Actions

Work Header

天狐: tenko

Summary:

Choi Seungcheol tolol, Jeonghan membiarkan tangisan itu jatuh membasahi pipi, tolol, tolol, tolol.

Notes:

karya komis!

tambahan tags: mommy kink, daddy kink, fem dom briefly.

tw // minor violence (slapping).

edit (11/22): tolong dibaca ya.

settingnya 3 tahun setelah fic pertama. sesuai tags, ini dramanya lumayan berat tp presentasenya ttp 30% angst 70% ngentot brutal ya temen2. ngga lg dah gw nulis family drama (terlalu personal) (maaf)😭😭😭😭😭😭

seperti biasa jd reader yg bijak!!! kalo ga bijak aku apus ceritanya. selamat mam!!!!!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Jeonghan pernah mendapatkan pertanyaan seperti demikian di saat Rai dan Ren menginjak umur 7 tahun.

 

“Lo bahagia sebagai seorang ibu? Kerjanya nggak gampang loh. Selain harus jadi seseorang yang stabil untuk anak-anak, di samping lo ada suami lo sendiri.”

 

Untuk memulai jawaban nya, Jeonghan tidak pernah menganggap peran seorang ibu sebagai sebuah pekerjaan. Jeonghan sendiri juga bekerja bersamaan dengan mengambil peran sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya. Menjadi wanita karir dan seorang ibu, Jeonghan juga menyandang posisi sebagai istri untuk suaminya. Semuanya ia lakukan dengan bersamaan tanpa harus membelah diri di rumah.

 

Bagi Jeonghan, peran sebagai ibu sama sekali tidak pernah menyusahkan nya. Bisa dibilang hidupnya semakin bahagia dan mudah untuk dijalani semenjak kehadiran anak-anaknya. Tidak hanya Rai dan Ren yang saat ini sudah menginjak umur 10 tahun. Sasa, si paling kecil, juga sekarang sudah mulai belajar di bangku SD seiring menginjak umur 6 tahun.

 

Selain itu, sebagai seorang istri, Jeonghan merasa dirinya sempurna setiap berada di samping Seungcheol sebagai suaminya. Bukan hal yang umum lagi jika Jeonghan sudah yakin dengan dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menemukan lelaki lain selain Seungcheol. Alasan nya bukan karena harta saja, karena Seungcheol memang lahir dari keluarga yang lebih berda. Namun afeksi fisik maupun mental yang diberikan Seungcheol tidak akan bisa ditemui oleh Jeonghan di diri laki-laki lain.

 

Sampai sekarang, Jeonghan masih bisa berdiri tegak sebagai seorang istri, ibu, dan juga pekerja keras di kantor. Tentu dengan bantuan para pembantu yang senantiasa membantu pekerjaan rumahnya, sebagian besar untuk mengurus para anak-anak di rumah. Namun setelah Jeonghan pulang dari kantor, semua urusan tentang anak-anaknya akan diurus oleh sang ibu. Termasuk membantu pekerjaan rumah mereka, sekaligus belajar bersama.

 

Namun untuk saat ini, permasalahan Jeonghan masih berputar di suaminya. Bukan, ia tidak memiliki kecurigaan jika Seungcheol sedang mencari yang lebih baik di luar sana. Jeonghan sudah mengenal Seungcheol lebih dari 10 tahun. Semenjak SMA, Jeonghan memiliki gelar Sarjana Choi Seungcheol sebelum dirinya masuk kuliah.

 

Hal ini sudah terjadi beberapa tahun lalu dan hanya komunikasi yang dibutuhkan bagi keduanya. Jeonghan kira rumah tangganya akan terjauh dari masalah sejak itu. Tetapi, semesta tidak akan semudah itu memberi kemudahan untuknya. Mungkin karena rumah tangga yang utuh dan langgeng tidak luput dari masalah internal.

 

Namun kalau semisalnya masalah itu selalu dipendam dalam-dalam di diri tiap individu, bagaimana Jeonghan harus menyelesaikan nya?

 

“Bunda, bunda,” si paling tua dari dua kembar anaknya berlari dari halaman belakang menuju di mana Jeonghan duduk di ruang TV, “Bunda, lihat. Aku abis selesaiin puzzle 100 bagian yang dibeliin ayah kemarin.” Jeonghan menutup majalah di genggaman nya untuk memberi atensi penuh kepada barang yang sedang diperlihatkan oleh Rai, “Pinternya abang. Kamu selesaiin sendiri? Ren mana, sayang?” anak sulungnya itu menggigit bibir bawahnya pelan, tidak terlalu kuat agar tidak meneteskan darah. “Ren tadi ketiduran di ruang main, bunda. Kayaknya karena nungguin ayah pulang tadi malem. Puzzle yang dikasih ke dia juga belum disusun.” Ekspresi wajah Jeonghan melembut seketika, mengingat apa yang terjadi tadi malam kepada anak-anaknya, “Ren masih sebel sama ayah, nak? Kan ayah udah minta maaf tadi malem. Bunda juga udah ngomong ayah lagi banyak kerjaan di kantor.”

 

“Aku udah ngomong ke Ren juga, bun. Cuman dia nggak percaya, soalnya bunda masih selalu pulang kalo lagi sibuk-sibuk juga. Ayah kan juga punya kantor di rumah.”

 

“Ruang kantor ayah di rumah beda dari di kantornya, sayang. Nggak apa-apa, ya? Kamu coba bantu bunda ngomong ke Ren soal ini. Nanti bunda juga ngomong ke ayah biar mereka bisa ngobrol.”

 

Terdengar mudah bagi Jeonghan untuk menginstruksikan orang lain agar komunikasi antara dua individu tidak terputus. Tetapi hal itu saja masih kesulitan dilakukan oleh dua orang dewasa yang seharus memiliki pemikiran lebih matang. Jeonghan tetap mengukir senyum tipis di bibir saat Rai menganggukkan kepala dan izin untuk kembali ke ruang bermain. Saat Rai pergi, Jeonghan menghembuskan napas pelan seraya semakin menyandarkan badan di sandaran sofa ruang tamu.

 

Beberapa hari ke belakang, Seungcheol memang sering pulang lebih malam. Setidaknya di jam 8 malam, ia sudah kembali ke rumah dan melanjutkan aktivitas untuk bermain dengan anak-anaknya. Terkadang juga dia menyempatkan diri untuk membantu pekerjaan dapur agar Jeonghan tidak mengerjakan nya sendirian saja. Mereka masih menyempatkan diri untuk menyeduh teh dan berbincang perihal kegiatan-kegiatan yang sudah dilewati pada hari itu.

 

Sudah berapa malam Jeonghan tertidur tanpa ada sentuhan hangat dari suaminya sendiri. Bukan seksual saja, Jeonghan hanya menginginkan afeksi fisik yang lembut kerap diberikan oleh lelaki itu. Jeonghan sendiri mengerti dengan bagaimana berat beban pekerjaan yang Seungcheol pikul kali ini. Beberapa bulan lalu, Seungcheol mendapatkan promosi untuk memegang jabatan lebih baik dari sebelumnya.

 

Tentu sebagai seorang istri, Jeonghan turut bahagia dengan pencapaian itu. Bahkan mereka berlima sebagai keluarga sempat pergi berlibur bersama demi merayakan pencapaian Seungcheol di ranah pekerjaan nya.

 

Namun hal itu sudah terjadi berbulan-bulan lalu. Di mana semenjak kenaikan jabatan nya, Seungcheol semakin sibuk. Jeonghan sempat kebingungan untuk menjelaskan perubahan jadwal pulang ke rumah suaminya kepada ketiga anaknya. Khususnya si kembar Rai dan Ren yang tidak bisa menganggap laki-laki dewasa lain sebagai idolanya selain ayahnya sendiri.

 

Maka dari itu, Jeonghan tidak bisa menyuruh orang lain sebagai perantara antara anak-anaknya dan ayah mereka sendiri. Harus dirinya sebagai ibu sekaligus istri. Toh, mereka pernah melewati hal yang sama beberapa tahun lalu. Memang akan ada perbedaan apa lagi jika Jeonghan mengikuti langkah-langkah yang sama pula?

 

Pukul 9 malam, setelah Jeonghan memastikan kedua anak kembarnya tertidur pulas dan Sasa juga sudah menyelesaikan pekeraan rumahnya, ia duduk di sofa ruang tamu. Sesekali Jeonghan menatap ke layar ponselnya, membuka ruang obrolan bersama Seungcheol. Beberapa kali ia membaca pesan terakhir yang dikirim oleh sang suami. Hampir 30 menit lalu tanpa ada balasan dari pesan yang terakhir dikirim oleh dirinya.

 

hani: mas kamu pulang kapan?

hani: ren masih mau main ini dia ngga mau makan sayur jadinya

 

hani: mas seungcheol

hani: sasa juga nanyain dia kangen kamu bacain cerita tiap malem

hani: mas dia gamau aku bacain cerita maunya sama kamu aja

hani: dia juga gamau kalo mbak-mbaknya yang bacain cerita dari pulang sekolah

 

hani: mas kamu tuh megang hp ngga sih?

hani: mas bales dong ini udah malem kamu meeting kah? kok aku ngga dikasih tau jadwalnya?

 

seungcheol: aku baru selesai

seungcheol: anak2 suruh tidur aja ngapain nunggu aku

 

hani: ???

hani: aku nungguin kamu

 

seungcheol: ok

 

hani: ok?

hani: ya tuhan seungcheol

hani: kamu udah di jalan? hati2 jangan ngebut2 udah malem

hani: aku bikinin teh buat kamu ya

 

Sudah beberapa menit sejak pesan terakhir yang dikirim oleh Jeonghan. Nampan dengan 2 gelas teh dan teko sudah berada di atas meja. Asap masih mengepul terlihat di bawah sinar lampu ruang tamu. Jeonghan merasa dadanya sedikit sesak, namun hal itu tidak akan menghentikan nya untuk membuatkan sesuatu untuk suaminya sendiri.

 

Saat suara pintu utama rumah terbuka, Jeonghan beranjak dari duduknya. Mengeratkan kardigan tebal yang dipakai untuk tidak merasa kedinginan di dingin nya malam. Perasaan yang sudah terasa familiar beberapa hari ke belakang, namun Jeonghan masih belum terbiasa. Tidak saat ia masih menginginkan kehangatan Seungcheol di setiap harinya.

 

Seungcheol melangkah masuk ke dalam rumah dengan menenteng tas kerja dan jas hitam di tangan nya. Pandangan sang tuan bergerak mengarah di mana Jeonghan sedang berdiri di ruang tamu. Mengeratkan kardigan yang sedang dipakai seraya menatap ke arahnya dengan tatapan khawatir. Langkah kaki Seungcheol terhenti di depan nya, membiarkan Jeonghan berjalan mendekat.

 

“Kamu kenapa belum tidur?” tanya Seungcheol mencoba untuk bersembunyi dari tatapan Jeonghan. Seperti biasa, Seungcheol sendiri tidak bisa bersembunyi begitu saja dari sang istri. Lebih dari 10 tahun mereka lewati bersama, sangat naif jika dia pernah berniat untuk berbohong akan apa yang dipancarkan dari wajahnya saat ini. “Seungcheol, kamu kecapean,” Jeonghan meraih tangan Seungcheol untuk digenggam sejenak, “Mau minum teh sebentar? Udah aku bikinin biar kamu tenang sebelum tidur.”

 

“Aku nggak tidur malem ini.”

 

“Mas, boleh didiemin sebentar nggak kerjaan nya?”

 

“Kamu bisa nggak jangan berhentiin aku baru kerja sebentar? Aku kerja bukan karena aku suka doang loh. Aku juga nyari duit buat kamu sama anak-anak kita.”

 

Jeonghan terdiam dan kedua matanya terbuka lebar. Telinganya terasa pengang, seperti otomatis tidak ingin mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Seungcheol. Seperti suaminya sendiri, Jeonghan juga tidak bisa bersembunyi dengan apa yang sedang diperlihatkan nya sekarang. Ekspresi wajah terkejut dan kecewa terpancar jelas tanpa ada topeng yang menutupinya.

 

Seungcheol meninggalkan Jeonghan berdiri membeku di sana dan melangkah masuk ke ruang kerjanya. Ia tidak lupa untuk mengambil gelas teh yang sudah disiapkan oleh istrinya. Tidak ada komunikasi yang terjadi di antara mereka berdua. Bahkan Jeonghan berakhir tertidur tanpa ada rasa pulas memunggungi lelaki itu yang berbaring di sampingnya.

 

Hari berganti menjadi minggu, lalu tanpa disadari sudah sebulan semenjak Jeonghan mendengar kalimat itu. Tidak sesekali pula Jeonghan mendapati dirinya termenung di sela jam kantor. Menatap bingkai foto keluarga kecilnya yang disimpan di meja kerjanya. Mengingatkan Jeonghan kepada tujuan nya untuk bekerja dan bertahan hidup sejak awal.

 

Saat Jeonghan dapat pulang dari jam kerjanya lebih cepat dari waktu biasa, ia menyempatkan diri untuk menjemput anak-anaknya di sekolah mereka. Keputusan bersama yang dipilih oleh Jeonghan dan Seungcheol untuk menyekolahkan ketiga anak mereka di satu yayasan yang sama. Selain untuk mempermudah saat dijemput oleh pembantu atau orang tua mereka sendiri, Sasa juga tidak mau jauh-jauh dari kedua kakak laki-lakinya. Jeonghan juga sadar kalau anak bungsunya ini banyak mengikuti cara bermain kedua kakaknya yang sedikit membuatnya khawatir.

 

“Ibunya Ren, minggu ini ada lomba cerdas cermat pengetahuan umum antar kelas sekitar pukul 1 siang. Kira-kira ibu bisa dateng buat nonton Ren? Kebetulan dia lolos seleksi, jadi bisa ikut kompetisinya juga,” tawar wali kelas salah satu anaknya saat Jeonghan baru saja tiba untuk menjemput. Jeonghan tertegun mendengar informasi tersebut, ia juga sadar bahwa akhir-akhir ini Ren meminimalisir waktu bermain nya dibanding Rai di rumah. “1 siang, ya? Waktu hari kerja. Saya bisa usahain kok,” balas sang ibu dengan mengukir senyum di bibir, “Oiya, bu, kalau misalnya suami ibu bisa diajak juga Ren pasti lebih seneng. Akhir-akhir ini dia agak murung waktu belajar. Saya coba tanya dan dia jawab kalau dia kangen ayahnya. Maaf bu, nggak bermaksud buat ikut campur masalah rumah tangga. Cuman yang saya tau bapak-bapak di keluarga kan sibuk bekerja ya, jadi saya jelaskan soal itu. Tapi sepertinya Ren juga lebih mengerti jadwal kerja ayahnya di rumah.” Jeonghan kembali terdiam, pandangan nya menoleh ke arah Ren yang menunduk di pinggir lapangan seraya menatap kembaran nya Rai masih bermain bersama teman-teman nya, “Nanti saya usahakan untuk bicara sama ayahnya. Terima kasih atas informasinya, bu.”

 

Selama perjalanan pulang, Jeonghan sesekali melirik ke pantulan di mana Ren sedang tertidur pulas di jok belakang. Bertolak belakang dengan Rai yang sibuk memakan makanan ringan pemberian Jeonghan untuk bekal tambahan mereka berdua. Menghembuskan napas pelan, Jeonghan mau-tidak mau harus membicarakan ini kepada Seungcheol. Permasalahan yang membawa kondisi anak mereka cenderung dapat menarik perhatian Seungcheol lebih cepat dari biasanya.

 

Jeonghan kembali menunggu Seungcheol pulang dari kantor. Setelah memastikan ketiga anaknya tertidur, termasuk menghentikan Ren agar tidak belajar terlalu larut malam. Saat mendengar pintu terbuka, Jeonghan beranjak berdiri. Meraih nampan yang sudah ditempatkan dua gelas teh untuk dirinya dan Seungcheol.

 

“Jeonghan,” Seungcheol terkejut menemukan istrinya yang masih belum tertidur di jam 11 malam, “Kamu kenapa belum tidur lagi? Kemarin juga masih belum tidur jam segini. Aku udah ngomong kan nggak usah nunggu aku pulang.” Pegangan nya terhadap nampan itu diperkuat, tenggorokan terasa dicekik oleh bayangan kasat mata. “Aku mau ngomong soal Ren,” ujar Jeonghan. Sesuai prediksi, fokus Seungcheol menajam mendengar nama salah satu anak kembarnya, “Kenapa soal Ren? Dia nggak kenapa-kenapa kan di sekolah?” Jeonghan menggelengkan kepala, “Mas boleh duduk sebentar di sofa? Sebentar aja. Aku cuman ngasih tau sesuatu aja sekalian minum teh. Boleh, ya? Jangan nolak ajakan aku lagi.”

 

Betapa menyedihkannya Jeonghan harus terlihat memohon kepada Seungcheol hanya untuk duduk bersama dan berbincang seperti dahulu kala. Sebelumnya ia tidak harus memohon seperti ini untuk mendapatkan momen berdua. Bahkan di sela kesibukan Seungcheol, ia tetap mengajak Jeonghan untuk minum teh bersama dan meninggalkan kecupan penuh afeksi di kening anak-anaknya yang sedang tertidur pulas. Sedangkan sekarang, menginjakkan kaki di kamar mereka saja Seungcheol tidak sempat.

 

Namun setidaknya Seungcheol masih bisa membaca keadaan. Ditambah pegangan Jeonghan yang sudah bergetar untuk mempertahankan nampan di genggaman. Saat Seungcheol mengangguk, menerima ajakan nya, beban di pundak Jeonghan pun berkurang. Dua orang dewasa itu kini duduk di sofa, Jeonghan menyaksikan Seungcheol meneguk sejenak teh yang sudah disuguhkan itu.

 

“Minggu ini Ren ada lomba cerdas cermat. Gurunya minta kita buat dateng, jam 1 siang. Kamu bisa nggak?” tanya Jeonghan tanpa basa-basi. Seingat dia, air teh itu pasti sudah tidak sepanas dibandingkan saat kondisi baru saja dibuat. Namun menyaksikan Seungcheol tersedak akan seruputan tehnya sendiri membuat Jeonghan mengangkat sebelah alis dengan kebingungan. “Minggu ini? Hari kerja?” Jeonghan mengangguk, “Acara sekolah mana mau nyamain jadwal sama kegiatan orang tua anak-anak. Kan, pemeran utamanya mereka bukan kita.”

 

“Kamu dateng? Kerjaan kamu gimana?”

 

“Aku gampang. Kalo ada meeting yang bisa maju atau mundur, tinggal diubah waktunya. Aku juga bisa lembur, paling tinggal kasih tau mereka kalau lagi nggak bisa jemput.”

 

“Kerjaan kamu kenapa enak banget sih. Aku mana ada gampang bisa kayak gitu.”

 

Alis Jeonghan semakin terangkat kebingungan. Dari mana kalimat itu berdasar di benak sang tuan di hadapan nya saat ini? Di antara orang-orang yang mengetahui bagaimana Jeonghan mendapatkan pekerjaan nya sekarang, Seungcheol menduduki peringkat pertama di urutan itu. Jika Jeonghan ingin berbicara serius, pekerjaan nya juga sama saja beban nya dengan apa yang Seungcheol kerjakan. Ditambah ia juga seorang ibu rumah tangga, kewajiban nya dibelah-belah menjadi beberapa bagian yang tidak bisa dianggap sepele begitu saja.

 

Namun Jeonghan memilih untuk diam. Karena seperti Seungcheol, Jeonghan juga menduduki peringkat pertama untuk orang yang mengerti bagaimana pekerjaan suaminya. Bekerja di perusahaan keluarga memang tidak seindah itu, Jeonghan sudah mengetahui hal tersebut semenjak dirinya mengenal Seungcheol beberapa tahun lalu. Walaupun pada akhirnya Seungcheol berlabuh di perusahaan keluarganya sendiri, ketakutan Jeonghan perlahan-lahan pun terjadi seiring waktu.

 

“Kamu bisa usahain kalo emang niat dari awal,” ujar Jeonghan seraya menyeruput tehnya, “ayah juga ngerti kalo soal urusan cucunya sendiri. Berapa kali Hansol ngambil cuti waktu Chan atau Seungkwan nggak bisa ngurus bayi mereka di hari kerja? Aku juga tau soal itu. Kamu juga pernah ngelakuin itu, kenapa sekarang kayaknya susah banget?” Seungcheol menghembuskan napas pelan, menoleh ke arah sang istri yang duduk di sebelahnya, “Posisiku udah naik, Jeonghan. Ayah juga tahu anak-anak kita udah gede. Kita punya pembantu, ada kamu juga.” Jeonghan berdecak, memutar matanya malas, “Ayah juga tahu kalo aku kerja. Ayah kamu itu tahu kalo kita selalu berdua buat ngurus anak. Kalo aku kasih tahu beliau kalo Ren sampe lesu di sekolah karena ayahnya nggak pernah ngasih tau setiap pulang malem, kamu tahu sendiri siapa yang bakal disalahin.” Seungcheol memicingkan kedua matanya tajam, tensi yang memuncak di antara keduanya sudah tidak bisa dihiraukan lagi. “Perusahaan kamu itu banyak orang, kamu mimpin sekitar 20 orang di bawah kamu. Emang kamu kerja sendirian? Aku emang ibu dari anak-anak kamu, aku juga istri kamu. Tapi kamu suka lupa kalo aku juga ikut kerja dan ngumpulin duit buat kita nikah dulu. Buat keluarga kita sekarang, buat aku sendiri sesuai permintaan kamu,” Jeonghan menekan setiap katanya yang lolos dari mulut, “Aku nggak pernah minta ini-itu di hubungan kita, Seungcheol. Tapi jangan sampe aku denger dari anak-anak kita kalo mereka kesepian kayak nggak punya ayah di rumah.”

 

Jeonghan sama sekali tidak merasakan beban nya tiba-tiba ringan di pundak setelah mengucapkan kalimat tersebut. Tetapi setidaknya, setengah dari apa yang ia pikul selama sebulan ke belakang dilontarkan tanpa harus merasa tidak enak. Beban yang dikerjakan Seungcheol juga dilalui oleh Jeonghan. Sudah dari awal mereka sepakat untuk melakukan hal dengan porsi yang sama, hanya butuh komunikasi dan kepastian keberadaan satu sama lain saat salah satu dari mereka membutuhkan.

 

Namun sepertinya Seungcheol lupa akan hal itu dan Jeonghan hadir untuk mengingatkan nya kembali. Walaupun dengan cara yang harus menggores ego lelaki itu. Jeonghan sudah hidup di jarak tahun yang sama dengan Seungcheol untuk berani menjadi satu-satunya orang yang dapat menggores ego suaminya sendiri. Sekarang opsi yang harus dilakukan dikembalikan ke tangan Seungcheol, Jeonghan sudah melakukan peran nya.

 

Semenjak obrolan mereka, Seungcheol sedikit berubah. Tidak sepenuhnya, tapi Jeonghan juga masih mengerti dengan apa yang sedang dikerjakan oleh suaminya. Setidaknya Seungcheol kini kerap meminta untuk berbincang sebentar dengan anak-anaknya, menjelaskan kalau ia harus pulang malam melalui panggilan video. Bagian menjelaskan itu bukan beban pekerjaan Jeonghan lagi.

 

Sampai di hari di mana Ren akan berkompetisi, Seungcheol menyempatkan waktu untuk ikut menyiapkan bekal bagi anak-anaknya. Melihat ketiga anak mereka yang kembali bercanda dengan ayahnya membuat benak Jeonghan pun hangat. Mengenyampingkan kebutuhan nya sendiri sebagai seorang istri, bukan pertama kali Jeonghan melakukan hal ini. Toh, porsinya sebagai istri sudah bertahun-tahun dibandingkan menjadi ibu.

 

Biarkan Seungcheol menjadi ayah sejenak untuk anak-anak mereka. Jeonghan sudah memiliki Seungcheol lebih dari itu.

 

“Bunda, ayah, Ren kemarin nggak belajar tau padahal mau lomba hari ini,” tutur Rai di tengah agenda sarapan keluarga cemara itu. Jeonghan mendelik, sedangkan Seungcheol mengusap sisa makanan di area mulutnya. “Kenapa? Ren udah cukup pinter kok. Pelajaran nya juga udah diajarin setiap hari, kan?” Ren mengangkat kedua bahunya tak acuh, “Nggak juga sih, tapi aku udah belajar dari kemarin. Kata bunda harus ada waktu istirahat.” Seungcheol menolehkan kepalanya untuk menatap Jeonghan yang sedang mengusap bekas makanan di mulut anak bungsu mereka, “Kenapa liat aku?” Lelaki itu menggelengkan kepala, senyum tipis terulas di bibir, “Nggak apa-apa. Kamu cantik aja hari ini.” Jeonghan merasa sekujur tubuhnya lemas seketika, menghiraukan berbagai reaksi dari anak-anak mereka dan suara tawa yang lolos dari mulut Choi Seungcheol.

 

Tentu hal itu patut dipamerkan kepada sahabatnya.

 

hani: gue dibilang cantik😭😭😭😭😭😭😭😭

 

jisoo: oalah udah baikan?

 

hani: blm

hani: gatau juga deh suami gue org aneh

 

jisoo: emang

jisoo: gimana si ren aman aja dia?

 

hani: aman aman

hani: ini gue mau nganterin mereka ke sekolah abis itu cus kantor

 

jisoo: masih sexually deprived berarti?

 

hani: stoppp

hani: becek dikit td dibilang cantik sih tp gapapa

 

jisoo: 🤢

jisoo: minggu ini playdate? apa anak2 lo mau ketemu sama sepupu mereka?

 

hani: gue belom ngobrol lagi sama chan atau kwan

hani: mungkin mereka jg lg gedek sm suaminya

hani: kan sedarah tuh abang adek

 

jisoo: bener juga

jisoo: yaudah deh semangat aja gue udah disodok berkali2 seminggu ini

 

hani: STOOPPP GUE IRI

 

jisoo: 🤗

 

Jeonghan menjalankan harinya sebagaimana dengan hari-hari lain. Seperti rencana awal, ia memastikan beberapa pertemuan diundur dan dimajukan agar dia bisa datang ke kompetisi Ren di sekolah. Saat pekerjaan nya selesai dan waktu makan siang telah tiba, Jeonghan sudah beranjak pergi menuju sekolah anak-anaknya. Ia memutuskan untuk makan siang di mobil dengan bekal yang sudah dibawa dari rumah, bukan pertama kalinya Jeonghan melakukan hal serupa.

 

Waktu yang ditempuh tidak terlalu lama, sekitar 20 menit dari pusat kota. Selama di perjalanan, Jeonghan mencoba menelpon Seungcheol melalui fitur panggilan di mobilnya. Lelaki itu masih tidak menjawab semua panggilan dari istrinya sendiri. Maka dari itu, Jeonghan memilih jalan lain.

 

“Chwe Hansol! Abang lo mana?” Jeonghan berteriak di mobil, mencoba mengendalikan stir mobil dan fokus kepada jalanan di depan nya. Terdengar suara obrolan menggema dari speaker mobil itu sebelum suara Hansol masuk menyapa telinga Jeonghan. “Siapa? Abang?” Jeonghan mengangguk, merasa frustasi sekarang, “Iya, abang lo. Dia masih di kantor? Atau di mana? Suruh keluar cepet ke sekolah Ren. Kantor dia kan jauh dari sekolah. 40 menit atau lebih bisa kali kalo misal jalanan nya macet.” Keheningan menyertai obrolan antara perempuan dan adik iparnya itu, “Abang dari tadi belum pulang meeting. Masih ada meeting proyek kayaknya abis ini buat diselesaiin.”

 

“Emang nggak bisa diundur? Emang dia nggak bisa izin dulu?”

 

“Nggak tau, mbak. Dia yang bikin jadwal sendiri bukan gue.”

 

“Bisa tolong suruh dia pergi sekarang ke sekolah nggak? Nggak, gue nggak nerima penolakan apapun ya. Tolong kasih tau temen-temen nya yang lain juga biar biarin dia pergi dari meeting dulu. Kasih tau ayah lo juga kalo bisa.”

 

Sebelum Hansol membalas instruksi tersebut, Jeonghan menyelesaikan panggilan antara mereka berdua. Hembusan napas kasar menggema di mobil. Skenario-skenario paling buruk mulai mengisi pikiran Jeonghan. Entah apa yang harus ia jelaskan nanti kalau misalnya anak-anaknya bertanya tentang kehadiran Seungcheol.

 

Sesampainya di parkiran sekolah, Jeonghan menemukan gerbang gedung itu sudah dipenuhi oleh banyak orang tua murid. Jeonghan mengganti pakaian nya agar tidak terlalu terlihat formal. Anak-anaknya lebih nyaman saat Jeonghan tidak memakai pakaian kerja. Sasa bahkan pernah tidak ingin bermain dengan nya karena Jeonghan masih belum mengganti pakaian.

 

Jeonghan tidak bisa menghiraukan degupan lantang di dada. Apalagi melihat murid-murid lain dengan senang berbincang bersama ayah mereka. Jeonghan menghela napas panjang, mencoba mencari keberadaan Ren di tengah lautan anak-anak murid itu. Dibantu oleh panitia kompetisi, Jeonghan duduk di kursi yang dikhususkan oleh orang tua murid.

 

“Bunda!” Jeonghan menoleh dan menemukan Rai berlari ke pelukan nya, “Bunda dateng. Kelas Sasa belum boleh keluar, bun. Tapi katanya pulang cepet hari ini.” Rai terlihat sumringah mendapati keberadaan ibunya di tengah penonton kompetisi cerdas cermat yang sebentar lagi akan dimulai. Jeonghan mencoba mendistraksi satu dari anak kembarnya itu, bertanya perihal apa yang sudah dilakukan di sekolah sampai sekarang. Namun, Rai masih menyandang status anak dari Choi Seungcheol, “Ayah mana?” tanya nya dengan intonasi lugu, “Ayah dateng kan, bunda? Kemarin udah janji sama Ren. Udah janji sama Rai juga,” Jeonghan menelan ludahnya gugup, mengusap pinggir kepala anak lelaki berumur 10 tahun itu seraya merapikan pakaian nya, “Ayah lagi kerja, sayang. Nanti baru bisa ketemu di rumah.”

 

Biasanya dengan cara ini, anak-anaknya dapat mengerti dan melupakan langsung apa yang sedang terjadi. Tetapi ada kalanya emosi tiap anak sudah mencapai puncaknya. Seperti emosi yang dirasakan Jeonghan sekarang. Namun ia masih harus membelenggu itu dalam-dalam.

 

“Tapi ayah udah janji, bunda! Nanti Ren nangis lagi! Nanti Ren nggak mau main sama Rai lagi!”

 

“Iya, iya, maafin ayah ya, sayang. Ayah lagi banyak kerjaan –”

 

“Kalo misal ayah banyak kerja kenapa bunda masih bisa dateng? Ayah kerja apa emang? Ayah mana, bunda? Ayah mana?”

 

Racauan anak lelaki di dekapan Jeonghan mengundang banyak atensi ke arah mereka. Jeonghan berbisik meminta maaf, membungkukkan badan berkali-kali. Saat kepalanya menoleh ke arah panggung, pandangan Jeonghan mendapati Ren sedang berdiri membeku. Bagaimana perasaan anak lelaki itu saat ia mendapati kembaran nya sedang menangis di dekapan ibunya sendiri, bertanya-tanya perihal keberadaan ayahnya yang sudah berjanji untuk datang?

 

Kedua pandang mata Ren bergerak pelan-pelan, mencoba mencari keberadaan ayahnya. Tempat duduk di sebelah Jeonghan masih kosong. Ren sudah memberitahu wali kelasnya kalau kedua orang tuanya akan datang dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Suara speaker yang menarik Ren kembali ke realita pun terdengar, terpaksa ia harus melanjutkan hari seperti biasa tanpa ayahnya.

 

Rai sudah lebih tenang saat Jeonghan menghubungi seseorang untuk datang mewakili Seungcheol. Dengan tergesa-gesa Hansol langsung duduk di sebelah Jeonghan dan membiarkan Rai bermain dengan nya. Sedangkan Ren sedang melangsungkan kompetisi di atas panggung. Jeonghan bisa melihat betapa gugupnya anak kandungnya itu yang mencoba menggenggam celana bahan seragamnya, menghentikan dirinya agar tidak menangis di tengah kompetisi sedang berlangsung.

 

Jeonghan juga memanfaatkan waktu untuk menenangkan diri dan Hansol mengerti keheningan yang berasal dari kakak iparnya. Tidak ada penjelasan lain yang dapat mendukung apapun alasan dari Seungcheol nanti. Ini bukan sekali-dua kali saja. Jika dihitung, Jeonghan juga merasa nyeri di benaknya.

 

Setelah kompetisi selesai, Hansol menggendong Sasa dan membiarkan Rai menggenggam tangan nya menuju mobil Jeonghan di parkiran. Sedangkan Ren, ia masih tidak ingin memberi jawaban lengkap dari pertanyaan yang diberikan oleh Jeonghan.

 

“Ren sayang, hari ini mau makan apa? Nanti sekalian kita mampir beli makan terus nonton di rumah, ya? Bunda nggak balik ke kantor kok. Kita tidur siang bareng kayak hari libur, ya?” tawar Jeonghan seraya menahan dirinya agar tidak menitikkan air mata saat memandang betapa murungnya wajah sang anak di depan nya saat ini. Namun Ren belum bisa menahan emosi seperti Jeonghan. Tubuh anak umur 10 tahun itu bergetar dan mengeluarkan isak tangis pelan di tengah suara obrolan orang tua murid di belakang mereka. “Mau ayah,” tangis Ren mengusap air mata yang jatuh di pipinya, “Ren mau ayah.”

 

Jeonghan mengerucutkan bibirnya, menunggu Ren untuk bergerak. Namun sampai mereka ke mobil pula, Ren masih berjalan sendirian. Ia tidak ingin digenggam oleh ibunya dan paman nya. Bahkan Hansol sampai terlihat iba melihat pertama kali keponakan nya selesu itu.

 

“Mbak.”

 

“Apa?”

 

“Jangan bunuh abang,” Hansol terdengar memohon dan bercanda di waktu yang sama. Jeonghan menutup pintu mobil bagian belakang setelah Ren masuk dan duduk di jok penumpang dengan aman. “Gue bisa ngasih dia lebih parah dari itu,” balas Jeonghan menahan perasaan campur aduk yang sedang berseteru di dalam benaknya. Hansol menghembuskan napas pelan, “Ya, bener juga sih. Asal lo juga jangan ngelakuin hal impulsif. Maksud gue, kayak, ini bisa diselesaiin dengan omongan dan aksi. Gue tau dia butuh digeplak kepalanya sekali-dua kali, jadi kasih dia itu aja. Jangan lebih sampe hal-hal yang bisa bikin kalian berdua nyesel nantinya.”

 

Jeonghan tidak bisa berlama-lama berpura-pura di hadapan anak-anaknya. Dibandingkan dengan Seungcheol, Jeonghan memang lebih sering menghabiskan waktu bersama ketiga anaknya di rumah. Mereka merupakan anak-anak yang pintar. Mengerti tentang apa yang sekiranya sedang dilewati oleh kedua orang tua mereka.

 

Tentu Jeonghan tidak bisa berharap mereka untuk mengerti. Mereka masih kecil, belum harus tahu tentang bagaimana dunia ini bekerja. Namun saat Jeonghan diminta untuk beristirahat saat ingin melanjutkan pekerjaan di rumah, mereka melarangnya. Termasuk Ren yang masih menginginkan presensi sang ayah di rumah.

 

Sampai matahari terbenam, Jeonghan tertidur pulas di kamar tidur bersama ketiga anaknya. Pertama kali dalam beberapa minggu ke belakang ia merasakan istirahat yang cukup. Kapan terakhir kali dia merasa dirinya tidak dibebankan oleh pekerjaan? Sepertinya saat Jeonghan masih tinggal bersama orang tuanya. Mengingat bagaimana kedua orang tuanya kerap menanyakan kabar cucu-cucu mereka dan menantu membuat kepala Jeonghan kembali pusing dirasa.

 

Jeonghan melangkahkan kaki keluar dari kamar, berniat untuk memastikan lampu-lampu rumah sudah menyala terang. Langkah kakinya terhenti saat menemukan Seungcheol beranjak berdiri dari sofa ruang tamu.

 

“Jeonghan –”

 

“Ada malunya juga lo pulang ke rumah.”

 

“Jeonghan, dengerin aku,” Jeonghan menggelengkan kepala, “Mau dengerin apa lagi? Lo aja masih ada malu buat balik ke rumah setelah seenaknya lupain janji-janji lo sama anak-anak lo sendiri. Eh, gue tuh nggak peduli kalo lo lupa sama janji-janji lo sama gue, ya, Choi Seungcheol. Tapi ini janji lo sama anak lo sendiri. Janji lo sama Ren, Seungcheol. Ada gilanya beneran deh beneran selupa itu kah? Harta kah sekarang yang ada di pikiran lo? Mana peran jadi ayah di rumah, sih? Rasa punya anak nggak sih lo –”

 

Suara tamparan menggema di ruang tamu rumah dua lantai itu. Kepala Jeonghan menoleh ke samping, helai rambut panjang menutupi sebagian wajahnya. Pikiran Jeonghan berkelana ke anak-anaknya yang masih tertidur pulas di kamar. Pintu sudah ditutup rapat, dinding terbuat dari material yang bisa meredam suara dari dalam.

 

Deru napas Seungcheol terdengar jelas di keheningan matahari perlahan terbenam di ufuk barat. Jika diingat-ingat, waktu ini termasuk ke momen romantis untuk sepasang kekasih. Namun sepertinya mereka sudah jauh melewati fase itu. Seungcheol menurunkan tangan nya, mulutnya terbuka dan tertutup mencoba untuk mencari kalimat yang pantas keluar dari sana.

 

“Aku itu masih kepala keluarga di sini, Jeonghan,” tutur Seungcheol pelan, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya, “Aku punya alasan tersendiri buat nggak dateng ke acara Ren. Iya, aku salah, aku tau itu. Tapi kenapa kamu yang emosian sekarang? Apa sih yang kamu lakuin emang selama ini sampe bisa se-emosi ini? Semua yang kamu lakuin sekarang itu juga keputusan kamu. Kalo aku dari awal ngelarang kamu buat kerja, buat nyari duit sendiri, yaudah kamu di rumah. Tapi kamu nggak mau itu, kan? Aku tau kamu, Jeonghan. Kamu emang lebih dari sekedar ibu rumah tangga.” Kedua mata Jeonghan sudah berair karena air mata. “Kamu nanya itu ke aku sekarang, hah? Sekarang banget, mas? Mas, aku tuh nggak pernah peduli soal status aku di mata orang lain. Mau dibilang cuman jadi istri di rumah, mau dibilang jadi istri yang suka leha-leha sama orang lain. Nggak peduli, mas. Aku tuh lebih peduli sama anak-anak kita. Mereka loh yang bakal tumbuh besar ngeliat gimana kita itu memperlakukan orang lain. Mereka yang bakal ngikutin semua yang kita lakuin sekarang setiap hari. Kamu aja nggak bisa ngelakuin hal minimal kayak dateng ke acara penting mereka, apa yang bisa kamu suguhin kalo misal aku mau kamu ngelakuin hal khusus buat aku?” Air matanya jatuh di pipi, hanya rasa perih yang dirasa secara fisik dan juga mental, “Mas, kamu tuh berubah. Prioritas kamu itu bukan aku atau anak-anak lagi. Oh, ya, kalo aku sih udah emang nggak diprioritasin dari lama dan aku nggak protes soal itu juga. Tapi anak-anak kamu, mas. Darah daging kamu sendiri, mereka sama sekali nggak ngerasain presensi kamu di umur mereka yang udah produktif. Udah masuk SD, Sasa aja udah nggak peduli kamu mau pulang atau nggak. Pernah nggak kamu mikir sampe sana? Atau cuman mikirin nya proyek ini, proyek itu, sampe gumoh aku dengernya.” Tenggorokan Jeonghan terasa dicekik, ia pun menyeka air mata di pipi walaupun wajahnya sudah merah total, “Mas, tolong sadar aja sama apa yang kamu lakuin sampai sekarang. Kita itu udah nggak hidup berdua doang. Kalo kamu emang ada masalah sama aku, yaudah ngomongnya ke aku. Jangan sampe anak-anak juga ikut kena. Kalo kamu ngasih semua tanggung jawab anak-anak ke aku, yaudah mending aku aja yang didik mereka sampe gede. Nanti coba kamu tanya ke mereka peran kamu apa di hidup mereka. Ren itu nyariin kamu dari tadi, dia sampe nggak mau digendong Hansol di sekolah. Mikir nggak sampe sana?” Saat hanya ada keheningan yang ditemui, perempuan itu berdecak, “Kamu tau mas, aku juga capek. Aku juga kerja dan aku bisa capek. Aku capek jadi ibu, aku capek jadi istri kamu. Emang kamu doang yang bisa capek jadi kepala keluarga? Nggak dong, aku juga. Aku mau pulang ke rumah bunda sama ayah dan kamu nggak bisa ngelarang aku buat ngelakuin itu.”

 

Antara Jeonghan yang bergerak terlalu cepat atau Seuntcheol yang membeku di tempat. Jeonghan membalikkan tubuhnya dan kembali ke kamar. Mengunci pintu kamar itu rapat-rapat sebelum menjatuhkan badan di lantai. Semua pertahanan nya pun runtuh, membiarkan isakan tangis itu keluar tanpa dibelenggu.

 

Jeonghan bahkan membiarkan anak-anaknya turun dari kasur dan memeluknya. Bisikan-bisikan tentang keberadaan ayah mereka dihiraukan oleh Jeonghan. Hatinya terasa disakiti tak mengenal siapa pelakunya. Berkali-kali Jeonghan berargumen hebat dengan Seungcheol selama hubungan mereka dimulai sebagai sepasang kekasih dan sekarang menjadi suami dan istri.

 

Namun sampai kapanpun tidak ada yang bisa membuatnya lupa akan hari ini. Tamparan itu saja masih satu dari segala yang dikecewakan oleh Jeonghan.


Choi Seungcheol tolol, Jeonghan membiarkan tangisan itu jatuh membasahi pipi, tolol, tolol, tolol.

 


 

Kalau diingat-ingat lagi, Jeonghan tidak pernah menerima perlakuan fisik dari Seungcheol semenjak mereka berhubungan. Mengenyampingkan hal-hal yang terjadi di ranjang karena sudah berbeda topik juga. Jeonghan baru sadar saat dia kembali ke kamarnya. Kamar di mana ia tumbuh besar di bangunan rumah milik kedua orang tuanya.

 

Tentu saja Jeonghan tidak memberitahu tentang kejadian itu kepada mereka. Bukan karena ia takut Seungcheol akan dimarahi dan lain-lain. Jeonghan menaruh kepercayaan besar di Seungcheol selama mereka bersama semenjak SMA. Terdengar naif dan aneh, tetapi Jeonghan merasa Seungcheol sedang tidak menjadi dirinya saat itu.

 

Karena Seungcheol yang Jeonghan kenal tidak pernah melakukan apa yang selama ini dia lakukan beberapa minggu ke belakang. Termasuk tidak menepati janji yang sudah diberikan kepada anak-anaknya.

 

“Bunda,” Jeonghan menoleh dari tatapan ke luar jendela. Sasa berjalan masuk seraya membawa buku gambar dan peralatan menggambarnya, “Bunda dipanggil nenek. Katanya abang-abang nelpon dari hp ayah.” Hati Jeonghan kembali mencelos, menerima pemberian buku gambar itu dan menggendong Sasa untuk ikut duduk di sofa panjang sebelah jendela kamarnya. “Sasa ngobrol sama ayah?” tanya nya pelan, “Ngobrol tadi. Ayah nanyain bunda, terus Sasa omelin.”

 

“Omelin gimana, sayang? Ayah dimarahin nenek nggak?”

 

“Sasa ngomelin soal ayah suka pulang malem. Tapi nggak tau, nenek ada ngomong lama sama ayah di telepon. Kayaknya nelpon bundanya ayah juga.”

 

Efek samping dari kepulangan Jeonghan yang tiba-tiba ke kediaman orang tuanya adalah hal ini. Mungkin cerita rincinya tidak diketahui oleh banyak orang. Namun kedua orang tuanya pasti akan bergegas untuk memberi peringatan sikap tentang apapun yang terjadi di antara mereka. Satu-satunya sumber nasihat yang akan didengar oleh Seungcheol juga berasal dari kedua orang tuanya.

 

Jeonghan lebih terkejut dengan bagaimana Seungcheol berpikir di tengah krisis rumah tangga mereka daripada tamparan itu. Ia tidak pernah memusingkan tentang hal tersebut, karena Jeonghan percaya dia bisa saja menonjok wajah Seungcheol jika semesta mengizinkan. Tetapi seperti biasa, hal tersebut bukan sesuatu yang sering terjadi di antara mereka. Bertahun-tahun mereka menikah dan berpacaran, Seungcheol tidak pernah memiliki niat untuk melakukan hal itu kepada Jeonghan.

 

Semenjak Jumat malam, Jeonghan sudah pergi ke kediaman orang tuanya bersama dengan Sasa. Ia tidak meninggalkan, kata yang tidak tepat untuk menjelaskan situasi sekarang. Rai dan Ren juga tidak merasa ditinggal, namun mereka pun mengerti dengan apa yang harus dilakukan. Jeonghan masih teringat dengan ekspresi Seungcheol saat ia memastikan Sasa duduk di jok penumpang dengan aman.

 

“Jeonghan, aku minta maaf,” ujarnya seraya menggenggam tangan istrinya, “Aku sama sekali nggak berniat ngelakuin itu. Semuanya, dari yang lalu-lalu soal argumen kita tentang aku yang sering pulang malem. Aku yang kerja terus sampe lupa buat nemenin anak-anak, buat ngebantuin kamu di rumah juga.” Jeonghan memutar tubuhnya untuk menatap Seungcheol lekat-lekat. “Seungcheol, semua permintaan maaf kamu bakal aku dengerin kalo kamu udah nyelesein apa yang lagi kamu hadepin sekarang. Semuanya, termasuk permasalahan kita berdua. Tolong dipikir lagi soal posisi kamu di keluarga ini. Iya, kamu kepala keluarga. Betul, kamu yang nyari nafkah. Tapi di banyak waktu kamu itu lupa kalo yang nyari nafkah juga ada dua orang. Ada aku, istri kamu, kalo kamu nggak nganggep aku yang ngelakuin  hal yang sama kayak kamu, terus selama ini aku ngapain? Iya, aku nurut sama kamu nyari duit buat diri aku sendiri. Tapi aku juga seorang ibu, Seungcheol. Rai, Ren, sama Sasa itu lahir dari rahim aku. Posisi aku emang nggak setara sama kamu? Apa emang kamu nggak pernah kepikiran hal itu?” Setiap kalimat yang dilontarkan berhasil keluar tanpa ada getaran, tidak seperti kemarin saat kepala mereka sedang panas-panasnya. Ekspresi Seungcheol saja sudah tidak cukup membuat Jeonghan untuk mundur dari pilihan nya, “Aku kasih kamu hari libur ini buat berbenah. Aku percaya sama kamu, Seungcheol. Tapi aku juga nggak bisa dikecewain kayak gini terus-terusan. Kalo kamu ngadepin aku doang kayak dari pacaran dan bisa digampangin menurut kamu, yaudah. Tapi ini juga nyeret anak-anak kamu. Tolong, pikirin itu aja minimal.”

 

Dengan hal itu, Jeonghan tidak menerima pesan dari Seungcheol selama beristirahat di rumahnya. Kabar-kabar yang diterima hanya panggilan video dari anak-anaknya. Jeonghan juga berusaha untuk tidak menampakkan wajahnya di hadapan kedua anak kembarnya itu. Seungcheol juga berlaku demikian, ia memberi waktu untuk Jeonghan dan dirinya berbenah satu sama lain, walaupun kesalahan terbesar berada di pundaknya.

 

Saat waktu untuk pulang, kedua orang tuanya tidak mempertanyakan apa yang terjadi di rumah tangga mereka. Meminimalisir tidak terlalu ikut campur di hubungan anaknya dan menantu yang sudah berlangsung cukup lama. Hanya saja, hal itu tidak menghentikan sang ayah untuk memberi nasihat kepada Jeonghan. Karena walaupun ia sudah menjadi istri Seungcheol, Jeonghan masih anak perempuan sulung di mata lelaki itu.

 

“Menurut ayah, kamu udah ngelakuin yang terbaik. Kamu bukan jadi istri doang di rumah, Jeonghan. Anak-anak kamu tumbuh besar karena dididik kamu. Ayah bangga ngeliat anak perempuan ayah bisa dewasa dan ngelakuin hal ini semua, mau dibantu atau nggak sama suaminya,” ujar sang ayah seraya mengusap pucuk kepala anak sulungnya, “Kalo misal ada apa-apa, jangan segan-segan untuk cerita. Ayah juga udah ngomong sama Seungcheol. Kalian tinggal ngomongin sisanya.” Jeonghan mengangguk, suara pekikan Sasa yang sedang digendong oleh neneknya pun menggema di ruang tamu rumah itu. “Makasih, yah. Maaf Hani masih belum bisa jadi istri sama ibu yang baik buat Seungcheol dan anak-anak juga.” Lelaki tua itu otomatis langsung menggelengkan kepala, “Nggak, sayang. Kalian, khususnya kamu, udah matahin kebiasaan didikan dari orang tua-orang tua kalian berdua. Nggak sempurna memang, kalo semuanya sempurna malah nggak mungkin. Pasti ada celahnya dan celah itu diperbaiki bareng-bareng. Kayak ayah sama bunda, kayak ayah dan bundanya Seungcheol juga. Kita pasti ada salahnya, ada buruknya, tapi nggak memungkinkan juga kita dapet pelajaran maupun kebaikan dari semua itu. Kembali lagi ke individunya, tapi ayah percaya sama kalian. Ayah percaya sama kamu, Jeonghan.”

 

Jeonghan memang tumbuh besar sebagai pemikul ekspektasi orang tuanya. Ditambah ia harus melindungi adik perempuan nya agar semua beban dipikul olehnya seorang. Bertolak belakang dengan Seungcheol yang merupakan anak bungsu di keluarga. Keduanya hidup di lingkungan berbeda dan menemukan satu sama lain dengan beban yang sama di pundak masing-masing.

 

Kekecewaan Jeonghan berakar dari perlahan hilangnya Seungcheol yang ia temui di masa SMA. Tentu saja orang-orang pasti akan bertumbuh dewasa, fisik maupun mental seiring waktu. Namun setidaknya Jeonghan masih bisa menemui bekas-bekas Seungcheol SMA yang disayanginya dahulu. Beberapa bulan ke belakang, ia sama sekali tidak menemukan hal itu di diri suaminya.

 

Sesampainya di rumah pada Minggu sore, Jeonghan menemukan Rai sedang bermain bola di halaman depan. Mobil di garasi diparkirkan di depan rumah, memberi ruang lebih luas bagi satu dari anak kembarnya untuk bermain. Kondisi mobil yang diparkirkan di depan juga menunjukkan bahwa Seungcheol baru saja membersihkan mobil itu sebagaimana jadwal di setiap hari Minggu. Mobil Jeonghan pun diparkirkan di sebelah mobil Seungcheol, membuka pintu belakang dan membiarkan Sasa berlari ke pelukan kakaknya.

 

“Bunda!” Seru Rai dengan sumringah seraya memeluk kaki Jeonghan erat-erat. Jeonghan mengusap helai rambut legam anak lelakinya itu, mengecup kepala Rai berkali-kali seraya membiarkan nya membantu membawa barang-barang yang dibawa dari kediaman kakek dan neneknya. “Ren mana, sayang?” tanya Jeonghan sembari melepas sandal yang dipakai, “Lagi masak bareng ayah.” Rai bertepuk tangan berkali-kali, “Ayah tadi malem ngobrol sama kita, bunda. Minta maaf, lebih ke minta maaf sama Ren sih. Terus Ren nggak murung lagi. Ayah masih tetep kerja kemarin, cuman kalo udah selesai, langsung main sama kita.”

 

Jeonghan menganggukkan kepala berkali-kali, berita bagus yang seharusnya dilakukan dari beberapa hari lalu. Hal minimum bagi seorang ayah untuk melakukan hal tersebut kepada anak-anaknya. Meminta maaf, membenahi diri, dan lain-lain. Tinggal bagaimana Seungcheol sebagai seorang suami akan berhadapan dengan Jeonghan nanti.

 

“Kamu hati-hati motongnya, Ren. Nanti kalo berdarah lagi gimana. Ayah nggak mau ngebela ya kalo bunda tahu.”

 

“Tapi ayah yang ngebolehin Ren ikut masak.”

 

“Lah, kok begitu amat sama ayah, nak?”

 

“Biarin – bunda! Bunda udah pulang!”

 

Ren turun dari tangga kecil yang disediakan untuk anak-anak di rumah dan berlari ke dekapan Jeonghan. Seungcheol menoleh, mengusap kedua tangan nya di apron yang sedang dikenakan. Jeonghan tertawa kecil, mencium seluruh titik yang ada di wajah Ren berkali-kali. Membiarkan anak lelakinya juga untuk membalas mencium wajahnya lebih dari sekali.

 

Atensi anak-anak di rumah pun berpindah ke Jeonghan dengan seketika. Jeonghan sesekali melirik ke arah dapur di mana Seungcheol masih melanjutkan agenda memasaknya. Mendengar celotehan Rai dan Ren yang tidak berhenti menceritakan apa yang terjadi selama hari libur. Sesekali salah satu dari mereka bertanya kepada Seungcheol untuk memastikan semua cerita yang diberitahu itu benar.

 

“Ayah, kemarin kita hampir beli ikan kan ya? Mau bikin kolam ikan di belakang?” tanya Ren, “Ayah udah janji mau bikinin kita kolam ikan. Cuman katanya nanti bunda nggak suka kalo halaman belakang jadi sempit.” Jeonghan mengangguk, “Iya kah, mas? Aku belum pernah denger rencana itu,” Seungcheol hampir menumpahkan makanan yang baru selesai dimasak, “Nggak, sayang. Maksudku aku belum izin ke kamu. Taman belakang udah cukup buat anak-anak main, ada gazebo juga sama ayunan.” Sayang, Jeonghan mengangkat sebelah alisnya dan Seungcheol merasa ingin mengubur diri di tempat, masih sayang ternyata. “Yaudah nanti dulu bikin kolam ikan nya. Sekarang waktunya ngulang pelajaran sekolah. Ayo, besok senin. Bunda buka kelas abis bunda mandi, ya? Kalian makan masakan ayah dulu,” titah Jeonghan yang dibalas dengan erangan protes dari ketiga anaknya.

 

Matahari terbenam di ufuk barat dan Jeonghan melanjutkan hari seperti hari-hari lain. Menuju hari Senin, Jeonghan memastikan pekerjaan rumah anak-anaknya sudah dikerjakan. Sesekali ia periksa, lalu mereka akan pergi ke Seungcheol untuk ikut memeriksa jawaban juga. Kedua orang dewasa itu masih menjaga jarak dengan satu sama lain.

 

Walaupun Jeonghan mencoba menghiraukan Seungcheol bergerak di belakang tubuhnya saat mereka berada di dapur bersama. Merasakan kedua langan lelaki itu hampir memeluk pinggang rampingnya. Seungcheol hanya berjalan menuju tempat cuci piring di dapur, namun Jeonghan merasa kedua tungkai kakinya lemas seketika. Jeonghan tidak pernah berniat untuk menjadi tegar di hadapan Seungcheol setelah apa yang terjadi di antara mereka.

 

Pertanyaan nya, untuk apa? Toh, masalah rumah tangga mereka hanya bisa diselesaikan dengan komunikasi. Jeonghan sedang mengambil waktunya, begitupun juga dengan Seungcheol.

 

Waktu di mana obrolan keduanya harus terjadi dimulai dengan Seungcheol yang duduk di sofa saat Jeonghan memastikan ketiga anaknya sudah tertidur pulas. Jam di dinding menunjukkan pukul 9 malam. Waktu yang masih siang menurut mereka berdua. Jeonghan menatap Seungcheol dengan mengangkat sebelah alisnya.

 

“Aku mau ngomong,” ujar Seungcheol seraya memainkan ujung jemari di pangkuan nya, “Jeonghan, aku nggak mau pisah.” Alis Jeonghan semakin terangkat, “Siapa yang ada niat pisah? Seungcheol, kalo misalnya aku mau pisah, nggak mungkin kita nikah dari awal.” Dahi Seungcheol semakin merengut, menepuk tempat di sofa yang kosong di sampingnya. “Oke, bagus kalo gitu. Tapi duduk dulu boleh? Aku mau jelasin banyak hal ke kamu. Nggak, bukan hal yang bisa justifikasi apa yang aku lakuin selama ini kok. Semuanya salah aku, aku sadar. Aku – aku keliatan menyedihkan banget, ya?” Jeonghan mengangguk, “Banget. Aku nggak tau kalo nggak ada aku berapa hari aja bisa bikin kamu merana kayak gini.”

 

“Jangan gitu, please. Nanti aku nangis.”

 

“Iya, oke, mau bilang apa? Aku dengerin.”

 

Jeonghan pun duduk di sebelah Seungcheol. Meraih gelas teh yang sudah disediakan oleh lelaki itu sebelumnya dan meneguk pelan. Sudah lama ia tidak merasakan teh di rumah yang selalu diseduh tiap malam sembari menunggu suaminya pulang. Sedikit lucu karena posisi mereka sekarang terbalik dari skenario yang biasa terjadi.

 

“Aku nggak berharap buat dimaafin begitu aja. Aku udah nyakitin kamu dan aku nggak justifikasi tentang posisiku yang lagi emosi atau gimana pas ngelakuin hal itu. Udah lewat, semuanya udah terjadi, dan nggak bisa aku hapus begitu aja. Aku cuman mau kamu tau kalo aku bener-bener minta maaf atas apa yang aku lakuin sampai sekarang. Aku juga tau minta maaf nggak bakal cukup buat nebus itu semua. Kamu juga nggak mau aku terlalu bergantung di masa lalu, karena kalo aku kayak gitu terus, aku nggak bakal ngelakuin hal yang lebih baik dengan benar.” Jeonghan menganggukkan kepala, membiarkan Seungcheol melanjutkan kalimatnya. “Aku udah minta maaf sama Ren juga, sama Rai juga. Belum sempet sama Sasa soalnya dia udah ngediemin aku duluan. Mungkin aku coba besok, aku nggak ada meeting sore. Nanti aku langsung jemput dia di sekolah aja. Aku berusaha buat jadi lebih baik, aku baru pertama kali kerja sama jadi suami di waktu yang sama. Tapi itu semua juga nggak bisa dibandingin sama peran kamu di keluarga kita. Aku mau minta maaf karena sempet lupa soal itu, aku nggak pernah niat buat berpikiran kalo kamu cuman jadi sekedar istri atau ibu yang ngandung anak-anak aku doang, Jeonghan. Kamu lebih dari itu,” Seungcheol menyeka air mata yang jatuh di pipinya, “Maaf, aku jadi nangis beneran. Jangan gampang maafin aku, aku nanti bakal buktiin kalo aku berubah jadi yang lebih baik.” Seungcheol mengangkat sedikit kepalanya untuk menatap wajah Jeonghan.

 

Perempuan itu sedang memasang ekspresi yang tidak bisa dibaca olehnya. Seungcheol baru sadar bahwa ia semakin susah untuk mengenal Jeonghan di hadapan nya sekarang. Bukan karena Jeonghan berubah, tapi dirinya yang perlahan mengalihkan pandangan dari keluarganya sendiri ke pekerjaan menumpuk di kantor. Tentu pekerjaan itu akan mengembalikan hasil dalam bentuk uang, tapi apakah beban kerjanya akan memberikan nya sebuah keluarga lagi? Memberinya Yoon Jeonghan yang lain? Pertanyaan bodoh untuk dipikirkan sedari awal.

 

Jeonghan menghembuskan napas pelan. Ia merapikan gaun satin yang dipakainya itu sebelum membuka kedua tangan ke arah Seungcheol.

 

“Peluk.”

 

“Hm?”

 

“Peluk aku, mas.”

 

Seungcheol bergerak mendekat dan memeluk Jeonghan erat-erat. Dagu sang puan ditempatkan di pucuk kepala lelaki itu. Mengusap lembut punggung Seungcheol pelan-pelan, memberi waktu bagi sang tuan untuk tenang sejenak. Jeonghan bergumam pelan, membuat melodi halus yang menjadi bahan tidur bagi anak-anaknya jika mereka sedang kesusahan tidur.

 

“Aku cuman butuh kamu sadar aja dari apa yang kamu lakuin,” Jeonghan membuka suara, pelukan di pinggang rampingnya dipererat, “Makasih karena udah mencoba untuk membenah diri. Banyak orang yang nggak bisa nurunin ego mereka untuk ngelakuin apa yang kamu lakuin beberapa hari ini. Jadi, aku mau bilang makasih dulu. Makasih udah sadar, udah mau berubah, dan udah berinisiatif untuk kembali ke diri kamu yang aku sayang dari dulu.” Seungcheol menyembunyikan kepalanya di ceruk leher sang istri, air mata masih jatuh di pipi. “Terus, aku mau garisbawahi kalo aku nggak pernah ada niat untuk pisah sama kamu. Aku juga nggak nyesel untuk ngelontarin pertanyaan-pertanyaan yang emang terkesan kasar. Aku juga mikir kalo aku nggak sekasar itu, mungkin kita bisa langsung ngobrol kemarin. Tapi kamu juga ada di posisi yang belum bisa nerima perspektif dan opini aku, jadi aku harus milih opsi untuk pulang ke rumah sebentar. Aku harus inget alasan awal aku waktu nerima ajakan kamu buat nikah dulu,” lanjutnya menyisir tiap helai rambut Seungcheol, “Aku kangen kamu, mas. Aku kangen kamu yang dulu, anak-anak juga kangen sama ayahnya. Selama ini aku belum bisa liat kamu yang dulu lagi dan aku pikir, mungkin emang udah bukan waktunya. Aku harus dikasih waktu untuk menyayangi diri kamu yang baru ini. Tapi takaran hatiku juga bisa kurang kalo kamu nggak menuhin itu. Makasih udah sadar kalo emang ada yang berubah di diri kamu. Makasih udah mau niat untuk berubah jadi yang lebih baik. Aku nggak butuh orang yang lebih baik,” Jeonghan menatap ke kedua mata Seungcheol, “Aku cuman butuh kamu jadi yang lebih baik.” Seungcheol mengerucutkan  bibirnya, “Tapi pipi kamu –” Jeonghan menggelengkan kepala, “Nggak, serius udah nggak apa-apa. Nggak seperih itu kok. Iya, aku kaget, tapi yaudah. At some point, I deserved that.”

 

Jeonghan tahu Seungcheol tidak bisa menerima pernyataan itu, tetapi dia yang mengerti perasaan nya sendiri. Bukan dia menormalisasi apa yang telah dilakukan Seungcheol. Tetapi Jeonghan juga membutuhkan itu untuk kembali berpikir jernih dan mengingat tujuan awalnya. Kalau tidak, mungkin ia sudah melakukan hal yang akan disesalinya kelak.

 

Sepasang suami-istri itu pun terdiam di sofa ruang tamu. Seungcheol menyandarkan kepalanya di dada Jeonghan, membiarkan perempuan itu masih menyisir helai rambutnya. Jeonghan termenung sejenak, mengingat masa-masa di mana mereka masih tidak memiliki tanggung jawab selain untuk diri sendiri. Waktu terasa begitu cepat dan mereka sudah memiliki tiga anak kandung.

 

“Mas,” panggil Jeonghan dan Seungcheol bergumam untuk membalas, “Boleh cium?” Pertanyaan yang terdengar asing untuk dilontarkan di saat mereka sedang tidak berargumen panas beberapa minggu terakhir. Seungcheol mendelik, “Boleh, kenapa harus nanya?” Jeonghan mengangkat kedua bahunya, “Nggak apa-apa. Aku cuman mastiin aja mas masih nafsu sama aku.” Jeonghan terkekeh kecil, “Mau cium. Mas nggak mau nenen lagi sama aku? Udah lama nggak nenen.” Seungcheol masih terlihat kebingungan, “Jeonghan, aku baru aja selesai breakdown. Nggak mungkin masalah kita selesai karena ciuman aja.”

 

“Tapi aku mau ciuman. Aku udah jelasin panjang lebar soal perspektif aku barusan. Kamu nggak denger? Aku nggak apa-apa.”

 

“Beneran? Aku nggak mau nyakitin kamu lagi.”

 

“Bener, sayang. Paling kamu harus nurut sama aku dari sekarang. Nurut sama mommy, ya?”

 

Tanpa menunggu balasan, Jeonghan mencium bibir Seungcheol. Merasakan ranum merah merona milik suaminya itu setelah sekian lama tidak dirasa membuat jantung Jeonghan berdegup kencang. Jeonghan mendesah disela ciuman mereka, membiarkan kedua tangan Seungcheol bergerak mengusap pinggang dan punggung di balik gaun satin yang dikenakan. Kulit bertemu kulit membuat tubuhnya merinding, sentuhan yang sangat dirindukan dan tidak bisa diekspresikan oleh kata-kata saja.

 

Seungcheol menarik tubuh Jeonghan untuk duduk di pangkuan nya. Napasnya tercekat seraya melumat bilah bibir Jeonghan dengan penuh nafsu. Kedua tangan Seungcheol bertemu bokong kenyal milik Jeonghan dan meremasnya pelan. Alhasil ciuman mereka harus terlepas, air liur bergantung di antara kedua bibir memerah itu.

 

“Oh, God. Aku kangen banget ciuman sama kamu,” desah Jeonghan yang kini pandangan nya semakin sayu, “Nenen ya, sayang. Mommy mau nenenin bayi mommy lagi. Sasa udah gede buat dinenenin, tinggal bayi gede mommy yang satu ini belum dinenenin lagi.” Kedua mata Seungcheol berbinar saat Jeonghan menurunkan tali gaun nya. Payudara besar diremas pelan sebelum disuguhkan kepada bayi besar di hadapan nya. “Bilang apa, sayang?” Jeonghan berbisik seraya mencubit pelan pentil tegangnya, “Makasih, mommy. Makasih udah mau nenenin Seungcheol. Toket mommy paling gede, Seungcheol paling suka sama toket mommy. Susunya banyak banget soalnya. Seungcheol nurut sama mommy doang,” tutur Seungcheol berantakan dengan air liur yang sudah jatuh dari pinggir mulutnya, “Good boy – oh! Hnnn… selamat nenen, sayang. Mommy izin gesekin memek ke kontol kamu, ya? Mommy mau muncrat di celana kamu, sayang. Biar basah, becek, nandain kamu cuman milik mommy.”

 

Seungcheol mengangguk semangat, mulutnya sibuk menghisap payudara besar nan kenyal Jeonghan sampai cairan susu itu mengalir membasahi tenggorokan nya. Jeonghan mendesah kencang, memijat tengkuk sang suami seraya merasakan kenikmatan yang sudah lama tidak dirasakan. Kedua tangan lelaki itu bergerak menjamah tiap lekukan tubuh Jeonghan di balik gaun satin yang dikenakan. Jeonghan tidak berhenti mendesah, terkesiap di tengah-tengah saat celana dalamnya ditarik untuk dilepas kembali.

 

Cairan susu Jeonghan menetes keluar membasahi gaun satin dan celana Seungcheol. Remasan-remasan yang perlahan menguat membuat Jeonghan semakin mendesah. Memijat tengkuk dan pundak Seungcheol seraya mengerahkan sisa-sisa energi yang dipunya. Mulutnya terbuka sedikit hanya untuk mendesah nama Seungcheol berkali-kali.

 

“Rakus banget, kurang minum susu ya?” Jeonghan mengecup kening Seungcheol berkali-kali karena gemas. Seungcheol menghembuskan napas dari rongga hidung. Telapak tangan nya bergerak untuk mengenyampingkan celana dalam yang dipakai Jeonghan di balik gaun satin itu. Saat jemari besarnya bergesekan dengan memek Jeonghan, perempuan itu hanya bisa mendesah panjang, “Ah – ahh…kucekin lagi itil aku, mas.”

 

“Mommy mau Seungcheol ngapain? Mau disodok di sini sampe pingsan lagi?”

 

“Mmhh… nggak. Aku mau bikin kamu makin sengsara.”

 

“Jeonghan –”

 

Jeonghan menggelengkan kepalanya, membungkam mulut Seungcheol menggunakan bibirnya sendiri. Melumat ranum merah merona milik sang suami dan melingkarkan kedua lengan di lehernya. Seungcheol mendesah pelan di ciuman lembut mereka. Ciuman yang terasa manis di awal, walaupun dia sendiri tidak mengetahui apa rencana Jeonghan.

 

Air liur masih bersatu di antara kedua bibir mereka saat Jeonghan menarik diri dari ciuman itu. Mengusap lembut dada dan pundak Seungcheol. Sang puan melepas gaun satin itu dan membiarkan tubuhnya terekspos total. Kedua tangan Seungcheol bergerak mengusap lekukan tubuh ramping Jeonghan yang sama sekali tidak berubah setelah melewati dua kali kehamilan.

 

“Aku mau kamu pejuin memek aku aja. Bisa, sayang?” tanya Jeonghan lembut seraya menengadahkan kepala Seungcheol untuk menatap kedua matanya lekat-lekat. Seungcheol menghembuskan napas pelan, dadanya bergerak naik-turun di bawah kendali sang puan. “Mana jawaban nya, sayang? Aku lagi nanya loh,” tekanan di tengkuk Seungcheol membuat lelaki itu menggulingkan bola matanya ke belakang, “Iya, iya, bisa, mommy. Seungcheol bisa pejuin memek mommy aja.” Kedua matanya berkedip kebingungan, merasakan kontol besarnya mulai mengeras di balik celana yang dipakai, “Nggak boleh pejuin di dalem, mommy? Peju Seungcheol nggak dibutuhin mommy lagi di rahim?” Jeonghan tertawa kecil, lebih dekat ke ekspresi mengejek pertanyaan yang baru saja didengar, “Nggak, sayang. Peju kamu nggak sepenting itu buat mommy sekarang.”

 

Jeonghan membuat Seungcheol menelan ludah gugup. Tensi di antara mereka berdua semakin menegang. Mengakui siapa yang sedang memiliki kendali di antara mereka berdua. Tidak sekali-dua kali Seungcheol membiarkan Jeonghan memegang kendali, namun saat dia diberi kesempatan, Seungcheol tahu kalau ia sedang tidak berada di tempat yang aman.

 

Kedua bibir mereka kembali bertemu. Jeonghan masih memperbolehkan Seungcheol untuk meraba dan mengusap tubuhnya. Kaos yang dikenakan oleh Seungcheol pun dilepas olehnya dan ikut dilempar asal ke lantai. Ciuman yang berawal lembut itu perlahan berubah menjadi sensual dan dibalut nafsu maupun gairah dari sepasang suami istri di atas sofa.

 

Jeonghan mendorong kepala Seungcheol untuk mencium ceruk lehernya. Mendesah panjang merasakan tiap kecupan dan hisapan yang akan meninggalkan bekas-bekas kemerahan di sana. Jeonghan sudah berniat untuk tidak menyembunyikan bekas-bekas itu. Sampai kapanpun ia hanya milik Choi Seungcheol seorang, begitupun sebaliknya.

 

“Oh – oh my God,” desahan Jeonghan bergetar saat ia merasakan jari besar Seungcheol melesak masuk ke dalam liang memeknya. Bergerak maju-mundur, ke kanan dan kiri sesuai perintahnya. Pinggang Jeonghan tidak bisa diam saja di pangkuan lelaki itu. “Mommy, mommy, mommy,” panggil Seungcheol dengan bisikan lembut, “mommy enak banget. Fuck, masih sempit banget,” mulut Jeonghan terbuka lebar dan hanya mengeluarkan desahan-demi desahan merasakan memeknya kembali disodok tanpa henti oleh suaminya, “Enak, enak – enak banget, sayang. Sodokin lagi, sodok lebih kenceng, fuck. Fuck, fuck, fuck – enak banget, Seungcheol.”

 

“Mommy, mommy, mommy.”

 

“Ah, ah – Seungcheol! Seungcheol!”

 

Kedua kaki Jeonghan bergetar hebat di pangkuan Seungcheol. Jeonghan mendorong wajah suaminya tenggelam di belahan payudara besarnya. Meninggalkan bekas-bekas kemerahan di sana. Semakin cantik kedua payudara besarnya itu untuk setiap saat ditatap di pantulan kaca.

 

Jari-jemari Seungcheol bertambah di dalam tubuh Jeonghan. Desahan-demi desahan semakin menggema di ruang tamu yang sepi itu. Anak-anak mereka sudah tertidur pulas di kamar masing-masing. Memberi ruang kebebasan bagi kedua orang tuanya untuk kembali bercinta sepuasnya di setiap sudut rumah.

 

“Seungcheol, Seungcheol, Seungcheol,” Jeonghan meracau tanpa mengerti apa yang sedang ada di pikiran nya, “Lagi, lagi, lagi. Kobelin memek aku lagi, sayang. Ah! Ah, ah, ah – dalem banget, dalem, oh, oh, oh my God.” Tubuhnya menggeliat tidak mau diam di pangkuan sang tuan. Seungcheol menggeram pelan, menekan pinggang ramping Jeonghan untuk menahan pergerakan lebih luas bagi perempuan itu. Jeonghan meringis, merasakan tekanan di tubuhnya yang lebih besar dari sisa energinya, “Seungcheol, Seungcheol, sayang aku mau muncrat.”

 

Geraman Seungcheol tertahan di belahan payudara Jeonghan. Pergerakan jemarinya semakin cepat di dalam tubuh perempuan itu. Menyodok titik kenikmatan yang terkubur dalam-dalam di sana. Jeonghan semakin meracau kencang, menjerit dan memejamkan kedua mata erat-erat.

 

Hal selanjutnya yang ia rasakan adalah tubuhnya bergetar hebat. Cairan orgasme itupun akhirnya muncrat keluar membasahi tubuh keduanya. Tanpa henti menetes keluar membasahi celana Seungcheol, sebagian menggenang di sofa maupun lantai. Deru napas Jeonghan tersengal-sengal di keheningan ruang tamu rumah mereka.

 

Jeonghan mengistirahatkan dahinya di pundak sang suami. Membiarkan Seungcheol menarik tubuhnya semakin dekat di dekapan. Sentuhan-sentuhan lembut diberikan di punggung, usapan yang dibutuhkan Jeonghan sejak sekian lama. Jeonghan sama sekali tidak sadar bahwa ia merasa sangat membutuhkan sentuhan Seungcheol sampai momen ini kembali dirasakan.

 

“Jeonghan,” panggil Seungcheol pelan, “Sayangnya mas. Kamu capek, sayang? Bobo, yuk. Besok harus bangun pagi.” Jeonghan mengerang, menarik tubuhnya agar kembali menegakkan postur di pangkuan lelaki itu. “Kamu belum bucat,” Jeonghan membuka kedua kakinya lebar-lebar, mengangkang di hadapan Seungcheol, “Bucatin memek aku dulu.” Seungcheol termenung sejenak, “Ya ampun, kamu baru aja muncrat, sayang. Nggak capek?” istrinya menggelengkan kepala dengan mendengus kesal, mengusap bibir memek yang masih sensitif itu seraya mendesah pelan, “Nggak, mau kontol kamu. Gesekin sampe bucat, sayang. Masukin kepalanya doang juga nggak apa-apa. Kepala kontol kamu udah gede banget, aku pasti langsung puas disodokin sama kepalanya aja.”

 

Keduanya tahu kalau itu tidak benar. Entah mengapa Jeonghan sedang suka menjahili Seungcheol di kala bercinta. Raut wajah Jeonghan semakin merengut, menandakan kalau permintaannya harus dikabulkan. Seungcheol tidak memiliki opsi lain selain menuruti permintaan istrinya itu.

 

Mengusap pelan selangkangan Jeonghan, Seungcheol mendorong dan melepas celana yang dikenakan. Jeonghan mendesah pelan saat kembali melihat kontol besar itu mulai digesekkan ke bibir memeknya. Kedua insan dewasa itu mendesah bersamaan, merasakan betapa licin nya sisa-sisa orgasme Jeonghan yang mempermudah gesekan kontol Seungcheol di memeknya. Sesekali Seungcheol mendesak masuk kepala kontolnya ke memek Jeonghan, membuat perempuan itu tersedak akan nikmat yang hanya dirasakan sesaat.

 

“Oh, oh, gede banget,” racau Jeonghan berantakan, “Gede – ah! Hhah… sodok, sodok, sodok mommy. Nggak kuat, mau disodok.” Seungcheol merasa pergerakan napasnya semakin berat. Tidak saat ia mendapati Jeonghan semakin menggeliat di pangkuan nya. “Seungcheol, Seungcheol – please, masukin aja. Aku nggak kuat –” Jeonghan melingkarkan kedua tangan nya di leher Seungcheol, “Masukin, masukin, masukin ke memek mommy. Ah! Hahh! Yes, yes, yes –!”

 

Jeritan kencang menggema di ruang tamu saat Seungcheol mendorong masuk kontol besarnya ke dalam memek Jeonghan. Tubuh sang puan terhentak keras, hampir terjatuh ke belakang saking kencangnya. Jeonghan hanya bisa mendesah kencang, geraman-geraman keras ikut menggema di ruang tamu saat merasakan kontol Seungcheol tidak henti-hentinya bergerak di dalam. Bekas di perut terlihat jelas, Jeonghan akhirnya memberi kontrol sepenuhnya kepada sang suami.

 

Kedua kaki Jeonghan dilingkarkan ke pinggang Seungcheol. Gerakan kontol dimulai perlahan, menumbuk titik kenikmatan Jeonghan. Membiarkan ujung kontol itu bergesekan dengan dinding rahim sang puan setelah sekian lamanya. Jeonghan mendesah kencang, mengusap tengkuk maupun punggung Seungcheol saat ia merasa dirinya sudah dipenuhi oleh kontol besar lelaki itu.

 

“Penuh – penuh banget,” desah Jeonghan tidak karuan lagi, “Gede banget, mas. Ah, ah, ah – aku hamil lagi nanti.” Seungcheol meremas bokong Jeonghan keras-keras, membuat perempuan itu menjerit kencang penuh kenikmatan. “Aku suka liat kamu hamil, mommy. Perut buncit ngandung anak-anak aku,” bisik Seungcheol, “Aku suka nemenin kamu kalo lagi hamil. Makin cantik, makin berisi, makin enak kalo dientot tiap hari.” Jeonghan merasa tubuhnya merinding seketika, kehamilan tidak menghentikan mereka untuk tetap bercinta setiap saat, “Nnnh… kamu mau hamilin mommy lagi? Hnnnn. It’s a not bad idea,” bibir bawahnya digigit seduktif, menggoda sang pemilik sperma, “Breed me then. Hnnn… aku – aku butuh peju kamu. Peju kentel menuhin rahim aku sampe jadi janin – oh! Ohhh fuck, fuck, fuck.”

 

“Aku mau bikin kamu hamil lagi – fuck, mommy, Jeonghan, Jeonghan. Aku mau kamu hamil lagi. Hamil anak-anak aku lagi, sayang.”

 

“Ah! Hahh! Mau, mau, mau. Aku mau hamil lagi – hnnn… mau buncit dipenuhin peju kamu lagi. Please, please, let’s make a baby from now on.”

 

“Bayi-bayi, sayang.”

 

“Bayi-bayi – hhhah… babies… babies…”

 

Kedua mata Jeonghan berguling ke belakang saat sodokan Seungcheol semakin kencang. Tungkai kakinya diangkat untuk memberi ruang bergerak lebih luas bagi Seungcheol. Sodokan-sodokan keras itu membuat Jeonghan semakin tidak berdaya. Lidah menjulur keluar dan mulut terbuka lebar.

 

Seungcheol merubah posisi mereka menjadi Jeonghan bersandar ke sandaran sofa. Kedua kakinya masih terbuka lebar, terangkat ke atas. Sodokan yang diberikan Seungcheol semakin berantakan. Jeonghan hanya bisa menatap suaminya dengan tatapan seduktif dan penuh nafsu, bulu mata cantik itu terkibas di bawah sinar lampu bercampur rembulan dari pintu bergeser ke halaman belakang.

 

“Hahh! Hahhh! Seungcheol!” Jeonghan mendesah tidak berdaya. Tubuhnya terkulai lemas di sofa, “Lagi, lagi, lagi –! Ahhh! Hamilin aku lagi, mas. Mas, mas, mas, aku mau anak lagi. Mau hamil anak kamu lagi.” Seungcheol menggeram pelan, cengkraman di pinggang Jeonghan membuat sang empu tubuh menjerit kencang. “Gonna put babies in you again, mommy,” Seungcheol menyodok kontolnya kencang di dalam, “Sampe buncit. Fuck, kamu makin cantik kalo lagi hamil, sayang.” Jeonghan menganggukkan kepala, air liur sudah berantakan di ujung mulutnya, “Entot aku sampe hamil lagi, sayang. Mau bikin anak terus sama kamu – hhnn… fuck me, fuck me, fuck me.” 

 

Hentakan Seungcheol semakin kencang dan Jeonghan merasa tubuhnya lemas. Jeonghan mengeluarkan cairan orgasmenya tanpa aba-aba. Tubuhnya sepenuhnya dipakai oleh sang tuan untuk mengejar puncak orgasmenya. Jeonghan meremas bantal yang menjadi sandaran di sofa, hampir merobek saking kuatnya diremas benda itu saat hentakan Seungcheol semakin berantakan.

 

Kontol besar itu menegang di dalam. Menandakan puncak orgasme sebentar lagi akan tercapai. Tubuh Jeonghan terbaring lemas di sofa dan sodokan Seungcheol ditambah kekencangan nya. Saat peju kental milik sang tuan memenuhi rahimnya, Jeonghan merasa penuh dan sempurna setelah sekian lama.

 

“Oh! Oh!” Tubuhnya melengkung sempurna di sofa, meremas bantal sebagai sandaran nya agar tidak terjatuh. Seungcheol menahan tubuhnya dan kembali memeluk Jeonghan erat-erat di dekapan. “Ahhh… mas, aku penuh banget,” lirih Jeonghan yang sudah sepenuhnya dimabuk oleh nafsu, “Enak, mas. Hhnnn… muncrat terus kalo ngentot sama mas. Udah lama banget.” Seungcheol mengusap samping tubuh Jeonghan, meninggalkan kecupan-kecupan lembut penuh afeksi di permukaan kulitnya. “Iya, udah lama banget dari terakhir kali kita ngentot. Aku sayang banget sama kamu, Jeonghan,” bisik Seungcheol di antara kedua bibir mereka, “Kamu beneran mau hamil lagi?” Jeonghan terlihat berpikir sejenak, “Hmmm… mau. Aku mau ngentot terus sih sama kamu intinya. Tapi kalo kebobolan lagi juga nggak apa-apa. Kontol kamu enak banget soalnya.”

 

“Aku harus kerja lebih keras kalo mau nambah anak.”

 

“Hmmm… asal jangan lupa buat ngentotin aku aja. Jangan lupa sama anak-anak.”

 

“Iya, iya. Nggak lupa lagi, sayang,” Jeonghan tertawa kecil dan mempersatukan bibir mereka lagi. Lumatan-lumatan dan tawa yang membaluti ciuman itu membuat isi benaknya kembali hangat. Jeonghan menggigit bibir bawah Seungcheol dan mendesah saat bokongnya ditampar keras. “Hnnn… mau ngentot lagi,” bisik Jeonghan di bibir Seungcheol, “Mas mau ngentot lagi nggak? Aku mau nungging. Sodokin dari belakang mas sampe pagi.”

 

Bagi Seungcheol sendiri ia tidak mempunyai pilihan lain. Karena ia juga sangat rindu bercinta dengan istrinya tanpa diganggu oleh masalah duniawi. Seperti saat masih SMA dulu. Merenggut keperawanan masing-masing, kepribadian naif dan lugu yang tidak patut dicontoh orang lain.

 

Namun Seungcheol bisa melakukan itu semua karena ia bersama Jeonghan. Begitupun sebaliknya, Jeonghan tidak bisa membayangkan orang lain yang menjadi suaminya. Hanya Seungcheol seorang, sampai kapanpun. Mental dan fisiknya hanya dipahat oleh Tuhan untuk dimiliki oleh Seungcheol.

 

Keduanya kembali berciuman mesra dengan mendekatkan tubuh mereka ke satu sama lain. Kulit menyentuh kulit yang sudah dipenuhi oleh peluh karena bercinta pun dihiraukan. Jeonghan melumat bibir Seungcheol dengan lembut namun tetap sensual. Tertawa renyah saat kontol Seungcheol semakin terkubur dalam-dalam di rahimnya.

 

“Aku sayang banget sama kamu,” bisik Jeonghan setelah ciuman mereka terlepas, “Suamiku cuman kamu doang, Seungcheol. Nggak ada yang lain dan nggak akan nyari yang lain.” Seungcheol menganggukkan kepalanya, memeluk pinggang ramping sang istri erat-erat, “Istri aku juga cuman kamu doang, Jeonghan. Nggak mau sama yang lain. Cukup sama kamu dan anak-anak kita. Termasuk calon anak kita yang bakal kita didik bareng-bareng.”

 

Sesuai permintaan Jeonghan, keduanya bercinta sampai jam menunjukkan waktu pagi. Saat mereka tertidur pulas tanpa memakai busana di ranjang, Jeonghan membiarkan Seungcheol memeluknya erat lagi.

 


 

Sesuai ekspektasi, Seungcheol memang berubah sejak terakhir mereka berargumen. Berubah menjadi lebih baik, sesuai harapan Jeonghan. Hal minimal yang patut dicontoh oleh orang-orang di luar. Ditambah karakteristik Seungcheol yang terlihat keras di luar, namun Jeonghan tidak pernah memiliki pandangan sama dengan orang-orang lain terhadap suaminya di luar sana.

 

Semenjak mereka berbicara perihal bagaimana melangsungkan hubungan pernikahan dan keluarga sebulan lalu, Seungcheol sudah tidak sesering itu pulang malam dari kantor. Kalau misalnya memang ada hal yang tidak bisa dikerjakan di esok hari, ia akan memberitahu anak-anaknya sedari awal. Jika Jeonghan sedang berhalangan untuk menjemput anak-anak mereka, Seungcheol berinisiatif untuk melakukan itu saat dia sudah tidak memiliki agenda lagi di kantor. Seungcheol juga sudah tidak pernah absen jika anak-anaknya ikut kegiatan di sekolah, agenda terakhir yang didatangi oleh lelaki itu antara lain lomba futsal antar kelas untuk Rai, lanjutan kompetisi cerdas cermat Ren, dan lomba menggambar untuk Sasa.

 

Jeonghan pernah datang telat saat agenda lomba menggambar Sasa. Berkali-kali Seungcheol harus menemaninya di mobil melalui panggilan suara, menenangkan istrinya dan memastikan Sasa tidak berpikiran aneh-aneh tentang ibunya. Walaupun sebenarnya Sasa juga sadar akan ketidakhadiran ibunya di awal-awal perlombaan. Namun pada akhirnya, walaupun telat, Jeonghan masih sampai dengan napas tersengal-sengal.

 

Kehidupan seksual keduanya juga semakin panas. Tidak cukup untuk dihitung jari seberapa sering mereka bercinta saat waktu dan tempat mengizinkan. Tempat yang selalu membuat jantung Jeonghan berdegup kencang adalah dapur. Setiap ia sedang menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anaknya, Seungcheol akan selalu memanfaatkan kesempatan mencoba membuat memek Jeonghan basah.

 

“Hnn… mas, mas, nggak kuat,” desah Jeonghan menempatkan pisau di genggaman nya kembali di meja dapur itu, “Ah, ah, ah. Daddy, daddy, daddy nggak puas tadi malem udah ngentotin memek aku terus? Masih kerasa banget sisa peju kamu di perut aku.” Gaun tidur Jeonghan disibak sedikit untuk kontol Seungcheol mendesak masuk ke dalam memeknya dari belakang. Jeonghan menggeram pelan, menyandarkan kepalanya di pundak sang suami seraya mengusap perut. “Kamu seksi banget, sayang. Mas nggak tahan kalo ngeliat kamu nungging-nungging di dapur gini,” bisik Seungcheol menghentakkan kontolnya di dalam memek Jeonghan, membuat perempuan itu menjerit pelan di pagi hari, “Satu ronde, ya. Sampe netes-netes keluar pejunya dari dalem memek kamu.”

 

“Hhnn… nanti kalo keliatan anak-anak gimana? Nanti mereka ngeliat bundanya jadi lonte.”

 

“Udah waktunya mereka tahu kalo bundanya emang lonte, kan? Dari dulu juga sukanya disodok sama ayah mereka.”

 

“Ah, ah, ah –! Nggh… sodokin, sodokin. Sodokin Hani lagi, daddy. Please, please, please. I’m your whore – fuck, daddy’s whore.” 

 

Jeonghan berakhir kembali dipenuhi oleh peju Seungcheol di dapur. Tubuhnya terkulai lemas di meja dapur, menatap sayu bahan-bahan makanan persiapan sarapan dan bekal untuk keluarganya. Seungcheol memastikan tidak ada sisa yang menetes keluar dari liang memeknya. Tidak lama setelah sepasang suami-istri itu bercinta, kedua anak kembarnya berlari keluar dari kamar untuk persiapan sarapan bersama orang tua mereka.

 

Di sela kesibukan kerjanya, Jeonghan mendapat pesan singkat dari sang suami. Kebiasaan Seungcheol mengirimkan foto-foto saat ia bekerja pun kembali lagi secara perlahan. Terkadang Jeonghan masih tidak habis pikir kalau lelaki itu sempat lupa akan tujuan mereka menikah sejak awal. Jeonghan membuka ponselnya, mengulas senyum kecil di bibir saat melihat foto yang dikirimkan Seungcheol.

 

seungcheol: [sent a photo]

seungcheol: lagi mam bekel istri aku

 

hani: istrinya siapa emang?

 

seungcheol: choi jeonghan🥰🥰🥰🥰

 

hani: yang mana emang istrinya?

 

seungcheol: yg cantik🥰🥰🥰 pinter🥰🥰🥰 seksi🥰🥰🥰

seungcheol: makan siangnya enak sayang makasih ya

 

hani: sama sama sayangg

hani: besok kamu yang masak ya

 

seungcheol: iyaa belanja dulu berarti kita

seungcheol: makasih susunya juga🥺

 

hani: susu apa itu sayang?

 

seungcheol: susu toket istriku🥺🥺

seungcheol: manis susunya sayang aku semangat kerja nyari duit buat anak2 kita

 

hani: aw malu

hani: sama sama gantengku❤️

 

seungcheol: btww kita mau liburan ngga?

 

hani: hmmm tumben tiba2

 

seungcheol: karena biasanya yg dadakan beneran jadi

 

hani: bener sih

hani: mau kemana?

 

seungcheol: staycation aja kayak biasa. kamis-minggu biar lamaan dikit. anak2 bisa izin kan?

 

hani: hmmmmmm samain sama hari libur mereka aja. tapi kayaknya minggu depan ada deh nanti aku cek kalender dulu

 

seungcheol: sekalian honeymoon lg

seungcheol: 👉👈

 

hani: km beneran mau bikin anak lagi ya

 

seungcheol: hehehe kamu yang minta juga

 

hani: iyasih

hani: yaudah aku cari2 hotelnya duluu

 

seungcheol: villa aja sayang

seungcheol: pantai

seungcheol: mau liat km pake bikini

 

hani: ih cabul

hani: sodok aku di pantai ya mas🥺

 

“Iya ya, udah berapa bulan dari terakhir kita liburan?” Jeonghan melirik ke arah kalender di meja kerjanya. Foto-foto saat ia masih berpacaran dengan Seungcheol ditempel di papan khusus memori itu. Tidak terlalu banyak yang disimpan di kantor, namun wajah Seungcheol banyak muncul di setiap foto di meja Jeonghan. “Butuh juga sih gue. Sehat-sehat deh badan cewek seksi,” gumamnya kepada diri sendiri dan melanjutkan pekerjaan nya.

 

Selama seminggu, Jeonghan dan Seungcheol merencanakan liburan bersama ketiga anak mereka. Untung saja, hari-hari yang diinginkan Seungcheol untuk liburan dipermudah karena bersamaan dengan hari libur sekolah anak-anaknya. Jeonghan menyaksikan Seungcheol berbelanja barang-barang untuk liburan mereka. Tentu ada perdebatan ringan antara keduanya saat menentukan barang apa saja yang harus dibawa; apa mereka harus membelinya atau pakai yang lama?

 

Saat hari libur juga, Rai dan Ren ikut menemani Seungcheol untuk memperbaiki mobil sebelum dibawa pergi liburan. Jeonghan menemani Sasa di rumah yang sibuk menggambar. Kini anak perempuan satu-satunya itu sedang mempelajari kegiatan melukis. Sampai di umur 6 tahun ini, Sasa masih belum memperlihatkan kemauan nya di bidang lain selain seni.

 

“Bunda,” panggil Sasa lembut dengan cat campuran merah, kuning, hijau di sela jari-jari kecilnya. Jeonghan bergumam pelan, mengusap bekas cairan yang jatuh agar tidak menyentuh lantai rumah mereka. “Kenapa, sayang?” jawab Jeonghan, “Bunda, aku juga mau punya abang Ren.” Permintaan Sasa membuat Jeonghan terdiam sejenak, “Kan, kamu udah punya abang Ren, sayang. Kok minta lagi?” Sasa terlihat berpikir keras, “Oh, bukan abang Ren maksudnya. Tapi… hmmm…” Jeonghan menahan tawa karena ekspresi yang diperlihatkan anaknya sekarang. “Kayak ayah sama om Hansol,” lanjut Sasa lagi, “Adek, Sasa mau punya adek.”

 

Tentu malamnya Jeonghan langsung memberitahu kabar tersebut kepada Seungcheol. Menahan rona merah di pipi saat Jeonghan melihat betapa bersinarnya pandangan Seungcheol mendengar berita tersebut.

 

“Aku mau tidur sama Sasa malem ini.”

 

“Ih, apaan sih. Tidur sama aku.”

 

“Mengenyampingkan keinginan anak bungsu kita,” Seungcheol menggenggam kedua tangan Jeonghan erat-erat, “Kamu emang beneran mau hamil lagi, sayang? Hamil kan bukan sesuatu yang mudah buat dijalanin. Kamu aja hamil pertama langsung anak kembar. Selang 4 tahun, ada Sasa juga. Jarak Sasa sama yang sekarang lebih panjang, tapi tetep, kamu yang jalanin masalahnya. Aku khawatir kamu ngerasa terpaksa.” Jeonghan bersandar ke dada Seungcheol di saat mereka berbaring di ranjang. Memeluk tubuh suaminya itu seraya memainkan ujung kaos yang dikenakan oleh Seungcheol, “Aku nggak apa-apa kok. Iya, hamil emang berat. Sakit juga, nggak gampang banget buat ngejalanin itu. Tapi aku punya kamu, mas. Keputusan ini juga termasuk kemauanku. Mungkin kalau misal anak keempat kita udah lahir, baru kita bisa istirahat. Tapi sebelum itu juga, aku mau ngandung anak lagi buat aku sendiri, buat kamu, sama anak-anak kita.”

 

Malam itu pun ditutup dengan Jeonghan dan Seungcheol kembali bercinta di atas ranjang. Merasakan kontol besar Seungcheol mendesak masuk ke dalam memeknya. Jeonghan menghembuskan napas panjang, mengusap pipi dan pundak sang suami pelan-pelan. Sebelum jemari lentiknya itu mencakar punggung Seungcheol saat hentakan kontolnya bergerak semakin kencang di dalam.

 

Pikiran Jeonghan sampai waktu liburan keluarganya tiba banyak dipenuhi oleh keinginan untuk mengandung anak lagi. Seungcheol memenuhi keinginan seksualnya setiap malam. Di atas ranjang, di dapur, di halaman belakang rumah, sampai di mobil suaminya. Bekas-bekas gigitan dan cengkram di kulit putih pucat Jeonghan dilukis indah oleh Seungcheol tanpa ada niat untuk menyembunyikan nya.

 

“Ah, ah, ah – mas, mas, mas. Enak – enak banget kontol mas,” tubuh Jeonghan bergerak naik-turun di pangkuan Seungcheol. Mereka masih berada di dalam mobil lelaki itu, bercinta di jok supir saat Seungcheol belum keluar dari tempat parkir gedung kantornya. Suara decitan mobil yang bergema seiring desahan keduanya terdengar bagai melodi di telinga masing-masing. “God, you’re so fucking pretty,” Seungcheol menelusupkan kedua tangan nya ke dalam rok ketat Jeonghan yang disingkap sampai paha, meremas bokongnya kuat-kuat dan membuat perempuan itu mendesah semakin panjang, “Gerak lagi, sayang. Sampe mas muncrat, ya? Kan mau hamil lagi. Kamu harus bikin muncrat berkali-kali hari ini sampe kamu buncit lagi.”

 

Jeonghan hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah. Membuka kedua kaki lebar-lebar di pangkuan Seungcheol sebelum menggerakkan tubuh naik-turun. Payudaranya terekspos bersamaan dengan kemeja kerja yang sudah dilepas semua kancingnya dan diturunkan oleh Seungcheol. Rambutnya berantakan, terlepas dari sanggul yang sudah ditata rapi setiap saat dan harus dibiarkan seperti itu karena Seungcheol juga.

 

Saat Seungcheol akhirnya memuncratkan peju kentalnya lagi untuk kesekian kalinya di hari ini, Jeonghan melenguh panjang. Tubuh bergetar akan sensasi hangat dan penuh di dalam rahimnya. Mengangkat tangan untuk mengusap perut dan merasakan pergerakan kontol Seungcheol di dalam sana. Pandangan Jeonghan semakin sayu, air liur membekas di pinggir mulut, dan lidah menjulur keluar seraya menatap sang suami di hadapan nya.

 

“Ah, ah… lagi, aku mau lagi, mas,” desah Jeonghan dengan akal sehat yang sudah tidak bisa ditemukan di kepalanya. Seungcheol menghembuskan napas kasar, kembali menghentakkan kontolnya di dalam rahim Jeonghan. Jeritan kencang pun menggema di dalam mobil itu. “Hahh! Ahh! Fuck –! Seungcheol, Seungcheol, Seungcheol,” Jeonghan menjerit dan membiarkan suaminya mengangkat kedua kaki seraya menyodok memeknya lebih kencang dari biasanya, “Ah, ah, ah! Ahhh! Seungcheol!”

 

Jeonghan merasa tubuhnya semakin lemas di dekapan Seungcheol saat puncak orgasmenya tercapai. Merasakan tetesan cairan orgasme mereka bercampur di dalam. Segala pergerakan yang dibuat oleh Seungcheol membuat Jeonghan mendesah. Sangat sensitif untuk disentuh dan hanya ingin dijamah oleh Choi Seungcheol seorang.

 

Memastikan untuk tetap memakai sabuk pengaman, Jeonghan terkulai lemas di jok penumpang. Rok ketatnya masih tersingkap dan mengusap bibir memeknya agar tidak ada sisa cairan yang menetes keluar mengotori kursi mobil milik sang suami. Jeonghan mengulum jemarinya dan merasakan peju Seungcheol di sela-sela jari lentik miliknya itu. Terkekeh kecil dan menoleh ke samping untuk menatap manja suaminya.

 

“Lagi ya mas nanti di rumah. Masih belum puas.”

 

“Iya, sayang. Nanti aku sodok sampe pingsan.”

 

“Mmmh… mau. Pake aja terus badan aku, mas. Aku mau hamil lagi pokoknya.”

 

Keseharian Jeonghan sebagai seorang istri dan ibu di waktu yang sama kini sudah kembali normal. Keinginan sehari-hari dan seksualnya dipenuhi bersamaan oleh Seungcheol. Suaminya yang selalu giat untuk memenuhi semua keinginan nya. Jeonghan bahkan lebih sering melihat Seungcheol mengerjakan pekerjaan rumah dibandingkan dirinya, walaupun ia belum mendapatkan hasil positif di beberapa testpack yang sudah dibelikan oleh sang suami.

 

Saat hari libur keluarga tiba, Jeonghan duduk di depan. Menemani Seungcheol dan memastikan agar suaminya tidak mengantuk di tengah perjalanan. Ketiga anak mereka sibuk bermain di belakang, namun ada kalanya mobil itu hening seketika di saat anak-anak SD tersebut tertidur pulas. Meninggalkan kedua orang tua mereka yang sibuk bermesraan dan sesekali berciuman tengah kemacetan jalan tol.

 

Sesampainya di villa, Seungcheol meminta izin untuk mengajak Rai dan Ren bermain di pantai. Sebelum itu, tentu saja sang kepala keluarga dan kedua anak-anak laki-lakinya harus membantu Jeonghan untuk membuka tiap koper yang berisi pakaian renang mereka. Walaupun Seungcheol hanya memakai celana saja dan membiarkan tubuh bagian atas terekspos di hadapan mata telanjang. Termasuk Jeonghan yang sudah berganti baju ke pakaian lebih kasual dibanding saat berangkat dari rumah sebelumnya.

 

“Ih, masa telanjang kamu main ke pantai,” gerutu Jeonghan saat mengusap sunblock ke punggung Seungcheol. Lelaki itu mendelik, “Ini nggak telanjang loh. Aku cuman nggak pake baju doang.” Jeonghan semakin mendengus kesal, telapak tangan nya mengusap lembut tato permanen di punggung suaminya itu. “Tapi orang-orang bisa liat badan suamiku yang keker ini. Pasti mereka sange liatnya,” lanjut Jeonghan dengan alasan-alasan anehnya, “Ya, nggak apa-apa sih kalo mereka sange. Mas cuman maunya ngentot sama aku doang. Nanti aku pake bikini yang gampang disodok deh sama kamu,” mendengar rentetan protes barusan membuat Seungcheol menggelengkan kepalanya, “Iya, sayang. Aku cuman mau ngentot sama kamu doang kok. Nggak peduli sama yang lain, aku cuman fokusnya sama kamu doang, Choi Jeonghan.”

 

Sebenarnya, agenda liburan ini lebih mementingkan waktu bersama ketiga anak mereka. Khususnya kedua anak kembar laki-laki mereka yang sudah lama ingin bermain lama-lama bersama ayahnya. Jeonghan menemani Sasa di vila sejenak, karena anak perempuan nya itu kelelahan sslama di perjalanan. Membiarkan Seungcheol bermain dengan Rai dan Ren di pantai.

 

Maka dari itu, Jeonghan memanfaatkan waktu untuk merapikan pakaian-pakaian yang akan dipakai oleh anggota keluarganya. Makanan dan minuman yang dibawa sebagai bekal ditempatkan di tempatnya. Jeonghan juga menyeduh teh dan ditumpahkan ke dalam teko, sebagian dibawa ke kamar untuk diminum oleh Sasa saat anaknya bangun nanti. Menghadap ke halaman belakang villa itu dengan suara aliran air mengalir ke kolam ikan, Jeonghan sudah lama tidak merasa setenang ini.

 

hani: [sent a photo]

hani: progress honeymoon😗

 

wonu: udah mau otw 4 dan gue masih pegging kim mingyu

 

hani: ya gapapa sih nuu namanya juga keputusan orang beda2

 

wonu: lo gapapa tapi mbak sama si mas?

 

hani: gapapaa aman ajaa

hani: cuman gws aja ini badan bakal dientot berapa ronde nanti😔

 

wonu: hmmm gue juga abis dientot min sih kmrn

 

hani: 😦😦😦😦😦

hani: berita apa ini kok aku gatau

 

wonu: ih ttp dom tp gue

wonu: cmn bkn pegging

wonu: idk keknya gue lagi capek banget aja kmrn and he looked sooo good obeying all of my orders

wonu: might as well just let him fucked me

 

hani: gimana?

 

wonu: ga gimana2

wonu: i love him

wonu: so much sampe rela kayak nurunin semuanya dan lupa dunia sebentar

wonu: i love him dearly sampe ga peduli mau dia yg nyodok atau gue bodoamattt yang penting gue balik ke rumah

wonu: balik ke dia

wonu: walopun abis berantem juga sih

 

hani: oh iya yg kemarin

hani: maaf aku ngentot trs jd gabisa ngasi kamar🥺

 

wonu: gapapaa emg dadakan aja kok gue meledak duluan terus pikiran gue ke minghao aja langsung

wonu: walopun panik soalnya ngga lama abis nangis2 junhui otw😅

wonu: arghh ga ketemu sih gue udah cabut duluan dan bener aja minghao diinterogasi

 

hani: tapi sekarang gimana?

 

wonu: aman amann

wonu: bulan dpn anniv 3 tahun dan kita bakal ngambil cuti buat ke eropa

wonu: try for babies i guess idk

wonu: mingyu yg hamil tapi

 

hani: kenapa sih demen banget sama mpreg

 

wonu: someone should in this economy

 

“Bunda,” suara Sasa memanggil Jeonghan dari kamar tidur. Jeonghan langsung memasukkan ponselnya kembali ke saku celana dan berjalan ke kamar, “Hai, sayang. Udah bangun? Udah enakan cantiknya bunda?” Sasa mengusap kedua matanya yang masih mengantuk itu. Membuka kedua tangan untuk meminta dipeluk oleh ibunya. Jeonghan ikut berbaring di ranjang dan memeluk anak perempuan nya erat-erat di dekapan, “Ayah mana?” pertanyaan pertama pun dilontarkan dari bibir anak berumur 6 tahun itu, “Ayah lagi di pantai main sama abang-abang kamu, sayang. Mau nyusul? Tapi kamu harus ganti baju dulu sekalian minum teh, ya. Nanti kita ke sana bareng-bareng. Bunda juga mau ganti baju dulu.”

 

Sasa hanya menganggukkan kepala, menuruti perintah sang ibu. Jeonghan saking gemasnya sampai mencubit kedua pipi tembam anaknya sendiri yang turun langsung dari DNA Seungcheol. Bulu mata lentik Sasa menurun dari mereka berdua bersamaan. Bahkan jika dinilai dari perspektif Jeonghan, ketiga anaknya lebih mirip kepada Seungcheol daripada dirinya.

 

Setelah dua perempuan di keluarga itu berganti pakaian, Jeonghan berjalan menuju di mana pantai itu berada. Tidak terlalu jauh dari di mana villa mereka. Bergandengan tangan bersama Sasa, Jeonghan juga menyapa beberapa karyawan yang dilewati olehnya. Menutupi bikini yang dikenakan dengan gaun tipis dan tas berisi makanan maupun minuman untuk suami dan kedua anak kembarnya.

 

Sesampainya di pantai, Jeonghan langsung menemukan pemandangan Seungcheol sedang bermain dengan pengunjung lain nya. Jeonghan menghembuskan napas pasrah, situasi yang sangat familiar dan sudah terjadi berkali-kali setiap mereka pergi berlibur. Jika Seungcheol sudah bertemu orang lain yang sefrekuensi, ia akan pulang membawa beberapa kartu nama ke tempat penginapan. Obrolan perihal pekerjaan tidak bisa dihindari oleh Jeonghan saat mereka sedang mengambil cuti kerja sekalipun.

 

Sasa bertepuk tangan saat Seungcheol berhasil menambahkan skor untuk timnya. Rai dan Ren yang berdiri di pinggir lapangan pasir itu juga ikut berseru. Memastikan mereka tidak terkena pantulan bola yang tidak bisa diprediksi akan terlempar ke mana arahnya. Ren berdiri di belakang Rai yang terus-menerus mengikuti dan memprediksi ke mana arah bola akan terjatuh di luar garis lapangan.

 

“Bunda nggak ikut main?” tanya Sasa saat Jeonghan sudah melepas gaun nya dan membentangkan alas untuk duduk di atas pasir. Jeonghan mengangkat sebelah alisnya kebingungan, “Kenapa bunda harus ikut? Ayah kamu udah lebih jago.” Sasa mengerucutkan bibirnya, menghisap minuman jelly yang baru saja dibelikan oleh Jeonghan. “Tapi ayah kan selalu kalah kalo maen di rumah sama bunda. Apa bunda dilarang main sama ayah kalo ada ayah-ayah orang lain?” Kedua mata Sasa pun memicing dan Jeonghan hanya bisa tertawa lepas mendengar pertanyaan tersebut, “Nggak, sayang. Bunda emang mau tiduran aja di sini nemenin kamu. Kalo bunda main, siapa emang yang bakal main sama Sasa?” Sasa terdiam sejenak, baru sadar akan apa yang ia katakan kepada ibunya, “Bener juga. Yaudah kita ngegambar aja bunda.”

 

Tentu saja Jeonghan tidak bisa menolak ajakan tersebut. Dia juga tidak ingin sia-sia membawa alas duduk dan peralatan menggambar Sasa dari tempat penginapan ke pantai. Hal minimum yang bisa dikerjakan Jeonghan sekarang adalah untuk ikut menggambar. Entah menggambar apa, asal ia juga ikut senang bisa berbagi hobi dengan anaknya sendiri.

 

Di tengah agenda menggambar, Rai dan Ren berlari menuju di mana bunda mereka berteduh. Rai berbaring di alas duduk itu dan membuat Sasa menjerit kesal, sedangkan Ren meminta minum karena ia kehausan. Terjadi perseteruan antara kedua kakak-beradik yang diekspektasikan oleh Jeonghan. Selama perjalanan tadi, kondisi isi mobil terasa lebih hening dari biasanya.

 

“Ih, abang! Jadi kecoret gambar Sasa!”

 

“Yaudah maaf. Abang capek.”

 

“Abang jelek!”

 

Jeonghan hampir tersedak mendengar kalimat itu keluar dari mulut anak perempuan nya. “Eh, eh, siapa ini tiba-tiba bilang jelek-jelek,” Seungcheol mengusap lehernya yang penuh keringat, “Kenapa ini? Kok tiba-tiba Sasa bilang begitu.” Sasa mendengus kesal, “Gambar Sasa jadi kecoret, ayah. Abang nih dateng-dateng kayak binatang gerudukan.” Jeonghan menutup mulutnya menggunakan telapak tangan, menahan tertawa setelah mendengar protesan dari Sasa. “Nggak boleh ngomong begitu juga, sayang. Rai, kamu udah minta maaf?” Rai mengerucutkan bibir dan menggelengkan kepalanya, “Minta maaf dulu ke adek kamu, bang. Sasa, kamu juga minta maaf udah bilang kayak gitu. Kamu juga harus bilang permisi dulu, ini baru gambar Sasa yang kecoret, kalo kamu nabrak bunda tiba-tiba terus bunda berdarah mukanya gimana?” Anak sulungnya itu semakin mengernyitkan dahi, namun setidaknya dia juga merasa kalau dirinya bersalah, “Maaf, Sasa. Aku kecapean aja tadi diajak main terus sama ayah. Maaf bunda, maaf ayah. Aku nggak minta maaf sama Ren.”

 

Ekspresi Ren yang sibuk menyeruput minuman jelly di genggaman nya kembali membuat Jeonghan tertawa lepas. Seungcheol menggelengkan kepala, mengusap kepala ketiga anaknya. Tidak ada kalimat yang pas untuk mengekspresikan kekagumannya terhadap anak-anaknya sendiri. Terkadang mereka memang berpikir lebih unik dari dua orang dewasa tinggal di bawah atap yang sama.

 

Sampai matahari terbenam di ufuk barat, keluarga kecil itu meneduh di bawah pohon. Jeonghan sempat membelikan beberapa es kelapa yang asli dari buahnya untuk suami dan anak-anaknya. Seungcheol juga mengajak Sasa untuk berenang di air, walaupun awalnya anak perempuan nya itu menolak keras. Sudah terlalu sibuk dengan kegiatan menggambarnya.

 

“Ayah pegangin serius. Mau sama abang-abang? Ren, kamu mau nemenin Sasa berenang?” Ren yang kepalanya berbaring di paha Jeonghan pun menolak. Seungcheol menatap anaknya sendiri dengan ekspresi datar. “Heh, Seungcheol. Kamu lagi nggak ngomong sama temen ya,” ujar Jeonghan sembari melempar serpihan pasir ke wajah suaminya sendiri. Lelaki itu hanya menghembuskan napas pasrah, “Ayolah, Sasa. Masa ke pantai cuman buat ngegambar doang? Nanti ayah beliin hadiah deh,” Sasa langsung melepas genggaman nya terhadap krayon warna-warni itu, “Ayo ayah, kita berenang.”

 

Kalau kata kerabat-kerabat mereka, buah jatuh sampai sepohon-pohon nya. Alias Seungcheol sudah sering menghadapi sifat Sasa seperti ini dengan Jeonghan selama mereka berpacaran. Seungcheol menolehkan kepala ke belakang untuk menatap datar Jeonghan, sedangkan tangan kirinya ditarik oleh Sasa sampai mereka menyentuh perbatasan antara air dan dataran. Jeonghan hanya bisa tertawa keras, melambaikan tangan ke arah Seungcheol yang harus menuruti segala permintaan anak perempuan nya beberapa hari ke depan.

 

Selepas sore selesai dan bintang mulai mendekorasi langit, keluarga itu pun beranjak kembali ke tempat penginapan. Seungcheol memastikan istri dan anak-anaknya untuk beristirahat sejenak. Memakai kaos polos dan celana pendek biasa, Seungcheol meminta izin untuk membeli makan malam dan makanan ringan lain nya keluar. Jeonghan membiarkan Rai dan Ren mandi duluan dan Sasa masih menggambar di halaman belakang villa.

 

“Kamu ada nitip apa, sayang?” tanya Seungcheol seraya mengusap pinggang istrinya. Jeonghan bergumam sejenak, memijat tengkuk sang suami pelan-pelan. “Alkohol,” jawabnya, “Tapi nggak mau mabok banget sih. Kan, mau ngentot nanti.” Seungcheol tertawa, mengeryitkan hidung dan membiarkan Jeonghan mengecup bibirnya sekilas, “Yaudah, nanti aku tinggal kirim foto-foto barangnya aja. Kamu tinggal pilih ya, sayangnya mas.”

 

“Aku sayang banget sama kamu, Seungcheol.”

 

“Aku juga, sayang. Aku sayang banget sama kamu, Jeonghan.”

 

Terlalu mendramatisir keadaan dengan kenyataan bahwa Seungcheol hanya izin pergi keluar untuk membeli makan malam. Tapi apa boleh buat, tidak ada kesempatan lain bagi Jeonghan untuk meromantisasi semua hal jika bukan bersama Seungcheol. Toh, tidak ada yang rugi juga. Nggak tahu gimana perasaan kalian.

 

Selama menunggu kepulangan Seungcheol, Jeonghan pun mengurus anak-anaknya. Memastikan mereka dan dirinya juga untuk membersihkan badan secara menyeluruh. Saat mereka menunggu ayahnya kembali, Jeonghan menyeduh teh dan menyiapkan sisa makanan ringan di meja ruang TV. Memilih kanal yang menayangkan film semua umur agar mereka tidak terlalu bosan.

 

Makan malam mereka berlangsung sampai pukul 9 malam. Walaupun awalnya Rai dan Ren menolak untuk tidur cepat karena sedang libur, namun Seungcheol menjelaskan bahwa tubuh mereka membutuhkan istirahat lebih cukup karena agenda esok hari akan lebih padat dari hari ini. Karena penjelasan dari ayah mereka cukup masuk akal untuk diterima, ketiga anaknya itu pun masing-masing berbaring di ranjang. Sasa sudah tertidur pulas dan kedua anak kembar itu masih sibuk bercerita perihal apa yang terjadi di sekolah.

 

Jeonghan hanya memakai gaun satin yang tidak menutupi kedua pahanya sama sekali. Celana dalam berenda itu dikenakan untuk mempermudah akses Seungcheol sesuai keinginan nya. Jeonghan memutar tubuh di hadapan kaca, memastikan dirinya sudah cantik untuk malam ini. Sebelum menutup kamar tidur, Jeonghan mengecup kening Sasa yang sedang tertidur di ranjang.

 

“Mas,” panggil Jeonghan dari dalam villa. Seungcheol sedang berenang lagi di kolam renang pribadi di halaman belakang. “Ya?” Seungcheol mengusap wajahnya sejenak sebelum menatap ke arah Jeonghan yang kini bersandar di pintu bergeser menuju halaman belakang itu, “Ya Tuhan, cantiknya istri gue.” Jeonghan mengerutkan dahi, memutar matanya malas walaupun telinganya sudah merah padam, “Apa sih gombal banget. Kamu mau aku bikinin kopi nggak, sayang?” Seungcheol bersandar di pinggir kolam dan Jeonghan otomatis berjongkok di samping suaminya itu, “Hmmmm. Mau sih, tapi aku boleh makan memek kamu dulu nggak?”

 

“Ih, sangean.”

 

“Eh, aku seharian cuman minum susu nenen kamu ya dibekelin di botol.”

 

“Kemarin malem udah 5 ronde, Seungcheol.”

 

“Nggak cukup. Aku tau kamu juga ngerasa kurang.”

 

Seungcheol sama sekali tidak berbohong dengan pernyataan nya itu. Jeonghan merasa gelisah semenjak mereka berangkat dari rumah. Tubuhnya terasa lebih kosong dari biasanya. Kalau mereka sedang berlibur biasa di rumah, Jeonghan bahkan sampai jarang keluar kamar dan hanya menerima sodokan kontok Seungcheol saja seharian.

 

Jeonghan memposisikan dirinya duduk di pinggir kolam. Menarik ujung gaun satin itu dan mengenyampingkan celana dalam berwarna merah muda yang dikenakan. Menyuguhkan bibir memek dan selangkangan nya. Merinding sekujur tubuh merasakan tatapan intens yang diberikan Seungcheol sebelum ia bergerak mendekat dan menghembuskan napas pelan di selangkangan sang istri.

 

“Oh –” tenggorokan Jeonghan terasa dicekik saat jilatan pertama dirasakan di memeknya. Seungcheol mengulum itilnya pelan, mengusap tungkai kaki Jeonghan agar diletakkan di pundaknya. Jeonghan menyisir helai rambut Seungcheol pelan-pelan, menurunkan tali gaun itu sampai memperlihatkan payudara besarnya. “Makan yang rakus, mas. Sampe habis, ya? Sampe aku nggak ada sisanya dimakan sama suamiku,” bisik Jeonghan sebelum mendesah lagi bersamaan dengan lidah Seungcheol mulai mendesak masuk ke dalam liang memeknya, “Hnnn… Seungcheol, Seungcheol, Seungcheol. Fuck, enak banget lidah kamu, mas.”

 

Suara kecipak mendeskripsikan saking nikmatnya Seungcheol yang sedang melahap memek Jeonghan dengan rakus. Bersamaan dengan aliran air kolam yang menyertai malam mereka, Jeonghan menengadahkan kepalanya ke belakang. Menahan diri agar desahan nya tidak terlalu berisik sampai mengganggu tidur ketiga anaknya. Jeonghan hampir menjerit, membungkam mulutnya sendiri saat merasakan jari-jari Seungcheol juga ikut masuk ke dalam memek.

 

Geraman-geraman pelan menyertai malam hari itu. Jeonghan menitikkan air mata, membiarkan tubuhnya semakin ditarik dan dilahap dengan rakus oleh sang tuan. Seungcheol menyeka air liur di dagu, menyodok tiga jari itu di dalam memek Jeonghan. Membuat sang puan semakin kesusahan untuk menahan jeritan.

 

“Ah, ah, ah –! Seungcheol –!” Jeonghan melenguh keras, menjambak helai rambut Seungcheol seraya mendorong kepala lelaki itu semakin ditenggelamkan di antara kedua kakinya. Tubuh sang puan bergetar pelan, merasakan puncak orgasmenya hampir tercapai. Hisapan Seungcheol semakin rakus, gerakan jari-jemarinya terkubur dalam-dalam menumbuk titik kenikmatan milik Jeonghan. “Ah! Hhahh! Seungcheol!” Jeonghan pun memuncratkan cairan orgasmenya dan membasahi wajah Seungcheol, deru napas tersengal-sengal menemani suara aliran air kolam dan bintang-bintang yang memancarkan cahaya mereka di langit.

 

“Fuck, Jeonghan. Kamu enak banget.”

 

“Hnnn… lemes, lemes banget, mas.”

 

“Kita belum selesai, sayang. Aku belum nyodok sama nenen ke kamu.”

 

Pandangan Jeonghan sudah terlihat sayu. Lenguhan kecil lolos dari mulut saat Seungcheol masih menjilat sisa-sisa cairan orgasme di memeknya. Terkesiap sedikit saat ia menampar memek istrinya sendiri. Membuat Jeonghan mengerang pelan, membiarkan Seungcheol menggendong tubuhnya sebelum dibaringkan di sofa dekat kolam renang villa itu.

 

Kedua bibir mereka berciuman lembut nan sensual di sofa. Melempar celana dalam dan celana renang yang sudah terletak di lantai keramik, dilupakan oleh sang empu tubuh. Jeonghan mendesah seraya menggesekkan memeknya ke kontol besar Seungcheol. Meremas payudaranya kuat-kuat untuk memberikan cairan susu segar ke tenggorokan suaminya itu.

 

Jeonghan memijat tengkuk Seungcheol di saat lelaki itu dengan nikmat menghisap kedua payudaranya bergantian. Mendesah pelan saat menyaksikan cairan susunya menetes keluar dari pentil tegang nan basah itu. Hisapan-demi hisapan membuatnya semakin mengeluarkan cairan orgasme dari memek. Menetes ke lantai keramik halaman belakang dan membasahi pangkuan Seungcheol sekaligus sofa yang mereka duduki bersama.

 

“Hani, sayang,” Seungcheol menyeka sisa air susu Jeonghan di sekitar mulutnya, “Kamu enak banget. Sumpah, aku kenyang nyusu ke kamu.” Jeonghan tertawa kecil, memposisikan tubuhnya untuk diturunkan pelan-pelan dan melahap kontol besar Seungcheol di bawahnya. “Ah, ah… susu aku cuman buat kamu, mas. Makin gede padahal Sasa udah 6 tahu. Siapa coba yang selalu nyusu ke aku padahal umurnya udah bukan anak kecil lagi?” Seungcheol mendesah pelan, meremas sandaran sofa itu saat kontolnya mulai diremas dan merasakan betapa sempitnya dinding memek Jeonghan, “Hahh… fuck. Cuman nyusu ke kamu doang, sayang. Susu kamu enak banget. Bikin aku kenyang, aku mau nenen terus ke toket kamu.” Jeonghan menganggukkan kepala, merasa tubuhnya kembali penuh dengan kontol Seungcheol terkubur di dalam tubuhnya, “Nyusu, sayang. Hahh… nyusu terus di toket aku. Fuck, fuck, fuck – Seungcheol, kontol kamu gede banget.”

 

Perempuan itu perlahan menggerakkan tubuhnya naik-turun. Membiarkan Seungcheol mengambil banyak waktu untuk menyusu ke kedua payudaranya. Terasa lengket dengan bekas cairan susu yang membasahi tubuhnya, namun Jeonghan tidak mengambil pusing. Dia sendiri sedang berada di langit ketujuh merasakan kontol Seungcheol bertumbuk di dalam rahimnya.

 

Rongga mulut terbuka sedikit hanya untuk mendesah nama sang suami. Jeonghan menggulingkan matanya ke belakang, mempercepat gerakan pinggang demi membawa kontol Seungcheol semakin dalam di memeknya. Kedua tangan lelaki itu melingkar erat di pinggang ramping sang istri. Saat menyodok kencang rahim Jeonghan, perempuan di pangkuan nya hampir terjatuh saking kencangnya.

 

“Hahh! Ahh!” Jeonghan mendesah, mencengkram kedua pundak Seungcheol kuat-kuat. Ringisan pun lolos dari bilah bibir Seungcheol saat merasakan kuku-kuku panjang Jeonghan mulai mencakar kulitnya. Meninggalkan bekas yang tidak bisa disembunyikan oleh merk rias wajah manapun. “Lagi, lagi, lagi – lebih kenceng! Ahh! Mas, mas, mas! Mentok –” Jeonghan kewalahan, kontol Seungcheol semakin kencang dan membesar di dalam memeknya, “Mmmh! Anjing, anjing – Seungcheol, gede banget. Sumpah, sumpah – nggak muat! Fuck! Fuck! Nggak muat! Mas, mas, maaf –”

 

“Kenapa? Kamu mau nyerah gitu aja?”

 

“Hhann! Nggak kuat! Kegedean, gede – gede, fuck, Seungcheol. Seungcheol, Seungcheol, Seungcheol.”

 

Jeonghan perlahan kehilangan akal sehatnya. Tubuh ikut bergerak dengan irama yang ditentukan oleh lelaki itu. Jeonghan tidak mempunyai kontrol terhadap tubuhnya sendiri. Sepenuhnya dimiliki oleh Choi Seungcheol seorang.

 

Tidak butuh waktu lama bagi Jeonghan untuk kembali memuncratkan cairan orgasmenya. Bercampur dengan air mani yang menetes keluar membasahi sofa dan lantai keramik itu. Dada Jeonghan bergerak naik-turun, napas tersengal-sengal. Namun kondisinya tidak membuat Seungcheol memperlambat pergerakan nya; hal sebaliknya yang terjadi, Seungcheol mempercepat sodokan nya di dalam memek Jeonghan.

 

“Mas, mas, mas –” Jeonghan memeluk erat leher Seungcheol, air liur berjatuhan dari dagu ke pundak sang tuan, “Mas, mas – sodok terus. Aku – ahh… aku mau hamil lagi. Hamilin aku, mas. Hamilin istri kamu lagi.” Geraman pelan dari dalam tubuh Seungcheol merupakan melodi bagi telinga Jeonghan. Cengkraman kuat di pinggang yang akan meninggalkan bekas kemerahan di esok hari membuat Jeonghan mendesah kencang di bawah sinar rembulan. “Kamu mau aku hamilin lagi, sayang? Mau jadi bunda anak-anak aku lagi?” Jeonghan menganggukkan kepala berkali-kali, melebarkan kedua kaki dan merasakan gerakan kontol Seungcheol semakin berantakan menyodok memeknya, “Mau, mau, mau! Mau – hnn! Mau hamil anak kamu lagi. Please, please, please, breed me, breed me, breed me. Ahh! Hhahh!”

 

Peluh membasahi kedua tubuh telanjang orang dewasa yang bercinta di halaman belakang tempat penginapan itu. Tidak lama setelah Jeonghan mengerang permintaan nya, cairan peju kental milik sang tuan kembali memenuhi rahimnya. Seperti sebagaimana tujuan Jeonghan dilahirkan ke bumi. Ia lahir hanya untuk menjadi istri Choi Seungcheol.

 

Deru napas mereka menggema di halaman belakang villa yang ditempati. Suara dengkuran halus ketiga anak mereka terdengar damai di kamar masing-masing. Menghiraukan orang tua mereka sehabis bercinta tanpa mengetahui waktu dan tempat seperti biasanya. Jeonghan menggesekkan hidungnya ke hidung Seungcheol, mengusap tengkuk leher sang tuan seraya mencium lembut bibirnya.

 

“Kamu bakal hamil beneran kayaknya nanti,” bisik Seungcheol mengusap punggung dan pinggang istrinya lembut. Jeonghan hanya bisa tertawa kecil, “Kamu udah ngentotin aku terus-terusan. Aku bakal hamil abis ini dan nggak bakal protes juga ke kamu. Tapi kamu harus nemenin aku ya kalo hamil lagi.” Mencubit pipi Seungcheol dengan penuh kegemasan, lelaki itu mendengus pelan seraya menatap mata Jeonghan lekat-lekat. “Kapan aku ninggalin kamu, sih? Jangan jawab pertanyaan itu, iya, aku pernah secara nggak sadar,” Jeonghan memutar matanya malas, “Kamu istri aku, Jeonghan. Aku bakal prioritasin kamu di atas apapun di hidup aku. Hidup kamu lebih penting dari eksistensi aku.”

 

Jeonghan sendiri tidak ingin Seungcheol berpikiran seperti itu. Karena fakta di lapangan, hidupnya juga lebih penting dari eksistensi Jeonghan sendiri. Lebih tepatnya mereka memang membutuhkan satu sama lain. Maka dari itu, Jeonghan tidak menginginkan orang lain selain Seungcheol sampai kapanpun.

 

Jika ia dilahirkan kembali, Jeonghan akan tetap mencari cara untuk menemui Seungcheol di kehidupan lain.

 

Jeonghan dan Seungcheol menutup malam mereka dengan ronde kedua sebelum berbaring di ranjang bersama Sasa yang masih tertidur pulas. Agenda liburan keluarga mereka berlangsung mulus dengan argumen-argumen biasa yang kerap terjadi setiap saat. Di hari terakhir, Jeonghan memutuskan untuk membeli testpack lagi dan membuat Seungcheol menunggu di luar kamar mandi. Saat dua garis biru itu muncul, Jeonghan menghembuskan napas lega.

Notes:

di sini kira2 ada yg mau komis seoksoo di universe bunga raya ngga (open bidding)

 

twitter
tellonym

Series this work belongs to: