Actions

Work Header

butuh duabelas tahun untuk mengerti semuanya

Summary:

dengan ini, hayi belajar bahwa kasih sayang bisa lebih kejam dari kebencian.

Notes:

i've published this narrative on X, if you found it then it was me.

i don't have many words to say, so... enjoy reading!

Work Text:

aku, 6 tahun 2 bulan 30 hari

aku hidup menerima banyak kasih sayang dari semua orang. mama, papa, temanku, om, tante— semuanya. setiap malam, mama selalu membacakan dongeng untukku agar aku bisa tidur nyenyak, itu bentuk kasih sayang. setiap hari, papa selalu mengantarkanku ke sekolah dan memberiku uang jajan, itu bentuk kasih sayang. setiap hari, aku bermain dengan teman-temanku yang baik dan seru, itu bentuk kasih sayang. setiap berkunjung ke rumah, om dan tante selalu memberikanku jajan banyak, itu bentuk kasih sayang. tangki cintaku dipenuhi oleh mereka, sampai rasanya aku akan meledak. terima kasih, aku rasa.

 

 

aku, 7 tahun 2 bulan 13 hari

mama berteriak, papa melempar piring ke tembok. benturan demi benturan membuat piring itu berserakan. mama terpekik— bukan karena takut, tapi retakan piringnya mengenai lengan mama. papa terdiam kaku, mama kesakitan, aku keluar kamar untuk menghampiri mama. tapi mama menyuruhku untuk tetap di kamar. aku takut, tapi aku menurut. setelah keadaannya kurasa aman, aku keluar kamar dan menghampiri mama, papa tidak terlihat sama sekali. mungkin, papa pergi memancing. fokusku kembali ke mama, lengan mama dilumuri oleh cairan merah, aku tidak tahu itu apa, tapi temanku pernah kakinya tidak sengaja menginjak kaca, dan kakinya mengeluarkan cairan merah. lalu temanku yang lainnya berteriak "darah! darah!", jadi sepertinya lengan mama dilumuri dengan darah, kurasa.

aku takut, aku bertanya ke mama, "apa yang terjadi?" mama bilang, "nggak apa-apa, itu cara papa menunjukkan kasih sayang ke mama. semua akan baik-baik saja." aku percaya mama. semua akan baik-baik saja. aku membopong mama ke kamar utama dan kembali ke kamarku untuk tidur, mama yang suruh.

 

 

aku, 7 tahun 3 bulan 23 hari

aku mendengar mama dan papa saling berteriak ke satu sama lain. aku ingin menguping, tapi aku tidak mengerti apa-apa. mungkin karena aku terlalu kecil untuk mengerti segala hal. tapi samar-samar aku mendengar beberapa kata seperti, oma? bela? batasan? apa maksudnya?

tidak lama kemudian, aku tidak mendengar apa-apa. sepertinya mereka sudah selesai. aku membuka pintu dan keluar kamar dengan perlahan, melihat mama terduduk di lantai sambil menangis. "mama kenapa menangis? apa karena papa berteriak ke mama?"

"nggak apa-apa hayi, itu cara papa menunjukkan kasih sayang ke mama."

aku mengangguk mengerti, papa sangat sayang ke mama sehingga mama harus menangis lama terduduk di lantai.

"kalau begitu, mengapa papa nggak pernah membuatku nangis? apa papa nggak sayang lagi sama aku?"

"hayi sayangku, tolong ambilkan tisu ya."

aku menurut. kuambilkan tisu yang masih tersegel rata. aku mengulang kembali kejadian bulan lalu, membopong mama ke kamar utama dan kembali ke kamarku untuk tidur, mama yang suruh.

 

 

aku, 7 tahun 4 bulan 6 hari

aku mengerjakan tugas pendidikan pancasila dan papa tiba-tiba menghampiriku. "sayang, papa izin pergi sebentar ke luar ya."
aneh, selama ini papa tidak pernah izin kepadaku jika ingin pergi kemanapun, papa hanya izin ke mama. "papa mau ke mana?"

"papa pergi ke tempat yang jauh, papa akan pergi lama. hayi adalah laki-laki yang kuat. tolong bantu papa jaga mama ya, hayi? ini bentuk kasih sayang papa ke mama. sampai ketemu lagi, hayi sayangku."

"apa nggak boleh jika aku menyusul papa?"

"tunggu kamu besar, baru kamu boleh menyusul." papa menciumku tepat di dahi. aku balas dengan memeluk papa di leher. di belakang pintu, terlihat mama sedang melipat tangannya di dada. tatapannya kosong, sepertinya mama menunggu papa.

 

 

aku, 7 tahun 11 bulan 9 hari

mama, papa kapan pulang? ntah sudah berapa kali aku menanyakan itu ke mama, tapi mama selalu menjawab, "tunggu kamu sudah besar, baru papa pulang."

skeptis, tapi aku percaya mama. lama kelamaan aku mulai melupakan eksistensi papa. dulu, papa selalu mengajariku cara mengikat tali sepatu, meskipun keesokan harinya aku lupa caranya. dulu, papa selalu mengantarkanku sampai ke gerbang sekolah, meskipun papa sedang sakit. dulu, papa selalu memberiku uang jajan, meskipun aku lihat sekilas dompetnya mulai menipis.

tapi sekarang aku sudah terbiasa dengan ketidakhadiran papa di rumah. aku mulai lupa apa makanan favorit papa. aku mulai lupa apa saluran televisi favorit papa. tapi satu hal yang selalu ku ingat adalah, aku sayang papa.

 

 

aku, 11 tahun 5 bulan 2 hari

"kalo begitu, hayi! papamu kerja apa? ayahku dan babanya aya ternyata satu kantor lho!"

papa, ya?

"hmmm, tidak tahu! tunggu ya, nanti saat papa pulang, aku mau menanyakan hal ini ke papa!"

"kok papamu sampai sekarang belum pulang? bukannya kamu bilang papamu sudah pergi pas kamu kelas 2 sd ya?"

"iya, pasti sebentar lagi pulang kok."

"kamu yakin papamu bakal pulang? jangan-jangan papamu ga pulang karena sudah nggak sayang sama kamu!"

"yakin! kamu jangan kaya gitu, papaku pasti sayang sama aku dan aku juga sayang sama papaku!"

emosiku meledak. aku marah ke gio, temanku. mengapa orang-orang tidak begitu yakin sih, kalau papa pasti akan pulang. masa aku sudah menunggu selama empat tahun, dan papa tidak pulang? aku akan marah besar!

"ah, pasti karena kamu bandel makanya papamu nggak pernah pulang lagi!"

aku marah, kudorong tubuh gio sampai terjatuh.

"nggak mungkin, papa pasti sayang aku!"

gio tak terima kudorong sampai jatuh. ia bangun dan balas mendorongku. kami saling dorong-mendorong sampai akhirnya aya memanggil guru untuk memisahkanku dan gio.

 

 

aku, 14 tahun 3 bulan 19 hari

nyatanya, papa tidak pernah pulang. aku berhenti menanyakan "kapan papa pulang?" ke mama.

sekarang, aku berada di meja belajarku untuk mengerjakan tugas seni budaya. menggambar orang yang paling kucintai. pikirku akan mudah, tinggal menggambar papa saja. ternyata sulit. tanganku bergerak melayang di atas kertas, alis papa— seperti apa alis papa? tebal atau tipis? matanya besar atau kecil? hidungnya mancung atau pesek? semakin kupaksa semakin buram. aku tidak punya satupun figura foto papa. dan akhirnya aku hanya menggambar orang-orangan sawah dan kuberi nama 'papa'.

 

 

aku, 16 tahun 8 bulan 21 hari

tengah malam, aku terbangun karena haus. aku keluar kamar dan melihat mama duduk di sofa, matanya tertutup— tidur, lagaknya seperti sedang menunggu seseorang. kulihat kemeja yang mama kenakan. aku ingat, itu kemeja favorit papa. kemeja flanel dengan warna hitam dan merah, favorit papa. dengan itu aku tersadar, mama juga sayang papa.

tapi kalau itu sayang, mengapa mama selalu terluka? kalau papa sayang, mengapa papa tidak pernah pulang?

 

 

aku, 19 tahun 2 bulan 9 hari

aku sedang membereskan lemari mama. debu-debu dari atas lemari berjatuhan kesana-kemari. aku menyapu bagian atas dengan bantuan sulak. tapi kecerobohanku membuat kotak usang yang berada di atas lemari itu terjatuh dan isinya berserakan.

aku menunduk, berniat untuk membereskan kekacauan itu. fokusku teralihkan setelah aku menemukan figura foto pernikahan yang kutebak adalah mama— dan papa? kuambil kertas lainnya, ternyata itu foto masa remaja mama, bersama lelaki di sampingnya. tangan mereka berpose membentuk hati. kutebak lelaki itu adalah papa.

aku mengambil kertas lainnya. kali ini, kertasnya terlipat dengan rapi. perlahan aku membuka kertas itu dan ada tulisan panjang lebar muncul di pandanganku.

 

teruntuk, kasihku

malam itu, pertama kalinya aku mendengar kata "cerai" terucap dari bibirmu. aku tahu, selama ini kau lelah. seharusnya aku memelukmu di sana, mengucapkan kata yang selalu ingin kau dengar selama hidupmu. tapi maaf, aku hanya bisa diam tak berkutik. mungkin memang sudah saatnya kita usai. aku takut akan menyakitimu lebih dalam lagi, maka dengan ini aku meninggalkan kalian berdua. maafkan aku, sayang. kau pantas mendapatkan seseorang yang lebih bisa memperlakukanmu dengan baik.

sayangku, aku dikalahkan oleh egoku. maafkan aku dengan lancangnya berani mengirimkan surat ini kepadamu, setelah 5 tahun lebih bercerai. tapi ketahuilah, aku akan selalu mencintaimu. ntah kemarin, hari ini, atau esok.

jika suatu hari hayi mengetahui hal ini, kuharap dia mencatat ini di kepalanya. hayiku sayang, selama ini papa tidak pernah berhenti mencintai mama. maafkan papa karena telah menjadi pecundang di hidup kalian berdua. inilah bentuk kasih sayang papa yang sebenarnya. semua akan baik-baik saja.

dari kasihmu, (sepertinya).

 

pertahananku runtuh seketika. bak disambar petir di siang bolong. selama ini, tuduhan tak berdasar orang-orang ke papa ternyata tidak salah— dan tidak separuhnya benar. aku merasakan kehadiran orang lain di belakangku. aku menoleh, mama di sana. aku bertanya, "kenapa mama nggak bilang?"

mama jawab, "kamu belum cukup besar untuk mengetahui hal ini."

aku menghela napas berat, "aku sudah besar, ma."

mama tidak menjawab, mama hanya mengeluarkan air mata dan dilanjut dengan isakan. hatiku tersentuh, aku ikut menangis melihat mama terluka.

"jadi ini jawaban setelah 12 tahun menunggu? mama tahu selama ini aku menunggu papa pulang. aku selalu bertanya kapan papa pulang ke mama, tapi mama selalu menjawab "papa akan pulang kalau aku sudah besar. ini bentuk kasih sayang papa ke kita. semua akan baik-baik saja." bohong kalau aku nggak kecewa, ma. kenapa selama ini mama sembunyiin ini dari aku?"

"maaf, hayi sayang."

mulai sekarang, pandanganku terhadap 'keluarga' dan 'kasih sayang' tak lagi sama.

 

 

aku, 20 tahun 0 bulan 0 hari 0 jam 12 menit 54 detik

hari ini hari ulang tahunku. mama menyiapkan brownies coklat dengan hiasan lilin di atasnya.

ini ulang tahunku yang ke-13 tanpa papa. mungkin papa terlalu sayang dengan kami, sehingga ia tidak pernah pulang.

mama menyuruhku berdoa sebelum meniup lilin. hanya aku dan tuhan yang tau kalau aku menyisipkan doaku untuk papa. semoga papa hidup bahagia, walau eksistensinya hanya bertahan kurang dari seperempat hidupku. aku tahu mama masih mencintai papa. sedikit orang tahu, mama selalu mengenakan kemeja flanel papa di saat mama kangen dengan papa. aku harap papa tahu hal itu.

miris, semua saling sayang, tapi semua saling menyakiti.

"selamat tumbuh besar, hayiku." mama tersenyum setelah aku meniup lilin.

aku tersenyum pahit, mengucapkan fakta yang aku yakin mama tidak siap untuk mendengarnya.

"mama, aku sudah besar dari dulu."