Work Text:
“Ayah? Udah pulang?”
Sepasang kaki jenjang itu berbegas melangkah menuju pintu utama apartemen yang sudah setahun Ia huni bersama sang suami, Sungchan. Dengan tetap berhati-hati, dia ambil langkah cepat agar segera menemui sumber suara. Sudah kepalang rindu sepertinya.
Saat kenop pintu dibuka, pelukan dua insan tersebut langsung bersambut.
“Sayang! I miss you so much!”
Ia benamkan wajahnya di ceruk leher sang suami, menghirup dalam wangi parfum Sungchan yang masih berjejak. Sementara kedua lengan sang suami, sangat pas, melingkar apik di pinggangnya. Pun yang lebih tinggi menciumi sisi kiri wajah manis sosok yang dia cinta. Hujani sang jelita dengan kecupan sayang. Buat Chanyoung merasa nyaman dalam dekapan yang tercinta.
Kehamilan Chanyoung yang sudah memasuki trimester kedua membawanya mengalami hal-hal baru yang bisa dibilang berat baginya. Sejak awal kehamilan, Chanyoung memang sering muntah dan mual. Sepertinya bulan lalu, semuanya perlahan membaik. Dirinya tidak mual, tidak pusing, bahkan dia semangat sekali untuk ikut kelas yoga. Namun anehnya, di awal minggu ini, dia kembali merasakan mual dan risih akan tekstur makanan tertentu. Dia jadi sulit makan. Belum lagi, kakinya sering kram, lalu punggungnya sakit. Badannya seperti tidak bisa bekerja sama dengan baik. Alhasil dia lebih suka berbaring dan tidak melakukan apapun.
Karena tidak banyak beraktivitas, ia makin merasa hari berjalan sangat panjang dan membosankan tanpa ada Sungchan disisinya. Dia semakin manja dan ingin semua perhatian Sungchan saat mereka bersama. Apalagi Abuy—sebutan untuk janin laki-laki di perutnya, selalu bereaksi saat dekat dengan sang Ayah. Oleh karena itu, menyambut kepulangan sang suami jadi hal yang paling dia nanti setiap hari
“Cantik, ayo masuk. Lepas dulu pelukannya.”
Satu tangan Ia lepas dari pinggang Chanyoung, beralih ke rambut kecoklatan dengan semerbak wangi bunga sakura. Ia belai lembut sepanjang rambut kecoklatan Chanyoung.
Yang diajak bicara hanya menggeleng, masih tetap di ceruk leher suaminya. Bukannya dilepas, Ia justru semakin dalam membenamkan wajahnya. Sementara Sungchan hanya tersenyum. Ia paham betul bahwa bila ia biarkan, mereka akan ada dalam posisi ini untuk satu jam kedepan.
Sungchan membawa tangannya untuk mengelus lembut perut buncit Chanyoung.
“Abuynya kangen Ayah, ya?”
Badan mereka jadi sedikit berjarak sebab akhirnya atensi Chanyoung beralih ke perutnya sendiri. Senyum lembut tersungging di wajahnya.
“Abuy nendang, Ayah! Abuy seneng, ya, ketemu Ayah?”
Sungchan rapatkan kembali jarak diantara mereka. Sebelum kemudian dia angkat yang terkasih dalam gendongan bridal style.
“E-eh, Mas!” Jelas membuaat Chanyoung terkejut. Ia pukul-pukul pelan bahu Sungchan. Pun Ia tidak punya pilihan lain selain mengalungkan tangannya di leher Sungchan dengan erat untuk menjaga keseimbangan.
Chanyoung tertawa kegirangan. Begitu pula dengan Sungchan yang tersenyum sumringah.
“Hahahaha! Mamas! Hahaha! Turunin akuuu!”
Seakan tawanya menular, Sungchan ikut terkekeh melihat kelucuan Chanyoung. Dengan menatap wajah manis itu dalam gendongannya, kini giliran pipi merah Chanyoung yang dia ciumi dan dia hirup dalam.
“Salah siapa nggak mau lepasin Masnya!”
Masih dengan tawa yang mengiringi, Sungchan bawa pujaan hati untuk menuju ke kamar mereka—bermaksud melaksanakan yang sudah mereka rencanakan tadi melalui pesan singkat.
Setelah mereka memasuki kamar, Ia turunkan Chanyoung ke ranjang perlahan-lahan, dengan sangat hati-hati seperti Chanyoung adalah barang yang sangat rapuh dan mudah pecah.
Tau apa yang akan terjadi selanjutnya, Chanyoung membuka suara.
“Lepas dulu bajunya, Mas.. Mandi dulu, ya? Abuy gak mau ditengokkin Ayahnya yang masih bau deadline kerjaan. Hehe...”
Kekehan lembut yang mengakhiri kalimat, direspon dengan sang suami yang memasang wajah memelas. Tanpa mengalihkan pandang, jemari Chanyoung menari di dada hingga sepanjang badan untuk melepas kancing kemeja hitam yang sedang Sungchan kenakan saat ini. Keduanya jelas rasa bagaimana mereka mendamba satu sama lain. Melihat wajah suaminya yang tampan dari jarak sedekat ini, dengan aroma tubuh maskulin yang memasuki indera penciumannya.
Rasanya semua darahnya naik ke wajah sebab ada rasa panas di kedua pipinya.
Detik kemudian, kemeja itu sudah lolos dari badan Sungchan, menampakkan tubuh kekar yang sudah menjadi hak milik seorang Chanyoung Jung. Sedikit ia belai dengan nakal dada bidang yang menjadi tempat sandaran favoritnya.
Melihat betapa manjanya Chanyoung, Sungchan kembali memastikan.
“Mas harus mandi dulu, nih? Nanti kan kotor lagi, Sayang?”
“Hu-um.. Mamas mandi dulu biar bersih! Go!”
“Memang Cantiknya Mas bisa nunggu?” Ia masih berharap Chanyoung berubah pikiran.
Namun sang istri hanya mengangguk manis. “Ibu dan Abuy kan penyabar, Ayah.” menggoda sang suami dengan lucu ia elus-elus dada dan perutnya.
Sungchan jadi ikut membelai perut buncit Chanyoung. Akhirnya dia pasrah.
“Hhh… Oke. Tunggu Ayah, ya.”
Setelahnya ia kecup singkat bibir merah muda merekah Chanyoung dan berikan usapan lembut di pipi.
“Bentar, ya, Sayang.”
Chanyoung memejamkan mata, menikmati sentuhan, dan tersenyum. Berikan anggukan sebagai respon.
Saat Sungchan keluar dari kamar mandi, Ia terkejut bukan main. Chanyoung sudah duduk di pinggiran ranjang dengan silk robe coklat keemasan yang membalut tubuhnya dengan begitu indah. Chanyoung yang melihat Sungchan selesai mandi, kemudian berdiri menyambut kehadirannya. Perut yang buncit membuat bagian depan robe itu terangkat lebih tinggi dibanding sisi lain.
Masih dengan bertelanjang dada dengan handuk bertengger di lehernya, Sungchan kemudian mengambil langkah panjang untuk mendekati Chanyoung. Setibanya ia dihadapan sosok sang pujaan hati, ia selipkan surai yang menutupi wajah cantik Chanyoung ke belakang daun telinganya. Pun kedua tangannya menangkup rahang Chanyoung.
“Cantiknya Mas…” Sungchan hujani wajah cantik itu dengan ciuman seperti seharusnya. Tak ada satu incipun terlewat dari absen bibir Sungchan. Ia terlalu mencintai, dan akan selalu sangat amat mencintai Chanyoung.
Ia bantu Chanyoung untuk duduk kembali di pinggir ranjang. Keduanya duduk berhadapan. Menatap wajah satu sama lain dengan penuh cinta dan kekaguman. Ruangan terasa begitu menenangkan didukung dengan wangi aroma lavender yang menguar memenuhi sekeliling ruang kamar.
“Aku sayang banget sama kamu, Mas. Nggak akan pernah bosen aku ngomongnya.”
Sebab, siapa sangka kehidupan pascamenikah akan menjadi semenggembirakan ini?
Chanyoung masih tak menyangka akan kehidupan yang kini ia hidupi. Hidup berkecukupan, penuh cinta kasih, bahkan Ia dipercayai Tuhan seorang buah hati yang nantinya akan meramaikan hari-hari mereka kedepannya.
Dirinya enam tahun akan sangat bangga melihat dirinya saat ini. Chanyoung enam tahun lalu yang tidak punya harapan. Chanyoung enam tahun lalu yang tidak tahu arah tujuan. Chanyoung enam tahun lalu tidak punya pilihan lain selain berjuang untuk tetap bertahan hidup meski ia kehilangan satu-satunya sosok yang ia cinta, Ibunya.
Kala itu, semua harapannya pupus. Kepercayaannya pada Tuhan hancur. Orang bilang, orang baik akan hidup bahagia… Omong kosong.
Ibunya yang begitu baik hati, berjuang sendirian sejak Ia kecil untuk memberinya hidup yang layak. Nyatanya, sampai akhir hayat, Ibunya masih sedih sengsara. Seakan tak cukup sakitnya hati karena ditinggalkan mantan suaminya, Tuhan berikan sakit fisik kronis. Kanker menggerogoti lambung Ibunya hingga kurus kering. Tiga tahun sejak ibunya divonis kanker itu ia jalani dengan sebuah harapan besar, Ibunya bisa sembuh. Namun kenyataan berkata lain. Benar hancur hidupnya. Satu-satunya orang yang dia punya pergi. Tidak ada lagi tempat untuk bersandar.
Chanyoung enam tahun lalu hanya mengutuki diri setiap hari—mengatakan dirinya orang paling sial di dunia. Menganggap kehadirannya hanya akan merusak hidup orang lain. Mengatakan bahwa dirinya memang tidak layak dicinta dan berpikir mungkin cinta dan pernikahan tidak akan ada dalam hidupnya…
Selepas Ibunya berpulang, tak ada lagi nyawa dalam dirinya. Hari terasa begitu hampa dan melelahkan. Bangun, kerja, pulang, tidur—begitu setiap harinya. Tinggal sendiri membuat waktu sepulang kerja menjadi waktu paling menyedihkan baginya sebab ia harus merasakan sepi dalam rumah seorang diri.
Namun ternyata, kesedihan menemui akhir saat Sungchan Jung hadir dalam kehidupannya. Seorang pria dengan perangai ramah dan santun. Pria yang tidak hanya rupawan, namun juga riang dan penyayang. Pria yang tidak hanya baik di bidangnya, namun juga tulus dan apa adanya. Pria yang kini menjadi alasan kebahagiaan hidupnya.
“Maaf, salah orang. Aku kira temenku. Hehe.. Maaf.”
“O-oh, iya nggak papa.”
“Kamu kerja di gedung ini juga?”
Dari situ cerita mereka dimulai. Sungchan yang luwes dan supel semudah itu memulai percakapan. Segitu hebatnya sihir Sungchan Jung hingga Chanyoung mengijinkannya masuk kedalam kehidupannya. Seorang Chanyoung Lee, dengan pertahanan diri sekuat Tembok Cina, nyatanya luluh dengan ketulusan hati seorang pria Jung.
Selama ini, menjalin kasih tidak pernah ada dalam pemikirannya. Bagaimana bisa ia percaya cinta bila sepanjang hidupnya ia saksikan Ibunya menderita karena cinta? Namun semakin sering mereka bertemu dan mengobrol, semakin Chanyoung sadari, dirinya bukan takut untuk menjalin cinta. Ia hanya takut mencintai orang yang salah, seperti yang Ibunya alami. Sebab Sungchan Jung, adalah orang pertama yang menyadarkan bahwa dirinya ingin dimiliki dan ingin dicintai. Sungchan membuatnya rasa aman. Sungchan membuatnya bahagia. Sungchan mengisi kekosongan hatinya. Dan pada akhirnya dia tau, Sungchan Jung-lah orang yang bisa Ia percaya.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk masuk ke jenjang yang lebih serius. Keduanya sudah cukup matang. Keluarga Sungchan juga sangat menerima Chanyoung, bahkan jadi lebih sering menanyakan kabar Chanyoung daripada Sungchan, yang notabene anak kandung mereka. Beruntung sekali Chanyoung bisa merasakan kehangatan keluarga Sungchan, bahkan menjadi bagian dalamnya.
Ia menyadari bahwa keputusannya untuk menikah dengan Sungchan adalah keputusan terbaik dalam hidupnya. Cinta Sungchan membuatnya penuh. Chanyoung couldn’t ask for more.. He’s beyond grateful.
Memori-memori di masa lalu membuat Chanyoung emosional hingga tidak sadar menitihkan air mata. Masih terasa seperti mimpi baginya untuk hidup sebahagia ini.
Tak ingin Sungchan menyadarinya, cepat-cepat ia menghapus jarak antara mereka. Tangannya menangkup rahang tegas sang pria tercinta. Ranum yang ada dalam jangkauannya itu ia cumbu mesra. Menginvasi belah bibir bawah itu dengan sangat lembut hingga Sungchan terbuai olehnya. Tak jarang ia tinggalkan gigitan kecil untuk menggoda pria tampan dihadapannya, sebelum akhirnya berganti menyesap bibir atas Sungchan. Masih dengan terus terpenjam, fokus pada pengaturan ritme lumatan bibir mereka.
Di sisi lain, Sungchan yang menikmati permainan bibir Chanyoung, tersenyum dalam ciuman itu. Ia senang bukan main Chanyoung mencumbunya semanis ini. Yang bisa ia lakukan hanya menyambut, mengimbangi Chanyoung.
Seakan sadar bahwa dirinya telah terlalu jauh terbuai, Ia tak kuasa untuk memberikan dua kali lipat dari apa yang dia terima. Chanyounglah yang layak mendapat lebih. Kini gilirannya untuk mengakuisisi sang kasih degan lumatan penuh cinta.
Sebuah ciuman mesra, namun menuntut. Ritme sesapan antar bibir mereka terasa makin cepat, secepat degup jantung keduanya. Chanyoung diangkatnya naik kepangkuan sehingga tak ada jarak menghalangi penyatuan indra pengecap mereka. Panas terasa mengalir sepanjang tubuhnya. Oh, andai Chanyoung tau bagaimana Ia selalu ingin Chanyoung merasakan cintanya…
Andai Chanyoung tau bagaimana Ia selalu mengingini Chanyoung-nya…
Tidak pernah puas, tidak pernah cukup.
“Mmmhh..”
Desahan lembut sang jelita memperpanas suasana. Cumbuan Sungchan semakin dalam menyesap habis bibirnya. Seakan tak ada hari esok, Ia ingini bibir Chanyoung untuk dilahapnya habis saat ini juga. Hingga pada akhirnya, Chanyoung dorong pelan bahu sang suami untuk mengakhiri pertemuan bibir keduanya.
“Mas.. Mau nafas!”
Sungchan hanya tersenyum membelai surai Chanyoung yang kini merengut. Yang lebih muda kemudian mengubur wajah di dada bidang suami tercinta.
“Sayang, malu?” Ia sangat kenal dengan Cantiknya. Pasti ia sedang malu. Menyadari itu, satu tangannya Ia bawa untuk mengelus punggung Chanyoung naik turun.
“Hu-um.. Mamas nyiumnya kayak gitu. Deg-degan banget.” jawabnya dengan suara terendam karena masih bersembunyi di dalam dekapan Sungchan.
Tak ada yang bisa Sungchan lakukan selain memeluk erat Chanyoung yang bertingkah dengan sangat menggemaskan. Terkadang ia berpikir apakah dirinya adalah makhluk favorit Tuhan sehingga dia bisa memiliki Chanyoung dalam hidupnya?
“Kok masih malu aja? Kan udah setahun semenjak kita sah, Cantik..” jawabnya diakhiri dengan kekehan jahil.
“Abuynya nendang lagi... Tau Ibunya seneng.”
Chanyoung yang masih dalam pangkuan Sungchan mengelus sang jabang bayi. Alhasil, gerakan itu sebabkan ikatan silk robe yang ia kenakan melonggar meninggalkan bahu kirinya. Disusul dengan elusan Sungchan yang malah menyebabkan silk robe Chanyoung semakin turun dari kedua bahu. Dada dan putingnya kirinya yang membengkak jadi ikut terekspos.
Saat Chanyoung memandang sang suami dengan mata bulatnya yang melebar dan alisnya terangkat, persis seperti anak anjing kecil, Sungchan tidak bisa menahan diri lagi. Chanyoung begitu menggoda dimatanya. Wajahnya yang indah nan lembut semakin membuat Ibu dari anaknya itu terlihat begitu submisif, ingin untuk segera ia gagahi.
Matanya terkunci di bagian tengah tubuh Chanyoung. Sungchan tak kuasa untuk tak mendaratkan tangannya disana.
“Nenennya makin bengkak ya, Sayang? Udah keluar susunya?” Sungchan remas pelan kedua payudara Chanyoung yang sedikit lebih berisi sejak mengandung.
“Kemarin udah keluar sedikit, Mas. Kalo kata dokter memang harus sering-sering dirangsang aja.”
“Dirangsang kayak gini, ya?” Dua pasang telunjuk dan ibu jari itu mencubit-cubit nakal puting Chanyoung yang bengkak kemerahan. Ia juga menggelitik sekitar areola, yang sedikit menggelap karena hormon kehamilan, dengan nakal. Sebabkan Chanyoung bergerak-gerak dalam pangkuan Sungchan.
“Shhh.. Mas...”
“Kalau Mas emutin nenennya boleh ya, Sayang?”
Chanyoung mengangguk. Mendapat lampu hijau, Sungchan langsung merendahkan kepalanya, mensejajarkan diri dengan dada Chanyoung. Sang jelita busungkan dadanya untuk memberi sepenuhnya pada sang suami.
“Eehhmmhh… Pelan ngemutnya, Mas..”
Chanyoung menutup matanya menikmati gerakan lidah Sungchan yang mengulum hangat puting kiri dan kanan secara bergantian. Sesekali menyedotnya seperti sudah keluar banyak susu dari sana. Chanyoung rasakan hangat mulut Sungchan. Hembusan nafas yang keluar dari hidung suaminya itu juga ikut menggelitik pucuk dada Chanyoung.
Hingga saat kuluman mulutnya terlepas, hangat berganti dengan gelitik geli di putingnya yang dimainkan dengan lidah Sungchan. Chanyoung yang merasa seperti melayang, mengelus sayang kepala sang suami. Sungchan saat ini fokus untuk memberikan atensi penuh pada payudara Chanyoung. Lidahnya masih terus bergerak menggoda kedua titik sensitif Chanyoung. Menusuk, menjilat, menggigit kecil memainkan rangsang hingga Chanyoung membusurkan punggungnya.
“Ngghh.. Geli.”
Beberapa saat setelahnya, kontak mulut dengan pucuk payudara Chanyoung terputus. Sungchan tuntun Chanyoung untuk berbaring miring di atas ranjang. Silk robe yang dikenakannya makin semburat, kini tubuh bagian atasnya terpampang nyata.
“Sayang, gimana? Nyaman kayak gini?” Sungchan mengusap-usap pucuk kepala Chanyoung. Ia pandangi wajah terkasihnya itu tamat-tamat, menyisipkan anak rambut yang menutupi bagian kanan wajah elok dihadapannya itu ke belakang telinga. Chanyoung mengangguk tersenyum kemudian kembali mengusap perutnya yang masih tertutup silk robe.
Tubuh Chanyoung yang berbaring miring, ia kungkung diantara kedua tangannya. Mata mereka terus bertemu. Saling bertukar senyum manis bahkan hingga Sungchan tersenyum lebar menampilkan deret giginya. Semakin ia amati wajah Chanyoung, semakin ia yakin bahwa ia adalah orang paling beruntung di dunia karena bisa mendapatkan hati sosok semanis dan selembut Chanyoung.
“Mas sayang banget sama kamu, Cantik.. Makasih ya, udah nerima cintanya Mas.” Kecupan singkat didaratkan di hidung bangir sang jelita.
Chanyoung tidak bisa menahan air matanya. Entah mungkin karena hormon kehamilan, atau memang pada dasarnya dia cengeng. Air mata menetes mengaliri dua pipi berisinya yang kini memerah. Dia memejamkan matanya.
Sungchan yang menyadari itu langsung merengkuh Chanyoung dalam pelukan. Ia menjatuhkan diri, berbaring dihadapan sang kasih.
“I love you, Mas… Aku yang harusnya bilang makasih. Mas udah nunjukkin banyak cinta ke aku.” dalam dekapan ia menimpali. Sungchan tak kuasa menghujani seluruh wajah Chanyoung dengan kecupan sayang. Seluruh wajah, tanpa ada yang terlewat.
“Udah ya nangisnya, Sayang. Mas kepengin kamu sekarang. Boleh?”
Chanyoung mengangguk pelan sebagai jawaban. Perlahan ia memindahkan posisi untuk terbaring telentang. Sungchan yang sigap langsung memberikan dua tumpuk bantal di bawah punggung, memastikan Chanyoung-nya nyaman. Pun setelah ia lihat Chanyoung ada dalam posisi yang nyaman, ia lepas ikatan silk robe yang masih melingkari di bawah dada.
Kini fabrik satin itu tak lagi menghalanginya untuk memandang tubuh telanjang yang paling indah di matanya. Kedua paha Chanyoung ia jauhkan dari satu sama lain, pun ditekuknya kaki Chanyoung hingga ia bisa lihat vagina Chanyoung yang basah merekah. Seakan memanggil segera untuk ia jamah.
Namun Sungchan tidak langsung kesitu. Ia ingin memuja tubuh elok penuh keindahan milik Chanyoung terkasihnya. Pun kembali ia bawa tubuhnya untuk mendekat pada tubuh Chanyoung. Ia daratkan kecupan di sepanjang garis perut Chanyoung yang kini terlihat sudah semakin besar. Sungchan berikan kecupan berlebih. Ia ingin Chanyoung tau betapa besar Sungchan mengingininya.
“Aku udah nggak semulus dulu, ya, Mas? Banyak stretch mark-nya.. Serem nggak sih?” Sungchan langsung mendongak. Menatap mata Chanyoung dengan awas.
“Nggak. Kamu tetep Chanyoungku yang cantik. Chanyoungku yang sama kayak malam pertama waktu aku miliki kamu seutuhnya, Sayang. Jangan mikir kayak gitu.. Nggak pernah satu detikpun aku mikir soal itu..”
Cup.
Satu kecup ringan kembali ia daratkan di puncak perut buncit Chanyoung.
“Biarin Mas kasih tau betapa indahnya kamu di mata Mas.”
Sungchan menuruni perut Chanyoung hingga wajahnya tiba tepat di depan vagina yang begitu ia damba sedari tadi. Tanpa ragu ia ciumi sekeliling organ intim Chanyoung dengan penuh perasaan. Bibirnya turut mengecup liang vagina Chanyoung dan memberi sedikit jilatan disana.
Kini beralih menuju bagian paha dalam Chanyoung, memberi sentuhan seringan bulu dan kecupan disana. Kanan dan kiri secara bergantian. Bahkan ia tak ragu berhenti sejenak, mengulum dan menyesap kuat kulit paha Chanyoung hingga tinggalkan ruam keunguan disana sebagai tanda kepemilikan.
"Ungghhh...."
Chanyoung merasa kepalanya begitu ringan. Tubuhnya tidak merasakan apapun sebab sensasi yang dirasanya begitu luar biasa. Sungchan benar-benar memanjakan dirinya.
Dari celah pahanya yang terbuka mengangkangi wajah sang suami, mereka bertukar pandang. Chanyoung mengelus sayang rambut lembut Sungchan. Ia yang kegelian itu tidak kuasa menahan untuk tidak merapatkan pahanya. Sementara suaminya masih terus mencumbu paha dalamnya dengan kedua tangan menahan pergelangan kaki Chanyoung untuk tetap terbuka.
“Mmhhh.. M-mamas..”
Ciuman Sungchan kini beralih ke betis Chanyoung. Dua kaki Chanyoung kini ditenggerkan pada pundak kokohnya. Mulanya, ia kecupi betis kanan Chanyoung. Tak lepas dari jilatan dan gigitan nakalnya. Chanyoung hanya biasa menggeliat kecil sebab gerak tubuhnya yang terbatas. Satu yang pasti, tiap Sungchan beri jilatan atau gigitan ringan, jemari kakinya menekuk karena rasakan rangsangan yang begitu hebat.
Kaki Chanyoungpun tak lepas dari cumbuan Sungchan. Ciuman dia berikan di telapak kaki Chanyoung, naik hingga jemari kaki sang kasih. Mulutnya mengulum semua jemari kaki Chanyoung tanpa terkecuali.
“M–mas.. Kotor..”
Chanyoung hendak menarik kakinya dari jangkauan Sungchan namun tangan suaminya begitu kuat menahan.
“Shhh.. Cantiknya Mas, nurut dulu ya..” jawabnya sambil tinggalkan tepukan lembut di paha putih nan sekal milik Chanyoung.
Dari sepanjang kaki kanannya, Sungchan kini beralih ke betis kiri Chanyoung. kembali ia kecupi, ia jilat, dan gigit kecil. Chanyoung lagi-lagi terbuai. Tidak mau bohong, saat ini ia rasa ialah sosok manusia tercantik di dunia melihat bagaimana sang suami begitu memujinya.
Hangat dan basah kembali ia rasa di jemari kakinya. Sungchan mengulum ibu jari kaki Chanyoung dalam mulutnya. Chanyoung tak kuasa menahan semburat di pipi sebab suaminya begitu manis memperlakukannya.
Terlalu lama dalam posisi berbaring ini membuat Chanyoung bergerak kurang nyaman. Dengan segera Sungchan mendekat ke wajah Chanyoung. Ia singkirkan anak rambut yang menutupi wajah elok Chanyoung dan berbisik, “Mau pindah posisi, ya, Sayang?”
“Hu-um..” yang ditanya menggangguk setuju.
Sungchan tau Chanyoung suka berbaring miring. Dengan itu, ia ambil dua bantal penyangga punggung Chanyoung dengan sangat hati-hati. Ia pindahkan bantal itu ke sisi kasur yang kosong. Pun Chanyoung bisa berbaring miring dengan leluasa.
Setelahnya, Sungchan ikut berbaring—memeluknya dari belakang. Sungchan mengelus perut Chanyoung penuh sayang. Hangat nafas dan panas tubuh Sungchan dapat ia rasa membawa gelenyar gairah dalam dirinya. Posisi ini begitu intim. Nyamannya dekapan sang suami membuatnya ingin lebih.
“Sayang?” Sungchan berbisik tepat di telinganya.
“Hmm?”
“Mas masukkin nggak papa?” Tepat. Sesuai harapan.
“Boleh, Mas. Be gentle, ya..”
Sesuai instruksi, dengan penuh kehati-hatian, Sungchan menggesekkan pelan kepala penisnya pada bibir vagina Chanyoung. Beberapa gesekan sebelum akhirnya melesak masuk ke dalam hangat rengkuhan otot dinding vagina Chanyoung yang menyambut penisnya.
“Ngghhh..”
“A–uuhhh…”
Desahan mereka bersambut saat penyatuan terjadi. Keduanya sama-sama merasakan nikmat. Sungchan juga tidak terburu-buru dalam menciptakan tempo. Ia tidak ingin mengusik jabang bayi dalam kandungan istrinya.
Sungchan mendorong pinggulnya untuk mendorong dan menarik penisnya dalam Chanyoung dengan begitu hati-hati. Ia terus menciumi telinga dan rahang kiri Chanyoung yang ada tepat di depan wajahnya.
“Cantik. Look at you.. Taking my cock so well.”
“Mmhh..” Chanyoung tidak lagi bisa mendefinisikan perasaannya. Inderanya seakan lumpuh total karena semua rangsang yang dia terima dari sang suami. Penis Sungchan penuh didalamnya. Tusukan kejantanan Sungchan dari belakang seperti ini menembusnya begitu dalam. Ia hanya bisa memejamkan mata dan mendesah.
Sungchan raih kedua tangan Chanyoung untuk menggenggamnya di depan perut buncit yang lebih muda. Semakin terasa begitu romantis bagi Chanyoung. Suaminya memang yang terbaik.
Penyatuan cinta keduanya makin terasa panas. Pendingin ruangan sudah terganti dengan panas gairah kedua insan dimabuk cinta tersebut. Ritme persenggamaan kian cepat seiring birahi memuncak. Sungchan tenggerkan tangannya untuk menumpu pada pinggang Chanyoung dan berikan tusukan dalam dengan perlahan namun pasti.
“Chanyoung-nya Mas. Cantik banget kamu, Sayang.. Hhh–ahh..”
“Ngghh.. Dalem banget, Mas..”
“Ayahnya kan kangen, pengen ketemu Abuy.” Sungchan meringis kemudian mencium lengan telanjang Chanyoung gemas.
Chanyoungpun sama, tersenyum lebar menujukkan deret giginya sebelum dahinya berkerut sebab Sungchan masuk begitu dalam mencapai g-spotnya.
“Ahhnn… Ngghh… D–disitu, Ma–mas!” Chanyoung memejamkan mata, refleks menutup mulutnya kuat-kuat. Gerakan Sungchan dalam dirinya membuat dirinya kelimpungan.
“Enak, Sayang? Disini?” Sungchan dorong lebih dalam lagi, sesuai permintaan Chanyoung-nya.
“Hhmm! Aaahh!” Chanyoung mendesah keras dengan Sungchan masih terus memimpin penyatuan mereka. Hingga Chanyoung rasakan Sungchan makin memenuhi dirinya.
“Hhahh.. Mas, deket sayang.”
Kini dekapan Sungchan makin erat. Dada bidangnya bersentuhan langsung dengan punggung telanjang Chanyoung. Peluh makin deras mengalir di tubuh keduanya. Nafas kian menderu sebelum akhirnya Sungchan melepaskan benih di dalam dirinya.
“Hahh.. Uhh..”
“Hhhhh.. Hhh… Ahhh..”
Penyatuan tubuh mereka terlepas seiring lenguhan keduanya yang seakan sangat puas dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
Detik kemudian, Sungchan bawa satu tangan Chanyoung dan bubuhkan kecup di punggung tangannya.
“Makasih, Sayangnya Mas.” Pun tak lupa dia elus perut Chanyoung.
“Abuy, is everything fine right there?”
Chanyoung tergelak dibuatnya.
“Abuy is fine, Ayah." Chanyoung menimpali dengan suara bayi yang biasa ia buat untuk mewakilkan buah hatinya.
"Abuy seneng ditengokin Ayah– Tuh! Nendang lagi!” Chanyoung kegirangan mengusap-usap perutnya sendiri.
Gemas sekali. Sungchan tidak bisa tidak mencium wajah Chanyoung barang semenit. Dahi, kelopak mata, pucuk hidung, kedua pipi, dan dagu manisnya diabsennya satu-persatu. Setelahnya, ia kembali bawa tubuh Chanyoung, yang masih telanjang, dengan silk robe menggantung asal di tubuhnya. Yang digendong secara tiba-tibapun reflek mengalungkan tangannya di leher kokoh pria tampannya.
“Kita mandi dulu ya, Cantik. Mas bantu.”
Dalam gendongan Sungchan menuju ke kamar mandi mereka, Chanyoung bersuara “Aku nggak berat, Mas? Turunin aja akunya..”
“Sayang, ngomong kayak gitu sama aja ngeremehin Mas. Mas masih kuat banget ngangkat Cantik. Gendong kamu ditambah ngangkat galon satu juga masih bisa!”
Gelak tawa manis Chanyoung memenuhi ruang. “Hahahaha.. Apa sih!" tepukan pelan ia daratkan di dada suaminya.
Setibanya di kamar mandi, Sungchan turunkan Chanyoung dari gendongannya. Mendudukan Chanyoung di kloset yang tertutup. Dengan telaten dia bersihkan tubuh Chanyoung sebelum ia juga bersihkan tubuhnya sendiri
Selepas mandi, jam menunjukkan pukul sembilan malam yang artinya jam makan malam sudah lewat. Pantas saja Chanyoung merasa begitu lapar. Tetiba ia teringat bahwa tadi siang, Sungchan menjanjikannya sesuatu.
“Mas, kamu jadi beli kentang atau ubi atau apa?” Chanyoung bertanya sambil menggosok rambut basahnya dengan handuk di tangan. Duduk di ujung ranjang, mendekati Sungchan yang berbaring di ranjang dengan sprei yang baru digantinya.
“Yah! Mas lupa, Sayang. Maaf banget.. Maaf, maaf, maaf..” Sungchan menguburkan wajahnya di paha Chanyoung dengan kedua tangan Chanyoung dalam genggamannya. Kemudian ia mendongak menatap wajah Chanyoung.
“Mas beli sekarang, ya? Supermarket di bawah kan masih buka.”
“Ah, Mamas, ah! Kok bisa lupa, sih!”
“Sayang, Cantiknya Mas.. Jangan ngambek, ya? Mas berangkat sekarang. Mas gak balik sebelum ketemu.”
“Tau ah! Mas kok bisa lupa, sih! Huhuhuhu aku laper… Terus sekarang aku makan apa? Gak bisa makan nasi.. Huhuhuhu.” Chanyoung menangis. Salahkan hormon kehamilannya yang membuat dia jadi sesensitif ini.
“Mas kebawah buat cari ubi sama kentang sama jagung juga. Sekarang Mas orderin salad wrap dulu, mau? Jangan nangis ya, Cantik?” Sungchan menangkup pipi gembil Chanyoung yang memerah. Mengusap air mata yang mengalir disana.
“Gatau ah! Pokoknya cepetan, Mamas.. Huhuhu..”
Dengan tergesa, Sungchan pakai sandalnya, meraih kenop pintu meninggalkan unit mereka.
“I–iya, i–ini Mas berangkat!”
Masih sedikit terisak, Chanyoung tersenyum geli melihat aksi panik Sungchan yang makin membuktikan seberapa besar suaminya itu menyayanginya.
Chanyoung begitu beruntung memiliki Sungchan..
dan Abuy, tentunya.
FIN
