Actions

Work Header

Bulan Merah

Summary:

Osamu tidak masuk sekolah hari ini, sebagai teman yang baik, Suna menjenguknya. /GL, fxf, fem!Sunaxfem!Osamu, incest dikit di akhir/

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Hari itu Osamu memutuskan untuk tidak masuk ke sekolah sama sekali. Lantaran perutnya yang seperti ditempa beban sepuluh kilogram, dan rasa tidak nyaman yang menjalar hingga ke punggung dan pahanya. Pun, kepalanya juga ikut-ikutan nyut-nyutan. Sehingga saat berbaring sekalipun, rasanya seluruh isi kamarnya juga turut berputar.

Adalah Atsumu, saudara kembarnya yang maharibut dan maharibet, yang berinisiatif untuk menggedor pintu kamarnya. Membuatnya kaget bukan main meskipun jarum jam di atas mejanya masih menunjuk ke angka tujuh. 

“Bangun, Samu! Ayo ke sekolah!” teriak kembaran jametnya tanpa merasa berdosa. Dia lantas menaikkan alis saat melihat Osamu sama sekali tidak beranjak dari tempat tidur sekalipun dia sudah membuat sensasi seakan rumah mereka dilalap api.

Osamu dalam lamatnya yang berjuang melawan panas, menggerung lemas. “Berisik, Tsumu, perutku sakit…” gumamnya seperti kucing di dalam kardus jeruk. 

Saat itulah Atsumu sebagai saudara kembar yang baik, memutuskan untuk berteriak sekali lagi. Kali ini kepada ibu mereka tercinta. “Buuu! Samu sakit ngga masuk sekolah!”

Ingin sekali Miya adik mendorong kakak kembarnya keluar, tapi pahanya terasa seperti disengat. Jadi dia cuma menampakkan muka paling tidak nyaman seumur hidupnya sebelum mengusir Atsumu. “Keluar sanah, aku mau tidur!”

Begitulah, Osamu diberikan heating pad, cemilan, air dan obat-obatan yang cukup oleh ibunya. Atsumu sudah pergi ke sekolah duluan karena dia ada jadwal latihan voli, dan dia tidak berminat dipelototi Kita san pagi-pagi.

Awalnya Osamu merasa tidak nyaman memakai heating pad di perutnya, berburuk sangka benda itu akan terlalu panas untuknya. Tetapi ibunya memaksa, dan begitu dia mengenakannya, Osamu bersumpah untuk membungkuk berterima kasih pada siapa pun yang telah menciptakannya.

Benda itu cukup hanya ditempel di pakaiannya, sungguh ajaib dengan panas yang pas. Tidak kurang, tapi juga tidak terlalu panas yang berakhir membuat perutnya kesakitan. Nyaman dipakai dan gampang dilepas kalau panasnya sudah berkurang. 

Osamu terlalu lelah untuk duduk dan berjalan menuju toilet. Dia punya persediaan pembalut di sana. Hanya saja toilet itu berada di ujung lorong dan dia harus melewati kamar Atsumu sebelum bisa menuju ke sana.

Maka bungsu keluarga Miya mengambil ponselnya, mencari aplikasi LINE dan menemukan nama Suna.

Rin, beliin pembalut dong.

Entah kebetulan saja sedang istirahat siang, atau memang Suna Rin sedang gabut saja sehingga balasan pesannya sampai tak kurang dari sepuluh detik kemudian.

Mau yang tipe apa?

Yang celana.

Atsumu?

Mana paham dia, yang ada nanti dia beliin popok buat nenek-nenek.

Osamu bisa membayangkan Suna tertawa di depan ponselnya. Suna tidak segera membalas, tapi mengirim voice chat sederhana dengan “oke” sebagai balasan singkat. Remaja tanggung itu melihat layar yang terakhir kali menunjuk angka jam tiga belas sebelum jatuh tertidur.

Ketika Osamu terbangun, semua sudah berantakan. Suna Rin menggoyang bahunya pelan-pelan, tanpa sadar membuat tulangnya seperti retak. Itu dan semuanya membuat tubuhnya jadi terasa serapuh jeli. 

Lembut suara Suna terasa seperti di awang-awang. Lantas Osamu mengerjap dengan mata seperti dijatuhi kepingan kaca, berat dan kabur. “Rin, kok di sini?”

Sunarin menghela napas, menyodorkan segelas air. “Kok di sini gimana, Cantik? Nih, minum air hangat. Aku bawa pembalutmu.” Lalu membongkar-bongkar kantong plastik yang dibawanya bersama dengan tas. Dilihat dari bawaannya, sepertinya Suna pergi menuju supermarket alih-alih konbini.

“Yang celana?” Osamu memastikan dengan lemas. Sekarang dia sudah bisa duduk, rasanya tidak semenyakitkan tadi. Tapi tetap saja pantatnya terasa ngilu, dan sepertinya bagian kewanitaannya terasa tak nyaman. Seperti…

“Aku bawa semua tipe yang kira-kira kamu butuh,” tukas Suna, mengeluarkan semua alat tempur dari kantong. “Tipe celana, 32 senti, yang 29 juga ada kalau nanti keluarnya ga terlalu banyak. Kalau siang pakai yg 36 aja biar hemat. Yang celana aku beli yang L ya, pantatmu semok soalnya, nanti ga muat.”

Osamu menggeram tidak setuju, tapi terlalu lelah untuk protes. Pantatnya tidak sebesar itu juga, lah. “Makasih, Sunaa. Nanti aku ganti uangnya…”

Suna mengibaskan tangannya sambil mencibir. “Apa, sih? Jangan gitu, dong. Aku belikan semuanya ini buat stok kamu juga. Oh iya, ada puding, es krim, coklat, sama cemilan juga. Nanti aku ambilin sendoknya di bawah, ya. Abis itu…”

Mulut Osamu sebenarnya sudah ngiler mendengar berderet makanan dan cemilan yang dibilang Suna, tapi karena Suna terdiam, Osamu ikut penasaran. “Abis itu, apa?”

Seakan tidak enak membeberkan rahasia, Suna menarik napas dengan hati-hati. Dia lalu menggaruk-garuk sisi kepalanya. “Itu… seprainya… kayaknya perlu diganti…”

Osamu lalu tersentak, seketika membuka selimutnya. Mulutnya menganga lebar dengan napas tercekat tatkala melihat noda merah yang begitu banyak di atas seprai, celana piyama, juga sebagian kecil selimutnya.

Kedua tangannya meremat kepala berhelai abu-abu, “haaah… aku bisa dibanting sama Ibu kalau begini…” tangisnya pasrah. Pelan-pelan Osamu bangkit dari tempat tidurnya, menahan sakit karena paha dan pinggangnya masih ngilu.

Suna mengulurkan tangan untuk membantu, Osamu menyambut tangan tersebut dan susah payah berdiri dengan tegak. Dia kebingungan sendiri apa yang harus dia lakukan pertama-tama dengan semua kekacauan ini.

Celana piyamanya basah, rambut kelabunya yang panjang berantakan. Mukanya berminyak karena tidak dicuci sejak pagi — beberapa jam lagi pasti bakal muncul jerawat — kamarnya sudah seperti kapal pecah karena dia langsung ketiduran begitu sampai di rumah kemarin.

Osamu tidak sanggup berbalik badan untuk melihat apa yang terjadi di kasurnya. Rasanya mau nangis saja. Keadaan tubuhnya yang lelah dan sakit sementara banyak hal yang harus dibereskan di kamarnya membuatnya makin sakit kepala.

Suna Rin, teman sekelasnya yang bak malaikat, mengubek-ubek kantong belanjaan besarnya. Dia mengeluarkan sebungkus besar tisu basah dan sebotol baby oil, serta tisu kering.

“Sini, Osamu buka dulu bajunya. Pertama-tama badanmu harus dibersihkan dulu,” tawarnya lembut. Dia berdiri di depan Osamu dan menginstruksinya untuk mengangkat tangan, agar lebih mudah melepas pakaiannya.

Osamu tidak pernah pakai bra ketika tidur, sehingga begitu baju piyamanya tanggal, dia bertelanjang dada. Suna yang melihat ini segera menutup gorden di jendela. Walau kamar Osamu berada di lantai dua, tetap harus jaga-jaga.

Tidak lupa Suna mengunci pintu kamar dan menyalakan lampu, lalu meminta Osamu melepas semua piyamanya yang kotor. Dia menarik beberapa helai tisu basah dan mulai mengusap badan Osamu pelan-pelan.

“Kamu ga mau mandi? Ngga panas?” tanyanya sambil menyampir rambut abu ke samping. Osamu menggeleng dan menggeram.

“Ngga mau, malas ke kamar mandi. Harus lewat kamar Atsumu dulu,” tipikal Osamu, dia menolak bertemu dengan manusia berkelamin pria manapun saat sedang datang bulan, termasuk kembaran bahkan ayahnya sendiri.

Suna menimpali dengan gumaman maklum, dia sendiri pun kalau sedang haid, paling malas jumpa dengan laki-laki. Melihat muka mereka membuatnya badmood, dia pikir rasanya semua anak perempuan akan mengalami hal yang sama.

Dengan hati-hati, sahabat Osamu sejak kelas satu itu menggosok badannya penuh sayang. Dia membersihkan tiap inci tubuh Osamu seperti sedang memahat patung paling indah sedunia. Bahkan tidak terlihat terganggu dengan ketiak Osamu yang sedikit berbulu, pangkal pahanya yang agak gembul, dan kelaminnya yang basah oleh darah menstruasi.

Suna memberikan Osamu pembalutnya, tipe celana seperti permintaannya. Setelah ini gadis remaja itu pasti akan banyak berbaring di kasurnya, jadi pembalut tipe celana tentu lebih praktis.

Dari lemarinya, Suna meletakkan sepasang piyama baru di atas meja. Osamu memakainya tanpa berpikir, seperti ini adalah kebiasaan yang dia lakukan bertahun-tahun. Kemudian Suna memintanya untuk duduk dan menyisiri rambut panjangnya.

“Biar rambutmu ngga ketombean dibersihin dulu ya,” tukas Suna sembari menyemprotkan sampo kering ke kulit kepala Osamu. Dia memijit-mijitnya pelan sambil mengambili rambut-rambut Osamu yang rontok di mana-mana.

Setelah bersih, Osamu terduduk diam di lantai, menghela napas lelah saat melirik ke arah kasur. Suna tersenyum tipis, membelai rambutnya dengan sayang sebelum mengikatnya dengan rapi. “Kamu duduk aja di situ, biar aku yang angkut seprai sama selimutnya ke mesin cuci.”

Osamu menanggapi dengan anggukan. Ketika Suna melepas seprai dan selimut dari kasurnya, tangannya mencari-cari coklat yang dibawakan temannya itu dari dalam kantong. Tanpa usaha berarti, Osamu memakan coklat batangan itu dalam diam.

Suna pamit untuk membersihkan seprai dan selimut Osamu, dari noda yang terlihat pasti akan butuh waktu yang lama. Mungkin Suna akan menyebarkan deterjen yang banyak di noda tersebut lalu menguceknya dengan kekuatan ekstra, sebelum melempar semuanya ke dalam mesin cuci.

Osamu bersyukur sekali noda darahnya tidak menembus sampai ke kasur. Kalau tidak, bisa mati dia memikirkan cara membersihkannya dengan cepat tanpa ketahuan Ibu.

Teman dekatnya datang lagi setengah jam kemudian, dengan jemari berkeriput dan lengan baju seragam yang digulung. Osamu baru akan menawarinya duduk, tapi Suna segera membuka lemari dan mengeluarkan sepasang seprai dan selimut baru.

Gadis berhelai abu itu hanya bisa bengong melihat Suna yang begitu cekatan mengganti seprai, selimut, dan sarung bantal milik Osamu. Semua terlihat sangat mudah dan Suna tidak tampak terganggu ataupun lelah saat mengerjakannya.

“Umm…” Osamu terdiam, merasa tidak enak. Dia memandangi coklat di tangannya yang tersisa setengah, memberikannya pada Suna. “Rin mau? Kita makan bareng…”

Suna Rin mendesah, bukan desahan lelah. Mukanya terlihat letih tapi bukan berarti dia tidak suka dengan yang dia lakukan sekarang. Maka gadis itu tertawa sambil menatap Osamu gemas, mengambil coklat di tangan Osamu kemudian meletakkannya di atas meja.

Dia mengajak Osamu duduk di atas kasur, lalu membanting kembaran Atsumu itu ke kasurnya sendiri. Osamu kini terbaring di bawahnya dengan mulut belepotan coklat, dan wajah bingung yang masih loading akan apa yang terjadi.

Suna menumpu berat badannya di satu lengan. Satu tangannya mengusap anak-anak rambut Osamu di pelipisnya. Begitu halus, sehingga jari-jarinya lanjut menjamah pipi gembul dan kenyal di hadapan matanya.

“Osamu…” panggilnya dengan suara setenang danau. Gadis berambut kelabu menggeram tipis. “Kamu sadar ga sih kalau kamu tuh imut banget? Izin kokop, boleh?”

Osamu membuang muka, antara malu atau merasa lucu sama gombalan Suna yang jayus banget. Dia berusaha bangun sedikit ditopang kedua sikunya, lalu mendaratkan kecupan kecil yang singkat di bibir Suna. “Makasih banyak ya, Rin. Aku terbantu banget…”

Kecup kecil itu memang singkat, tapi Osamu menumpu semua emosi ke dalam ciumannya. Sehingga walau cuma sedetik, lembut bibir Osamu berpindah sempurna ke bibir Suna. Menekannya seperti dalam ciuman itu, hari esok tiada lagi.

Suna mengerang, ini keterlaluan. Siapa yang izinkan Osamu bisa bertindak semanis ini? Dia tidak bisa tahan lagi, memutuskan untuk menghujamkan wajahnya dalam-dalam ke ceruk leher Osamu yang terekspos.

Osamu berbau seperti jeruk lemon berkat tisu basah yang diusapkan ke badannya. Sedikit bau keringatnya tertinggal, tapi bukan bau yang mengganggu. Justru, saat menghirupnya Suna merasa candu.

“Hmmh…” Osamu melenguh pelan lantaran sensasi memabukkan yang dia terima di lehernya. Rasanya geli tapi juga penuh rangsang, membuat napasnya berat dan perutnya tergelitik nyaman.

Hirup ceruk itu berubah jadi jilatan, lembut dan hangat lidah Suna menyapu permukaan kulit Osamu yang telanjang. Kepalanya tidak sanggup berpikir, sehingga tidak begitu sadar kalau jari-jari sahabatnya sudah meraba di balik baju piyama, meremas-remas payudara kenyal dan bulat di dalamnya.

Piyama Osamu begitu tipis, sehingga sesungguhnya Osamu sendiri seperti tidak mengenakan apa pun saat memakainya. Dia juga membiarkan pakaian itu telah naik sampai ke lehernya, mengekspos dengan jelas dada besar yang membusung dengan puting yang menegang imut.

Hidung Suna sudah gatal untuk memainkan puting kecil itu, menggesek-gesekkannya seperti seorang ibu yang menggesekkan hidung ke anaknya. Osamu membuang mukanya, payudaranya tergelitik namun dia tidak berniat melepaskannya.

Kini sapuan hidung yang lucu berubah jadi jilatan, sebelah tangan Suna memainkan puting bagian kiri. Yang kanan basah oleh liur dan memerah oleh hisapan Suna yang bak seorang bayi. Osamu membantunya dengan usil sambil meremas-remas dadanya sendiri.

Hisapan itu diakhiri jilatan yang sensual. “Kamu ngapain?” tanya Suna dengan lidah terjulur, seutas liurnya masih menyambung di puting Osamu.

Gadis di bawahnya tertawa geli. “Biar susunya keluar banyak, jadi aku bantu remas.”

Di luar dugaan, Suna malah menarik napas dalam-dalam. Bukan berarti dia tak suka. Justru karena tingkah Osamu sekarang begitu menggoda, Suna yang telah berusaha menahan diri jadi tak tahan untuk menghancurkan dindingnya.

Dia duduk dengan tegak tanpa menekan tubuh Osamu, menengadah. Menarik napasnya lebih dalam dari yang tadi sehingga membuat Osamu agak kebingungan. Tidak butuh waktu lama sampai Suna menyampir rambutnya sendiri, lalu membuka satu per satu kancing seragamnya.

‘Oh, hari ini pakai yang warna biru,’ gumam Osamu dalam benaknya. Sepasang payudara sahabatnya ditutupi bra warna biru yang manis. Itu hadiah ulang tahun dari Osamu untuk Suna tahun lalu, dia senang Suna masih memakainya.

Bra biru yang lucu lantas terbuka dan dilempar ke sisi lain ranjang. Suna pun juga melepas piyama Osamu seutuhnya, mereka bertelanjang dada berdua karena Suna sepertinya tidak berniat melepas roknya.

Dia membungkuk dengan cepat, menempelkan payudaranya dengan milik Osamu yang terlihat jelas perbedaan ukurannya. Suna Rin tidak pernah merasa iri, dia malah gembira Osamu punya dada yang lebih montok dan bulat daripada miliknya.

Kedua pasang puting saling beradu, sensasinya begitu kenyal dan lembut. Suna menggoyangkan pinggangnya demi bisa menggeseki dadanya pelan-pelan ke dada Osamu kesukaannya.

“Hnngghh…” lenguhan Osamu tertahan, sejenak melupakan sakit di perutnya yang seharian sudah menyerang. Lantas menyerahkan semua kepada Suna sementara kedua lengannya memeluk erat leher gadis di atasnya.

Suna sendiri kepalang riang, merasa di atas awan karena sudah diberi izin. Tadinya hendak menahan diri lebih lama, tetapi lama-kelamaan dia mencoba untuk menggesek pahanya pelan-pelan di vagina Osamu yang tertutup pembalut celana dan piyama.

Sentuhan penuh nafsu itu sontak membuat Osamu terkejut, dia berusaha kabur dengan menekan pantatnya ke kasur, mencoba tak lagi membuat paha Suna menyentuh kelaminnya. “J-jangan, Rin… Aku nanti keluar…”

Suna menutupi lembut merah jambu muka Osamu dengan ciuman di pipinya. “Ngga apa-apa. Kalau pakai pembalut celana keluar aja sepuasnya. Ngga bakal bocor.”

Lalu ciuman-ciuman di pipi membanjir tanpa jeda, membuat Osamu kelimpungan. Sampai tak sadar gesekan di paha juga sudah bertambah dengan jari tepat di klitorisnya.

“Pembalutnya tebel banget, ga berasa, ya?” sekali lagi Suna menghadiahinya kecup-kecup yang basah di leher. Membisik di telinga Osamu yang memerah. 

Tapi gadis remaja di bawah hanya bisa melenguh dan mendesah, menggeleng cepat-cepat. Satu sisi dirinya ingin Suna berhenti, tapi satu bagian dirinya ingin dipuaskan. Ini semua masih belum cukup.

Dua tahun mengenal tubuh Osamu, Suna hafal luar kepala. Tentu saja dia akan sangat terangsang saat dia memasuki masa haid, dan belum akan puas sampai dia keluar berkali-kali dalam sehari. Itu sebabnya alih-alih memakai pembalut biasa, Osamu lebih suka pakai pembalut celana kalau sedang di rumah.

Maka, satu tangan Suna menyelinap masuk ke dalam celana piyama Osamu, lanjut ke balik pembalutnya. Tanpa merasa jijik, jari-jarinya memutari klitoris Osamu yang menegang serta berasa timbul.

“R-Rin, jangan! Ahhh…!” Osamu menepuk-nepuk bahu Suna, memintanya melepas semua yang dia lakukan di bagian paling sensitifnya. Percuma saja karena alih-alih berhenti, sahabatnya justru semakin bernafsu untuk menggesek jarinya ke klitoris yang lengket.

Osamu mencium bau darah, tentu saja Suna juga. Tetapi semuanya tidak menghentikan Suna atas apa yang dia kerjakan. Semakin Osamu mendesahkan namanya, semakin gesekan dan stimulasi di vaginanya menjadi-jadi. Osamu tidak kuat, kedua pahanya gemetaran dan dia memuntahkan semuanya di pembalut yang baru saja dia pakai.

Setelah itu, gadis berambut abu merasa begitu lelah. Cukup khawatir dengan kasur yang mungkin saja basah karena cairan dan darahnya yang merembes, namun tubuhnya lebih ingin berbaring. Suna sendiri sudah tidak lagi berada di atasnya, dia jatuh terkapar di sampingnya namun jari tengahnya masih menempel di klitoris Osamu.

Keduanya terkulai lemas di kasur dengan napas memburu. Badan Osamu keringatan, dia seperti sedang main satu set voli. Melihatnya lengah, Suna dengan iseng menekan jari tengahnya ke titik tersensitif tubuh teman kesayangannya.

“AHN! Rin… udah dong!” jerit Osamu sambil menggoyangkan pinggangnya, meminta dengan lemas agar jari Suna menjauh dari klitorisnya. Suna menciumi bahu Osamu, menarik tangannya dari celana sahabatnya dengan hati-hati.

Dia memperhatikan sejenak jarinya yang basah oleh lendir vagina dan sedikit darah. Osamu menggumam tisu dengan pelan namun Suna mengabaikannya. Lantas, gadis itu mengulum jemarinya yang kotor dan membersihkannya dengan lidahnya. Sampai tuntas.

Osamu yang melihat itu menggeram. “Rinnn! Kotor, ih!” sebelah tangannya menghentikan kegiatan Suna menjilati jari, sebelahnya lagi menggapa-gapai tisu di atas meja dekat kasurnya.

“Ngga apa-apa, ini punya Osamu,” sahut Suna tenang, gerakannya saat menjilat jarinya terlihat sensual. Sayangnya Osamu tidak bisa setuju dan memaksanya tetap membersihkan tangannya dengan tisu basah.

“Cuci tangan terus kumur-kumur, sana!” usirnya, membuat Suna tak punya pilihan selain menurut. Dengan malas sang gadis bangkit dan membuka pintu kamar. Hanya untuk melihat Atsumu berdiri di depan sambil menyilangkan tangan.

“Sakit mens bukannya istirahat malah ngewe,” geramnya. Dia tidak peduli dengan keadaan teman adiknya yang bertelanjang dada, hanya saja adik kembarnya juga demikian membuatnya sedikit jengkel. “Mandi sana! Sebentar lagi Ibu sama Ayah pulang. Aku ga bakal ngomong apa-apa kalau kalian selesai mandi dalam satu jam!”

Dengan malas luar biasa, Osamu mengumpulkan nyawa untuk sekadar duduk di atas kasur. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang kini mulai terasa gatal. “Hmmh… iya, iya. Tsumu bawel. Kami mandi, nih.”

Osamu mencari-cari handuk, lalu melemparkannya kepada Suna. “Yuk, Rin. Kita mandi bareng, ngga usah ajak Tsumu!” 

Atsumu mendecih melihat perubahan adiknya yang berkedip manja kepada Suna, tapi memeletkan lidah padanya. “Jangan ngewe di kamar mandi, ya!”

“Iya, ih, bawelll!” sahut Osamu sembari mengajak Suna, yang segera berhenti karena tangan sebelahnya juga ditangkap Atsumu. Osamu membiarkannya dan jalan duluan.

“Apa, sih, Atsumu?” muka bermata sipitnya yang selalu tampak lesu menampilkan mimik tak suka. Sementara Atsumu menyipitkan matanya galak.

“Aku ngga tau hubungan kalian sejauh apa,” dia memulai, “tapi Osamu tetap punyaku, sampai kapan pun. Aku ini kembarannya.”

Suna mendengus geli, memelototi Atsumu yang masih bermuka seperti iblis. “Kau cuma kembarannya, tapi aku pacarnya.”

“Kau — ”

“Riinnn! Udah, belum? Yuk, mandi! Showernya udah panas!”

Suna melirik ke arah kamar mandi tempat Osamu berada, tersenyum licik karena merasa menang kepada Atsumu. “Iya, Mbul! Bentar, ya!” kemudian dia berbalik menuju kamar mandi dengan santai.

Atsumu menatap marah pada punggung Suna yang telanjang. Dia tidak punya kesan apa pun selain ingin merobeknya dalam-dalam. Sosok Suna Rin dan keberadaannya yang selalu ada di sekitar Osamu membuatnya risih.

Tidak lama setelah itu, suara desahan dan lenguhan kembali terdengar di kamar mandi. Atsumu yang sedang main PS di kamarnya terpaksa mengeraskan suara headphone-nya.

Dia amat suka mendengar suara desahan Osamu, karena dia sendiri pun sebenarnya sudah menguping sejak awal Suna menyentuh Osamu di dalam kamar. Tapi saat mendengar suara adik tercintanya menjeritkan nama Suna, itu lain cerita.

Notes:

haikyuu punya furudate haruichi

ini pertama kalinya saya bikin GL
terima kasih sudah membaca~
kudos dan komen sangat diapresiasi..