Work Text:
suara ketik keyboard dan mouse saling bersahutan dalam ruangan. walau matahari sudah bersiap menidurkan diri, tapi tatapan soonyoung masih tidak bisa lepas dari monitor. sesekali ia sandarkan punggung sambil terus memaksa seluruh sel otaknya bekerja keras, lalu kembali menuangkan isi pikiran dan idenya dalam deck. mendadak ia ambil handphone di sebelahnya seakan ingat sesuatu.
“ji, proof print buat iklan bulan depan udah bisa saya liat belum?” kirim soonyoung dalam ruang chat di handphone.
“baru aja saya terima, saya otw ke ruangan mas ya.”
sepersekian menit kemudian, soonyoung dengar suara ketukan di pintu dan ia jawab mempersilahkan masuk.
“sorry mas, ini tadi vendornya baru banget kirim karena sempet revisi minor di last minute.”
soonyoung mengangguk sambil menerima proof print yang diberikan jihoon. setelah lima belas menit meninjau dan sedikit berdiskusi dengan jihoon, akhirnya ia sudah menjatuhkan pilihan untuk desainnya.
“ji, berarti kita pake yang dua ini aja ya yang paling ok.”
“sip aman mas, kalo gitu saya pamit kembaliin proof print- nya sekalian balik ya mas.”
“langsung pulang?”
“engga sih, gym dulu mas hehe.”
“oke, thanks ya ji.”
kemudian jihoon berlalu ke meja untuk merapikan barang-barangnya, sebelum menuju lobby dan melangkahkan kaki ke gym .
pukul delapan lewat lima belas, tetapi soonyoung masih lengket menempel di kursi kerjanya. masih di posisi yang sama, tetapi kelihatan sudah dengan rambut berantakan. matanya terlihat lelah dan otaknya mengepul akibat decking yang tidak ada ujungnya ini.
tok..tok..tok..
ia melonjak sedikit dengan tubuh mendadak sigap.
“iya, masuk…”
“mas soonyoung belum balik kah?”
itu jihoon yang menyembulkan wajahnya dibalik pintu dan masih terbalut pakaian gymnya. kaos hitam melekat sempurna di badan, celana pendek hitam, dan tas ransel yang seakan membingkai otot dada.
“iya nih belum ji, masih ngerjain deck buat lusa.”
“kan masih lusa mas, bisa dilanjut besok” jawab jihoon sambil berjalan mendekat ke meja soonyoung.
“kamu sendiri kenapa belum pulang?”
“ini tadi charger saya ketinggalan, jadi balik lagi deh ke atas mas. terus liat kok ruangan mas kayak masih berpenghuni, jadi saya ngecek aja.”
jihoon sekarang sudah berdiri di samping soonyoung, dengan posisi dia yang masih terduduk depan monitor dan laptop. jihoon telaah deck yang soonyoung bikin, menelisik poin-poin yang atasannya itu tulis.
“oh iya mas, diskusi dikit sih buat offline activation kayaknya kita bisa coba cara baru deh mas. menurut saya sih cara kayak gini ga kemakan sama gen z deh. menurut saya—“
soonyoung kunci tatapannya pada jihoon yang sibuk menjelaskan ide-idenya. awalnya ia mendengar dengan seksama, tapi di pertengahan semua ucap yang keluar dari mulut jihoon terdengar samar-samar di telinga. ia hanya terfokus mengagumi jihoon yang kelewat mempesona ketika menjelaskan sesuatu yang ia kuasai. kata-kata jihoon seperti masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.
“menurut mas gimana?” jihoon menoleh ke atasannya, lalu soonyoung buyar dari lamunannya.
“ih mas dengerin saya gak sih?” jihoon sedikit merajuk dengan bibir mengerucut. gemas, pikir soonyoung.
“iya dengerin, boleh juga sih jihoon. coba kamu tuangin aja dulu jadi one slider. nanti bisa jadi bahan diskusi next alignment kita.”
“oke mas, soalnya inget kan pas kita coba hal ini di campaign sebelumnya—“ dan soonyoung kembali dalam lamunannya. dagunya bertopang tangan di meja dengan kepala masih mendongak memperhatikan jihoon. perlahan tangannya tidak sadar ia bawa mengelus kaki bagian belakang bawahannya. penerima elusan itu tidak sadar kalau tangan atasannya mulai repetitif bergerak naik turun di selangkangan dalam. usapan sehalus bulu itu bertambah dengan remasan kecil pada pahanya.
jihoon yang tadi sedang bersemangat berbicara tiba-tiba diam dan mematung. tubuhnya sedang bertumpu dengan satu tangan di meja dan satu tangan menunjuk salah satu bagian slide deck, ketika ia menengok dan bersitatap dengan atasannya.
“mas....”
“iya jihoon?” alisnya ia angkat dengan wajah innocent, padahal tangannya masih bergerak meraba dan meremas paha putih bawahannya itu.
ruangan kemudian hening tanpa jawaban jihoon. rona mulai muncul di pipi atau bahkan seluruh wajahnya. soonyoung bawa tangannya menyusup ke selangkangan atas jihoon, dibalik celana. menyusup meremas pantat sintalnya. gerak repetitif itu semakin membungkam jihoon yang sekarang seluruh wajah dan telinga memerah.
soonyoung kemudian berdiri dan sekarang berpindah ke belakang jihoon. ransel itu ia pindahkan dari punggung jihoon ke kursinya. tangannya ia bawa kembali meremas kedua belahan pantat kesukaannya.
“aaah mas…”
desahan pelan jihoon lolos memecah keheningan ruangan. bahasa tubuh jihoon seolah menerima dan menikmati perlakuan atasannya. tangan soonyoung mulai bergerilya di tubuh jihoon. ia jamah paha bagian depannya sambil mengangkat keseluruhan celana jihoon. remasan lembut ia beri pada pantat dan pinggang ramping jihoon dibalik kain.
“hari ini menu workout-nya apa ji?” bisik soonyoung di telinga jihoon.
“hhng.. chest day m-mas”
“pantes dada kamu kok makin gede dan kenceng gini ya” tangannya menyusup dan meremas dada jihoon di balik baju.
“hngggh mas” jihoon bawa kepala belakangnya bersandar di bahu kiri soonyoung.
“diremes gini suka enggak jihoon?”
“hhh sukaa, remes terus yang kenceng mas biar dada aku makin gede plisss.”
shit. soonyoung benar-benar tidak menyangka dengan ucapan jihoon yang terdengar begitu binal, tapi membuat gairahnya memuncak. soonyoung selalu suka ketika jihoon menggodanya balik, meminta dirinya untuk menyentuhnya lebih. penisnya mulai tegang dan menyentuh pantat jihoon ketika dadanya masih melekat pada punggung jihoon. gara-gara ucapan jihoon, jari-jarinya semakin gencar untuk memainkan dada jihoon. ia jepit, pelintir, dan tarik tonjolan dada jihoon, membuat dia meringis menahan nikmat. stimulan yang diberi soonyoung juga buat gairah jihoon muncul, seakan ingin lebih.
disetiap remasan dan pelintiran, bibir soonyoung ikut mencicipi kulit mulus jihoon. ia beri kecupan di pundak, leher, dan telinga. kecupan makin intens hingga berubah jadi hisapan dan gigitan. tanda kemerahan dilukiskan soonyoung di tiap permukaan yang bisa bibirnya jangkau.
“m-mas aku keringetan, belum mandi”
“doesn’t matter, you still taste sweet to me” gumam soonyoung sambil terus mengecup pundak dan leher jihoon. sesekali ia hirup aroma jihoon yang masih berkeringat yang buat soonyoung makin bergairah.
setelah puas, soonyoung balik jihoon menghadapnya. ia tarik celana pendek jihoon. setelah celana itu jatuh ke lantai, ia bawa bibirnya menelusuri permukaan kulit jihoon kembali. ia kecup paha dan selakangan jihoon, sambil perlahan terus naik ke atas.
“pake jockstrap huh?” disusul kecupan kecil pada aset jihoon dibalik jockstrapnya.
“i-iya belum sempet ganti mas hhh—”
soonyoung akhiri kecupan dan jilatan di otot perut jihoon. ia berdiri dan putar badan jihoon agar membelakanginya.
"nungging sayang.”
jihoon menurut dengan menunggingkan badannya dan tubuh bertumpu meja. badannya sekarang sudah di posisi sembilan puluh derajat, dengan tubuh bagian atas di atas meja. tangan soonyoung tidak melewatkan kesempatan untuk meremas kedua belahan pantat sintal jihoon. sesekali ia tarik tali jockstrap hingga menciptakan bunyi nyaring ketika bersentuhan dengan kulit jihoon. tangannya menelisik tiap inci kulit jihoon. menyelinap di bawah tali dan kain jockstrap yang melingkar indah di pinggang ramping itu. meraba tiap otot perut jihoon yang tanpa ia lihat pun terasa begitu seksi.
“olahraga lagi sama saya ya jihoon?”
sepersekian detik berikutnya jihoon rasa ada gumpalan daging yang berusaha menerobos lubangnya. basah dan lincah. lidah soonyoung bergerak menelusuri anal jihoon, sesekali memberi tekanan untuk menerobos masuk.
“aakkhh mas.”
punggung jihoon melengkung dan tangan berpegang erat pada meja, mencoba untuk salurkan nikmat yang dirasakan. soonyoung masih dengan khidmat menyesap, menjilat dan melonggarkan lubang jihoon.
sekarang jarinya ikut masuk. dua jari langsung ia tanamkan di lubang jihoon dalam satu hentakan. nyaring teriakan dan desahan jihoon mulai menggema di ruangan.
“mas plis udah ga kuat mau keluarhhh” ucap jihoon ketika ia rasa hampir menuju puncaknya. jihoon dibuat pusing.
bukannya berhenti, soonyoung malah tambah kecepatan tangannya. jarinya mulai menukik hingga bertemu sweet spot jihoon. badan jihoon sedari tadi sudah menggeliat diiringi desahan merdu yang disukai soonyoung.
“mas soonyounghhh-”
jihoon teriakkan nama atasannya saat ia mencapai puncak. spermanya mengotori meja kerja soonyoung dan sebagian pada jockstrap yang sudah menggantung di pahanya. setelah membiarkan jihoon menikmati pelepasannya, jockstrap itu soonyoung pakaikan kembali ke jihoon.
“ahh mas kenapa dipasang lagi?”
tanpa jawaban, soonyoung bidik penisnya ke dalam lubang jihoon. ia rasakan lubang jihoon yang begitu ketat membungkus penisnya. kepalanya ia bawa mendongak ke atas, merasakan desirah darahnya mengalir ketika penisnya dihisap lubang bawahannya. rasanya seperti melayang...
“always so tight hhh—“ geram rendah soonyoung.
setelah masuk sempurna, soonyoung coba gerakkan pinggangnya maju-mundur. tangannya berpegang pada tali jockstrap jihoon, sebagai tumpuan agar penisnya bisa menusuk lebih dalam. it’s a doggy style, but with a twist— extra strap like a horse-riding.
“sshhh mas”
“iya sayang” bisik soonyoung di telinga bawahannya.
“faster plissshhh”
“as you wish baby.”
soonyoung percepat tempo sodokannya. tangannya masih nyaman memegang tali jockstrap jihoon sambil diselingi dengan meremas pantat sintalnya. bunyi penyatuan kulit mereka menggema beriringan dengan suara decitan meja. paha jihoon berkali-kali terantuk meja karena begitu kerasnya sodokan soonyoung. kaki jihoon mulai lemas dan hanya bertopang setengah tubuh pada meja agar tidak ambruk. kepalanya mendongak dan matanya memutih tanda ia menikmati penyatuan ini. jihoon dibuat mabuk kepayang disetiap hentakan dan gerilya jari-jari mas soonyoung.
“fuck, kontol mas soonyoung dalem banget”
“aah ji..mulutnya nakal. banget.” soonyoung beri penekanan pada dua kata terakhir dengan dua sodokan lebih dalam, dibantu dengan tali jockstrap itu.
keringat keduanya sudah bercucuran. pendingin ruangan rasanya seperti berhenti bekerja. ruangan kerja mas soonyoung semakin malam semakin panas. hasrat keduanya disalurkan lewat sentuhan nakal, desahan nikmat, dan berisik suara penyatuan kulit keduanya.
badan jihoon sekarang sudah duduk berbalik menghadap soonyoung dengan kedua tangan menumpu di belakang dan kaki terbuka lebar di atas meja. jockstrap yang melindungi penis jihoon sudah tergeletak di lantai. countertop position ini kesukaan soonyoung karena ia bisa melihat wajah jihoon yang begitu seksi. matanya sayu, mukanya merah padam, dan lidahnya menjulur keluar.
tanpa berlama-lama, soonyoung kembali memasukkan penisnya dalam satu hentakan ke lubang jihoon, buat ia menutup mata dan meringis. berkali-kali soonyoung beri hentakan dalam dan berkali-kali juga jihoon dibuat meringis karena mengenai sweet spot- nya.
hentakan itu berubah menjadi hentakan dalam dan cepat. tangan jihoon sudah bergetar karena tidak tahan menahan tubuhnya. jihoon bawa tangannya melingkar di leher atasannya, hingga muka keduanya jadi terpaut beberapa centi saja. tatapan soonyoung sedari tadi tajam dan seperti menelanjanginya. mata kedua insan tersebut terkunci, sambil penis soonyoung tidak henti bermain di lubang jihoon. tangan soonyoung terus meremas paha jihoon agar kedua tubuh mereka semakin melekat.
“look at you baby, so pretty when i’m inside you.”
suara soonyoung yang begitu rendah dan serak buat penis jihoon sesak ingin mengeluarkan muatan. soonyoung yang sadar segera mengocok kepunyaan jihoon. bibirnya ia tubrukkan ke bibir jihoon, membungkam tiap desah. lidahnya menyusuri tiap rongga hangat jihoon. sesekali bibirnya menyesap lidah dan bibir bagian bawah. tubuh jihoon menggeliat merasakan semua stimulan ini dan dalam pelukan keduanya jihoon kembali mencapai putih untuk kedua kali.
tubuh jihoon yang masih sensitif kemudian merasakan penis soonyoung mulai mengembang saat tetap menerobos masuk. lubangnya terasa makin penuh dan sesak, seakan penis siap mengeluarkan muatannya di lubang jihoon.
“lubang kamu enak banget jihoon aaahh, selalu bikin puas”
“m-mau penuh lubangnya masa mas soonyoung” ucap jihoon sambil menggigit bibir bagian bawahnya.
soonyoung menggeram dan merasa semakin dekat dengan puncak. ia tambah tempo genjotannya. tangannya menyusup kembali di dalam kaos jihoon dan bermain dengan tonjolannya. pada empat hentakan terakhir, soonyoung lepaskan muatan spermanya memenuhi lubang jihoon.
jihoon merasakan lubangnya terisi penuh dan hangat. keduanya berpelukan sambil mengais sisa-sisa oksigen di ruangan itu. setelah beberapa menit, soonyoung lepas penisnya dan membersihkan sisa-sisa spermanya yang bercucuran dengan tisu.
jihoon hanya terduduk di meja sambil memperhatikan mas soonyoung-nya yang telaten membersihkan tubuhnya. setelah keduanya sudah kembali menggunakan bawahannya, jihoon kemudian ambil tasnya berniat untuk pulang.
“eh ji, bisa jalan kah?”
“sakit dikit tapi gapapa sih udah biasa hehe”
“saya antar ya? udah malem juga”
“boleh deh mas”
soonyoung bergegas membereskan meja dan barang-barangnya. jihoon yang termenung dan berdiri di samping meja atasannya tiba-tiba nyeletuk, “lanjut mandi bareng sekalian mau ga, mas soonyoung?”
Epilog
Keduanya tidak bisa berhenti saling menyentuh sejak mereka menginjakkan kaki di apartemen jihoon. entah itu dengan jari atau bibir. jihoon tidak menyangka celetukan impulsifnya tadi buat dia semakin puas dan melayang. rasanya ia ingin dimiliki seutuhnya oleh mas soonyoung seorang. di bawah aliran shower, ciuman dan sentuhan di tiap jari mereka terus berlanjut. semakin menuntut dan dalam. tergesa-gesa seolah-olah lapar untuk memakan satu sama lain. menelisik lebih bebas di tiap permukaan kulit. desahan nama keduanya saling bersahut gemakan kamar mandi. busa sabun di tubuh keduanya ikut lancarkan tiap tubrukan kulit. mas soonyoung yang staminanya begitu besar, tidak karuan terus menghujam lubang jihoon. sedangkan jihoon yang hasratnya semakin tinggi setelah workout, hanya terus mendesahkan nama mas soonyoung. penyatuan keduanya baru selesai pada dini hari dan berakhir di kasur jihoon. masih tanpa busana, keduanya terbalut selimut, masih saling berpelukan. jihoon yang tidur duluan tidak menyadari hujaman kecup mas soonyoung pada wajahnya— “until i make you mine” bisik soonyoung.
a bit fyi
deck: presentation/ppt (term usually used in some office environment, especially in agency company).
decking: act of making or preparing a presentation.
proof print: use for approval of printed design.
offline activation: general terms of event or any campaign held in physical, offline setting.
