Actions

Work Header

Hygge

Summary:

[ (adj., Danish) feeling warm, comfortable, and safe. ]

Atau,

Apa yang terjadi dalam suatu honmaru dari Hizen no Kuni, melibatkan sang Saniwa sebagai subjek utama maupun sampingan dalam kisahnya. Saniwanya sendiri merupakan seorang pemuda pendiam yang menyimpan banyak hal dalam kepalanya sendiri—mungkin kadangkala kamu tak bisa mengerti dirinya, akan tetapi tidak perlu khawatir, karena touken danshinya selalu punya cara untuk memahami tuan mereka.

Notes:

Touken Ranbu belong to DMM Games and Nitro+

Hikone Noriyuki, saniwa dalam kumpulan kisah ini, adalah milik saya :)

Chapter 1: 変

Chapter Text

“Kau baik-baik saja, Aruji?”

Ditanyai demikian membuat Hikone menoleh. Koryuu Kagemitsu, yang tengah membantu Yamanbagiri dengan laporan pertarungan sebelumnya lantaran yang bersangkutan harus menginap semalaman di ruang perbaikan, menatap Hikone dengan pandangan khawatir. Apa ia tak sengaja membuat gerak-gerik aneh? Entahlah.

Tanpa kata, Hikone menggeleng samar. 

Koryuu masih menatapnya. “... Kau yakin?”

Gelengan lain diberikan—Hikone tidak apa, sungguh; paling-paling memang sejak tadi rasanya agak dingin, lebih dingin ketimbang biasanya, namun barangkali itu perasaannya saja (toh, memang sudah memasuki musim dingin).

Akan tetapi sepertinya Koryuu tak berpikir sama dengannya; lelaki itu justru menjauhkan sedikit gawai dengan layar hologram besar berisi laporan yang sebelumnya tengah ia urus, lantas mendekati Hikone yang duduk di seberang meja. Sarung tangan yang senantiasa digunakannya ia lepas, dan Koryuu menempelkan telapak tangannya pada dahi sang tuan—membuat Hikone sedikit tersentak, terkejut karena gerakannya yang begitu tiba-tiba.

Koryuu menghela napas kecil. “Sudah kuduga …” Ia mundur, mematikan gawai miliknya sejenak, kemudian kembali. “Mari kita sudahi pekerjaan hari ini, Aruji. Kurasa kau kena demam—suhu badanmu agak tinggi.” 

Satu kali, Hikone berkedip.


.


.


.


Hikone Noriyuki jarang sekali mengutarakan apa yang ia rasakan.

Atau barangkali nyaris tidak pernah—entahlah, Koryuu sendiri tak begitu mengingatnya, saking memang jarangnya. Yang ia pahami hanya tuannya itu minim sekali berbicara, minim berekspresi pula, yang mana kalau bukan karena Hachisuka Kotetsu selaku hajimari no hitofuri pemuda itu, mungkin Koryuu tak akan bisa mengerti sama sekali.

Seperti tadi pula. Insting yang mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan tuannya itu membuat Koryuu akhirnya menyadari sesuatu; tuannya ini sedang sakit, mungkin sejak pulang dari misi terakhir mereka sore tadi, atau bahkan justru sebelum itu. Yang mana saja, jelas Koryuu merasa bersalah—tahu begitu tadi, tidak akan ia biarkan Hikone ikut misi bersama Unit Satu (Yamanbagiri pasti mau diajak bekerja sama untuk melarang, seandainya ia tahu).

“Harusnya Aruji bilang padaku kalau sedang tidak enak badan.” 

Hikone hanya menatapnya, tak menjawab secara verbal. Namun Koryuu maklum saja. Tangannya sudah selesai berkutat dengan kain separuh basah yang sebelumnya dicelupkan pada air hangat, yang sekarang berada di atas dahi sang tuan. Syukurlah Yagen belum tidur meski sudah selarut ini, hingga ketika Koryuu mampir, ia bisa dengan mudah mendapatkan obat penurun panas; Hikone belum menyentuhnya, kendati sebelumnya ia sudah makan malam, lelaki itu hanya tidak menyukai obat-obatan. 

Koryuu tersenyum kecil. “Sekarang kau istirahat, ya?”

Satu kali, Hikone mengangguk kecil. 

Koryuu beringsut mundur, hendak beranjak untuk keluar—masih ada laporan misi yang harus ia kerjakan, bagaimanapun juga ia sudah janji pada Yamanbagiri. Akan tetapi, tahu-tahu sebuah tangan yang sedikit hangat menahan gerakannya.

“... Koryuu-san.”

Koryuu menoleh. “Ya, Aruji?”

“... Di sini saja.”

Kali ini, giliran Koryuu yang berkedip. 

Mata sang tuan menatapnya sungguh-sungguh—seolah-olah benar-benar berharap, Koryuu tetap tinggal di sini. Koryuu menatapnya balik, sedikit terkejut. Hikone jarang begini.

“... Baiklah?” Pelan, Koryuu mengangguk. Senyum kecil kembali terbit di bibir. “Kalau Aruji yang memintanya, mana mungkin aku menolak, ‘kan~?”


.


.


.


“... Tadi, aku melihat sesuatu.”

Koryuu meliriknya. “Sesuatu?”

Hikone diam sejenak. Koryuu nyaris mengira Hikone hanya mengigau. Namun, lelaki itu kemudian meliriknya balik—kedua netra sewarna langit sore itu menatap Koryuu dalam-dalam. “Waktu misi tadi,” katanya. 

Koryuu memiringkan kepalanya. “Dan itu adalah …?”

Lagi, Hikone diam. Kali itu bisa Koryuu lihat ekspresi tuannya itu berubah, dan Hikone memalingkan kepalanya; menoleh ke arah lain, kain lembab di atas dahinya sepertinya sedikit bergeser karena itu. 

“Aruji?”

“... Aku … salahku …” Hikone bergumam, nyaris seperti orang meracau. “Harusnya hari itu aku nggak … nggak …”

Lalu, ucapannya terhenti sendiri.

Koryuu menatapnya. Tanda tanya besar muncul di kepala, ucapan tuannya tidak ia mengerti sama sekali.

Hikone menoleh padanya lagi. Raut wajah muram tercetak di sana, matanya menatap Koryuu lagi. “... Maaf, lupakan saja kata-kataku tadi,” katanya, separuh berbisik. 

Koryuu terdiam. 

Ia masih tidak mengerti apa-apa. 

“... Kau baik-baik saja, Aruji?”

Hikone tak menjawabnya. Hanya menatapnya, namun mungkin Koryuu bisa menerka. 

Agaknya, mengesampingkan demam yang tengah melanda, Hikone memang tidak sedang baik-baik saja. 

“... Kuambilkan minum lagi, bagaimana?” 

Koryuu menawarkan, dan akhirnya Hikone mengangguk pelan. Lelaki itu mundur, menjauhi ranjang si saniwa, kemudian berdiri dan pamit sesaat. Koryuu yakin ia hanya pergi sebentar, akan tetapi ketika ia kembali, yang ia dapati adalah Hikone yang sudah terlelap. Obat penurun demam yang ada di nakas belum disentuh sama sekali—kelihatannya kalau Hikone tidak membaik esok pagi, Koryuu harus membujuknya lagi.

Koryuu menghela napas. Teko air dan gelas yang diambilnya ia letakkan di atas nakas, berdampingan dengan obat dari Yagen. Tangannya meraih selimut di sisi ranjang, kemudian mulai menyelimuti Hikone hingga dada. Wajah tuannya itu tak terlihat begitu tenang—mungkin karena demam, pipinya terasa lebih panas dari sebelumnya ketika Koryuu mencoba menempelkan punggung tangannya lagi.

Lampu kamar dimatikan, Koryuu duduk di pojok ruangan—kembali mengerjakan laporan misi tanpa suara. Bagaimanapun juga, Hikone memintanya untuk tinggal sebelumnya—maka mungkin ia akan tetap di sini, entah hingga laporannya selesai, atau barangkali sampai pagi.

“... Harusnya hari itu aku nggak—”

Sejenak, Koryuu terdiam. Kata-kata sang tuan membayangi, yang mana ia tidak mengerti jelas apa maksudnya, namun entah mengapa mengingatkannya pada rumor yang sering beredar di honmaru mereka—sesuatu mengenai tuan mereka yang mungkin sulit diterima akal sehat, akan tetapi mau tidak percaya juga, gerak-gerik Hikone memang terkadang sedikit aneh.

Atau entahlah. 

Koryuu menarik napas.

Oke, mungkin ada baiknya ia fokus kerjakan saja laporan pada layar hologram gawai miliknya ini. Lebih cepat lebih baik. Tidak perlu memikirkan yang lain selain kalau misalnya nanti Hikone tiba-tiba terbangun dan butuh sesuatu. []