya yang berlubang di sana-sini, Hadi sering mencuri pandang. Matanya menempel di celah kayu yang retak, mengintip pemandangan yang sama tiap hari. Marson duduk di kursi kayu di teras, menatap ramah setiap orang yang datang, mendengarkan keluh mereka dengan sabar. Tangan Marson lincah membungkus ramuan, suaranya lembut saat memberi nasihat. Setiap kali ia tertawa, wajahnya seperti memantulkan cahaya sore.
Hadi menatapnya lama terlalu lama sampai embusan napasnya membuat debu di dinding bergetar pelan. Ada sesuatu yang hangat di dadanya, semacam rasa ingin tahu yang bercampur gugup, seperti perasaan pertama kali melihat laut dari kejauhan.
Namun setiap kali ia hendak melangkah keluar, kakinya justru berhenti. Ia terlalu malu. Terlalu asing bagi dunia yang tiba-tiba tampak berkilau di depan rumahnya itu. Ia hanya bisa menatap dari jauh, dari tempat yang aman di balik celah-celah bambu dan diamnya sendiri.
Dari tikar di sudut ruangan, kakeknya yang sudah sepuh memandang cucunya dalam diam. Napasnya terdengar berat, tetapi matanya masih jernih menembus kebingungan Hadi.
“Hadi...” Suara itu pelan, seperti panggilan dari masa lalu.
“Ngapain kamu dari tadi ngintip begitu?” Hadi tersentak kecil. Ia cepat-cepat menjauh dari dinding, wajahnya memerah, bibirnya menggurat senyum canggung.
“Tidak, Kek... cuma liat aja. Banyak orang dateng ke rumahnya si tabib itu,” ujarnya, berusaha terdengar biasa.
“Penasaran aja... katanya orang kota.” Kakek menghela napas pelan, menatap cucunya dengan sorot lembut namun penuh pengertian.
“Kalau penasaran, ya datangi. Ngapain sembunyi kayak maling ayam begitu?” Ia terkekeh pelan, batuknya menyusul di ujung kalimat.
“Anak muda harus berani kenal orang. Siapa tahu, rezeki datang dari pertemanan.” Hadi menunduk. Ia menggenggam ujung bajunya yang lusuh, tak sanggup menjawab.
“Aku... malu, Kek,” gumamnya lirih.
“Dia orang kota. Bajunya bagus, cara bicaranya halus. Aku... cuma begini.” Kakek tersenyum samar, wajah tuanya berkerut seperti tanah kering yang tahu betul rasanya hujan.
“Marson itu manusia juga, Nak. Bukan dewa. Lagian, kadang orang kota juga butuh temen yang sederhana, yang jujur hatinya.” Ia menepuk-nepuk lututnya pelan, lalu melirik ke arah dapur.
“Begini saja. Nanti malam, pas udah sepi, kamu antarin singkong yang tadi kita cabut ke rumahnya. Bilang aja itu tanda kenalan dari kakek-mu.” Hadi mendongak perlahan, matanya berbinar ragu.
“Aku, Kek?”
“Ya kamu lah,” jawab kakek sambil tertawa kecil.
“Masa kakek yang udah setua ini jalan malem-malem bawa singkong?” Hadi mengangguk pelan, senyumnya muncul tipis di sudut bibir.
“Baiklah... nanti aku antarkan.” Kakek mengangguk puas, lalu bersandar kembali di tiang rumah, menatap langit-langit bambu yang berdebu.
“Nah, itu baru cucu kakek,” ujarnya pelan.
“Siapa tahu, malam ini bukan cuma singkong yang kamu antarkan... tapi juga langkah pertama untuk kenal dunia.”
Hadi tidak menjawab. Ia hanya diam, menatap ke arah cahaya sore yang menembus celah dinding. Di hatinya, ada sesuatu yang berdenyut antara takut dan harap, antara masa lalu yang diam dan masa depan yang masih samar. Dan di luar sana, rumah Marson mulai sepi, satu per satu lampu damar mulai menyala, memantulkan cahaya temaram di jalan tanah yang berdebu. Malam itu akan datang, dan bersama gelapnya, mungkin sesuatu akan berubah perlahan, seperti daun yang jatuh tanpa suara, tapi meninggalkan getar di permukaan tanah.
***
Malam itu, angin berembus pelan dari arah utara, membawa aroma tanah dan suara jangkrik yang bersahutan. Bulan separuh menggantung redup di langit, sementara jalan di depan rumah Hadi hanya diterangi cahaya obor yang bergoyang di depan rumah Marson. Hadi menggenggam karung kecil berisi singkong di tangannya. Langkahnya pelan, hampir ragu-ragu. Setiap suara gesekan pasir di bawah kakinya terdengar begitu jelas di tengah kesunyian desa. Jantungnya berdetak cepat bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang tak bisa ia sebut namanya.
Ketika sampai di depan pintu rumah itu, ia menarik napas panjang. Lalu, dengan tangan gemetar, tok... tok... tok... tiga ketukan terdengar di malam yang hening. Dari dalam, suara seorang laki-laki terdengar, tenang dan hangat,
“Ya, sebentar!” Tak lama, pintu kayu itu berderit terbuka, dan cahaya obor dari dalam menyorot wajah seseorang Marson.
Untuk pertama kalinya, Hadi melihatnya dari dekat. Sosok itu lebih tinggi dari yang ia bayangkan. Rambutnya hitam dan rapi, kulitnya bersih, dan matanya... tajam, namun ada kelembutan di sana yang anehnya membuat Hadi sulit berpaling. Senyum Marson muncul pelan — senyum yang sederhana, tapi cukup untuk membuat dada Hadi terasa sesak oleh sesuatu yang asing.
“Malam, kamu... ada keperluan?” tanya Marson lembut. Hadi terdiam sejenak. Suaranya nyaris tercekat di tenggorokan. Ia menunduk, mencoba menguasai diri, tapi wajahnya terasa panas.
“I-iya, Tuan... ini ada, emm...” ia mengangkat karung di tangannya, gugup.
“Singkong dari kakek, katanya untuk... tanda perkenalan.” Marson terkekeh pelan, suaranya terdengar seperti angin yang menenangkan. Ia menatap singkong itu, lalu menatap Hadi lagi, lebih lama kali ini.
“Ah, terima kasih. Sampaikan salam untuk kakekmu, ya.” Ia menepuk pundak Hadi dengan ringan.
“Tapi jangan panggil saya Tuan, saya bukan bangsawan. Panggil saja Marson.” Wajah Hadi semakin merah. Ia hanya mengangguk, tak berani menatap mata Marson terlalu lama.
“Masuklah sebentar. Sudah malam, masa berdiri di luar saja?” Hadi menurut. Ia melangkah masuk ke rumah yang sederhana namun lebih rapi dari rumah mana pun di desa itu. Aroma kayu dan minyak obat bercampur di udara. Di sudut meja, ada beberapa botol kaca berisi cairan berwarna, seperti pernak-pernik dunia asing yang belum pernah ia lihat. Marson beranjak ke dapur sebentar, dan tak lama kemudian kembali membawa dua cangkir air hangat serta sepiring kecil kacang rebus.
“Maaf, cuma ini adanya. Belum sempat masak yang lain,” katanya sambil tersenyum.
“Tidak apa-apa, Tuan—eh, mas Marson maksudnya,” jawab Hadi cepat, membuat Marson tertawa kecil.
“Begitu lebih baik,” katanya sambil duduk di kursi seberang Hadi.
“Namamu Hadi, ya? Saya sering lihat kamu dari jendela, rumahmu di seberang itu kan?”
“Iya,” jawab Hadi pelan.
“Saya tinggal sama kakek. Cuma berdua.”
“Oh begitu.” Marson mengangguk.
“Kakekmu kelihatannya orang baik. Wajahmu juga mirip beliau sedikit.” Hadi tersenyum kecil, menunduk. Ada kehangatan dalam nada suara Marson yang membuatnya nyaman, meski mereka baru saja berkenalan. Marson lalu melanjutkan, nadanya santai namun ramah.
“Saya ini cuma tabib biasa, Hadi. Dulu belajar di Belanda beberapa tahun. Baru pulang tahun lalu. Sekarang tugas di sini, katanya untuk bantu masyarakat di pedalaman.”
“Belajar di Belanda?” mata Hadi membulat kagum.
“Itu... jauh banget, ya?”
“Lumayan jauh,” jawab Marson sambil tertawa.
“Tapi di sana saya belajar banyak hal tentang tubuh manusia, tentang kesehatan. Kadang saya juga belajar tentang... hati.” Ia berhenti sejenak, menatap Hadi dengan senyum samar.
“Ternyata yang paling sulit disembuhkan bukan badan, tapi hati manusia itu sendiri.” Hadi menatap Marson, bingung namun tertarik. Ada sesuatu dalam tatapan mata lelaki itu, sesuatu yang hangat, tapi juga penuh rahasia.
“Kalau kamu merasa tidak enak badan, pusing, demam, atau... ada hal aneh di tubuhmu,” ucap Marson lagi dengan nada lembut,
“Jangan sungkan datang ke saya, ya. Akan saya bantu semampu saya.” Hadi hanya mengangguk pelan.
Kata-kata itu entah kenapa terasa dalam, seolah menyentuh sesuatu di dalam dirinya yang selama ini berusaha ia sembunyikan, sesuatu yang bahkan tak bisa ia namai. Waktu berjalan tanpa mereka sadari. Percakapan yang awalnya canggung perlahan mengalir ringan, tentang sawah, tentang masa kecil, tentang kota yang belum pernah Hadi lihat. Sesekali mereka tertawa, kadang terdiam bersama dalam keheningan yang anehnya terasa nyaman. Ketika akhirnya jam di dinding berdetak pelan menandai pukul sepuluh malam, Hadi tersadar. Ia segera berdiri, tergesa.
“Wah... sudah malam sekali. Aku pamit dulu, mas Marson.”
“Baik. Hati-hati di jalan, Hadi.” Marson berdiri, mengantar sampai ke pintu.
“Terima kasih atas singkongnya, ya.” Hadi menatapnya sekali lagi, hanya sekejap tapi cukup untuk membuat dadanya berdebar kencang. Senyum Marson di bawah cahaya obor tampak lembut, hampir menenangkan.
“Sama-sama...” bisik Hadi lirih sebelum berbalik. Ia berjalan pulang melewati jalan tanah, langkahnya ringan, udara malam terasa lebih hangat dari biasanya. Tanpa ia sadari, senyum kecil tidak pernah lepas dari bibirnya sepanjang jalan. Entah mengapa, dunia malam itu terasa berbeda, lebih hidup, lebih indah, seperti ada sesuatu yang baru tumbuh di dalam dadanya, pelan-pelan, tanpa ia tahu apa namanya.
***
Beberapa bulan berlalu sejak malam pertama Hadi dan Marson berkenalan. Musim berganti, dan desa mulai diselimuti hawa lembap pertanda hujan akan sering turun. Hari-hari berjalan biasa saja Hadi membantu kakek di ladang, kadang mengantar hasil panen ke warga, kadang duduk di beranda rumah sambil mendengarkan ayam berkokok dari kejauhan.
Namun suatu pagi, sesuatu yang aneh mulai terjadi. Tubuh Hadi terasa panas, seolah ada api kecil yang menyala di dalam darahnya. Kepalanya berat, tenggorokannya kering, dan keringat dingin terus mengalir di pelipisnya. Ia mengira hanya masuk angin, seperti biasanya. Dengan langkah lemah, ia pergi ke rumah di seberang untuk meminta obat dari Marson.
Marson memberinya ramuan penurun panas dan menyuruhnya banyak beristirahat. Hadi menurut, tapi hari berganti hari panas itu tidak juga reda. Kini rasa ngilu mulai menjalar di perut, semakin hari semakin parah, membuatnya tak sanggup berdiri lama. Ia hanya bisa menggulung diri di dipan bambu, menahan nyeri yang datang seperti gelombang.
Kakek yang melihat cucunya kesakitan berusaha menenangkan dengan ramuan dari Marson, berharap semuanya akan membaik. Namun malam itu, sesuatu yang tidak mereka mengerti terjadi sesuatu yang membuat keduanya terdiam dan panik, tiba-tiba saja darah segar keluar dari kelamin Hadi tidak mengucur deras namun merembes membasahi celana yang dikenakan Hadi. Kakek tertegun, lalu dengan tergopoh-gopoh keluar rumah, berlari ke arah rumah Marson sambil memanggil namanya.
“Mas Marson! Cepat... tolong lihat cucu saya... Hadi... dia... ada yang aneh!” Tanpa banyak tanya, Marson segera bersiap. Ia mengambil tas kecil berisi obat dan lampu minyak, lalu mengikuti langkah kakek menuju rumah mereka yang gelap. Sesampainya di sana, Hadi terbaring pucat. Keringat membasahi pelipisnya, matanya setengah terbuka. Marson berlutut di sampingnya, memeriksa suhu tubuh, lalu menatap kakek dengan wajah cemas.
“Sudah berapa lama begini?” tanyanya cepat.
“Tiga hari... awalnya demam. Tapi malam ini... ada darah yang keluar dari tubuhnya, dan ia kesakitan sekali,” jawab kakek lirih, suaranya bergetar.
Marson terdiam sejenak, menimbang sesuatu. Ia menatap Hadi, lalu dengan suara lembut bertanya:
“Hadi, kamu bisa dengar Mas, kan? Coba ceritakan sedikit, bagian mana yang paling sakit?” Hadi mengangguk lemah. Suaranya serak.
“Perutku, Mas... rasanya seperti diremas dan nyeri sekali. Dadaku tepatnya payudaraku juga sakit tak sengaja tersentuh saja sakit... aku tidak tahu kenapa...” Ia berhenti sejenak, lalu menunduk, wajahnya menegang menahan air mata.
“Ada... sesuatu yang keluar dari tubuhku Mas. Ada darah keluar dari kelaminku, aku takut, Mas... aku takut.” Ruangan mendadak hening. Suara jangkrik dari luar seperti menghilang. Marson menatapnya lama, lalu menghela napas dalam-dalam.
“Hadi, Mas boleh cek kelamin kamu? Mas mau lihat apa yang terluka sehingga berdarah.” Dengan raut muka yang ketakutan Hadi hanya menurut menganggukan kepalanya mempersilakan sang tabib untuk memeriksanya di bawah sana. Perlahan tangan Marson mulai menyibak dan melepas celana Hadi. Saat sudah terlihat betapa terkejutnya Marson saat melihat bentuk kelamin yang dimiliki Hadi, bentuknya tidak seperti miliknya. Memang ada tonjolan kecil namun ada kelamin dominan yang terlihat yaitu vagina. Vagina Hadi tumbuh dengan baik dengan bentuk yang indah walau ada tonjolan kecil di atasnya. Marson dapat melihat darah segar keluar dari lubang kecil dari vagina Hadi. Marson tau apa yang terjadi dengan Hadi, dia pernah mempelajarinya di Belanda dalam buku teori namun untuk melihat hal ini secara langsung Marson baru pertama kalinya. Dia terkejut namun juga terkagum melihat kelamin Hadi.
Marson pun menatap Hadi dengan mata lembut, lalu berkata pelan, “Hadi... kamu tidak perlu takut. Apa yang kamu alami ini bukan penyakit. Ini sesuatu yang... memang ada dalam tubuhmu sejak kamu lahir.” Kakek menatap Marson tak mengerti.
“Maksudmu... apa, Mas?” Marson menatap lelaki tua itu dalam-dalam.
“Cucu Kakek terlahir dengan kondisi yang jarang namun juga sangat istimewa. Dalam istilah ilmu kedokteran, tubuhnya memiliki dua sisi, kelamin ganda, yakni laki-laki dan perempuan. Tapi seiring berjalannya waktu, vagina organ kelamin perempuan yang mulai tumbuh lebih kuat.” Kakek terdiam, bibirnya gemetar.
“Jadi... selama ini...”
“Selama ini tubuhnya menyimpan rahasia yang bahkan alam pun butuh waktu untuk mengungkapkannya.” potong Marson pelan.
“Dan sekarang... ia sedang mengalami sesuatu yang alamiah untuk bagian dirinya itu yaitu menstruasi. Hal ini memang siklus setiap bulan, dan ini juga sebagai pertanda jika Hadi memiliki rahim yang berkembang dengan baik ditubuhnya. Namun kondisi ini harus kita pantau terlebuh dahulu karena ini kejadian langka karena Hadi istimewa.” Hadi menatap mereka bergantian, napasnya terengah. Matanya berkaca-kaca, antara tidak percaya dan takut.
“Jadi... aku bukan laki-laki sepenuhnya?” suaranya nyaris berbisik. Marson menatapnya lembut.
“Kamu tetap dirimu sendiri, Hadi. Apa pun bentuk tubuhmu, kamu tetap kamu. Tak ada yang salah dengan itu.” Air mata jatuh dari mata Hadi, satu per satu, menetes ke lantai bambu. Kakek menggenggam tangan cucunya, suara tuanya bergetar.
“Maafkan kakek, Nak... kakek cuma ingin kamu bisa hidup tenang. Kakek pikir... kalau dunia tidak tahu, kamu bisa bahagia.” Marson menatap keduanya, lalu dengan tenang berkata, “Kakek tidak salah. Tapi sekarang, biar Mas bantu. Kita jaga supaya Hadi bisa pulih, dan... rahasia ini tetap aman. Warga lain tak perlu tahu.” Ia lalu menyiapkan ramuan penenang, memintakan doa agar nyeri Hadi mereda, lalu menunggu di sisi ranjang hingga Hadi tertidur.
Malam itu mereka bertiga hanya terdiam, masing-masing memikirkan arti dari semua yang baru saja terjadi. Di luar, hujan turun pelan. Dan di balik jendela bambu yang berkabut, tampak cahaya obor redup menemani mereka dalam kesunyian malam ketika rahasia yang disembunyikan bertahun-tahun akhirnya menemukan cahaya.
***
Marson sungguh-sungguh dalam membantu Hadi melewati masa menstruasinya, ia membantu Hadi bagaimana melipat kain dan menempatkannya pada celana dalamnya agar darah tidak langsung merembes pada celananya. Memastikan setiap hari keadaan Hadi, apakah rasa nyerinya bertambah parah. Marson juga memberikan kata-kata penenang untuk Hadi yang masih dilanda kalut.
Namun hal itu memberika rasa yang lain juga untuk Marson, entah kenapa perasaan ingin melindunginya kian mencuat. Marson senang dapat diandalkan oleh Hadi, bahkan saat pagi menjelang Marson ingin segera bertemu Hadi padahal ia baru pulang ke rumahnya saat Hadi terlelap.
Dan tujuh hari telah dilalui, darah di vagina Hadi sudah berhenti keluar. Sakit nyeri diperut Hadi sudah hilang begitu juga keras dan ngilu pada payudaranya. Hadi sudah bisa beraktivitas seperti biasanya, membersikan rumah dan membantu kakek di kebun mereka. Hadi ingat pesan Marson pada dirinya jika darah sudah tak keluar lagi Hadi harus melaporkan pada Marson untuk dicatat siklusnya. Jadi setelah semua pekerjaan rumah beres Hadi mandi dan pergi ke rumah Marson.
Tok… tok… tok….
Tiga ketukan pada pintu yang terbuka itu sukses membuat Marson yang sedang duduk di meja kerjanya menoleh ke arah pintu lalu tersenyum saat melihat Hadi berdiri di sana. Entah kenapa dada Marson bergemuruh senang melihat Hadi. Marson berdiri dan menghampiri Hadi.
“Masuk Hadi, kamu mau minum apa?” Hadi melangkahkan kakinya memasuki rumah Marson.
“Tidak usah repot-repot mas. Hadi kesini mau laporan kalau…. Emm itunya Hadi sudah tidak mengeluarkan darah.” Marson tersenyum mendengar perkataan Hadi, lalu memutuskan duduk di samping Hadi.
“Masih nyeri perutnya?” Hadi menatap Marson lalu menggeleng.
“Sudah tidak mas.” “Bagus berarti mens kamu sudah selesai Hadi.”
“Terus setelah ini bagaimana, Mas?” Marson tampak terdiam sebentar lalu memegang tangan Hadi lembut.
“Mas akan catat siklus menstruasi kamu dan mas harus memeriksa untuk memastikan sesuatu di kelamin kamu karena kemarin mas belum bisa mengobservasi dengan lengkap.” Hadi sebenarnya tidak terlalu paham dengan apa itu observasi namun ia tau ini demi kesehatannya maka dari itu Hadi menurut saja apa yang dikatakan oleh Marson.
“Emmm.. kalau begitu kapan mas Marson mau memeriksa Hadi?”
“Bagaimana kalau nanti malam saja? Supaya aman, kalau siang begini takutnya ada yang datang. Biar rahasia ini aman.” Mengerti maksud Marson, Hadi hanya menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah kalau begitu Mas, Hadi pulang dulu nanti malam aku kesini lagi.” Marson tersenyum dan menganggukan kepalanya seraya menepuk pundak Hadi. Hadi berdiri dan beranjak keluar dari rumah Marson kembali kerumahnya.
***
Jam sudah menunjukan pukul tujuh lewat tiga puluh menit, Hadi sudah bersiap-siap tinggal berangkat ke rumah Marson. Hanya saja perasaannya tiba-tiba gundah, dia gugup dan jujur saja Hadi merasa malu. Hadi tidak tau bagaimana nanti proses pemeriksaannya namun pikirannya tiba-tiba kembali pada saat Marson membuka celananya saat hari pertama dia mens. Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah akan seperti itu lagi? Jujur gugup semakin menyerangnya, Hadi merasa malu tapi disisi lain entah mengapa dia juga merasa tak sabar bertemu dengan Marson. Tapi membayangkan Marson membuka celananya lagi membuat hatinya dan bagian bawahnya berdesir, rasanya aneh, namun pikiran Hadi malah membayangkan bagaimana jika tangan Marson menyentuh vaginanya. Ah vagina, panggilan baru untuk kelaminnya yang sebelumnya ia tau namanya penis. Suara gemuruh dari langit membuyarkan lamunan Hadi, dirinya kemudia bergegas keluar dari kamar kecilnya dan menemui kakeknya, berpamitan akan ke rumah Marson.
“Kakek…. Hadi pamit mau ke rumah mas Marson ya?” Kakek yang sedang menyeruput the hangatnya di meja ruang tengah menoleh pada sumber suara.
“Baiklah nak, sampaikan salam kakek untuk Marson. Maaf kakek tidak bisa menemani, badan kakek rasanya sakit sekali tadi habis membersihkan ladang.”
“Tidak apa kek, Hadi bisa sendiri. Kalau begitu Hadi berangkat sekarang.”
“Sepertinya akan hujan nak, nanti kalau hujannya besar kamu di tempat Marson saja dulu ya. Jangan hujan-hujanan nanti kamu sakit lagi.” Hadi yang diperintahkan seperti itu hanya patuh menurut.
“Baik, kakek.” Hadi melangkahkan kakinya keluar rumah menuju rumah Marson. Tak butuh waktu lama ia sudah sampai di depan pintu rumah. Perlahan ia ketuk pintu itu seraya berkata sedikit kencang, “Mas Marson, ini Hadi mas.” Terdengar sahutan dari dalam.
“Sebentar ya Hadi.” Kali ini Hadi menunggu agak lama, entah apa yang sedang Marson lakukan didalam. Sekitar lima menit kemudia pintu terbuka.
“Maaf ya Hadi, saya habis mandi tadi jadi agak lama bukanya. Ayo masuk.” Hal yang pertama Hadi lihat adalah rambut Marson yang masih basah, airnya sedikit menetes di pelipis. Menurut Hadi, Marson terlihat sangat tampan sekali malam hari ini, melihat Marson yang baru selesai mandi seperti ini sungguh sangat memanjakan mata karena terlihat segar. Hadi hanya bisa tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk.
“Tidak apa-apa mas Marson. Tidak lama kok.”
“Kamu mau minum apa, Hadi? Saya bikinkan, saya ada susu jahe kalo kamu mau?”
“Boleh mas, kalau tidak merepotkan.”
“Baik, tunggu sebentar ya.” Tak butuh waktu lama Marson menyiapkan minuman dan kudapan, karena jujur saja dia sudah menyiapkannya dari tadi sehingga dia tinggal menuangkan pada gelas dan membawanya ke ruang tengah. Sesampainya di ruang tamu, Marson meletakkan segelas susu jahe di depan Hadi beserta kuduapan manis, lalu duduk sis amping Hadi.”
“Di minum dulu Hadi.”
“Terima kasih mas Marson.”
“Saya sambil jelaskan sedikit ya Hadi.” Hadi lagi-lagi hanya menggangguk menurut.
“Jadi kondisi kamu ini adalah kondisi yang sangat jarang terjadi, umumnya setiap bayi yang terlahir ke dunia berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Laki-laki terlahir memiliki penis dan perempuan memiliki vagina, namun kamu istimewa Hadi kamu memiliki keduanya.” Marson berenti sejenak memperhatikan Hadi yang menyimak penjelasannya. Dirasa Hadi mengerti Marson pun melanjutkan penjelasannya.
“Namun dalam masa pertumbuhan diantara dua kelamin itu ada yang berkembang dengan baik dan ada yang tidak, dalam kasusmu vaginamu yang berkembang lebih baik, bahkan kamu mendapatkan mens mu yang mana berarti rahimmu menghasilkan sel telur, kamu bisa memiliki anak jika dibuahi.” Hadi mengernyitkan kening saat mendengar kata rahim dan sel telur karena Hadi tak tau apa maksudnya itu dan bagaimana bentuknya. Karena Hadi pun tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Hadi kembali bereaksi saat mendengar kata anak keluar dari mulut Marson.
“A….anak?” “Benar Hadi, kamu berkemungkinan bisa memiliki anak. Tapi itu masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.” Hadi yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya seolah paham namun aslinya dia masih mencerna perkataan Marson.
“Saya lanjut ya Hadi, nah seperti yang saya katakan tadi saya harus memeriksa kamu secara berkala. Yang artinya saya akan melihat dan menyentuh vagina kamu nantinya, kamu bersedia kan?” Tubuh hadi rasanya menegang, darahnya berdesir dari ujung kaki hingga kepala. Jantungnya berdegup dengan cepat, lebih anehnya lagi vaginanya sedikit berkedut sehingga membuat Hadi tanpa sadar merapatkan kedua pahanya.
“Emmmmm….. sa….saya bersedia Mas…. Tap…i saya agak malu.” Marson terkekeh pelan, lalu menepuk pundak Hadi menenangkan. “Wajar jika kamu malu tapi sama saya tidak usah malu ya, saya mau bantu kamu kok. Jadi siap untuk pemeriksaan?” Hadi dengan patah-patah menganggukkan kepalanya.
“Baik kita mulai ya, ayo ikut mas baring di ranjang.” Hadi mengekori langkah Marson menuju kamar Marson, disana sudah siapkan ranjang yang rapi dan bantal serta satu lampu minyak di ujung ranjang.
“Kamu copot dulu celana kamu ya Hadi, lalu berbaring di ranjang itu. Saya ambil minyak kelapa dulu.” Marson meninggalkan kamar itu meninggalkan Hadi yang dengan gerakan lambat mulai melepaskan celananya dan kini bagian bawahnya tak tertutup sehelai kain pun. Hadi melangkahkan kakinya menuju ranjang dan merebahkan badannya disana seraya menutup vaginanya dengan telapak tangannya yang kecil.
Tak lama Marson membawa mangkuk kecil yang Hadi yakini adalah minyak kelapa, entah apa gunanya minyak kelapa Hadi tak tau. Marson menyeret sebuah kursi duduk disisi ranjang dekat dengan lampu minyak.
“Sudah siap ya Hadi, saya mulai periksa vagina kamu.” Dengan lembut tangan Marson memegang kedua paha Hadi dan menekuknya agar sedikit mengangkang lebar agar mudah dalam mengamati.
“Tangannya dipindah ya Hadi, jangan menutupi vagina kamu.” Jantung Hadi seperti ingin meledak, semilir angin dingin seperti berhembus di depan vaginanya yang terbuka. Tangan Marlon mulai menyentuh labia vagina Hadi yang membuat Hadi seperti tersengat aliran listrik diseluruh tubuhnya.
“Ah.. emmm.” Pekikan pelan terdengar saat Hadi merasakan sentuhan jemari kasar Marson menyentuh permukaan labia Hadi. Hadi memejamkan matanya menahan sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Berbeda dengan Marson yang tangan kirinya sibuk menyibak vagina Hadi dan tangan kanannya sibuk mencatat dan menggambar sesuatu di buku agendanya.
“Saya boleh tanya Hadi? Kalau kamu kencing lewat lubang yang mana?”
“Emm ah.. aku yang kecil di ah…. yang di atas mashhh.” Marson mengangguk-anggukkan kepalanya seraya kembali menulis di buku.
“Kalau saya usap bagian ini rasanya gimana Hadi?” Tanpa aba-aba Marson mengusak pelan tonjolan itu membuat Hadi sedikit menjerit.
“Ahhhhh masshh emmphh.” Melihat Hadi memekik bukannya berhenti, Marson malah terus saya mengusak tonjolan lubang kencing Hadi.
“Ge… ahh gelihh masshh.” Setelah mendengar jawaban itu Marson kembali mengangguk-angguk dan kembali menulis. Namun usakan dan usapan jari Marson tidak berhenti sama sekali yang membuat Hadi sedikit menggelinjang.
“Mashhh Marson ahhh kenapa rasanya ahhh geli sekaliih? Ahhh apakah belum cukupphh ahh, Hadi tidak tauu ta…tapihh seperti ada yang ahhh mau keluar mashhh.” Marson kini menatap mata Hadi, usapan dibawah sana semakin kencang dari yang tadi membuat Hadi tanpa sadar merapatkan pahanya.
“Ini termasuk dari proses pemeriksaan Hadi, kalau mau ada yang keluar jangan ditahan ya.” Marson mengatakan itu sambil tersenyum membuat Hadi hampir gila dibuatnya.
“Ahhh masshh aku tidakkh emmph kuathh.” Marson bergantian mengusak vagina Hadi menggunakan tangan kanan sedangkan tangan kirinya menahan paha Hadi agar tetap terbuka lebar. Hadi yang kelimpungan merasakan enak dibagian bawahnya akhirnya meremat lengan Marson yang berada di perutnya untuk melampiaskan perasannya. Ya hadi kini merasakan rasa geli itu berubah jadi enak, bukan seperti makanan tapi sensasinya membuat dia melayang.
“Mash Marson AAAHHHHHH ENAKKKK.” Tak butuh waktu lama Hadi pun sampai pada puncaknya. Marson mengamati bagaimana cairan putih beserta lendir keluar mengalir dari lubang vagina Hadi. Setelah melihat dengan seksama Marson kembali menuliskan beberapa kalimat dalam bukunya. Setelah selesai Marson menatap Hadi yang masih memejamkan matanya seraya mengatur napasnya.
“Hei, Hadi? Kamu baik-baik aja?” Marson kini menggeser kursinya hingga kini dia berada tempat disamping kepala Hadi.
“Itu tadi apa mas? Tadi Hadi ngerasain apa? Rasanya enak banget.” Entah sadar atau tidak saat Hadi mengatakan enak, namun hal itu berimbas luar biasa terhadap Marson. Sejujurnya sejak tadi dirinya juga menahan napsu. Bahkan saat ini kejatanannya juga sudah mengeras. Pikirannya juga jadi agak terganggu saat Hadi mendesahkan namanya saat sampai pada ejakulasinya. Dan mendengar perkataan bahwa Hadi keenakan dengan perlakuannya tadi sukses menghilangkan sisa kewarasan yang Marson punya.
“Enak banget ya Hadi? Tadi memek kamu sampai ngeluarin lendir banyak banget.” Hadi tercengang mendengar perkataan Marson.
“Memek?” Entah mengapa mendengar kata memek keluar dari mulut Marson membuat sesuatu dalam diri Hadi bergejolak.
“Iya memek, nama lainnya vagina. Enak ya tadi memeknya diusapin itilnya? Ini tonjolan ini penis kamu tapi kecil nggak berfungsi kayak penis pada umumnya. Tapi kalo diusap kayak itil bikin kamu becek banget Hadi, jadi ini namanya itil.” Marson menyentil pelan itil itu, membuat Hadi mendesah pelan.
“Mau diusap lagi itilnya mash ahhh enakk diusap itilnya kayak tadi, Hadi ketagihan.”
“Sialan Hadi, omongan kamu bikin kontol saya makin tegang.” Marson menggeram, dengan sedikit terburu dia berdiri dan tanpa pikir panjangan melepas celananya membuat penis besar dan panjang itu memantul seolah meminta untuk disentuh.
“Ini namanya kontol Hadi, kalau kamu laki-laki harusnya kamu punya kontol kayak gini.” Marson mengelus kontolnya pelan, kontol Marson benar-benar definisi besar dan panjang dipenuhi oleh urat-urat yang menonjol. Hadi terpukau dengan bentuk penis Marson, ini pertama kalinya Hadi melihat penis secara langsung.
“Hadi boleh pegang kontol mas Marson? Hadi pengen pengang kontol gede mas Marson.” Marson tersenyum sinis. Lalu menarik tubuh Hadi supaya terduduk menghadapnya, kini penis besar Mason tepat berada di depan wajah Hadi.
“Pengang sayang, elus kontol mas naik turun. Kontol mas suka dielus-elus.” Tangan Hadi terulur menyentuh batang penis Marson, dengan naluri alami Hadi menggenggam penis Marson dengan kedua tangannya karena ukuran penis Marson yang begitu besar. Hadi menggelus penis itu naik turun membuat Marson memejamkan matanya.
“Gini ya mas? Kontol mas Marson suka kalo aku elus gini pake dua tangan?”
“Iya Hadi, elus kontol mas yang kenceng ya sayang ahhhhhh enak banget tangan kamu.” Hadi mendongak melihat Marson yang mendesah dengan mulut yang terbuka namun matanya terpejam begitu menikmati kocokan tangan Hadi. Hadi dapat melihat cairan bening mulai keluar dari ujung penis Marson, sebenarnya Hadi sangat penasaran dengan itu karena dua tangannya sibuk mengocok penis Marson maka entah dorongan dari mana Hadi menjulurkan lidahnya untuk menjilat ujung penis Marson. Marson yang merasakan hangat di ujung penisnya lalu membuka matanya melihat apa yang tengah dilakukan oleh Hadi. Darahnya seolah mendidih melihat Hadi yang berusaha menjilat-jilat kulup penisnya. Gerakkannya yang amatir justru membuat Marson sangat terangsang.
“Ahhhhh siapa yang ajarin kamu ngocokin kontol sambil disepong Hadi? Ahh enak banget bangsat saya ahhh bisa keluar.” Mendengar ucapan Marson yang akan keluar Hadi malah semakin memasukkan ujung penis Marson dan mengocok batangnya dengan lebih kencang.
“Sialann Hadi ahhhhhh.” Marson memengang kepala Hadi lalu memaju mundurkan pinggangnya memasukkan penisnya lebih dalam sehingga penisnya dapat merasakan kehangan mulut Hadi.
“Hadii Hadii Hadiii ahhh saya mau keluar ahhhhh enak banget mulut kamu Hadiihh AAHHHHHH.” Marson mengeluarkan spermanya pada wajah Hadi membuat sang empu memejamkan matannya denga lidah terjulur.
“Sexy banget kamu Hadi, gila ahhhh hilang waras saya sama kamu.” Marson melepas kaos yang ia kenakan lalu membersihkan wajah Hadi. Hadi yang dibersihkan wajahnya malah terlihat sibuk menyecap rasa sperma Marson yang tadi keluar di mulutnya.
“Ini namanya sperma ya mas? Rasanya aneh tapi masih bisa ditelan.” Marson yang mendengar itu terkekeh pelan.
“Memang kalau mas suruh kamu telan sperma Mas kamu bakal telan?” Dengan cepat Hadi menangguk-angguk.
“Mau!! Mau coba sperma mas Marson.”
“Nanti-nanti lagi ya kalau pemeriksaan selanjutnya kita begini lagi, sekarang sudah selesai ayo beres-beres.” Mendengar itu muka Hadi berubah seperti ingin mengangis, pahanya ia buka lebar membuat Marson bingung sekaligus bernapsu lagi.
“Tapi memek aku masih gatel mas hiks, mau lagi mau di usak lagi kayak tadi.” Mata Hadi berkaca-kaca.
“Sttttss… Hadi masih gatel ya memeknya? Mau digaruk lagi? Sampe becek lagi?” Hadi mengangguk kencang.
“Iya mau digaruk lagi sampe keluar mas.” Penis Marson kembali menengang, sepertinya usahanya untuk menghentikan kegiatan ini gagal.
“Hadi mau rasain yang lebih enak dari tadi tidak?”
“Memangnya ada yang bisa lebih enak dari tadi mas?” “Ada sayang, kita coba ya?”
“Iyaa, Hadi mau dibuat enak sama mas Marson.” Marson mendekatkan tubuhnya pada Hadi, ia dorong pelan tubuh Hadi hingga kini mereka saling tindih di atas ranjang kecil milik Marson. Bibir Marson memburu bibir merah Hadi, mengecup lalu melumatnya penuh napsu.
Sungguh di mata Marson Hadi yang berada di bawahnya ini terlihat sangat memukau, mata sayunya menarik Marson untuk jatuh semakin jauh dalam napsunya. Desiran darah Marson kembali mendidih, desahan manja Hadi mampu membuat selatannya kembali menegang. Tak ada alasan untuk berhenti, sekarang yang Marson mau hanya Hadi, menyatukan dirinya dengan Hadi. Perasaan aneh namun candu yang baru pertama kali Hadi rasakan ini mampu menarik semua akal sehat Hadi, tak ada penolakan saat Marson mulai menggesekan kemaluannya pada vaginanya.
“Mass Marson emhhh.” “Sebentar ya Hadi shhhh mas gesekin dulu kontol mas di memek tembem kamu, biar makin tegang makin gede bisa buat kamu keenakan nanti sayang ahhhh.” Selagi pinggang Marson bergerak maju mundur, mulutnya kini bergerak turun ke dada Hadi.
“Cpkkk… Cpkk…. Slurrrp ahhh.” Lidah Marson terjulur menjilat puting Hadi yang menengang. Ujung lidah Marson terus memainkan puting Hadi sesekali mencium dan menyesapnya pelan. Gerakan di bawah sana tak kalah panasnya. Pinggul Marson bergerak naik turun menggesek vagina Hadi membuat cairan lendir licin keluar semakin banyak.
“Emhhhh mashh Marsonnn enakk ahhh memek Hadi becek banget mashh ahhhh.”
“Pinter banget sayangg ahh pinter banget memeknya becek gini ahhhh mas masukin yaa.” Marson menegakkan badannya, ia buka lebar kaki Hadi dan menempatkan penisnya tepat di depan vagina Hadi.
“Kamu siap sayang? Siap saya buat keenakan?” Hadi yang tidak bisa berpikir apapun hanya bisa menganggukan matanya heboh. Matanya benar-benar sayu diselimuti hawa napsu, Marson mengarahkan penisnya memasuki vagina Hadi.
“Tahan ya sayang awalnya mungkin agak sedikit nyeri.” Saat penis Marson sudah benar di depan lubang vagina Hadi, Marson mulai mendorong pelan pinggulnya. Sedikit memaksakan penis besar itu masuk ke dalam lubang kecil Hadi. Ringisan pelan terdegar dari bawah dimana Hadi terpejam sembari tangannya memegang bahu Marson erat menahan nyeri.
“Lubang kamu sempit banget Hadi ahhhh hangat kontol saya suka.” Marson mendorong penisnya lebih dalam menenggelamkan semua batangnya seolah mengukur seberapa dalam lubang Hadi mampu menampungnya.
“Shhhhhh mas Marson sakit mas emhhhh.” Hadi meringis ketika nyeri yang ia rasakan di bawah sana kian terasa sakit dan ngilu, seperti ada yg akan robek saat Marson terus-terusan mendorong penisnya sampai tenggelam habis dalam vagina Hadi.
“Shhhht shhhht tarik nafas sayang, memek km tegang banget kontol mas kayak diremas-remas.”
“Ahhhh aku emhhh aku nggak bisa mass rasanya penuh banget mentok ahhh punya mas Marson besar banget.” Tak hanya tinggal diam, Marson yang tau kalau Hadi belum merasa nyaman segera merangsang payudara Hadi menjilat dan menyesap puting Hadi yang mencuat seakan meminta untuk dimanjakan. Lengguhan pelan tak lama terdengar dan jepitan vagina Hadi mulai merenggang.
“Ahhh mas enakk emhhh isep terus mas ahhhh.” Melihat respon yang bagus dari Hadi, Marson tak menyia-yiakan kesempatan untuk sedikit menarik penisnya dan mendorongnya pelan membuat Hadi menjerit pelan karena gerakan yang tiba-tiba itu.
“Ahhh ahhhh mas emhhhh apa itu ahhh memek Hadi rasanyaa ahhh geli tapi enak ahhh mas Marson lagi.”
“Ahhh Hadi sempit banget memek kamuu sayang ahhh enak bangett shhhhh.” Marson mulai memaju-mundurkan pinggulnya sedikit cepat, memompa vagina Hadi yang sudah sangat basah. desahan demi desahan terlontar begantian dari mulut keduanya.
“Ahhh mas akuu mau pipisss udah duluu ahhh nanti aku ngompol.”
“Baru sebentar digenjot udah mau keluar aja memek kamu Hadi ahhhh.” Hadi terpejam berusaha menahan ejakulasi yang sudah diujung tanduk.
“Ahhh masss aku beneran nggak kuat ahhhhhh enakk banget memek aku masss ahhh mau pipisshh.” Marson tersenyum tipis melihat keadaan Hadi yang ada di bawahnya saat ini. Rambut yang berantakan lepek terkena keringat, mata sayu yang akan terpejam rapat saat Marson menyentak penisnya dalam-dalam. Mulut Hadi menganga tak berhenti mendesahkan namanya. Pemandangan yang membuat penis Marson semakin keras menusuk vagina Hadi.
“Keluarin saja Hadi ahhhh pipisin kontol saya, biar makin becek makin enak buat genjotin kamu sayang.”
“Ahhhh mass Marson, aku udah nggak tahan ahhhhh enak bangett kontol mas.” Marson sengaja berkali-kali mengentak penisnya pada vagina Hadi, yang sukses membuat Hadi menyemburkan cairan bening dan membuat badan Hadi bergetar.
“Ahhhhh mass badan aku ahhhh memek aku nggak bisa berhenti keluar ahhhh mas Marson enakkk ahhhhh.” Marson tak berhenti menggenjot vagina Hadi, dirinya juga hampir sampai. Marson tak memberikan Hadi kesempatan untuk menikmati ejakulasinya.
“Keluarin lagi sayang keluarin terus pipisnya ahhhh sialan memek kamu makin jepit kontol saya.”
“Ahhhhh mas Marson udah ahhh aku udah nggak kuat ahhhhh masss ahhh enakkkk emhhhhh.”
“Kamu bilang nggak kuat tapi masih ngedesah enak Hadi. Enak ya kontol saya? Mau saya kawini setiap hari? Ahhhh saya mau kawini kamu setiap hari Hadi ahhhhh enak banget memek perawan shhhh.”
“Iyaa mas, Hadii mauu ahhh Hadi mau dikawini Mas Marson ahhhh enakk bangett ahhhh aku mauu pipiss lagii ahhh nggak kuatt mass emhhh ahh.”
CURRRRR… CURRRR…. CURRRRR… AHHHHHH…
“AAHHHH Hadi saya keluarr ahhh di dalamm ahhh enakk bangettt.” Marson menumpahkan spermanya dalam tubuh Hadi, badannya ambruk menindih tubuh kecil Hadi. Tubuh Hadi sendiri bergetar hebat, tubuhnya terasa ringan tak mampu merasakan apapun selain rasa nikmat, darahnya berdesir diseluruh tubuhnya.
“Mmas Marson rasanya enak banget tapi aku capek banget.” Hadi memejamkan matanya tubuhnya terasa sangat lemas setelah ejakulasi hebat tiga kali. Dalam pengalaman pertamanya Hadi ejakulasi tiga kali adalah hal yang sangat luar biasa untuknya.
“Kamu nginep disini saja ya Hadi, besok pagi baru pulang. Saya masih mau seperti ini sama kamu.” Hadi tak menjawab karena matanya udah tertutup dan nafasnya teratur. Hadi jatuh tertidur karena kelelahan. Marson menggeser tubuhnya, memiringkan tubuh Hadi sehingga kini Hadi berasa dipelukannya. Tak lupa ia benamkan kembali penisnya yang tak kunjung lemas itu dalam vagina Hadi, mencari kehangatan.
