Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-05-09
Words:
1,406
Chapters:
1/1
Kudos:
46
Bookmarks:
2
Hits:
1,485

Ciuman di Bengkel

Summary:

Mungkin hari ini gak sial-sial amat. Seharian seakan dipermainkan oleh semesta. Namun, oleh semesta pula dipertemukan dengan hal yang tak terduga. Dapat dibilang bertemu abang bengkel yang sialnya ganteng, adalah sebuah anugerah.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Anjing. Hari ini anjing. Emang hari sial tentu gak ada di dalam kalender. Tapi, kenapa harus hari ini. kenapa harus sekarang. kenapa saat Taesan baru selesai rapat kepanitian yang kaya anjing itu. Emang Himpunan kontol jam 11 malem baru kelar eval. sepanjang jalan ke arah parkiran Fakultas, Taesan mendengus kesal dengan bibir yang menggerutu. Siapa sih pencetus adanya evaluasi sehabis acara program kerja selesai? Udah gitu divisi acara yang dipegang Taesan kena banyak omongan dan eval sana sini yang disebabkan guest star harus tampil tiga puluh menit lebih lama dari yang seharusnya.

Bukan salah Taesan. Bukan pula salah divisi acara. Ini semua bukan kehendak mereka. Toh mereka juga maunya acara berjalan sesuai dengan rundown yang telah ditetapkan jauh-jauh hari - walaupun seringkali mendapatkan revisi. Salahkan saja pemerintah yang belum becus mengatur lalu lintas. Kepadatan terjadi di jalan raya. Pengguna kendaraan yang tidak mau kalah, terus melaju agar segera sampai tujuan untuk singgah. Kalau jadi anak pejabat sih, Taesan juga maunya jemput mereka pake helikopter supaya terbebas dari hiruk pikuk padatnya Ibukota.

Namun, apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi. Disesali bagaimanapun tidak akan merubah kejadian tersebut. Yasudah. sekarang yang Taesan ingin lakukan hanyalah ingin segera menemukan motornya dan melaju secepat yang ia bisa untuk sampai ke indekos tempatnya tinggal dan merebah lelah hingga lelap.

Sekali lagi, hari sial gak ada di dalam kalender.

Taesan tau siapa yang terakhir kali meminjam motornya. Pasalnya, memang seharian ini motornya digunakan oleh anak-anak logistik untuk mobilitas barang-barang keperluan acara. Tapi, gak sampe abis bensin juga dong. Seingatnya tadi pagi saat berangkat, ia ingat bahwa indikator bensin di motornya masih tersisa tiga batang, dan sekarang ia hanya meratapi jarum yang ia lihat kurang dari satu batang.

Taesan hanya mendengus kesal, ia hanya ingin pulang dengan cepat. Mau tak mau, Taesan melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Berdoa agar motornya tidak mati di tengah perjalanan atau berharap, setidaknya masih ada warkop yang buka untuk menjual bensin eceran, dan ingatkan Taesan untuk memaki Anton besok pagi.

Udara tengah malam dapat menusuk ke kulit yang hanya dilapisi kaos kepanitiaan hari ini. Kaos yang tipis harus bekerja keras melawan dinginnya angin yang berhembus pelan dengan suhu udara yang rendah. Sampai di pertigaan menuju indekos yang Taesan rindukan, motor yang sedang dibawa oleh Taesan mulai ngadat. Berjalan pelan, pelan, pelan, dan akhirnya berhenti total di pinggir jalan yang sunyi.

Lagi, Taesan rasanya ingin teriak kontol yang keras sekarang juga.

Dengan enggan, Taesan turun dari jok motor yang nyaman dan mulai mendorong Beat Street hitam yang digunakannya sejak mahasiswa baru. Sekali lagi, ingatkan Taesan untuk meneriaki anjing kepada Anton esok hari minimal sampai Anton tak kuasa mendengarnya.

Secercah harapan menghiasi hati yang sedang lelah. Taesan melihat cahaya terang benderang memancarkan sinar putih di tepi jalan samping warung kopi. Dengan penuh semangat, Taesan memberikan seluruh tenaga yang masih ia punya untuk mendorong motor sambil membayangkan betapa ia merindu pada empuknya kasur dan air conditioner yang dingin.

Tanpa tau ternyata warkop tersebut telah kosong melompong serta gelap gulita. Secercah cahaya hanyalah sebuah pantulan dari bengkel sebelah. Taesan hanya mengacak-acak rambutnya frustasi. Kesal. Ingin rasanya melampiaskan amarah yang sedari tadi sudah ditahan lekat-lekat.

“Motornya kenapa, Kak?” Terdapat suara dari balik punggungnya. Rupanya seorang laki-laki muda. Dilihat dari pakaian yang memiliki noda oli mengering, sepertinya ia montir yang sedang berjaga di bengkel tanpa ada satu motor pelanggan untuk diperbaiki.

“O-oh, uhm, ini abis bensin.” Goblok. Kenapa pula Taesan malah gugup menjawab pertanyaan dari sang montir. Toh itu hanyalah pertanyaan basa basi. Wajar apabila bertemu manusia yang mendorong motornya seorang diri di tengah malam yang sunyi.

Entah kebaikan apa yang tiba-tiba menghampiri, sang montir tersebut menawarkan kursi untuk Taesan singgahi serta menyuguhi air putih untuk meredakan letih. Mungkin ini merupakan salah satu balasan setelah seharian penuh disuguhi oleh peluh.

Taesan setuju jika kebanyakan orang bilang, apabila kita bertemu dengan pribadi yang seringkali tak pernah berhenti berucap, maka kita akan bisa mengetahui separuh perjalanan hidupnya selama di dunia. Belum ada tiga puluh menit Taesan berada di bengkel tersebut, tapi dia sudah mengetahui asal usul alasan berdirinya bengkel di tepi jalan.

Dari yang Taesan tangkap, montir tersebut bernama Jaehyun. Myung Jaehyun lebih tepatnya. Pelanggan di bengkel seringkali memanggilnya bang Myungjae. Maklum abang-abangan teknik mesin - kebetulan berkuliah di satu kampus yang sama dengan Taesan. Mahasiswa tingkat akhir. Sekarang kerjaannya nyusun skripsi sambil sesekali bantu bokapnya yang punya bengkel ini. Tapi, kok malah jagain bengkel sampe tengah malem gini ya?

Gak tau deh Taesan pusing. Gak bisa mikir. Udah gak ada tenaga buat diajak ngobrol ngalor ngidul gini. Lagian siapa sih yang bakal fokus kalo abang-abangan teknik gak selalu gondrong, kumel, dan dekil? Kenapa si bang Mongje? bang Je? Ini malah keliatan keren dan ganteng banget padahal itu baju udah kecipratan oli di mana-mana.

Taesan cuma bisa ngeliatin gerakan bibirnya yang semangat empat lima buat terus berbicara sambil sesekali senyum buat mastiin kalo Taesan masih sadar dan dengerin dia cerita. Padahal yang dipikiran Taesan saat ini juga adalah, gimana caranya dia bisa menyesap bibir yang sedikit menggelap itu. Efek terlalu sering menghisap nikotin. Taesan sangat penasaran apakah rasanya akan pahit atau justru timbul rasa manis sebab telah habis tiga batang rokok.

Duh. Ngiler.

“Eh?”

“Eh, hah kenapa bang?”

“Itu lo beneran?” beneran? Taesan hanya bergeming. Apa maksud pertanyaan yang barusan diajukan? Dengan dahi yang mengernyit bingung, Taesan mencoba untuk mencerna pertanyaan yang dimaksud oleh Jaehyun.

Tidak mungkin kan semua hal-hal yang sedang Taesan pikirkan saat ini diketahui oleh Jaehun - ya kecuali Taesan mengatakannya tanpa sadar. Atau memang sebenarnya Taesan tanpa sengaja udah keceplosan? Pusing.

Tidak ada tanggapan yang berarti. Lebih tepatnya, Taesan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Situasi apa yang sedang dihadapinya. Yang bisa Taesan lakukan hanya menunduk. Menatap apapun kecuali sosok yang berada di sebelahnya.

Taesan merasakan pergerakan dari sisi sampingnya. Ada tubuh yang mendekat ke arahnya. Lengan yang saling menyentuh dengan helaan nafas yang terasa panas di sisi kirinya. “Do you want to taste my lips?”

Refleks, kepala Taesan mengarah ke samping dan bertemu dengan tatapan intens yang diberikan oleh Jaehyun. Perlahan tapi pasti, Jaehyun mendekatkan wajahnya sambil sesekali memastikan, bahwa Taesan menginginkan hal ini sama besar dengan dirinya.

Wajah Jaehyun sudah berada dekat di depan Taesan. Bergerak sedikit, bibir mereka dapat bersentuhan.

Chups

Jaehyun baru saja mencium Taesan. Bibir itu akhirnya bertemu dengan kenyalnya milik Taesan yang berwarna pink cerah sebab tidak pernah absen untuk diberikan pelembab.

Melihat tidak ada respon yang diterima, Jaehyun menjauhkan bibirnya sambil meminta maaf, “Sorry, kalo ternyata gue salah mengartikan -”

Tolol.

Cuma orang bodoh yang menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dengan secepat kilat, Taesan kembali menyatukan bibir mereka. Canggung. Bingung harus bagaimana Ia memulai. Jadi, Taesan hanya mengecup bibir Jaehyun dan berencana untuk menyudahinya.

Namun, Jaehyun berkehendak lain. Sebelum Taesan menjauh, Jaehyun menyesap bibir Taesan dengan sigap. Melumat dengan perlahan dan hati-hati. Merasa dapat hancur berkeping-keping apabila Jaehyun bertindak dengan kasar dan tergesa-tergesa.

Taesan hanya dapat menerima dan menerima. Membiarkan Jaehyun yang memimpin permainan. Dengan tangan kanan yang memegang pipi Taesan dengan lembut, serta tangan satunya terletak di pinggang Taesan. Membuat Taesan tidak bisa berkutik.

Hisapan demi hisapan kian menguat. Seiring tubuh Taesan direbahkan ke pinggir sofa dengan hati-hati. Tangan Taesan pun bergerak dengan sendirinya, mengarah ke belakang kepala Jaehyun. Direngkuhnya lebih dekat, didekap dengan erat, diremasnya sekuat yang Ia bisa.

Taesan terengah-engah. Mengatur napas hanya dengan bibir yang terbuka tipis. Sontak disambut dengan suka hati oleh Jaehyun. Diraupnya bibir mungil Taesan yang harus bekerja keras agar terbuka dengan lebar. Mengabsen gigi-gigi yang ada di dalamnya. Taesan memiliki gigi yang sangat rapi. Saling membelit lidah, membuat ciuman yang makin lama semakin dalam, semakin menyatukan bilah bibir yang baru bersua.

Pahit.

Rasanya pahit. Bekas-bekas aroma tembakau masih tersisa. Beberapa kali Taesan sempat tersedak. Terbatuk pelan hingga mereka harus beberapa kali berhenti, yang tidak lama kembali dilanjutkan oleh montir - yang sialnya membuat Taesan tidak bisa berpaling.

Mungkin inilah balasan atas semua hal yang telah menimpa Taesan hari ini. Mungkin juga Tuhan sedang berbaik hati. Atau memang menunjukkan kuasa-Nya kepada hamba yang tidak taat ini. Supaya terus ingat.

Setidaknya hari ini gak buruk-buruk amat lah. Haruskah Ia berterima kasih kepada Anton? Karena anak logistik sudah menggunakan motornya hingga kehabisan bahan bakar? Taesan sanggup mendorong motor setiap hari, jika mendapatkan ciuman sebagai imbalan.

Jaehyun memutus tautan mereka. Dengan posisi yang berada di atasnya. Kedua tangan di sisi yang berbeda. Mengukung tubuhnya yang terasa sangat kecil. Napas saling berhembus panas. “Hey… Kita bisa pindah ke tempat yang lebih nyaman. If you want to.

Bisa apa Taesan selain menyatukan kembali kedua bibir mereka.

Notes:

Thank you for reading my writing. Let's catch up w/ me on dnwmzy