Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 4 of Every Place, Every Kiss
Stats:
Published:
2024-11-19
Words:
367
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
30
Hits:
504

tennis court

Summary:

nonton ayang latihan tenis.

Notes:

100% fictional

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Ohm bersandar di pagar lapangan tenis dengan kedua tangan terlipat di atas dada, dia mengamati Leng yang sedang fokus mengayunkan raket di tengah lapangan dan belum menyadari kehadirannya. Mata Ohm mengikuti setiap servis dan ayunan raket kekasihnya, senyuman bangga tersungging di wajahnya. Ada sesuatu yang luar biasa saat melihat Leng dalam dunianya sendiri, dia kelihatan fokus dan penuh tekad, dan Ohm tidak bisa menahan rasa kagum melihat Leng yang serius menekuni hobinya.

 

Setelah beberapa lama, Leng akhirnya menoleh dan melihat Ohm berdiri di pinggir lapangan, senyuman lebar yang lebih cerah dari matahari itu muncul di wajahnya saat dia melambaikan tangan pada Ohm. Leng terlihat berbicara sebentar dengan pelatihnya untuk meminta jeda, dia lalu berlari menghampiri Ohm dengan raket di tangan, keringat di dahi, rambut sedikit acak-acakan, dan pipi memerah.

 

Hey, superstar,” sapa Ohm, dia menyeringai tipis saat Leng tiba di hadapannya dengan dada naik turun karena kelelahan.

 

Leng tak kuasa menahan senyum. “Gak nyangka kamu beneran nyusul ke sini, yang.”

 

“Aku mau liat kamu,” jawab Ohm, suaranya melembut saat tangannya menarik pinggul Leng merapat padanya. “Pacar aku jago banget di lapangan.”

 

Leng tak membalas apa pun selain membuang raketnya ke tanah dan memangkas jarak di antara mereka dengan mencondongkan tubuhnya, tangannya menarik kerah baju Ohm mendekat, lalu mencium bibirnya. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang panas dan penuh gairah. Tangan Ohm terangkat untuk memeluk bagian belakang kepala Leng dan sedikit menarik rambutnya saat ciuman itu semakin dalam.

 

Sementara tangan Leng kini meremas kerah baju Ohm yang dua kancing teratasnya sudah terbuka. Jantungnya berdebar cepat karena latihan tenis barusan dan sesi ciuman panas ini, tubuhnya menempel erat di tubuh Ohm. Ketika ciuman itu berakhir dan mereka akhirnya mundur, keduanya sama-sama terengah, pipi Leng semakin merah.

 

“Kalau kamu nontonin aku gini aku jadi gak fokus,” bisiknya manja, tetapi Leng juga tidak bergerak untuk menjauh.

 

“Wah, jadi gak sabar liatin kamu terus tiap lagi main tenis,” goda Ohm sambil mengecup pipi Leng beberapa kali. “Besok aku dateng lagi kali, ya?”


Leng tertawa, dia menyikut rusuk Ohm dengan jenaka, tetapi tetap menempel erat. “Mending gak usah deh, yang. Aku baru liat kamu di pinggir lapangan gak ada semenit aja langsung minta break ke coach buat ciuman, gimana aku mau fokus latihan?”

 

Notes:

thank you for reading. comments and kudos are appreciated!

Series this work belongs to: