Actions

Work Header

Experiment

Summary:

"Bukankah ini seks?"

"Bukan. Hanya percobaan, bukan seks."

Notes:

hi everyone! this is my first time posting on ao3! but, in case this feels familiar and you’ve read it somewhere. yeah, this is Arya. iykyk

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:


 

Haechan kembali ke tempat itu lagi. Tempat dengan ratusan rak kayu berisi buku-buku yang kesepian. Buku-buku bersama debu tebal yang menutupi sampul dan tampaknya tak pernah tersentuh. Kebanyakan bukanlah buku baru, kesemuanya adalah buku-buku lama yang barangkali tidak terjual. 

Haechan berdiri di pojok mengamati gerak-gerik seseorang. Sedari awal, dia memang tak berniat membeli sebuah buku. Satu-satunya alasannya kembali ke sini adalah Renjun. Teman sekelasnya yang sangat populer dengan paras indahnya, ya meskipun sikapnya terkenal pemarah. 

Setelah Haechan tidak sengaja melihat dia —berdiri di bawah siraman semburat senja yang hangat dari celah-celah kaca jendela di toko buku bekas ini seminggu yang lalu, Haechan entah dengan alasan apa datang lagi besok dan besoknya lagi.  

Karena itulah, Haechan akhirnya tahu bahwa pemuda pemilik netra serupa rubah itu selalu berada di sana, membaca di lorong di antara rak-rak tinggi jika sedang sepi pengunjung dan kadang langsung memilih buku lalu segera pulang saat ramai. 

Biasanya si lelaki Lee hanya menatap tajam, seperti mengawasi. Dan dia jadi mengetahui bagaimana mata Renjun melengkung sempurna membentuk bulan sabit juga lesung pipi kecil di pipi kiri nya yang terkadang muncul saat tersenyum terlalu lebar, atau bibir merah mudanya yang mencebik lucu saat merengut. Hal-hal kecil yang menarik perhatian Haechan setelah memperhatikannya berhari-hari. 

Sejujurnya Haechan tidak bermaksud bersikap seperti penguntit, sering dia tergerak untuk menyapa atau mengajak pria bertubuh mungil itu berbicara. Tetapi dia menjadi ragu setiap mengingat Renjun mungkin tidak mengenalnya. Haechan yang penyendiri di kelas. Haechan yang tidak memiliki teman dan sering dianggap aneh oleh mereka. Dia jadi berakhir tidak melakukannya. 

Namun hari ini, Renjun balas melihatnya. Cukup lama hingga Haechan pun menjadi gugup dan menyentuh sembarang buku-buku di rak untuk berpura sibuk. Haechan seketika berpikir ini mungkin saat yang tepat untuk mengatakan sesuatu, tapi bibirnya terkunci tak berani bersuara sampai Renjun mengalihkan pandangan kembali pada buku di tangannya. 

Sedetik momen itu mendorong Haechan untuk memberanikan diri mendekati Renjun, yang tengah berdiri curiga sambil sesekali melirik padanya.  

Saat jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah, Haechan menjadi bingung untuk memulai percakapan seperti apa. Dan akhirnya dia memilih untuk berkata, "Hai Renjun, sangat mengejutkan bertemu denganmu di sini," sapanya takut-takut ketika sudah berhenti tepat di samping Renjun. 

Pria bersurai pirang secerah mentari itu tidak membalas dan hanya menatap sinis sebelum kembali mengabaikannya. 

Dia melihatku seperti hama, batin Haechan seperti tertusuk.  

Haechan kecewa, dia berharap dapat berbincang dengan Renjun. Tetapi Haechan tidak tahu lagi mau bicara apa. Dia berdiri canggung dengan mata yang mengedar ke segala arah, lalu berhenti pada sampul buku yang Renjun pegang.  

Sebuah novel dengan cover perempuan berpakaian —entah memang bisa disebut pakaian, kelewat seksi yang memperlihatkan sebagian besar lekuk tubuhnya, sekilas Haechan menangkap tulisan disana 'An Urban Erotic Tale, G-Spot by Noire'. 

"Oh, kau tertarik dengan seks?" Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa ia sadari. Dari sekian banyak hal, otak kecilnya malah memilih topik yang...Ya Tuhan. 

Renjun masih bungkam dan tidak peduli.  

Haechan malu tapi sudah terlanjur dan dia tidak bisa mundur lagi, "P-penasaran tentang seks dan membeli buku seperti itu bukanlah hal yang memalukan ngok...," ujarnya diakhiri kikik geli yang sangat aneh. 

Dia membatin, Apa yang barusan itu? Haechan bodoh. Sekarang Renjun akan semakin menganggapmu some weirdo— 

Tapi Renjun menoleh. 

Dia melihatku! Haechan langsung antusias. 

Nyatanya, Renjun melongok karena mendengar dengusan seperti babi —bukan induk babi hutan menyeramkan yang sering menyeruduk, lebih mirip bayi babi peternakan merah muda karena terdengar lucu dan tidak berbahaya...Kenapa jadi bicara babi? Fokus! 

Haechan pun menjadi semakin berani, "Lelaki sehat seumuran kita memang sangat bergairah, bukan?" 

Renjun menghela napas, "Aku tidak tahu," katanya, "permisi." Dia berbalik hendak pergi menjauh. 

"Tunggu, tunggu sebentar," cegah Haechan, "kau berkata seperti itu tapi datang kesini untuk membeli buku porno kan?"  

Apa-apaan dengan tuduhan tidak berdasar itu! sungut Renjun dalam hati. Dia membalas ketus, "Aku hanya melihat novel!" Renjun lanjut berjalan ke arah kasir. 

Haechan yang melihatnya, tanpa pikir panjang menyambar asal salah satu buku dari rak section dewasa di sebelahnya, lalu berlari kecil menyusul Renjun. 

"Aku akan membeli ini," ucap Renjun pada lelaki di belakang meja kasir. 

BRAK! 

Tiba-tiba Haechan sudah datang membanting buku yang dibawanya, "Sekalian ini," katanya, "aku membelikannya untukmu." Dia tersenyum begitu lebar menunjukkan barisan gigi putihnya. 

Petugas kasir bersuara, "Pelajar tidak boleh membeli ini."  

Haechan begitu juga Renjun sontak melihat buku tersebut dan mendapati judul 'Kiat-Kiat Bercinta Tahan Lama 21+' terpampang jelas di sampulnya. Haechan tertawa garing sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sedang Renjun sudah menunduk menahan malu. Ingin menghilang di Segitiga Bermuda atau tenggelam di Palung Mariana saja rasanya dia itu.

 


 

"Aku sangat malu, sepertinya aku tidak akan berani kembali kesana," gumam Renjun pada dirinya sendiri. 

"Kau berlebihan," sahut suara dari belakangnya, "tidak masalah, Renjun. Kau bisa membaca di internet. Internet benar-benar lebih baik daripada toko buku." Ternyata Haechan masih mengikuti Renjun setelah keluar dari toko. 

Itu toko buku favoritku hiks, tangisnya dalam hati. 

Haechan menyamai langkah Renjun sambil fokus pada ponsel di tangan. Dia mengembuskan napas panjang, "Omong-omong aku butuh bantuanmu." 

Eh tiba-tiba? Pikir Renjun.  

Haechan pun menghadapkan ponselnya pada Renjun, memperlihatkan sebuah foto. 

"Yak! jangan menunjukkan hal tidak senonoh seperti itu di tengah jalan begini!" Renjun celingukan panik ke kanan dan ke kiri, khawatir ada orang lain. 

Bagaimana tidak, itu adalah gambar pasangan yang sedang bercinta. Dimana si lelaki dengan posisi berlutut melakukan penetrasi dengan kaki wanita berada di pundaknya selagi berbaring miring membelakangi.  

Haechan tak acuh, "Aku ingin tahu, apakah gaya ini masuk akal? Dan kalau memang iya, berapa besar kekuatan fisik yang dibutuhkan untuk melakukannya?" ocehnya tanpa beban membuat Renjun menjatuhkan rahang tak percaya. 

Jari telunjuknya menggaruk dagunya pelan selagi berpikir, "Ada banyak informasi yang harus ku kumpulkan dan mau ku uji coba beberapa hari ke depan."  

"Kenapa kau seperti ini?!" pekik Renjun. 

"Kau tidak bisa membaca buku tadi jadi aku akan membantumu mengetahui isinya." 

"Siapa bilang aku mau membaca buku itu? Itu kan kau!" 

Haechan mengangguk-angguk seraya mengibas-ngibaskan tangannya, "Kau tidak perlu malu, Renjun. Aku mengerti." Kemudian dia tersenyum mencurigakan, "Jadi bisakah pinjamkan aku tubuhmu sebentar?" tanyanya dengan mata berbinar.  

"NO!" Apa sih dia ini? cibir Renjun dalam hati. "Kalau mau having se...." Ia menutup mata dan mendesah kesal, "ya itu pokoknya...pergi minta pada pacarmu." 

"Aku tidak punya dan tidak ada harapan aku akan mendapatnya sekarang ini. Makanya aku memintamu." Pria bersurai hitam itu menyengir tak berdosa.  

"Kenapa harus aku?!" Renjun mengerang gusar dengan mengepalkan kedua tangan ke udara, "minta ke perempuan sana!"  

Haechan mengedikkan bahu, "Bagaimana mungkin aku bisa meminta ke perempuan kan sudah kubilang aku tidak punya pacar, kau tidak mendengarkan ya?" Tangannya menunjuk-nunjuk telinga. 

Renjun menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia harus menetralkan emosinya yang meledak, jangan sampai dia mendorong lelaki berkulit kecoklatan dengan senyum menyebalkan ini ke jembatan yang sedang mereka lewati. Bisa ditangkap pihak berwajib dia nanti. Tidak, Renjun tidak mau. Dia masih berencana merealisasikan isi buku 'Kiat-Kiat Bercinta Tahan Lama—'. Eh? Lupakan.... 

"Anyway, aku tidak punya waktu dan memiliki kewajiban untuk membantumu." Dia berkata dengan nada lembut yang dibuat-buat, "Lagian kenapa kau bisa berpikir mau melakukan percobaan yang iya-iya sih?!" Ya Tuhan suaranya kembali meninggi. 

Selama ini dia berpikir kalau Lee Haechan hanya suka menyendiri saja. Ternyata benar kata sahabatnya —Yangyang, dia ANEH. Renjun tidak boleh berlama-lama dengannya kalau tidak mau terjangkit. Dia segera mempercepat langkah. 

Haechan malah berlari menyusulnya, "Bukankah itu normal? Dan kenapa pula kau tiba-tiba tidak tertarik? Apa burungmu mendadak loyo? Atau kau lemah syahwat?" 

"TINGGALKAN AKU SENDIRI." Renjun berteriak selagi berusaha menjauh. 

Haechan tidak menyerah mengikuti kemanapun Renjun pergi. Renjun ke kanan, begitu pula dia. Renjun ke kiri, dia pun ikut. Mereka berkejaran sambil terus saling meneriaki. Renjun sudah seperti diganggu anjing gila.  

"Oh, atau kau tidak benar-benar lelaki?" ledeknya lagi seraya berjalan lurus tanpa melihat ke depan dan sukses menubruk keras punggung Renjun yang tiba-tiba menghentikan langkah. 

Renjun berbalik badan menghadapnya yang sedang mengeluh kesakitan mengusap kepala, "Aku hanya tidak mau terlibat nafsu bejatmu." Intonasinya sangat serius sambil berkacak pinggang, "...dan sampai kapan kau akan mengikutiku? Ini rumahku." Dia menunjuk pintu di hadapannya.  

Ah, Haechan bahkan tidak sadar sudah mengekori Renjun sejauh itu. Hmm...rumah ya, pikirnya. 

Renjun menekan beberapa angka pada door lock untuk segera masuk, "Kalau begitu...." Renjun pun berniat menutup pintu sebelum kaki Haechan dengan cepat menahannya. 

"Seorang teman sekelas datang jauh-jauh dan kau bahkan tidak menawarkan secangkir teh?" Haechan menyembulkan wajahnya di sela pintu dengan aura menggelap sangat mengancam yang tak bisa dibantah. 

Renjun merinding, Aaarrgghh aku mau kau enyah, Dia berteriak frustrasi dalam hati. 

 


 

Haechan sudah duduk di ruang tamu. Matanya mengedar memperhatikan rumah Renjun. Rumah Renjun adalah sebuah apartemen besar yang cukup luas dengan perabot tertata rapi. Ada banyak ruangan juga beberapa figura foto yang jelas terawat —tidak berdebu, menampakkan Renjun bersama seorang lelaki paruh baya yang sangat mirip dengannya. Tapi, tidak terlihat tanda-tanda keberadaan seseorang. 

"Kau tinggal sendirian?" 

Renjun menuang teh yang masih mengepulkan asap ke sebuah gelas sebelum menjawab, "Babaku sangat sibuk jadi aku memang lebih sering sendiri."  

"Sangat pas," cetus Haechan dengan sangat semangat sembari menggebrak meja tanpa ia sadari. Beruntung dia tak menjatuhkan gelas di atasnya. 

"Apa maksudmu?" Renjun mendelik ngeri melihat Haechan yang menyeringai lebar menunjukkan barisan gigi rapinya.  

"Itu akan menjadi masalah besar kalau sampai ada yang melihat kita saat sedang melakukan percobaan," jelasnya. 

Sekali lagi Renjun mendengkus, "Aku tegaskan, aku tidak akan membantumu." Dia menjatuhkan bokong pada sofa di sebelah Haechan sambil menyesap minumannya, "silakan pergi setelah menghabiskan teh mu." 

"Eh kenapa? Kau bahkan mengundangku masuk ke rumahmu." 

"KAU YANG MEMAKSAKU MENGUNDANGMU!" Emosi Renjun kembali tersulut. 

Si pria Lee menghela napas lalu menatap lurus ke netra Renjun dalam-dalam, "Renjun, aku tidak memintamu benar-benar berhubungan seks denganku. Kau bisa tetap memakai baju. Ini hanya akan seperti latihan gimnastik, kau tahu?" katanya meyakinkan. 

"Bukan itu masalahnya—" 

"Iya aku tahu kalau aku meminta hal gila, potong Haechan, "tapi kau satu-satunya yang bisa kumintai tolong." 

"Sudah tahu tapi masih saja," gerutu Renjun. 

Sudut bibir Haechan turun menunjukkan wajah paling memelas di dunia, "Bisakah kau membantuku? Please, Renjun-nie?" Telapak tangannya dikatupkan dibawah dagu. 

Pada dasarnya Renjun memang tipe yang lemah dengan permintaan orang lain. Apalagi menatap ekspresi Haechan. Renjun menjadi tidak tega untuk menolaknya. "Uh, bagaimana kau bisa menunjukkan wajah sepolos itu setelah berkata cabul." 

"Tidak cabul," bantahnya, "Aku tidak akan melakukan hal seperti itu. It’s just a pretend game after all." Jari telunjuk dan tengahnya diangkat di samping muka, tanda berjanji. 

Renjun tidak yakin, pasalnya dia bukan hanya tidak mengerti 'percobaan' yang temannya ini maksud akan sejauh mana. Apalagi dia belum memiliki pengalaman soal itu. 

Terlebih dia baru mulai mengobrol dan bertukar kata dengan Haechan pertama kalinya hari ini. Bukankah aneh dia menerima permintaannya? Apa bayi babi yang terlihat tidak berbahaya ini dapat dipercaya?  

"Tapi...." Renjun masih meragu. 

"Kau tidak harus mengikuti semuanya. Kalau kau merasa tidak nyaman, aku akan langsung berhenti." Netra jenggalanya berkedip-kedip lugu, Renjun kan jadi goyah. 

"Hmm...." Renjun menggaruk pelipisnya, terlihat berpikir. 

Beberapa detik berlalu dan Haechan menjadi tidak sabar menunggu. Dia beranjak tiba-tiba dari sofa, kemudian meraih pergelangan tangan Renjun dengan lembut sambil sedikit menyeretnya, "Untuk sekarang ayo ke kamarmu dulu. Kau hanya perlu berbaring." 

"Benarkah?"  

"Dimana kamarmu?" todong Haechan. 

Ragu-ragu Renjun menunjuk salah satu pintu di antara dapur dan ruang tamu, "Eerh...disana."

 


 

"Ayo cepat lebarkan pahamu," perintah Haechan dengan wajah datarnya pada Renjun yang sudah gemetar ketakutan di atas kasur. 

"Aku tidak mau!" 

Haechan mengusap wajahnya, "Kenapa lagi?" 

"Ternyata lebih memalukan dari yang ku duga." Renjun sudah memeluk lututnya yang tertekuk. 

"Kau akan menyerah setelah sejauh ini? Kau sangat pengecut, Renjun-nie," cibir Haechan selagi berusaha memisahkan kedua kaki Renjun yang menyatu. Tangan kanannya menyikirkan kedua tangan Renjun yang memegangi kaki, sementara tangan kirinya mencoba membuka paksa paha lelaki itu. 

"T-tunggu...tadi kau bilang kau akan berhenti kalau aku tidak suka!" 

"Kita bahkan belum mulai?" jawab Haechan apatis. 

Pun Renjun menggeliat sembarang karena Haechan yang berusaha keras memisahkan pahanya yang saling merapat. Sepertinya Haechan sangat bertekad, terbukti dari tenaga Haechan yang tidak main-main. Sampai.... 

Jeng jeng jeng! Selangkangan Renjun ternganga lebar. 

Haechan berhasil. 

Sialan, wajah Renjun sudah memanas. Dan Haechan malah berlutut nyaman di antara celah kaki Renjun, dengan kejantanan mereka yang kini tertempel sempurna dibatasi celana. 

Posisi misionaris! 

"Bagaimana Renjun?" Ia menatap Renjun yang berada di bawahnya. 

"Kalau bertanya padaku...," Renjun menelan ludahnya kasar, "aku juga tidak tahu?" Suaranya berubah gugup. 

Haechan merotasikan bola mata ke atas, "Hmm padahal aku ingin tahu kesan dari sisi perempuan." Badannya secara alami bergerak acak selagi dia berpikir keras, yang sesekali mengenai bagian sensitif Renjun. 

"J-jangan mendorongnya," tegur Renjun malu-malu. 

Haechan tertegun melihat semburat merah yang menghiasi pipi gembil Renjun yang menjalar sampai ke telinga. Perhatiannya pun teralih pada pucuk dada Renjun yang terlihat menegang di balik kemeja putih seragam sekolahnya. Haechan malah tergerak untuk menjulurkan tangan menggapainya. Haechan mencubit keras benda itu. 

"Ouch! Apa yang kau lakukan?" 

"Ah, salahku. Aku penasaran, gerakan seperti apa yang bagus untuk menyentuh payudara." Dia mulai meraba-meraba permukaan dada datar Renjun, "aku tidak begitu yakin, jadi...." Dia menjepitnya di antara jemari dan mengusap pucuknya dengan sensual, "Apa ini enak?" 

"Y-ya...enak, tapi kau bilang ini hanya percobaan, kenapa kau menyentuh dadaku?" protes Renjun yang hanya diabaikan oleh pria di atasnya. 

Jari-jari panjang itu semakin gencar memainkan dadanya, terkadang menekan, memutar, atau mencubitinya dengan gemas sampai-sampai satu lenguhan lolos dari birainya tanpa bisa lagi ia cegah, "Ngghhh...." Renjun sontak menghentikan gerakan tangan Haechan setelah mendengar suara memalukan miliknya sendiri. 

"Apa?" tanya Haechan yang sama sekali tidak merasa bersalah. 

Yang ditanya semakin tersipu, "Kau bilang tidak akan melakukan hal cabul." Wajahnya sudah semerah tomat. 

"Aku tidak berniat seperti itu." Haechan mengedikkan bahu, "Bukankah kau yang berpikiran cabul sekarang, Renjun? Lihat putingmu bahkan mengeras sampai aku bisa melihatnya di balik bajumu." Dia menepis tangan Renjun yang menahannya. 

Renjun berteriak, "CUKUP!" 

"Apa yang kau bicarakan? Kita baru saja mulai. Kita harus menguji lebih lanjut." Alis Haechan menukik tajam, tak terima.

Membuat Renjun mengeraskan rahang, "Kau tadi bilang aku tidak perlu mengikuti semuanya!" Ia sudah cukup bersabar. 

Ekspresi Haechan berubah datar, "Hah? Aku bilang begitu?" 

"YOU CHEAP BASTARD!" umpat Renjun. Kesabarannya benar-benar diuji. 

Lalu apa Haechan peduli? Tidak. Dia malah semakin merapatkan tubuh mereka, "Sepertinya mengenakan pakaian seperti ini yang membuat Renjun sulit memahami rasanya?" gumam Haechan pada diri sendiri. Selanjutnya, dia pun menyuarakan pemikirannya, "Renjun, buka bajumu sebentar," pintanya tanpa dosa. 

Sontak Renjun melotot, "APA?! TIDAK! AKU TIDAK MAU!" tolaknya mati-matian. 

"Ayo, yang bawah saja," bujuk Haechan lagi setelah menggapai pengait celana Renjun. 

"Justru yang bawah masalahnya!" Renjun memberontak sekuat tenaga, memukul-mukul bidang lelaki di atasnya dengan lengan kecilnya. 

Secepat angin Haechan membalik posisi Renjun menjadi membelakanginya selagi tangannya menarik kaitan kancing si lelaki dengan cekatan. Renjun tambah meronta-ronta menyadari pria freak di belakangnya ini berniat menurunkan celana panjangnya sampai mata kaki, "Yak! Hentikan, aku serius!" 

Haechan menekan punggung Renjun ke kasur demi menghentikan perlawanannya. Tak menyisakan celah. Menutup semua jalan Renjun untuk kabur. 

"LEPASKAN AKU!" Renjun masih berusaha melepaskan diri. 

"Jangan menggelepar seperti itu." Haechan menepuk bokong sintal Renjun untuk menenangkan dia yang bergerak-gerak liar layaknya ikan terkapar. Bukannya berhenti, Renjun malah semakin tak bisa diam sampai membuat celananya melorot hingga terlepas dari kaki. "Hentikan! itu bahaya, kakimu hampir menendang wajahku." Haechan menahan tungkai Renjun yang menggapai-gapai udara. 

Yang lebih kecil akhirnya tak berkutik karena kehabisan energi. Sekarang dia terkulai lemah, menelungkup sementara Haechan mengapit tubuhnya di antara kaki. 

"Kau ini benar-benar sangat keras kepala. Lihat, celana dalammu jadi terlepas juga." Ia mengangkat sebelah bahu, "well whatever...." Pandangan Haechan kemudian jatuh pada dua bongkahan milik Renjun, "Bokongmu jadi sangat merah, apa aku memukulnya terlalu kuat?"

Renjun tak menjawab, dia sudah kelelahan. Namun, sensasi sejuk tiba-tiba menyapa bagian belakangnya, "Apa itu?" 

"Lubricant gel." 

"Lubr— kenapa kau membawa benda itu?" Renjun benar-benar tak habis pikir. 

"Karena aku juga ingin mengujinya. Katanya ini dingin. Pas sekali untuk bokongmu yang memerah." Telapak Haechan tanpa ragu meratakan gel ke seluruh permukaan dua tonjolan empuk milik Renjun itu. 

Renjun terperangah. Bulir-bulir keringatnya kini turut bermunculan karena gelisah. 

"Jadi bagaimana rasanya?" tanya Haechan enteng, masih sambil mengelus, mengalirkan sengatan-sengatan yang membuat si pria dalam kuasanya kian bergetar. 

"Aku tidak tahu." Renjun sudah pasrah. 

Telapak besar Haechan mulai meremas pelan bokong Renjun. "I see...." Dia bergumam sambil meraba sensual dengan gerakan memutar berulang kali. Selanjutnya ia menyisipkan jarinya melewati bilah terhimpit di antara dua bongkahan itu. 

Gila, benak Renjun memprotes. Namun, saat dia masih berupaya mencerna apa yang terjadi, kejutan lain malah menyapa. "Itu...." Napas Renjun tercekat merasakan ujung jari Haechan mengetuk-ngetuk mulut lingkaran berkerut miliknya. 

"Ya, ternyata klaimnya benar ya, Njun. It does slips in quite easily," sebut Haechan dengan santai seraya manggut-manggut. Dia mengulanginya lagi dan lagi, tidak memperdulikan temannya yang bergerak kelojotan karena diberi rangsangan bertubi-tubi. 

Tanpa permisi ia melesakkan jari tengah ke dalam lubang Renjun yang sudah basah. "Lubrikan berfungsi dengan baik," komentar Haechan sembari pelan-pelan menggerakkannya maju-mundur di dalam. 

"H-Haechan, ja-jarimu?" Renjun terbata. Tenggorokannya kering. 

"Sangat sempit seperti perkiraanku. This is amazing." Haechan sangat bersemangat, lanjut mengacak-acak dengan gerakan menggunting tanpa menanggapi si kecil yang tidak berdaya diperlakukan sedemikian rupa. 

Renjun panik. "K-kau...." 

"Aku sudah memasukkan dua jariku." 

Renjun tidak sanggup. Dia ingin menyerah, tapi tubuhnya berkata lain. Punggungnya sudah melenting ke atas membuat posisinya menjadi menungging, yang justru memudahkan pria di belakangnya untuk berbuat lebih. 

"Eummphh...." Renjun menahan desahannya saat Haechan semakin mengobrak abrik lubangnya tanpa ampun. Susah payah dia berujar, "Ini hhh sudah melewati batas percobaan mmhh." Peluh menetes turun dari rambut melalui dahi ke bawah membasahi kemeja putihnya yang menjadi transparan. 

"Hanya jari masih aman. Ada pemeriksaan kesehatan di rumah sakit dimana mereka memasukkan jari, bukan? Jadi tenang saja." Haechan berkelit sambil terus mempercepat laju jarinya. 

Renjun mati-matian mengulum bibir bawahnya demi menahan tiap erangan yang hampir lolos. Sampai birai polos tanpa polesan itu membengkak merah dan setitik darah tampak menghias di sana karena di gigit terlalu kuat. 

"Aku jadi penasaran dimana letak prostat." Haechan menusuk-nusuk lebih dalam. Keningnya sampai merengut karena terlalu serius. 

"Ahhhh..." Desah keenakan Renjun lepas. Tanda dia sebenarnya menikmati sentuhan pria itu. Meskipun dia tetap saja masih mengeluh, "Kenapa aku harus melalui ini?" Renjun meringis. Netranya pun memerah. 

Haechan abai, "Katanya lebih mudah menemukan prostat saat ereksi." Haechan pun meraih penis Renjun menggunakan tangan satunya lalu menggerakkannya naik turun dengan lihai, "apa enak?" 

"Apa gunanya semua ini?" Mata Renjun sudah berkaca-kaca. 

"Karena aku ingin tahu." Haechan menambah tempo gerakannya untuk menusuk lebih jauh lubang temannya yang mulai berantakan karena cairan kemaluan dan gel yang beradu. Penis dalam genggaman ikut basah sebab dilumuri precum. Semuanya menyatu menimbulkan suara decak erotis memenuhi rungu. 

"Tidak, cukuphhhh...hentikan!" cegah Renjun di tengah jeritan, "Ahhh...ahhhhhhh." Dia semakin mendesah kencang, menggelinjang tak karuan saat satu titik nikmat di tubuhnya akhirnya tersentuh. 

"Jadi disini." Haechan berhenti, "sebentar Renjun-nie," katanya lagi. Sejenak dia grasak grusuk sibuk sendiri, membiarkan temannya dalam kebingungan. 

Tapi Renjun bernapas lega, tidak begitu menaruh perhatian pada pria di belakangnya, huft, syukurlah dia mengeluarkan jarinya...eh? 

Renjun membelalakkan mata saat merasakan benda tumpul menubruk-nubruk lubang senggamanya. Renjun tahu itu apa. Paham betul ketegangan itu timbul karena apa. Sial, temannya ini ternyata terangsang. Dan sedang menggesekkan miliknya. 

"Yak," Renjun berujar lemah, "apa ini masih bisa dibilang aman?" 

Suara Haechan yang terdengar memberat menyahutinya, "Tidak masalah, ini hanya pertemuan kulit dengan kulit. Apa bedanya dengan siku yang berbenturan atau dua orang yang berjabat tangan?" 

Helaan napas kesal Renjun lepaskan sebagai tanggapan, "Aku tidak mengerti jalan pikiranmu." 

"Jangan khawatir." Intonasi Haechan sangat tenang. 

Sedang penis berurat Haechan yang mengacung tegak itu setia menggesek lubang Renjun secara beraturan. Renjun menjadi cemas, sampai sejauh mana hal ini bisa dikatakan aman? Asal dia tidak memasukkannya? 

Ujung penis tersebut terus mendesak tanpa ampun. Napas Renjun jadi hilang di tenggorokan karena risau. Tubuhnya kerap terhentak-hentak ke depan setiap kejantanan Haechan menabrak pintu lubangnya berkali-kali. 

Renjun kalang kabut, Aduh apa yang harus ku lakukan? Apa yang harus— 

Dan...ujung penis itu pun tertancap. 

"K-kau masuk...kau memasukkannya." Jantung Renjun jadi berdetak lebih kencang dari biasanya. 

"Eh?" Haechan menunduk melihat lubang berkedut yang memerah itu sudah menelan ujung penisnya. "Oh iya kau benar. Aku salah sasaran, maaf." 

Si pirang mengamuk, "SO FAKE!

Seolah tuli, Haechan melanjutkan percobaannya. Dia sekali lagi menuangkan cairan lubrikan. Kali ini ke atas kejantanannya sendiri, "Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk menguji apa penis bisa mencapai prostat," katanya. 

"Sangat tidak penting!" hardik Renjun. 

Tetapi Haechan malah semakin merendahkan tubuh. Mempertemukan perutnya dengan punggung sempit milik Renjun. Kejantanannya yang mengeras di dorong masuk. Ia menggeram selagi penisnya ditekan perlahan-lahan ke dalam, "Argghhh...sedikit lagi." 

Erangan bersahutan dengan desah parau dari Renjun yang sudah menggigiti bantal menahan perih serta tangan yang meremat seprai kasur. 

Tubuh Haechan sesaat ambruk, menindih si pria yang lebih kecil. "Sudah masuk semua, hah..." Dia menghela puas saat penisnya telah tertanam sempurna sampai ke pangkal. 

"Sakit...." Sebaliknya, rengekan Renjun yang justru terdengar, diikuti air mata bercucuran dari pelupuknya. Isakannya redu redam terbungkam wajah yang tenggelam di atas bantal. 

Haechan langsung menciumi tengkuk leher Renjun yang terbuka, "Tidak apa-apa, itu karena lubangmu ketat sekali. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada jalan lain." Kecupan-kecupan terus dia berikan. Bibir tebalnya mengapit kuat setiap jengkal kulit leher itu. Meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang nantinya pasti berubah keunguan. Sungguh tanda pergumulan yang sangat indah bukan? 

"Aku tidak akan paksa bergerak sampai kau terbiasa," ujar Haechan serak bercampur geraman tertahan. 

Haechan lalu mengambil kesempatan saat napas Renjun yang terengah mulai teratur. Dia memulai permainan pinggul yang gila. Menarik diri sampai ke ujung lalu mengentak keras, menyentuh titik terdalam selubung sempit yang memijat ketegangannya. Tangan kanannya pun tak tinggal diam, ikut memulai gerakan nakal pada pucuk dada Renjun yang mencuat. 

"Padahal hhh kau bilang ahh...tidak akan melakukan hal cabul mmhh," lirih Renjun saat si pemuda Lee balik mengerjai putingnya. 

Sementara itu, lidah hangat Haechan menjilati punggungnya serta tangan kiri yang kembali menggenggam kejantanan Renjun —yang menggantung, dalam kehangatan. Pinggul Haechan maju mundur. Berpacu lebih cepat. 

"Ahh...mhhh...." Renjun hilang kendali. Suara desahannya menyatu bersama tepukan kulit yang saling menyapa. "B-bukankah ahhh ini seks?" 

Haechan menggeram, "Bukan. Hanya percobaan, bukan seks. Kemenangan tidak ada artinya dalam pertandingan yang belum dimulai, bukan? Sama halnya dengan ini...." Penjelasannya menggantung sejenak karena teralihkan oleh penisnya yang dijepit rapat kelewat nikmat. 

Haechan bertambah gencar seiring dengan permohonan yang keluar dari bibir Renjun, "Janganhh bergerak lagi ughh." 

Haechan memiringkan tubuh Renjun sambil terus menggenjotinya, "Ini tidak dihitung seks," sambungnya di sela napas yang berembus satu-satu, "jadi kau masih perjaka. Bukankah itu bagus, Renjun?"

Posisi mereka sekarang persis foto di ponsel Haechan yang tadi sempat ditunjukkan. 

Renjun sedikit berbalik, menoleh dari balik bahu dengan satu tangan menahan bidang Haechan yang tengah mempercepat gerak sodokannya. Sua pun bertemu, bersitatap intens. 

"Benarkah?" Mata rubah yang menyayu memaku netra tajam kecoklatan milik Haechan, mencari kejujuran. 

"Uh-huh," jawab Haechan sekenanya. Ia mendekatkan wajah meraup mulut Renjun yang berliur karena menganga. Melesakkan lidahnya ke dalam untuk saling berpagut. Kelopak keduanya pun refleks terpejam. 

Bersamaan dengan itu, Haechan memutar posisi, mengungkung dari atas agar tubuh saling berhadapan, tanpa repot-repot melepas penyatuan. Cumbuan kian menuntut. Lidah berbelit, mengisap rasa satu sama lain. Panas, sampai akhirnya sesak lah yang memutus pagutan mereka. 

Mulut terbuka mengais udara, "Ini juga bukan ciuman?" tanya Renjun dengan napas tersengal, sedang kakinya sudah melingkar di pinggang Haechan, yang mau tak mau semakin merapatkan tautan kelamin dibawah sana, hingga tak sedikitpun menyisakan ruang. 

"Uh-huh." Sungguh Haechan bahkan tak mampu lagi menjawab. Rasa kosong dari ciuman yang terlepas lebih menyita perhatiannya. Dia kembali menarik wajah Renjun, mendaratkan bibir di atas bibir. Kali ini dengan cepat cenderung kasar. 

Renjun melepas paksa ciuman mereka, membiarkan benang liur menjuntai dari birai ke birai. Dia mengaju tanya dengan mata terbuka penuh nafsu yang menggoda, "Kau yakin? Kalau begitu tid—" 

Ucapannya terputus oleh hunjaman Haechan yang berubah ganas. 

"Sudah kukatakan. Arrgghh...." geram Haechan. 

"Ahhh luar biasa!" Otak Renjun mendadak kosong, lupa dengan segala pertanyaan yang berputar-putar di kepala. Yang tersisa hanyalah gelombang hasrat yang menguasai sepenuhnya. Dia mendongakkan kepala, menengadah ke arah langit-langit kamar, sementara tubuhnya berguncang dengan hebat. 

Hunjaman demi hunjaman keras dari Haechan tak sekalipun meleset untuk menyentuh titik nikmatnya. Kuat dan bertenaga. Sehingga, ia tak bisa menahan diri untuk tidak menjeritkan nama lelaki yang sesungguhnya asing, namun terasa begitu alami meluncur dari bibirnya. 

"Haechannn...nghh...." Tubuh Renjun sudah terdesak sampai kepala ranjang. "Kau hhh terlalu kasar." Dia memeluk punggung lebar dan kokoh pemuda itu sebagai satu-satunya topangan yang bisa ia dapatkan kala tubuh bagian bawahnya diinvasi tanpa ampun. 

This is so intense. 

"YOU'LL BREAK MY ASS!" jerit Renjun tak kuasa. Tangisnya luruh, "Pelankan...." Ia memukul-mukul pundak Haechan memohon belas kasihan. 

"Aku mau...." Haechan terus mendesak keras, "Aku sungguh berusaha hati-hati." Ia mengerang, mengecap surga setiap kali dirinya memasuki liang hangat yang mengapitnya kuat dengan denyutan memabukkan. Membuat pinggulnya tidak ingin berhenti memacu walau sedetik. 

"Tapi entah kenapa tubuhku tidak mendengarkan." Dicengkeramnya pinggang ramping Renjun erat, yang mungkin akan meninggalkan bekas, "Bertahanlah sampai aku keluar." 

"NO WAYYYY." Kuku pendeknya sudah menancap, ciptakan goresan di punggung Haechan. Namun, semua perih itu seperti tidak ada apa-apanya bagi Haechan. Tidak dengan kenikmatan yang mengaliri tubuh mereka berdua saat ini. "Aku tak kuat lagi. Cepat, cepatlah keluar. Please!" mohon Renjun putus asa. 

Haechan menatapnya lamat, "Kalau begitu semangati aku." 

Pria kecil yang sudah lemas itu memiringkan kepala, "H-hah?" Berusaha mencerna perkataan si teman, "Do...do your best...?" ucapnya tak yakin. "Come on!" Kini lebih keras. 

Haechan pun membungkuk, mengulum puting Renjun. Ujung lidah dipakai menjilati pucuk yang sudah membengkak. Renjun kontan menjambak rambut tebalnya, menekan kepala itu terdesak kian dalam. Birai Renjun megap-megap, menghirup oksigen di tengah serbuan hasrat yang mengurung. 

"Do your best. Aku mendukungmu. So please cum. Do...your...best!" Dia menyemangati Haechan lebih kencang diselingi desahan yang semakin kencang pula, "Ahh...ahhh." Lubangnya sesak. 

"Thanks...," balas Haechan asal setelah menjauhkan mulutnya dari dada Renjun. 

Astaga, Renjun merasa telah di ambang batas. Miliknya membesar, seakan siap meledak. Desakan itu makin menyergap, membuat perutnya menegang hebat. Lubangnya tambah mengetat. Dia pun memeluk leher pria di atasnya, dan tak lama…gelombang keras menggulungnya. 

Sekujur tubuh Renjun mengejang. Punggung melengkung tinggi ke atas. Bola mata berputar pada titik buta. Putih pun menyembur mengotori perut mereka yang berhimpit. Gerungan terakhirnya teredam di pundak Haechan, tempat di mana wajahnya sedang berlabuh. 

"Renjun, sekarang tutup matamu," suruh Haechan. 

"Ke-kenapa?" Bicara Renjun terbata sebab napasnya masih memburu. Ia berniat mengaturnya, namun rasanya sia-sia. Karena Haechan belum mau memberinya waktu. Bagaimanapun juga, kejantanan pria itu masih sangat keras dan menjejal di dalam tubuhnya. 

"Aku akan selesai setelah itu," jelas Haechan di tengah kesibukannya bergerak memompa tanpa henti, tak peduli tubuh si pria yang masih sensitif usai baru saja menjemput pelepasan, "jangan buka sampai aku bilang sudah." 

"Ok-oke." Renjun hanya menurut. "Ini akhirnya akan seles— mnghhh." Ia tersentak saat Haechan mendadak menarik penis dari lubangnya. 

"Tetap seperti itu," kata Haechan, lalu menegakkan tubuh sembari melepaskan cairan kepuasan, menyemprotkannya ke wajah pria dalam kungkungannya. Cepat-cepat dia meraih ponsel, memotret pemandangan erotis keadaan Renjun yang berantakan di bawahnya. 

"Ada sesuatu di wajahku." Gerutu pria pemilik netra rubah yang masih patuh terpejam itu. 

"Aku tidak sengaja menumpahkan lubrikan." 

Ckrek! Ckrek! 

"Aku mendengar suara kamera?" 

"Hanya imajinasimu saja." Ponsel dilempar sembarang. Telapak dibawa menangkup kedua sisi rahang Renjun, "kau bisa membuka matamu sekarang." 

Kelopak Renjun terbuka dan langsung disambut dengan ciuman lembut. Teramat pelan, penuh kehati-hatian. Setelahnya, Haechan roboh menindih Renjun. Dadanya naik turun seiring napasnya yang tidak teratur, sedang berusaha menenangkan diri. 

"Chan~" panggil Renjun dengan suara serak disertai rintihan. 

Haechan bangkit menjauh dari atas Renjun. Dia melihat Renjun merengut dengan bibir yang bergetar. Pria itu membuka paha, mengangkang lebar menunjukkan selangkangannya.

"Huwaaa...lubangku sangat perih. Gimana kalau sobek?!" Tangis Renjun pecah. 

Haechan sampai mematung, merasa bersalah, "Aku akan memeriksanya," ujarnya kemudian. Dia menunduk untuk melihat ruang di antara paha tersebut. 

"Kakiku pun gemetar...." Renjun sesenggukan parah.

"Tidak apa, hanya sedikit bengkak," kata pria Lee itu menenangkan, "Mau aku berikan obat?" 

Netra basah Renjun mengerjap-erjap, "Obat?" 

Haechan mengangguk, "Berbalik," ucapnya yang langsung Renjun ikuti. Telungkup memunggungi. 

Kenapa dia membawa benda-benda aneh dalam tas nya? benak Renjun. 

Haechan mengusapkan jarinya untuk mengoleskan salep di liang lecet yang memerah tersebut, membuat Renjun kembali meringis menahan perih. 

Perutku juga sakit~ keluh Renjun, tak henti bersungut-sungut di dalam hati. Sedetik kemudian, ia jatuh tertidur. 

 


 

Hari itu menjadi titik balik 'hubungan' Haechan dan Renjun. Setelahnya, mereka tidak sekali dua kali melakukan 'percobaan'. Mengulanginya, kapanpun ada waktu luang. 

"Bagaimana kalau ada yang melihat kita?" 

"Jarang ada yang datang ke sini, jadi tidak perlu takut." 

Mereka melakukannya di sekolah. Di berbagai tempat, mulai dari gudang, kelas kosong, ruang kesehatan. Berbagai macam hal, seperti rimming, blowjob, handjob, dry sex dan juga mencoba gaya seks apapun dari doggy style, spooning, standing up. Apa saja. Semuanya demi menjawab rasa penasaran dan menenangkan pikiran Haechan yang ribut. 

Begitu terus tanpa adanya ikatan. Sampai tidak terasa setahun sudah berlalu. Dan disinilah mereka, dengan 'percobaan' lain di atas kasur di kamar Renjun. 

"Kasi pose peace dengan kedua tanganmu," perintah Haechan usai pergulatan panas yang selalu ditutup olehnya dengan mengambil beberapa gambar. 

Renjun yang masih tak bertenaga setelah pelepasan pun mengangkat tangan pasrah mengikuti perkataan Haechan, dia sudah sangat tahu kebiasaan 'teman' nya satu itu. 

"Yes, pretty." Haechan beranjak dari ranjang, "Aku langsung pulang." Dia sudah mengancingkan kemeja untuk merapikan penampilannya. 

"Ya...," jawab Renjun yang terbaring lemas. 

"Oh ya, rasanya aku sudah melakukan semua yang ingin aku tahu. Sepertinya aku akan berhenti melakukan 'percobaan'. Bagaimana menurutmu?" 

Renjun tertegun sebentar, "Aku senang, akhirnya ini berakhir," katanya kemudian. 

"Oke, ayo lakukan itu. Terima kasih sudah membantuku selama ini, Renjun." Dia sudah selesai bersiap untuk berpamitan, "Sampai ketemu besok di sekolah." Tangannya melambai-lambai bersama tubuhnya yang mulai menghilang di balik pintu. 

"Iya." 

Haechan menutup pintu. 

"Finally, it’s over."

 


 

Seminggu terlewati.... 

Renjun tengah duduk melamun di kursinya yang berseberangan dengan meja Haechan. Kepalanya dipenuhi banyak tanya, Aku penasaran apa dia serius. Tetapi dia memang lagi-lagi tidak melakukan apa-apa hari ini. 

Haechan benar-benar berhenti. 

Benak Renjun berperang. Mata rubahnya sesekali melirik ke samping. Dia sangat mendesak saat pertama kali memulainya dan sekarang dia juga berhenti tiba-tiba. Pikirannya tidak berhenti berkecamuk. Dia memang suka seenaknya. Cibir si pemuda Huang dalam hati, Biarin sih, akhirnya hari-hari damaiku kembali. 

Tapi, sejujurnya, jauh dalam lubuk hati pria itu....Dia merasakan ada sesuatu yang berubah dari dirinya. Setiap kali tubuhnya mulai memanas, dia menjadi tidak tenang. Seperti malam tadi misalnya. 

"Sial, jariku tidak sampai. Ini tidak cukup, aku mau lebih." 

Renjun kesal. Dia merindu tangan besar dengan jemari panjang yang biasa melingkupi tubuhnya. Meraba kulitnya. Memberinya kehangatan. Sentuhan nikmat di sekujur tubuhnya. Suara erangan berat yang memanggil namanya lembut. Keringat pria itu yang mengalir selagi bergerak dalam penyatuan mereka, sangatlah seksi. Belum lagi, Ahhh— 

"Apa, Renjun?" 

Suara Haechan membuyarkan angannya, "Hah?" Dia kaget seperti tertangkap basah berbuat mesum. 

"Kau sudah memandangiku sedari tadi dengan ekspresi konyol," selidik Haechan, "butuh sesuatu?" 

"Tidak." Langsung Renjun membantah, "aku hanya melamun. Don't mind me." Dia menyengir, dan hanya Haechan balas dengan dehaman. 

Tangan Haechan mengetuk-ngetuk sisi meja selagi dia bersenandung. Tindakan sederhana yang ternyata mengambil alih fokus Renjun. Melihat urat-urat menimbul di lengan kokoh tersebut. Lengan sama yang membelai— 

Fuck! Renjun berdiri menggebrak meja saat pikirannya mulai berkelana lagi. Dia butuh pengalihan. Bertepatan dengan itu, matanya pun menangkap sosok lelaki tampan memasuki kelasnya. "Eh, Jeno mau makan siang bersama tidak?" 

"Tentu saja," balas si pria bertubuh atletis dengan cepat. 

"Bagus, ayo pergi sekarang, kemana saja sejauh mungkin." Dia menggandeng lengan teman sekelasnya itu untuk meninggalkan ruangan. Dia harus pergi, karena ia senantiasa berpikiran yang iya-iya setiap Haechan berada di dekatnya. Sehingga dia bertekad menjauh, supaya tidak bertemu. 

Jeno mengangguk-angguk, "Kemanapun kau mau, Renjun-nie." 

Haechan menatap kepergian mereka dalam diam, dengan raut yang sulit diartikan. 

Sayup-sayup perbincangan Jeno dan Renjun masih dapat didengar, "By the way, pulang sekolah bisa jalan bersamaku?" tawar Jeno, "aku ada voucher ice cream di kafe depan sekolah, mau?" ajak pria itu yang segera disambut sahutan semangat oleh Renjun. 

Haechan menghela napas kasar tepat saat Yangyang, sahabat Renjun yang kini juga berteman dengannya, datang menghampiri. 

Dengan dahi mengernyit dia bertanya, "Kenapa mukamu masam?" 

"Aku hanya sedang berpikir, kenapa Renjun sangat keras kepala?" 

"Hah?" Yangyang jelas tidak mengerti.

 


 

Selang waktu berlalu. Jam pulang sekolah pun tiba~ 

Renjun dan Jeno sudah duduk berhadapan sembari berbincang ringan sambil menunggu ice cream pesanan mereka diantar. Tak lama, suara denting lonceng pintu kafe yang terbuka menyita perhatian Renjun. Jeno pun ikut menoleh. 

Di sana, muncul dua sosok yang tak lain dan tak bukan adalah Haechan dan Yangyang, yang ternyata juga mendapati keberadaan mereka. Keduanya berjalan lurus menuju meja Jeno dan Renjun. 

"Boleh kami bergabung?" cetus Yangyang. 

Jeno melirik Renjun meminta persetujuan, yang meskipun Renjun sangat ingin berteriak 'TIDAK', dia tetap mengangguk. 

"Silakan," kata Jeno. 

Dua lelaki itu langsung mendudukkan diri, dengan Haechan yang tanpa mengambil pusing segera menjatuhkan bokongnya persis di sebelah Renjun terlebih dahulu. 

"Hei, duduk disana saja," cegah Renjun, meski si lelaki berkulit agak kecoklatan itu tidak sedikitpun berniat berpindah ataupun bergeser. Renjun menegang. Detak jantungnya tiba-tiba bekerja dua kali lipat lebih cepat karena jarak mereka yang sangat dekat. 

Tidak, tenanglah jantung. Harap kerja samanya. Renjun gelisah. 

"Kebetulan sekali." Jeno memulai percakapan untuk memecah keheningan canggung tak mengenakkan di antara mereka. "Kalian juga mau makan ice cream, ya?" tanyanya, "cuaca memang sedang panas," lanjut Jeno tanpa menunggu dijawab. Tujuannya hanyalah berbasa-basi saja. 

Sementara Renjun sendiri sibuk menetralkan debaran yang ia rasakan, Tolong, Huang Renjun. Jangan berpikiran an— 

Dia hampir melonjak kaget, saat tangan yang sangat familiar menyentuh tangannya di bawah meja. Napasnya tercekat. Pelan-pelan pertautan memasuki sela jemarinya sampai akhirnya tergenggam sempurna. 

Renjun bertambah cemas, tangan satunya ia angkat ke mulut, menutupi kegugupannya. Takut kedua teman yang berbincang seru di hadapannya melihat semburat merah yang dia yakin sudah menghiasi pipi putih berisi miliknya. Dia sudah begitu panik, sedang si pelaku hanya memasang raut datar. 

Ibu jari Haechan terus-terusan mengelus punggung tangannya dengan sengaja. Namun, mendadak si 'mantan teman tidur' Renjun itu berdiri. 

"Eh, kenapa Chan?" Yangyang terheran-heran. 

"Aku sepertinya hanya mampir saja," sahut si lelaki. "Aku mau membeli sesuatu di toko buku dulu, lalu langsung pulang," tambahnya lagi. "Nikmati waktu kalian." Dia pun berlalu pergi meninggalkan mereka. 

Yangyang menggeleng-gelengkan kepala tak percaya, "Aneh sekali. Padahal dia yang mati-matian menyeretku ke sini." Bibir tipisnya mencebik. 

"Maaf…." Renjun menyela dengan kepala tertunduk, menghindari mata temannya yang sudah menatap bingung, "sepertinya aku tak enak badan," ungkapnya dalam suara bergetar, terkesan sedikit merasa bersalah. 

"I see." Jeno dan Yangyang menjawab serentak. 

"Aku permisi, kalau begitu...." Dia bangkit dari kursinya, meninggalkan dua orang lelaki yang saling bertatapan melempar kesal. 

"Ah, Renjun sepertinya tidak sakit." Yangyang menyuarakan pendapatnya seraya melepaskan helaan napas kecewa. Tangannya di atas meja menopang sisi rahangnya yang ditumpukan, "Sayang sekali, aku tidak bisa berlama-lama melihat wajah indahnya." 

Jeno menyugar rambutnya ke belakang sambil menyandarkan punggung, "Memang bukan. Aku rasa, dia hanya terpaksa menerima tawaranku." Pria itu juga ikut menyiuk. 

"You okay with it?

Dehaman berat tanda mengiyakan diberikan sebagai jawaban. What a cool. Hingga Yangyang menolehkan kepala ke arah Jeno untuk melihat kesungguhannya. Pandangan mereka pun bertemu. Cukup lama hingga Yangyang dapat mengagumi garis wajah si pria pemilik mata sipit tersebut, He's kinda sexy, itu yang terlintas singkat dalam pikirannya...tetapi saat tersadar, ia mendapati Jeno ternyata balas menatapnya kelewat dalam seraya tersenyum manis.

Yangyang kan jadi deg-degan seketika. Heh?

 


 

Dan soal Renjun, nyatanya pria itu memang berbohong. Dengan kesadaran penuh, dia membawa kakinya ke toko buku bekas yang sering ia dan Haechan kunjungi, juga tempat yang sama dimana keduanya berkenalan pertama kali. Benar saja, pria bersurai hitam itu berada disana. Berdiri di antara rak menjulang tinggi dengan sebuah buku di tangan. 

"Haechan...," panggil Renjun sangat pelan. 

Walaupun begitu, si pemilik nama yang membelakanginya sontak menoleh, "Eh, Renjun. Mau membeli sesuatu juga?" 

"...no." Suaranya memelan dengan kepala tertunduk. "A-ada yang ingin ku bicarakan." Dia sedikit tergagap, karena tertekan akan ekspresi tak terbaca di wajah Haechan.

Haechan menaikkan sebelah alisnya, kemudian berbalik pada barisan buku di rak, "Bisa tunggu sebentar? Aku belum menemukan buku yang ku cari." 

"Buku porno lagi?" 

Dia memutar tubuh menghadap si pemuda Huang dan keduanya kini saling bertukar pandang. "Asal kau tahu, porno bukanlah satu-satunya hal yang kupikirkan." 

"Menurutku porno tidak terlalu buruk," sambarnya cepat. Dia menautkan kedua tangannya satu sama lain sambil bergerak gelisah di tempatnya berdiri, "The...the 'test' as well," sambungnya dengan gugup, namun tidak melepas sua mereka yang bertemu. 

Haechan menghela napas, "Aku sudah bilang, kan? Aku sudah selesai dengan itu." Matanya dialihkan pada buku di tangan, membolak balik lembaran demi lembaran, "Lagipula kau sangat menentangnya dan salahku yang memaksamu melakukan itu untukku selama ini." Lengan terangkat untuk meletakkan buku kembali pada rak, "Oh, benar. Aku harus berterima kasih padamu. Kau ingin sesuatu sebagai hadiah?" 

"Tanggung jawab!" 

Pekikan Renjun menghentikan gerakan tangannya yang memilah-milah buku. Dari balik lengannya dia melirik lelaki itu, "Maksudmu?" tanya Haechan setelah sepenuhnya sudah fokus menghadap Renjun. 

Renjun langsung menunduk, "I-ini...semua ini salahmu." Tangannya mengerat pada tali tas sekolahnya yang tersampir di bahu, "Tubuhku berubah dan tidak bisa kembali normal. Aku jadi selalu bergairah dan kepalaku memikirkan hal-hal 'aneh'. Dan kau malah meninggalkanku sendirian. Bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa." Kekesalannya meluncur begitu saja meski dengan suara bergetar. 

Kemudian, dengan mengumpulkan keberaniannya, Renjun mendongak tanpa melihat Haechan, "So, do it...again. I don't mind," ucapnya malu-malu. 

Sejenak Haechan terperangah sebelum melangkah mendekati Renjun. Dia berhenti tepat satu langkah di depan pemuda itu, merendahkan badan untuk mensejajarkan netra, "Tapi yang selanjutnya bukanlah 'percobaan'. It'll be straight up sex." 

Jarak semakin dikikis, "Kau tahu, sekarang kau dengan sadar sedang menawarkanku 'your real virginity'," bisiknya di depan wajah Renjun. Sangat dekat untuk dia bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu. "Kau tak masalah?" tanyanya. 

Renjun ingin menjawab, mulutnya bahkan sudah terbuka ingin mengatakan sesuatu. Tapi lidahnya kelu dan berakhir bungkam. 

"Do you want to have sex with me that badly. Do you, Renjun-nie?" tanyanya lagi dengan nada rendah yang membuat merinding. 

Renjun yang ditatap begitu intens, bergetar putus asa, bibirnya menjawab sangat pelan, hampir-hampir bagai angin lalu. "...yes." 

Tapi cukup jelas sampai mengundang senyum miring terulas seketika di wajah Haechan, "Hmm, kau akhirnya tergila-gila pada hal cabul rupanya, dan sekarang kau sudah tidak tertarik pada hal lain lagi." Mulutnya di dekatkan ke telinga yang lebih pendek, "atau jangan-jangan kau memang menyukai itu sejak awal?" goda Haechan. 

"Tidak...," bantah Renjun cepat, "sudah ku bilang, ini salahmu." Dia mengambil satu langkah mundur dan mengacungkan jari telunjuk ke wajah Haechan, "Yak! Kau tidak perlu menakutiku. Kau pun sama saja. You're also going to lose your virginity." 

Bibir Renjun merengut lucu sambil mengalihkan pandangan karena tersipu, "Well, aku minta maaf karena aku akan menjadi yang pertama untukmu setelah semua 'percobaan' yang kau lakukan dengan tekun demi pengalaman pertamamu." Dia mengedikkan bahu, "Tapi yah, kau menuai apa yang kau tabur." 

"Tak masalah sama sekali buat ku. Aku justru dapat keuntungan." Haechan menjawab dengan santai sementara Renjun mengerutkan dahi karena bingung. "I'm not virgin anymore. Kau sudah mengambilnya dari awal." 

Renjun menjatuhkan rahang. Tercengang. "Wha...eh, tapi kau bilang itu bukan real se...." Dia tidak mengerti. 

Si pemuda Lee menarik napas panjang sambil memejamkan mata. Dia menggeleng-geleng, "Aku tak habis pikir, kau bisa langsung percaya teori tidak masuk akal yang ku buat-buat saat itu," Dia melihat Renjun dengan sudut bibir mencebik, "Entahlah, kau bodoh atau memang terlalu polos." 

"YAK! LEE HAECHAN. ITS NOT?" Wajah Renjun merah padam, lubang hidungnya kembang kempis karena amarah, "Jadi aku sudah tidak perjaka lagi?" Dia menutup mulut begitu dramatis dengan telapak tangan. 

"Tidak perlu khawatir. Kau kan akhirnya banyak belajar. Kau berkembang sangat baik, Renjun-nie. So the outcome is fine." Haechan mengibas-ngibaskan tangan masa bodoh, menenangkannya. 

Kaki Renjun mengentak-entak bersama kedua tangan yang dikepal di sisi tubuh, "YOU GOOD FOR NOTHING, JERK!" emosi Renjun. "Kau ada dendam apa padaku sampai mengerjaiku seperti ini?" Nadanya tiba-tiba menyendu di akhir.

Ekspresi Haechan berubah. Tatapannya teduh dengan raut begitu serius, "Karena kau mungkin tidak akan pernah melihatku kalau aku tidak nekat melakukan itu. Aku pikir, memaksamu sedikit mungkin bisa mengambil perhatianmu," jelasnya dengan intonasi sangat lembut. 

Otak Renjun berdenyut memikirkan penuturan panjang seperti itu. Dia memiringkan kepala, "Apa maksudmu?" 

"Pikirkanlah sendiri." Haechan lagi-lagi menghela napas kasar. 

Salah sekali dia berharap bahwa lelaki 'Just B' ini bisa mengerti. Ya 'Just B'. Pernah mendengar istilah 3B? Brain, Beauty, Behavior. Dan makhluk satu ini harus cukup puas dengan kecantikan saja. Untuk Brain dan Behavior sangatlah minus. Terutama otaknya yang benar-benar kopong itu. Miris, bisa-bisanya Haechan jatuh...ah sudahlah. 

Renjun mendelik sinis, "Kau memang hanya gila saja." 

Sepertinya memang butuh waktu yang lama bagi Haechan untuk membuat Renjun mengerti. Biarlah, mereka masih memiliki perjalanan panjang ke depannya. Dia akan bersabar. 

Haechan membalas tatapan Renjun sambil bersedekap dada dan berujar, "Bisa jadi. Hal impulsif juga bisa dipicu rasa tertarik." 

Renjun menggaruk rambutnya yang tak gatal, "Apa sih, aku tidak mengerti. Yang ku tahu, memang tak ada hal baik sejak aku berurusan denganmu." 

"Then, do you want to quit?

"I'm not quitting." 

Dan setelah itu...they had crazy sex. AGAIN. 

 

- The End -

Notes:

my works were previously shared elsewhere. losing that space unexpectedly was discouraging. i'm gradually returning to writing. and sharing this here, while i find my footing.

 

anyway, thank you for reading!