Work Text:
“Eh, Hubby?”
“Hmm.”
Malik terkekeh, ia balikkan tubuhnya yang telah dibalut piyama satin itu menghadap sang suami. “I thought you were sleeping.”
Kian Jaka eratkan peluk di pinggang ramping itu. “I am,” ia curi wangi ceruk leher Malik, “already got your dinner?”
Anggukkan ia terima. “Five stars for my chef husband.” Lanjut ia sandarkan kepala di dada bidang sang suami. “Silent night. Kids already sleeping. Kenapa ya kalau sama kamu mereka cepet banget tidurnya? Dari Cal masih bayi.”
Jaka usak sayang surai halus Malik. “Karena aku Papanya?”
“Kan aku juga ….”
“How’s today? Rengga ada marah-marah ke kamu nggak? Kalau iya lapor aja ke aku.”
Malik terkekeh. Ia raih lengan Jaka sehingga kini ia berbaring berbantal lengan sang suami. “Nggak kok, today’s super fun! Lagian Rengga juga kan yang butuh aku buat jadi model video klip di agensinya, if something bad happens I’ll contact Nicho first real quick.”
“Now it’s my turn.” Malik raih rahang Jaka dan ia kecup singkat bibirnya. “How’s the kids? I wanna hear your story.”
“Like what I said, everything’s fine. Kakak kelihatan beberapa kali cemburu ke Princess, but it’s ok aku juga udah ngasih dia pemahaman. Hal terpenting adalah ternyata capek juga ngurus dua anak sekaligus, I totally respect you for that and I wanna say sorry for being a bad husband. Selama satu hari ini, aku jadi berpikir kalau aku jahat, pasti kamu capek banget setiap hari harus ngurus anak-anak dan juga aku. Belum lagi kamu harus hiatus lama dari modelling demi anak-anak, aku sibuk kerja nggak sempat backup kamu dan lebih sering ninggalin kamu demi kerjaan, I totally don’t deserve you as my partner.”
“Sayang.” Diusapnya lembut pipi Jaka. “Thanks for today, you did very well as their dad. It’s not your fault at all for everything’s you’ve already mentioned. If you’re a bad partner for me, why did I say yes when you propose me back then? For me, sometimes it’s hard, but I choose this path with my own consciousness. You never be a bad Papa and husband, Sayang.”
Usai ujarannya, Malik lantas terkekeh lantaran kini tubuhnya telah dikungkung oleh sang suami. Ia kalungkan lengan pada leher Jaka yang berada di atasnya.
“I love you.”
“Too, Hubby.”
Ranum mereka kembali bertautan. Jemari Jaka berada di tengkuk Malik, mendorong sang suami agar memperdalam ciuman mereka. Tubuh mereka saling berhimpit, menciptakan pacu jantung yang beradu dengan ritme saling tak mau kalah, berlomba jatuh cinta lebih dalam tanpa kenal lelah. Malik remas kuat bahu sang suami pertanda ia telah kehabisan napas. Tautan bibir mereka lantas usai, lanjut beradu mengambil napas dan tatap saling mendamba. Baru saja Jaka hendak beranjak, namun Malik tahan bahunya.
“Sayang?”
Jemarinya memainkan kancing piyama satin yang dikena, melepasnya satu persatu dengan perlahan dan menggoda.
“Mau hadiah buat hari ini nggak, Papa?” Ia raih telapak tangan Jaka untuk menangkup dadanya. Desahannya lantas lolos saat sang suami remas dadanya pelan dan mengusap putingnya yang mencuat. “H-Hubby ….”
“Princess biasanya minum yang sebelah mana?”
“Nghhh, k-kanan ….”
“The left one is for me then.”
“S-Slowly ….”
Diremasnya bahu Jaka saat putingnya mulai diisap kuat. Jemari sang suami tak tinggal diam, turut bergerilya menurunkan karet celananya dan mengurut kejantanannya dengan tempo cepat, membuat Malik kian mendesah keenakan.
Cengkeramannya pada bahu Jaka mulai mengendur dan beralih ia telupsukan jemari pada celana Jaka pula, diraihnya kejantanan itu dan ia remas kuat, membuat sang suami tersedak di sela-sela tegukannya.
Sempat Malik terkekeh. “Aku bilang pelan-pelan, Sayang.”
Diakhirinya isapan itu dengan bunyi plop kencang. Jaka kembali serang ranum Malik dengan mulut yang penuh dengan sisa air susu yang belum tertelan. Diurutnya kejantanan Malik kian cepat sehingga membuat sang suami melenguh di sela-sela cumbuan mereka.
Tautan bibir itu tak lama terlepas lantaran Jaka yang mulai kehabisan napas. Malik urut penis itu dengan tak kalah kuat, sembari mengusap-usap ujungnya.
“H-Hubby,” panggil Malik pelan dengan napas yang tersengal. “Put it i-inside me, p-please.”
“Not today, Pretty. We ran out of con —
“I already took my pills. It’s gonna be okay.”
“… are you crazy? I already told you that those pills aren’t good for your health.”
“You can be mad at me or scold me later but — please.” Setetes air mata dari netra cantik itu.
Helaan napas kasar terdengar dari sang suami. “Okay. But can you promise me to not take those stupid birth control pills again? I promise to find a way that won’t hurt you. Untuk kita dan anak-anak.”
Anggukan lemah ia anggap sebagai jawaban atas pertanyaan itu. Genggaman Malik pada kejantanannya mengendur, Jaka alih posisi dengan membawa kaki jenjang itu di bahunya. Dikecupnya sayang paha dalam sang suami, sebelum beralih membawa lidahnya ke dalam liang kenikmatan itu.
“A — Ahhh, n-no, H-Hubby ….”
Jemari Jaka turut meraih kejantanan sang suami dan mengurutnya dengan tempo yang sama dengan lidahnya. Kian ia dengar napas Malik tersengal, tanda pelepasannya telah dekat. Dikocoknya kejantanan itu kian kencang saat abdomennya mulai menegang.
Basah terasa di jemarinya, Malik usai dengan puncaknya. Ia tarik lidahnya dari liang sang suami, masih menggengam kejantanan itu seraya memijatnya dengan perlahan, mendorong keluar sisa sperma yang terjebak.
Ia majukan tubuhnya, dikecupnya sayang dahi sang suami seraya meraba laci nakas sebelah, meraih sebotol lubrikan.
Malik buka kelopak matanya perlahan, berkedip cepat lantaran pandangnya beradu dengan sang suami. Ia tiba-tiba terkekeh melihat sudut mulut Jaka yang tercetak bekas air susu yang tak tertelan yang lalu ia usap perlahan.
“Kamu kotor banget.”
“Kamu cantik banget.”
“Stop gombal? We’re not high schoolers anymore.”
Seringai Jaka perlihatkan. Dikecupnya bahu Malik sayang. “Kamu tau kan kalau aku nggak pernah pintar gombal.”
Beralih Malik ambil langkah kecup singkat bibir sang suami sambil melirik jemari Jaka yang tengah menggengam sebotol lubrikan. “Cepet masukin.”
“Keluar di luar ya tapi?”
Ujaran itu ditanggapi Malik dengan cebikkan di bibirnya. “Mending udahan kalau maumu gitu.”
“Nanti kalau kamu hamil lagi gimana?”
“Kan aku udah minum pil ….”
“Siapa yang suruh?”
“Hubby, please ….”
“Minggu depan waktu kontrol Keisha, ayo sekalian konsul ke dokter biar kamu stop minum itu.”
“Emang kamu bisa anter kita?”
“Diusahakan.”
“Awas kalau nggak bis — nghhhh — s-sejak kapan u-udah dimasukin.”
Jaka condongkan tubuhnya, mendorong kejantanannya masuk secara utuh. “Dari kamu cemberut bebek.”
Desahan lepas dari mulut Malik saat sang suami mulai bergerak, Jaka kian condongkan tubuhnya sehingga lengan Malik bertumpu di bahunya. Kembali ia isap puting susu itu seraya menggerakkan tubuhnya.
“H-Hubby, too m-much.”
“Mhmm.”
“Are you — perhaps — nghhh — getting bigger or s-something.”
Dilepasnya tautan dari puting sang suami dan berganti isap yang satunya.
“Just take it, Pretty.”
Sodokannya kian ia percepat saat bahunya mulai dicengkeram Malik kuat. Decitan ranjang ikut beradu dengan desahan Malik yang kian mengencang. Air mata kembali jatuh dari kelopaknya saat pelepasannya kian mendekat.
“Hubby — I’m g-gonna ….”
“Mhmm.”
Sayangnya, kegiatan mereka terinterupsi oleh ketukan pintu. Samar terdengar, “Papa? Pipi?”
Dilepasnya tautan dari puting sang suami. Malik tatap Jaka penuh khawatir.
“Cal dengar kita?”
“No, he won’t.”
“Hubby, we should stop.”
“Let’s finish this.”
“N-No, A-Ahhh!”
Kembali ia dorong kejantanannya di dalam sana. Malik berusaha tahan desahannya yang keluar dengan telapak tangannya yang lalu ditepis sang suami.
“ … d-don’t hide your voice.”
“Hubby, f-faster ….”
Sudah tak peduli lagi, desahannya kembali menggema saat Jaka kian gerakkan tubuhnya cepat. Ia raih kejantanannya sendiri dan tubuhnya mulai bergetar.
“I’m also close ….”
“Inside, p-please.”
“F-Fuck, too tight.”
“A-Ahhh! H-HUBBY!”
“S-Sayang ….”
Pelepasan Malik disusul oleh Jaka. Ia dorong pelan pinggulnya setelah selesai menembakkan spermanya ke dalam. Diraihnya jemari lentik sang suami dan ia kecup perlahan. “Thank you.”
Respons anggukan lemah dari Malik. “I think you should check if Cal still at the outside.”
Jaka lalu beranjak, mengenakan kembali pakaiannya dan menyelimuti tubuh sang suami dengan lembut. Dikecupnya sayang dahi Malik.
Ia putar kenop pintu itu perlahan, membuka celah kecil sehingga hanya kepalanya yang dapat menyembul agar Malik juga dapat mendengar percakapan mereka.
“Cal sejak tadi menunggu Papa Papi di sini?”
“N-Nggak.” Anak itu memilin piyamanya kuat-kuat. “Maaf Kakak mengganggu tidul.”
Di balik selimutnya Malik bernapas lega. Syukur Cal tidak dengar.
“Kakak tidak bisa tidur?”
“B-Bukan.” Tak lama gaungan tangis samar dari kamar sebelah terdengar. “Kei won’t stop clying, so I can’t sleep ….”
“Hubby.”
Jaka menoleh. Malik singkap selimutnya hingga di bawah dada. “Let Princess sleep with us. Lagi haus pasti.”
Ia lalu mengangguk dan beralih berjongkok ke sang anak. “Kei tidur sama Pipi, Kakak okay tidur sendiri?”
Bocah yang hendak genap tiga tahun itu mengangguk. “Cal sudah besal.”
Jaka kembali menoleh ke Malik. “Aku ambil sebentar.” Dibalas dengan anggukan. Lalu pasangan ayah anak itu beranjak pergi.
Tak lama, sang suami kembali dengan memutar pelan kenop pintu. Malik tengadahkan tangannya, meminta agar Kei diserahkan pada gendongannya. Wajah bayi itu memerah, lantaran tak henti menangis meski kini ia telah tenang.
Malik kembali cemberut. “Cal sama Kei anak Papa banget, ya, digendong langsung diam.”
Jaka lantas terkekeh. Ia kembali berbaring di samping Malik, memeluk pinggangnya erat. Kini mereka berbaring saling menghadap dengan Keisha yang menjadi pembatas. Ia sodorkan dadanya pada sang anak, puting itu langsung diisap rakus.
“Enak ya, Kei?”
“Hubby?”
Dikecupnya bergantian pipi sang anak dan suami. “Good night.”
Lampu kamar itu kembali padam.
