Actions

Work Header

Baby, It’s Cold Outside

Summary:

Gunwook yang menyukai teman sekamar matthew ricky. Dia berusaha mendekatinya di beberapa bulan terakhir saat mereka bertetangga di dormitory kampus. Namun, sayangnya yang ricky tangkap dari gelagat gunwook adalah hal hal yang berbanding terbalik.

Notes:

Commision by pinkberry520 at twitter!

Work Text:

“Gunwook?” Matthew menepuk pundaknya saat pria itu tengah termenung di depan kamar asrama miliknya. Gunwook terperanjat dan mundur selangkah saat Matthew berdiri menatapnya.

“Eh..,” sapa gunwook, menyembunyikan wajahnya malu. Matthew mengintip ke dalam kamarnya sendiri yang kosong karena roommatenya yang tengah pergi dan menyisakan dia sendiri. Matthew sendiri baru saja keluar dari kamar untuk membuang sampah, memang kebiasaan buruknya itu jarang menutup pintu kalau pergi sebentar.

“Nyari ricky ya?” Matthew menyenggol lengan pria 20 tahun itu. Gunwook menggaruk tengkuknya canggung sembari terkekeh kikuk.

“rickynya mana?” Matthew memutar bola matanya malas. Semenjak gunwook pindah ke dorm di samping mereka, anak itu selalu saja mencoba untuk mencuri pandang pada teman satu kamar matthew. Sayangnya, ricky yang dia incar bukanlah seseorang yang mudah digapai.

Apalagi ricky juga tak pandai bergaul. Mirip kucing rumahan yang selalu takut kalau ada orang lain yang mendekatinya. 

Matthew tau gunwook menyukai ricky saat pria itu seringkali berkunjung ke kamar mereka hanya untuk mengajaknya bermain. Alih-alih memperhatikan game di ponsel, gunwook justru sering melirik ricky yang duduk di ranjang sebrang matthew. 

Asrama mereka memang terdiri dari dua orang di setiap kamar. Matthew mendapat giliran menjadi roommate ricky di tahun ini. Waktu kenalan saja anak itu lebih banyak diam dan hanya memperhatikan matthew yang berbicara panjang lebar.

“Dianya lagi ngerjain tugas di cafe deket kampus,” ujar matthew, menepuk pundak Gunwook yang tampak kecewa pujaan hatinya tak hadir di dalam kamar

“Kapan pulangnya?” Tanya gunwook, matanya berbinar penasaran. Matthew berpikir, mengangkat satu alisnya lalu menatap lagi ke arah gunwook.

“Entah. Samperin aja sendiri. Tanya; ‘pulang dong, sayang. Aku kangen,” ujar matthew asal. Gunwook mendengus kesal. Walau badannya besar begini, nyalinya jelas ciut kalau bertemu dengan ricky. 

“Lu sering minta saran ke gue gimana biar bisa deket sama ricky, giliran disuruh deketin malah melehoy mulu. Gimana majunya?” Keluh pria itu menatap gunwook dengan cara yang menyedihkan. 

“Tapi kak, emangnya kak ricky gapernah punya mantan gitu?”

“Mana gue tau? Tanya orangnya sono,” ujar matthew, tangannya siap memegang knop pintu untuk ia tutup.

“Masa langsung gue sih kak? Please tanya—

Pintu tertutup dan gunwook ditinggalkan sendirian di depan. Si aquarius berdecak, berkacak pinggang seraya menunggu beberapa detik guna memikirkan lagi soal ricky.

“Apa gue samperin ya?”

“Masuk aja.” Gunwook hampir melompat kala suara di belakang membuatnya terkejut. Itu ricky. Wajahnya datar dengan tatapan agak sinis melihat ke arah gunwook.

“Kayaknya Matthew juga ada di dalem. Mau main, kan?”

Gunwook menggeleng cepat, wajah kikuknya membuat ekspresi datar dan matanya malu menatap ke arah netra ricky. Pria itu mundur, menjauh dari kamar sebelah dan masuk ke kamarnya sendiri.

Ricky yang menatap punggung gunwook tenggelam di balik dinding menghela nafas. Tangannya bertengger di knop pintu dengan bibir yang perlahan menekuk ke bawah.


Si taurus masuk ke dalam kamar, menatap temannya yang tengah asik berkutat di depan laptop dengan kacamata tebalnya memainkan valorant. Ricky teronggok di kasurnya, memperhatikan matthew di meja belajar seraya mengidentifikasi tiap bentuk tubuhnya.

Kecil, lucu, cantik dan easy going. Siapa yang tidak akan terpesona kalau tampilannya semenarik itu? Matthew yang sadar teman sekamarnya memasuki ruangan lantas menoleh ke belakang dan melihat ricky yang terbaring memandang ke arahnya.

“Kenapa?” Tanya matthew, melihat ricky yang menatap seakan tengah mengobservasi dirinya.

“Aku iri sama kamu. Kalau aku bisa jadi sosial butterfly kayak kamu, pasti semuanya bakal lebih gampang,” jawab ricky, nadanya datar seakan yang dia ucapkan tidak punya maksud tertentu. Matthew mengerutkan alisnya sedangkan ricky memutar badan memunggungi sang teman.

“Bercanda,” celetuk ricky, tak acuh.




 

 

“Jangan lama-lama, nanti anaknya bangun.” 

Suara celetukan itu membuat ricky sedikit membuka matanya. Punggung gunwook hadir di depannya menghalangi pandangan ricky pada matthew yang tengah berada di ranjang.

Ricky tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Namun, hatinya kembali merasa tak nyaman saat gunwook mengambil langkah untuk duduk di samping matthew. Mereka banyak berbicara dan bermain di kamar belakangan ini.

Ricky memutar badan hingga memunggungi mereka berdua. Bukan berati ricky tak menyukai mereka yang bersenang-senang di dunia mereka sendiri. Tepatnya, dia merasa terganggu. Atau bisa jadi tidak? Ricky tak mau menjelaskan perasaannya sendiri walau dia tahu semua tertulis di depan mata.

Ricky suka saat gunwook ada di kamar. Dia yang sibuk bermain game sedangkan ricky mencuri-curi pandang kearahnya. Di sisi lain keakrabannya dengan matthew justru mengganggu ricky. Membuatnya ingin menempatkan diri sendiri pada posisi roommatenya. Membuat banyak sekali kata andai muncul di dalam kepalanya.

Andai ricky bisa lebih easy going, andai ricky bisa bermain game yang mereka mainkan, anda ricky adalah si seok matthew yang bisa membuat mata gunwook terpaku hanya padanya.

“Hahaha, oon sih. Makanya yang bener,” ujar Matthew membuat ricky makin meringkuk di tidurnya.

“Eh, btw… kalo emang nih ya pacaran. Lo mau gimana?” Mata ricky yang awalnya sayu seketika terbelalak mendengar matthew yang bertanya hal ambigu pada gunwook. Pacaran? Mereka mau pacaran?

“Em.. maunya sih to the point. Gue bukan orang yang bisa nebak-nebak perasaan orang. Mau bikin janji, kalau kita gaboleh bohong sama perasaan satu sama lain.” 

Hembusan nafas berat ricky keluarkan. Gunwook memang orang yang baik, tak salah kalau ricky menaruh hati padanya. Membayangkan kalau dia bisa seterbuka itu pada gunwook pastilah menyenangkan, mendapatkan orang yang mau mendengarkan dan memahaminya lebih dalam.

“Gue keluar bentar, ya. Ada telfon,” ujar matthew, menunjukan ponselnya yang berdering. Gunwook mengangguk, membiarkannya pergi keluar kamar sedangkan dia diam di ranjang matthew untuk beberapa saat. 

Tak terdengar apapun dari belakang punggung ricky. Hingga sebuah bayangan muncul di hadapannya, gunwook berdiri mendekat dan menundukan wajahnya. Ricky seketika menetralkan wajah dan menutup matanya berpura-pura untuk tidur.

Ricky bisa merasakan keberadaan orang di belakangnya menekan kasur lalu menumpukan tangan ke dinding di hadapan. Gunwook menatap wajah ricky sesaat, memperhatikan tiap detail orang tidur di hadapannya.


“Mirip sleeping beauty.”

Hah?

“Gun, sini deh,” suara matthew mendistraksi gunwook dan membuatnya pergi dari kamar tersebut.

Ricky langsung berbalik, memegang dadanya sendiri berusaha menetralkan degub jantung yang berdetak amoral. Sial, sial, sial.

Maksudnya tadi apa memperhatikan ricky tidur sambil bergumam dia mirip sleeping beauty? Lalu tujuannya mengintip ricky itu buat apa?


Ricky memperhatikan lagi pintu yang tertutup itu, menghela nafas panjang merasakan bahwa semua hal tadi mungkin hanya angannya semata karena gunwook lagi-lagi pergi memilih mendekati Matthew.

Ponsel di sampingnya berdering, memberikan sebuah pesan singkat dari kontak yang bertuliskan “mami” di layar.

papi sama mami ada bisnis malam natal. Kamu bisa spend your time with your friend ya sayang? Nanti mami transfer buat kalian staycation

Ricky berdecak. Menutup lagi ponselnya tak berminat membalas pesan. Untuk natal tahun ini sepertinya ricky tak akan keluar dari dorm asramanya.

 

 


 

 


“Senyam-senyum mulu kayak kerasukan jelangkung,” ujar gunwook, memecah keheningan di kamar ricky dan matthew yang tengah terenyuh di pikiran mereka masing-masing.

Ricky menghela nafasnya berat, berdiri dari kasurnya dan berlalu pergi dari kamar. Dia tidak mau melihat mereka berdua lovey-dovey sedangkan dirinya akan terjebak di asrama selama liburan natal karena orang tuanya yang sibuk bekerja.

Gunwook dan matthew hanya menatap kepergiannya, pintu sedikit dibanting membuat keduanya mengindikan bahu terkejut.

“Ricky kenapa?”

“Dia gak pulang liburan ini.”

“Hah? Kenapa?” 

“Katanya sih orang tuanya ada urusan bisnis. Kalau pulang juga di rumah ga ada siapa-siapa. Mendingan di sini karena ada temen-temennya yang gak pulang juga. Lo pulang gak?”

Gunwook berpikir sejenak, “pulang ga ya?”

Matthew tertawa memukul lengan yang lebih muda. “Tau ricky gak pulang, lo jadi bimbang, ya?”

Gunwook mengangguk. Mengambil tempat di sisi kasur matthew dan menatap lurus ke ranjang di hadapannya.

“Jangan pulang, gun,” ujar Matthew.

“Kenapa?”

“Temenin ricky. Gue mau staycation sama pacar gue nanti malem natal.”

Gunwook menoleh terkejut kepada Matthew. Wajahnya diselingi senyum dan mata yang terbuka lebar sebelum akhirnya tertawa memukul pundak yang lebih tua.

“Serius? Lu beneran jadian sama bang Jiwoong? Anjing, yang bener aja!”

Matthew mengangguk antusias, menepuk pundak gunwook lagi dengan senyum sok bijaknya itu.

“Jadi gun, jangan pulang. Lu temenin ricky aja di sini. Gue pinjemin kamar gue buat lu sehari.” 

Matthew mendekatkan wajahnya berbisik ke telinga gunwook, “lo bisa confess ke dia malam natal.”

 


 


Ricky menghela nafas, dia duduk di luar gedung asrama. hawanya begitu dingin, tapi tak bisa mengalahkan rasa dingin ketika ricky berada di antara roommate dan crushnya.

Matthew begitu baik padanya, rasanya ricky menjadi bajingan kalau dia menaruh hati pada orang yang matthew sukai. Matthew juga jarang berbicara soal kehidupan cintanya, membuat ricky merasa semakin buruk. 

Dia sembunyikan wajahnya di lipatan tangan atas meja. Natal sekarang akan sangat sepi bersamaan dengan hatinya yang ikut membeku.

 




“Jaga kamar ya! Nanti aku bawain oleh-oleh!” Ujar matthew, memasang sepatunya sambil berdiri. Ricky yang baru bangun mengangguk pelan, menerima pelukan matthew yang hangat sebelum dia pergi.

“Bilang ke gunwooknya nyetirnya pelan-pelan,” balas ricky, membuat matthew mendelik lalu tertawa.

“Gunwook? Pacarku kan jiwoong? Ngapain ngajak si gunwook. Eh aku udah telat, bye bye!! Kalo kamu kesepian samperin gunwook aja!”

Matthew langsung berlari menyusuri lorong meninggalkan ricky yang tidak tahu apa-apa. Dirinya masih terkejut, menyenderkan pundak ke kusen pintu sambil berpikir beberapa kali.

Mungkin saja seluruh asumsi ricky tentang matthew dan gunwook hanya ada di kepalanya. Yah… hanya ada di kepalanya.

Ricky berbalik dan menutup pintu kamar. Wajahnya mulai memerah merasakan panas dan pipi yang kaku karena senyum lebarnya tersungging tak berniat usai. 


 


Malam natal tiba dengan waktu menunjukan pukul 8 malam dengan kesiapan gunwook yang terburu-buru karena matthew mendadak memberinya kabar, membawa beberapa bungkus makanan untuk mereka nikmati malam itu. 


Sebenarnya Gunwook sudah menyiapkan hadiah natal untuk ricky dengan hati-hati sejak beberapa hari lalu—menyembunyikan kotak kecil itu di dalam jaketnya, memastikan bungkusnya rapi, dan mengulang-ulang di kepalanya bagaimana ia akan memberikannya pada Ricky. 

Kakinya tak berhenti mengetuk-ngetukan sepatu ke lantai semenjak dia sudah berdiri di depan kamar asrama ricky. Hal apa yang harus gunwook ungkapkan pertama kali ketika pria tersebut membuka pintu?

Kala pikirannya berselancar liar, knop pintu terbuka memperlihatkan ricky dengan sweeter rajut merahnya memandang gunwook dengan kedua mata bola itu. Gunwook yang terpana seketika kembali ke akal warasnya, tersenyum kikuk dan mengangkat bungkus makanan yang dia bawa.

“Boleh masuk?”

Ricky mengangguk dengan senyum, menambah degub pada gunwook seakan pertanda jalannya akan mulus di lancarkan malam ini.

“Matthew bilang kamu sendirian malam ini, jadi..” Ricky menatap ke arahnya  mendengarkan

“Jadi kamu stay di sini juga?” Timpal ricky, gunwook mengangguk lagi. Kali ini lebih kaku seakan dia robot yang baru saja keluar pabrik. Dirinya mengambil tempat untuk duduk, menaruh makanan yang ia beli di meja kecil pada tengah tengah ruangan di antara kasur matthew dan ricky.

Gunwook membawa makanan yang cukup beragam. Dia sendiri berpikir akan lucu kalau melihat ricky memenuhi mulutnya dengan makanan hingga pipi itu mengembung. 

Yang paling membuat ricky terpaku adalah dua potong  strawberry shortcake yang menjadi favoritenya. Di malam natal ini, bakery yang biasa menjadi tempat langganan ricky akan sangat ramai mengantre dan kuenya akan ludes seketika. Gunwook cukup beruntung mendapatkannya sampai dua porsi. Walau tanpa ricky ketahui, dia sudah mengantre sejak jam sembilan pagi untuk mendapatkan kue yang paling ricky sukai.

Waktu berlalu, Keduanya duduk di karpet seraya bersender ke ranjang ricky seusai makan.

“Kamu nyiapin ini semua?” Ricky bertanya dengan mata yang berbinar. Gunwook mengangguk pelan, mendapatkan respons yang setimpal karena senyum si cantik makin terukir lebar.

Tangannya merogoh ke saku jaket, ragu-ragu menyerahkan sekotak kecil anting yang telah lama ia simpan khusus untuk hari ini. 


“Buat kamu,” katanya singkat.

Ricky berkedip heran, lalu mengambilnya dan bersender pada pundak Gunwook sebelum membuka kotaknya perlahan. Begitu penutupnya terangkat, ia langsung melihat sepasang anting Vivienne Westwood yang berkilau. “Hah? Gun… ini—” Ia menatap Gunwook, lalu melihat ke telinga Gunwook sendiri yang memakai anting serupa. Gunwook tersenyum kecil, agak gugup namun tetap percaya diri. “Itu samaan kayak yang aku pakai sekarang.”

Ricky langsung tertawa kecil, berusaha menyembunyikan rasa canggung yang justru membuat wajahnya memanas. “Nggak awkward ya pake barang samaan gini sama kamu?” tanyanya, suaranya seperti ingin terdengar santai tapi gagal total. Gunwook malah mendekat sedikit, menatap Ricky dengan tatapan yang tenang. 

“Nggak lah. Soalnya aku memang pengen kita jadi couple.” Ricky tertegun, wajahnya tak sanggup menahan senyum yang semakin merekah hingga ia rasa tulang pipinya juga ikut melebar.

“Makasih..,” Ricky menggumam pelan, pipinya sudah merona merah muda. Tapi senyum kecil di sudut bibirnya nggak bisa disembunyikan. Gunwook hanya tertawa pelan melihat reaksinya, lalu mengambil salah satu anting. 

“Sini. Biar aku pasangin.” Ricky mengangguk, lalu memiringkan kepala sedikit. Gunwook mendekat dengan perlahan, jarak mereka tinggal beberapa centimeter saja. Ricky bisa merasakan hangatnya napas Gunwook di pipinya, dan Gunwook bisa mendengar Ricky menahan napas.

Saat Gunwook menekan penutup anting itu di tempatnya, tangan mereka hampir bersentuhan. Ricky yang tadinya hanya  salah tingkah, sekarang malah merasa jantungnya jatuh ke perut. Ketika Gunwook menarik badannya sedikit mundur untuk melihat hasilnya, Ricky yang justru bergerak duluan. Dengan spontan—bahkan sebelum otaknya sempat memproses—Ricky mencondongkan tubuh dan memberi Gunwook ciuman cepat di bibir. Hanya detik singkat, tapi cukup untuk membuat Gunwook membeku.

Ricky mundur lagi, wajahnya merah padam tapi senyumnya malu-malu tersurat. Dia  berbisik pelan. “Aku suka.”

Gunwook butuh beberapa detik untuk memproses semuanya, tapi begitu ia tersadar, senyumnya mengembang lebar dan tulus—lebih besar dari senyum apa pun yang pernah ia tunjukkan sebelumnya.

 “Aku juga suka kamu,” jawabnya. Nada suaranya lembut, penuh perasaan, seolah-olah ciuman kecil itu sudah cukup menjadi jawaban atas segala hal yang belum pernah mereka ucapkan sebelumnya.

Gunwook mendekat, mengapit dagu ricky serta memandangi bibir dan matanya bergantian, “can i?”

Ricky mengangguk, menghantarkannya pada ciuman lembut yang pertama gunwook lemparkan. Ricky menekan kepalanya sendiri, memiringkannya dan menarik kerah baju pria di hadapan.

Lidahnya saling meliuk, menekuk berusaha meninggalkan jejak sebanyak yang ia bisa. Menyusuri bagian-bagian paling asing yang tak pernah ricky jumpa. Kakinya melangkah naik, memposisikan diri pada pangkuan pria lebih muda dan membiarkan tangan kekar itu memeluk pinggulnya.

Tangan gunwook tak tinggal diam, pada syahdunya ciuman itu dia meraba seluruh tempat yang selalu ada pada angannya, meremas dua gundukan empuk milik kasihnya hingga merambat naik menuju dada.

Di luar pakaian, ibu jarinya lihai bermain memelintir puting ricky, memijatnya pelan lalu dia gesek lagi dengan kasar hingga mencuat dan empunya kelimpungan tak karuan. Di sela ciuman, ricky mendesah, menarik rahang gunwook lagi agar semakin dalam menciumnya menyembunyikan gairah diri yang lama tersimpan.

Dia tarik sweeter merah tersebut, meminta empunya menggigit hingga dadanya terlihat lapang oleh gunwook. Matanya menatap ke arah ricky, lidahnya menjulur dan menjilati salah satu putingnya hingga rasa hangat dan lengket itu menyatu bersamaan. Pada sisi yang lain, jempolnya pun lihai bermain, seakan orang mahir menenggelamkan ricky pada kesadarannya yang perlahan memudar.

Hidungnya menggesek tepat ke tengah dada ricky, menghirup udara di sana dan mengecupi hampir keseluruhan dadanya.

“I like your scent, rick,” ujarnya, dengan tatapan sendu. Matanya layu bagai orang habis menghirup nikotin. Menyedot dan menggigit di satu tempat, memberi markah seakan yang ada di hadapannya penuh dalam otoritas.

“Ricky…,” panggilnya lagi dengan suara rendah. Gunwook mengangkat tubuhnya, membanting ke arah kasur yang tepat ada di belakang mereka. Menindihnya dan mengecup lagi di leher ricky yang berlukiskan tatto itu.

“Aku suka liat kamu tidur,” dia memotong ucapannya dengan mengecup bibir ricky. “Karena aku pikir You will be so beautiful if you sleep with a messy body after we fucked.” 

“Your plump lips always make me curious, what does it feel like? Kadang aku beli minuman yang sama kayak yang kamu beli,” ujarnya ketika menindih ricky seakan mengajak dialog sebelum dia mengacak-acak tubuh orang di bawahnya.

“So that I know the taste of your lips at that time.” Ricky tertegun, tangannya menutup mulut tak percaya dan matanya berbinar menatap gunwook.

“So how does it taste?.”

“Better than what i expect.”

Gunwook mengecupi seluruh tubuh ricky, menyentuhnya teliti hingga tak terlewat barang hanya seinci. Mengagumi ricky jelas adalah sebuat ritual bagi gunwook, memujanya dalam sukma dan pengabdiannya menjadi seorang jejaka.

Pusar di perut tak luput dari singgah cintanya, menjilat di bagian putaran lalu turun ke bawah hingga pada batang tegak mengeras yang bisa gunwook kulum dalam satu telan.

“A-ahh..” ricky berdesir, merasakan lembab yang datang menyelimuti bagian ujung selangkangannya. Lidah tunggal pria itu lihai bermain memanjakan penis yang sensitif bagai klitoris, menyedotnya seakan cairan yang hendak keluar adalah pengobat dahaga abadinya.

“Gun—ahh, gunwook aku mau cum,” ricky mendorong kepalanya namun yang lebih muda lebih suka memasukan penis si pujaan lebih dalam ke kerongkongan. Memberikan perasaan menggelitik sekaligus euforia yang bersatu menjadi ledakan meletup di perut ricky. 

Matanya makin terbuka lebar sewaktu dua bolanya dipermainkan. Walau rasa dari blowjobnya agak aneh tak bisa ricky pungkir kalau gunwook cukup mahir walau dia seorang amatir.

Yang lebih muda berusaha keras di bawah, memijat dan mengulum penisnya secara bersamaan. Memaju mundurkan kepala yang diiringi hisapan dari dalam hingga ricky meletup dan mengeluarkan seluruh cairannya di muka.

“Gunwook, maaf,” ujar ricky, langsung terduduk mengusap wajah gunwook yang penuh dengan pelepasannya sendiri. Pemuda itu tak membalas, melepehkan sisa yang ada di mulutnya ke telapak tangan dan mengoleskannya ke liang anal ricky. Empunya kembali dipaksa berbaring, hendaknya ia ingin menunjukan atraksi lain yang membuat ricky bisa makin nyaring memanggil namanya nanti.

Namun, aksinya langsung dihentikan sewaktu wajah sudah mendekat ke arah liang. Ricky menggeleng, menarik jemari gunwook agar menyentuh bagian analnya. 

“Jangan paksain diri kamu sendiri. Aku gak masalah kalau kamu perjaka yang bener-bener baru soal ini.”

Tangan ricky menyusup ke bawah bantalnya, mengambil satu botol lube yang ia simpan di tempat rahasianya. Gunwook terlihat agak terkejut, begitu pula ricky yang berusaha mengabaikan ekspresi lugu dari prianya ini. Mungkin mereka bisa berbicara lain waktu untuk alasan kenapa ada botol itu di bawah bantalnya.

“Kalau pakai tangan sakit, gak sih? Lebih baik aku jilatin aja,” ujar gunwook, wajahnya murung seperti anak anjing yang kehujanan. 

“I don’t want to hurt you, rick..” ricky menggeleng, menjatuhkan banyak sekali cairan lube ke arah selangkangannya hingga rasa dingin tersebut menyebar ke seluruh tubuh. Ricky memang implusif menggunakannya, tapi mungkin ini langkah terbaik untuknya mengajari sang kekasih yang masih perjaka.

“Di sini, kamu harus masukin jari kamu ke sini,” ricky menuntun jemari gunwook masuk ke lubangnya sendiri, menekan maju ke dalam merasakan dinding sempit dan menjepit. 

Mata gunwook terpaku, memperhatikan gelagat ricky seakan ahli dalam memainkan dirinya. Seraya dua jari gunwook dan satu milik ricky berada di analnya, si taurus memainkan putingnya sendiri, melempar kepala ke belakang merasakan stimulus yang datang merangsang di bagian bawah.

“Udah longgar, kamu bisa masukin… sekarang..” ricy memerah, seketika dia lupa tentang topik apa yang tengah ia bicarakan. Mempersilakan gunwook untuk menyetubuhinya sedangkan orang di hadapan diam tak bergeming dengan jemari yang masih menancap di rekatan dinding analnya.

Walau jari ricky telah keluar, jari gunwook justru masuk lebih dalam. Empunya membelalakan mata dan dadanya membusur, tumit kakinya menumpu ke kasur dan sikutnya menopang berat tubuhnya yang bergelinjang tak karuan.

Jari gunwook semakin dalam merabanya, hingga di tempat lembut itu, titik paling lemah yang ricky punya, dia menekannya hingga semburan sperma kedua milik si cantik keluar hanya karena satu kali tekan.

Nafas ricky memberat, wajahnya semakin merah dan tubuhnya terasa panas. Gunwook menghampiri untuk menciumnya, memberikan hujan kecupan hingga ricky tak memperhatikan bahwa di bawah sana Gunwook perlahan masuk dalam satu hentakan.

“A-Hahhh…” ricky mengalungkan tangannya ke leher gunwook, menelan wajah yang lebih muda ke dadanya. Gunwook hampir tercekik namun ricky yang kesulitan bernafas karena perutnya bergejolak seakan ditumbuk.

“Ugh… ricky, ahh..” gunwook mengangkat kepalanya, mencari bibir ricky lagi untuk membungkam desah yang gunwook keluarkan karena remasan lembut menyelimuti seluruh penisnya.

Jeratan itu makin menjadi, dirinya seakan dihisap dan dipijat di waktu yang bersamaan. Gunwook melepas ciumannya, menggerakan pinggulnya lebih cepat hingga ia tekuk paha ricky dan menumbukannya lagi. Tangan ricky mencengkram erat bantal yang ia tiduri. Wajahnya begitu merah dan memanas hingga suhu tubuhnya naik dan membuat bagian bawahnya juga ikut melebur.

“Haaahhh.. ricky..,” gunwook menarik tubuh ricky, memeluknya membawa pada pangkuan lalu saat dia berada di ujung, pelukan itu semakin erat bersamaan dengan semburan hangat yang menjalar di seluruh perut ricky.

Gunwook menghela nafasnya panjang. Jujur, dia tak berharap kalau malam ini akan begitu panjang merengkuh ricky dalam pelukan. Gunwook menyatukan lagi kesadarannya, menidurkan ricky yang kini berbaring sembari menatapnya.

“Tunggu sebentar, aku siapin air panasnya—

Ucapan tersebut tak selesai, terpotong karena ricky yang menarik gunwook dan membalik posisi mereka. Yang cantik duduk di perut si januari, meraba tubuhnya dari bagian dada hingga ke perutnya yang berbentuk kotak kotak.

“Belum,” dia mengangkat pinggulnya dan menarik penis gunwook memposisikannya ke lubang anal. “Masih belum…”

“Ricky, Ahhhh… shit,” gunwook mengumpat. Seluruh miliknya masuk ke dalam lubang basah yang tadi dia isi dengan pelepasannya sendiri.

Begitu licin hingga tak terasa sulit untuk ricky masukan dan bergerang menghentakan pinggulnya di paha gunwook. Yang lebih muda banyak mendesah, mulutnya tak bisa diam menggaungkan rasa nikmat yang ricky berikan dalam setiap tempo gerakannya.

“Gunhh… ungh,” ricky juga ikut mendesah, merasakan bagian perutnya menonjol setiap dia memasukan seluruh bagian milik gunwook. Pinggulnya tak mau berhenti, seakan rasa pegal dan radang nyeri yang akan menyerang di esok hari bukan penghalangnya kali ini.

Ricky perhatikan gunwook yang berbaring di hadapannya, berkeringat dan sama birahinya seperti dirinya. Harusnya ricky pakaikan gunwook pita untuk mengikat tangan dan menjadikannya salah satu kado natal di tahun ini. 

Tangan gunwook menjalar ke belakang tubuh ricky, meremas kedua bongkahan bokongnya sembari mendorong tubuhnya agar menghentak dengn ritme yang lebih cepat.

“Hahhh.. ricky, fuck,” gunwook mulai frustasi, hentakan yang terakhir ia masukan seluruh bagiannya hingga menembus titik ricky yang cukup dalam dan menyemburkan klimaks yang lain. 

Mata ricky terbelalak, tubuhnya membusur dan penisnya yang kaku mulai mengeluarkan cairan encer yang menyemprot keluar.

Cum kedua gunwook bersamaan dengan ricky yang jatuh tumbang menimpa tubuhnya, nafasnya mulai berat ditambah squirting yang ricky alami di ronde kedua sexnya.

“Ricky? Hey? Aku siapin air panasnya sekarang okay?”

Ricky tak peduli saat gunwook dengan panik menggendong dirinya masuk ke kamar mandi. Yang ia tahu di malam itu adalah pengalaman sexnya yang luar biasa kali ini. 

Di luar expektasi, seorang perjaka bisa membuat ricky keluar berkali-kali bahkan kencing di atas kasur hingga basah. Dia tak peduli, keberuntungan satu tahunnya habis malam ini. 

 

 


 


Gunwook cukup baik padanya. Memandikan ricky dengan hati-hati di kamar mandi. Memberikannya senderan rasa nyaman saat tahu di asrama tak menyediakan bathub seperti yang ada di rumah.

Gunwook terus memeluknya, mengecup ricky sesekali dan mereka berciuman lagi saat ricky melirik ke arah pemuda tersebut. Wajahnya merah padam, seakan beberapa menit lalu bukan dia yang membuat ricky kesusahan.

Kasurnya gunwook bersihkan dengan sprei baru yang disemprot wewangian. Padahal tak perlu sejauh itu gunwook mengurusinya. Di malam itu ricky tidur nyenyak dalam pelukan, menghirup aroma gunwook yang menyatu dengan sabunnya. 

Mereka mungkin lupa kalau kamar itu bukanlah milik ricky seorang. Di pagi hari saat matthew pulang dari staycationnya, seluruh lantai berantakan dengan baju yang berserakan.

Hanya ada dua tubuh dibawah selimut di kasur ricky, tengah bergerumul dengan suara dengkur kecil seakan kedatangannya tak bisa mengganggu lelap dari mereka berdua.