Work Text:
Setiap manusia punya kisah soal cinta pertama.
Wonwoo adalah manusia.
Anggaplah ini adalah jenis soal yang sering muncul dalam UTBK, maka kesimpulan silogisme kedua premis di atas adalah: Wonwoo punya kisah soal cinta pertama.
Hari itu adalah hari ke-28 bulan Juli, tahun 2016. Ingatannya dengan jelas mencatat jatuhnya pada hari Kamis. Hari kesembilan ia masuk sekolah— jika Sabtu dan Minggu tidak dihitung. Hari kesebelas setelah ulang tahunnya yang ke-15. Pada hari itu, untuk pertama kali Wonwoo bertemu dengan cinta pertamanya.
Wonwoo baru keluar dari sekolah pukul enam sore setelah mengikuti latihan dan seleksi untuk masuk ekstrakurikuler English Debate di sekolah. Pada masa itu, English Debate adalah satu ekskul yang paling bergengsi setelah sekolahnya mendapat kejuaraan tiga tahun berturut-turut di tingkat nasional. Sebagai orang yang hobi berada di lingkungan manusia-manusia berprestasi, Wonwoo ingin turut serta ada di sana. Ia ikuti beberapa sesi latihan menghadapi tiap-tiap motion yang telah disiapkan oleh senior-seniornya, menyusun banyak argumen baik berada di tim government/proposition maupun berada di opposition, lantas ia lantangkan argumennya dengan yakin setiap ada kesempatan.
Latihan dan seleksi itu intens dilakukan hampir setiap hari sejak hari ketiga masuk sekolah. Katanya, supaya nanti setelah masuk ekstrakurikuler mereka sudah fokus dengan beberapa tim saja. Akibatnya, Wonwoo juga hampir setiap hari pulang kemalaman. Seperti hari itu.
Wonwoo ingat betul hari itu apa motion yang harus ia hadapi. This house believes that the national exam should be abolished. Wonwoo dengan percaya diri meyusun argumennya menjadi tim government/proposition. Skill-nya hari itu lumayan bisa diadu — setidaknya ia meraih tepuk tangan dari banyak orang dan pulang dengan hati puas.
Perasaan senang itu tidak berlangsung lama, cukup sampai ia dapati dirinya tidak bisa pulang beberapa saat kemudian.
Ia keluar dari sekolah dan duduk di halte yang mulai temaram, berharap masih ada kendaraan umum dengan tujuan ke arah rumahnya dan bisa ia naiki. Beberapa orang yang turut pulang terlambat hari itu satu per satu pulang menaiki sisa-sisa kendaraan umum yang masih ada, beberapa dari mereka membawa kendaraan sendiri, sementara yang lainnya dijemput.
Remaja itu menghela napas. Pada jam-jam itu, biasanya kendaraan umum semacam bis yang sering Wonwoo naiki memang sudah pulang ke pul. Bahkan jika lewat pun, mereka akan tetap melaju dan menolak siapapun yang ingin naik. Termasuk Wonwoo.
Menurut teori yang Wonwoo pelajari sejak sekolah dasar, biasanya musim penghujan hadir pada bulan Oktober hingga Maret. Tetapi entah kenapa hari itu hujan mengguyur kotanya. Seolah membuat Wonwoo semakin merasa kesialan sedang menimpanya tanpa ampun.
Halte bus itu memang punya atap, tapi Wonwoo kerap merasa tetes-tetes air hujan itu membasahi wajahnya, menciptakan embun pada kedua lensa kacamatanya. Celana seragam yang baru ia pakai dua hari itu sudah mulai berubah warna menjadi lebih gelap karena basah dari hujan. Telapak kakinya yang terbalut kaos kaki dan sepatu hitam sudah mulai terasa lembab.
Hingga pukul 7 malam, Wonwoo masih duduk di halte itu sendirian. Alasannya adalah ketololannya sendiri. Wonwoo tidak bawa ponsel untuk menghubungi orang rumah. Ia terbiasa tidak membawa ponsel karena semasa SMP-nya ada peraturan yang melarang siswa membawa ponsel. Kebiasaan itu masih terbawa hingga sekarang, membuatnya kelimpungan dan hampir menangis karena nasib kepulangannya sekarang dipertanyakan.
Wonwoo sempat menghubungi orang tuanya, kok. Dia sempat pinjam ponsel milik salah seorang teman sekelasnya — yang ikut ED juga — untuk minta dijemput. Sayangnya, temannya satu itu sudah dijemput terlebih dahulu, sehingga sampai sekarang Wonwoo tidak tahu apa lagi tanggapan dari orang rumahnya terkait permohonannya itu. Terakhir membalas, Mama menyuruhnya untuk berusaha menunggu bus lebih dulu karena Papa masih ada lembur. Mama tidak bisa membawa kendaraan jadi tidak bisa menjemputnya sendirian.
Masalah lainnya, sebetulnya jarak rumah ke sekolahnya itu jauh. Sangat jauh. Hampir dua puluh kilometer. Wonwoo tadinya sudah sempat kepikiran untuk ngekos saja. Ada beberapa kos di dekat sekolahnya. Beberapa teman sekelasnya yang rumahnya jauh juga turut menyewa untuk beberapa bulan. Tapi Mama-nya melarang karena jarak sejauh itu pun masih tetap bisa ia tempuh setiap hari dengan bus. Walaupun ujungnya Wonwoo harus bangun dan berangkat pagi-pagi buta. Sebab untuk sampai ke sekolah ia perlu waktu kurang lebih 45 menit, sementara jam masuk sekolahnya adalah setengah tujuh pagi.
Selain anak-anak ED, pada jam yang sama, beberapa siswa masih ada kegiatan di sekolah. Satu dua orang terkadang keluar dari gerbang, turut menemani Wonwoo di halte, menunggu jemputan juga, lantas pergi. Menerobos jalan meskipun hujan masih setia turun. Ngapain takut orang hujannya masih air, kok, begitu mungkin pikir mereka.
Namun, setelah pukul tujuh malam, Wonwoo tidak menemukan orang lain lagi selain dirinya.
Kedua matanya memanas, ingin menangis rasanya. Aroma basah tanah dan rerumputan bercampur air biasanya cukup menenangkan untuknya. Sayangnya, hari ini ia begitu gelisah untuk hanya sekadar menikmati harum petrichor itu. Hatinya bergemuruh marah, mempertanyakan kenapa orang tuanya tidak kunjung menjemput. Kedua tangannya menggenggam tali ransel erat-erat. Udah nggak bisa pulang, hujan, sendirian pula! keluhnya benci.
Untung ia selalu pakai jaket tiap berangkat sekolah, jadi lumayan menolongnya dari hujan hari itu. Setidaknya hari ini, tubuhnya berbalut dua lapis pakaian — seragam identitas dan sebuah jaket baseball merah.
“Belum pulang?”
Pertanyaan itu mengejutkan Wonwoo dari lamunan soal betapa menyedihkannya dirinya sekarang. Dari kedua mata yang dilapisi kacamata, Wonwoo bisa lihat cowok bertubuh tinggi dengan jersey biru yang agak asing di matanya — itu bukan baju olahraga ataupun seragam tim-tim olahraga di sekolah, jadi asumsinya itu hanya jersey yang biasa dibuat satu kelas tertentu. Wajah cowok itu basah dengan tetes-tetes air hujan. Wonwoo tidak punya waktu untuk memuji visual yang lumayan oke itu karena dia sudah lelah.
“Nanya ke gue?” telunjuk Wonwoo menunjuk dirinya sendiri.
Cowok itu terkekeh geli. “Emangnya ada orang lain lagi?” tanyanya retoris.
Wajah Wonwoo menghangat, malu. Anggukan singkat Wonwoo berikan untuk membalas pertanyaan si dia.
“Rumahnya di mana?” tanya cowok itu lagi. Kali ini dia ikut duduk di sisi sebelahnya, membuat Wonwoo menggeser pantatnya sedikit agar tidak terlalu dekat. Wonwoo berikan jawaban singkat soal alamat rumahnya yang kemudian dihadiahi tatapan tidak percaya. “Jauh banget? Kok belum pulang?” tanyanya lagi.
“Tadi abis ikut debate. Kesorean. Ya udah,” jawab Wonwoo singkat.
Cowok yang tidak Wonwoo ketahui namanya itu membalasnya dengan keterkejutan kagum. Wah anak debate nih, keren. Begitu mungkin yang ada di kepalanya. “Lo anak kelas mana?”
Sekarang, Wonwoo merasa seperti selebriti yang sedang di-interview.
Dengan bangga, Wonwoo menjawab, “X MIPA 3.”
Lagi-lagi dibalas dengan tatapan keterkejutan penuh kagum, Wonwoo tersenyum simpul. Overproud dia, soalnya yang masuk kelas itu adalah 34 orang dengan nilai masuk paling tinggi dan kayaknya semua warga sekolahnya tahu gosip soal kelasnya itu.
Kedua mata Wonwoo kembali mencuri pandang ke arah sebelahnya, memastikan baik-baik apakah ia pernah mengenal wajah itu. Sayangnya, berapa banyak pun ia mencoba mengingat, wajah itu sangat asing. Jelas bukan anggota OSIS yang kemarin jadi panitia orientasi siswa. Bukan pula kakak kelasnya waktu SMP. Kayaknya siswa biasa yang nolep gitu deh, batin Wonwoo menebak.
“Dijemput nggak?”
Aslinya Wonwoo tidak tahu apakah ia benar-benar akan dijemput atau tidak, tapi kepalanya mengangguk. “Heem.”
“Udah bilang buat dijemput?” tanya cowok itu lagi.
Jari tengah kanannya tergerak memperbaiki letak kacamatanya pada hidung mancung itu. Sejujurnya ia sedikit takut dan bertanya-tanya apakah ia sedang mengobrol dengan hantu atau bukan. Maka diliriknya ke arah bawah, melihat apakah kaki-kaki cowok di sebelahnya menapak di tanah. Napasnya kembali lega saat melihat kaki-kaki terbalut sandal jepit itu mendarat di tanah seperti manusia pada umumnya. Bukan hantu.
“Udah. Tapi waktu pertama bilang, disuruh coba cari bus dulu. Soalnya Papa masih lembur,” keluhnya.
“Mau nunggu di sini aja? Nggak di perempatan? Kayaknya ada lebih banyak bis di sana deh soalnya kan dateng dari mana-mana. Siapa tahu ada yang ke arah rumah lo,” kata cowok itu, memberi sebuah solusi paling masuk akal di tengah kesialan dan ketololan ini. Ia tidak mungkin membawa Wonwoo menginap di rumahnya, bukan?
Dalam diamnya, Wonwoo menggigit bibir. Ada beberapa pertimbangan yang perlu ia pikirkan untuk mengiyakan tawaran tersebut.
Sekolahnya ke perempatan yang dimaksud “orang tak dikenal yang tiba-tiba mengajaknya ngobrol” itu jaraknya 2 km. Wonwoo sudah lama sekali nggak jalan sejauh itu! Ujan pula!
Cowok itu berdiri, turut menggenggam kedua tali ranselnya. “Kalo mau nunggu di sana, ayo bareng! Gue sekalian mau pulang. Rumah gue di deket perempatan. Ini kayaknya hujannya udah tinggal gerimis aja. Bisa diterobos dikit, lah!”
Sebenarnya itu ajakan bodoh karena ia bisa terancam masuk angin, tapi entah kenapa Wonwoo menurut.
Listen to the rhythm of the falling rain
Telling me just what a fool I’ve been
I wish that it would go and let me cry in vain
And let me be alone again
Senandung lagu berjudul Rhythm of the Rain milik The Cascades menjadi berisik yang mengisi keheningan mereka berdua. Bukan Wonwoo yang menyanyi, tapi cowok yang berjalan di sebelahnya. Kali ini harus Wonwoo akui suaranya bagus. Tidak mengganggu telinganya sama sekali, justru membuatnya nyaman.
Dua remaja itu berjalan beriringan. Wonwoo menutupi kepalanya dengan tudung jaket merah yang ia kenakan, sementara orang yang tidak ia ketahui namanya itu memayungi diri dengan ransel. Anak itu masih betah bersenandung dan Wonwoo biarkan dia lakukan apapun sesuka hatinya. Ia lebih baik begini ketimbang harus diajak mengobrol dan ditanya-tanya.
The only girl I care about has gone away
Looking for a brand-new start
But little does she know that when she left that day
Along with her she took my —
“Kenapa nggak ngekos aja kalo rumahnya sejauh itu?” Alih-alih melanjutkan nyanyian galaunya itu, cowok itu justru menanyai Wonwoo untuk kesekian kalinya.
Wonwoo tadinya ingin mengaku alasan jujurnya. Tapi berhubung sejak awal dia sudah dibuat overproud, dia tidak ingin menjatuhkan harga dirinya dan membuatnya dianggap sebagai Anak Mami. Jadi jawaban yang ia berikan adalah, “Ya… kalau mau ngekos mah mending gue ke sekolah yang lebih jauh sekalian, lebih bagus, lebih oke.”
Sombong betul. Jadi lo pikir ini sekolah jelek??? Mungkin itu yang ada di pikiran cowok itu setelah mendengar jawaban Wonwoo. Ia hanya menebak-nebak sih, tapi dari tatapannya yang menyiratkan tidak suka sudah menjelaskan semuanya.
“Kalo gitu kenapa nggak sekalian sekolah di sekolah yang lebih jauh, lebih bagus, dan lebih oke itu?” tanya cowok itu dengan nada meremehkan.
Kan. Asumsi Wonwoo pasti benar.
Wonwoo mengendikkan bahu. “Ya karena biar nggak ngekos? Gimana sih?”
“Tapi kayak gini lo pulangnya sampe kemaleman.”
“Kan lagi ada kegiatan aja, gimana sih? Kalo nggak ada kegiatan tetep bisa pulang normal kayak biasa!” ujarnya ketus.
“Terus lo berencana buat jadi anak nolep kah nggak ikut kegiatan apapun? Kan kalo ikut jadinya pulang kemaleman?” Sial, cowok itu menyerang lagi.
“Kan ikut beginian nggak tiap hari?” bantahnya tak mau kalah.
Wonwoo berhasil membuat cowok itu bungkam seribu bahasa. Tapi jujur, dalam hatinya ia gemetar ketakutan. Cowok itu pasti setidaknya kakak kelasnya. Walaupun kelihatan penampilannya biasa aja, tapi Wonwoo tetep takut kalau-kalau anak itu ternyata pentolan sekolah.
Tangan Wonwoo tiba-tiba ditarik keras saat sebuah klakson keras dari arah belakang mengejutkan mereka berdua. “Minggir, lo sebelah sini aja!” kata cowok itu, berpindah posisi.
Alasan Wonwoo berjalan di atas jalan raya adalah karena tidak ada trotoar di sepanjang jalan sekolahnya menuju ke perempatan. Ia ogah-ogahan jalan di tapak-tapak tanah itu karena akan membuat sepatunya yang sudah basah menjadi tambah kotor. Lagipula, ia memang sengaja memberi jarak selebar mungkin agar tidak terlalu menempel dengan cowok itu. Canggung rasanya. Apalagi saat kedua lengan mereka beberapa kali saling bersentuhan.
“Udah hubungin orang rumah lagi belum? Bilang kalo mau dijemput pindah lokasi, takutnya nanti orang tua lo nyari di sekolah.”
Oke, sepertinya kali ini Wonwoo terpaksa harus memperlihatkan kebodohannya.
Ia tundukkan kepalanya, tidak siap memberi pengakuan memalukan. Kaki-kakinya yang masih sibuk melangkah jahil menendangi kerikil. “Gue nggak bawa hape. Terakhir bilang Mama pake hape temen tapi anaknya udah pulang duluan.”
“YA TUHAN? GILA YA LO?” sentak cowok itu. Ia tiba-tiba menurunkan ranselnya dari atas kepala. Dibukanya resleting bagian depan dan dikeluarkannya sebuah ponsel jadul. Jangankan android, Wonwoo tahu jenis ponsel itu sama sekali nggak bisa dipakai buat internetan. Game-nya pasti isinya Bounce yang nge-cheat-nya pakai angka 787898 itu sama Snake yang bakal mati kalau nabrak badannya sendiri, pikirannya berkelana.
“Nih, orang tua lo di-sms lagi! Telfon juga gapapa kalo mau!” Diserahkannya ponsel itu kepada Wonwoo yang masih merengut malu.
Tangan dinginnya meraih ponsel itu. Ia ketikkan nomor Mama-nya di sana, lantas mengirimkan sebuah pesan. Meskipun sudah ditawari, Wonwoo menolak untuk menelepon karena takut jadi melampiaskan amarah.
Mamah… ini Wonu. Tolong minta siapapun jemput di perempatan deket sekolah pelisss udah gaada bis samsek huhuhu takut…
Tujuan utamanya ke perempatan itu memang untuk mencari bus lain, tetapi ia sebenarnya sudah yakin betul tidak mungkin ada bus ke rumahnya malam-malam begini.
Ponsel itu ia serahkan kembali kepada empunya. Cowok itu tersenyum geli sesaat setelah menerima ponsel itu. Wonwoo yakin pesannya kepada si Mama sedang ditertawakan. Bodo amatlah, anjir!
“Lo ikut ekskul apa aja, btw?” tanya cowok itu lagi.
“Belum dapet angket pendaftaran, sih. Tapi rencananya selain ED mau ikut Karya Ilmiah Remaja juga.”
“Wow.”
Percakapan itu berhenti lagi dan Wonwoo kembali merasa lega. Cowok di sampingnya lanjut bersenandung, barangkali tidak terlalu nyaman membiarkan hening mendominasi mereka. Masih lagu yang sama.
Rain please tell me now does that seem fair
For her to steal my heart away when she don’t care?
I can’t love another when my heart somewhere far away
Kali-kaki mereka akhirnya sampai di perempatan. Mereka mendudukkan bokong masing-masing di teras sebuah ruko yang sudah tutup. Beberapa ojek pengkolan menawari mereka tumpangan, yang mereka tolak dengan halus. “Udah dijemput, kok!” begitu pembelaan mereka.
Mereka tidak berbohong. Sebab setelah Wonwoo mengirim pesan, Mama-nya menelfon balik dan mengatakan setelah ini Sang Papa akan segera menjemputnya. Mendengar itu, Wonwoo terkikik geli membayangkan Papa-nya pasti sudah dimaki-maki si Mama.
Meskipun Papa-nya bilang akan menjemput, perlu waktu satu jam untuk pria itu sampai. Pada menit kelimapuluh, cowok itu berpamitan kepada Wonwoo untuk pulang terlebih dahulu. Sama sepertinya, cowok itu juga pasti punya orang tua yang mencarinya. Jadi, Wonwoo biarkan dia pergi sembari mengucapkan terima kasih karena telah dibantu.
Papa datang masih dengan pakaian formal sepulang bekerja. Pria itu meminta maaf berkali-kali, merasa menyesal membiarkan anaknya menunggu berjam-jam. Ia janjikan martabak telur pinggir jalan biar Wonwoo tidak marah lagi. Wonwoo rasa tujuannya bukan itu, sih. Papa-nya beli martabak telur itu pasti untuk membujuk Mama-nya, bukan dirinya.
Dua laki-laki dalam keluarga itu pulang dengan sekantung plastik berisi martabak telur spesial yang dibeli di pinggir jalan. Mama-nya segera menghadiahi Wonwoo dengan pelukan hangat, khawatir setengah mati karena anaknya yang baru masuk SMA belum lama itu tak kunjung pulang sejak sore.
“Mama udah siapin air anget buat kamu mandi. Tadi nomor yang kamu pake buat sms itu kirim sms ke Mama lagi. Katanya ‘Bu, nanti anaknya tolong disuruh mandi pakai air anget ya, soalnya tadi habis hujan-hujanan’ jadi sanaaa mandi dulu nanti kita makan martabak bareng-bareng,” kata si Mama dengan cengiran meledek.
Wonwoo tidak tahu apa yang terjadi. Seingatnya percakapannya dengan cowok itu berjalan tidak baik. Mana mungkin dia tiba-tiba mengirim pesan sok perhatian itu kepada Mama-nya dan membuat jantungnya jadi berdebar begini? Wonwoo tidak percaya!
“Siapa itu? Tadi kok Papa liatnya Wonu sendirian?” si Papa ikut menyahut.
Mama mendecih. “Ya anaknya udah pulang duluan, Pa. Kan tahu Papa fix jemput Wonu. Nih! Dia bilang juga kok!”
Ponsel itu berpindah ke tangan Wonwoo yang mendadak tremor. Mamanya tidak bohong. Pesan itu benar ada di sana, dengan nomor yang sama milik cowok tadi — yang sampai sekarang Wonwoo tidak tahu itu siapa.
Bu, saya izin pulang dulu ya, katanya Wonu sudah dijemput. Saya juga sudah dicariin soalnya. Maaf gak bisa temenin Wonu sampe pulang.
Bu, nanti kalau anaknya sudah pulang, tolong disuruh mandi pakai air anget ya, soalnya tadi di jalan ke perempatan ujan-ujanan.
Wonwoo kabur ke kamar mandi sesegera mungkin setelah menyerahkan ponsel itu kepada si Mama. Jantungnya tiba-tiba berdebar begitu kencang. Wajahnya menghangat, terutama pada kedua pipinya. Gila. Wonwoo sudah gila. Masa begitu doang dia baper sih?
Empat hari kemudian, Wonwoo kembali berdiri di halte yang sama, dengan seragam OSIS-nya yang baru tiga kali dipakainya. Kali ini ia tidak sendiri. Banyak orang menunggu kendaraan umum juga di sana. Salah satunya cowok itu — yang Wonwoo lihat sedang mengobrol dengan beberapa orang.
Hari Senin itu ia bolos mengikuti sesi latihan English Debate karena ia hampir gila pulang terlambat setiap hari. Itu sebabnya jam empat sore dia sudah bersiap pulang.
Cowok itu menghampirinya sejenak. Ia beri senyum menawan yang tidak sempat Wonwoo nikmati di hari pertama mereka bertemu. Lagi, cowok itu kembali bertanya, “Bisa pulang hari ini? Nggak kemaleman lagi?”
Sejak hujan gerimis sore itu, Wonwoo dilanda penasaran setengah mati karena pada masa itu ia belum mengenal get contact untuk mengecek nama si pemilik nomor. Perasaan berbunga memenuhi hatinya terlalu banyak sampai ia stress sendiri. Stress karena sepertinya ia jatuh cinta untuk pertama kali pada orang yang namanya saja dia tidak tahu.
Maka di hari Senin itu, lirikan Wonwoo tidak langsung ke arah senyum menawannya. Alih-alih berjabat tangan dan mengajak berkenalan, Wonwoo berusaha keras membaca badge namanya.
Mingyu.
Hari itu baru dia tahu nama cowok itu adalah Kim Mingyu.
Wonwoo balas berikan senyum manis. Sudah hilang rasa kesalnya karena obrolan tidak mengenakkan mereka kemarin. Jantungnya kini justru meronta. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. “Nggak lah, masih jam segini!” balasnya, mencoba berusaha akrab.
Mingyu terkekeh geli. “Gue duluan, ya!” Anak itu melambaikan tangannya, naik bus yang sudah datang, meninggalkan Wonwoo yang pipinya menghangat sendirian.
Oh, listen to the falling rain
Pitter-patter pitter-patter, oh
Listen, listen to the falling rain
Pitter-patter pitter-patter, oh
