Chapter Text
Lampu gantung bercahaya kekuningan menggantung rendah, memantulkan siluet lembut di atas meja kayu yang mengilap. Aroma kopi yang baru digiling bercampur dengan wangi manis roti panggang, menyelimuti ruangan dengan kehangatan. Dari sudut kafe, denting sendok yang beradu dengan cangkir porselen terdengar pelan, berbaur dengan obrolan lirih para pengunjung, sesekali diselingi tawa kecil yang ringan.
Di balik kaca besar yang menghadap jalan, gerimis sore menetes perlahan, menciptakan ritme alami yang menenangkan. Beberapa pengunjung duduk sendiri dengan laptop terbuka, sesekali menghela napas sambil menyesap kopi. Di meja lain, sepasang sahabat larut dalam tawa, membuat suasana kafe terasa hidup sekaligus hangat.
“Ma, aku sedang sibuk dengan kuliah. Kalau ketemu, aku kasih tahu Max.” suara Charles terdengar lelah saat berbicara di telepon. Ia menahan ponsel dengan bahunya, sementara tangannya sibuk mengetik di laptop kecil di depannya. “Ya… nama dia Max, kan?” tanyanya ragu. “Iya, Ma. Aku sibuk. Bye, love you too.” Ia menutup panggilan lebih dulu, lalu mengusap wajah dengan kedua tangannya, mencoba meredakan pusing yang sejak tadi menusuk kepalanya. Charles tahu ibu nya sangat menyayangi Max, pacarnya. Namun charles tidak. Ia lelah terus berpura – pura, ia lelah menuruti semua kemauan ibu nya.
Charles meraih cangkir kopi, menyesap pelan untuk menahan rasa kantuk. Pandangannya kembali jatuh pada skripsi yang sedang ia baca, berusaha fokus. Namun tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di layar laptop. Sepersekian detik Charles terdiam, jantungnya berdegup lebih cepat. Ia membuka pesan itu, lalu dengan cepat menunduk, menempelkan dahi ke meja. Kenangan yang ia berusaha kubur selama ini justru muncul kembali—menyakitkan, seolah menariknya kembali ke masa lalu yang tak ingin ia sentuh lagi.
Saat masih menunduk, hidungnya menangkap aroma parfum yang amat ia kenali. Spontan Charles mendongak dan melirik sekeliling. Ia merasa bodoh—bagaimana mungkin dirinya masih mengingat jelas sosok yang sudah lama tak berkomunikasi dengannya? Bahkan setelah menemukan seseorang yang baru, hatinya tetap menolak untuk melupakan. Rasa itu seperti duri yang menolak tercabut, menyisakan luka yang tidak sembuh.
Wajah Charles terlihat lelah dan berantakan. Ia memutuskan untuk pergi ke toilet, meninggalkan barang-barangnya di meja, yakin tidak akan ada yang mengambilnya. Saat membasuh wajah di wastafel, aroma yang sama kembali menusuk hidungnya—parfum yang tadi ia kenali. Charles berusaha menyingkirkan pikiran yang tiba-tiba memenuhi kepalanya, namun tubuhnya justru menegang.
“Aku kira salah lihat, ternyata benar kamu.” Suara itu muncul dari samping. Charles membeku. Ia kenal suara itu. Sangat kenal—begitu kenal hingga detak jantungnya melonjak tak terkendali. Tangannya berhenti di wastafel, matanya hanya terpaku pada bayangan diri sendiri di kaca. Ia tak berani menoleh.
“Senang bertemu lagi,” ucap suara itu, kali ini disertai senyuman yang bisa Charles lihat dari ujung matanya. Orang itu berjalan melewati Charles, seolah begitu saja berlalu.
Degup jantung Charles semakin keras, rasa tegang merambat di seluruh tubuhnya. Jemarinya mengepal, berusaha menahan gejolak yang bercampur antara rindu, sakit, dan kerinduan yang ia benci. Ia ingin menghentikan langkah pria itu, ingin memeluknya—tapi logika menahannya.
Charles memejamkan mata sesaat, mengatur napas, lalu keluar dari toilet dengan tergesa. Pandangannya menyapu ruangan, mencari sosok yang baru saja menembus kembali ke dalam hidupnya. Dan ketika menemukannya, tanpa berpikir panjang, Charles berlari mengejar, meraih pergelangan tangan pria itu—seolah takut kehilangan untuk kedua kalinya.
Pertemuan itu seakan menghentikan waktu. Charles berhasil meraih pergelangan tangan pria itu, dan ketika mata mereka bertemu, dunia di sekitarnya seolah memudar. Tatapan mata hazel yang hangat, menyimpan kilau keemasan saat terkena cahaya lampu kafe, membuat Charles sulit berpaling.
“Carlos…” bisik Charles, hampir tak terdengar.
Carlos tampak begitu menawan dengan kemeja biru tua dan celana linen hitam. Degup jantung Charles kian tak terkendali, tubuhnya bergetar oleh perasaan yang sudah lama terkubur.
Carlos hanya menatapnya, menunggu kata-kata yang tak kunjung keluar. Lidah Charles kelu, bibirnya bergetar seolah ingin bicara, tapi suaranya hilang.
“Eum… k-kamu…” gumamnya gugup.
“Kamu terlihat lelah. Bukankah sebaiknya kamu beristirahat?” ucap Carlos lembut, senyum hangatnya menyusul setelahnya. Senyum itu—senyum yang dulu hanya menjadi milik Charles—akhirnya kembali hadir. Rasa rindu yang dipendam begitu lama mendesak keluar, memenuhi dada Charles.
“Apakah kamu akan langsung pergi?” tanya Charles dengan suara ragu.
“Tidak. Aku hanya ingin mengambil barang di mobil,” jawab Carlos santai.
Ada sedikit lega yang menyusup ke hati Charles. Ia pun perlahan melepaskan genggamannya. Matanya terus mengikuti langkah Carlos menuju mobil. Entah mengapa, ada kebahagiaan kecil saat menyadari bahwa pertemuan tak terduga ini benar-benar nyata.
Saat Carlos kembali masuk ke kafe, tatapan mereka kembali bertemu. Carlos tersenyum, dan refleks Charles ikut tersenyum, mengangkat tangannya kecil-kecil.
“Bolehkah aku duduk bersamamu? Kau sendirian, bukan?” tanya Carlos. Charles hanya mengangguk, tak mampu berkata apa-apa.
“Sedang mengerjakan apa?” Carlos spontan menyentuh laptop Charles. Panik, Charles buru-buru menutup layar, menyembunyikan foto lama saat dirinya masih di semester lima bersama Carlos di semester enam—foto yang tadi siang membuatnya kembali terjerat kenangan.
“Tidak, bukan apa-apa,” elaknya cepat.
“Maaf… kebiasaan burukku,” ucap Carlos, menyadari kekeliruannya.
Charles ingin berkata “tidak apa-apa, aku rindu sikapmu itu”, tapi logikanya menahan.
“Aku sedang mengerjakan skripsi. Kamu juga?” Charles mencoba mengalihkan.
“Ya, hanya sedikit revisi. Dosen sudah menandatangani sebagian besar.” jawab Carlos santai.
Charles terperangah. “Bagaimana bisa? Aku baru dua kali bimbingan.”
Carlos terkekeh, nada suaranya hangat sekaligus menusuk. “Aku satu tahun lebih tua darimu, kau lupa?” Tatapannya jatuh tepat ke wajah Charles. Seketika, pipi Charles terasa panas, seperti disambar api yang tak kasat mata. Ia berusaha menahan diri, tapi sorot mata itu seakan mengupas habis dinding yang susah payah ia bangun.
Waktu berjalan, sejam lebih mereka duduk berhadapan. Charles tak bisa menahan gejolak perasaannya; ia takut mengalihkan pandangan, seolah jika ia berpaling, Carlos akan lenyap begitu saja.
“Kau terus memperhatikanku. Tidak bosan?” ujar Carlos tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
“T-tidak… eh, maksudku—” Charles tak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena Carlos sudah menyentuh punggung tangannya. Sentuhan itu membuat napas Charles tercekat.
“Aku dipanggil dosen. Aku tinggal, tidak apa-apa? Atau kau mau ikut denganku?”
Ajakan tiba-tiba itu membuat Charles terdiam, jantungnya berdetak lebih kencang. Melihat Carlos mulai membereskan barang-barangnya, Charles ikut membereskan miliknya tanpa banyak pikir.
Di depan mobil, Carlos membuka pintu penumpang untuknya. Hal kecil yang dulu selalu ia lakukan, dan kini kembali membuat Charles terdiam. Ia hanya bisa tersenyum samar, lalu masuk ke mobil.
Di balik kemudi, Carlos tampak tenang. Charles, yang duduk di sampingnya, tahu bahwa ia seharusnya tidak mengikuti. Logikanya sempat menolak, tapi kali ini perasaannya lebih kuat. Ia membiarkan dirinya larut dalam kebodohan yang manis—sekadar menikmati momen bersama seseorang yang masih begitu ia rindukan.
Charles menunggu di dalam mobil karena Carlos mengatakan bahwa ia hanya sebentar akan menemui dosennya. Charles mengangguk sebagai jawaban. Sambil menunggu, pandangannya berkeliling, mengamati satu per satu benda yang ada di dalam mobil Carlos. Awalnya, ia tidak berniat mencari tahu kehidupan mantan kekasihnya itu. Namun, dalam hatinya, ada rasa ingin tahu yang begitu kuat—apakah Carlos menjalani hidup yang bahagia, atau justru sama seperti dirinya, penuh luka yang tersembunyi.
Perlahan, Charles meraih sebuah buku yang tergeletak di kursi penumpang. Ia membukanya, tetapi tidak menemukan hal yang istimewa—hanya lembaran-lembaran kertas penuh tulisan. Pandangannya kemudian tanpa sengaja tertuju pada bayangan dirinya di kaca spion. Saat hendak mengubah posisi duduk, ia merasakan ada selembar kertas yang terselip di balik spion.
Charles sempat ragu. Ia takut jika benda itu justru membuat hatinya semakin sakit. Namun, dengan sedikit keberanian, ia akhirnya menarik kertas tersebut.
“I-it’s me…?” gumam Charles lirih, terkejut ketika mendapati selembar foto dirinya. Foto itu diambil saat ia masih semester dua, ketika wajahnya masih polos dan belum terbentuk oleh banyak pengalaman. Ia tersenyum kecil, meski ada rasa aneh yang menghantam dadanya. Sesak, bergetar, penuh pertanyaan. Apakah Carlos masih sama seperti dirinya—masih menyimpan rindu pada masa lalu? Charles tidak tahu jawabannya.
Tergesa, ia menyelipkan foto itu ke dalam saku celananya ketika melihat Carlos berjalan kembali ke arah mobil.
“Sudah selesai?” tanya Charles, menatapnya hati-hati.
“Ya, sudah,” jawab Carlos sambil tersenyum, lalu menyalakan mesin mobil dan kembali melaju.
“Terima kasih sudah menemaniku.” ucap Carlos sambil menyetir, sesekali melirik Charles di sampingnya.
“tidak perlu, seharus nya aku yang berterima kasih telah bersedia mengantarkan ku ke rumah.” jawab Charles sambil menatap Carlos dengan lembut.
“Kau masih ingat jalan ke rumahku?” tanya Charles.
Carlos tersenyum kecil. “Sepertinya… aku tidak mudah lupa.”
Ucapan itu terdengar biasa, namun bagi Charles terasa menohok—seakan Carlos sengaja menyinggung bahwa ia tahu Charles belum benar-benar bisa melupakannya. Perut Charles terasa geli sekaligus hangat saat teringat bagaimana telapak tangan Carlos menyentuh punggung tangan nya. Ada kerinduan yang tiba-tiba mengalir deras, membuatnya ingin mengulanginya sekali lagi.
Sepanjang jalan mereka hanya berbicara sedikit, kebanyakan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya mobil berhenti di depan apartemen Charles. “Kau tidak akan mampir dulu?” Charles akhirnya memberanikan diri bertanya, menawarkan Carlos untuk masuk sekadar beristirahat setelah perjalanan panjang. “Apakah kau memperbolehkannya?” balas Carlos sambil menatap Charles. Charles hanya mengangguk, jawaban singkat namun jelas.
Carlos lalu turun dari kursi pengemudi, diikuti Charles yang keluar dari kursi penumpang. Di antara keheningan senja itu, ada sesuatu yang tak terucap di antara mereka—sebuah jarak lama yang kini perlahan terasa memendek kembali.
Sebuah derit pelan terdengar ketika Charles membuka pintu apartemennya. Begitu melangkah masuk, seekor anjing langsung berlari kecil sambil menggonggong riang ke arahnya.
“Hai, sayang,” sapa Charles lembut sambil mengangkat anjing itu ke pangkuannya dan mengelus bulunya.
“Leo masih ingat aku tidak, ya?” tanya Carlos tiba-tiba, membuat Charles mengangkat alis, setengah terkejut.
“Mau coba?” balas Charles.
Ia lalu menurunkan Leo, yang segera berdiri manis di sampingnya.
“Leo, siapa yang kamu kenal?” tanya Charles sambil menunjuk. Anjing itu hanya menempel pada kakinya, ekor bergoyang cepat.
“Siapa yang kamu sukai?” lanjutnya, dan Leo tetap berdiri di dekat Charles.
“Sepertinya Leo sudah lupa,” gumam Carlos sambil tersenyum tipis. Namun belum sempat ia menuntaskan kalimatnya, Leo tiba-tiba beralih, berdiri di kaki Carlos sambil menatapnya dengan mata berbinar.
“Kau bilang apa tadi?” tanya Carlos pelan, kini menatap Leo dengan raut bingung.
Charles tersenyum kecil, lalu menjawab, “Aku bilang, siapa yang sangat kamu sayangi.”
Mendengar itu, tubuh Carlos seketika menegang. Seolah darahnya berdesir cepat, adrenalin melonjak tanpa kendali. Kata-kata Charles barusan menghantamnya bagai petir di siang bolong—membuatnya terdiam, terkejut setengah mati, tak tahu harus bereaksi bagaimana.
Setelah Leo dengan polosnya memilih Carlos, suasana mendadak menjadi canggung. Carlos hanya bisa tersenyum tipis, mencoba menutupi rasa kikuknya. Charles, di sisi lain, merasa wajahnya memanas seketika. Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana—antara ingin tertawa, tersenyum, atau justru pura-pura tidak mendengar.
Keheningan singkat itu justru semakin menambah rasa tegang. Carlos akhirnya berdehem pelan, seolah ingin memecah suasana.
“Kelihatannya kita harus hati-hati ya, Charles. Kalau tidak, aku bisa kehilangan tempat di hati Leo,” ujarnya sambil melirik main-main.
Charles terpaksa tersenyum, meskipun jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. “Ya… sepertinya begitu,” jawabnya singkat, dengan suara sedikit serak.
Bagi orang lain, percakapan itu mungkin terdengar biasa saja. Namun bagi Charles, momen tersebut terasa berbeda. Ada sesuatu yang hangat, sekaligus membuatnya semakin gugup di hadapan Carlos.
“Kau duduk saja. Mau teh atau kopi?” tawar Charles sambil melirik sekilas ke arah Carlos.
“Kau tahu aku,” jawab Carlos singkat, seolah kalimat itu menyimpan berjuta kenangan.
Senyum tipis muncul di wajah Charles. Ia segera menyiapkan dua gelas teh—satu untuk Carlos, satu lagi untuk dirinya. Ia tahu betul, mantan kekasihnya itu tak pernah menyukai kopi. Aneh, pikirnya. Baginya, kopi adalah bahasa rindu yang dituangkan ke dalam cangkir, namun bagi Carlos, entah mengapa, selalu ditolak.
“Sepertinya Leo merindukanku. Lihat, dia begitu senang bermain denganku,” ujar Carlos, memecah hening yang kian menebal di ruangan.
“Mungkin saja. Leo memang mudah dekat dengan siapa pun,” balas Charles dari dapur, suaranya berusaha tenang, padahal dadanya sesak.
Hening kembali turun, menempel di antara mereka seperti kabut tipis. Lalu suara Carlos terdengar lagi, kali ini pelan, seakan takut merusak udara yang rapuh.
“Kalau begitu… bagaimana denganmu?”
Langkah Charles terhenti. Tangannya yang hendak meraih gelas tiba-tiba kaku. “Apa maksudmu?” tanyanya hati-hati, meski ia tahu persis ke mana arah pertanyaan itu.
“Kau… merindukanku?”
Dunia seakan berhenti sesaat. Pertanyaan itu menusuk jantung Charles tanpa ampun. Nafasnya tercekat, perutnya mengikat, jemarinya bergetar seolah kehilangan kendali. Ia ingin menjawab jujur, ingin berteriak bahwa rindu itu tak pernah padam. Namun logika menggenggam erat lidahnya.
“Tidak… aku sudah terbiasa tanpamu,” ucapnya lirih, meski hatinya berdenyut menolak. Kata-kata itu terasa asing, pahit—seperti ia sedang mengkhianati dirinya sendiri.
Carlos hanya mengangguk pelan. Senyum samar muncul di wajahnya, meski matanya menyiratkan sesuatu yang tak terbaca. Ia menunduk, tangannya kembali mengusap Leo yang setia menggoyang ekor di dekat kakinya.
Dan di antara suara gesekan cangkir dan tarikan napas yang tertahan, Charles tahu—ada sesuatu yang retak dalam dirinya malam itu.
Charles menyerahkan segelas teh kepada Carlos, yang menerimanya dengan anggukan kecil.
“Terima kasih,” ucapnya lirih, sebelum menyesap hangatnya yang mengepul.
“Aku kira… kamu sudah lupa,” suara Carlos muncul begitu saja, pelan namun menusuk.
“Lupa tentang apa?” tanya Charles bingung, alisnya mengernyit.
“Lupa tentangku.” Sebuah senyum tipis melintas di wajah Carlos, namun matanya segera beralih pada Leo yang duduk manis di pangkuannya—seolah mencari perlindungan dari tatapan Charles.
“Kamu kira aku sudah melupakan segalanya?” suara Charles keluar lebih lembut daripada yang ia maksudkan, hampir menyerupai bisikan hati.
Carlos menoleh. Pandangan mereka bertemu. Dua pasang mata hazel saling menemukan, saling mengikat, seakan semesta dengan kejam mengingatkan bahwa mereka pernah—dan mungkin masih—ditakdirkan untuk bersama.
Charles, yang awalnya menjaga jarak, kini perlahan merapat. Langkahnya ragu, tapi hatinya melangkah lebih jauh dari tubuhnya. Tatapannya terpaku pada Carlos, seakan takut jika ia mengalihkan pandangan, sosok itu akan kembali menghilang.
“Apa yang kamu lakukan?” bisik Carlos, suaranya hampir tenggelam oleh degup jantung keduanya.
Charles tak menjawab. Wangi tubuh Carlos merayap, mengisi ruang kosong di dadanya. Rindu yang ia tekan selama ini menyeruak, pecah tanpa bisa dibendung. Ia menunduk, menjatuhkan kepalanya di bahu Carlos. Sentuhan sederhana, namun baginya bagaikan pulang.
Carlos sedikit tersentak, tapi tidak bergerak. Hanya diam, membiarkan Charles tenggelam dalam kerinduannya.
Di dalam dada Charles, perang berkecamuk. Logika berteriak: “Jangan! Kau sudah punya seseorang. Kau harus berhenti.” Namun hatinya membalas: “Aku lelah menolak. Aku rindu. Aku ingin dia.”
" Kau tahu… aku berbohong,” bisik Charles, suaranya pecah, menggantung di udara.
“Aku…” ia terdiam, kalimat berikutnya terperangkap di tenggorokan. Ragu, takut, tapi ingin.
Sebelum kata itu menemukan jalan keluar, dering telepon memecah keheningan. Nada nyaring itu terdengar seperti cambuk yang merenggut Charles dari mimpi yang hampir nyata. Ia tersentak, bangkit dari sofa, dan melangkah ke dapur.
Ponselnya bergetar di atas meja, menampilkan nama yang selalu ia hindari. Jantungnya meringkuk. Jemarinya melayang di atas layar, ragu: angkat, atau biarkan hilang. Saat ia menoleh ke Carlos, ada tatapan yang sulit dijelaskan—seakan meminta izin untuk melarikan diri dari kenyataan. Tapi Carlos hanya mengangguk pelan, menyuruhnya menjawab.
Charles menekan tombol hijau.
“Halo,” bisiknya.
“Di apartemen. Aku baik-baik saja.”
“Aku bilang aku baik-baik saja. Aku sedang mengerjakan skripsi. Aku sibuk.” Kata-kata itu keluar lancar, meski ia tahu sebagian setiap suku katanya adalah kebohongan.
Telepon terputus sepihak, menyisakan ruang penuh keheningan dan sesak. Charles menunduk, rasa bersalah menggerogoti. Hatinya masih terpaut pada lelaki yang duduk di ruang tamunya, tapi pikirannya diikat oleh seseorang yang menunggunya di luar sana.
“Pacarmu?” suara Carlos memecah udara.
Charles tersentak, menoleh cepat. “Ya… begitu...” jawabnya kikuk, nyaris tak terdengar.
Carlos menarik napas dalam, menahan sesuatu di dadanya. “Oh… seharusnya aku tidak datang ke apartemenmu.”
Kata-kata itu membuat Charles panik. Ia buru-buru menggeleng, “Tidak! Kau boleh datang kapan saja,” ucapnya terbata, suaranya penuh takut—takut kehilangan sekali lagi.
