Chapter Text
Di ruang kelas, siang hari
"Eh! Pendapatmu soal cowok bernama Gabi gimana?" kata salah satu pria yang duduk di depan papan tulis mengobrol bersama teman di sebelahnya setelah mata kuliah mereka selesai sekitar jam 12 siang, agak cukup lama memang tapi terasa membosankan, kecuali pemuda bertampang kurus yang menjadi topik mereka tadi, Gabriel, duduk sendirian di pojok kanan ruang kelas sambil melihat video-video reels di Instagram di ponselnya begitu dosennya keluar dari kelas 2 menit yang lalu.
"Hmm. Nggak gimana-gimana sih, tapi dia masih diem aja dari kemarin, nggak pernah diajak ngobrol," ujar pria berbaju hitam tersebut sembari membereskan barang-barangnya ke dalam tas. "Kek kerasukan patung di depan gedung pertemuan deh," lanjutnya dengan tertawa keras.
"Lah iya ya! Terus pas 2 hari yang lalu aku suruh dia beres-beres bareng, tapi ya dianya yang ogah terus pergi ke perpustakaan kampus di sebelah laboratorium komputer."
"Emang dia lagak bos besar kali ya, sama kayak dia waktu masa pengenalan kuliah setahun yang lalu," gumam pria itu sambil cekikian. Dan reaksi Gabriel? Biasa saja, seperti tidak ada apa-apa yang perlu dibicarakan dengannya.
...
Di ruang rapat kantor, sebelum jam makan siang
"Oke sampai sini dulu rapat kita hari ini. Ingat mulai besok kita akan membahas lagi tentang kebijakan ekonomi di masa mendatang," kata manajer keuangan di sebuah perusahaan keuangan ternama di Bern. Nico, yang nampak menutup laptopnya terlebih dahulu, tengah menulis beberapa rangkuman rapat tersebut sebelum dia berangkat ke kantor kliennya esok hari. Lalu pria berambut pirang itu memasukan beberapa barangnya ke dalam tas ransel. Waktu sudah menunjukan jam setengah satu siang dan dia akan keluar dari kantor untuk sekedar mengisi perutnya yang kosong, dengan kata lain makan siang.
"Permisi, boleh minta tolong kasih berkas laporan keuangan ini ke Nico?" tanya seorang karyawan yang meminta tolong kepada karyawan lain di sebelahnya.
"Nggak ah! Aku takut," kata orang itu dengan enggan, "Tadi sebelum rapat aku dipelototi mulu sama dia dari meja kerjanya. bahkan sebelum rapat dimulai waktu aku mampir ke mejanya Nico bentar tapi pas dia tengok ke arahku malah kelihatan seram. Ya sudah nggak jadi ngomong ke dia," katanya lagi.
Entah karena kebingungan atau karena tidak ada yang mau yang menolong akhirnya pegawai tersebut meninggalkan ruang rapat dengan wajah yang tampak mulai frustasi sambil menggaruk-garukan bagian belakang lehernya.
...
5 unread message from Kevin ♡
Nico, aku udah sampe di stasiun Bahnhof
Biasalah, habis selesai ngajar anak-anak kelas 3 tadi
Nanti kita ketemu di tibits jam satu siang
Ajak Gabi juga
Sampai ketemu disana
Iya, sampai ketemu.
...
Kereta yang ditumpangi Nico baru saja sampai di stasiun kereta Bahnhof dari stasiun Weissenbuehl selama satu jam dari tempat kerjanya di Wiessenstein, dia kemudian turun dari kereta nya dan disambut oleh Kevin yang tengah menunggunya di depan peron.
"Hai," sapa Kevin dengan senyumannya.
"Hai juga," balas Nico, "Bagaimana di sekolahmu hari ini?"
"Lumayan sih. Tapi agak kacau dikit karena satu anak mecahin tumblr temannya sampai dia nangis, kedengeran banget sampai ke luar kelas. Untung aku tenangin dia terus mereka mau minta maaf." ujarnya
"Oh gitu. Biasalah mereka masih anak-anak, masih butuh bimbingan kok so don't worry for that, babe," lalu Nico meraih tangan pria Denmark yang sudah lama menjadi suaminya itu dan mengenggam tangan mereka bersama kemudian berjalan beriringan menuju pintu keluar peron, "Ayo, udah ditungguin sama Gabi di depan."
Gabriel baru saja sampai di depan stasiun Bahnhof setelah menaiki taksi dari arah jalan Hochschulstrasse, ya, walaupun jarak kampus nya lumayan jauh dari sini. Tinggal menunggu yang lainnya datang di stasiun ini. Pemuda asal Brasil itu lalu berdiri di sebelah jalur masuk menuju peron kereta dengan botol air minum dan ponsel di kedua tangannya. Dari sana, Nico dan Kevin melihatnya dari jauh dan dengan sadar pria Jerman itu memeluk badan pemuda yang umurnya lebih muda dari mereka itu dari belakang. Gabriel, yang tidak sadar tengah dipeluk oleh Nico mulai teriak kencang.
"Anjing kaget!" Lalu dia mulai sadar setelah melihat pelakunya yang ternyata adalah kekasihnya, Nico di samping lehernya.
"Hai, udah lama nunggunya," kata Nico lalu mencium pipi pemuda yang lebih muda darinya dengan lembut.
"Dasar orang tua! Bikin kaget aja kamu tuh" kemudian dia mulai melepaskan pelukan itu dengan paksa dan memukul lengan kanan pria paruh baya itu dengan lembut.
"Hehehe, maaf ya sayang," yang lebih tua malah cengengesan, begitu pun dengan pria tua yang satunya lagi sambil menggelengkan kepalanya, Kevin melangkah menuju Gabriel lalu dia memeluk badan pemuda Brasil itu.
"Udah lama nunggunya?" tanyanya.
"Nggak kok, Kev. Barusan udah selesai jam kuliahnya," kata Gabriel sambil tersenyum dibalik bahu pria Denmark itu. For your information, mereka bertiga tengah menjalin hubungan selama tiga bulan belakangan dan di antara mereka Kevin dan Nico nyatanya sudah lama menikah sejak setahun yang lalu. Mereka kemudian bertemu pertama kali dengan Gabriel di peron stasiun Bahnhof saat dirinya terlihat kebingungan mencari apartemen terdekat yang letaknya cukup jauh dengan kampus. Nico lah yang menawarkan Gabriel untuk tinggal di apartemen bersama. Yah, jaraknya agak lumayan jauh dari kampusnya tetapi daripada dia harus terpaksa tinggal di asrama kampus karena tidak menemukan apartemen yang cocok dia menetujui tawaran pria Jerman tersebut. Kemudian Lambat laun rasa cinta mereka bertiga mulai muncul ketika Nico menyatakan cinta ke Gabriel, tentunya setelah mereka berdiskusi panjang dengan sang suami, Kevin tentang hubungan mereka ke depan yang Kevin yakin dia juga merasa jatuh cinta dengan pemuda Brasil itu.
...
Disinilah, di dalam tibits, sebuah restoran yang menyajikan menu makanan dengan berbahan dasar vegetarian, mereka mulai mengobrol sembari menunggu makanannya datang.
"Sumpah demi Tuhan aku benci banget sama Chris!!" geram Gabriel dengan muka cemberut sambil mengebrakan meja dengan agak kasar.
"Emangnya kenapa, Gabi? Ribut soal balapan tadi?" ujar Nico penasaran, Gabriel pun menghela napas pelan-pelan.
"Iyalah masa mau main boom boom car, Nico!" tapi Kevin dengan tenang menanyakan detail kejadiannya ke kekasih mudanya itu.
"Oke oke, dianya bikin masalah baru lagi apa masih dilanjut?" tanyanya. Gabriel mulai berpikir sejenak.
"Bener-bener dah si Chris itu. Lagi mau ngambil hot lap malah mobilku ditabrak sama dia, terus abis quali aku marah ke Chris, aku bilang kamu ngapain nabrak mobilku pas mau ngambil hot lap gitu. Terus dia dengan santainya bilang gini : "Maaf. Sengaja," kayak what the hell? Emangnya dia kayak Max Verstappen gitu?" ujarnya kesal. "Ya selama main sim race aku rada masih bisa tahan emosi walaupun ditabrak berkali-kali juga aku nggak marah sama sekali. Tapi emang si Chris bangsat yang mulai bikin pusing kepalaku sejak race di Imola."
"Agak heran temanmu itu. Kasih dia pelajaran aja pas next race, nanti kalau kamu menang kan bisa pamer ke Chris biar tahu rasa."
"Iya juga ya," tampaknya Gabriel setuju dengan penyataan pacarnya, jika hal itu terjadi maka pria bernama Chris itu semakin jengkel karena dia kalah darinya dan mulai .
Waktu telah menunjukan jam 2 siang dan makanan yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang, mereka bertiga lalu memakannya diiringi suara dari televisi yang menayangkan berita tentang rencana yang dilakukan oleh beberapa negara eropa akibat krisis ekonomi yang melanda dunia baru-baru ini. Nico yang sudah selesai makan makanannya langsung melihat berita dari layar televisi tersebut. "Wah... mulai lagi." seketika Kevin dan Gabriel berbalik ke arah layar itu.
"Ah, ini sih kacau. Palingan mau cari solusi gimana caranya bisa keluar dari inflasi, menaikan harga komoditas seperti minyak bumi misalkan."
"Entahlah, babe. Masa inflasi ada dimana-mana," ujar Kevin sambil menyeruput secangkir kopi yang ada di meja. "Dasar, hari-hari masalah ekonomi bermunculan."
"Iya, Kev, masa harga-harga kayak keju sama sayuran mahal-mahal semua? Padahal mau bikin sup krim besok," katanya frustasi mengingat harga-harga yang dipajang di seluruh supermaket di Bern agak lumayan mahal akibat dampak dari inflasi yang berlebihan. Kevin jadi memikirkan rencana untuk berhemat pengeluaran dengan Nico dan Gabriel lain kali.
"Oh iya, ngomong-ngomong hujan meteor akan datang sebentar lagi. Kira-kira lebih enak lihatnya dari mana ya?" Tanya Gabriel bingung. Malam ini adalah malam dimana hujan meteor akan melewati bumi selama beberapa menit, dan hal itulah yang ditunggu-tunggu oleh pemuda Brazil itu untuk bisa melihat hujan meteor secara langsung.
"Kayaknya bisa lihat dari bukit dekat kota Wina, nanti kita akan kesana," kata Nico. Tapi Gabriel menolak karena letak bukit yang ada di Wina lebih jauh kalau mengendarai mobil untuk sampai di sana, akan tetapi mobil milik Kevin masih berada di bengkel.
"Kejauhan, Nico. mending di rooftop kantormu aja."
"Yang ada malah aku dimarahin sama petugas keamanan, Gabi."
Kevin tiba-tiba mendapatkan sebuah ide. "Mungkin kalau lebih jelas kita bisa coba di Bukit Gurten, jaraknya lumayan dekat dari sini." Seketika pula pria Jerman itu langsung menepuk jidatnya sendiri.
"Ah iya aku lupa di kota Bern ada bukit agak dekat di sini." dan disambut ketawa oleh dua orang yang dia sayang. Percakapan di antara mereka bertiga masih berlanjut hingga Gabriel pergi dulu dari restoran karena sebentar lagi kelas berikutnya akan dimulai dan Nico mengantarkannya menuju ke kampus meninggalkan Kevin yang lebih dulu akan pulang ke apartemennya untuk sekedar bersih-bersih. Iya mungkin hari-hari berikutnya akan lebih sibuk, tetapi mereka sesekali bertemu di beberapa resto dan cafe di seluruh kota Bern akan lebih menyenangkan untuk bisa mengobrol banyak hal dan juga mengobati rasa rindu mereka dengan penuh cinta.
