Work Text:
Nicholas itu perfeksionis. Dia tidak suka pengulangan dalam bentuk apapun.
Apapun hasilnya, Nicholas selalu ingin yang terbaik diantara yang terbaik. Perintahnya hanya sekali terdengar dan semua bawahannya harus bisa menuruti semua itu.
Tidak bisa? Lambaikan tangan pada karir pekerjaan. “Kau tidak mendengar perkataanku kemarin? Design interiornya nuansa klasik Victorian yang dibuat sedikit modern.”
Berkas milik pegawai magang itu dilempar Nicholas tepat dimukanya. “Tuan Nicholas, mohon maaf saya menyelak. Tapi dia salah satu magang terbaik di angkatannya dan sekarang dia memegang pesanan lebih dari lima klien.” Balas sang sekertaris.
Mata elang Nicholas kembali menatap sang magang. “Kali ini aku meloloskanmu. Sekarang buat laporan baru dan kembali lagi dengan laporan yang sempurna.” Ujarnya. Sang Magang langsung membersihkan dokumennya, menunduk hormat dan keluar ruangan secepat yang dia bisa.
“Apa jadwalku hari ini Yudai?”
Yudai menyalakan tabletnya, “Hari ini anda akan menghadiri resital keponakan anda sepuluh menit lagi, dilanjutkan meeting dengan perusahaan M di jam tiga sore dan perusahaan Y jam tujuh malam.” Nicholas langsung memijat keningnya. Mendengar jadwalnya saja Nicholas sudah bisa merasakan lelahnya duduk berjam-jam dengan para lelaki tua.
“Kalau begitu, aku pergi sekarang untuk bersiap. Yudai, titip sebentar pekerjaanku.”
.
“Om Nicholaaaaaaas~”
Gadis belia berusia dua belas tahun itu langsung melemparkan dirinya ke pelukan Nicholas saat pemuda tampan itu keluar dari mobilnya. “Ei~ hati-hati tuan putri. Kau bisa melukai dirimu nanti.” Balas Nicholas. Gadis itu hanya cengengesan.
Dia sangat bersemangat hari ini. Pertunjukkannya kali ini akan disaksikan oleh paman kesayangannya. Nicholas sangat pasrah saat gadis kecilnya itu menariknya ke ruang khusus untuk wali siswa. Dia duduk tingkat dua sisi kanan piano.
Tak lama, lampu diredupkan dan lampu panggung bersinar terang. Sambutan MC cukup membakar suasana, apalagi saat beliau membacakan susunan acara. Para orang tua yang anaknya ikut menjadi semakin tidak sabar dan antusias untuk menunggu giliran anaknya tampil.
“Untuk dari itu, sebagai pemanasan kita akan menyaksikan pertunjukkan dari guru pembimbing musik sekolah ini. Kepada Byun Euijoo saya persilahkan.”
Satu langkah.
Nicholas masih menatap datar panggungnya. Dia hanya ingin melihat keponakan lucunya tampil.
Dua langkah.
Mata Nicholas membulat saat guru berparas manis itu memasuki panggung.
Tiga langkah.
Atensi Nicholas sudah dicuri Euijoo sepenuhnya.
Empat langkah.
Debaran jantung Nicholas semakin menggila. Ingin rasanya dia menyeret Euijoo dan menjadikannya milik Nicholas seorang.
Lima langkah.
Detik ini, Nicholas Wang jatuh cinta pada Byun Euijoo.
“Lagu yang akan saya mainkan adalah Canon D Major karangan Pachelbel.” Euijoo langsung duduk dikursi pianis. Bersyukur dia mendapatkan spot dimana dia bisa melihat wajah Euijoo. Dentingan pertama terdengar, Nicholas semakin jatuh cinta padanya.
Euijoo memenuhi kriteria Nicholas. Cantik tapi tampan disaat bersamaan, senyumnya manis, wajahnya kecil dan oh! Lihat gigi kelincinya tadi saat dia cengengesan.
Ah, Nicholas akan memberikan keponakannya apapun yang dia mau saat selesai resital nanti. Tanda ucapan terima kasih karena sudah mempertemukan dia dengan maha karya Tuhan yang satu itu.
Matanya terus menatap Euijoo selama permainan. Euijoo terlihat sangat menikmati permainan pianonya sendiri. Tubuhnya kadang ikut melonjak sesuai irama, jari lentiknya pun dengan semangat menari di tuts piano. Bisa Nicholas lihat, Euijoo memainkan pianonya dengan sangat tulus.
.
“Om, keren kan permainanku?” Gadis kecil itu berbangga diri didalam mobil Nicholas. Tentu saja Nicholas terkekeh sebentar, “Tentu sayang. Kau sangat hebat!”
“Tapi lebih hebat Euijoo laoshi.” Oh~ Nicholas mulai tertarik dengan bahasan ini. “Memang yang Euijoo laoshi mainkan itu lagu sulit?” Tanya Nicholas. Gadis itu menggembungkan pipinya, “Not milik Euijoo laoshi mudah. Sangat mudah!
Beliau hanya mengulang itu semua dengan jangka waktu berbeda sambil memisahkan nadanya seperti ada perempatan” Jelasnya. Euijoo kesukaannya, tapi mengulang bukan kesukaannya. “Xiao? Kau ada nomor Euijoo laoshi?”
Gadis itu menoleh sebentar. “Ada kok, tapi untuk apa?” Dan Nicholas hanya tersenyum ke arah keponakannya itu.
Esok Hari
Euijoo mendatangi sebuah kafe yang dikirimkan oleh salah satu wali muridnya. “Ah, Euijoo!” Pemuda manis itu menoleh dan menghampiri sang pemanggil.
“Maafkan aku Tuan Wang. Aku tadi mengurus berkas muridku dulu.” Jawabnya. Nicholas menggeleng, “Tidak apa. Panggil aku Nicholas saja. Silahkan duduk.”
Keduanya duduk berhadapan. “Jadi, Nicholas? Ada apa?” Tanya Euijoo. Nicholas tersenyum, “Izinkan aku memperkenalkan diriku. Namaku Nicholas Wang, wali dari Wang Xiao.”
Euijoo balas tersenyum, “Namaku Byun Euijoo.” Katanya.
“Dan aku menyukaimu sejak kau menaiki panggung resital kemarin. Mau menikah dan membangun rumah tangga bersamaku?” Dan Euijoo tidak bisa untuk tidak tersedak ludahnya sendiri.
Nicholas itu perfeksionis. Dia tidak suka pengulangan dalam bentuk apapun. Ah, sepertinya harus diralat.
Ekhem!
Nicholas itu perfeksionis. Dia tidak suka pengulangan dalam bentuk apapun. Kecuali mengulang harinya bersama Byun Euijoo.
Ah! Nicholas sibuk. Hari ini dia akan memikirkan nama anaknya kelak bersama Euijoo nanti. Ada saran?
Tamat
