Work Text:
Malam itu benar-benar terasa berat bagi George. Proposal proyek besarnya ditolak mentah-mentah oleh bosnya, padahal ia sudah menyiapkannya dengan sangat matang dan penuh keyakinan. Perasaan kecewa dan frustrasi membuatnya butuh pelarian, Dan kali ini, ia memutuskan untuk menuju sebuah bar yang cukup terkenal, tempat di mana ia sering mencari kenyamanan dalam tegukan vodka.
Kebetulan malam ini bar tersebut mengadakan acara spesial Halloween. Meski ramai dengan pengunjung yang mengenakan kostum seram dan fantastis, George tetap bisa masuk dengan mudah karena statusnya sebagai member tetap. Matanya menyapu seluruh ruangan, mencoba menangkap suasana riuh yang mungkin bisa mengalihkan pikirannya.
Namun, di tengah kerumunan orang-orang dengan kostum hantu, vampir, dan karakter populer lainnya, pandangannya tiba-tiba tertambat pada satu sosok: seorang wanita berambut hitam legam, mengenakan kostum Lilah Black — karakter yang diperankan Megan Fox dalam film Jonah Hex. Kostumnya seksi dan detail, membuatnya tampak mencolok sekaligus memesona.
George tak bisa melepas pandangannya. Ada sesuatu yang familiar dari cara wanita itu bergerak, dari lekuk tubuhnya, bahkan dari tatapannya yang sesekali menyapu ruangan. Tanpa sadar, George berjalan mendekati area bar, memesan martini vodka minuman andalannya. Sambil menunggu pesanannya datang, ia terus mengamati wanita itu yang sedang asyik menari di lantai dansa. Semakin lama, semakin yakin George: ia mengenal wanita itu. Bukan sekadar merasa familiar, tapi seolah ada ikatan yang tersembunyi di balik topeng dan riasan tegas yang dikenakannya.
George meneguk vodka tonic-nya dalam sekali hirup. Cairan itu terasa seperti penyelamat yang menghangatkan dadanya dan sedikit mengaburkan kenangan akan penolakan yang menyakitkan tadi siang. Sejak mulai bekerja, George memang memilih untuk menjaga jarak dengan rekan-rekan kerjanya di luar jam kantor. Bukan karena sombong, tapi lebih pada keinginan untuk memisahkan urusan profesional dan personal. Namun, keputusannya itu lambat laun membuatnya sering merasa sendiri terutama di momen-momen seperti ini, ketika ia teringat betul betul ramai dan dekatnya persahabatannya semasa kuliah dulu.
Dari kejauhan, ia kembali mengamati sosok Lilah Black itu. Wanita itu masih asyik bergoyang di lantai dansa, tubuhnya lentik mengikuti irama musik yang menghentak. Sesekali, ia melihat seseorang di sebelahnya menyuapkan minuman ke bibirnya, dan ia menerimanya dengan senyum menggoda.
Well, dia memang attractive, George bergumam dalam hati, kali ini sedikit lebih lantang.
Setelah tiga gelas martini berisi vodka habis ditenggak, George merasa sedikit kepala sedikit ringan dan itulah saatnya Lilah Black tiba-tiba mendekat.
“Hey, sendiri aja?” Suaranya serak namun menggoda. George merasa hati yang tadinya berat mendadak berdebar. Jujur, ada rasa senang yang tak terbendung karena wanita secantik ini memilih menghampirinya.
“Iya… Lu sendiri juga?” George mencoba santai, meski dalam hati bertanya-tanya.
“Nope, with my friends lah,” jawab Lilah sambil melambaikan tangan ke arah sekelompok orang di sudut ruangan. Ia lalu memesan gin tonic pada bartender dan duduk di sebelah George.
“Bener ya apa kata orang kantor, lu penyendiri.” Kalimat itu membuat George tertegun. Lama. Ada rasa kaget yang menusuk —orang kantor?
“Lu… kenal gue?” tanyanya penasaran, matanya tak lepas dari wajah Lilah.
“Jelas gue kenal lu lah, Russell.”
“Eh, lu siapa sih?” George masih kebingungan, sementara Lilah Black tertawa lebih keras, mengejek kebingungannya. Bibirnya yang penuh dan berbentuk khas itu mengingatkan George pada sesuatu… atau seseorang.
“Maxine? Kak Maxine?” George akhirnya menyebut nama itu, dan wanita itu menggeleng sambil tertawa, suaranya hampir menenggelamkan dentuman musik di sekeliling mereka.
“Gak nyangka lu masih inget gue,” kata George pelan, berusaha menenangkan jantung yang berdebar kencang.
Maxine meliriknya sambil meneguk minuman. “Gue gak mungkin lupa sama orang yang bikin jaringan server perusahaan hampir crash cuma karena mau ngerjain simulasi Excel tiga giga.”
George langsung tersipu. “Ah, yang… itu mah dulu banget. Masih aja diingat.”
“Ya iyalah, gue yang harus jelasin ke direktur waktu itu, inget nggak?” Maxine menyeringai. “Tapi sekarang lu udah jadi orang penting ya.”
George tersenyum kecut. “Hari ini aja proposal gue ditolak mentah-mentah.”
Maxine mendekat, suaranya tiba-tiba lebih lembut namun masih sarkas. “Serius? Padahal lu dulu jenius banget.”
George mendengus, tersenyum malu. “I was testing a model, not destroying your system.”
Maxine mencondongkan tubuhnya, mendekat begitu rupa hingga George bisa mencium aroma parfumnya yang khas — wangi floral dan vanila yang dulu selalu tersamar di ruang rapat, mengingatkannya pada hari-hari lama di kantor itu. “Testing… hmm. Katanya manusia juga harus dites, George. Lihat batasnya sampai mana.”
George terdiam. Ada sesuatu di nada suaranya yang membuat udara seolah menipis, dan ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang, siap terjatuh kapan saja.
“Terus?” tanyanya pelan, hampir berbisik. “Lu mau ngetes gue juga?”
Maxine tersenyum, matanya menatap lurus ke arahnya tajam, berbahaya, seolah bisa membaca setiap keraguan di benaknya. “Gak perlu. Lu udah keliatan cukup goyah tanpa gue sentuh.” George menelan ludah. Ia mencoba memalingkan wajah, merasa terlalu terbuka di bawah tatapan itu. Tapi sebelum sempat, Maxine sudah menyentuh pergelangan tangannya. Sentuhannya ringan, hampir tak berarti, tapi mengirimkan gelombang hangat yang merambat langsung ke dadanya menggetarkan sesuatu yang lama ia pendam.
“Kak, gue harus maintain profesionalisme.” George mencoba bertahan, meski suaranya tak lagi seyakin niatnya.
“Persetan profesionalisme. I want you.” Maxine melepas ikat pinggangnya dengan gerakan lamban, sesekali memainkannya di antara jari — sebuah isyarat yang tak bisa disalahpahami.
“Get a room?” goda George setengah hati, masih berusaha mencari celah untuk mundur.
“No, I want car!” Maxine menyeringai, lalu menarik lengan George. Entah karena pengaruh alkohol atau daya pikat Maxine yang terlalu kuat, George mengikuti langkahnya menuju area parkir.
Sesampainya di sebuah BMW hitam, Maxine membuka pintu belakang. “Go inside!” perintahnya singkat. George masuk, dan Maxine menyusul setelah menyalakan mesin dari kursi depan. Mungkin untuk menyalakan AC atau sekadar memastikan mereka tak sepenuhnya terisolasi dalam kegelapan.
Maxine melepas wig hitamnya yang sedikit mengganggu, dan rambut blonde kecoklatan aslinya terurai. Sekarang, inilah Maxine yang George kenal di kantor bukan lagi sosok Lilah Black yang misterius. George seperti menemukan kepingan yang hilang, meski situasi ini justru semakin tak terkendali.
Maxine mengikat pergelangan tangan George dengan sabuk pengaman mobil, membuatnya bingung sekaligus penasaran. “Kak Maxine…” coba protes George, suaranya lemah.
“Diam. Aku yang mau kamu! Bukan kamu yang mau aku!” Maxine memotong dengan suara tegas namun berisi desakan. George pun memilih diam, menyerahkan diri pada keinginan wanita di hadapannya.
Setelah selesai mengikat, Maxine langsung menyergap bibir George dalam ciuman yang dalam dan penuh gairah, liar, hampir tanpa ampun. George menerimanya, dan untuk sesaat, ia terhanyut.
Oh, bibir penuh milik Maxine… Tak pernah ia bayangkan akan merasakannya suatu hari, apalagi dalam situasi seperti ini.
“Kak… Ma—” Plak! Sebuah tamparan ringan, lebih berupa tepasan tegas, mendarat di pipi George. Cukup untuk membuatnya terhenti, tapi tidak sampai menyakitkan.
“Udah gue bilang diem, Mr. Finance Guy.” Suara Maxine tegas, tapi matanya berbinar main-main, seolah menikmati setiap detik kontrol yang ia pegang.
George pun mematuhi, diam sepenuhnya. Ia menyerahkan kendali sepenuhnya pada Maxine. Dengan gerakan perlahan namun penuh keyakinan, Maxine membuka kemeja George satu per satu, mengungkap kulit di bawahnya.
Lidahnya mulai bermain di sekitar puting George, bergantian antara menjilat dan menggigit lembut, sementara tangannya yang bebas meremas dan memijat sisi dada lainnya.
George tak bisa berbuat apa-apa selain mendesah. Suara itu keluar begitu saja, penuh nikmat dan kepasrahan. Dalam diam, ia merasakan setiap sentuhan Maxine seperti api yang membakar, sekaligus menghangatkan.
Puas bermain dengan tubuh atas George, Maxine kini berpindah posisi. Ia berlutut di area tempat meletakkan kaki di dalam mobil, menghadap ke arah George dengan tatapan penuh intens. Dengan gerakan perlahan namun penuh keyakinan, tangannya membuka kancing celana George, menggesernya turun sedikit demi sedikit.
Sudah bisa dipastikan milik George sedikit berdiri, meski belum sepenuhnya mengeras. Maxine memandanginya sejenak, seolah mengagumi, sebelum tangannya mulai bergerak lembut dan mengusap milik George dengan ritme yang teratur. Sesekali, ia menunduk dan memasukkan ujungnya ke dalam mulutnya, bermain-main dengan ujung lidahnya yang terampil.
George menahan napas, berusaha keras tidak bersuara seperti yang Maxine perintahkan. Tapi tubuhnya tak bisa berbohong. Erangan pendek dan getaran halus di pahanya mengungkapkan betapa ia tergugah, tak berdaya di bawah permainan Maxine yang menggoda dan penuh kendali.
Puas bermain dengan milik George, Maxine kini kembali duduk di pangkuannya. Dengan gerakan penuh keyakinan, ia membuka korset yang dikenakannya, memperlihatkan kedua payudaranya yang montok dan membuat George tertegun sesaat.
"Jilat ini!" Maxine menyodorkan payudaranya ke wajah George, suaranya tegas dan mendesak.
"Kak Max—" Plak! Tamparan ringan sekali lagi mendarat di pipinya, menghentikan protesnya.
"Cepet! Gausah protes!" Maxine tak memberinya ruang untuk menolak.
George pun menuruti, mendekatkan wajahnya dan mulai menjilat serta mengisap dengan patuh, sementara Maxine mendesah puas, tangannya meraih rambut George dan mendorongnya lebih dekat.
“Ah~ George~ Lebih kenceng!” Perintah Maxine membuat George meningkatkan intensitasnya, menghisap dan merangsang dengan lebih dalam dan kuat.
Namun tiba-tiba, Maxine meraih rahang George yang tegas, menghentikan sejenak aksinya, lalu menciumnya dengan ganas, penuh gairah, dan dominasi. Setelah puas, ia melongok ke depan, mengambil sebuah kondom dari dashboard mobil.
Dengan gerakan cepat dan terampil, ia memasangkan kondom itu pada milik George yang sudah sepenuhnya tegang. Dan dalam detik berikutnya, Maxine langsung mendudukinya, riding George dengan penuh kendali, sementara tangan George masih terikat di belakang.
Oh, gue pengen jambak rambut Maxine… Batin George, gemas sekaligus tak berdaya, sambil menyaksikan Maxine bergerak di atasnya dengan penuh keyakinan dan gairah.
“Lihat gue, George!” Maxine mendesak, sambil terus bergerak di atasnya dengan ritme yang makin cepat dan dalam. Dadanya naik turun, napasnya tersengal, namun tatapannya tajam. Menguasai George sepenuhnya.
George memandangnya, mata berkaca-kaca antara nikmat dan perasaan tak berdaya.
Tiba-tiba — plak!
Maxine menamparnya lagi, kali ini lebih keras. Pipi George memerah, tapi ia tak melawan. Malah, tamparan itu seakan membangkitkan gairah yang lebih dalam.
“Lu pikir ini cuma buat lu? Nggak. Ini buat gue juga…” Maxine berbisik kasar, sambil mempercepat gerakan pinggulnya. George mengerang, tubuhnya menegang.
“Aku… aku mau…” George tak bisa lagi menahan diri.
“Iya… keluar, George. Sekarang!” perintah Maxine, dan George pun melepas segala beban dalam kepatuhan.
Setelahnya, Maxine bertumpu pada bahunya, masih terengah, sambil berbisik, “Jangan pernah lupain malem ini.” Dan George tahu — ia tak akan bisa melupakannya.
Setelah napas mereka berangsur tenang dan gairah mereda, suasana di dalam mobil berubah perlahan. Maxine melepaskan ikatan pada pergelangan tangan George dengan hati-hati, lalu mengusap lembut bekas ikatan itu dengan jarinya.
“Sorry… pasti sakit banget ya?” bisik Maxine, suaranya kini lebih lembut, hampak menyesal.
George hanya menggeleng pelan, matanya masih tertutup. “Gapapa…”
Maxine mengambil tisu dari dashboard, membersihkan tubuh George dengan gerakan penuh perhatian, lalu menyelimutinya dengan jaket yang ada di jok belakang. “Lu pasti capek. Istirahat dulu, gue anter lu balik.”
George memandangnya, ada kehangatan di balik raut lelahnya. “Kak Maxine… kita masih bisa ketemuan lagi, kan? Bukan cuma… kayak gini.”
Maxine tersenyum kecil, menepuk pundaknya. “Bisalah. Besok gue traktir makan siang deh. Ga di mobil, gapake wig, dan gapake ikat-ikat lagi.”
Malam ini mungkin diawali dengan pelarian, tetapi diakhiri dengan keheningan yang menemani. Mereka tidak lagi butuh kata-kata. Yang ada hanyalah dua jiwa yang saling merangkul, dalam damainya malam, setelah badai hasrat berlalu.
