Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-04-18
Words:
3,619
Chapters:
1/1
Kudos:
29
Bookmarks:
1
Hits:
164

and when i found you crying in the rain (i hope it washed all your pain)

Summary:

Noah tidak menyukai hujan, tetapi juga tidak sepenuhnya membenci hujan. Hujan membawa cukup banyak petaka, tapi juga membawa beberapa kebahagiaan dalam hidupnya. Dan setelah malam berhujan itu, bagaimana bisa Noah tetap membenci cuaca yang mempertemukannya dengan Yejun?

Notes:

(optional) read it when it's raining, or play a rainy season themed music for best experience. enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Noah tidak begitu menyukai hujan.

Alasannya sederhana. Setiap kali hujan turun, kepalanya akan memproduksi bisikan-bisikan tidak berguna, dan ia tidak tahu cara menghentikannya.

Berinteraksi terkadang membantu mendistraksi. Masalahnya, pada kebanyakan waktu, ia selalu sendirian. Dan dalam kesendirian itu, pikirannya berusaha untuk membunuhnya.

Noah tidak begitu menyukai hujan.

Alasannya sederhana. Setiap kali hujan turun, ia tidak bisa keluar dari sesaknya dinding kamar yang sering terasa kecil. Jika ia memaksa untuk keluar, pakaiannya kemungkinan besar tetap basah atau kotor, dan sepatunya akan berakhir lembap.

Payung dan jas tidak pernah membantu banyak. Saat sampai di kantor, penampilan rapi yang sudah ia siapkan pasti akan hancur juga. Belum lagi jika hari itu dia punya presentasi penting di depan investor. Melelahkan sekali rasanya.

Noah tidak begitu menyukai hujan.

Alasannya sederhana. Jemurannya tidak kering dan berbau apek. Ia harus memakai lebih banyak listrik untuk mengeringkan bajunya dengan setrika atau pengering rambut. Dan ketika hujan itu tidak berhenti selama berhari-hari, Noah jadi perlu mengeluarkan uang untuk memakai jasa binatu.

Saat membeli makanan, plastik makanannya akan penuh dengan butiran air, merembes masuk ke kuah sup kue beras yang ia beli di pinggir jalan.

Memesan makanan pesan antar pun rasanya tidak nyaman, karena ia terkesan memaksa para kurir untuk menerjang badai hanya untuk mengantar satu porsi makanan murah ke apartemen yang kumuh.

Jadi seringkali, Noah lebih memilih untuk tidak makan sama sekali.

Namun, di sisi lain, Noah cukup menyukai hujan.

Alasannya sederhana. Dunia seperti berhenti saat derasnya air turun membasahi bumi. Ia punya waktu untuk bernapas sejenak. Dan jika terlambat masuk kerja, Noah punya alasan yang cukup untuk tidak dikenakan sanksi.

Saat hujan turun di penghujung pekan, Noah bisa tidur jauh lebih nyenyak. Dinginnya udara membuat selimutnya terlampau nyaman, mengusir ramainya pikiran yang sudah seperti tamu langganan.

Ia tidak perlu memutar lagu bermelodi lembut atau berlirik sedih untuk bisa tenang. Bunyi air yang berbondong-bondong menghantam beragam permukaan cukup untuk membuatnya bangun siang.

Noah cukup menyukai hujan.

Alasannya sederhana. Tangisan yang jatuh dari langit itu membantu menutupi tangisannya sendiri. Noah tidak perlu menahan diri. Mau ia meraung, menjerit, berteriak, atau memaki sekeras apapun, tidak ada yang bisa mendengar. Rasanya melegakan sekali, seperti jiwa yang terlahir kembali.

Kata orang, menangis di bawah hujan itu menyenangkan. Meskipun ada rasa penasaran yang menuntut untuk dipenuhi, Noah belum pernah berani melakukannya.

Paling jauh, ia hanya mengulurkan tangannya dari balkon kecil di belakang kamar, merasakan tetesan air membasuh sepanjang lengannya.

Sudut kepalanya berpikir bermain hujan itu hanya kelakuan anak kecil saja. Orang dewasa yang emosinya hampir tumpul seperti dia tidak pantas untuk melakukan itu juga.

Sekeras apapun hidup menempanya, rasanya tidak perlu untuk sampai mengambil risiko terkena demam dan flu. Bisa-bisanya gajinya yang sudah kecil itu dipotong lagi karena mengambil jatah sakit.

Jadi, sebesar apapun keinginan Noah untuk mencoba hal yang hanya ia lihat di film-film itu, Noah tidak bisa melakukannya.

Setidaknya bukan karena untuk membayar rasa penasaran saja. 

 


 

Noah tidak begitu menyukai hujan.

Namun sekarang, tepat satu jam sebelum tengah malam, ia menemukan dirinya berdiri dengan pakaian basah kuyup, tepat di bawah derasnya hujan.

Dingin. Demi Tuhan rasanya dingin sekali. Penghuni kepalanya sudah berteriak-teriak, mengatakan dirinya mungkin akan mati karena hipotermia.

Noah tahu itu bohong. Oleh karena itu, kakinya yang lemas dipaksa berjalan ke sebuah taman, terletak hanya dua blok dari tempatnya tinggal. Taman itu tidak besar, hanya ada beberapa tempat duduk dengan perosotan, ayunan, dan jungkat-jungkit.

Pria bersurai pirang itu melangkah, menginjak tanah yang tak begitu becek karena ditanami rumput. Ia duduk di ayunan dengan kepala menunduk, tidak tahu harus melihat ke arah mana. Secara otomatis, kakinya menendang untuk menggerakkan ayunan, berayun tanpa tujuan selagi sisi kognitif dan afektifnya sedang bergelut hebat.

Hari ini rasanya berat sekali. Peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga saja tidak cukup untuk menggambarkan apa yang terjadi. Akan lebih tepat untuk membandingkan dirinya dengan samsak yang terus dipukuli di pusat kebugaran.

Lalu, air mata Noah mengalir begitu saja. Satu demi satu, tanpa ada niatan untuk dihentikan. Tangisan diikuti isakan, isakan diikuti erangan, dan erangan diikuti teriakan.

Dan sedekat apapun petir bergemuruh, Noah tidak berdiri dan tidak melarikan diri. Jika memang takdirnya mati tersambar saat ini, ia tidak akan mengeluh sedikitpun kepada Tuhan.

Toh, tidak ada juga yang peduli. Orang tua bercerai, keluarga besar ada di desa, dan saudara sudah hidup bahagia dengan keluarga masing-masing. Teman? Tidak punya. Kekasih? Itu kata paling lucu yang pernah ia pikirkan.

Sahabatnya hanyalah bayangan diri dan rekannya hanyalah kesendirian.

Dengan hidup seperti ini, Noah pun mempertanyakan apa alasannya tetap bernapas sampai sekarang. Kalau ada satu orang yang menyuruhnya melompat ke jurang, mungkin akan langsung ia lakukan.

Lima menit. Biasanya dalam lima menit, Noah sudah bisa bernapas pelan setelah meluapkan emosi negatifnya. Tetapi setelah tujuh menit pun, sesak dalam hatinya tak kunjung habis.

Sepuluh menit adalah batas untuk Noah berhenti menangis. Bukan karena ia puas atau lega, tapi karena badannya sudah tidak punya energi untuk sekadar menggerakkan jari.

Tubuh Noah jatuh bersandar pada tali ayunan yang cukup tebal, tidak lagi berayun di tengah badai yang tak kunjung reda. Dari ujung matanya yang perlahan terpejam, Noah melihat sosok bayangan, berlari menghampirinya dengan seruan yang mengalahkan halilintar.

"HEI! KAU TIDAK APA-APA?!"

 


 

Yejun sangat menyukai hujan.

Alasannya sederhana. Ia bisa mendengarkan musik kesukaan sepanjang jalan menuju kantor, atau sebaliknya. Titik-titik embun yang muncul di kaca mobil membuat pemandangan di jalan terlihat lebih indah.

Udaranya akan lebih dingin, tapi selimut yang ia pakai selama tertidur di perjalanan akan terasa lebih hangat. Belum lagi jika hari berhujan itu dilengkapi segelas teh atau kopi hangat. Ah, memikirkannya saja sudah membuat Yejun tersenyum lebar.

Yejun sangat menyukai hujan.

Alasannya sederhana. Hujan mengingatkannya dengan hari-hari gemilang di masa mudanya. Memori tentang atlet renang Nam Yejun yang memenangkan medali emas di hari berhujan akan otomatis terputar dalam kepala.

Yejun sudah pensiun lama, tetapi kakinya masih sering menginjak air. Sebut saja genangan berlumpur yang ada di sekitar rumahnya. Ia rela diturunkan beberapa puluh meter dari rumah untuk berjalan dan melompati kolam air. Seperti anak kecil.

Namun, hari ini Yejun tidak begitu menyukai hujan. 

Mobilnya terkena macet parah di jalan pulang akibat banjir yang menghambat sebagian besar akses transportasi. Biasanya, Yejun akan menunggu saja, mengajak supirnya mengobrol sampai jam 9 malam untuk mengusir rasa bosan, atau membaca berkas kerja untuk pertemuan esok hari. Tetapi, macet kali ini tidak seperti hari kemarin.

Sudah jam 10 malam dan mobil hitam milik pribadinya masih terjebak di antara mobil-mobil lainnya. Mengingat besok ada jadwal penting yang mengharuskannya untuk pergi lebih pagi, Yejun disarankan untuk turun oleh supirnya dan pulang berjalan kaki. Toh, rumahnya tidak sampai satu kilometer lagi.

Yejun mengangguk setuju, mengambil payung dari genggaman supirnya lalu memberi salam untuk pergi terlebih dahulu. Saat sudah setengah jalan, sepatu pantofel yang awalnya bersih mengkilap itu kini berjejak tanah. Saat sudah setengah jalan, sepatu pantofel yang awalnya bersih mengkilap itu kini berjejak tanah.

Sepuluh menit berjalan, Yejun sampai di perempatan yang sangat akrab baginya. Ia hanya perlu menyebrang lurus dan masuk ke sektor perumahan tempatnya tinggal sedari kecil. Pria Nam itu melirik jam tangannya, menghela napas saat melihat jarum pendek menunjuk ke angka sebelas.

Ia sudah ingin menyebrang, menunggu lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau walaupun tak ada satupun kendaraan yang melintas. Dan di tengah suara hujan yang membuat orang sedikit tuli itu, Yejun entah kenapa bisa mendengar notifikasi pesan dari ponsel yang disimpan dalam tas jinjingnya.

 

Sekretaris Do Eunho

Selamat malam, Pak Yejun. Maaf menggangu waktunya. Investor Yoon dari Serenity Corp. baru saja mengabarkan bahwa beliau tidak bisa datang tepat waktu karena penerbangannya dibatalkan. Oleh karena itu, rapat besok pagi akan diundur ke hari berikutnya.

 

Ujung bibir Yejun naik sempurna, senyum merekah di wajahnya yang lelah karena bekerja.

 

Nam Yejun

Terima kasih informasinya, Eunho. Tolong beritahu aku jika ada perubahan jadwal lagi. Kerja bagus hari ini.

 

Sekretaris Do Eunho

Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini, Pak. Selamat beristirahat.

 

Setelah mematikan ponsel dan memasukkannya kembali dalam tas, langkah Yejun yang tadinya terkesan terburu-buru kini melompat-lompat kecil di bawah lampu lalu lintas.

Waktu yang awalnya terasa singkat sekarang bisa membuatnya bernapas pelan, dalam, dan lega. Entah dorongan dari mana, kakinya tiba-tiba berubah arah. Lampu pejalan kaki yang menyala hijau diabaikan begitu saja, mengambil rute sembilan puluh derajat ke arah kiri.

'Untuk apa buru-buru pulang?' pikir Yejun, hendak mengitari lingkungan sekitar rumahnya untuk menikmati hujan lebih lama. Sayangnya, besok ia masih harus bekerja. Jika tidak, ia pasti sudah membuang payungnya jauh-jauh dan berlarian di bawah badai.

Seingat putra tunggal keluarga Nam itu, di sekitar sini terdapat sebuah taman. Sang ibu sering mengajaknya bermain ke sana saat masih kanak-kanak. Yejun tak begitu ingat bentuknya, jadi ia ingin memperbarui memori yang telah lama dikikis usia.

Rerumputan hijau perlahan masuk ke dalam ruang pandangnya. Warna segar itu cukup cerah di antara gedung dan trotoar kelabu. Dengan antusias, Yejun mempercepat gerakan kakinya.

Pada malam berhujan badai dengan waktu yang hampir menunjukkan tengah malam, sudah sepatutnya Yejun berpikir taman ini kosong. Orang gila mana yang repot-repot berada di luar saat keadaan seperti ini? Kecuali dia, tentunya.

Namun, tebakan rasional itu terkadang memang meleset. Mata dengan iris keunguan yang sering dipuji orang asing itu terbelalak, seketika tak ingat untuk berkedip.

Yejun membeku sejenak saat melihat sosok manusia bersandar lemah di atas ayunan, tubuhnya basah kuyup dengan bibir membiru. Jika saja gumpalan uap tak keluar dari mulutnya, Yejun akan berpikir dia menemukan sebuah mayat.

"HEI! KAU TIDAK APA-APA?!" teriaknya, tentu kalah dengan gemuruh petir. Yejun berlari mendekat, menaruh payung di atas badan yang gemetar itu. Saat Yejun ingin mengecek responnya, ia langsung menarik tangan kaget kala jarinya bersentuhan dengan kulit pucat tersebut. "Demi Tuhan, kau sedingin salju."

Telapaknya menepuk pelan pipi sang pria pirang, tak kunjung mendapatkan balasan walau sekecil kedipan mata. Orang itu sudah dipastikan pingsan. Meskipun di wajahnya tak begitu tergambar, Yejun sebenarnya cukup panik. Ia pernah mendapatkan pelatihan pertolongan pertama saat akan mendaki gunung, dan hal yang harus dilakukan jika korban tak sadarkan diri adalah mencari bantuan medis.

Namun, membawa pria ini ke rumahnya jauh lebih mungkin daripada menunggu ambulans datang. Tidak ada yang tahu kondisi jalanan saat ini. Yejun tak mau mengambil risiko melihat seseorang kehilangan nyawa di depan matanya.

Memastikan manusia di hadapannya masih bernapas, Yejun membungkuk untuk menggendong tubuh itu di punggungnya. Dengan tas di tangan kiri, payung dijepit di bahu, dan tangan kanan mengamankan penumpang di belakang, Yejun bergegas pulang dengan langkah yang besar.

 


 

Hal terakhir yang Noah ingat sebelum kehilangan kesadaran adalah bayangan yang menghampiri dan rasa sakit luar biasa di kepalanya. Sejelek-jeleknya memori jangka pendeknya, Noah bisa memastikan bahwa tempat terakhir yang ia datangi adalah taman kecil dekat apartemen, bukan penginapan bintang empat.

Lantas kenapa ia terbangun di atas kasur yang sangat empuk, berbalut selimut paling hangat yang pernah ia rasakan? Belum lagi televisi 50 inci di dinding dan karpet tebal yang mengalasi lantai.

Apa mungkin ... dirinya sudah mati?

Cklek.

Bunyi pintu yang terbuka membuat mata Noah terfokus pada sosok yang memasuki kamar. Ada sebuah nampan di tangannya, tetapi Noah tak bisa melihat barang-barang di atasnya.

Orang itu menutup pintu secara pelan, masih belum sadar bahwa pasien di atas kasur sudah terjaga selama beberapa menit. Baru saat nampan itu diletakkan di atas meja nakas, sepasang mata biru dan mata keunguan itu bertemu dan beradu tatap.

Lawannya terkesiap. "Oh. Uhm, hai, selamat pagi. Apa kau sudah merasa baikan?"

Noah membuka mulutnya yang terasa kaku, mencoba untuk membalas sapaan orang itu. Namun, sekeras apapun ia mencoba, suaranya tak mau keluar. Pria bersurai biru tua di hadapannya dengan sigap mengambil segelas air hangat, membantunya untuk membasahi kerongkongan yang terisak terlalu keras semalam.

Begitu perasaan hangat mengalir hingga ujung-ujung jarinya, Noah mengambil napas dalam, mencoba berbicara sekali lagi.

"T-teri-ma ka-sih..."

"Dengan senang hati."

"K-kamu ... s-sia-pa?"

Pria itu terdiam sejenak. "Oh, benar. Maaf belum memperkenalkan diri. Namaku Nam Yejun. Aku menemukanmu pingsan di taman semalam dan menunjukkan tanda-tanda hipotermia. Aku membawamu ke rumah karena jalanan sedang macet parah. Aku tidak bermaksud buruk sama sekali."

"Aku ... H-Han No-ah."

Yejun tersenyum. "Senang bertemu denganmu, Noah. Aku harap kau merasa jauh lebih baik sekarang. Makan dulu ya? Bibi membuatkan bubur kerang tiram hari ini," ujarnya, menyodorkan mangkuk berisi bubur yang terlihat sangat enak. Tetapi tak disangka, tangan Noah muncul dari balik selimut untuk menolaknya.

"T-tidak p-pu-nya u-ang..."

Yejun terkejut, tanda tanya tak terlihat muncul di atas kepalanya. Memangnya ada yang berkata bahwa Noah harus membayar semangkuk bubur ini?

"Apa maksudmu, Noah? Ini ... gratis. Kau sedang di rumahku, bukan rumah sakit, kok. Anggap saja aku sedang menjamu seorang tamu."

"M-merepot-kan, ya? M-maaf."

Pria Nam itu tidak mengerti bagaimana alur pemikiran Noah. Namun, melihat mata Noah yang masih sembab, ia pasti telah melewati banyak hal sebelum ini.

"Tidak sama sekali, Noah. Makan, ya? Bisa sendiri atau perlu aku bantu?"

Noah sontak duduk dari tidurnya, entah mendapatkan kekuatan dari mana. "Bi-sa s-sendiri."

Yejun tertawa. "Baiklah. Aku tinggal dulu ya, jika ada apa-apa, nyalakan saja televisinya dengan keras, nanti Bibi akan datang membantumu. Oh, dan aku lihat kau tidak membawa ponsel. Jika sudah mau pulang, bilang saja ke Bibi ya. Nanti aku antarkan."

Noah sebenarnya ingin bilang ia bisa pulang sendiri karena dari penjelasan Yejun tadi, rumah ini pasti tidak jauh dari taman. Berarti, rumah Yejun juga tidak jauh dari rumahnya sendiri. Tetapi entah mengapa, bibir yang warnanya sudah kembali normal itu malah bergumam kecil, seakan setuju pada ucapan pemilik rumah.

"T-terima kasih, Ye-j-jun."

"Senang bisa membantu, Noah. Istirahatlah."

Noah mengangguk, melihat punggung Yejun yang perlahan menjauh dengan tatapan penuh perasaan yang sulit untuk diartikan. Terlalu banyak emosi yang ia rasakan saat ini.

Lalu, Noah menangis lagi. Namun untuk pertama kalinya, air mata ini bukan disebabkan oleh kesedihan, tetapi oleh kebaikan yang tak pernah ia temukan sebelumnya.

Setelah menghabiskan semangkuk sarapan dan segelas air, Noah kembali berbaring. Selimut yang tebalnya hampir sama dengan matras di kamarnya itu ditarik setinggi bahu. Menikmati kenyamanan yang mungkin tak bisa ia alami lagi, Noah mulai tertidur sembari menekan harapan yang muncul tanpa diundang.

Harapan bahwa Yejun akan kembali menemaninya, mengajaknya berbicara, dan melemparkan senyum manis padanya dalam kamar yang hening dan sunyi ini.

Harapan bahwa interaksinya dengan Yejun tidak berhenti di hari ini, hari esok, atau hari-hari selanjutnya.

Harapan bahwa hidup yang selama ini dingin dan tak bermakna, mungkin sudah waktunya untuk diwarnai dengan tawa dan canda. Dan Noah, mungkin akan punya alasan untuk tetap bernapas keesokan harinya.

 


 

Setelah beberapa bulan, Noah tidak lagi membenci hujan. Walaupun masih ada rasa tidak suka, tapi Noah sudah jauh lebih memakluminya.

Alasannya bukan lagi terkait jemurannya yang tak kering, sulitnya mencari makanan, atau perjalanan kerjanya yang terganggu. Alasannya kini lebih dari sederhana.

Setiap hujan turun, Yejun akan ada di sana.

Pria itu akan menunggu Noah di sudut jalan dekat apartemennya, memegang payung berwarna hijau tua. Tangan kanannya yang kosong terbuka menghadap langit, menunggu tangan Noah untuk ditangkap dan digenggam. Lalu mereka akan berjalan beriringan ke apartemen Noah sebagai tujuan pertamanya.

Setiap langit bergemuruh, Yejun akan ada di sana.

Telepon atau pesan yang berisi kekhawatiran akan muncul di notifikasi ponsel Noah, lengkap dengan emoji yang menggelikan. Yejun tak pernah acuh, tak pernah juga lupa. Bahkan ketika ia sedang dinas ke luar daerah, Yejun akan tetap mengirimkannya ucapan 'Aku ada di sini. Hati-hati jika mau keluar, ya.' berbekal aplikasi ramalan cuaca.

Setiap angin berhembus kencang, Yejun akan ada di sana.

Menyambutnya dengan semangkuk sup atau sepiring pasta, atau makanan lain yang ia pelajari dari Bibi setiap minggu. Beberapa hari sekali, Yejun akan membawa masakannya ke apartemen Noah, dan mereka akan makan malam bersama sepulang kerja. Jika Yejun tidak sempat memasak, ia akan mengundang Noah ke rumah untuk makan masakan Bibi.

Bahkan ketika matahari bersinar cerah dan malam berbintang tak ditutupi awan sedikitpun, Yejun tetap akan ada di sana.

Mendapatkan pelukan hangat sudah menjadi rutinitas barunya. Perkataan yang penuh afirmasi positif sudah jadi cemilan sehari-harinya. Tidak peduli hujan atau panas, badai atau damai, Yejun akan berusaha keras untuk membuat dirinya ada.

Sungguh, Noah menganggap dirinya sudah pernah mati satu kali. Mungkin Tuhan begitu kasihan, sampai mengirimkan malaikat berbentuk Yejun di kehidupan keduanya.

Noah tidak pernah meminta, tidak pernah juga memohon. Ia pun tidak tahu apa yang membuat Yejun bertahan sementara dirinya tidak punya apa-apa untuk diberikan. Hubungan ini terasa salah, juga terasa sangat benar.

Di malam ketika Yejun meminta Noah menjadi kekasihnya, Noah menangis deras sekali, meraung sambil bertanya apa yang Yejun inginkan darinya. Noah itu miskin, dunianya kelabu dan hampa.

Malam itu, Yejun hanya bisa tertawa sambil memeluk Noah, berusaha menutupi paniknya karena takut Noah berakhir sesak lagi seperti ketika mereka menonton film sedih di bioskop.

Dengan lembut, Yejun menyeka mata Noah menggunakan ujung kemeja seraya berkata, "Aku hanya ingin kau bahagia, Noah. Senyum dan tawamu sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingin apa-apa lagi."

"Masa, sih?"

"Iya, kau jauh lebih cantik kalau tertawa. Aku suka."

Noah tidak tahu bagaimana rupanya, tapi ia ingat Yejun menggodanya sepanjang malam karena memerah seperti kepiting rebus. Dan pertama kali sejak ia hidup, Noah bisa tertidur tenang dalam pelukan seseorang.

 


 

Sejak Noah datang, Yejun tidak lagi menyukai hujan. Bukan karena ia membencinya, tapi karena rasa sukanya sudah berpindah kepada pria pirang bermata biru itu.

Yejun tak pernah punya niatan buruk ketika menyelamatkannya. Sebagai sesama makhluk sosial, sudah sepatutnya untuk saling membantu, kan? Tapi hidup Noah terlalu berbeda, kepribadiannya terlalu unik, dan wajahnya terlalu menarik untuk dilewatkan.

Dirinya tidak jatuh pada pandangan pertama. Yejun jatuh hati ketika Noah tertawa di kali pertama mereka pergi ke taman rekreasi. Waktu itu, es krimnya jatuh karena disenggol seekor anjing. 

Sudah mengenalnya selama dua bulan, Yejun paham kalau Noah bisa terguncang karena ketidaknyamanan kecil. Jadi, ia bersiap-siap untuk membujuknya dengan membelikan es krim lagi daripada harus melihatnya merengut.

Namun, Noah terkekeh beberapa detik setelah es krim kopinya tumpah di atas beton. Ia menepuk bahu Yejun, "Sepertinya aku dilarang makan rasa mint chocolate. Bisa temani aku beli rasa permen karet?"

"Y-yuk!" balasnya terbata, sedikit kaget dengan reaksi yang berbeda dari biasanya.

"Yejun, maaf ya!" seru Noah dadakan, menarik kencang kemeja temannya, mendorongnya ke depan untuk melindungi diri dari cipratan wahana kereta luncur air.

Byur!

Basahlah sekujur tubuh Yejun. Pewaris tunggal perusahaan Keluarga Nam itu berbalik sambil mengusap wajah. Saat membuka mata, ia melihat Noah tertawa puas. Pelangi kecil muncul di atas kepalanya akibat pembiasan air yang masih tersisa di udara.

Sungguh, Noah dan bahagia adalah kombinasi yang mematikan.

Yejun hampir pingsan karena jantungnya tiba-tiba berdetak tidak normal. Mungkin perasaannya saja, tapi saat ini pun, matahari seperti kalah terang. Ia masih tak tahu harus berperilaku apa, membiarkan Noah menyeretnya ke barisan toko es krim, tak sadar orang-orang melihatnya karena baju basah kuyupnya.

Sejak saat itu, Yejun bertekad untuk mempertahankan kebahagiaan Noah, tak peduli sebesar apapun harga yang perlu dibayarkan.

 


 

"Junie, mau dengar sesuatu tidak?"

"Memangnya aku pernah tidak mendengar ceritamu?"

Noah menggeleng dengan semangat, segera berbaring untuk tidur di paha Yejun yang duduk di kasur. "Tidak! Itu sebabnya aku suka bercerita padamu."

Yejun balas dengan tawa kecil. "Oke, oke. Apa yang ingin kau bicarakan hari ini?"

"Sejak minggu lalu, sepertinya warga kotaku sudah pindah."

Yang lebih muda beberapa bulan terdiam sejenak, mencoba memahami topik abstrak yang tiba-tiba pacarnya lemparkan. Beberapa detik kemudian, Yejun menepuk pelan kepala Noah. "Oh, ya? Di sini sudah tidak ada penghuninya?"

"Masih ada," jawab Noah, menyenderkan dagunya pada paha Yejun.

"Siapa?"

"Kamu!"

Seketika rona merah muncul di wajah Yejun yang tak bisa menahan senyum.

"Kau menggombal?"

"Aku hanya berkata yang sebenarnya. Orang-orang itu tak lagi menyuruhku mati, Junie. Tidak ada lagi bisikan bahwa aku tak layak untuk hidup. Yang ada hanya ingatan tentangmu. Terima kasih, ya!"

"Kenapa berterima kasih padaku? Berterima kasihlah pada dirimu sendiri, Noah. Kau juga berusaha keras untuk sembuh, kan?"

"Tapi kan—" Telunjuk Yejun muncul di depan bibirnya.

"Hush. Sudah ya. Di luar hujan tuh, katanya mau melakukan adegan dari musikal Singing in the Rain?"

Noah bangkit dari posisinya, berdiri terlebih dahulu dan mengulurkan tangannya pada Yejun. "Ayo."

Dan saat uluran tangan itu diterima, Noah dan Yejun berlarian menuruni tangga, membuka pintu depan dengan tenaga yang terlalu besar hingga menimbulkan bunyi bantingan yang cukup nyaring.

Hujan yang turun sangat deras diterabas oleh keduanya. Dua pasang kaki tanpa alas itu bergerak bebas di atas rumput pekarangan rumah Yejun, melompati genangan demi genangan dengan langkah yang ringan. Noah tertawa lepas, merusak tatanan rambut Yejun yang menutupi mata pemiliknya.

Yejun awalnya bingung, bukannya mereka bermaksud untuk menari di bawah hujan dengan koreografi yang sudah dihafalkan selama dua hari itu? Kenapa tiba-tiba Noah malah sibuk memandikannya dengan sampo yang dilemparkan oleh Bibi?

Biarkan saja, deh.

"Han Noah, ke sini kau!"

"Tidak mau, wleee!"

"Awas saja kau tertangkap, aku lempar ke kolam ikan nanti. Bibi, tolong ambilkan sabun juga, ya! Noah belum mandi dari tadi pagi!"

Tawa Noah makin tak terbendung. Ia memperhatikan Yejun berjalan ke depan pintu rumah, menunggu Bibi mengambilkan sabun untuknya. Tatapan pria itu terkesan sangat menantang, seakan siap untuk membalas dendam pada pacarnya yang kelewat iseng hari ini.

Suara tawa itu perlahan menghilang. Napas Noah memendek kala hidungnya mulai tertutupi aliran air yang makin kuat. Dunia seakan-akan melambat, membiarkannya menikmati ekspresi Yejun yang merebut botol sabun dari Bibi dengan terburu-buru. Noah tersenyum simpul. Kaki kirinya mengambil satu langkah mundur, siap berlari mengelilingi pekarangan untuk menghindari serangan pemilik rumah.

Dulu, hujan selalu datang bersama keributan di kepalanya, seperti gemuruh yang tak bisa diredam, menenggelamkan setiap emosi yang pernah ia rasakan. Tapi entah kapan tepatnya, suara hujan tidak lagi menakutkan. Noah tahu itu karena Yejun, karena genggamannya yang tak pernah melepaskan, karena ucapannya yang tak pernah menyakitkan, dan karena cintanya yang tak pernah menuntut banyak.

Mungkin, Noah tak pernah sembuh sepenuhnya. Isi kepalanya hanya digantikan oleh sesuatu yang lebih berharga, yang jika hilang mungkin akan membawa seluruh raganya. Mungkin, kebencian Noah tidak pernah hilang. Bencinya hanya digantikan oleh cinta dan kebahagiaan, yang jika hilang akan membawa seluruh nyawanya. Mungkin, jika musim hujan selanjutnya datang, Noah tidak perlu takut lagi. Ia hanya perlu menengadah ke atas, menikmati air membasuh wajahnya, dan menggenggam tangan Yejun yang diberikan Tuhan khusus untuknya.

Mungkin ke depannya, ia tak perlu tersiksa dan berjuang sendirian lagi.

Notes:

maaf ya kalau endingnya kurang 😅 terima kasih sudah membaca cerita yang ditulis secara dadakan di suatu malam berhujan ini.

i hope this rainy season brings you more joy than sadness. i hope you can find comfort in your hardest days. stay healthy and please always bring your umbrella outside^^

komentar, apresiasi, dan kritik akan selalu aku hargai ⁠♡