Chapter Text
“Sudah selesai.” Pria dengan jubah putihnya itu tersenyum lembut setelah selesai menjahit luka kecil di telapak tangan wanita yang datang padanya.
"Lain kali kau harus lebih berhati-hati. Cobalah sekali-kali meminta bantuan Pinka jika dirimu sedang merasa tidak enak badan," sarannya sambil melepaskan sarung tangan latex yang kemudian ia buang tempat sampah sebelum kembali mengecek luka yang telah ia tangani sekali lagi.
"Sungguh, hanya kau yang peduli padaku. Mungkin jika kamu tidak ada di desa ini para orang tua ini tidak akan dapat hidup panjang.”
"Nina…aku serius.” Dia—Jesse—pria yang tengah disinggung itu sama sekali tidak tersentuh akan maksud kalimat yang wanita itu—Nina ucapkan.
Karena bagaimana mungkin ia bisa?
Bahkan belum seminggu penuh berlalu Nina sudah 3 kali datang ke kliniknya untuk masalah yang sama persis. Dan Jesse bukan marah, melainkan ia sangat khawatir mengingat usia Nina yang sudah tidak muda.
Hari ini beberapa menit sebelum jam praktek Jesse berakhir, Nina datang seorang diri tanpa ada yang menemani dengan luka goresan yang cukup dalam sampai membuat Jesse menjatuhkan tas yang ia gendong saking terkejutnya. Ketika Jesse bertanya apa yang terjadi Nina justru menyalahkan penglihatannya yang hanya dapat membuat Jesse menghembuskan nafas pasrah.
"Baiklah, baiklah aku akan lebih berhati-hati sebelum kau mengomeli ku lagi."
Jesse sudah mengenal Nina semenjak kecil. Dulu, ia adalah teman dekat nenek Jesse, jadi sering datang untuk berkunjung ke rumah hingga Jesse sudah hafal bagaimana sifat wanita yang semakin terasa seperti keluarga bagi Jesse.
Jesse hanya dapat menggeleng dengan senyum kecilnya, mengambil tas selempang coklat yang ia jatuhkan tadi kemudian membantu Nina yang hendak bangkit dari tempat duduk dengan memegangi lengan dan punggungnya rapuh.
Jesse sangat ingin mengomel lebih panjang, tapi ia sudah sangat yakin segala nasihat dan ceramah tidak akan mempan. Ia akan kalah telak melawan sifat keras kepala Nina yang sudah mendarah dan berpikir ia dapat melakukan semuanya seorang diri.
“Ingat sementara perbanyak istirahat, jangan banyak melakukan pekerjaan berat. Aku akan meminta Pinka untuk lebih memperhatikan dirimu setelah ini.”
“Terima kasih, anak muda. Tapi apa kau tidak percaya padaku?”
“Jika dirimu sungguh menuruti semua saran yang aku berikan kau tidak akan berakhir di sini saat ini.”
Oh, Nina menatap Jesse seolah bola matanya hampir berguling keluar mendengar perkataan dokter muda itu. Namun Jesse hanya tersenyum setelah membuka pintu—mempersilahkan Nina untuk keluar terlebih dahulu sebelum ia mengunci klinik.
Press enter or click to view image in full size
Maria—perawat yang bekerja dengan Jesse sudah pulang terlebih dahulu karena ia harus menjaga sang putri yang masih balita. Suaminya sedang bekerja di kota, dan Maria merasa tidak enak hati jika menitipkan bayinya terlalu lama walau sebenarnya tidak ada satupun warga desa yang keberatan. Jika bukan karena Nina yang datang disaat-saat terakhir, mungkin Jesse juga sudah beristirahat di rumahnya sekarang. Tapi Jesse tidak menyalahkan.
“Aku hanya berharap dirimu tidak melakukan semuanya seorang diri. Ingat, di rumahmu kau tidak tinggal seorang diri.”
“Oh, apakah bisa kamu saja yang jadi cucuku dibandingkan gadis nakal itu. Dia tidak pernah mendengarkan saat aku memarahinya.”
Jesse tertawa kecil membalasnya. “Sangat mirip dengan seseorang—iya! maaf maaf aku salah!”
Dokter muda itu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah ketika Nina mulai menjadikan ia sebagai samsak tinju. Wanita jika sudah marah benar-benar mengerikan, mereka sungguh dapat berubah menjadi iblis seketika.
“Untuk Pinka aku rasa kau tidak perlu terlalu keras padanya. Dia masih muda, seiring berjalannya waktu dia akan mengerti dengan sendirinya bahwa kau hanya menginginkan yang terbaik untuknya.”
Jesse tidak akan mengatakan lebih banyak yang dapat memicu pertengkaran antara sang cucu dan neneknya itu. Jika Pinka sampai marah besar bisa-bisa dia tidak akan mengantarkan makanan ke rumah Jesse lagi selamanya. Itu adalah berita buruk untuk Jesse yang tidak dapat memasak untuk diri sendiri.
Jesse sebenarnya merasa bersalah. Walau ia selalu memperingatkan Nina untuk selalu menjaga kesehatan karena usianya yang sudah hampir menyentuh 70 tahun, ia—sebagai seorang pria yang sudah di pertengahan usia kepala tiga ini dengan tidak tahu malunya masih membuat makan malam untuknya.
Jesse sudah memberitahu namun Nina selalu berkata itu adalah kegiatan sehari-harinya dan Jesse hanya perlu menikmati apa yang ia siapkan daripada mati kelaparan. Dan karena wanita tua itu selalu menampar Jesse dengan realita maka dokter itu tidak memiliki apapun untuk membantah.
"Ingat untuk memberitahuku jika obatmu sudah habis.”
"Ayolah, pria muda, bagaimana aku bisa lupa, kamu mengingatkanku tentang itu setiap hari." Wanita tua itu mencebik. Sebelah tangannya sengaja ia serahkan untuk Jesse genggam sementara yang lainnya memukul pelan bahu pemuda yang terkekeh kecil karenanya.
“Aku harus. Ingat kau selalu mengeluh sakit kepala setiap hari dan bagaimana rasanya semakin parah?”
“Ah, sudah tidak terlalu parah sekarang.”
“Nina…kau masih meminumnya, kan?”
“Tentu saja. Kau selalu menanyakan tiap kita bertemu.”
Jesse memiringkan kepalanya untuk menganalisa ekspresi Nina melalui lensa kacamatanya. Baiklah, sepertinya Nina tidak berbohong. “Jika dalam beberapa hari masih belum ada perubahan aku akan mengantarmu ke rumah sakit di kota.”
“Untuk apa?”
“Hanya untuk memastikan.”
“Oh, sebaiknya jangan.” Nina mengibaskan satu tangannya dengan kening mengkerut seolah sedang berusaha mengusir sesuatu. “Biaya pengobatan di kota sangat mahal. Aku tidak memiliki uang sebanyak itu bahkan sekedar menebus biaya obat. Lupakan soal berobat. Sudah cukup aku merasa bersalah karena dirimu tidak menerima uang setiap kali aku kemari. Jangan membuatku merasa lebih buruk dari ini.”
“Tidak, bukan itu maksudku. Masalah biaya tidak perlu dipikirkan, yang penting adalah kesehatanmu.”
“Oh, tidak perlu sungguh hari ini aku sudah merasa jauh lebih baik,” Nina masih coba membantah. Tapi Jesse tahu jelas Nina sedang berbohong dari cara wanita itu yang terus memijat pelipisnya saat Jesse tidak melihat. Sungguh keras kepala.
“Nina—”
“Tolong jangan membuat wanita tua ini semakin banyak pikiran. Dan jangan coba membujukku lagi, ini sungguh hanya sakit kepala biasa. Tidak perlu sampai pergi ke kota.”
Jesse menatap Nina dalam. Cukup lama sampai ia akhirnya membuka suara. “Kalau begitu biarkan aku mengantarmu pulang."
"Tidak perlu—sebenarnya itu adalah ide yang bagus."
Jesse mengerut karena perubahan yang begitu cepat, namun tak butuh waktu lama agar dia dapat mengerti maksud dari senyum lebar Nina—yang seketika membuat wajah wanita tua itu menjadi cerah.
Tentu saja Jesse sangat paham. Ia sudah mengenal Nina terlalu dalam. Dirinya tidak bodoh dan benar saja dugaannya.
Bagaimana Jesse dapat melupakan tabiat dari wanita tua ini?
Saat Jesse mengantarkan Nina hingga tiba di rumah, cucu perempuan Nina—Pinka menyambut mereka berdua dan langsung mengundang Jesse masuk. Jesse ingin menolak, tapi ia harus tinggal karena jujur, selain perutnya yang sudah mulai berbunyi, Jesse juga merasa tidak enak jika harus pergi begitu saja.
Seperti yang ia katakan Nina dan cucunya selalu membuat makanan yang enak hingga sulit untuk Jesse tolak. Dan lagi, mereka menyiapkan begitu banyak makanan kesukaan Jesse. Apa sanggup Jesse harus mengatakan tidak? Tentu saja tidak.
Pinka tidak banyak bicara awalnya, namun sang nenek terus membisikan kata-kata agar dirinya mencoba untuk berkomunikasi dengan Jesse—yang semenjak tadi tanpa mereka sadari mendengar percakapan pasangan nenek dan cucu itu dalam diam sembari menikmati makanannya dengan lahap—terus menyuapkan daging dan tahu kesukaannya dengan sumpit ke dalam mulutnya sendiri.
“Nina, kasihanilah dia. Biarkan Pinka makan dengan tenang,” ucap Jesse dengan mulut penuh memperhatikan dua perempuan di depannya bergantian setelah meletakkan sumpitnya. Ia sudah terbiasa dengan situasi ini. Bahkan sebenarnya interaksi mereka sedikit menjadi hiburan tersendiri bagi Jesse, seolah ia memang bagian dari keluarga ini.
Jesse bahagia, namun ia malah mendapat pukulan ringan di bahu dari sang nenek hingga berjengit mundur. “Kau ini, habiskan dulu makanan di mulutmu sebelum berbicara.”
“Astaga ini sudah habis. Lihat.” Jesse membuka mulutnya sebagai bukti. “Seperti biasa terima kasih atas makan malamnya yang enak.” Jesse menyatukan telapak tangannya sebagai bentuk terima kasih.
“Makan malam? Kamu tidak akan makan lagi setelah ini? Kau bahkan belum begitu banyak makan.”
“Aku sudah makan cukup banyak saat kalian sibuk mengobrol tadi. Sekarang perutku rasanya akan meledak jika diisi lagi. Tidak kuat lagi.”
“Astaga inilah mengapa kau terlalu begitu kurus. Tidak bisa seperti ini. Masih ada banyak sisa sup tahu dibelakang, apa kau ingin membawanya pulang. Bisa kau panaskan untuk makan nanti malam dan sarapan besok pagi.”
“Tidak per—”
Sebelum Jesse berhasil menolak, Nina sudah tidak terlihat lagi di hadapannya. Menghilang dalam sunyi. Jesse tidak berbohong saat ia berkata saat perutnya sudah tidak mampu menampung apapun lagi setelah ini. Tapi Nina tetaplah Nina. Jika ia sudah bersikeras, tidak ada yang dapat melawannya. Termasuk Jesse yang hanya dapat melemaskan bahunya dan menunggu.
Dari seberang meja—duduk diatas bantal tipis yang memisahkannya dari dinginnya lantai setelah kepergian sang nenek, Jesse memperhatikan Pinka yang akhirnya dapat bernafas lega. Masih di sana.
Pinka berusaha untuk menyembunyikannya, namun Jesse dapat menangkap gerak-gerik kecil gadis itu dengan jelas dan tidak dapat menahan tawa kecilnya untuk lolos. Pinka menginginkan sesuatu darinya, dan Jesse tahu itu.
Maka dokter itu mengambil sesuatu yang telah ia sembunyikan dari dalam tasnya, meletakkannya di atas meja dan mendapati sorot mata gadis yang menatapnya penuh harap—menunggu persetujuan Jesse yang akhirnya memberi anggukan.
“Untukmu.”
Gadis berambut legam sebahu itu langsung menunjukkan senyum yang begitu lebar hingga Jesse takut bibirnya akan robek, matanya berbinar seakan ribuan bintang baru saja lahir di dalam sana.
“Sungguh?” Kakinya yang bersila mulai mengetuk-ngetuk lantai bersemangat penuh harap. “Benar ini untukku? Benar?”
“Kau terus menatapku seperti ingin melubangi kepalaku tadi karena berpikir aku membawanya untukmu, kan?”
Dan Pinka hanya membalas dengan cengiran khasnya ketika ia tertangkap basah. Karena Jesse memberi fakta yang tidak dapat ia bantah.
“Setelah ini kau harus lebih mendengarkan perkataan nenekmu. Kau tahu kesehatannya tidak bagus belakangan jadi kau harus lebih memperhatikannya.”
“Aku tahu itu,” oh ia cemberut. “Tapi setiap kali aku ingin membantu nenek selalu memarahiku karena telah membuat masakannya menjadi terlalu asin! Tidak, nenek selalu memarahiku setiap saat,” Pinka membetulkan ucapannya sendiri, “bahkan saat aku pulang sebelum matahari terbenam seperti yang nenek inginkan pun aku masih dimarahi.”
“Itu pasti karena dirimu kembali dalam keadaan kotor setelah bermain dengan Peter dan adiknya.” Dan benar saja. Pinka tidak membantah dan memberi senyum palsu hingga Jesse hanya dapat menggelengkan kepalanya. “Wajar jika nenekmu khawatir, Pinka. Dia hanya memilikimu seorang di sini. Menurutmu jika tidak ada dirimu siapa yang dapat dia andalkan di rumah ini?”
Dan Pinka diam setelah mendengar perkataan Jesse.
Jesse bukan ingin sembarang mencampuri urusan orang lain. Tapi bagi Jesse, Nina dan Pinka bukan orang asing. Dia telah mengenal Nina bahkan sebelum Pinka lahir. Walau sempat meninggalkan desa ini untuk waktu yang lama Jesse tahu bagaimana Nina selalu mencoba melakukan semuanya sendiri saat putrinya memutuskan untuk bekerja di kota, meninggalkan putri satu-satunya dengan sang nenek.
Setelah kembali kemari, Nina tidak memperlakukan Jesse seperti orang yang baru ia kenal. Bagi Nina, Jesse masihlah tetap Jesse kecil periang, nakal, menganggap semua orang sebagai temannya. Jesse sudah tidak sama, namun Nina tidak memperlakukan Jesse berbeda. Dan berkat Nina, Jesse dapat merasakan kembali arti dari sebuah keluarga dan kehangatan yang ditawarkan di dalamnya. Hanya hal kecil, namun cukup membuat Jesse merasakan kebahagiaan yang tiada tara.
“Jika kau menjadi patuh saat aku datang berkunjung lagi kemari aku akan membawakanmu buku baru.”
Mendengar itu langsung tegak duduk Pinka dan tubuhnya condong ke depan, ingin memastikan ia tidak salah dengar. Seperti ada cahaya yang tumpah-tumpah darinya. “Janji?!”
“Janji.”
Satu hal yang Jesse ketahui, Pinka sangatlah menyukai dunia fiksi. Seringkali dirinya mendengar Nina mengeluh tentang cucunya yang selalu menghamburkan uang hanya untuk membeli setumpuk kertas yang nanti hanya akan dipajang hingga berdebu.
Padahal, tanpa Nina ketahui, selama ini Jesse lah yang selalu membelikan Pinka buku-buku saat dirinya berkunjung ke kota. Meminta Pinka menabung uang yang ia butuhkan untuk kebutuhan yang lebih penting.
Desa ini hampir tidak memiliki toko buku dan jarak antara desa ke kota membutuhkan setidaknya 3 jam perjalanan. Kalaupun ada, itu hanyalah buku-buku lama yang kertasnya sudah mulai menguning karena hampir tidak ada peminatnya.
Sebagian besar orang-orang di desa ini lebih memilih untuk bekerja, dan membaca merupakan sebuah kegiatan yang telah mereka tinggalkan bersama dengan masa muda yang telah berlalu. Bukan sesuatu yang penting, hanya membuang-buang waktu. Tapi tidak untuk Pinka.
Saat Pinka membuka bungkusan kertas berwarna coklat yang berisi dua buku itu, dirinya tidak dapat berhenti berterima kasih bersamaan dengan senyumnya semakin lebar saat memeluk buku-buku berharga itu. Nina yang baru saja keluar dari dapur memperhatikan hanya pasrah karena Jesse selalu memanjakannya dengan hal tidak perlu.
“Kau akan miskin jika terus menuruti maunya seperti ini.”
Jesse terkekeh setelah berterima kasih dan menerima sup yang Nina bungkus untuknya. “Kalian selalu memberiku makanan, dan dia selalu mengantarkannya untukku setiap hari. Anggap saja ini bentuk terima kasihku padanya.”
“Jika ingin berterima kasih kenapa tidak menikah saja dengannya.” Oh, mulai lagi, "di umurmu yang sekarang, apa kamu tidak memiliki rencana untuk menikah?"
Pertanyaan itu sukses membuat Jesse tersedak oleh minuman yang sudah mencapai tenggorokannya. Buru-buru, Pinka menuangkan memberikan Jesse segelas air putih baru kemudian menatap sang nenek dengan pandangan tajamnya. “Nenek…jangan membuat dokter Jesse tidak nyaman.”
Jesse menepuk dadanya sendiri hingga berhasil menghilangkan hambatan pada tenggorokannya, lalu berdehem pelan, menarik kembali perhatian dua wanita di hadapannya. Memberi instruksi kepada Pinka bahwa dirinya baik-baik saja.
“Aku masih belum memikirkannya. Kehidupanku yang sekarang sudah lebih dari cukup.”
“Apa kau tidak merasa kesepian? Semenjak datang ke desa kebanyakan kau hanya bergaul dengan para tetua. Para anak muda juga sudah semakin berkurang karena sebagian besar pindah ke wilayah perkotaan untuk melanjutkan jenjang pendidikan mereka. Wanita tua ini khawatir jika menetap terlalu lama, kau hanya akan berakhir menjadi bujang tua dan membuat ibumu sedih.”
Jesse tertawa kecil, “Ayolah Nina, aku masih muda, tidak perlu terburu-buru juga”. Dirinya tahu wanita tua itu hanya mencemaskan kisah cintanya. Hanya saja, semenjak patah hati terakhirnya, Jesse sama sekali tidak memiliki niatan untuk mencari pasangan baru.
“Muda apanya, sebentar lagi umurmu hampir 40 tahun.”
“Jangan berlebihan. Aku bahkan belum melewati ulang tahunku yang ke 35.”
“Lihat? Apa aku harus pergi ke kuil untuk berdoa dan meminta pertolongan dewi laut untuk segera memberimu seorang pasangan yang akan menemanimu sampai tua.”
“Oh, tolong jangan. Jika sungguh doamu dikabulkan sebelum aku siap dan aku tidak dapat memperlakukannya dengan baik, bisa-bisa aku mendapat teguran dari ibuku.”
Jesse pikir Nina akan memperpanjang perdebatan mereka, namun terjadi malah Nina menutup mulutnya rapat dan menatap Jesse dengan maksud yang sempat membuat Jesse bertanya-tanya.
Ada apa?
“Apa kau masih mengunjungi ibumu setiap hari?” kini suara Nina terdengar begitu lembut. Seperti seseorang yang benar-benar khawatir dan peduli. Seakan ia mencoba untuk berhati-hati agar tidak menyinggung atau membuat Jesse sedih.
“Aku selalu merindukannya setiap hari jadi aku tidak dapat menahan diri untuk terus berkunjung.” Jesse mengeluarkan tawa kecil sambil mengusap tengkuknya seakan sedang mencoba menahan sesuatu dalam dirinya. “Tapi tenang saja, aku hanya datang untuk memberinya bunga dan berbincang sedikit. Kau tidak perlu khawatir.”
“Sudah 20 tahun. Aku hanya berharap kau berhenti menyalahkan dirimu atas sesuatu yang tidak pernah menjadi salahmu.” Nina mendekat, mengusap punggung Jesse seolah ia sedang menenangkan cucunya sendiri, seakan ia mengerti apa yang masih Jesse rasakan sampai saat ini.
Jesse mengambil tangan keriput Nina dan mengusapnya pelan. “Terima kasih, tapi aku sungguh sudah baik-baik saja sekarang,” ucap Jesse lembut dan jujur. Karena pada kenyataannya memang demikian.
“Selalu. Semoga kau selalu diberkati dan hanya hal baik yang akan datang padamu.” Jesse merasakan hangat yang merengkuhnya saat matanya mulai terasa panas. Tidak. Ia tidak boleh menghancurkan momen ini. Ini seharusnya menjadi makan malam yang menyenangkan.
Bukankah Jesse sudah berjanji pada diri sendiri tidak akan membuat Nina khawatir dengan dirinya lagi?
Become a member
“Ada apa ini? Aku tidak berniat mengacaukan makan malam kalian, kenapa suasananya berubah menjadi seperti ini? Aku rasa sebaiknya aku pula—”
Tidak terima dengan perkataan Jesse ia kembali memukul bahu dokter muda itu pelan. “Kamu ini. Jika ada waktu datanglah kemari setelah selesai bekerja. Aku akan memasakkan banyak makanan enak untukmu.”
“Nina…aku tidak ingin merepotkan.”
Mendengar itu Nina langsung berkacak pinggang. “Justru aku yang merasa senang jika dapat melihatmu makan dengan baik.”
Jesse bingung harus menjawab apa. Tidak juga dapat menolak niat baik ditujukkan padanya. Karena bagaimanapun datang ke rumah ini, memiliki seseorang yang menemani, berbicara, menertawakan hal-hal kecil bersama, merupakan sesuatu yang Jesse rindukan, yang pernah hilang dari hidupnya.
“Terima kasih.”
“Sudahlah, lagipula aku sudah pernah berjanji pada ibu dan nenekmu untuk menjagamu dengan baik. Jika suatu saat kau menemukan seseorang yang kau cintai, maka aku akan melepaskanmu dan membiarkan dia yang mengurus bayi besar ini.”
“Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi tidak sekarang. Bayi besar ini masih butuh waktu untuk menata hatinya yang sempat dipatahkan.” Jesse bersandar—memeluk Nina dari samping mencari kasih sayang yang seketika Nina berikan dengan menepuk kepalanya pelan.
Jesse belum siap untuk membuka hati untuk siapapun. Selain itu, dia tidak berbohong kala berkata dirinya cukup puas dengan kehidupannya saat ini. Ia sudah memantapkan tujuannya semenjak datang ke desa ini, dan akan tetap berfokus pada jalan yang telah ia tata sedemikian rupa, mengobati orang-orang yang tidak memiliki akses kesehatan yang memadai.
Selain itu…Jesse juga memiliki alasan lain yang membuatnya memiliki untuk kembali kemari. Ia ingin mencari. Sesuatu. Walau Jesse tidak yakin ia dapat menemukan jawabannya, Jesse ingin mencoba mencari.
“Orang sehebat ini, siapa yang berani menyakiti? Jika aku bertemu dengannya aku akan mengomeli mereka karena telah menyia-nyiakanmu. Lihat saja.” Jesse hanya terkekeh dan semakin mengeratkan pelukannya.
Ia merasa nyaman, seperti kembali pada masa kecil ketika ia memeluk ibunya, Jesse merasakan ketenangan ketika rambutnya diusap. Rasanya begitu tenang, membuat ia ingin terlelap.
Namun tak lama kemudian, Jesse kembali membuka matanya perlahan. “Sebagai dokter, tentu saja aku akan menyelesaikan tugasku di sini. Aku juga senang dapat membantu orang-orang di sini karena sudah menyambutku dengan baik. Aku bahagia tinggal di sini, jadi tolong jangan buru-buru mengusirku.”
“Bagaimana memintamu mencari kekasih sama dengan mengusir? Tolong jangan memutar balikkan fakta.” Nina mendorong pelan Jesse yang masih dalam pelukannya merasa geli.
“Untuk masalah itu biarlah waktu yang menjawab.”
“Bagaimana dengan Pinka? Apakah dia tidak cukup baik untukmu?” Jesse melirik wanita di samping Nina yang semenjak tadi fokus membaca buku yang Jesse beri.
Benar, Pinka tidak pernah meninggalkan mereka dari awal. Tidak juga peduli apa yang Nina dan Jesse bicarakan. Karena semenjak awal ia sudah tenggelam dalam dunianya sendiri hingga sang nenek memecah konsentrasinya.
“Nina, aku rasa kau harus berhenti bercanda seperti itu.” Jesse berusaha menghentikan sebelum terjadi perang dingin. “Jika Anika mendengar apa yang baru saja kau katakan maka habislah aku.”
“Apa maksudmu? Apa dia masih sering mengganggumu?”
“Yang benar saja kami sudah bukan lagi remaja untuk apa dia menggangguku? Jika dia berani macam-macam maka aku hanya perlu melawannya balik.”
Nina memicingkan mata, “jadi, kau masih sering berkomunikasi dengannya?”
Jesse meneguk ludah. Apa dia sudah pernah bilang jika ia berteman baik dengan ibu Pinka—Anika yang juga merupakan putri Nina?
Nina bukan benci Jesse berhubungan dengan putrinya. Bahkan saat jauh dan tidak pernah kembali, Anika selalu bercerita tentang Jesse pada Nina. Kebetulan, mereka belajar di universitas yang sama dan mengambil spesialisasi yang sama. Seperempat hidup Jesse telah dihabiskan bersama wanita yang telah memilih untuk menetap di kota demi pekerjaannya itu.
“Hanya sesekali saat dia mengalami sedikit kesulitan di rumah sakit,” Jesse menjawab santai. Tidak mungkin ia sepenuhnya jujur seperti yang Nina curigai. Bisa rontok seluruh tulang Jesse jika Nina tahu ia selalu mengabari sang sahabat tentang kesehatan ibunya sendiri.
“Pinka anak yang baik. Dia tidak akan nyaman jika terus dijodohkan dengan pria tua sepertiku. Lagipula ada banyak anak baik di desa ini, tolong jangan jadikan aku kambing hitam setiap kali kau ingin mencari kekasih untuknya.”
Nina sungguh sudah seperti perantara jodoh. Semua urusan ia campuri. Siapapun orang disekitarnya maka ia akan selalu menjodohkan mereka sampai-sampai Jesse merasa lelah.
Memang, sebagian dari yang ia katakan hanya sebuah candaan. Namun terkadang kata-katanya terlalu nyata hingga Jesse tidak dapat membedakan.
"Oh, Jesse, apa menurutmu ada yang lebih baik darimu di desa ini?”
“Tentu saja ada. Peter contohnya.”
“Oh lebih baik aku menjodohkan dengan pria tua kaya raya daripada anak yang kerjaannya hanya bermain di laut setiap hari seperti dia.”
“Nenek! Paman juga kenapa tiba-tiba menyebut Peter!” Oh, sekarang Jesse kembali menjadi paman untuknya. Kemana tata kramanya yang memanggil Jesse seorang dokter tadi?
“Astaga nenek hanya bercanda! Berhenti memukul atau tulang nenek akan rontok karena dirimu!”
Jesse hanya tertawa. Benar-benar tertawa tanpa berniat untuk menginterupsi hingga mereka memilih untuk berdamai dengan sendirinya, Jesse pun bangkit dari duduknya.
“Terima kasih untuk makanannya, sepertinya sungguh harus pulang sekarang. Kasihan Momo sudah menunggu di rumah.”
“Sudah ingin pulang? Kenapa tidak menginap saja? Aku lihat angin diluar cukup kuat, bahaya jika dirimu harus menyetir sekarang.” Jesse menoleh ke arah jendela. Terlalu menikmati waktunya di sini Jesse sampai tidak sadar dengan perubahan cuaca di luar sana.
Tapi dia hanya memberinya senyum, tanda ia menolak. Nina sungguh khawatir tapi bagaimanapun Jesse harus pulang. Ia tidak bisa meninggalkan kucingnya sendiri di rumah.
“Aku akan menyetir dengan hati-hati. Tenang saja.” Jesse mengambil beberapa kotak berisikan sayur yang telah Nina siapkan dan berniat diberikan untuknya. “Terima kasih untuk ini, aku akan menghabiskannya dengan baik.”
.
.
.
.
.
Semilir angin menerpa surai hitamnya yang bergelombang, membuat tiap helainya berkibar pelan seperti untaian sutra hitam yang menari dalam irama alam. Pandangan Jesse tertarik ke arah pantai—hamparan pasir basah yang kini terlihat gelap dan suram, seolah tertutup bayangan dari langit yang mulai bergemuruh di kejauhan. Awan hitam menggulung perlahan, menyembunyikan sisa-sisa cahaya sore.
Padahal, waktu belum juga menunjukkan pukul enam sore. Tapi sepertinya kegelapan memilih untuk berkunjung lebih cepat, datang bersama dentuman halus guntur dan semilir angin yang mulai menusuk kulit seperti bisikan peringatan dari laut itu sendiri.
Walaupun mengetahui langit menyuruhnya untuk pulang, laut memanggil namanya melalui ombak yang menghantam karang. Jesse mendengarnya. Suara itu menggema, sampai tanpa pikir panjang kaki jenjang Jesse menginjak pedal rem.
Ia tahu ia telah berjanji kepada Nina untuk langsung pulang ke rumahnya, namun Jesse sungguh tidak dapat menahan diri. Terutama setelah percakapan kecil mereka tadi. Tentang ibu Jesse.
Rindu. Semakin hari semakin besar perasaan itu bersarang dalam hati, membuat Jesse selalu menyempatkan diri untuk berkunjung setiap pulang bekerja—seperti saat ini. Untuk menepati janji setelah ia menabur abu sang ibu, tempat kini ia beristirahat.
Kali ini Jesse datang tanpa bunga, tanpa kisah panjang untuk diceritakan. Hanya ingin menyapa, dan juga mengucap perpisahan sementara sebelum hari esok datang, dan Jesse akan kembali lagi ke sini.
“Aku tahu aku sudah kemari untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada ibu tadi pagi, tapi setelah berbicara sedikit dengan Nina, aku memikirkan ibu lagi.” Kedua tangan Jesse berpegang pada pagar untuk menopang beratnya agar tidak jatuh.
Udara dingin langsung menusuk setiap pori-pori kulitnya saat pria jangkung nan tampan itu menapak kaki di atas aspal. Mobilnya berhenti di tepi jalan yang diberikan pagar pembatas—yang terbuat dari kayu yang sudah hampir rapuh. Jika bersandar sedikit saja, Jesse khawatir tubuhnya akan terjun bebas ke permukaan pasir yang masih jauh dibawah sana.
Sepertinya langit sedang tidak baik-baik saja. Belakangan ini, hujan turun lebih sering, tanpa aba-aba, seolah-olah langit pun sudah kelelahan menahan segalanya sendirian. Entah kenapa, semua ini terasa begitu akrab. Seolah-olah alam turut menyuarakan isi hatinya yang selalu mendung, selalu hampa. Seakan langit, angin, dan hujan menjadi pantulan diam dari perasaan yang tak pernah bisa benar-benar Jesse ungkapkan.
Jesse menatap jauh ke lautan yang gelap di depan sana. Kira-kira, apa yang ada di sana? Apakah lautan hanya ruang yang hampa dan kegelapan tak berujung?
Tempat yang telah menjadi rumah bagi ibunya, yang Jesse harapkan tidak akan merasa kesepian di sana. Sendirian.
Jesse selalu memiliki jawaban atas setiap tujuan hidupnya. Dia tidak pernah tersesat saat mencari jalannya, namun ada satu misteri yang tidak dapat ia pecahkan hingga detik ini.
Jesse merasa terjebak. Dirinya merasa seolah ada sesuatu yang hilang dan ingin dia temukan. Ia tidak pernah merasa lengkap, seakan ada yang tanpa ia sadari selalu rindukan.
Jesse tahu tujuannya kemari untuk bertemu dengan ibunya. Tapi entah kenapa Jesse merasa ia sedang membohongi dirinya sendiri. Seakan niatan yang ia miliki tidak murni, seperti sedang mencurangi, kerinduan yang ada di dalam hati ini tidak hanya ditujukan pada satu orang.
Jesse penasaran, namun tak memiliki jawaban atas pertanyaan itu. Sekeras apapun dia mencoba berpikir, jawaban yang ia inginkan tak pernah muncul.
Seperti ada bagian dari dirinya yang hilang, Jesse tidak pernah merasa penuh dan perasaan itu semakin kuat saat ia kembali ke tempat ini. Ke kampung halaman ibunya. Tempat Jesse sempat dibesarkan.
Rasanya aneh, memiliki sesuatu yang mengganjal namun Jesse tidak dapat menjelaskan kepada dirinya sendiri apa yang dia cari di dalam kepalanya sendiri. Walau ia yakin ia kembali ke tempat yang tepat, namun ia tidak tahu apa yang harus ia jemput di sana.
Pikiran Jesse mulai melanglang buana. Mulai lagi. Sesuatu yang selalu ia lakukan saat melihat lautan. Berpikir. Melihat kembali—menggaruk masa lalunya sendiri.
Sudah dua tahun semenjak ia memutuskan untuk datang ke desa ini. Untuk kembali—menempuh hidup baru yang selalu dia dambakan. Melakukan apa yang selalu dia impikan sejak lama untuk menepati janjinya kepada ibunya.
Setelah menyelesaikan pendidikan dokternya, Jesse sempat bekerja di sebuah rumah sakit ternama di ibu kota atas permintaan sang ayah. Sebuah tempat bergengsi, penuh peluang, dan lingkungan yang kompetitif—semua hal yang dianggap penting oleh keluarganya. Namun, itu tidak pernah benar-benar menjadi keinginan Jesse.
Selama menjalani masa koas, ia mulai menyadari bahwa dunia yang diimpikan ayahnya bukanlah dunia yang ia inginkan untuk dirinya sendiri. Mungkin terdengar egois, namun kehidupan rumah sakit yang sibuk, hiruk pikuk kota, dan tekanan yang tak pernah berhenti perlahan mengikis rasa damai dalam dirinya.
Maka, meski harus menentang harapan sang ayah dan menghadapi penolakan dari keluarga baru ayahnya—yang Jesse sudah sadari hanya sandiwara belaka, Jesse mengambil keputusan besar: ia memilih pergi, dan memulai segalanya dari awal. Dengan uang tabungan yang selama ini ia kumpulkan diam-diam, ia meninggalkan kota dan datang ke desa ini. Kembali. Pulang.
Jesse telah menetapkan hidup yang ia inginkan dan kini, Jesse bertanggung jawab atas pilihan itu.
Di sini, dengan izin praktik yang akhirnya ia kantongi, Jesse membuka klinik kecil miliknya sendiri. Bukan untuk mengejar prestise atau pujian, tapi untuk menyembuhkan. Ia ingin menjadi dokter yang bisa mendengarkan, bukan sekadar mengobati. Dan untuk pertama kalinya, Jesse merasa hidupnya terasa lebih dekat dengan apa yang selama ini ia cari.
Benar, hanya dekat.
Namun tak pernah sampai. Belum.
"Dokter Jesse?"
Merasa namanya dipanggil, Jesse menoleh dan mendapati seorang pria tua yang tengah menaiki kendaraan roda 3 yang biasa digunakan saat pergi berkebun itu menatapnya heran hingga kulit keriputnya semakin mengerut. Memastikan. Siapakah orang gila yang masih menikmati pemandangan alam disaat langit sebentar lagi akan memuntahkan segala isinya.
"Hujan akan segera turun, kenapa masih berada di sini?"
Jesse hanya tersenyum canggung pria tua itu. Si tua Hans—dia yang selalu menyisakan dan mengantarkan sayuran mentah yang sebenarnya tak bisa Jesse makan karena bukan seleranya namun selalu menerima karena merasa tidak enak hati.
Seringkali bahan-bahan mentah yang si tua Hans berikan selalu Jesse serahkan pada Nina dan Pinka untuk mereka olah. Entah itu untuk mereka makan sendiri atau dikembalikan untuk Jesse cicipi karena kata Nina justru pria dewasa seperti—apalagi seorang dokter harus banyak mengkonsumsi sayur-sayuran.
"Sebaiknya anda cepat pulang. Dari perkiraan cuaca sepertinya malam ini akan ada badai besar."
“Sebaiknya dirimu kembali dahulu. Bukankah jarak rumahmu lebih jauh dan harus melalui jalan menanjak?”
“Kamu ini, aku hanya khawatir.”
Jesse terkekeh. Orang-orang di desa ini sungguh memperlakukannya seperti anak mereka sendiri. “Aku akan segera pulang setelah dirimu, jangan khawatir—kemana Ra-in dan Aran? Bukankah biasa mereka akan ikut?”
“Ra-in anak itu masih mengurusi kapalnya dan menolak pulang bersama si tua ini. Aran seperti biasa berada di rumah menjaga neneknya.”
“Kalau begitu, apa perlu aku antar?” tawar Jesse merasa angin yang semakin ganas.
“Jangan konyol, kemana aku harus menyimpan traktor tua ini jika hujan sungguh turun nanti?”
Jesse tersenyum kecil. Sepertinya tidak ada gunanya ia memaksa. Maka Jesse hanya dapat mengambil langkah mundur dan berkata, “baiklah, kalau begitu segeralah pulang.”
“Dirimu juga. Jika ingin melihat matahari terbenam sebaiknya besok saat cuaca bagus dan datanglah lebih awal.”
Setelah memperhatikan pria tua itu pergi, Jesse akhirnya merasa lega. Tangannya yang tadi melambai kini ia turunkan. Senyumnya memudar, hilang sudah Jesse yang ceria dan ramah.
Dirinya sungguh bersyukur orang-orang di desa ini menerima kehadirannya. Bahkan sikap mereka terlampau baik padanya. Walau mungkin selain Nina Jesse tidak begitu mengenal warga desa lainnya saat ia menginjakkan kaki di desa ini begitu juga sebaliknya, semenjak awal mereka selalu memperlakukan Jesse seolah ia sudah menjadi bagian dari mereka cukup lama.
Setiap hari mereka selalu mengantarkan makanan untuknya pagi dan sore saat dirinya pulang bekerja saat akhir pekan. Jika tidak bertemu langsung, maka mereka akan meninggalkannya di depan pintu dengan secarik kertas di atasnya.
Jesse merasa dirinya telah merepotkan. Walaupun pada dasarnya dia bersyukur karena sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengolah bahan makanan seperti yang sudah ia katakan sebelumnya.
Jesse tahu datang kemari adalah keputusan tepat untuknya. Ibunya benar, kampung halamannya memang tempat indah yang dipenuhi oleh orang-orang baik.
Dirinya menjadi dokter di usia yang cukup muda. Pindah ketempat ini adalah keputusan terbesar yang dia buat dalam 35 tahun hidupnya. Walaupun harus melalui sejumlah drama, namun Jesse berhasil sampai ke tahap ini, dirinya merasa cukup bangga.
Sejauh matanya memandang, kala pikirannya bergelut; keningnya mengerut. Saat ombak menggulung, untuk keseribu kalinya menghantam pinggiran pantai, mata Jesse menangkap sesuatu yang janggal.
Apa…ada sesuatu di sana?
Press enter or click to view image in full size
…Seseorang?
Apakah dirinya salah lihat?
Kenapa bentuknya seperti manusia?
Tapi siapa yang begitu gila untuk berenang di tengah cuaca yang begitu membekukan ini? Apalagi dengan ombak yang seperti dapat memakanmu sampai tulang pun mungkin tak bersisa?
Jesse membenarkan kacamatanya untuk memastikan apa yang dia lihat. Buram. Masih tidak begitu jelas. Terlalu jauh. Namun jelas ada sesuatu.
Akhirnya karena rasa penasaran yang masih menggantung, Jesse menuruni tangga yang letaknya tak jauh dari tempat dia berdiri buru-buru melawan terpaan akhirnya yang berhembus semakin kuat dari arah lautan.
Siluet itu semakin jelas berada dalam jarak pandangnya yang pendek.
Jesse terus berjalan—dan berjalan hingga matanya terbelalak akhirnya ia melihat dengan jelas. Langkahnya dipercepat bahkan hampir tersandung, dengan napas terengah-engah, Jesse akhirnya melihat objek itu dengan jelas. Matanya tidak salah melihat.
Benar. Seseorang.
Buru-buru Jesse melepaskan mantel berwarna tortilla miliknya—menutupi tubuh polos sosok yang baru saja ia temukan—terbaring tak sadarkan diri di atas hamparan pasir basah dengan luka yang terukir di seluruh tubuhnya.
Oh, apa yang sebenarnya telah ia lalui sampai berakhir dalam situasi seperti ini?
Tangan Jesse bergerak cepat. Setelah berhasil membalut tubuh itu dengan mantelnya, Jesse menggendongnya—mendekatkan tubuh yang terlihat rapuh itu ke dadanya berharap dapat memberinya kehangatan karena Jesse dapat merasakan ia yang berada di dalam dekapannya saat ini sangatlah dingin—terlampau dingin hingga membuat Jesse merasa takut sesuatu sungguh terjadi pada sosok itu.
Jesse sungguh tidak tidak tahu apa yang terjadi, namun pikirannya saat ini hanyalah dirinya harus segera membawanya pergi dari sini sebelum cuaca saat ini membunuhnya.
Dia membawa tubuh dingin itu ke dalam mobilnya. Memeriksa nadinya yang berdenyut lemah. Jesse merapatkan mantelnya pada tubuh yang tak sadarkan diri itu, mengambil paper bag yang berisikan selimut tipis yang berada di bagasinya kemudian membaringkan sosok itu dan membalutnya dengan selimut.
"Bertahanlah…"
