Chapter Text
Pada zaman dahulu kala, di sebuah Kerajaan yang terlihat damai, hiduplah seorang wanita yang tinggal sendirian di sebuah menara yang jauh dari ibu kota. Luna adalah namanya. Seorang Tuan Putri yang memiliki paras tidak hanya buruk rupa, namun juga memiliki bau yang tidak sedap dari tubuhnya.
Namun, kesepian Tuan Putri di Menara itu bukan tanpa sebab. Semua berawal pada hari ulang tahun Luna yang ke-16. Raja mengumumkan kepada seluruh rakyatnya akan mengadakan sebuah pesta besar untuk merayakan ulang tahun putri bungsunya. Raja mengundang seluruh rakyatnya, seluruh binatang hutan, dan para penyihir untuk memberikan berkat nya kepada Tuan Putri. Namun, Raja lupa untuk mengundang penyihir kecil yang nakal ke pesta ulang tahun putri bungsunya.
Penyihir kecil yang nakal itu marah ketika mengetahui bahwa dirinya tidak diundang ke pesta ulang tahun sang Putri. Penyihir kecil kemudian datang dengan membawa hadiahnya di kedua tangannya. Membawa kemarahan, kesedihan, dan kecemburuannya yang kemudian menjadi “berkat” untuk sang Tuan Putri. Semua orang terkejut ketika suara pintu dipaksa terbuka, petir bergemuruh di setiap langkahnya, dan senyumannya yang menyeramkan terlihat jelas di bibirnya.
“Oh, Tuan Putri yang sangat cantik ini…” Desisnya. Penyihir kecil yang nakal itu menyerahkan hadiahnya kepada Tuan Putri. “Maukah kamu membuka hadiah dariku? Ini adalah berkat yang aku berikan khusus di hari ulang tahunmu yang ke-16.”
Tentu saja sang Tuan Putri takut untuk menerima hadiah dari si Penyihir Kecil, begitu pula dengan sang Raja yang sudah meneriaki para prajurit untuk mengusir sang Penyihir Kecil. Namun, Penyihir Kecil tahu jika Tuan Putri akan tetap membuka hadiahnya walaupun merasakan ketakutan.
“Jika Tuan Putri tidak membuka hadiah dariku, maka akan kumanterai Kerajaan ini beserta rakyatnya!” Seru sang Penyihir Kecil.
Tuan Putri terkejut, kedua matanya perlahan kembali menatap hadiah dari sang Penyihir Kecil. Kedua tangannya gemetaran saat mencoba untuk membukanya. Terlihat raut wajah panik dari sang Raja, yang kemudian berlari menuju putri bungsunya seraya berteriak, “TIDAAAK!!!”
Ketika hadiah itu akhirnya terbuka, kabut hitam tiba-tiba terlepas dan bergerak menuju Tuan Putri. Membungkusnya ke dalam kegelapan yang membuat semua orang terkejut dan menjerit ketakutan. Tuan Putri Luna yang awalnya memiliki paras yang sangat cantik, kemudian memiliki paras buruk rupa setelahnya. Aroma menyengat keluar dari tubuh Tuan Putri, membuat semua orang yang berada di ruangan yang sama harus menutup hidung mereka dan menahan mual yang tidak tertahankan.
Satu per satu para tamu berlarian keluar dari istana, menjerit histeris, bahkan sang Raja memerintahkan kepada para prajurit untuk segera mengamankan Tuan Putri dari kerusuhan tersebut. Namun, saat para prajurit mulai memegang lengan Tuan Putri, prajurit itu tiba-tiba berteriak kesakitan. Tubuh mereka ikut mengeluarkan aroma yang tidak sedap, dan mulai muncul bintik-bintik aneh yang perlahan membesar dan membuat kulit mereka melepuh seolah tersiram air panas.
Melihat hal tersebut membuat para prajurit terkejut dan menatap sang Putri dengan tatapan ketakutan. Serentak mereka mengangkat senjata dan mengarahkannya kepada Tuan Putri. Luna menangis, tubuhnya terasa panas seperti terbakar. Paras cantiknya tergantikan oleh buruk rupa yang menggerogoti wajahnya perlahan, menunjukkan efek yang sama seperti para prajurit.
“Ayah!” Tuan Putri mencoba untuk berlari kepada Raja, namun dihalangi oleh para prajurit. “Ayah! Selamatkan aku! Panas! Tubuhku Panas!”
Sang Raja menyesali perbuatannya, memilih untuk memalingkan muka, dan memerintahkan kepada prajuritnya untuk mengamankan rakyatnya dari Sang Putri. “Asingkan putri bungsuku!” Titahnya. “Aku tidak ingin ada rakyatku lagi yang terkena imbas saat bersentuhan dengannya.”
“Ayah, kumohon, jangan lakukan ini kepadaku!” Tuan Putri memohon, menangis, berteriak meminta pertolongan, saat mendengar titah kejam dari sang Raja. “Begitu teganya dirimu, Ayah!” Malam itu, suaranya bergema hingga ke seluruh penjuru istana saat para prajurit mendorong paksa Tuan Putri untuk pergi dari sana.
Si Penyihir Kecil yang nakal itu hanya tertawa dengan puas di bawah sinar bulan dan kemudian menghilang bersamaan dengan gema sang Putri. Kemudian Sang Putri akhirnya di tempatkan di sebuah menara yang jauh dari ibu kota yang terpencil, jauh dari jangkauan semua orang, dan membuat namanya telah dilupakan.
