Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 3 of Every Place, Every Kiss
Stats:
Published:
2024-11-09
Words:
636
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
34
Hits:
809

passenger seat

Summary:

nganterin ayang pulang naik si oren abis malmingan.

Notes:

100% fictional

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Mereka baru pulang setelah menghabiskan malam mingguan bersama. Mobil oranye konvertibel Ohm yang atapnya sudah tertutup berhenti di pelataran parkir gedung apartemen Leng saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Ketika Leng membuka sabuk pengaman dan meraih gagang pintu untuk keluar, Ohm tiba-tiba menahan pergelangan tangannya.

 

“Bentar, yang,” kata Ohm, matanya berkilat jahil. “Tukeran bangku sama aku.”

 

Leng mengerutkan kening. “Kamu mau aku nyetir? Emang kita mau ke mana lagi?” Biasanya Ohm tidak pernah membiarkan Leng menyetir jika pakai mobilnya, kecuali Leng pakai mobilnya sendiri.

 

Ohm hanya tersenyum sambil mengedikkan bahu tanpa memberi penjelasan apa pun. “Udah, nurut aja sama aku.”

 

Walau masih kebingungan, Leng akhirnya keluar juga dan berputar ke arah pintu pengemudi, sementara Ohm bergeser ke kursi penumpang sambil menyeringai puas. Begitu Leng duduk di kursi sopir, dia melirik ke arah Ohm dan mendapati kekasihnya sedang mengawasinya dengan tatapan yang membuat denyut nadinya berdebar cepat.

 

“Kamu mau aku nyetir ke m—”

 

Ucapannya terpotong, Ohm sudah lebih dulu menarik tengkuknya mendekat dan mencium bibirnya tanpa aba-aba. Ciuman itu panas, penuh gairah dan hasrat yang ditahan-tahan karena selama kencan barusan di restoran mereka tidak bisa banyak bermesraan. Leng meleleh dalam ciuman itu, hingga dia tidak sadar Ohm menarik tubuhnya semakin dekat sampai Leng kini bertengger di pangkuannya, lulut Leng mengangkangi Ohm di bangku penumpang yang lebih lega dan nyaman. Pipi Leng memerah saat akhirnya menyadari posisinya, dia menyeimbangkan diri dengan tangan bertumpu di bahu Ohm.

 

“Sayang…” gumamnya dengan napas terengah-engah. “Kamu nyuruh aku tukeran bangku buat ini?”

 

“Dari tadi pengen cium kamu di restoran, tapi baru mau pegang tangan kamu aja aku dipelototin mulu sama ibu-ibu yang bawa anak kecil di meja depan kita,” jawab Ohm geli, tangannya meluncur ke pinggang Leng untuk menariknya lebih dekat lagi. “Kamu sih yang ngusulin ke restoran itu, coba kita kelab yang baru buka kayak usulku, gak akan ada yang peduli di sana aku mau gerayangin kamu semalaman juga.” Suara Ohm kedengaran merajuk.

 

Leng tertawa pelan, jari-jarinya bermain di kerah kemeja Ohm. “Aku penasaran pengen coba menu vegan di sana yang review -nya bagus, mana aku tahu kalau yang dateng kebanyakan keluarga bawa kakek-nenek sampai anak-anak.” Leng menikmati makan malam sehatnya, tetapi kekasihnya tampaknya dongkol karena tidak bisa menjadikannya ‘makan malam’. “Lagian, kamu emang gak bisa tahan gak cium aku buat beberapa jam aja?” 

 

“Mmm, gak bisa,” gumam Ohm manja, dia mencium Leng lagi seolah kelaparan, kali ini lebih dalam, tangannya bergerak naik untuk menangkup tengkuk Leng, memeluknya erat. Kehangatan mulut Ohm dan tekanan bibirnya membuat Leng meleleh, jari-jarinya mencengkeram rambut Ohm saat ciuman itu semakin intens.

 

Tangan Ohm menelusup masuk ke dalam kemeja putih Leng, memberi usapan di kulit punggung kekasihnya, sementara bibir mereka bertemu lagi dan lagi, setiap ciuman lebih dalam dari yang terakhir. Leng yang berada di pangkuan Ohm bisa merasakan tonjolan keras dari balik celana kekasihnya, serupa dengan miliknya. Tidak tahan dengan rangsangan yang diberikan, dia pun mulai tidak sabar, tangannya membuka satu kancing teratas kemeja Ohm, lalu kancing selanjutnya, dan selanjutnya hingga tangannya bisa meraba dada bidang Ohm lebih leluasa, merasakan kehangatan kulit kekasihnya.

 

Ohm terkekeh melihat kebiasaan Leng yang tidak sabaran, dia sedikit menarik diri dan menatap Leng geli.

 

“Udah horny banget kamu, yang?” Ohm menggoda sambil menyeringai.

 

Pipi Leng memerah karena malu, jari-jarinya masih berada di kemeja Ohm yang setengah terbuka. “Tanggung jawab, kamu yang mulai duluan, kan aku jadi pengen…” gumamnya merajuk. Untungnya atap mobil dalam kondisi tertutup hingga tidak akan ada yang mengintip kegiatan panas mereka.

 

Ohm tersenyum, dia dengan mudah menanggalkan kemejanya yang sudah dicopoti semua kancingnya oleh Leng, lalu melemparnya asal ke bawah. “Aku dengan senang hati tanggung jawab buat muasin pacarku yang lagi horny,” bisiknya sambil menempelkan ciuman yang lama di sudut mulut Leng, tangannya juga mulai melepaskan kancing-kancing kemeja kekasihnya selagi ciumannya turun ke leher.

 

Erangan dan desahan mereka menyatu dalam keheningan malam selagi mobil oranye itu bergoyang-goyang.

Notes:

thank you for reading. comments and kudos are appreciated!

Series this work belongs to: