Work Text:
“Sayang, sudah makan?” tanya lelaki dengan nama panggilan Luke itu kepada suaminya dengan lembut. Ia merangkul pundak pria itu, sedangkan tangannya yang lain mengusapi perut Joss yang membuncit.
“Belum.” Joss menjawab tanpa merasa perlu menatap sang suami dengan tangan sibuk mengaduk secangkir kopi yang menjadi sumber kafeinnya di pagi hari. Padahal, Luke sudah menyiapkan sarapan yang sesuai dengan anjuran dokter untuk memenuhi asupan gizi Joss. Semenjak ia hamil, memang Luke memberikan jauh lebih banyak perhatian dari sebelumnya, bahkan pada hal-hal kecil.
Luke menatap lekat sosok laki-laki yang tengah hamil itu sembari terus mengusap perutnya. “Kenapa belum?” Sempat ingin ditanyakannya perihal kopi yang kurang dianjurkan untuk Joss konsumsi selama hamil, tetapi ia tidak mau memulai keributan di pagi hari.
“Kenapa itu jadi urusanmu, Phi?”
“Sayang, Phi ini suamimu,” ujar Luke lembut dan penuh kasih sayang. Ia paham betul bagaimana seseorang yang tengah mengandung dapat menjadi sensitif. Joss mungkin sedang mengalami hal tersebut, pikirnya.
Satu tangan Luke berpindah, mengelus rambut Joss untuk kemudian ditepis begitu saja.
Lelaki hamil itu mendengus, lalu melangkah pergi membawa kopinya ke ruang tengah.
Luke hanya dapat menghela napas. Setelah bertahun-tahun, nyatanya Luke kian menikmati tiap detik yang ia habiskan bersama Joss sejak mereka memutuskan untuk tinggal bersama. Bukan keputusan yang mudah, terutama jika mengingat bahwa karier Joss sebagai petinju berada di puncaknya pada saat itu.
Ini merupakan kehamilan Joss yang kedua dan ia sama tidak acuhnya dengan saat ia mengandung buah hati mereka yang pertama, Kira.
Kehamilan pertama Joss pun bukanlah sesuatu yang disengaja. Sebagai petinju andal, ia sudah menyabet beberapa sabuk kemenangan dari berbagai macam kejuaraan. Kariernya cemerlang, didukung dengan bakatnya yang menonjol dibandingkan dengan petinju lain seusianya. Ia juga mendapat gelar sebagai juara dunia tinju kelas menengah pada puncak kariernya di usia muda. Sejak awal karier profesional Joss sebagai petinju, Luke sudah mengamati perjalanan hidupnya sebagai rekan bisnis.
Melihat Joss di ruang tengah, Luke mengikuti laki-laki hamil itu dan memutuskan untuk duduk di sampingnya. Ia tidak mengucapkan apa-apa, hanya memperhatikan tayangan televisi yang ada di depan mata, sesekali melirik ke arah Joss dan mengamatinya.
“Mau apa Phi di sini?” tanya Joss ketus.
“Temani kamu, Sayang.”
Joss menghela napas berat. Ia melirik ke arah Luke dari sudut matanya seraya menyandarkan punggung pada sofa. “Nggak usah repot. Mending Phi urus Kira aja sana. Aku bisa sendiri kok di sini.”
Beberapa hal di hidup Joss berubah, tetapi beberapa hal tidak. Beberapa bagian dari hidupnya (masih) menjadi penyesalan belaka.
∘ ∘ ∘
Tepat di malam Joss mendapatkan gelar sebagai seorang juara dunia tinju, ia minum terlalu banyak. Ia tidak bisa berpikir jernih sehingga ia meracau sepanjang perjalanan dari rooftop tempat dilangsungkannya pesta perayaan kemenangan petinju itu sampai ke kamar hotel tempatnya dan Luke menginap.
Luke yang menemani Joss membantunya masuk ke kamar mengingat Joss perlu cukup istirahat sebelum mengejar jadwal penerbangan untuk pulang di keesokan paginya.
“Phi,” kata Joss sembari mengalungkan lengan di leher lelaki yang berusia lebih tua darinya itu. Wajahnya sedikit menunjukkan rona merah pengaruh dari alkohol yang diminumnya selama berada di pesta.
Luke menopang tubuh atlet itu, menahannya agar tidak jatuh karena tubuh yang sempoyongan. “J-Joss? Ada apa?” Sempat bingung, Luke lantas menyadari bagaimana tangan Joss menyentuh dan mengusapi area pribadinya dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar. Bukannya melawan, ia justru membiarkan dirinya menjadi tempat Joss melampiaskan segala hal yang tengah mengusik pikiran.
Perlahan, kancing kemeja Luke dilepas satu per satu. Pakaian itu kemudian dilempar sembarangan oleh Joss, mengekspos tubuh Luke dan pahatan indahnya. “Tunggu, Joss!” Ucapan Luke tidak digubris sama sekali. Apa pun yang tengah Joss lakukan, ia tidak bisa menyangkal bahwa ia menikmatinya.
“Jangan melawan.”
Dengan santai, Joss berlutut untuk melepas gesper dan resleting celana Luke. “Aku bisa saja meninju hidungmu sampai retak kalau kau berani melawanku, Phi.”
Tentu Luke tidak mau bermasalah dengan atlet yang membawa nama baik perusahaan miliknya. Ia mengikuti permainan Joss, membiarkan petinju itu melakukan semua yang dimau.
Beberapa jam berikutnya dihabiskan oleh Joss dengan memuaskan hasrat diri, juga memuaskan Luke yang berakhir dengan semburan benih dalam rahimnya. Karena mabuk, Joss hanya dapat memaki Luke pada keesokan hari setelah ia menyadari keadaan keduanya yang sedang telanjang bulat di bawah selimut.
∘ ∘ ∘
Waktu pun berlalu. Joss tidak menyadari kehamilannya sampai ia merasakan kesulitan selama latihan. Butuh waktu selama tiga bulan hingga Joss memutuskan untuk menemui dokter pribadinya dan menceritakan kesulitan yang ia alami.
Alih-alih menjaga nama baik Joss, dokter itu justru memberikan berita pada media ternama bahwa petinju berbakat yang banyak dibanggakan orang itu hamil tanpa mempunyai pasangan.
Guna menjaga nama baik diri dan keluarganya, Joss menemui Luke dan meminta pertanggungjawaban. Ia tidak, atau tepatnya tidak ingin mengakui, bahwa dirinya memiliki rasa pada lelaki itu. Joss hanya butuh seseorang yang bisa diakui di mata publik sebagai suaminya yang sah.
Beruntung, Luke sama sekali tidak keberatan karena sebenarnya, Luke tertarik pada Joss sudah sejak lama. Menjadi suami Joss tentu merupakan salah satu impiannya yang terwujud secara nyata.
∘ ∘ ∘
Joss tengah berbaring di kasur, di kediaman keluarga kecil yang ia bangun-secara terpaksa-dengan Luke. Ia tidak mengenakan apa pun kecuali sehelai kain tipis yang membentang menutupi perut hingga selangkangan. Matanya melihat sekeliling mendapati keberadaan sang suami, Kira, dan seorang dokter yang akan membantu proses persalinan anaknya. “MMMHH SSHHH …” ringisnya akibat kontraksi.
Mantan petinju itu sempat kukuh hanya ingin melahirkan didampingi oleh Luke, tetapi suaminya justru tetap membuat janji dengan seorang dokter kandungan yang sudah dikenal berpengalaman.
Tentu, Luke melakukan itu karena semata tidak ingin main-main dan hanya mau memberikan yang terbaik bagi Joss.
Kelahiran Kira dulu juga ditangani oleh tenaga medis profesional. Bedanya, pada saat itu, keduanya tengah berbulan madu di luar negeri sehingga dapat dengan mudah terhindar dari awak media.
Iya, home birth pun sekarang Joss pilih karena alasan privasi.
Luke memberikan dokter itu beberapa buah handuk yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Ia duduk di samping tempat tidur sembari memangku Kira yang menggenggam tangan Joss.
“Daddy ngga akan kenapa-napa, kan? Daddy yang kuat, ya? Daddy Kira ga mungkin lemah,” ujar bocah berusia lima tahun itu memberi semangat pada Joss yang tengah kepayahan mengatur napas.
Sementara itu, Luke memilih tidak mengatakan apa-apa, semata untuk menghindari kemarahan Joss perkara perut yang sudah besar dan sakit yang mendera tubuh sang mantan atlet.
Terlalu sibuk dengan rasa nyeri, Joss mengabaikan kata-kata Kira begitu saja. Ia menghela napas kasar, kemudian melepas genggaman tangan Kira agar anak tidak menjadi pelampiasan rasa sakitnya sebab perutnya kembali mengencang karena kontraksi. “SSSSHHH AAAAARGHH, Dokter!” Keningnya basah oleh keringat, tangannya meremas seprai kuat-kuat.
Pandangan Luke terfokus pada Joss yang melepaskan tangan Kira dan beralih untuk meremas seprai dengan sekuat tenaga. Ia yakin tenaga yang Joss kerahkan itu dapat mematahkan barang dua atau lebih jari jika tangannya yang menggantikan seprai itu. “Sayang,” ucap Luke mulai membuka suara dan mengelus perut buncit Joss lembut sementara Kira mengusap-usap bahunya.
Meski sudah berkali-kali diberi tahu, anak itu memang tetap ingin menemani Joss melahirkan.
Urat di lengan Joss tercetak jelas seiring dengan kuatnya remasan tangan lelaki itu pada seprai yang menjadi sasaran pelampiasan rasa sakit. Dadanya naik-turun seiring dengan upayanya untuk mengatur napas. Berkat sentuhan lembut Luke di perutnya, nyaman sedikit dirasa. Ia memejamkan mata, menahan hasrat untuk mengumpat karena keberadaan Kira. “MMMMHH, sakit,” ringis Joss sambil meremas kain tipis yang menutupi perut buncitnya.
“Sedikit lagi. Tahan, ya.”
Luke tersenyum sebelum kemudian meraih jemari Joss untuk menggantikan seprai yang tidak berdosa itu. Kalau boleh Luke mengaku, senyum itu muncul sebagai hasil usaha menahan tawa karena melihat Joss yang jelas tampak menahan diri untuk tidak serta-merta mengumpat di depan anak pertama mereka. Ia mengelus punggung tangan Joss dengan tangan kiri, mengelus perutnya dengan tangan kanan. Kemudian, Luke sedikit menaikkan kain yang menutupi perut Joss dan melihat bagaimana perut itu bergerak naik-turun karena deru napas suaminya yang tidak beraturan. Tidak bisa dibantah, pemandangan tersebut begitu menggoda di mata Luke. Meski sudah bertahun-tahun mengenal Joss, melihatnya hamil masih memberikan kesenangan dan sensasi tersendiri yang sulit ia jelaskan.
“Sudah pembukaan sembilan. Sebentar lagi seharusnya ketuban Anda akan pecah, Tuan Joss.” Dokter kandungan itu tersenyum ramah.
Anggukan pelan diberi oleh Joss sebagai jawaban atas informasi dari sang dokter. Ia mendengus melihat senyuman Luke, kemudian meringis lagi karena sakit di perut akibat kontraksi, “SSSSHH, perutku.” Joss berusaha mengatur napas, gerakan perutnya tampak lebih intens dari sebelumnya, membuatnya meremas tangan Luke dengan kuat.
Mendengar Joss yang meringis kesakitan, senyuman di wajah Luke luntur. Ia khawatir, juga sedikit tidak tega melihat suaminya bertahan bertaruh nyawa meski ini bukan yang pertama kalinya. “Tenang, Sayang. Sedikit lagi, ya?” ucap Luke berusaha menenangkan sang suami. “Kira akan senang sekali punya adik.”
Karena pengaruh lingkungan pertemanan, memang Kira sudah beberapa kali menyatakan ia ingin memiliki seorang adik.
Dari sudut pandang Luke, jelas hal itu merupakan lampu hijau yang menyala terang sebagai tanda untuk kembali menghamili Joss.
Di sisi lain, bagi Joss, kata-kata Luke terdengar bagai omong kosong. Mudah bagi Luke memintanya untuk tenang sementara ia yang merasakan sakitnya melahirkan. Bukan Luke.
“FUUUUHHH—” Joss menggigit bibir bawah untuk menahan nyeri, refleks meremas tangan Luke lebih kuat.
Sementara itu, Kira, yang kebingungan dan agaknya takut melihat Joss yang tengah kesakitan, lantas menatap wajah kedua ayahnya secara bergantian.
“Papa, Daddy sakit? Kira takut Daddy sakit.”
Kali ini, Joss melirik ke arah Kira dan mengusap pipinya sekilas tanpa mengucapkan apa-apa. Ia tidak terbiasa dengan kata-kata manis, juga yakin kalau Kira sudah tidak aneh dengan sikap Joss yang cenderung masa bodoh.
Luke menganggukkan kepala sebagai jawaban, mengelus punggung tangan Joss selagi menenangkan Kira. “Sakit, Sayang, tapi Daddy sedang berjuang supaya bisa melahirkan adik bayi.”
“Daddy, maaf, Kira ngga mau minta adik lagi kalau Daddy sakit.”
Kira kerap kali terlihat memiliki banyak kemiripan sifat dengan Joss, terutama dengan kata-katanya. Namun, rupanya anak itu juga memiliki sifat lembut dan penyayang, karakter yang mirip dengan yang dimiliki Luke.
Kembali merasakan kontraksi di perut, Joss mengerang kencang dan perutnya bergerak dengan intens sampai pinggulnya refleks terangkat. Ia bermaksud menjawab perkataan Kira, tetapi urung karena perutnya yang terasa nyeri. “AAAARGGHHHH!” erangnya sambil meremas tangan Luke dengan kuat. Tidak lama, ketubannya pecah dan menyembur deras. “SSSSHHH, sakit. Sakit betul ini, Phi!” Ia menatap sang suami.
“Iya, Joss. Sabar, ya.” Luke tahu bahwa kata-kata belum tentu mempan untuk menenangkan Joss, tetapi lebih baik ia berusaha daripada tidak sama sekali. Tangannya mengelus punggung tangan Joss, matanya menjadi saksi ketuban sang suami pecah.
“Sudah lengkap pembukaannya. Tuan Joss bisa mulai mengejan, ya.” Dokter memberikan instruksi sementara kaki pria hamil itu ditahan pada posisi membuka lebar.
Kira menatap khawatir ke arah Joss, berusaha tersenyum meski sedikit ketakutan melihat daddy-nya menahan sakit sampai pinggulnya terangkat. “Daddy bisa! Kira bantu semangat!” ucap bocah berusia lima tahun itu, “Kalau ngga semangat, nanti perut Daddy jadi besar terus kayak badut ulang tahun.”
Jelas anak itu belum mengerti bagaimana proses kehamilan dan sistem reproduksi manusia bekerja.
“Breathe, Sayang. Sabar ya, pelan-pelan.”
Diminta untuk sabar, Joss memiliki kesempatan untuk menyemprot suaminya. “Phi nggak tau rasanya melahirkan!” Ia menghela napas, meringis sembari membuka kakinya lebar dan meremas tangan Luke, sedangkan tangannya yang lain sibuk menutupi bagian bawah tubuhnya agar tidak dilihat Kira. “EUNNGGHHHHH!” Pinggulnya terangkat karena kontraksi, kemudian Joss menarik napas panjang dan mulai mengejan.
“Ayo, Daddy pasti bisa.”
“Bagus, Tuan Joss. Atur napas, ya.”
Luke meneguk ludah mendengar hardikan suaminya. Dengan lembut, ia mengarahkan tangan Kira untuk mengusapi perut buncit Joss yang posisinya makin turun karena bayi yang hendak keluar. “Semangat, Sayang,” bisik Luke tepat di telinga Joss selagi menggenggam tangannya, membiarkan Joss meluapkan rasa sakit yang dirasa. Pada saat yang bersamaan, tangan Luke yang lain mengusap punggung Kira yang tampak ketakutan melihat Joss tengah berjuang untuk melahirkan adiknya.
Seluruh tubuh Joss banjir keringat. Ia berusaha fokus untuk mengejan lebih kuat karena mulai merasakan pergerakan bayi yang turun ke jalur lahir. Latihan fokusnya sebagai atlet tinju beberapa tahun lalu memang tidak sia-sia. Joss juga memiliki kemampuan yang baik untuk menyadari keinginan tubuhnya. Bersamaan dengan ia yang membuka kakinya lebih lebar sembari mengejan, kepala bayi mulai mendesak di lubang lahirnya. “EUMMMNGGHHHH, SAKIT! FUUUUHHH HAAAAHH—”
“Daddy bisa! Ayo ngeden, Daddy!” seru Kira sembari memeluk lengan Joss. Entah dari mana ia belajar, tetapi Kira betul tentang Joss yang harus mengejan untuk melahirkan adiknya.
“Pintarnya kesayangan Papa dan Daddy. Terus kasih semangat untuk Daddy, ya.” Luke terus mengusap perut besar Joss sembari mendengarkan penjelasan dokter mengenai perkembangan bayi yang semakin turun dan mulai crowning. “Joss, kamu hebat, Sayang. Terus ngejan, ya. Sebentar lagi kita ketemu baby.”
Mendengar kata-kata penyemangat dari Kira, Joss mengejan kuat, teringat kembali akan bagaimana anak kecil itu terlahir ke dunia dengan cara yang sama. “EUMMMHHH! AAAAAHH HMMMMNGGHHHH!” Selain kata-kata Kira, tentu kata-kata dari Luke juga memberinya semangat. Hanya saja, ia terlalu enggan untuk mengakui hal tersebut. Itu juga yang membuatnya sering bersikap ketus atas setiap perhatian yang diberikan oleh sang suami. Padahal, ada hangat yang ia rasakan dalam hati. Lubang lahir Joss merekah, tangannya meremas milik Luke lebih kuat lagi.
Melihat Joss yang makin kesakitan, Kira memeluk perutnya yang semakin turun karena posisi bayi yang crowning. “Adik bayi, lahirnya ayo cepat. Kasihan Daddy sakit,” ujarnya terisak.
Luke pun menenangkan Kira dengan mengelus punggungnya. “Sayang, jangan nangis. Nanti Daddy khawatir, adik bayi juga khawatir karena kakaknya nangis.”
Upaya itu cukup berhasil, terbukti dengan Kira yang menghapus air matanya sebelum menatap ke arah Joss dengan gigi gemeletuk menahan rasa tidak tega melihat ayahnya mengejan lagi.
“Daddy hebat, Daddy bisa. Terus ngejan, sayang. Sedikit lagi,” ucap Luke kembali menggenggam tangan Joss saat suaminya itu mulai mengejan.
Joss dapat merasakan hangat di perut karena pelukan Kira. Ia meringis karena perih akibat kepala bayi yang mulai mendesak dan memaksa lubang lahir melebar untuk keluar. “SSSSHH! OH, TUHAN!” Di tengah sakit yang dirasa, ia sempat tersenyum tipis selagi melirik ke arah Kira, mengusap kepalanya sebelum kembali meremas seprai dengan kuat. “Jangan nangis, Kira— AAARGGHHH!” Joss mengejan seraya meremas tangan Luke, tangan lainnya meraih kemeja laki-laki itu dan menariknya kasar. Matanya menatap sepasang milik Luke seolah-olah ia siap menghabisi suaminya. “Ini semua gara-gara ulahmu, Phi!” Merasakan nyeri, ia menggigit bibir bawahnya sendiri. “HEUMMNGGHHHH! FUCK, IT BURNS!”
“Iya, iya. Setelah ini, biar Phi jadi ayah yang bertanggung jawab. Kamu nggak perlu begadang untuk jaga Kura dan baby, biar Phi saja.” Luke melihat urat di sekitar dahi dan leher Joss tampak begitu jelas, pertanda suaminya tengah mengejan dengan sekuat tenaga untuk melahirkan anak kedua mereka ke dunia. “Terus, Sayang. Sedikit lagi. Kepala baby sudah mulai keluar.”
Menghela napas sejenak, Joss dapat merasakan seluruh tubuh bagian bawahnya menegang hingga ke ujung jari-jari kaki. Tangannya berpindah dengan cepat dari kerah baju ke rambut sang suami, menariknya kasar seraya mengejan dengan sekuat tenaga, “AAAAARRGGHHHH!”
Kepala bayi semakin terdorong keluar, membuat lubang Joss melebar dan menghasilkan sensasi perih tiada dua. Pria hamil itu memejamkan mata ketika merasakan sentuhan tangan dokter yang membantu meregangkan lubang lahir.
Sebagai suami yang lembut dan penyayang, Luke pasrah ketika rambutnya ditarik dengan kasar oleh Joss. Kalau saja orang tuanya tahu bagaimana Joss memperlakukan Luke selama ini, mungkin usai sudah pernikahan mereka. “Terus, Joss, terus … kamu hebat. Ngejan yang kuat, ya. Bayinya mau keluar ini.” Samar-samar Luke melihat dokter mulai melebarkan jalur lahir. “Ayo, Sayang. Sebentar lagi.”
Sambil berusaha mengatur napas yg tidak beraturan, Joss melepas tangannya dari rambut Luke untuk mengusap dan memijat perut sendiri yang mulasnya semakin tidak terkira. “EUMMMNGGHHH— kau akan membayar semua ini, Phi!” erang Joss sambil mengejan sampai kepala bayi keluar. Kedua kakinya gemetar, cairan yang banyak dapat terasa keluar dari lubangnya.
“Ayo, Daddy! Daddy bisa! Adik sudah mau lahir!” Kira makin semangat kala dokter meminta Joss untuk mengejan lebih kuat.
Menanggapi Kira, Joss refleks membentak karena sakitnya. “Daddy juga tahu adikmu mau lahir! SSSSHH, sialan, sakit sekali.” Lubangnya dibuka melebar, wajahnya sudah basah sepenuhnya oleh keringat. Ia mencengkeram lengan kekar Luke, meremasnya kuat.
Suasana di kamar begitu kacau. Kira tampak mau menangis karena dibentak, sedangkan rambut Luke dijambak dan cairan ketuban keluar dari lubang Joss, membasahi tempat tidur.
Begitu tangan Joss berpindah ke perut, Luke mulai bisa sedikit lega mengambil napas. “Tenang ya, Kira. Daddy tidak sengaja membentak. Sedikit lagi kita lihat adik bayi, ya.”
Dokter tersenyum karena berhasil mengeluarkan pundak bayi. “Sedikit lagi, Tuan Joss. Tarik nafas panjang dan mulai mengejan dengan kuat.”
Luke membiarkan lengannya dicengkeram Joss dan Kira bersamaan, tahu bahwa lebih sakit rasa terbakar yang sedang suaminya rasakan. “Ayo, Joss, Sayang, kamu pasti bisa. Sekali lagi, mengejan yang kuat!”
Tangan kanan Joss meremas lengan Luke yang menjadi pelampiasan rasa nyeri. Tangan kirinya ke bawah, berusaha meraih bagian selangkangan yang tertutup kain tipis dan sudah perih luar biasa. “FUUUHHH, terlalu sakit, Phi!”
Bahu bayi kemudian keluar dari lubang lahir Joss.
Dada bidang lelaki itu naik-turun karena napas yang memburu. Joss menarik napas dalam-dalam, mengejan panjang dengan bantuan hitungan dari dokter.
“Bagus, Tuan. Ayo mengejan lagi. Satu, dua, tiga ….”
Tanpa sengaja, Joss menancapkan kuku di kulit lengan Luke. Tidak sampai berdarah, tetapi jelas akan membekas untuk sementara. “EUNNGGHHH, SAKIT— AAAAAAARRGHHHHH!”
Bayi meluncur keluar, diikuti sisa ketuban dan darah dari lubang lahir Joss. Ketika terdengar suara tangisan bayi, Luke menghela napas lega dan di saat bersamaan merasakan remasan tangan Joss di lengannya melonggar.
“Sayang, sudah lahir. Bayi kita,” ujar Luke dikuasai rasa haru.
Dokter langsung membersihkan bayi mungil itu seperlunya, lantas memberikan bayi itu ke pelukan Joss.
Bayi itu langsung mencari kehangatan dengan meringkuk di dalam pelukan sang ayah, pipinya merah seperti Kira saat lahir dahulu, tepatnya lima tahun lalu.
Mata Kira berkaca-kaca, lalu ia mendekati Joss untuk melihat wajah adiknya yang baru saja terlahir ke dunia.
“Akhirnya,” ucap Joss. Ia bernapas lega mendengar tangisan bayi, memeluk bayi itu dan mengusap pipinya lembut. Kemudian, ia menatap tajam ke arah Luke, mencubit tangannya kuat sembari mendengus.
Luke mengaduh sebagai respons atas cubitan Joss yang diberikan tepat di tangannya. “Aduh! Iya, iya. Phi minta maaf karena anak kedua kita hadir tidak lama setelah kita membuat yang pertama.”
Mendengar hal tersebut, Kira menatap bingung ke arah Luke dan Joss secara bergantian. “Membuat? Bagaimana membuatnya, Papa? Kira boleh punya satu adik lagi?” tanya anak itu penuh rasa penasaran.
Luke menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian menyunggingkan senyuman tipis yang terarah pada Joss. “Bukan Phi yang minta baby lagi, Sayang.” Melihat peluang yang ada, Luke mengusap kepala Kira dengan lembut seraya kembali bertanya untuk memastikan, “Kira mau punya adik lagi, kan? Supaya Kira banyak teman bermain nanti.”
Seperti sudah berjanji untuk sepakat, Kira mengangguk dengan penuh semangat. “Mau, Papa! Kira mau punya adik lagi!”
