Work Text:
Chan dan Hansol diberi studio bersama oleh agensi mereka. Mereka berdua memang bukan produser utama didalam grup, tapi mereka memiliki beberapa credit dari lagu seventeen, sehingga agensi memutuskan untuk memberikan studio untuk mereka. Satu hal yang agensi tidak ketahui adalah, mereka merupakan sepasang kekasih. Perasaan itu timbul saja karena banyaknya interaksi yang terjadi, mereka tinggal di dorm yang sama, dan sekarang memiliki studio barengan juga. Chan dan Hansol tentu saja akan bekerja secara profesional dalam menghasilkan musik, tapi tak jarang juga mereka akan berpacaran saat mengerjakan musik. Seperti saat ini, Chan sedang duduk dipangkuan Hansol saat mereka sedang mencoba membuat demo untuk lagu baru grupnya. Hansol tak masalah dengan itu, dia sangat suka posisi ini, dimana dia bisa meletakkan dagunya pada pundak Chan, mencuri kecupan pada leher yang lebih muda, tangannya yang sesekali akan mengelus pinggang ramping Chan.
"Hansol, bentar dulu, ini dikit lagi selesai demo musiknya, jangan ganggu dulu iihh, awasin dulu tangan kamu, geli tau"
"Hahh, iya iyaa, kamu lanjutin deh" kini Hansol diam, memerhatikan bagaimana kekasihnya fokus membuat musik, memberi sedikit masukan yang menurutnya akan lebih baik.
"Daahhh selesaiii" Chan meregangkan badannya, tangannya keatas dan membusungkan dadanya, sekarang dia bersandar ke dada Hansol dan mengelus tangan Hansol yang sedari tadi melingkar erat pada perutnya. Hansol melanjutkan aksinya yang sempat terhenti tadi karena kesibukan Chan, dia mulai kecup leher Chan, terus menjilatnya, kuping Chan digigitnya, menimbulkan desahan dari mulut Chan, dia sangat hafal dimana titik sensitif kekasihnya. Ciumannya turun ke pundak Chan, tangan Hansol masuk ke dalam baju Chan, menyusuri dari perut sampai dadanya, hingga dia menemukan pentil Chan.
"aahhh hans, gelii.."
Hansol sudah tau pacarnya sekarang sedang sange, sejak tadi dia Chan tidak berhenti bergerak, mengejar nikmatnya.
"Chan aku ada ide, ayok kita rekaman"
"Hans yang bener aja, aku udah sange gini kamu suruh rekaman, jahat bangett"
"Bukan gitu sayang, aku mau kamu rekaman lagi masturbasi, suara kamu seksi banget kalo lagi ngedesah, pengen aku dengerin terus kalo kita lagi gk barengan"
"Iih kamu cabul bangett, gk mau, aku malu" terlihat semburat merah dari pipi Chan hingga ke telinganya, Chan sangat imut kalau sedang malu gini, ingin rasanya Hansol langsung menerkamnya.
"Kenapa malu yang, kan aku juga udah sering dengernya, ya mau yaa. Aku udah nyiapin vibrator buat ngebantu kamu" Hansol memelas sambil mengecup leher pacarnya, berharap dapat lampu hijau.
"Hnngg jujur aja kamu udah ngerencanain ini kan? Gk mungkin banget kamu mau bawa vibrator ke studio"
"Hehehe iya yang, pasti kamu bakal seksi banget deh"
"Haah yaudah, aku juga gk bakal bisa nolak"
"Kamu jangan lupa pasang headphonenya ya, biar kamu bisa denger gimana suara kamu pas ngedesah"
Chan berdiri dari pangkuan Hansol, dia berjalan menuju ruang rekaman sambil membawa vibrator yang diberi kekasihnya. Ruang rekaman itu dipisahkan oleh kaca yang bisa langsung dilihat dari ruang produksi. Chan duduk dikursi yang sudah disediakan diruang rekaman. Dia mulai memasang hephonenya.
"Tes tes, masuk gk suaranya hans?"
"Masuk yang, lanjutin aja"
Chan mulai permainannya, dia mulai mengangkat bajunya, memperlihatkan perut dan dadanya kepada Hansol. Dia gigit ujung bajunya, memelintir pentilnya sendiri, mengelus dadanya, menatap Hansol dengan wajah memelas. Tangan satunya sudah bermain di memeknya, masih menekan-nekan itilnya dari luar celana. Membuat gerakan memutar, mengucek itilnya dengan kesusahan.
"Hnnn Hans.. nngghh.." baju Chan sudah basah akibat salivanya yang sudah mengalir dari tadi.
"Buka celananya sayang, kucek itil kamu lebih cepat yang" Ucap Hansol dari ruang produksi memalui talkback. Chan menuruti perkataan pacaarnya, dia melepaskan celananya, membuatnya setengah telanjang. Dia mulai mengucek itilnya, memasukkan jarinya kedalam lubang memek, mulai memaju mundurkan jarinya.
"Pinter sayang, sekarang coba dipake vibratornya cantik" Hansol sudah kepalang sange melihat pacarnya, ikut mengeluarkan kontolnya dan mulai mengocok kontol tegangnya.
"hnnnhh.. hanns-soll enakk, itil Chan gelii Hanns.. nhhn aahhh.."
Remote vibrator itu dipegang oleh Hansol, dia masih mengatur pada kecepatan rendah, melihat Chan sudah merem melek hanya dengan kecepatan rendah, membuatnya langsung menaikkan hingga kecepatan tinggi.
"Aaahhh Hansoll-lhh ngghh pliss pelaninn, nanti aku pipiss-ssh.."
"Pipis aja sayang, dengerin deh, memek becek kamu bisa ketangkep sama mic loh, aahh sayang kamu canti banget. Sekarang coba masukin vibratornya ke memek kamu yang"
Chan berusaha memasukkan vibrator kecil itu ke dalam memeknya, setelah masuk sempurna, Hansol mulai menyalakan Vibratornya lagi, dengan kecepatan acak. Pinggang Chan naik-naik karena merasakan geli, tangannya mencoba mencengkram kursi, berusaha untuk menyalurkan rasa nikmatnya, kakinya merapat merasakan geli, tapi makin dirapatkan malah bikin makin geli.
"aahhh hanss.. aahh aahhh.. plis... plisss.. aahhh.." ruang rekaman telah penuh dengan desahan Chan, dia menggelinjang, menggigit jarinya, menatap Hansol dengan mata yang sudah mengeluarkan air mata.
"Aaahhn Hans, aku ud-dahh gk ku-" ucapannya terhenti ketika dia squirting banyak banget, membasahi sofa dan lantai, pinggulnya masih belum behenti bergerak, karena vibrator masih menyala di memeknya, Chan menghempaskan kepalanya kebelakang, matanya terpejam, lidahnya keluar, desahannya semakin keras, pipisnya masih keluar meski terputus-putus. Inilah pandangan yang Hansol inginkan, melihat pacarnya squirt karena permainannya sendiri, membuat Hansol hampir bucat. Hansol kemudian menyusul Chan ke dalam ruang rekaman.
Chan sekarang sudah acak-acakan, baju yang sudah lecek, celana yang sudah basah menampung pipisnya, kaki yang mengangkang, rambut yang sudah sangat basah karena keringat, headphone yang sudah tidak ditelinga lagi. Hansol masuk ke ruang rekaman, mencabut vibrator yang masih nyangkut d memek pacarnya, menggendong pacarnya, agar ia bisa duduk dikursi dan mendudukkan Chan dipangkuannya. Mic diatur supaya dekat dengan mereka, Hansol mulai melumat basah bibir Chan, mereka saling mengemut bibir masing-masing, membelit lidah satu sama lain, Hansol menelusupkan lidahnya ke dalam mulut Chan, mengabsen satu persatu gigi Chan, menyesap lidah Chan. Tangannya perlahan turun ke memek basah Chan, memainkan itilnya, Hansol mencoba mencubit itil Chan, tapi terlepas terus karena sudah licin oleh cairan yang dikeluarkan memek pacarnya.
"Haahh Hanss.. mau dikontolin, memek aku udah gatel dari tadi, minta disumpel kontol panjang kamu.." Chan memohon, sambil tangannya mengusap kepala kontol Hansol, membuat kontolnya semakin tegang, Chan memijat kontol Hans, diurutnya atas bawah, sesekali diremas pelan, membuat sang empu memejamkan matanya menikmati handjob pacarnya.
Chan kemudian mengarahkan kontol Hansol ke lubang surgawinya, dia sudah tidak tahan dari tadi, vibrator tadi kurang bisa membuat penuh memeknya, ia ingin lebih, soalnya udah kepalang sange dari tadi dikerjain pakai vibrator.
"Aaah memek aku penuhh.. hnnn.."
Chan mulai menaik turunkan pantatnya, menggoyangkan pinggulnya, membuat gerakan memutar. Hansol yang melihat Chan dari bawah, menyunggingkan senyumnya, melihat bagaimana ekspresi keenakan yang Chan bikin gara-gara kontolnya, lidah Chan yang menjulur sambil menggenjot kontol Hansol, dia sudah dibikin tolol oleh kontol Hansol.
"Memek kamu rapet banget sayang, ahhhh jepit kontolku yang, nhhnn.."
"Hans, capeekk.." Hansol terkekeh mendengar perkataan pacarnya, ia kemudian membalikan badan Chan, menyuruh Chan berdiri dan mengandarkan badan Chan ke dinding. Sekarang Hansol mulai memasukkan kontolnya lagi, dengan posisi dia dibelakang Chan, membuatnya bisa melihat pantat sintal pacarnya, diremas dan ditamparnya pantat Chan, membuat Chan mengetatkan memeknya. Hansol terus menampar pantat Chan sampai memerah, sangat seksi.
"Pantat kamu seksi banget sayang, harusnya kamu bisa liat pantat merah kamu ini, ada bekas tanganku, ngghh Chann memek kamu enak banget" Hansol kucek itil pacarnya, tangannya tidak berhenti menggerayangi tubuh Chan, membuat Chan hampir squirt untuk kedua kalinya.
"Ahhhh haahh Hanss aku mau keluarr-Nnhhhhnnn...."
"Ahhh bareng aku sayangg.."
"keluarin didalam aja, mau memek akuu pen--" kalimatnya belum selesai, tapi Hansol sudah menembakkan pejunya didalam memek Chan. Saat itu juga, Chan memek Chan muncrat banyak. Pantatnya bergetar, kakinya terasa lemas.
"ahhh hah hah enak banget Hans, memek aku penuhh.."
"Makasi ya sayang, kamu hebat banget" Hansol kecup pundak Chan, dan menggendong sang pacar keluar ruang rekaman, membaringkannya di atas sofa, Hansol mematikan rekaman yang telah mereka buat. Hansol membersihkan badannya dan Chan dengan tisu basah, membesihkan sisa peju dan pipis Chan, kemudian menyusul Chan untuk berbaring di atas sofa.
