Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-10-17
Updated:
2025-10-17
Words:
2,376
Chapters:
3/?
Kudos:
6
Bookmarks:
1
Hits:
156

Try, Just Once

Summary:

Orang bodoh dan orang bodoh yang perlu komunikasi mencoba berkomunikasi. Bisa ga ya?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter Text

Donghyuck berjalan dengan tenang menuju ruang latihan di gedung SM, tempat yang seakan menjadi rumah kedua baginya. Ia memilih ruangan yang berada di ujung, ruang favoritnya ketika ingin mengulik karya yang akan ia lahirkan sebentar lagi, album solo pertamanya. Perasaan aneh yang muncul selepas melihat Mark tadi seakan menjadi ilham baginya untuk menulis lirik, yang barangkali dapat masuk ke jajaran lagu dalam albumnya kelak.  Ia mendudukkan dirinya di lantai, bersandar pada sofa yang ada di ruangan latihan tersebut. Tangannya mengambil sebuah notebook yang sengaja ia tinggalkan disana, berisi anak-anak yang belum pernah ia tunjukkan pada dunia. Tangan kanannya sigap meraih pena, namun ketika hendak mulai menulis, Ia kebingungan. Apa? Apa yang sebenarnya ingin ia ceritakan dalam guratannya kali ini? Lantas dirinya memejamkan matanya, mereka-reka kembali kejadian yang ia alami tadi ketika dirinya hanya ingin mencari udara segar. Namun alih-alih mendapatkan udara segar, ia malah mendapati seseorang yang familiar, Mark Lee.  

 

Berbeda dengan bagaimana Donghyuck melihat Mark dalam kesehariannya, kali ini ia  memandangi Mark dengan penuh kegelisahan. Bulir keringat menetes dari pelipisnya. Biasanya ia akan menyapanya dengan akrab sebelum melaju kembali memikirkan urusannya sendiri. Akan tetapi, dengan segala kesadaran dan kewarasan yang ia miliki, dirinya memilih untuk menarik mundur langkahnya.

 

Ia termenung dalam badai gemuruh yang menyeruak pada jiwanya. 

 

Mark, lelaki yang begitu karib dengannya, sedang tertawa lepas di hadapan seorang wanita. Tatapannya penuh puja, suatu hal baru yang belum pernah dirinya lihat dari Mark. Ia mampu merasakannya, hawa kasmaran antar kedua insan yang begitu kentara, seakan dunia hanya milik berdua, milik mereka.

 

Lantas sebelum keberadaannya disadari, ia memilih undur diri.

 

Maka kini Donghyuck membuka matanya kembali sembari menghembuskan nafas gusar. Ia tak paham. Mengapa pula dirinya merasa seperti itu? Apakah ia takut hyung nya itu tertangkap dispatch dan merusak momentum solonya kelak? Ataukah ia merasa terkhianati karena tak diceritakan mengenai wanita ini?

 

Donghyuck mencoba menelaah satu-satu kemungkinan yang ada menggunakan logika. Namun, semua itu buyar ketika pintu ruang latihan tiba-tiba terbuka, menampilkan seseorang yang menjadi bahan pemikirannya saat ini.

 

“Oh? Hyuck?”

 

Mark berjalan santai ke arahnya, mungkin, ke arah sofa di belakangnya lebih tepatnya. Ia menaruh tas selempangnya disana kemudian ikut duduk di lantai dengan bersandarkan ke sofa seperti Haechan. Netra lelaki itu menelisik ke notebook yang Donghyuck genggam, nampak sedikit kusut akibat digenggam terlalu erat.

 

“Writer block?”

 

Ia menggeleng, “sudah ada idenya, tapi aku bingung.”

 

Mark mencoba menelusuri lebih jauh, “Oh ya? Mind to tell me?”

 

Mata mereka bertemu sejenak, setitik keraguan dirasakan Donghyuck sebelum akhirnya ia mencoba mengutarakan beban pikirannya.

 

“I want to write about… something new,” Donghyuck menjeda kemudian memastikan Mark mendengarkannya.

 

Merasakan tatapan Donghyuck, Mark bersuara, “I’m listening, Hyuck.”

 

Kemudian yang lebih muda melanjutkan, “Hm… Aku… Tadi… Hyung… Katakanlah, dirimu punya teman dekat. Sangat dekat karena mereka kemana-mana bersama. Lalu suatu hari, dirimu melihat temanmu ini bersama orang lain, sedang tertawa lepas. Lalu dirimu merasakan sesuatu yang aneh. Kira-kira, perasaan apa itu?”

 

Hening sejenak diantara keduanya, kemudian Mark memecah keheningan itu dengan, “hm… Cemburu? Yk, being friend for such a long time could make you a little posessive. I mean, not in the bad kinda thing. And also betrayal? Haha, sounds dramatic tapi coba deh kamu lihat, orang terdekatmu punya orang baru, it’s kind of… jahat?”

 

Ia mendengarkan dengan seksama perkataan Mark, mencernanya, merasakan penjelasan dari yang lebih tua memang masuk akal.

 

“Tapi, Hyuck,” Mark menambahkan, “bisa jadi juga sebenarnya aku suka sama temenku itu,” mark tersenyum.

 

Oh dasar Mark dengan otaknya yang romantis dan penuh perasaan. Ia selalu bisa meromantisasi segala keadaan dengan cara berpikirnya yang aneh itu. Lantas Donghyuck membalasnya, “Ya ga mungkin, kan temennya lelaki.”

 

“Oh? Jadi temannya lelaki? Ya kalau gitu mustahil

 

Dan entah mengapa, seusai Mark berbicara, ada sedikit perasaan tersengat dalam diri Donghyuck.

 

“Tapi hyung, menurutmu gimana cara seseorang bisa tau kalau lagi suka sama orang?”

 

“Ya, gimana ya? Intuisi aja?” Mark nampak berpikir sejenak, “If we talking about you, maybe, physical stuff could work,” Mark berujar dengan penilaiannya bahwa Haechan memang sangat physical touch sekali anaknya. Lantas Haechan mengangguk tanpa mendapat jawaban pasti dari apa yang ia rasakan sebelumnya.

 

“Hyung, jika ada lelaki yang menyatakan perasaannya padamu, bagaimana?”