Actions

Work Header

7 Minutes

Summary:

Apakah kau pernah mendengar tentang tujuh menit ingatan bahagia?

Notes:

hope u guys enjoy!

Work Text:

Apakah kau pernah mendengar tentang tujuh menit ingatan bahagia?

Orang bilang, ketika seseorang meninggal, otak mereka akan memutarkan kilas balik tujuh menit ingatan paling membahagiakan. Indah bukan? Kadang hal itu membuatku terpikir, kira-kira apa ingatan tujuh menit paling membahagiakan milikku? Atau, apakah aku bahkan memilikinya?

Darah bersimbah di lantai, tujuh tahun yang lalu membuatku berada di fase ini. Hari itu aku ingat betul, suara pistol ditembakkan mengudara keras sampai ke gendang telinga. Hujan deras dan angin bergemuruh. Ia terkulai lemas, darah mengucur dari pelipis kepala. Mataku memanas, tak henti mengeluarkan tangis, tubuhku bergetar takut. Bukan aku yang membunuhnya!
Sejak itu, kematian menjadi hal yang tak asing. Bak makanan tiap hari, aku seperti dewa kematian. Semua yang kucinta, akan pergi, mati. Hidup, mati, hidup, mati, terus saja seperti itu! Bukankah lebih baik aku yang pergi?!!

“Kita semua mati di tempat ini, untuk kematian yang lebih melelahkan di kemudian.”

“Lihat sayang, ini anak kita, dia sangat cantik bukan?”
“Sayang, lihat kesini!”
“Sayang, apakah aku terlihat cantik malam ini?”
“Aku mengambilmu sebagai suamiku, baik dalam suka maupun duka.”
“Ayah! Aku mendapat nilai seratus!!”
“Aku cinta ayah!”
“Aku menantimu pulang, sayang.”

Sialan! Berhenti menggerogoti pikiranku, dengan ingatan membahagiakan yang bukan milikku! Pria itu bersimbah darah, tergeletak di tengah jalan, mendapat atensi banyak orang. Truk yang menabraknya melesat dengan cepat, diburu rasa bersalah, digerus oleh takut dan resah. Entah siapa orang yang mati itu, tapi aku melihat tujuh menit ingatan membahagiakannya.
Aku memalingkan wajah, enggan melihat bukan karena ngeri dan sebagainya. Tapi karena aku tak sanggup lagi untuk menahan semua rasa sakit ini. Hanya satu langkah dan smeuanya akan selesai, aku akan mati. Tapi mengapa, pria itu harus kehilangan nyawanya dan memberitahuku bahwa hidup itu indah hanya dalam tujuh menit?

Tuhan, aku tak sanggup lagi. Tubuhku terbawa gravitasi, merosot kebawah, lemas. Tangis mengambil alih logika dan akal pikiran.

Semuanya bermula dari kematian yang terjadi tujuh tahun lalu. Ia, gadis cantik itu, seseorang yang berusia lebih tua daripadaku, mati meninggalkanku sendirian dengan lancangnya. Entah darimana ia mendapat pistol yang bergemuruh itu. Sejak saat itu, aku membawa malapetaka bagi manusia, bahkan diriku sendiri.

Hanya mati saja bukanlah hal yang sulit bukan? Tapi kenapa aku harus melihat tujuh menit sialan itu?!! Seakan-akan Ia membuatku ingin hidup kembali. Aku sudah mati bersama dengannya, bersama gemuruh senjata api itu, bersama darahnya yang bersimbah di lantai. Dan saat ini, aku hanya untuk kematian — kehidupan — yang lebih melelahkan.
Hari-hari kemudian juga berjalan sama, setiap kali aku menapakkan diri di gerbang sebuah hal bernama kematian, seseorang masuk terlebih dahulu. Hanya tinggal satu langkah, aku tak memiliki apapun lagi untuk hidup atau kuhidupi. Tapi orang-orang itu, mereka memilikinya.

Apakah semua orang didunia ini harus mati sehingga aku dapat menyusulnya?
Aku sudah lelah. Kumohon, hiduplah untuk orang-orang yang menunggumu. Hiduplah untukku.