Work Text:
Childe akui, dia menginginkan banyak hal. Terlalu banyak sampai tidak terhingga; baik itu mengenai pertarungan, lawan yang sama kuat dengannya, tantangan baru, kepuasan, dan/atau seorang Diluc Ragnvindr . Namun, kontras Childe sungguh tajam, apa yang dia inginkan atas Diluc itu sesuatu yang berbeda dari kejayaan atau keperluan untuk menang.
Berbeda dalam artian tidak sama seperti pertarungan karena Diluc sudah memenuhi kriteria sebagai lawan yang sama kuat, tidak sama dengan tantangan karena Diluc selalu mampu menandinginya, dan tidak sama dengan kepuasan karena Diluc acap kali melayani kompetisi darinya. Berbeda kan? Jelas, sebab──
apa yang sesungguhnya Childe inginkan atas Diluc, tak lain, adalah kegoyahan.
Childe mengenal Diluc dari sebuah pesta organisasi Fatui yang dadakan terjadi. Tempatnya di kediaman Diluc kala itu.
Dengan alunan musik yang memekakan telinga, anggur merah yang membakar tenggorokan, serta para insan yang terlena di lantai dansa, di sana Childe bertemu dengan calon kekasihnya; Diluc Ragnvindr.
Mudah sekali Childe terbuai pada ratna merah Diluc, sampai-sampai dia tidak ingat untuk alasan apa dia ke sana; apakah untuk menaruh waspada terhadap pemilik pesta atau bersenang-senang bersama kerumunan orang? Sama sekali tidak ingat.
Satu-satunya hal yang gamblang di memori adalah saat di mana dia meraih gelas anggur yang tersaji untuk diteguk hingga hilang diri. Sungguh menggetarkan bagaimana alkohol dapat mengambil alih kewarasannya sementara waktu.
Musik berdengung di nadi saat itu, Childe hampir merasa seperti sedang memacu kuda, jantungnya berdebar-debar, pipinya memerah karena panas dari dalam, peluh pun menetes di leher terutama ketika dia mengekori ke mana pun Diluc pergi. Dan, oleh sebab itu, untuk pertama kali dalam seumur hidup, Childe jatuh cinta pada dirinya sendiri.
Dia menjadi senang melupakan fakta bahwa dia adalah Foul Legacy .
Akan tetapi, tolong jangan salah paham. Memeluk identitas sebagai anggota fatui nomor sebelas adalah segala-galanya. Pekerjaan itu serupa darah dalam tubuh, sirkulasi untuk jantung──Childe tidak akan berarti banyak tanpa Fatui, tanpa Foul Legacy. Walau kadang kala itu yang dia rindukan; tidak menjadi apa-apa, tidak menjadi siapa-siapa. Menjalani hidup tanpa beban di pundak, tanpa kewajiban untuk menopang kehidupan.
Pesta malam itu── ditambah dengan eksistensi Diluc ──membawa Childe terayun dalam suasana. Ratna biru kusamnya tidak bisa berhenti memandang bagaimana cara Diluc berbincang dengan orang banyak. Dia sampai penasaran, jika topeng yang Diluc kenakan itu bisa dilepas, akan semanis apa wajahnya? Apakah akan serupa dengan sari bunga? Atau semanis-pahit anggur merah di tangannya?
Perubahan mendadak dalam musik yang mula-mula sendu menjadi penuh energi membuat lamunan Childe runtuh seketika. Terdengar derit lagu dan para insan di sekitar mulai berdansa sesuai vitalitas. Dalam sekejap, pandangan Childe teralihkan dari tempat Diluc berdiri ke kerumunan, lalu ketika kepalanya kembali menoleh, Diluc sudah pergi dari sana.
“Yah,” gumamnya kala itu, “belum juga kenalan.” Tambahnya ditutup dengan meneguk habis sisa anggur merah dari gelasnya.
Karena kerumunan sedang dipenuhi antusias, akhirnya dia memutuskan untuk menyelinap melalui celah-celah ruang yang ada sampai Childe berhasil menemukan dapur, bertemu tatap dengan gelas-gelas kosong berserakan. Seraya mendesah, dia menarik diri ke permukaan dingin, mencoba menenangkan detak jantungnya sekaligus meringankan kepala yang rasanya seperti tengah berputar-putar.
“Kamu nggak papa?”
Mungkin belum dikatakan dengan jelas, tetapi──
Childe mengenal Diluc di dapur ketika pesta sedang huru-hara sekali.
Perangai Diluc tinggi namun tidak lebih tinggi dari Childe. Rambut Diluc bergelombang, cantik dengan warna senada ratna; merah delima . Walau wajahnya kala itu masih ditutup topeng namun, cara dia memandang Childe penuh kecurigaan tampak seperti musang madu; manis .
Belum lagi jari-jemarinya yang lentik sedang membersihkan gelas satu persatu, lalu dipadu suara lembut yang cukup keras hingga mampu mengalahkan alunan musik dari ruang tengah.
Manis sekali.
Childe terbuai pemandangan di depannya. Dia termenung memperhatikan Diluc yang begitu cantik semakin lama dia tatap. Jika denting suara gelas tidak terdengar, mungkin Childe akan memilih tenggelam dalam lautan lamun.
“Iya, nggak papa.” Tuturnya setelah mengangguk, sambil menenangkan diri.
“Yakin?” Nada Diluc ada di antara kekhawatiran dan keraguan hingga membuat Childe tak kuasa menahan diri untuk tersenyum.
“Kalau misal saya ada apa-apa, kamu mau bawa saya ‘pulang’, `kah ?”
Dahi Diluc sempat mengernyit mendengar tanya yang ambigu. Dia putuskan untuk membawa gelas yang sudah bersih untuk diisi dengan air mineral sebelum memberinya kepada pemilik surai oranye tersebut, “minum.”
Senyum Childe tak dapat dihapus dari wajah, dia dengan senang hati menyambut gelas berian Diluc, “terima kasih.”
“Di belakang ada kebun anggur, istirahat di sana──” kalimat Diluc terputus, dia pun berhenti memperhatikan Childe yang tengah menengadah menatap wajahnya dari bawah, “kalau di sini halangi jalan.”
Masuk akal. Ada begitu banyak pelayan rumah yang keluar masuk sejak tadi. Walau Childe sudah mengusahakan yang terbaik untuk menekuk kaki, tetap saja kenyataan dia menghalangi tidak dapat diubah maka kepalanya memanggut, dia berdiri, dan lalu meneguk habis air berian Diluc tadi.
Childe kira dia akan berjalan menuju balkon sendirian setelah itu, ternyata tidak. Diluc ikut melangkah di sampingnya, menemani dia menyambut angin malam yang terasa lembut di kulit. Lampu-lampu kebun anggur bersinar terang dalam taram-temaram, menjadikan bagian belakang rumah Diluc tampak begitu indah untuk dipandang.
Ratna biru kusam lekas menatap ke kejauhan, cahaya kunang-kunang menari di atas dedaunan. Sinar rembulan mengintip di balik awan seakan-akan lengannya mencoba menidurkan malam. Indah, bukan keindahan pertama yang Childe lihat namun keindahan pertama yang bisa Childe rasakan kemurniannya.
“Jadi, … siapa nama kamu?” Suara Childe memelan sebab musik di dalam rumah telah terperangkap di balik pintu belakang.
“Diluc.”
Mendengar namanya saja sudah membuat paru-paru Childe dipenuhi oleh aroma pulang. Senyum kembali mengembang di bibir, puas dapat mengetahui namanya dengan mudah. Ditariknya tubuh ke kursi yang ada dekat mereka sebelum dia ambruk hingga membuat kayu berderit di bawahnya.
Malam lekas menyelimuti mereka berdua kala itu; hanya mereka yang ada di sana . Balon keheningan berkumpul di kepala. Hanya butuh waktu sebentar saja untuk Childe merasakan getaran yang mendidih di pembuluh darah. Pikirannya lambat laun menjadi jernih, mata pun dia pejamkan guna membiarkan angin bertiup melewati poni.
Saat dia kembali membuka mata, Diluc sudah berada di depannya, duduk seraya memperhatikan kebun anggur miliknya. Childe mendapati lekuk rahang serta garis hidung Diluc sebagai sesuatu yang menarik perhatian.
Diluc cantik.
Benar-benar cantik.
“Saya Childe. Salam kenal.”
“Iya, saya tau .” Jawaban Diluc mampu membuat wajah Childe memerah, malu melilit di perut, “semua orang di sini tau siapa kamu.” Mendengar tutur kalimat tambahan hanya membuat wajahnya semakin memerah; rasa-rasanya saat itu dia terdengar seperti orang sombong yang memamerkan nama tersohornya padahal tidak, maksud Childe hanya ingin berkenalan.
“Kalau gitu,” sambil bersenandung, Childe menopang dagu, menatap Diluc. Kali itu, dia salahkan alkohol namun juga bersyukur karena membuatnya menjadi lebih berani untuk berbicara, “senang bertemu denganmu, Luc. Sekarang kita udah saling kenal, boleh nggak dibawa lebih jauh lagi perkenalannya?”
Seperti doa yang jatuh ke langit malam. Diluc akhirnya menoleh, menatap wajah Childe dari balik topeng. Keheningan kembali menyelimuti, namun Childe merasa tidak keberatan karena tidak peduli juga godaan yang dia beri itu dijawab dengan baik atau tidak, sekurang-kurangnya Diluc memandang lurus ke arahnya.
Di bawah pandangan itu, dunia di sekitar seakan runtuh, seakan tidak ada seorang pun yang tersisa selain mereka. Dua hati berdetak, masing-masing karena eksistensi yang lain, saling menatap karena tak ada apapun lagi yang dapat mereka lakukan.
Tidak seorang pun , pikir Childe, yang secantik Diluc .
Sementara Diluc, dia mengumpulkan keberanian untuk bertanya dalam benak, ‘apa yang akan ayah lakukan di posisi ini? Menyetujui lalu mencari kesempatan untuk membunuh atau meningkatkan kewaspadaan?’
Dia tidak tahu bahwa, Childe tidak ingin menjerumuskan dirinya .
Dan, Childe tidak tahu bahwa, Diluc bisa menjerumuskan dia .
Jantung mereka berdebar kencang di tenggorokan. Sangat kencang sampai-sampai Diluc harus menghela napas guna meretakkan sunyi, “lebih jauh? Maksudmu?” dan bertanya atas ajakan penuh teka-teki.
Maksudnya jauh sampai-sampai berat untuk Childe pulang.
Untuk pertama kalinya sejak mulai menjalin hubungan dengan Diluc, Childe tidak ingin kembali ke rumah. Dia ingin selamanya tinggal dengan kekasihnya; di kediaman Diluc, berdua, dikelilingi kebun anggur dan awan teduh .
“Keluarga kamu nunggu, kasihan.” Bisik Diluc di dekat bibir Childe. Lelaki bersurai merah itu tampak bisa menebak bahwa, akan datang satu waktu di mana Childe enggan pulang, bukan karena tidak ingin menemui keluarganya tapi karena dia tidak ingin membuat laporan mengenai perjalanannya ke atasan Fatui.
Lagipula, Childe belum pernah muluk-muluk meminta selain dari merengek ingin menjadi kekasih dari seorang Diluc Ragnvindr. Walau dia tahu, Diluc tidak menerimanya karena cinta, namun dia yakin;
Childe yakin, Diluc akhirnya akan jatuh cinta padanya.
Childe sangat yakin akan hal itu. Bagaimana tidak? Lazimnya Diluc itu hanya terfokus melenyapkan anggota Fatui; bukan yang inti . Dia selalu bekerja malam sampai pagi untuk memastikan wilayah kediamannya serta Mondstadt aman dari segala macam gangguan.
Setiap hari keperluan Diluc itu membantu para ksatria Mondstadt── diam-diam . Dia ada untuk menjaga penduduk, untuk menjadi misteri, dan untuk meneruskan pesan dari mendiang ayah sehingga dia tidak pernah memiliki waktu untuk berpacaran, lebih lagi untuk mengetahui apa itu ‘ kesenangan duniawi ’.
Namun sekarang, setelah akhirnya dia menjalani hubungan asmara dengan Childe── setelah perkenalan mereka dibawa begitu jauh dari garis awal ──Diluc lambat laun berubah menjadi gemar mencium bilah bibir Childe. Senyumnya walau tipis kini sudah tampak lebih cerah, bersinar dalam kegelapan nama yang dia sandang.
Lalu setiap kali Childe berkunjung, Diluc akan menyediakan waktu untuk bertarung, memuaskan hasrat lelaki-nya yang hobi adu kekuatan. Setelah itu, Diluc akan membiarkan dirinya ditiduri oleh Childe sampai pinggangnya sakit, susah jalan.
“Ikut sini sama aku. Sesekali ketemu keluarga aku.” Suara lembut Childe menyentuh ranum Diluc. Dia balas cium dengan lembut seraya melingkarkan tangan di sekeliling pinggang Diluc.
“Aku nggak bisa,” Diluc tidak bergerak. Dia merapatkan diri dengan Childe tanpa membalas dekap lelakinya itu, “ nggak sekarang.” Tambahnya.
Childe tahu, Diluc memiliki kehidupan di tanah kelahirannya. Ada pekerjaan yang Diluc cintai, ada rumah yang Diluc jaga. Untuk itu, Childe tidak akan pernah menarik Diluc menjauh dari sana. Walau dia bersungguh-sungguh ingin Diluc ikut dengannya, tetap bibirnya memilih untuk berpura-pura cemberut saja.
“Kapan dong bisa lama-lama sama kamu? Huh .”
“Selalu ke sini setiap kamu punya waktu. Meski nggak bisa lama, tapi aku nggak akan ke mana-mana.” Janji Diluc. Di sini baru lah dia mengalungkan lengannya di sekitar leher Childe.
Childe tidak kuasa menahan senyum lebar. Dia menarik Diluc lebih dekat padanya, mengeratkan peluk, menundukkan kepala ke lekuk bahu untuk menghirup aroma anggur merah dan membiarkan raksi tersebut memenuhi paru-paru. Childe bahkan menyempatkan diri mengecup leher Diluc, kecupan kecil yang membuat Diluc memiringkan kepala.
“Aku sayang kamu, Luc.” Tutur Childe.
“Iya,” Diluc menempelkan kedua tangan ke dada lelakinya, “sana pulang.” Dia lantas mendorong Childe untuk mundur dengan begitu lembut hingga pelukan terpaksa putus.
Childe masih memasang wajah cemberut, “ nggak dibalas?” Tanyanya, memegangi tangan Diluc yang berada di dada.
“Aku juga.” Ucap Diluc, gengsi.
“Juga apa?”
“Ya itu,” Childe tahu, Diluc sudah mulai menyayanginya walau kalimat itu sulit sekali diucap; hampir tidak pernah , “sana pulang.” Childe mengerti kesulitan Diluc, walau dia sungguh ingin mendengarnya, tetapi dia memilih untuk tidak memaksa.
“Aku bakal kangen kamu.” Enggan sekali memaksa, Childe alih-alih mengucap pengungkapan lain.
“Aku tau .” Diluc bersuara, menarik tangannya dari genggaman tangan Childe dan mundur selangkah.
“Aku bakal ke sini lagi, bakal buru-buru ke sini.”
“Iya, aku tau .”
Ketika Childe benar-benar harus menjauh darinya, itu cukup menyakitkan. Ada sesuatu yang berdenyut di dada Diluc namun, tidak disuarakan bahkan ketika Childe keluar dari pintu rumahnya.
Dia ekori Childe sampai ke ambang teras. Dia pandangi punggung yang akan kembali menghilang dari pandangan. Walau hati masih berat untuk mengungkap sayang atau rindu, setidaknya Diluc tahu sesuatu untuk memberi unjuk rasa yang dia miliki, “hati-hati, Childe.” Demikian dia bersuara, membuat Childe menoleh dan mamerkan deretan giginya yang putih.
“Siap!”
Sial, belum sampai rumah saja, Childe sudah merindukan Diluc.
Seluruh diri Diluc.
Childe memang selalu merindukan Diluc.
Padahal dia sempat ingin menyerah setelah tahu Diluc dipenuhi ambisi untuk menepati janji mendiang ayahnya. Mana lagi, Diluc membenci Fatui sampai-sampai dia selalu berpikiran buruk dan jelek tentangnya dua tahun penuh dulu; dulu sekali, sebelum pacaran .
Tidak ada yang tahu apa yang mungkin Diluc lakukan ketika Childe lengah waktu itu. Mungkin menikamnya dari belakang, mungkin pula meracuninya. Namun, apapun itu, Childe tidak mempermasalahkan. Dia siap apabila dia kelak harus mati di tangan Diluc. Dia tidak peduli, jika itu bisa berarti membuktikan cintanya yang murni.
Sebab kenekatannya itu, Diluc enggan membunuhnya. Ketika dia lihat Childe yang siap mati, hatinya tergerak. Dia jadi berpikir, mungkin dia bisa memperbaiki Childe, mungkin dia bisa membantunya keluar dari Fatui. Mungkin.
Dan, siapa yang sangka hubungan mereka bertahan sampai dua tahun kemudian dari sejak Diluc berpikir demikian? Childe bahkan berhasil meyakinkan Diluc untuk mengambil cuti satu minggu penuh dari pekerjaannya di kedai maupun di Monstadt. Permintaan Childe itu datang demi dapat menghabiskan waktu bersamanya── hanya berdua .
Dan, Diluc senang dia memberi kesempatan itu.
Kehadiran Childe di dalam hidup Diluc benar-benar merubah segalanya. Bukan hanya waktu untuk mengutamakan keinginan diri sendiri yang Diluc tambah, melainkan juga kebutuhan duniawi yang tanpa sadar Diluc miliki.
Semua karena Childe.
Karena keinginan Childe atas dirinya.
Menatap wajah Childe yang berseri-seri setiap pagi setelah semalaman penuh meniduri Diluc berarti lebih dari dunia. Cara Childe menatap Diluc itu seolah-olah dia tengah memegang alam semesta di telapak tangan, seakan-akan dia lah yang sudah mengukir bulan dan menciptakan bintang.
Tatapan Childe masih sama seperti dulu ketika pertama kali bertemu, membuat Diluc ingin merayap ke tulang punggung lelaki-nya itu.
“ Firefly~ ”
Panggilan khusus dari Childe untuk Diluc-nya.
“Apa?”
“Bosan nggak sih kalau kita tarung gitu-gitu aja ?” Tanya Childe sambil menyimpan busur panahnya.
“Hm, nggak juga.” Diluc menuang keyakinan dalam paparannya itu, namun nadanya terdengar kurang meyakinkan, “kenapa? Kamu bosan?”
“Lumayan,” jawab Childe. Ketika dia menyadari ada perubahan pada air wajah Diluc, buru-buru dia memperbaiki jawabannya, “bukan bosan sama kamu loh ! Mana bisa aku bosan sama kamu, nggak , bukan itu! Bosan sama rutinitas tarungnya, karena aku belum kasih unjuk semuanya ke kamu.”
Diluc setia mendengarkan, bersyukur pula karena tidak harus menyeru protes sebab Childe selalu lebih unggul dalam menyadari suasana hatinya, “maksud mu?’
“Aku masih ada rahasia lain, Luc. Mau lihat?”
Air muka Diluc sempat mengerut bingung, “mana?” namun terhapus begitu tanya terlontar.
“Tapi habis itu perasaan kamu jangan berubah, ya?” Tanyanya seraya berjalan ke arah Diluc. Dia raih kedua tangan Diluc dengan permata biru kusamnya memberi pandang harap-harap cemas, “tetap cinta sama aku, ya?”
Sulit untuk Diluc menjawab ketika dia belum pernah sama sekali mengungkap rasanya dalam bentuk kata-kata. Bukan karena dia takut, Diluc tidak takut, hanya saja perasaan yang dia miliki terlalu nyata sehingga dia tidak pernah ragu sedetik pun bahwa, dia benar-benar berakhir mencintai Childe atau bahwa, Childe mencintainya.
Kendati demikian, tetap saja mengucapkan kata-kata itu── mengatakan Diluc akan selalu mencintainya ──terasa seperti sedikit menuntut.
“Iya.”
“Serius?” Mata Childe terbelalak saat dia mendapat jawaban yang cukup membuatnya bahagia.
Diluc memanggutkan kepala dan saat itu juga, kedua tangan Childe jatuh ke pinggang Diluc, menarik tubuhnya mendekat. Sesaat, dia menaruh tatap. Di sana, debaran jantung Childe membara melalui mata, mengajak Diluc yang sudah tidak sabar tahu rahasia lain Childe ikut berdebar jua.
“Jangan ditarik ya ucapannya, kalau nggak nanti aku nangis.” Diluc bisa merasakan detak jantung Childe, hampir menari beriringan dengannya. Jika saja ada hal yang bisa Diluc lakukan untuk menenangkan keraguan Childe maka akan dia segera lakukan, namun tidak ada apapun yang terlintas selain menanti.
Keheningan menyelimuti mereka saat dia menyaksikan perubahan yang perlahan-lahan hadir dari sosok lelakinya. Dengan Diluc masih berada dalam pelukan, bernapas. Childe-nya bertambah tinggi, semakin tinggi, dan menjadi nyaris dua kali lipat lebih tinggi.
Tinggi sekali.
Proposi tubuh Childe pun bertambah besar membuat pelukan terasa menyesakkan, sesak yang mengerikan. Wajahnya ditutup dengan topeng, kuku-kukunya memanjang serupa cakar hewan buas, dadanya luar biasa bidang, dan yang paling buat Diluc terdiam, membelalak adalah kenyataan dia sekarang hanya setinggi pinggang Childe saja.
Tidak ada yang bisa Diluc katakan. Tubuhnya tak lagi bisa dipeluk, kepalanya harus menengadah melihat wajah Childe yang berada jauh di atasnya.
“Ini rahasia lain aku, Luc,” kata-kata Childe memecah keheningan lamunan. Bahkan suaranya saja lebih rendah, lebih berat, tidak seperti suara lembut dan kekanakan Childe yang biasanya, “wujud Foul Legacy. ”
Diluc terlalu tegang untuk memberi respon, dan sebelum dia sempat bersuara atau bertanya, Childe melangkah menjauh. Telapak tangannya menghadirkan eksistensi busur panah yang sesuai dengan ukuran tubuhnya saat ini, membawanya ke kuda-kuda tanda dia siap untuk bertarung, “ayo, Diluc. Lawan aku, atau── … kamu takut? ”
Benar, Diluc takut.
Tetapi bisa kah dia mengakui itu? Ketika baru beberapa detik lalu berniat untuk memberi unjuk kegigihannya tentang cinta?
Diluc tidak dapat menghentikan pertanyaan yang datang. Tidak yakin pula apa yang harus diucapkan maka, dia memutuskan untuk menenangkan diri dan mendesah panjang, “harusnya aku udah nggak kaget. Anggota Fatui memang gila semua.”
“Betul. Aku heran, kenapa mata-mata kayak kamu nggak pernah tau tentang wujud ini?”
“Entah. Aku nggak punya jawaban yang tepat,” Diluc kini mengangkat pedangnya. Setelah debaran jantungnya kembali berdetak selayaknya manusia normal, dia arahkan ujung pedang itu lurus pada Foul Legacy, “ayo.”
Walau wajah Childe tertutup topeng Foul Legacy , Diluc dapat dengan mudah berasumsi bahwa, lelakinya itu tengah tersenyum puas. Bagaimanapun dia telah diciptakan dari darah dan air mata, tenaga yang menderu dan kemampuan yang pandai.
Bertarung selalu menjadi satu-satunya jantung yang membuatnya bertahan hidup, bahkan ketika dia sedang tidak menginginkannya.
Itu semua yang ada dalam diri Childe, sebelum bertemu Diluc.
“Untung kamu cuti seminggu, jadi kamu nggak perlu malu izin buat istirahat setelah kalah nanti, Firefly~ ”
Diluc tidak tersenyum, dia hanya menatapnya dengan heran, “berlaku untukmu juga. Tidak perlu sembunyi untuk coba pulih sendiri.”
Tidak ada satu bagian pun dari diri Childe yang sekarang bisa dia sembunyikan. Childe terlalu terbuka untuk Diluc lihat. Sebab pengetahuan Diluc lah yang membuatnya sadar betapa sering dia diperhatikan sampai-sampai Childe tidak dapat menahan semangatnya. Antusias membara, megah dengan permulaan.
Tidak ada siapapun di sana selain mereka berdua. Hamparan rumput luas, pepohonan bertiup mengikuti siul angin dari Dewa Barbatos. Sejuk, satu-satunya sumber kehangatan hanya dalam dada dan telapak tangan kala senjata mereka dipertaruhkan dalam pertarungan.
Childe membutuhkan Diluc untuk menang dan Diluc melupakan segala lainnya untuk penuhi keinginan Childe untuk menjadi setara.
Sudah dikatakan, Childe menginginkan banyak hal, namun apa yang sesungguhnya dia inginkan adalah kegoyahan Diluc , bukan kesetaraan.
Berulang-ulang kali Childe berhasil melayangkan serangannya hingga mengenai Diluc. Padahal, umumnya dia mengalami kesulitan. Otaknya harus bekerja selama pertarungan berjalan, memikirkan strategi, membuat perhitungan, dan memastikan semua peluang yang ada bisa memberinya keuntungan untuk menjadi lebih unggul.
Sering kali Childe kalah dari lelakinya. Itu alasan mengapa dia selalu berantusias untuk mengajaknya bertarung demi membayar kekalahan, namun hasilnya hanya menambah skor kemenangan Diluc saja. Berbeda sekali dengan saat ini; sekarang Childe tidak perlu berpikir, dia bisa mengenai Diluc sebanyak yang dia mau.
Membuatnya khawatir lantaran Diluc selalu fokus dalam melawannya. Menganggap dia lawan yang kuat, yang harus dikalahkan tetapi tidak sampai ke titik harus dilenyapkan.
Ditariknya busur ke samping tubuh. Childe menarik tubuhnya menjauh dan menyaksikan bagaimana Diluc sudah berpeluh, terengah-engah dengan pedangnya yang sudah turun.
“Kenapa, ..” lisannya terbuka, “.. kamu nggak fokus, Luc?” dan melempar tanya yang jelas saja Childe sadar. Terlalu menyadari perbedaan Diluc . Dia yakin bukan karena Foul Legacy terlalu kuat untuk Diluc, sebab Childe tahu, Diluc itu kuat, dia selalu mampu menandinginya.
“Aku,” menyeka peluh yang jatuh ke dagu dengan punggung tangan, Diluc memulai kalimatnya dengan berusaha berdiri tegak, “kalah.”
Iya, Diluc kalah.
Dia goyah.
Wujud Foul Legacy Childe telah mengacaukan otaknya. Mengobrak-abrik kebiasaan yang bersemayam di dalam sana. Besar dan tinggi Foul Legacy menggerogoti diri, terutama imajinasi tentang; bagaimana bila Childe menyetubuhinya dengan wujud itu .
Akah kah, Diluc bertahan?
Tidak pernah dalam sehari── sebelum bertemu Childe ──Diluc memikirkan hal cabul. Tidak pernah. Dari muda, Diluc sudah diminta untuk berlatih menjadi hebat, berwibawa, dan menyelesaikan setiap tugas dengan sedaya upaya sehingga tidak ada semenit pun dia memikirkan hal-hal kotor seperti itu.
Namun setelah bertemu Childe, dia diajarkan banyak hal; c iuman, mendesah, mengangkang, dan memohon untuk dirinya disetubuhi . Dia akhirnya mengerti, kebutuhan duniawi serta fantasi yang membuat orang-orang menginginkannya. Tetapi, bayangan Foul Legacy mencabik-cabik lubangnya ? Sialan, celananya mulai terasa sesak.
Sementara itu, di dalam pemahaman Childe, Diluc bukan menyerah, dia jelas mengatakan dia kalah tetapi dia belum menyerah, belum ingin berhenti bertanding dengannya. Kelelahan yang buat lengah itu, Childe manfaatkan dengan memukulnya, menggunakan kecepatan luar biasa akibat bantuan elemen Foul Legacy untuk mendapat kesempatan menjatuhkan── meniduri ──Diluc ke rerumputan.
Jika harus kalah, Childe ingin memastikannya jatuh betulan.
Diluc yang terengah-engah tidak sempat menggunakan kekuatan elemennya sama sekali, pun sejak Childe menjadi Foul Legacy , Diluc memang tidak menggunakannya sesering biasanya; pikirannya memang sudah dibuat kacau oleh Childe.
“Sekarang kalah betulan kamu, Luc. Aku nggak terima pengakuan kalah gitu aja , harus jelas.” Tubuh Diluc menegang, mendengar suara yang terdistorsi begitu dekat dengan telinganya.
Suara yang buat gugup.
Diluc gugup sekali, namun dia putuskan untuk diam.
Lama Childe menatap, dia raih pula kedua tangan Diluc dan meletakkan di atas kepala sebelum wajahnya mendekat ke wajah kekasihnya. Kini topeng Foul Legacy menghilang sehingga Diluc dapat melihat surai yang disisir ke belakang, betapa gelap permatanya; diselimuti nafsu serta bahay a.
Bahaya sebab apa yang Diluc pikirkan ada dalam pikiran Childe jua.
“Kamu, ..” saat itu pula, melawan kegelisahan di dada serta di celana, Diluc memberanikan diri berlisan, “.. nggak berpikir untuk melakukan ‘itu’ di sini, kan?”
“Kenapa? Bukannya kamu udah kalah di tempat lain dari tadi?” Ah, Childe memang selalu berhasil menyadarinya, benar-benar penggoda, “tenang aja , Firefly . Kamu nggak akan kedinginan kok di sini.”
Bukan itu kekhawatiran Diluc. Masalahnya ini di luar. Di tengah lapangan hijau, walau matahari sudah mulai terbenam dan besar kemungkinan tidak akan ada lagi orang yang datang atau lewat, tetap saja, Diluc takut, … atau tertantang?
Tidak ada jawaban adalah jawaban. Childe lekas merobek pakaian Diluc tak ubah kertas. Meninggalkan Diluc hanya dengan pakaian dalam hingga Diluc tersentak, lebih lagi udara dingin mulai menerpa kulit, angin sejuk bertiup, menyapu pori-pori. Menggigil Diluc dibuatnya.
“Childe──” Panggil Diluc, berusaha tidak terbata-bata.
“Apa, sayang?” Sahut Childe yang sibuk menaruh perhatian pada wajah Diluc. Iya, mata Childe lurus menatap Diluc, tetapi tangannya? Ah, tangan Childe yang besar itu merayap ke bawah, menarik celana dalam Diluc, membuat kemaluan yang sudah berereksi tegak keluar menyapa sejuk.
“Aku takut ada yang lihat,” jujur Diluc. Pipinya mulai memerah, permatanya menyala-nyala akan antusiasme serta kengerian, “jangan di sini.”
“ Nggak akan ada yang lihat, Luc. Nggak ada siapapun yang aku izinkan lihat kamu,” bersamaan kalimat itu, Childe menarik keluar kemaluannya sendiri, memberi unjuk ereksinya yang baru setengah tegak tetapi sudah hampir serupa lengan Diluc panjangnya. Gila , Diluc sudah bisa menebak betapa tebal kemaluan Childe dalam wujud Foul Legacy ini, “lebih baik khawatir soal hal lain daripada itu.”
Jelas sekarang kekhawatiran Diluc bukan lagi soal tempat umum tetapi tentang imajinasinya sesaat tadi yang akan menjadi kenyataan. Sialan , Diluc ragu dan Childe menyadari keraguan itu.
“Aku bantu kamu persiapkan diri ya? Biar nggak terlalu sakit nanti.”
Pelan Diluc mengangguk, membiarkan jari-jari Childe meluncur ke bawah, ke kemaluannya untuk dibelai lembut. Iya, awalnya lembut. Sentuhan setiap jemari dingin serta cakar yang membahayakan lambat laun berubah menjadi menuntut sehingga punggung Diluc harus melengkung sedikit, kepalanya menengadah, kedua tangannya meremas rumput di atas kepala, sementara kedua kakinya melebar dengan pinggul sedikit terangkat; mengangkangi Childe yang berada tepat di tengah .
“ Mmh── ”
Childe jadi senang pada fakta bahwa, dia adalah Foul Legacy .
Maksudnya, siapa yang bisa menyangka, Diluc akan terlena pada rahasia yang selalu menjadi beban di pundaknya ini? Sebab rasa senang itu, Childe mempercepat belaiannya, perhatiannya dikunci pada leher yang dijenjangkan dengan cantik, pikirannya berkelana bukan tentang rumput yang mungkin mengganggu atau Dewa Barbatos yang menyaksikan, tetapi tentang mengawini, membuahi Diluc jika bisa.
Sebelum sempat mendekati gairah, Childe menutup lubang pipis Diluc dengan ibu jari. Dia gunakan jari-jemari tangan yang lain untuk diludahi sebelum liur tersebut dibaluri tepat ke lubang anal Diluc.
“Jangan keluar dulu.” Pintanya. Namun terdengar seperti titah karena suara distorsi Foul Legacy . Diluc yang biasanya menjawab jadi diam menurut sekarang.
“Pakai jarimu, Luc. Lebarin lubang kamu supaya aku muat nanti.”
Sekali lagi, Diluc menurut. Dia memasukkan jari tengah ke dalam dirinya sendiri sementara Childe menonton. Sungguh memalukan, tentu saja, tetapi itu membuatnya sedikit tenang, terutama karena suara Childe yang setiap dikeluarkan rasanya dia semakin terangsang.
“ Nnh── gini …? ”
“Tambahi satu jari lagi, sayang.”
Kini Diluc menunduk, melihat kemaluannya yang nyaris tenggelam dalam genggaman tangan Childe selagi merintih. Dia turuti pula ujaran Childe, menambahkan jari telunjuk masuk ke dalam lubangnya dan mulai bergerak keluar masuk pelan-pelan.
“ Kurang, .. ” suara manis Diluc terdengar, membuat Childe melebur bersama dinginnya malam yang menyapu kemaluan Diluc bagai peringatan, “ .. kurang basah, Childe. ”
“Basahi lagi kalau gitu, pakai liur mu,” Childe menengadahkan satu tangan di dekat dagu Diluc, “sini.” Pintanya.
Butuh waktu sedikit lebih lama untuk Diluc mengumpulkan saliva dalam mulut, membiarkannya cair, lalu membuangnya ke telapak tangan Childe. Setelah itu, Childe lumuri ke sekitar lubang, menyisakan sedikit untuk digunakan dua jarinya── yang jelas lebih besar dari jari Diluc ──masuk ke dalam.
Saat itu juga, Diluc menggeliat melawan jari-jemari yang hati-hati menjelajah. Dia tahu, Childe begitu waspada. Lelakinya pasti tak ingin melukai bagian dinding anal dengan kuku secara tak sengaja, namun bukan itu yang Diluc takuti sebenarnya. Dia takut tidak bisa menahan orgasmenya karena sekarang, dua jari Childe menusuk-nusuk ke dalam, mencoba menemukan sesuatu yang membuatnya kewalahan.
“ Nnh .. di situ .. di situ, Childe── mmh .. ”
Benar-benar kewalahan. Erangannya tak tertahan. Setiap dorongan jari-jemari Childe mengisi ruang dalam lubangnya, dia bahkan tidak butuh jarinya sendiri tetap di dalam sehingga dia tarik keluar dan membiarkan Childe menambahkan satu jari lagi ke sana.
Semakin Diluc terlena, semakin Childe puas melihatnya. Desahan teralun, tubuh Diluc terus menggeliat. Jari-jemari kaki sudah menukik ke dalam dan ketika Childe tiba-tiba meringkukkan tiga jarinya di dalam lubang Diluc, menekan bagian prostat yang tentunya sangat sensitif, Childe membuka ibu jarinya, membiarkan Diluc melepas ejakulasi hingga menggenang di perut sendiri.
Seksi.
“ Ahh .. Childe── hh~ ” Desah Diluc, meremas rumput, merasakan kemaluannya berkedut-kedut.
“Aku di sini, sayang,” papar Childe, sambil menarik jari-jemarinya keluar dari lubang Diluc, “enak?” Tanya datang. Seperti biasa, Childe memang selalu bertanya apakah Diluc merasa enak atau nikmat atau kurang, dan Diluc akan selalu menjawab, mengangguk. Untuk semua hal baru yang diterima dari Childe, tidak ada yang tidak enak. Semuanya enak, buat Diluc ketagihan.
Dipegangnya kedua pinggul Diluc selepas itu. Childe letakkan ereksinya yang sudah sepenuhnya keras── karena desahan serta ekspresi wajah Diluc ──di atas perut, tepat di samping kemaluan Diluc.
“Bakal lebih enak lagi habis ini,” jari telunjuk menyentuh bagian bawah ulu hati Diluc, tempat di mana ujung kemaluannya berada, “lihat, Luc. Sedalam ini? Siap nggak kamu?”
Jelas tidak. Kelopak mata Diluc membesar saat itu juga, memperhatikan ereksi yang panjangnya gila-gilaan. Dia tidak yakin, takut lebih tepatnya. Sangat takut sampai dia mampu bersumpah ada hawa dingin lain yang datang selain dari angin malam menyapu kulit.
Kendati demikian, mampu kah Diluc menolak? Kenikmatan praktis dari Childe yang selalu membuat indranya semakin kuat?
“Kayaknya nggak akan bisa masuk semua,” Diluc bersuara sekaligus merubah posisi, menempatkan diri di atas pangkuan Childe seraya menghadap ke arahnya, “setengahnya bisa, tapi pelan-pelan. Aku nggak mau mati.”
“Kamu nggak akan mati karena ini, Firefly .” Bersamaan dengan kedua tangan Childe mencengkeram masing-masing pinggang Diluc, Diluc mengangkat tubuh, berdiri lebih tepatnya. Dia sejajarkan kemaluan Childe tepat di bawahnya dengan satu tangan.
“Pelan-pelan.” Childe memperingati, walau sebenarnya tidak perlu, sebab itu kata-kata Diluc tadi, pun sebab Diluc yang merasakan kemaluan lelakinya semakin selaras dengan pintu masuk jadi menegang, takut ingin turun untuk dimasukkan ke dalam.
Ah, melihat ketakutan berbinar di ratna merah Diluc membuat jantung Childe semakin berdebar. Rasanya sekarang yang ada dalam diri Childe, yang membuatnya bersemangat bukan lagi pertarungan tetapi ketakutan Diluc karena dirinya.
Childe menyibak surai merah Diluc ke samping leher guna memperlihatkan sebelah sisi wajahnya. Tangan yang sama lekas turun untuk meremas pantat, “aku minta pelan-pelan,” katanya. Bukan hanya remasannya saja yang menyengat, suara terdistorsi Childe juga menyengat; semakin menyengat telinga , “ bukan berhenti.”
Dengan bunyi logam lembut beradu di antara jari-jemari, Childe kini meremas setiap pipi pantat Diluc, mengangkatnya sedikit, melebarkan lubangnya lalu membantu menurunkan tubuhnya perlahan-lahan.
Sudah sangat pelan tetapi tetap lubang Diluc terasa seperti dirobek kemaluan Childe. Dan Childe bersumpah, dia bisa merasakan otot liang Diluc meregang, menyesuaikan diameter tegaknya. Diusapnya bahu Diluc dengan meyakinkan, memberinya senyum lembut guna membantu Diluc rileks, namun gagal, Diluc bahkan tidak mampu melihatnya. Matanya terpejam erat, kepalanya menunduk, kedua tangannya masing-masing mencengkeram pundak Childe yang berjubah besi itu, dan bibir bawahnya digigit guna menahan perih.
Sangat perih sampai-sampai ada air mata yang jatuh dari sudut kelopak Diluc.
“Sakit──” ungkapnya. Baru ujung saja sudah membuatnya kesakitan. Pintu masuknya berasa ditembus sesuatu yang tidak manusiawi, “ ah .. ── hh! ”
“Aku tau ,” ucap Childe, masih mencoba meyakinkan. Tetapi Diluc tahu, itu bohong. Bagaimana bisa Childe tahu, kalau selama ini saja selalu Diluc yang menerima? Childe tidak tahu rasa sakitnya, sama sekali tidak. Jika tahu, dia tidak akan tetap mencoba memasukkan seluruh bagian ujungnya ke dalam. Dia tidak akan membuatnya mengerang karena kebesaran itu.
“ Haakhh──!! ” Ringisan teralun. Diluc sudah berjuang mengatur napas dari rasa kenyang hanya dengan ujung kemaluan lelakinya saja. Entah bagaimana dia akan menangani sisanya, yang jelas, dia sangat kesakitan sekarang sekaligus bersyukur, Childe membiarkannya menyesuaikan diri selama beberapa saat.
Sementara untuk Childe, dia menyadari ada hal lain tumbuh dalam diri selain keinginan untuk melihat Diluc lebih ketakutan. Dia ingin terus menatap air mata yang jatuh membasahi pipi, mendengar Diluc meringis nyaris menjerit, dan merasakan tubuhnya gemetar karena rasa sakit.
Dia ingin semangat baru; semangat yang buat Childe merasakan hidup, jauh lebih hidup dari sebelum memperkenalkan Foul Legacy pada Diluc .
“Jangan──! Childe, jangan … gerak dulu,” pinta Diluc begitu kedua tangan Childe kembali dari pantat ke pinggulnya, “aku nggak yakin bisa tahan kalau kamu gerak sekarang.” Tambahnya.
Melalui cahaya bulan yang bersinar langsung ke tempat mereka, bayangan Foul Legacy menjulang ke atas tubuh Diluc seolah-olah tengah menelan. Dipandangnya wajah Childe saat itu jua, dipujanya ratna yang memiliki kilau ungu di balik biru laut yang selama ini Diluc kenal, diterimanya senyum kecil tersungging di bibir, seperti biasa.
Dua jantung kini berdebar-debar, satu karena gairah membara akibat keinginan untuk membuat tangisan, sementara yang lain dipenuhi hasrat karena ukuran yang jauh lebih besar.
“Aku bukan mau gerak, Luc.”
“Terus?”
Tanpa sepatah kata pun, Childe menurunkan pinggul Diluc ke bawah, membuat Diluc menelan seperempat bagian dari kemaluannya hingga tenggelam ke perut. Iya, Diluc merasakannya mengisi perut. Air matanya langsung mengalir deras, terlalu dalam, kemaluan Childe masuk terlalu dalam padahal setengah saja belum.
“ A ── AAKHhh! Ch .. CHILDE .. !! ”
Jeritan Diluc disertai dengan napas yang memberat. Rasanya terlalu nikmat, namun sangat menyakitkan. Kepalanya dalam sekejap menengadah, matanya berputar ke atas, selagi itu Childe memperhatikan; perhatiannya jatuh ke perut Diluc yang menonjolkan besar kemaluannya .
Jelas tangan Childe tidak tinggal diam melihat itu. Dia mengusapnya dengan jari-jemari sebelum menekannya dengan telapak tangan. Pelan, tetapi tetap membuat Diluc tersedak desahan sendiri.
“ Sakit! Hh Childe .. ──! Penuh, perut aku penuh … ” Diraihnya tangan Childe untuk digenggam dengan gemetar, wajahnya kembali disejajarkan menatap wajah Childe. Mata Diluc sayu seolah memohon untuk Childe berhenti, namun sama sekali tidak membuat Childe ingin berhenti, justru membuat Childe menambahkan tekanan, menekan tonjolan kemaluan pada datarnya perut Diluc secara kasar.
Karena itu, Diluc mencapai klimaks keduanya. Dia mengejang di sekitar kemaluan Childe, kembali menengadahkan kepala pula lantas terisak ke langit malam karena rasa sakit serta nikmat yang luar biasa.
Childe gila menyaksikannya.
Gila melihat Diluc menangis karenanya. Gila karena tidak dapat berhenti menekan tonjolan kemaluannya sendiri sampai kemaluan Diluc berhenti menangisi ejakulasi, yang sekarang dilanjut air pipis.
“Sampai pipis kamu, Luc. Seenak itu?”
Sesakit itu.
Diluc tak mampu menjawab, kepalanya penuh akan stimulasi berlebih yang diterima lubangnya. Lebih lagi ketika Childe mulai mencengkeram masing-masing pinggul Diluc, menggerakkannya naik turun, membuat kemaluannya keluar masuk, dan menggunakannya seperti selongsong kemaluan; lubangnya dimanfaatkan hanya untuk penisnya, penis Childe seorang .
Semakin bergerak, semakin Diluc menangis. Dia berulang kali meminta Childe berhenti, kedua tangan Diluc sudah sama-sama menopang diri dengan menggenggam pergelangan tangan Childe, tetapi tidak, alih-alih Childe menjadi semakin cepat. Genggaman pun melemah, Diluc bagai kehilangan tenaganya, sementara Childe semakin antusias, ditelan euphoria pemandangan di hadapannya, kehangatan di kemaluannya.
“ Aku mau keluar lagi,... berhenti dulu aah── .. Childe hhaa haah .. ! ”
Dengan seperempat kemaluan Childe, Diluc mencapai klimaks ketiganya tatkala Childe bergerak lebih cepat. Semburan cairan putih keluar dari penis Diluc, benang-benang putih ejakulasi yang mulai cair terhambur berantakan bersamaan geraman Childe yang berat.
“Aku belum masuk setengahnya, Luc── hh,” kini Diluc ditiduri kembali ke atas rumput. Childe menjulang kembali ke atas Diluc tanpa menarik keluar sedikit pun batang kemaluannya, “apa aku kurang bikin lubangmu lebar?” Dorongan Childe menjadi dangkal, hanya dengan gerakan ini, Diluc merasa seluruh tubuhnya ikut bergoyang sekeras hantaman demi hantaman yang datang.
“ Haa aah bukan── bukan Childe nnh ..” tangis Diluc masih ada, terisak-isak. Bagian bawah kelopak matanya memerah sembab, bulu matanya basah total, pipinya pun memanas, “ kamu kebesaran. Aku hiks .. udah bilang── nggak muat… haa aah Childe.. ”
Sialan.
Sejak kapan Childe jadi semakin terangsang karena tangisan Diluc?
Sejak kapan Diluc secengeng ini?
Cantik sekali. Merdu sekali. Childe tidak kuasa, dia gerakkan pinggulnya lebih cepat, mendorong dirinya ke dalam diri Diluc sampai ke titik di mana Diluc hampir bisa merasakannya mentok di dalam.
Setiap dorongan terasa sakit, dia yakin bagian dalamnya memar karena kemaluan Childe. Nyeri pun mulai bersemi selagi tubuhnya terus bergoyang cepat.
“Haah … haah, kamu .. cantik banget, Luc.”
“ Hiks Childe── Childe .. hh .. aah ahhh~ ”
Tamparan antar logam serta kulit semakin lantang terdengar, menggema di tengah-tengah lapangan hijau. Ketika Childe menarik kemaluannya keluar hampir seluruhnya hanya untuk didorong masuk kembali, hampir mendekati setengah panjangnya, Diluc langsung berteriak.
Tangisnya benar-benar pecah. Tenggorokannya jadi sakit. Kakinya lemas.
Haus rasanya, tetapi jangankan meminta minum, untuk lanjut mendesahkan nama Childe saja sudah tidak mampu. Sekarang ini, Diluc hanya bisa membuka mulutnya, membuat vokal a besar, dan membiarkan lubangnya disetubuhi kemaluan besar Childe.
“ Aah, Luc … Diluc~ ” Giliran Childe menggeram, di samping telinga Diluc, sama sekali tidak membantu.
Diluc jadi ingin bersuara tetapi satu-satunya yang bisa dia suarakan sekarang adalah kata maaf untuk mendiang ayahnya; maaf karena sudah jatuh hati pada lelaki yang semestinya menjadi musuh, maaf karena sudah goyah pada lelaki yang seharusnya binasa, maaf, maaf, maaf.
Maaf, Diluc sayang sekali Childe, suka sekali Foul Legacy mengawininya.
Childe kini memegang satu paha bagian dalam Diluc agar terus mengangkang untuknya, sementara tangan lain berada di samping kepala Diluc guna menopang tubuh yang kian turun, hampir menghimpit Diluc.
Kedekatan seperti itu, Diluc manfaatkan dengan baik. Dia lingkari leher Childe dengan lengannya, dia tancapkan kuku-kukunya ke punggung Childe yang tertutup logam. Tidak apa-apa tidak bisa mencakar atau memberi tanda, toh satu-satunya yang bisa Diluc pikirkan sekarang hanya lah kemaluan Childe di dalam lubangnya.
Memikirkan betapa kemaluan itu bisa masuk dan keluar dengan mudah sekarang, walau masih terasa besar di dalam.
Tonjolan yang meregangkan kulit memberi unjuk bahwa, Diluc tidak akan mampu berhenti menangis. Setiap hantaman yang datang terasa semakin dalam, semakin mengacak-ngacak isi perutnya.
Childe kini memejamkan mata, Diluc pun sama. Peluh mereka menetes, terutama Diluc yang merasa setiap bagian tubuhnya seperti terbakar. Pada kelopak mata, punggung, isi perut, dan terakhir lubang.
“Enak banget lubang kamu, Luc. Aku nggak mau berhenti.”
Diluc hampir tidak dapat memproses apa yang Childe katakan, dia sudah terlalu mabuk dengan kemaluan Childe hingga dia tidak dapat merasakan dirinya sendiri mengeluarkan air mani selanjutnya. Dia bahkan samar-samar mendengar suara erangannya sendiri, jelas Diluc dibuat bodoh oleh Childe.
“Aku juga,..” katanya asal, “ aku mau dimentokin terus sama kamu.. ”
Itu dia, kegoyahan Diluc.
Childe pun goyah jadinya. Dia peluk tubuh Diluc erat-erat saat itu juga, dia tekan pinggulnya sendiri ke pinggul Diluc yang sudah terangkat tinggi. Dia bergerak, mengawini lubang Diluc dengan kasar. Dia buat pandangan Diluc kabur dengan air mata sekaligus putih kenikmatan. Dan ketika dia hampir mencapai batasnya, satu tangan dia meraih bagian belakang kepala Diluc untuk diremas sementara tangan lain mengeratkan peluk di lekuk punggung.
“ Mmhh ── !! ” Diluc mengeratkan dekapannya pada tubuh Childe selagi bibirnya dibungkam dalam ciuman. Selama itu, Childe menekan setengah kemaluannya ke dalam lubang Diluc dan mengeluarkan spermanya banyak-banyak.
Sebab rasa penuh yang tiba-tiba dan tautan bibir yang menuntut, pipis Diluc keluar untuk kali kedua. Bening, cair, dan banyak. Keduanya sama hangat, nyaris ke panas. Isi dalam perut Diluc hangat oleh benih Childe. Luar perut Diluc, di atas tonjolan kemaluan, hangat oleh cairan pipis karena Childe.
Sayangnya Diluc tidak menyadari itu , yang dia sadari adalah sperma Childe terlalu banyak sampai bocor keluar dari lubangnya.
“ Haah, sayaang. Kamu enak banget,” puji Childe, cengkeramannya di belakang kepala Diluc mengendur, ciuman pun terputus. Begitu dorongannya melambat dan berhenti, namun dia tetap berada di dalam tubuh Diluc, hampir ambruk, dia mengaku, “ aku sayang kamu, Firefly~ ”
Tidak tahu bagaimana menanggapinya, Diluc membuang muka, menyeka air matanya sendiri yang sebagian sudah mengering, sisanya masih basah dan tidak mau berhenti mengalir.
“Aku mau pulang.” Pintanya.
Childe tersenyum ceria, senyum menanggapi permintaan lucu dari lelakinya. Tetapi bukan menjawab, dia justru mencium sisi leher Diluc, memeluknya dekat sampai mampu dia angkat untuk digendong kala dia berdiri, “pulang kayak gini, boleh?”
“Aku telanjang, aku nggak mau pulang ada yang lihat aku begini.”
“Aku peluk, aku tutup juga nanti pakai jubah aku. Nggak akan ada yang lihat kamu, tapi,..”
“Tapi?”
“Bilang aku sayang kamu dulu coba ke aku. Dari awal kita pacaran, kamu belum pernah bilang itu. Sekarang nggak mau bilang juga?”
Diluc menjauhi tubuhnya, berpegangan pada kedua bahu Childe, lalu menatap wajahnya, “memang semua ini kurang jelas?”
Jelas.
Jelas-jelas Diluc sudah benar-benar jatuh cinta sekarang. Saat ini juga.
“Harus.” Disingkirkannya poni Diluc dari wajahnya, membuat Diluc mengambil waktu, mengatur napas, dan membiarkan Childe mencium pipinya.
“Aku sayang kamu.”
Pelan sekali Diluc bersuara, seperti berbisik ke dirinya sendiri. Habis, bagaimana bisa dia dengan lantang mengakui perasaannya? Sudah dibuat kacau seperti ini, lalu ditatap dengan mata biru kusam yang biasa dia lihat, ditambah kemaluan Childe masih di dalam. Diluc benar-benar tidak kuasa.
“Aku nggak denger.”
Umumnya Childe tidak akan memaksa, namun kali ini, dia benar-benar ingin mendengarnya, dan Diluc tidak bisa selalu meninggikan gengsinya, kan? Dia mencintai Childe, itu sudah pasti.
Childe berarti banyak untuk Fatui, memang. Dan sekarang, untuk Diluc Ragnvindr. Berarti dalam membuatnya menangis, sakit, lemas, dan pipis-pipis. Gila jika masih memberi makan gengsinya sendiri.
“Aku sayang kamu, Childe.”
Tersenyum lah Childe padanya. Senyum bahagia atas pengakuan Diluc.
“Aku juga! Aku juga sayang banget sama kamu, Firefly~ sampai di motel ronde dua ya?”
Seluruh situasi ini jelas memperkuat perasaan mereka berdua. Sial, walau sakit seperti akan mati, Diluc tidak bisa mengatakan tidak. Kenyataannya, Childe tidak perlu diperbaiki sekarang, mungkin jika perlu, Diluc justru ingin berterima kasih pada Fatui; terima kasih karena sudah mengizinkan Childe memiliki Foul Legacy .
“ Firefly! Kangen. Aku kangen banget sama kamu.”
Dua bulan setelah ‘itu’ mereka baru bertemu lagi. Seperti biasa, Childe mengunjungi rumah Diluc, kali ini dengan pakaian yang basah kuyup sampai-sampai Diluc menghela napas melihatnya.
“Ih serius kamu mau ngelihatin aku aja ? Nggak mau balas, aku kangen kamu juga, gitu?” Tanya Childe, cemberut dengan suara kekanak-kanakan.
Diluc lantas mendongakkan kepala, melihat wajahnya. Dia bergerak mendekat, meraih bagian terluar pakaian Childe untuk membantunya menanggalkan, “iya, aku kangen juga.” Lebih dari segalanya, Diluc merindukannya. Dia beri pakaian basah itu ke salah satu pelayan rumah sebelum meraih handuk dari pelayan lain untuk kemudian diberi kepada Childe.
“Siapa? Siapa yang kamu buat kamu kangen?” Sesaat, Diluc menatapnya. Di sana lah , perasaan itu membara, membuat dia tahu, Childe mengerti jelas siapa yang dia maksud. Dan Childe yang membalas tatapan Diluc bisa merasakan detak jantungnya sendiri.
Bagaimana bisa setiap bertemu Diluc, rasanya dia dibuat jatuh cinta lagi dan lagi?
“Aku ya? Aku yang buat kamu kangen?” Dengan menarik Diluc ke dalam pelukannya. Keheningan lantas menyelimuti mereka berdua. Dalam sekejap, beban kehampaan yang dua bulan ini Childe tanggung menguap. Hatinya telah tenang, perasaannya damai, dan dia akhirnya benar-benar memiliki Diluc.
Dilucnya yang cantik.
“Mandi, habis itu makan malam. Aku udah siapkan semua.” Diluc berujar setelah membalas pelukan Childe.
“Terus habis itu rencana kita apa?” Childe tidak dapat menghentikan kalimat tanyanya.
“Istirahat, kamu pasti lelah kan?”
Mendengar itu membuat Childe mengerutkan bibir. Memberi unjuk bahwa, itu bukan hal yang tepat untuk Diluc sarankan, tetapi Diluc tidak bisa memikirkan hal lain; jikalau ada hal lain, sudah jelas itu sesuatu yang akan merenggut lebih banyak tenaga Childe.
“Tapi aku nggak mau langsung istirahat. Aku mau berduaan, kencan, pacaran, atau apa gitu. Bakal lama lagi ketemu kamu, masa pas ketemu cuma istirahat?” Protesnya. Diluc menyadari ada sedikit kesedihan di matanya yang buat dada Diluc terasa sesak.
“Kalau gitu,” maka bersuara lah Diluc untuk membenarkan sarannya. Ditatapnya mata yang indah, yang acap kali dipenuhi dengan begitu banyak emosi, dan didekatkannya bibir ke bibir penggoda, “ Foul Legacy lagi?”
“Ah, aku cinta kamu, Luc.”
“Aku mencintai mu juga.”
Biar saja tenaga Childe dikuras untuk menjadi Foul Legacy , itu yang Diluc butuhkan sekarang. Tidak perlu ditahan, tidak perlu disingkirkan. Dia tahu, dia butuh.
