Chapter Text
Di dunia ini, takdirmu sudah ditentukan dengan adanya tali merah yang mengikat di jari kelingkingmu, ujung tali sisi lainnya akan terikat di jari manusia yang akan menjadi takdirmu sehidup semati.
Namun, Renjun harus apa saat ujung tali merahnya mengarah ke dua orang yang sudah menjadi pasangan bertahun-tahun lamanya?
Pada umumnya, orang-orang akan mendapatkan kehadiran tali merah itu saat mereka menginjak usia 17 tahun, namun dirinya sendiri baru mendapatkan tali merah itu dua minggu yang lalu di usia 21 tahun. Bayangkan, banyak dari mereka yang akhirnya sudah menjalankan hubungan selama beberapa tahun, sedangkan Renjun baru mendapatkanya empat tahun setelahnya.
Malangnya lagi, tali merah yang terikat di jari kelingkingnya mengarah ke pasangan yang sedang duduk di meja ujung kantin kampusnya, sedang asik berbicara dan sesekali mencuri ciuman di pipi dan bibir. They look so happy together.
Kasus dimana tali merah mengikat tiga orang adalah kasus langkah, hanya 2% di dunia ini yang mendapatkannya, dan sayangnya Renjun lah salah satunya.
Renjun mengenal Jeno dan Jaemin, satu kampus mengenal mereka. Pasangan dengan wajah tampan, cerdas, kaya, dan baik hati. Mereka sudah berpacaran sejak usia 18 tahun. Sedangkan Renjun? Hanya mahasiswa biasa yang jauh dari perhatian mahasiswa lain dan baru mendapatkan fakta bahwa tali merah membawanya menjadi soulmate pasangan sempurna tersebut.
Bagaimana kalau dirinya ditolak?
Bagaimana kalau mereka tidak menyukai Renjun dan memandangnya sebagai perusak hubungan mereka yang sudah berjalan bertahun-tahun tersebut?
Renjun banyak mendengar kasus mengenai orang yang ditolak oleh soulmatenya, orang itu akan selamanya hidup dalam kesendirian dan kesedihan tak berujung, ditambah akan dikucilkan oleh orang-orang sekitar. Mimpi buruk. Ditambah, jika ditolak oleh dua orang sekaligus. Makin terpuruk lah hidup Renjun kelak.
"Hellowww? Ada Renjun di sini?"
Fokus Renjun teralihkan dari pasangan itu dan kembali ke sosok Haechan di hadapannya.
"Eh iya sorry, Chan. Kenapa?"
"Lo bengong terus! Ngeliatin apaan sih?"
Pria yang mengenakan sweater putih oversize nya itu menghembuskan nafas, "Kalau gue ditolak dan akan sendirian terus selamanya, lo bakalan tetep mau jadi sahabat gue kan?"
Haechan menyentil kening Renjun, membuat pria kecil itu mengaduh sakit, "You should talk to them."
"I'm scared."
"Apa sih yang ditakutin? Seenggaknya lo coba dulu. Mereka juga pasti udah tau kalau lo takdir mereka."
Ya, itu masalahnya. Jeno dan Jaemin pasti sudah tahu kalau Renjun adalah soulmate mereka dengan adanya tali merah yang menghubungkan mereka. Meskipun orang-orang belum bisa melihat tali tak kasatmata Renjun karena dirinya belum diclaim oleh keduanya, tapi seharusnya Jeno dan Jaemin sudah sadar akan hal itu. Atau malah mereka sengaja mengabaikannya? Mengabaikan Renjun?
"Not that easy."
Belum sempat Haechan membalas ucapannya, pinggangnya sudah direngkuh oleh Mark--kekasihnya yang langsung duduk di sebelahnya dan mencium keningnya kilat, "Hi, babe! Oh hi Renjun! Kenapa mukanya loyo gitu?"
"Abis quiz dadakan tadi dia." jawab Haechan bohong karena hal ini masih menjadi rahasia antara mereka berdua.
Mark mengangguk percaya, "Mau berangkat sekarang? Mami udah nunggu."
Renjun ikut bahagia melihat Haechan mendapatkan pasangan sebaik Mark, hubungan mereka sudah sangat dekat hingga ke pihak keluarga. Renjun tidak bohong bahwa ada sedikit perasaan iri di hatinya melihat hal itu, karena kecilnya peluang dia untuk merasakan cinta yang sama.
"Okay, Njun mau balik bareng sekalian lewat apat lo?" tanya Haechan yang dijawab gelengan kepala Renjun.
"Gue mau ke prodi dulu ngurusin absen, lo berdua duluan aja."
"Oke kalau gitu, gue sama Mark duluan. Lo hati-hati ya, kalau ada apa-apa kabarin gue."
Renjun mengangguk sekali lagi, memandangi kepergian dua insan itu meninggalkan area kantin yang sudah tidak terlalu ramai.
Matanya menyusuri area kantin dalam hingga dadanya bergemuruh saat kedua matanya bersitubruk dengan dua pasang mata pasangan yang menjadi topik pembicaraannya dengan Haechan tadi.
Jeno dan Jaemin memandanginya dari jauh sana, entah dengan maksud apa.
