Actions

Work Header

ngentotin_janda_seksi.mov

Summary:

Berawal dari ngeluh karena bengkel seberang rumahnya berisik, berakhir dengan Anya yang dibikin berisik sama pemilik bengkel.

Notes:

Di universe ini, Anya Anjani bukan anak pemilik showroom. Anya disini adalah seorang single mother yang ditinggal kabur sama pacarnya setelah dia ngasih tau kalo dia hamil.

Anya (32)
Satrio (36)

Untuk visualisasi mereka, saya serahkan ke imajinasi pembaca:D
Enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Berisik banget, sih?!”

Pagi-pagi gini, Anya, si janda anak satu itu udah ngedumel karena polusi suara dari bengkel yang ada di seberang rumahnya.

Siapa yang nggak sebel kalau hari minggu pagi yang harusnya tenang dan damai malah berisik bukan main karena suara knalpot brong? Maklum kalau Anya sedari tadi nggak habis-habisnya ngomel karena rencananya untuk menyelesaikan pesanan kue harus ditunda. Akibat berisiknya bengkel sialan itu, anaknya yang baru berusia enam bulan terbangun dari tidurnya.

Sebagai single fighter dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, saat itu Anya nggak punya opsi lain selain menyewa ruko yang dia tempati sekarang ini. Ruko dengan biaya sewa murah tapi ada di wilayah yang strategis. Minusnya adalah, ruko ini berhadapan langsung sama bengkel motor modif. Yah.. Waktu itu Anya nggak mikir efeknya begini, sih. Apesnya lagi, dia udah ambil sewa untuk dua tahun. Mau gak mau dia harus membiasakan diri.

Anya pikir, sekali-sekali harusnya dia tegur pemilik bengkel biar gak ngetes knalpot di pagi-pagi buta begini. Rencana dia jadi kacau karena dedek bayi bangun. Harusnya sekarang dia bisa bantuin Mbak Erni buat panggang roti biar bisa bisa cepat selesai pesanannya.

Jangan tanya kemana suaminya. Dia gak pernah nikah. Dia hamil anak mantan pacarnya yang brengsek itu, terus ditinggal kabur karena gak mau tanggung jawab. Bingung, sih, sama statusnya. Dibilang perawan udah enggak, dibilang janda juga belum pernah nikah. Tapi karena udah ada anak satu, orang-orang selalu ngeklaim dia sebagai janda. Yah... Dia sih bodo amat sama hal itu. Yang jelas, Anya bukan pengecut yang kabur dari konsekuensi setelah bertindak.

Saat itu dia pilih untuk ngerawat janin di kandungannya sendirian, dibanding menggugurkannya. Dan buktinya, dengan semua usaha dan kerja kerasnya dia bisa bikin usaha rumahan buat memenuhi kebutuhan dia dan debay. Bahkan dari usaha bakery ini, dia bisa gaji dua karyawan toko dan satu pembantu.

“Oeeee… Oeeee.. Oeee…”

Tangisan Kinar, anak perempuannya yang baru umur enam bulan itu masih menyambung, belum juga berhenti. Cepat-cepat Anya ambil gendongan dari lemari. Dia bawa Kinar untuk ditimang-timang di balkon lantai dua rukonya sambil menyusui dedek bayi biar cepet bobok lagi.

Saat menimang Kinar agar dia kembali tidur, dari balkon lantai dua Anya bisa lihat jelas kegiatan di bengkel seberang. Matanya menangkap sosok yang lagi sibuk benerin motor pelanggannya.

“Mas! Mas montir! Heii!!” Anya berteriak dan melambai dari balkonnya. Daster bali tanpa lengan yang dipakainya saat ini jadi berkibar terkena angin pagi.

“Y-ya, Bu?!” sang Montir yang mendapat pemandangan indah di pagi hari itu sedikit gelagapan.

“Kalo pagi jangan berisik, ya! Saya punya anak bayi!”

Si montir diujung sana hanya mengangguk-angguk. Dan memberi gestur tangan bersedekap di depan dada dan berteriak “Maaf, Bu!”

Tidak lama, Anya kembali masuk dan menutup pintu balkon.

“Siapa, Gus?” Seorang lelaki berusia pertengahan tigapuluhan dengan lengan kiri yang penuh tato itu mendekat montir yang merupakan anak buahnya, Bagus.

“Anu, Bos… Penghuni ruko depan itu. Punya anak bayi ternyata. Keganggu sama suara knalpot tadi.“

“Oh! Rukonya udah ditempati orang baru, ya? Saya belum pernah kesana, Gus. Nanti sore deh saya kesana biar dia gak jutek sama bengkel kita.”

“S-saya boleh ikut, Bos?”

“Ngapain?”

“Hehe─ Anu, Bos.. Ibunya cuantik buanget, eh.. ”

“Mending beresin kerjaanmu!” finalnya sebelum kembali masuk ke ruangan kantor di bengkel miliknya itu. Dalam diamnya, bohong kalau dia bilang nggak penasaran dengan sosok penghuni ruko seberang bengkelnya itu.

 


 

Sesuai rencana, Satrio, pemilik Bengkel Sanjaya Abadi itu bertamu ke ruko yang ada di seberang bengkel miliknya. Kebetulan ada dua orang yang menyambut Satrio saat dia masuk ke bakery. Ada sosok wanita yang cantik berseri sedang disana bersama seorang pegawai bakery yang berseragam. Wanita cantik itu duduk di dekat kasir sembari membawa seorang bayi dalam gendongannya.

Wanita itu langsung berdiri menyambut saat melihat kedatangannya.

“Ya, Mas? Silahkan. Mau cari kue apa?”

Satrio terpana bukan main lihat sosok cantik dengan rambut panjang bergelombang, badannya tinggi, berisi─cenderung semok, dengan mini dress polo warna abu-abu yang membalut tubuhnya sempurna. Satrio sampe ngeces lihatnya.

“K-kue apem, ada?” Rasanya Satrio pengin mati saat itu juga. Mulutnya emang sering bekerja lebih cepat dari otak.

Anya yang kebingunganpun mengerutkan dahi.

“Kebetu─”

“Eh! Bukan, bukan! Maksud saya, saya Satrio, pemilik bengkel yang didepan, Mbak. Saya mau ngobrol sama yang sewa ruko ini.” Secepat kilat dia menyela sebelum Anya berpikir dia orang aneh.

“Oalah. Iya, Mas.. Mari ikut saya.” Anya berjalan mendahului Satrio untuk mengarahkan.

Namun belum jauh melangkah, Anya menoleh kembali ke belakang. “Sinta, saya tinggal, ya?”

“Baik, Bu.”

Pun kemudian Anya mempersilahkan Satrio untuk memasuki ruangan kecil di dalam rukonya itu. Ruangan yang biasa ia pakai untuk mengurus administrasi bakery.

“Silahkan, Mas, duduk... Saya ambilkan minum dulu.”

Satrio heran bagaimana Anya bisa bergerak selincah itu dengan bayi di gendongannya. Hebat sekali.

Lamunannya terbuyarkan saat satu botol kecil air mineral telah Anya letakkan di meja sebelum kemudian ia duduk di hadapan Satrio.

“Jadi gimana, Mas?”

Benar kata Bagus. Penghuni ruko ini cantik sekali. Menawan, keibuan, dan ada sisi imut dan nakal yang tergambar di wajah elok wanita dihadapannya ini. Kini Satrio lebih penasaran siapa pria beruntung yang mendapatkannya.

“Oiya, belum kenalan, ya? Saya Anya, Mas, yang punya bakery ini. Mas Satrio, ya?” Anya mengulurkan tangan.

Rasanya Satrio bisa mimisan saat itu juga waktu tangannya yang kasar dan ngapal itu bersalaman dengan tangan lembut nan terawat milik Anya.

“Betul, saya Satrio, Mbak Anya.”

“Jangan panggil mbak, deh. Kayaknya kita hampir seumuran ya?”

“Saya kelahiran delapan sembilan kebetulan.” jawab Satrio.

“Oh, tuaan Mas, sih.. Saya sembilan tiga, Mas. Hahaha..“ tawa renyah dan pribadi yang hangat itu sukses bikin Satrio kesengsem di pandangan pertama. Dia pengin kenal Anya lebih jauh.

“Jadi saya boleh panggil Dek Anya?”

“Senyamannya saja, Mas. Saya santai, kok..” Anya akhiri kalimatnya dengan senyum manis yang ia lemparkan pada Satrio.

“Jadi gini, Dek Anya.. Saya mau minta maaf, ya, kalau bengkelnya berisik di pagi hari tadi. Saya nggak tahu kondisinya Dek Anya punya baby. Pasti terganggu, ya..”

“Iya, Mas.. Saya sebenarnya gak papa rame knalpot asal nggak pagi-pagi buta gitu, Mas.. Saya mengerti memang sudah resiko tinggal di dekat bengkel ya begini. Saya nggak mungkin melarang bengkel Mas untuk tidak berisik sama sekali. Cuma maksud saya sih jam kebisingannya saja yang diperhartikan. Kalau pagi-pagi banget begitu jamnya Kinar masih bobo.”

“Iya sekali lagi saya minta maaf ya, Dek Anya. Saya akan lebih perhatikan hal tersebut kedepannya.”

“Terima kasih, lho, Mas. Sudah mau dikomunikasikan dengan saya.”

“Ah, sudah seharusnya kan, Dek. Itu jadi, nama babynya Kinar ya namanya? Cantik, ya, kayak ibunya.”

“Hahaha.. Mas Satrio bisa aja. Iya, Kinar namanya.”

“Ya, sebenarnya, kendala saya itu kan kalo pagi gitu masih sendiri disini, Mas. Jadi agak susah kalo pagi handle Kinar sendiri.” lanjutnya menyambung obrolan.

“Lho, maaf kalau boleh tau suaminya kemana, Dek Anya?”

“Gak ada suami, Mas. Saya ini ya bapak, ya ibu buat Kinar.”

Dalam batinnya, Satrio bersorak penuh kemenangan. Janda muda, cantik, ramah, seksi… mandiri lagi!

“Kok bisa orang secantik ini gak ada suaminya, toh?”

Mulai.

“Mas mau, tah? Jadi suami saya?”

Namun sebelum Satrio sempat menjawab, secepat kilat Anya kembali menimpali

“Hahahahha… Bercanda lho, Mas. Biar awet muda.”

“Wah… Kalo ditawari begitu, masak saya nolak, Dek?”

“Oeeee… Oeeee.. Oeee…”

Sialnya percakapan yang hampir mencapai klimaks itu terhenti karena Kinar kembali rewel dalam gendongan Anya. Pun dia beranjak dari duduknya untuk berdiri dan menimang sang anak.

“E-eh, sebentar, ya, Mas..”

Monggo, Dek.”

Anya buru-buru keluar ruangan. Dirinya melangkah ke lantai dua untuk menidurkan Kinar di baby crib yang ada di kamar si anak sambil memberikannya dot susu. Menepuk-nepuk punggung Kinar hingga beberapa menit kemudian, Kinar berhasil tidur pulas. Barulah Anya kembali menemui Satrio di lantai bawah.

Lagi, Anya daratkan pantatnya di bantalan kursi di hadapan Satrio

“Maaf, ya, Mas. Sampai mana kita tadi?”

Tak ada sahutan membuat Anya menatap Satrio untuk mencari tahu apa yang sedang Satrio lakukan.

“E-eh… A-anu…” Si pemilik bengkel itu gelagapan sebab dirinya kedapatan menatap bagian dada Anya. Karena gendongan bayinya sudah dilepas, kini bisa Satrio lihat rembesan ASI membasahi baju si ibu muda. Warna abu-abu makin bikin putingnya nyeplak jelas karena bajunya yang basah.

“Aduh.. Maaf, Mas Satrio. Namanya ibu-ibu ya begini, ya. Mohon dimaklumi.” Anya segera menyilangkan tangannya didepan dada untuk menutupi.

“I-itu k-kalau gantian saya yang nyusu boleh, Dek?”

Gede juga nyali lo, Satrio.

Meski terbata-bata, setidaknya keinginannya tersampaikan.

Ia menunduk tidak berani menatap muka Anya. Ia merasakan langkah kaki Anya mendekat. Sambil terus memejamkan mata, dirinya siap menerima tamparan.

Anehnya tidak ada telapak tangan mendarat di pipi. Malah justru Anya menggandeng tangannya dan menariknya berdiri. Si janda muda kemudian berbisik centil, “Dikamarku aja.”

Mereka menaiki tangga dan tiba di kamar pribadi Anya. Satrio diarahkan untuk duduk di ujung kasur sementara Anya menduduki paha gagah berotot itu dengan posisi saling berhadapan.

Anya membusungkan dadanya yang masih terbalut pakaian ke arah wajah Satrio. “Liat, Mas... Basah kuyup ini. Waktunya pompa sebenarnya.” Disuguhi buah dada si ibu muda, Satrio bisa mencium aroma khas ASI yang bikin dia pengin cepet-cepet nyusu.

“Gede banget susunya, Dek Anya.” Satrio remas-remas payudara Anya dengan gerakan lembut, tak ingin menyakiti. Setiap remasannya sebabkan ASI Anya muncrat membasahi dress abu-abunya. Kini bagian depan dressnya jadi basah total karena remasan itu.

“ASI-nya deres soalnya, Mas. Saya harus pumping terus tiap dua jam.”

“Mulai sekarang saya bantuin kalo mau pompa, Dek. Biar nggak ada yang mubazir.”

Anya tergelak ringan “Hahahah.. Bener, ya, Mas? Beneran saya cari Mas Satrio kalo waktunya pumping, lho..”

“Tapi sekarang kita bisa trial dulu ya, Dek?”

Anya menggangguk girang. Persetujuan itu jadi lampu hijau untuk Satrio bertindak. Dia lucuti dress Anya di detik kemudian. Membawanya melewati kepala Anya hingga lolos. Tersisa celana dalam hitam renda yang menutupi bagian intim Anya. Dua payudara Anya kini bergelantung bebas didepan wajah Satrio.

Puting kiri yang ada di hadapannya itu dikenyotnya dengan semangat. Air susu Anya terasa nikmat mengalir ke kerongkongannya. Tangan kanannya pun nggak diam, ikut mencubit-cubit pentil kanan Anya sampai air susunya muncrat-muncrat.

“Eeeghhhh.. Mas… Shhh..” Anya mengekap kepala Satrio dengan dua tangannya sebabkan kenyotan Satrio makin kencang. Darah dalam dirinya berdesir selaras dengan kenyotan Satrio pada payudaranya. 

“Lama nggak disentuh kaya gini. Mmhhh.. Enak, Mashh..” Tubuhnya menggelinjang dalam pangkuan Satrio. Anya yang spontan membusung hampir membuatnya jatuh kalau saja Satrio nggak cepat menahan punggungnya.

Anya tamati sosok Satrio yang gagah dan perkasa. Badannya tegap, berotot. Kulitnya kecoklatan. Tato yang gahar memenuhi lengannya makin menambah kesan seksi. Jangan lupakan jambang tipis yang membuat aura maskulin dari pria itu makin terpancar. Jujur Anya sudah basah saat pertama kali melihat Satrio masuki rukonya. Rasanya Anya terlalu lama tidak disentuh sampai lihat sosok pria jantan seperti Satrio bikin bibir bawahnya becek.

“Mmhh.. Sedot terus, Mas.. Kayak gitu.. Iyahh..”

Satrio semakin berapi-api untuk memainkan puting Anya. Dengan ujung lidahnya ia mainkan puting itu dengan gerakan lidah memutar. Liurnya bercampur dengan air susu Anya membuat ujung payudara Anya makin basah dan mengkilap terpancar cahaya ruangan kamarnya. ASI-nya menetes-netes membasahi paha keduanya. Sementara Anya yang dimanjakan, merasa seperti nggak napak dunia.

Dua telapak tangan Surya merapatkan gunung kembar itu ke tengah. Karena tekanan yang Satrio berikan, kelenjar air susunya memuncratkan ASI hingga mengenai wajah Satrio. Mengalir hingga ke dagu. Ada sensasi hangat dia rasakan saat air susu Anya mengenai wajahnya.

“Mas!”

“Mas suka susu kamu, Dek. Nikmat. Legit.”

Anya tersenyum sebelum kemudian mengusap wajah Satrio yang terkena ASI-nya dengan tangannya. Entah bagaimana bisa tiba-tiba percakapan mereka jadi santai dan intim seperti ini... Keduanya sama-sama terbawa suasana.

“Ada lagi loh, Mas, yang lebih legit.”

“Apa itu, Dek?”

Oh! Kemampuan aktingnya patut diacungi jempol.

Anya menuntun tangan Satrio masuk ke balik celana dalamnya.

“Ini, Mas. Dijamin legit dan menggigit.” Senyum miring dan kerlingan nakal menyambut mata Surya.

Dan, yap. Satrio dapetin kue apemnya.

Memang benar kata orang. Janda lebih menggoda. Kini Satrio dibaringkan Anya ke kasurnya. Si janda seksi duduki perut dengan eight-pack yang jantan banget itu. Satrio yang ada dibawah Anya bisa lihat teteknya Anya gondal-gandul sambil masih netesin susu dari areolanya.

Anya sendiri sibuk melepaskan celana dalamnya yang kemudian dibuang sembarangan. Dia gesek-gesekin labianya ke abs seksi Satrio. Dua lengan bertumpu diatas dada sang lelaki. Anya gerakin pinggul mengendarai perut Satrio.

“M-mas… Nnggghhh.. Ini ototnya Mas bikin geli di memeknya aku.”

Satrio menyeringai. “Gesekinnya lebih kencengan lagi, Dek.”

Tubuh atas Satrio ia tegakkan hingga kepalanya tak lagi sejajar dengan badan. Kini kepalanya sedikit terangkat agar tangan Satrio bisa meraih susu Anya dan memainknnya seperti stress-ball. Buah dada Anya yang bulat itu diuleni dan ditampar-tamparnya dengan gemas. Air susunya terus muncrat deras kemana-mana. Satrio juga cubit-cubit gemas lalu jepit pentil Anya sampai ASI-nya nyembur kedalam mulutnya yang sengaja ia buka untuk menadahi. 

“Pantes Kinar betah nyusu, Dek. Wong enak banget kayak gini. Rasanya Mas bisa seharian begini terus sama kamu.”

Anya masih sibuk menggesek-gesekan dirinya. Sensasi saat biji klentitnya bergesekan dengan cekungan-cekungan di perut kotak-kotak Satrio buat dia melayang sampai merem lupa melek.

“Hhnnggg… Enakhhh..”

“Udahan dong, Dek. Giliran enaknya Mas kapan kalo kamu gini terus?”

Tanpa tedeng aling-aling, Satrio langsung mengubah posisi. Kini Anya dalam kungkungannya. Saking gedenya toket Anya, ternyata saat telentang begini dadanya lari ke samping kanan dan kiri. Lengan Satrio yang mengungkung Anya sangat kontras dengan kulit putih bersih milik Anya. Saking putihnya kulit Anya, bahkan putingnya berwarna merah muda pucat. Tubuhnya berisi di bagian yang semestinya. Seksi banget di matanya. Badannya nyenengin untuk Satrio pandangi.

Dia lihatnya wajah cantik Anya yang berpeluh itu.

“Nggak adil! Adeknya udah telanjang gini, Mas masih lengkap!” Anya mencebikkan bibir.

Satrio cubit pelan bibir Anya “Iya iya.. Ini Mas lepas semua.”

Benar saja, si pria melepas semua kain yang ada ditubuhnya hingga menyisakan tubuh kekar itu telanjang. Ternyata Satrio memang jantan banget, sampe ke onderdilnya. Lihat segede apa kontol Satrio ini. Belum ereksi aja segitu, apalagi kalo udah mode tempur?

“G-gede banget, Mas.” Anya yang masih telentang di bawah kungkungan Satrio pun memegang batang kejantanan itu sambil melongo.

“Muat gak ya?”

“Coba Dek Anya masukkin mulut dulu.”

Satrio sejajarkan batangnya yang menegak itu didepan muka cantik Anya. Batang itu Anya urut beberapa kali sebelum melahap panjangnya secara perhalan dalam mulutnya. Matanya terus menatap wajah Satrio diatasnya. Dia ngemutin kontol Satrio dengan semangat. Udah lama nggak nyepongin orang ternyata skillnya masih oke. Anya emut kontolnya Satrio sampai pipinya kempot-kempot saking penginnya kasih servis terbaik. 

“Aagghh! Sepongan kamu enak banget, Dek. Mulutnya jago ngemut peli, ya.”

Satrio menuntun gerakan kepala Anya untuk makin cepat memaju-mundurkan kemaluannya dalam mulut Anya. Batangnya berhasil ditelan habis sama Anya sampai ujungnya mentok nyentuh tenggorokan. “Ggghkkk─”

Terdengar Anya menggeram karena sodokan penis Satrio di mulutnya tapi dia abai. Dia tetep maju-mundurin dengan tempo yang makin kenceng. Tarik, sodok, tarik, sodok. Mulut Anya seperti selongsong yang pas bagi penisnya.

“Arghh!” Hingga ia merasa ada yang membentur penisnya, refleks Satrio tampar pelan pipi Anya. Plop! Penisnya itu lolos dari kuluman Anya.

“Jangan kena gigi, dong.”

“M-maaf..” Anya memutus kontak mata mereka. Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya.

Satrio, sih, nggak anggap itu hal yang serius. Toh kini dia sudah mulai lagi untuk menuruni badan Anya dengan bibirnya. Dia sapukan lidahnya di leher jenjang Anya untuk meninggalkan salivanya disana. Lidahnya menjilat sepanjang leher, turun ke dada, hingga ke perut Anya yang terdapat stretch mark. Satrio berhenti disana. Jilatannya ia ganti dengan kecupan. Dia kecup dalam sepanjang garis tengah perut Anya. Dia ingin Anya tahu bahwa Anya sempurna dan layak dipuja.

Sementara Anya, dirinya tidak menyangka ada sosok asing yang bisa memperlakukannya seperti ini di pertemuan pertama. Hal yang menjadi sumber ketidakpercayaan dirinya diciumi oleh orang yang baru ia kenal beberapa saat lalu. Rasanya ia ingin menangis detik itu juga, jika hal itu tidak akan merusak suasana sensual mereka. Alhasil Anya hanya menyalurkan perasaannya dengan tangannya yang menggenggam rambut Satrio erat.

Kecupan-kecupan ringan itu turun hingga ke vagina. Betis kanan milik Anya ditumpukannya ke atas bahu sehingga Ia punya akses luas untuk mengamati keindahan surga dunia, liang kawin si mamah muda.

“Pinter ngerawatnya, kamu, Dek. Rapih, bersih dan tembem begini.” Satrio memukul bibir tembam vaginanya berwarna pucat yang kini terlihat basah berkilauan.

Satrio kembali mendekat ke vaginanya. Ciuman Satrio disana disambut oleh bulu-bulu halus yang tumbuh rapi di area mons pubis. Yang semula hanya kecupan nakal, kini berubah menjadi lumatan yang menggelitik bagian intim Anya. Labia Anya dilumatnya lembut, sambil berjalan naik kearah klitoris. Secara tiba-tiba, itil Anya itu dikenyot dalam-dalam oleh Satrio. Spontan Anya jambak rambut Satrio kasar.

“Maasss… Nnghhh..”

Terus ia kulum klitoris Anya sambil sesekali tusukan lidahnya di lubang yang sudah becek dari tadi itu. Tiap kali ia terima rangsangan dari lidah Satrio dalam liang vaginanya, tubuh Anya menegang dan menggelinjang. Yang Anya rasakan saat ini hanya geli, nikmat, dan gerah.

“Hik─ Mas.. U-udah dong. Langsung masukin aja..” rengekan manja Anya bikin Satrio memutus kontak bibirnya dengan bibir bawah Anya.

“Udah nggak sabar pengin disumpel sama kontol, ya, Dek Anya?”

“I-iya, Mas.. Ayo cepetan masukkin….” lagi-lagi Anya merengek. Ego lelaki Satrio seakan terbang melayang-layang di atas awan. Lihat betapa putus asanya Anya saat ini memohon untuk disetubuhi.

Nggak pakai lama Satrio langsung arahkan rudalnya bertemu bibir vagina Anya. Kepala kontolnya dia senggol-senggol ke liang kawin Anya. Masukin ujungnya, terus dikeluarin. Masukin ujungnya, hampir sampe tengah, terus ditarik keluar.

Anya gregetan bukan main. Da jadi stress karena rangsangan yang nanggung itu. Alhasil,  rematan keras diberikannya lengan Satrio yang ada dikanan kirinya.

“Ah! Dek! Sakit!” mengaduh sebab bekas tusukan kuku Anya tercetak disana.

“Ayo, Mas.. Jangan iseng. Hik─ Masukin..” seringai tergambar diwajahnya. Saat itulah dia langsung sodok penisnya masuk dengan sekuat tenaga.

"Nih, yang Dek Anya mau, kan?"

 

“Nggg─ Aaaahhhhhh! Hhmmff─” lengkingan panjang itu bikin Satrio reflek bekep mulut Anya. Satrio masih cukup sadar mereka tidak sendirian disini. Satu hentakan itu sukses menyentuh titik kenikmatan Anya sampai bikin dia kuwalahan menerimanya.

“Shhh─ Dek, jangan berisik! Mau pegawaimu tau kalo ibu bosnya lagi dipake sama yang punya bengkel seberang tempat kerjanya?”

Anya memejamkan mata dan menggeleng-geleng. Wajahnya saat ini merah berkilauan seperti tomat segar. Rambut hitam bergelombangnya itu bahkan basah karena keringat padahal kamarnya sudah dalam suhu enambelas derajat.

“M-mentokin lagi, Mas.. Lagi.. Uunghhh─” Anya putus asa sekali. Dia sampai gerak-gerakin pinggulnya supaya kontol Satrio gerak di dalamnya.

“Sabar, Dek. Kamu segitunya pengen kontol, ya? Mas kasih lagi."

Tubrukan dalam kembali Satrio berikan. Pinggulnya dia dorong maksimal hingga kulitnya menabrak selangkangan Anya yang kini mengangkang lebar. Tangannya menahan dua betis Anya untuk tetap mengangkangi tubuhnya. Kejantanannya terus dia tubrukkan dengan kuat hingga mentok.

“Mas… I-iyahh─ Gitu! Mmhhh! Terushh!” Anya mendesah berisik bukan main. Satrio puas sekali mengetahui bahwa Anya cukup reaktif di ranjang. Mirip kayak artis bokep jepang yang biasa dia tonton buat coli. Sayangnya keadaan mereka tidak mendukung untuk Anya bereaksi seberisik ini.

“Diem, Dek Anya. Kamu beneran mau dipergokin pegawaimu, ya?”

Anya kemudian membekap mulutnya dengan dua telapak tangannya sendiri. Geraman, desahan tertahan, sahutan nafas dan suara penyatuan tubuh keduanya memenuhi ruangan. Satrio masih terus menggenjot Anya dengan penuh gairah.

“Memek kamu kaya perawan, Dek. Rapet banget ngempit kontolnya.”

“Mmmfffhhh─ Nggghhh─ Hhhh─”

Anya terlalu konak untuk merespon. Dia merasakan penyatuan itu semakin dekat. Penis Satrio semakin sesak didalamnya. Pergerakan Satrio kian cepat.

Plok! Plok! Plok! Plok!

Entah bagaimana akal sehat Anya kembali. Segera ia menginterupsi “M-mas, buang diluar!” cicit Anya.

Sayang seribu sayang, Anya ucapan kalah cepat dengan semburan peju Satrio. Hangat ia rasakan didalamnya. Darahnya berdesir merasakan benih Satrio ada didalamnya. Sebenarnya ia takut kesalahan yang sama akan terulang.

“Maaf, Dek.”

Anya menggeleng-geleng. “Udah terlanjur... Udah anget juga karena pejunya Mas."

Dari liang kawinnya, lelehan sperma Satrio mengalir hingga mengotori sprei kasurnya. Satrio kemudian ambruk di samping Anya. Tubuhnya dimiringkan, agar bisa memandang Anya. Rambut-rambut yang menempel di wajah apik wanita itu ia singkirkan.

Rahang sempit itu ditangkupnya dengan kedua tangan kasarnya, mengarahkan untuk saling bertatap mata. Jantung Anya berdegup kencang. Pria yang dihadapannya saat ini sangat tampan dan jantan. Dia tak kuasa menahan untuk tidak membelai lembut rahang Satrio yang ditumbuhi sedikit rambut itu.

Nggak lama Satrio cium bibir Anya. Sesapan ia berikan di bibir seksi merekah milik Mamanya Kinar. Sebenarnya Anya ingin protes karena Satrio bau rokok. Tapi lain kali saja. Saat ini ia lebih ingin bercumbu. Ciuman keduanya makin panas saat Anya menarik tengkuk Satrio dan memimpin penyatuan bibir keduanya. Lidahnya yang semula hanya menyapa deret gigi Satrio, kini beradu dengan lidah lelaki itu. Suara kecipak basah pergulatan indera pengecap mereka makin bikin suasana panas. Rasanya geli, seperti ada kupu-kupu berterbangan perutnya.

Ciuman yang makin intens itu tiba-tiba dilepas sepihak oleh Anya. "Lagi yuk, Mas?”

“Dek Anya nggak capek?”

Anya menggeleng manja “Enggak.”

Senyum tersungging di wajah pria dihadapannya itu. “Tapi janji jangan berisik, ya?”

Ibu muda yang cantik jelita itu menggangguk patuh.

“Tapi Mas nggak yakin kamu bisa diem, Dek.”

Dirinya mengedarkan pandangan untuk meencari apa yang dia butuhkan. Satrio pungut celana dalam Anya yang tadi dilempar sembarangan. Menyumpalkannya paksa ke dalam mulut Anya.

“Hkkkgghh─” tindakan Satrio yang tiba-tiba bikin Anya tersedak.

“Gini baru aman.” Ia tinggalkan belaian lembut di pipi merah Anya.

Kini Satrio telentang dengan penis yang mengacung tegak karena cumbuan tadi. Pun Anya ambil alih permainan dengan menduduki penis tegak prianya itu.

“Mmhhhh─” desahan yang teredam lolos dari mulut Anya. Sementara Surya menggeram.

Anya yang mengendarai kejantanannya itu melonjak-lonjak naik turun. Tangan mereka bertaut untuk membantu Anya menjaga keseimbangan.

“Pinter, Dek. Terus makin cepet. Hhahh─”

Tempo makin cepat seiring perubahan gerakan pinggul Anya yang kini memutar kedepan kebelakang. Ngulek kontolnya Satrio sampe si perjaka itu merem-melek keenakan.

“Mhhmm─ Ghhh─” Anya mendesah terus karena dalam posisi ini, kontol Satrio benar mentok didalamnya. Menembus serviks, seakan terasa penis itu mencapai mulut rahimnya.

Kini Satrio mengangkat badannya merubah posisi. Dirinya bimbing Anya untuk menungging di ujung dipan. Satrio kemudian mendorong keras penisnya masuk dalam posisi itu. Merasakan ada sensasi nikmat menjalar ditubuhnya, punggung Anya membusur. “Nnggghhh─”

Satrio menubrukkan badan mereka dengan bertumpu pada pinggang Anya. Badan Anya yang montok itu bergoyang-goyang seiring tubrukan badan kedua insan itu.

Dia tangkup payudara Anya yang putingnya sudah menegang lagi akibat tergesek-gesek permukaan sprei. Dia pilin dua puting Anya hingga susu kembali keluar dari sana. Pun lelehan ASI Anya di jarinya dia jilati dengan rakus.

“Bahenol sekali kamu, Dek. Goblok mantanmu itu ninggalin kamu.” terus Satrio genjot tempik legit Anya dengan semangat.

“Oeee… Oee.. Oee.. Oee..”

Mata Anya langsung melotot saat dengar suara anaknya menangis tersedu-sedu. Otaknya berkata ia harus segera ke kamar Kinar. Namun tubuhnya enggan beranjak. Ia masih ingin disumpal atas bawah begini.

“Dek Anya disini aja, ya.. Nanti juga Kinar berhenti nangisnya. Kalo Adek kesana sekarang, Kinar nanti makin nangis lihat Mamahnya berantakan kayak habis diperkosa orang sekampung gini.” Satrio tepuk-tepuk pantat montok Anya.

Seakan disihir, Anya menurut untuk tetap digauli Satrio. Tubuhnya terus bergoyang-goyang hingga dua belah toketnya saling bertubrukan satu sama lain.

“Oeee… Oee.. Oee.. Oee..”

“Agghhh─ Mas mau crot, Dek.”

Anya mengangguk heboh seakan mengirim sinyal bahwa dirinya juga merasakan hal yang sama.

Di hentakan yang ketiga, keduanya sama-sama orgasme hebat. Kaki Anya bergetar karena kenikmatan orgasme pertama setelah sekian lama memeknya nganggur. Begitu juga dengan Satrio yang akhirnya merasakan hangatnya liang kawin Anya dan rasa nikmat saat menyemburkan benih didalamnya.

Tangisan Kinar sudah tak lagi terdengar.

Anya lepaskan sumpelan dimulutnya. Akhirnya Ia bisa bernapas lega. Keduanya saling tatap dan tertawa.

“Berantakan banget, ya?” celetuk Anya.

“Dek Anya mandi aja dulu. Biar saya yang bersihin.”

“Hmm.. Mas, kita pacaran aja, yuk?”

“Hah?!”

 


 

Nyatanya, persenggamaan mereka di hari tersebut menjadi awal bagi hubungan asmara keduanya. Padahal saat itu Anya sedang nggak pakai nalar karena terbawa suasana habis seks. Tapi kala itu Satrio merespon baik dan pada akhirnya ternyata mereka berdua cocok.

Kini hubungan mereka berjalan layaknya sepasang pengantin baru. Satrio makin sering mendatangi ruko Anya untuk ngapel dan bercumbu tentunya. Lebih dari itu, Satrio juga belajar menjadi sosok Ayah untuk Kinar. Dia sering membantu Anya dan mengambil bagian untuk mengurus Kinar. Satrio yang gahar dan terlihat kasar itu ternyata sosok yang penyayang dan hangat. Anya sangat terkesan dengan bagaimana Satrio menimang Kinar, menggantikan popoknya, hingga menyuapi Kinar. Kekasihnya itu bahkan menyewakan Suster untuk Kinar agar Anya bisa lebih produktif dan melakukan hal-hal lain yang dia inginkan, seperti: ngentot sama pacarnya.

Apa memang Satrio jodohnya? Entahlah. Yang jelas saat ini Anya bahagia punya Satrio yang mendampinginya. Mereka bisa saling melengkapi dan menghormati. Hubungan mereka bisa saling membangun satu sama lain dan menghargai kesibukan masing-masing.

“Sinta, saya tinggal ke depan ya!”

“Mau ketemu calon suami ya, Bu?”

Celetukan Sinta hanya dibalas dengan tawa ringan oleh Anya.

Saat menginjakan kakinya di bengkel milik Satrio, dirinya disambut dengan kebisingan seperti yang sudah-sudah

Brum!!! Bruuumm!! Brumbrum!! Bruuummm!

“Bos, nyonyanya dateng nih!”

Bagus, anak buah Satrio yang sedang ngetes knalpot itu kemudian berhenti dari aktivitasnya. Ia berdiri mengulurkan tangan menyambut pemberian Anya.

“Ini, Bagus, untuk makan siang. Dibagi juga ke yang lain, ya. ”

“Wah. Matur suwun, Bu."

“Eh, Dek. Nggak WA dulu mau ke sini. Tau gitu aku jemput.” Sosok kecintaannya itu tiba-tiba muncul dari dalam bengkel. Berjalan mendekatinya.

“Halah cuma nyebrang doang, Mas! Lebay.”

Satrio meraih pinggang Anya dan membawa kekasihnya itu berjalan masuk ke ruangannya. Mereka duduk berdampingan dengan lengan Satrio yang masih merangkul Anya. Si wanita sandarkan kepalanya di pundak lebar dan kokoh sang kekasih.

Dalam diamnya tiba-tiba Anya nyeletuk, “Berisik banget bengkelnya, Mas! Anak saya jadi kebangun!” dia pukul kecil lengan Satrio.

Kekasihnya itu menoleh kebingungan, tapi memahami candaanya, Satrio tertawa.

Dia rapatkan jarak mereka dan menciumi pipi Anya gemas.

Cup. Cup. Cup.

“Kalo kamu nggemesin gitu, anakku juga ikutan kebangun, Dek.”

“Ih, Mas Satrio, ah!” Muka merahnya ia sembunyikan di dada bidang yang beraroma oli campur bensin dan sedikit dibumbui bau kampas rem itu.

“Menurut kamu, kalau hari ini bengkelnya Mas tutup lebih awal terus kita ngenthu di lantai bengkel gimana?”

 

FIN

neospring | X

Notes:

Please please let me know if you guys enjoyed this fic<3