Actions

Work Header

Curious.

Summary:

Rion itu curiga.

Seumur hidupnya yang dijalani bersama dua teman pria yang berbeda kepribadianㅡbertolak belakangㅡbaru kali ini ia merasa ada yang aneh diantara keduanya.

Work Text:


Rion itu curiga.

Seumur hidupnya yang dijalani bersama dua teman pria yang berbeda kepribadianㅡbertolak belakangㅡbaru kali ini ia merasa ada yang aneh diantara keduanya.

Aneh, pikir Rion ketika melihat kedua temannya yang terlihat sering sekali berbisik. Bahkan tak sekali matanya menangkap si rambut putih gondrong yang selalu diikat itu menepuk bokong kawannya.

Kecurigaannya menjadi, saat ia melihat kawan satunya yang berambut hitam dengan banyak tato disekujur tubuhnyaㅡRion punya satu, hasil ciptaannyaㅡterlihat begitu gusar, sedikitnya ia melihat kawannya itu memerah dan berkeringat.

Sakamoto, si rambut putih, kerap tertangkap sedang melamun, tapi sorot matanya tanpa disadari hanya fokus pada seseorang. Dibalik kacamatanya, Sakamoto selalu terlihat sedang menatap kearah Nagumo, si rambut hitam.

Rion menghela nafas, menghembuskan asap rokok yang baru saja ia nyalakan. Kecurigaannya sulit berbukti, ia tidak bisa langsung menanyakan karena bisa saja mereka hanya bermain-main seperti biasa?

Atau mungkin tidak?

Malam hari di asrama JCC, Rion mematikan pemantiknya, menghisap rokoknya yang kesekian sembari memasuki gedung asrama laki-laki.

Oh, ia bermaksud untuk mengajak Sakamoto dan Nagumo untuk sekadar mencari angin bersama. Mereka sering kok melakukannya, bahkan tidak ada yang pernah berani menghalangi Rion untuk masuk ke asrama laki-laki.

Ketika langkahnya berhenti didepan pintu yang diyakini kamar dari kedua kawannya itu, Rion baru saja akan mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu ketikaㅡ

"Pelan-pelan bangsatㅡ Ha- Ahh.. S- Sakamoto.."

ㅡ tiba-tiba Rion mendengar suara yang begitu familiar ditelinganya.

Tolol, pikirnya kesekian kalinya. Rion betul-betul mengutuk tingkah bodoh kedua temannya yang seharusnya tau kalau tembok asrama itu tipis dan tidak kedap suara.

Rasa penasaran mulai menggerogoti. Jujur saja, Rion punya beberapa skenario didalam kepalanya untuk kecurigaannya pada Sakamoto dan Nagumo. Tetapi, ia tidak mungkin begitu saja membenarkan isi pikirannya sendiri yang bahkan tidak berbukti.

Akan sangat memalukan, bukan?

Gagang pintu didepan coba diturunkan, tidak terkunci. Maka Rion membuka sedikit untuk memberi ruang untuk matanya, hatinya mengerang kata maaf berkali-kali, entah apakah rasa penasarannya kali ini akan membawanya menuju penyesalan atau sebaliknya.

Celah pintu terbuka, langsung tertuju ke salah satu ranjang didalam kamar. Matanya mengernyit, mencoba menajamkan indra penglihatannya.

"Kalau gua jilatin lagi, lo bakal keluar, gak?"

"Tolol! Mikir gak kalau nanya?!"

"Oke kita coba dari area ini, ya."

"SAKㅡ Anjinghㅡ p-pelan-pelanhh.."

Hampir, hampir saja Rion menjatuhkan batang rokoknya dan mendobrak pintu didepannya. Matanya melotot kaget, tidak, bukan kaget lagi, ia hampir tidak bisa mengucapkan apa-apa.

Isi kepalanya tiba-tiba kosong, sedikit percakapan dan adegan dihadapannya sudah membuat kecurigaannya itu terbukti.

Jadi Rion tidak salah kira.

Sakamoto dan Nagumo bukan hanya teman, tetapi melebihi teman.

Tapi alisnya kembali terangkat, ada yang aneh bagi Rion.

Dihadapannya sekarang hanya terlihat punggung Sakamoto dan kaki Nagumo yang terkulai dipundaknya, tunggu, kenapa posisinya seperti itu?

Katakan nekat, tapi Rion rasa ia harus memastikannya sendiri. Maka pintu itu dibuka perlahan, sama sekali tidak menginterupsi kegiatan panas dua kawannya itu.

Kakinya melangkah masuk tanpa suara, dan ketika ia dekat, mata Rion kembali terbelalak. Dan Nagumo adalah yang pertama membuat kontak mata dengan Rion.

"Anjing!" Pekik Sakamoto kemudian ketika Nagumo dengan tiba-tiba mendorongnya dengan kaki sampai-sampai punggungnya menabrak dipan kasurnya sendiri, masih belum menyadari kehadiran Rion.

Rion masih membeku, matanya masih menatap lurus kearah Nagumo, sampai tatapan itu turun ke area sensitif kawan laki-lakinya. Dengan cepat Nagumo menarik selimut dan menutupi bagian bawah tubuhnya dengan wajah memerah padam.

"Rion?" Itu Sakamoto, setelah mengusap rasa nyeri dipundaknya, si rambut putih itu akhirnya menyadari kehadiran Rion, tingkah tidak terlihat panik. "Ngapain lo kesini?"

Rion masih diam, kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan untuk Nagumo. Tetapi pertanyaan Sakamoto mendistraksinya, membuatnya menghela nafas dengan tangan menyilang diatas dada, "nyari lo berdua," Jawabnya singkat, menghisap kembali rokoknya sebelum melanjutkan ucapannya, "gak sangka lagi asik banget berdua."

"Tai," Nagumo mendengus, masih enggan membuat kontak mata dengan Rion, ia tau pasti Rion melihatnya, melihat itu, dan pasti teman wanitanya itu akan bertanya.

Sakamoto meregangkan kedua lehernya, "sorry, sibuk gua. Lain kali, dah?"

"Ye, mau lanjut kan lu?" Rion sengit, tangannya terulur untuk mematikan rokok diatas asbak milik Sakamoto, "lu berdua tuh mencurigakan, sadar gak? Asik bener dah berdua, kayak gua bukan temen aja."

Ucapan Rion sukses membuat Sakamoto dan Nagumo terdiam, terutama bagi Nagumo yang saat ini terlihat seperti tertangkap basah. Sakamoto berdeham singkat untuk mencairkan suasana, "yaudah, lo mau ikut?"

"Hah?"

Respon Rion cukup membuat Sakamoto terkekeh geli, sedangkan yang berada diatas ranjang sedang melotot. Oh, apa lagi permainan yang akan Sakamoto mainkan kali ini?

"Sak, sakit lo sumpㅡ"

"Boleh."

"ㅡah. Hah?" Kali ini Nagumo yang dibuat bengong oleh jawaban Rion, alisnya bertaut heran, tapi tidak bohong jika ia mengerti apa maksud dari temannya itu.

"Gak usah ditutupin selimut, Gum. Gua udah liat," Kata Rion santai, kakinya melangkah mendekati Nagumo, "enak banget Saka, udah nyobain memek lu berkali-kali."

Komentar Rion diselingi dengan tangannya yang menarik selimut yang digunakan Nagumo untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Mata Rion langsung tertuju kearah area yang ia yakini barusan kalau ia sendiri salah lihat, senyumnya tersungging sambil menengok kearah Sakamoto.

"Sak," Panggilnya, "ini memek beneran udah lo coba?" Tanyanya frontal. Sontak membuat Nagumo merapatkan kakinya, tidak ada lagi celah baginya untuk kabur.

Sakamoto yang sedang menyalakan rokok dengan pemantiknya itu mengangguk, menghisap batang rokok sembari membuka jendela kamarnya, asap dihembuskan keluarㅡ karena ia tau, Nagumo tidak suka asap rokok.

"Udah,"

"Enak?"

"Coba aja sendiri."

Setelah mendengar ucapan Sakamoto, senyum Rion melebar, tubuhnya sengaja dibawa semakin mendekat kearah Nagumo. Tangannya terulur, mengusap paha yang dipenuhi beberapa tato disana.

"Gum, gua boleh coba?" Tanya Rion, nadanya dibuat sangat pelan dan terkesan seduktif. Yang diusap pahanya terdiam, menelan air liurnya sedikit kasar sembari menggigit bibir bawahnya pelan, tak lama kepalanya mengangguk.

Rion sedikitnya takjub melihat sisi Nagumo yang seperti ini. Anak itu memiliki kebiasaan banyak bicara, siapa sangka saat diranjang akan sediam ini?

"Rion, guaㅡ a- aduh.." Ucapan Nagumo terpotong, pahanya yang ditutup rapat sedikit menggeliat tak nyaman ketika Rion menelusup masuk; mengusap area labia major di vagina milik Nagumo.

"Gendut bener, cewek ya lo?"

Meremang, Nagumo membuang mukanya, enggan menatap kearah Rion, tetapi sudut matanya malah bertemu dengan tatapan Sakamoto. Si rambut putih itu terlihat sibuk menghisap rokoknya sembari menatap Nagumo yang sedang dicabuli Rion dalam diam. Aneh, tetapi Nagumo merasa semakin merinding melihat tatapan itu.

Jemari Rion tidak diam ketika ia melihat Nagumo sedikit bergetar dibawah kuasanya, telunjuknya ia gunakan untuk menyentuh bagian klitoris, membuat gestur menggesek dan memutar disana sehingga Nagumo memekik pelan; pertahanannya runtuh, pahanya yang semula merapat karena lemas kini mulai dilebarkan dengan sendirinya. Ada sedikit cairan basah yang dirasakan oleh Rion, membuatnya menyeringai puas.

"Perek," Ucapnya dengan nada rendah, "suka lo dikobelin gini? Sampe berapa jari nih biar lu muncrat?"

Sialan. Nagumo bahkan belum mempersiapkan apa-apa, tetapi kini ia sudah terkulai lemas diatas ranjangnya ketika Rion memasukinya dengan dua jari sekaligus. Jari Rion itu kecil, tidak seperti Sakamoto yang besar, langsung membuatnya terangsang, jadi ia hanya menggeliat perlahan karena merasakan sesuatu yang mengganjal.

"Kagak berasa, tuh." Kata Sakamoto menginterupsi setelah diam mengamati, "gak usah ragu-ragu."

Sumpah, ingin rasanya Nagumo menendang kepala putih itu. Tetapi niatnya seketika buyar ketika Rion menambah jari ketiga dan mulai bergerak menggunting. Matanya melotot dan erangan pelan mulai keluar dari mulutnya.

"Ri- Rionhh pelan-pelan anj-inghh.." Nagumo bersuara, sedikit kesusahan karena gerakan Rion yang seperti terburu dan acak-acakan. Tetapi Rion hanya terkekeh, merangkak naik keatas Nagumo dan mulai melumat bibir itu, membungkam Nagumo yang dibuat semakin terlena dengan setiap sentuhan yang ia terima.

Disudut kamar, Sakamoto telah menghabiskan waktu merokoknya sembari menatap Rion yang sedang mencumbu Nagumo. Oh, kaki itu terbuka lebar, jujur saja seperti memanggil Sakamoto untuk menjamahnya.

Maka ketika Rion sedang sibuk melumat bibir Nagumo, Sakamoto mendekat dengan celananya yang sudah diturunkan sedikit. Mengeluarkan penisnya yang sedikit menegang karena melihat vagina tembam yang sedang dimanjakan oleh jari-jari Rion.

"Awas jari lo," Kata Sakamoto, menarik jari Rion dari lubang vagina Nagumo. Tanpa mengindahkan protes Rion yang mengacungkan jari tengah padanya, Sakamoto menggesekkan batang penisnya tepat di area labia milik Nagumo.

Nagumo mengerang dalam lumatan Rion, nafasnya sudah terpacu oleh tindakan kotor teman-temannya ini. Kali ini ditambah oleh gesekan penis Sakamoto pada vaginanya, oh, Nagumo akan berteriak sekarang.

"Duh," Rion menarik diri, menciptakan benang saliva diantaranya dengan Nagumo yang sudah terkulai lemas, "gua lupa ada janji." rutuk Rion, Sakamoto terkekeh, "yaudah lu pergi aja."

Rion memutar kedua bola matanya malas, "ya oke, tapi lain kali giliran gua ngentotin si Nagumo ya." Katanya dengan nada tidak mau tau dan tidak ingin dibantah. Tapi Sakamoto sepertinya tidak mendengar, lelaki itu kini sudah mengungkung Nagumo dibawah dominasinya, mencuri setiap lumatan yang sudah Rion berikan lebih dulu.

Tanpa menunggu respon keduanya, Rion melangkah keluar dan menutup pintu itu dengan keras. Sukses membuat Sakamoto dan Nagumo terdistraksi.

"Marah, tuh?" Celetuk Sakamoto dengan nada sambil lalu, menoleh kearah pintu, "segitunya banget pengen ngentotin lu, Gum."

Nagumo, yang wajahnya memerah mendengus. Bibirnya kini terlihat lebih merah dan sedikit mengkilap karena saliva, juga membengkak.

"Bacot, lu mau gesek-gesek sampe kapan? Masukin gak?" Kali ini Nagumo berucap, kalimatnya frontal dan terkesan tak sabaran, membuat Sakamoto menyeringai.

Jarinya terulur menarik dagu si rambut gelap untuk menatap matanya lurus.

"Gak sabar banget, perek. Kasian Rion, mau ngentotin lu, tapi lu maunya cuma dientot sama gua."

Tepat bersamaan ketika Sakamoto berbicara, ujung penisnya sudah terarah di pintu masuk vagina Nagumo, didorongnya sedikit, membuat yang dibawah sedikit meringis.

"Sak, sakit, sakit.." Lirihnya sembari mencengkram lengan Sakamoto. Tadinya, Sakamoto enggan memberi ampun, demi apapun ia hampir saja membanting Nagumo dan menyetubuhi tubuh kurus itu dengan kasar ketika melihat Rion. Matanya menatap raut Nagumo yang terlihat kesakitan, oh, Sakamoto begini juga masih punya hati.

Maka ia hentikan pergerakannya, penisnya hanya setengah sebelum masuk sepenuhnya didalam Nagumo. Sakamoto bergumam singkat, "bilang kalau udah gak sakit."

Dan Nagumo mengangguk, bibirnya kembali digigit pelan, "b- boleh gerak.." Katanya. Sakamoto menganggukan kepalanya lalu mulai kembali bergerak masuk dalam satu hentakan.

"AH! SAKIT!"

Sakamoto mendesis, merasakan sakit dilengannya yang dicengkram kuat oleh Nagumo. Tetapi rasa sakit itu mungkin tidak sebanding dengan Nagumo, lubangnya yang sempit dipaksa harus menerima penis besar milik Sakamoto.

Terdiam, Sakamoto memutuskan untuk mencumbu leher Nagumo. Mendistraksi rasa sakit yang dirasakan Nagumo, Sakamoto melayangkan kecupan-kecupan ringan dilehernya.

"S- Saka,"

"Mm,"

"Sakamoto,"

"Hm?"

"G- Gerak.."

Kecupannya terhenti, Sakamoto mengangkat kepalanya untuk menatap netra gelap Nagumo, "yakin? Kalau masih sakit, gua diem dulu juga gapapa, anget lumayan."

"Anjing," Nagumo melayangkan tinjunya di lengan Sakamoto, pipinya memerah, "ganjel, gak enak."

"Yakin gak enak?"

"Iyㅡaahh.. Mmhh.. S- Sakamotoㅡ"

Seringainya melebar, Sakamoto mulai menggerakan pinggulnya, memompa penis miliknya kedalam lubang ketat Nagumo yang sudah beberapa kali ia cicipi. Oh, tetap saja sangat ketat.

"Perek," Cetus Sakamoto, peluhnya jatuh, "suka lo dientot begini? Ngangkang begitu, keenakan lo dikasih kontol?"

"H- Hahh.. Sakamotoㅡ nghh.. Enak.. Enakh.. Suka dikontolin sama Sakaㅡmmhh.."

Racauan Nagumo sukses membuat Sakamoto semakin panas, gerakannya dibuat semakin cepat hingga Nagumo sedikitnya kewalahan dengan penis Sakamoto yang semakin membesar didalamnya.

Keduanya saling mendesah hingga beberapa menit menuju puncak, Nagumo tiba-tiba memukuli Sakamoto diarea dada.

"S- Sak, mau muncrat! L- Lepas, keluarin!" Racaunya sedikit panik, merasakan orgasmenya dan Sakamoto yang mulai mendekat.

Tapi bukan Sakamoto namanya jika tidak keras kepala. Pendengarannya sengaja ditulikan, pompaannya semakin mengencang. Nagumo semakin mendesah dibuatnya, dan ketika dirasa Sakamoto semakin dekat, lelaki itu membungkuk dan menarik Nagumo kedalam dekapannya.

"Gum," Panggilnya dengan nada yang sangat rendah, "hamil, ya?" Ucapnya kemudian, bersamaan dengan orgasmenya yang sampai didalam Nagumo.

Ada perasaan basah, Sakamoto yakin itu hasil muncrat dari Nagumo.

Keduanya terdiam beberapa menit hingga tiba-tiba Nagumo mengerang.

"Sakaaaaaa," Panggilnya dengan nada merengek, "peju lu banyak banget perut gua sampe kembung.."

Sakamoto terkekeh, "biar lo hamil."

"Anjing lo."

Nagumo baru saja akan menopang tubuhnya kembali tegak ketika tiba-tiba Sakamoto mendekapnya dan mengubah posisinya menjadi duduk diatas pangkuannya. Oh, Sakamoto sama sekali belum mengeluarkan penisnya dari dalam Nagumo.

Alis Nagumo menukik curiga, "Sak?"

"Hm?"

"Mau ngapain?" Tanyanya, tapi belum sempat pertanyaan itu dijawab, Nagumo sudah merasakan sesuatu kembali menegang didalam. "Sak, anjing?"

"Sekali lagi, lo yang gerak tapi, gua masih sange liat lu dientot gini. Memek lu enak."

"Bangsat! Sakamoto Taro!"

Pada akhirnya, kamar asrama itu kembali dipenuhi oleh racauan-racauan Nagumo yang kembali disetubuhi Sakamoto Taro.

ㅡ fin.