Work Text:
Air berjejak di lantai kamar Widuri, menetes satu-satu dari ujung rambutnya yang masih basah. Ia berdiri di depan cermin menelusuri refleksi dirinya yang sudah berbalut baju tidur. Piyama bercorak bunga sedikit memberi hangat ke tubuh tingginya. Penerangan dari lampu kuning yang redup memantul bening pada kulit wajah Widuri. Kelopak matanya naik turun, jemarinya sibuk menuntun krim pelembab dan lip gloss hiasi wajahnya. Ia bersiap untuk menutup malam.
“Kamu ga pulang, kak?” tanya Widuri ringan. Hanya hening yang menyahut berseling waktu. Widuri yang sedikit terusik menggeser fokus dengan menoleh perlahan.
Mara nampak tengah berbaring santai di tengah kasur dengan seprai putih yang sudah berantakan. Dengan satu kaki menjulur keluar selimut serta hoodie abu-abunya naik sedikit, menampakkan secuil pinggang rampingnya. Pun rambut pendek berwarna coklat terlihat berantakan pula sebab tidak berhasil diikat sepenuhnya. Sikap perempuan itu jelas menunjukkan betah bak menghuni ruangannya sendiri.
“Kak?” Suara Widuri mengulang.
Sebab empunya tak hiraukan sekitar selagi menginvasi ruang pribadi Widuri—dengan ponsel di tangan yang konstan ia gulir—sejak satu jam yang lalu ia merebah di sana. Pemilik asli ruangan seolah tak kasat mata, tidak perlu jadi pelik untuk dipersoalkan.
“Lah udah pulang ini, dek. kamu ga lupa, kan? Sebulan lagi ini jadi rumahku juga, lho,” gumamnya enteng tak sedikitpun hiraukan presensi penanya.
Widuri mengerut garis kecil di antara alisnya. Pertanyaannya jatuh ke lantai begitu saja—sebab yang menjawab masih lebih tertarik pada hal lain. Rasa kesal Widuri atas Mara yang terlalu meremehkan kehadirannya menumpuk dan menggugat untuk lancarkan serangkaian aksi. Ia merangkak perlahan naik ke atas ranjang dengan lututnya yang menggeser sisi tubuh Mara. Kasurnya ikut berderit di bawah bobot tubuhnya hingga Widuri mendarat di atas yang lebih tua, tepat pada panggulnya.
Widuri menghela napas pendek, “don’t ever call me like that!” Tangannya bertumpu di antara dada dan leher Mara. Sedikit menekan agar yang diajak bicara mau menatapnya. Tapi percuma, ia hanya beri lirikan singkat yang berdurasi kurang lebih dua detik lalu fokus pada kegiatannya lagi.
Dalam satu gerakan cepat, ponsel Mara dirampas dari tangannya lalu dilempar asal ke sisi lain kasur. Mara pun terbeli perhatiannya, menatap Widuri heran. Apa yang sebenarnya sedang singgah di kepala Widuri?
“Why couldn’t I? We’re gonna be a family, Wid.”
Datangnya Mara malam ini cuma untuk memastikan dua-tiga hal. Bahwa Widuri mungkin belum menyantap atau bahkan menyentuh makan malam. Bahwa mungkin pipinya yang tembam sudah tidak memerah dan sembab lagi. Bahwa mungkin senyuman Widuri bisa menghilangkan sisa mendung dari kepala Mara sendiri.
Tanpa menduga akan ada badai susulan yang datang. Padahal ia kira hanya tersisa tanah lembabnya saja sebab musim hujan sudah berakhir. Ia yakin semuanya sudah usai seminggu yang lalu. Isak tangis dan keputusan berduri telah ditelan bersama, berdua. Tapi tanpa sesuai rekaan di kepala, hari ini Widuri malah bertetesan air mata lagi.
"And a good sister calls her lil sis ‘adek’, kan?” sambung Mara.
Yang di atas merasakan gerombolan serangga imaji merayap naik ke tulang belakangnya. Good sister, a family, blah blah, tai ayam. Adegan kekeluargaan ini terlalu memuakkan baginya. Ingin muntah saja rasanya.
Ia merunduk sedalam yang ia bisa hingga rambut panjangnya terjuntai menyentuh dada Mara, membentuk tirai tipis yang tutupi hampir seluruh wajahnya.
“Kenapa kamu ngomong kayak gitu …” Widuri berbisik, “padahal kamu yang bikin aku begini.”
Widuri meremas kaos Mara tak terkendali hingga kain tersebut jadi alas yang menyerap tangisnya. Air matanya meluruh begitu deras merembes hangat di perut Mara.
“Wid, we're already talked about it ...”
Jemari Mara terangkat menyelipkan rambut Widuri ke belakang telinganya. Surai halus itu belum sepenuhnya kering tapi sudah terkena basah lagi.
“Kita ga akan bisa.”
Wajah Widuri terangkat sedikit, menyingkap pipi merah basah dan matanya yang cantik kini membengkak. Garis-garis itu tentu sudah Mara kenal di luar kepala saking seringnya ia hadir di situasi serupa.
Rasanya queen-sized-bed ini terlalu menyesakkan. Padahal sering sekali mereka gunakan untuk berbaring nyaman berdua. Seringkali mereka gunakan untuk menyalurkan kasih semalaman penuh lamanya. Tapi malam ini, satu bilik pun terasa sempit luar biasa. Mungkin karena kali ini yang ada bukan Mara dan Widuri saja, namun juga pilu yang meluap penuh di antara. Juga muntahan rasa yang ditelan kembali oleh keduanya. Nampaknya bilik ini sudah tidak sanggup menampung dua perempuan yang saling miliki rasa tapi tidak boleh berjalan bersama. Lalu, kemana kini mereka harus pergi ketika ingin bertemu untuk sekedar menghela kalimat-kalimat penuh cinta?
Jemari Mara berpindah ke jejak tangis Widuri di pipi, tapi justru diberhentikan. Tahu-tahu ditangkap oleh tangan Widuri dan dibawa ke lain arah.
telunjuk dan jari tengah kakaknya
dibawa ke bibir Widuri
ditekan masuk ke dalamnya
untuk kemudian dikulum perlahan.
Liur hangat memenuhi indra peraba Mara.
G i l a .
Akal Widurinya sudah lenyap dimakan asmaradahana.
Mara hanya menelan ludah, menatap pergerakan lihai oleh gadis feminin di atasnya. Rambut panjangnya, rupa manisnya, bibir merahnya yang masih melahap jari Mara, nyaris meruntuhkan dinding pertahanan yang sudah ia bangun mati-matian.
“Kak ... Ra …” Bahunya naik turun buat kalimat yang mau ia keluarkan tersengal pula. "Please, i don't want. Please, can we at least talk to our--to my dad and your mom?" Widuri kesulitan ungkapkan mohonnya; melenguh di tengah aksinya.
Mara memejam dengan napas tertahan. Ia menggeleng pelan beberapa kali sebagai jawab yang langsung ditangkap netra Widuri. Padahal Widuri sudah hilang waras dan tak berlandas logika. Harusnya Mara mengerti dirinya, mengerti cara menanganinya. Harusnya Mara memilih untuk pura-pura mengerti kemudian menenangkannya. Harusnya Mara anggukkan kepala dan dekap Widuri saja. Harusnya ini--harusnya itu--situasi ini sudah segenapnya berbeda.
“Berhenti peduli sama aku kalau gitu,” lirih Widuri yang secepat kilat menjeda aksinya. “Stop searching then come to me. Ever. Again.”
Pernyataan penuh penekanan itu membentur dan berlarian di kepala Mara. Tidak bisa. Tidak akan bisa. Tidak mencari Widuri berarti tidak menjumpainya. Tidak berjumpa maka tidak bersahut cerita, tidak bertukar tawa, tidak saling meraba, tidak berpagut netra. Sama seperti hilang nyawa. Lebih baik mati saja.
Mara membuka mulut tanpa keluarkan suara. Segala kata tersangkut di atas kerongkongan; penolakan maupun penerimaan. Semua susunan kata mustahil jadi jawaban tepat atas pendeklarasian tegas oleh si surai panjang. Mara mengalihkan wajahnya agar genangan yang terkumpul di pelupuk tidak kentara.
Sia-sia saja sebab tak butuh waktu lama hingga Widuri menaikkan tangannya, mengelus rahang Mara yang tegas lantas ditarik paksa agar Mara menatap lurus ke matanya. Widuri tersenyum miring, “Kamu nggak bisa.”
Kekehannya lolos karena ia berhasil menembak tepat di kepala dengan segala yang ia mengerti. Tentang bagaimana Maraline akan riliskan rindu dengan mendatanginya sewaktu-waktu. Tentang bagaimana Widuri selalu bisa memeriahkan hari-harinya yang sama sekali sepi. Tentang bagaimana seisi kota bersemi ketika yang ditemu di penghujung hari adalah rengkuh oleh satu sama lain.
Senyap sunyi mengudara di antara mereka sementara netra Widuri masih mengobservasi tiap lekuk pada wajah Mara. Tangan Widuri menyelip nyaman untuk meraba rambut pendek Mara yang kasar. Wanita itu suka sekali mewarnai rambutnya meski paham akan sulit mempertahankan keelokannya. Lampu kamar membuat iris Mara terlihat lebih gelap dari biasanya. Potret si upik jantan payah yang Widuri kenal. Wanita yang ia cinta. Yang selalu mengasihi tiap persona. Yang selalu utamakan bahagia ibundanya. Dan sayangnya, tidak akan bisa Widuri miliki sepenuhnya.
Widuri menyandar lemah pada dada Mara, memejamkan mata sambil menarik napas panjang, “Biarin aku begini dulu, bentar...”
Debaran jantung Mara yang tak beraturan tertangkap jelas oleh telinga Widuri. Kuasa Mara akhirnya terangkat untuk bersarang pada punggung yang lebih muda, bergerak mengelus pelan. Harap-harap mengusir sedikit gundah yang hinggapi Widuri. Sebab malam ini yang ia temui adalah bukan lebih dari kata tak berpucuk.
Jarum menit bergeser tiga puluh derajat sementara Widuri dibiarkan berada di atas.
Dengan air mata yang terus basahi kaos Mara.
Dengan tangis yang tidak pernah layak ada di wajah semanis itu.
Dengan seluruh dirinya yang menghunjamkan lutut nan dua, meminta jangan ditinggalkan.
Dan Maraline … tidak bisa penuhi pintanya.
Walau senyatanya, ia juga mencinta yang lebih muda. Lebih dari yang Widuri mungkin kira.
