Chapter Text
Sungchan mendapati konsep memori itu sebagai sesuatu yang magis dan mengerikan—mengirimkan teror tepat di belakang kepalamu, karena tak peduli seberapa keras kau ingin melupakannya, ia akan tinggal di sana, bersembunyi tepat di pojok-pojok gelap, seperti bagaimana Sungchan masih secara samar-samar menyimpan konversasi pertama yang dimilikinya dengan Dewa Alam Bawah begitu rohnya mencapai alam baka.
“Kapan persisnya Anda mempekerjakan malaikat maut untuk membantu mengantar nyawa seseorang ke alam baka?”
Dewa dunia alam bawah memiliki wajah yang duniawi sekali—kontras dengan namanya, ia mempunyai raut yang mengingatkan Sungchan akan kehidupan yang lama sekali tidak ia miliki. “Ketika pembunuhan pertama dilakukan oleh manusia kepada manusia lain,” adalah jawaban yang ia berikan kepada Sungchan atas pertanyaan yang dilemparkan. Sungchan masih mengingat bagaimana sang dewa menggenggam sebatang sigaret di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Asap itu mengepul ke udara, meliuk-liuk, dan terhempas ke wajah Sungchan secara pelan, bak sapuan tangan lembut seorang ibu. Sigaret Dewa Dunia Bawah tidak seperti satu yang pernah ia temukan semasa hidup, tidak juga terlihat seperti apa yang kerap ia saksikan di dunia manusia ketika mencabut nyawa seseorang yang akan mati akibat penyakit paru karena terlalu banyak menghirup nikotin lewat rokok. Tembakaunya berasal dari lahan alang-alang¹) yang dulu diciptakan oleh Izanagi dan Izanami. Sungchan tidak tahu bagaimana bedanya, tidak tahu juga bagaimana rasanya. Rerumputan dari tanah yang dilahirkan oleh Izanagi sudah semuanya binasa. Namun, hal yang barangkali Sungchan bisa pastikan adalah rasanya jelas seperti mencecap kematian.
“Sejak saat itu aku tahu, kebencian sudah mulai lahir, dan kebencian itu, Sungchan, mereka menyebar seperti wabah penyakit. Manusia adalah medium yang membawa wabah itu. Mereka turun dan dibiarkan menempati tanah dunia sebab mereka mencari sesuatu untuk dijangkiti.”
“Menurutmu mengapa kami mencari sesuatu untuk dijangkiti, Kaisar?”
“Karena kalian tidak bisa berdamai dengan kesendirian,” balasnya sembari mengembuskan asap sigaretnya ke hadapan muka Sungchan. “Kalian akan terus menjangkiti, menjangkiti, dan menjangkiti, sebab kamu tahu apa yang disukai manusia? Mati dengan tangan seseorang yang menggenggamnya. Mati sendirian adalah hal terakhir yang ingin mereka alami.”
Kesendirian, ya?
Sungchan kira, seperti bagaimana seluruh perasaannya juga turut mati ketika rohnya mengecup kematian, ia sudah berdamai dengan kesendirian. Seperti bagaimana ia dulunya juga mati seorang diri, Sungchan pikir dengan naifnya, ia sudah berdamai dengan kesepian.
Namun bayang-bayang itu masih kerap menghantuinya.
“Hiduplah lebih baik daripada aku, ya?”
Sungchan sempat mempertanyakan apa esensi dari para malaikat maut seperti dirinya diberikan waktu nyaris beberapa abad lamanya hanya untuk menjadi kurir—tidak, salah, maksudnya untuk membantu Dewa Dunia Bawah (manusia mungkin menyebutnya sebagai “Malaikat Maut”, tetapi itu jelas miskonsepsi sebab dewa bukanlah seseorang yang menjemput nyawa mereka secara langsung dan tugasnya lebih ke ongkang-ongkang kaki saja) mengantarkan roh-roh manusia yang tenggat hidupnya telah usai tersebut menuju alam baka sebagai bagian ritual dari pembersihan dosa. Alam Baka itu tempat yang suci, katanya. Kejahatan jelasnya adalah hal yang telak tidak diinginkan. Dendam tidak bisa diterima di sana. Penyesalan apalagi. Kurir malaikat maut seperti dirinya kerap kali diambil dari golongan pendosa paling menjijikkan—yang dosanya nyaris tak akan diampuni bahkan jika lahar panas api neraka menggerogoti tulang mereka sampai habis. Semua pengabdian ini dilakukan untuk membantu meringankan timbangan dosa yang mereka punya. Namun, destinasi terakhir mereka tetaplah neraka.
Jadi, kita tetap ditahan di dunia, dibiarkan setengah hidup tapi juga setengah mati sampai beratus-ratus tahun lamanya, mengantarkan jiwa-jiwa manusia yang tak terkira jumlahnya hanya untuk tetap dilemparkan ke kawah neraka?
Mereka pasti bercanda. Sungchan jelas salah kaprah jika menganggap dewa-dewa itu dengan berbaik hati memberlakukan hal ini untuk mengampuni dosa-dosanya.
Ini adalah siksaan yang lebih keji daripada harus dipasung di atas lahar api neraka.
Setiap kali Sungchan mencabut nyawa seseorang, ia merasakan kematian yang turut menyambut jantungnya—bagaikan nyawanya juga turut diambil dari raga. Hal ini harus terus dilakukannya sampai tenggat masa malaikat maut sudah habis. Itu artinya, Sungchan masih punya seratus lebih tahun untuk dibuat mati berkali-kali, lagi, lagi, dan lagi ketika mencabut nyawa manusia yang dijemputnya.
Namun begitu, meski ia sudah dibuat mati beribu kali, tidak bahkan sekali saja ia merasakan ketenangan yang menghampiri.
Bukankah itu adalah bentuk hukuman yang luar biasa jenius untuk diberikan kepada seorang pendosa?
Sungchan mengamati jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan, lantas ia bersedekap. Ia berdiri di bawah pohon rindang pada taman dekat jembatan yang lampunya tak kunjung juga dibenarkan dari beberapa bulan yang lalu. Sinar bulan yang menggantung di langit saat ini jelas tidak membantu banyak untuk menerangi kegelapan yang menyelimuti taman. Sependengarannya, taman ini baru dipugar kembali beberapa tahun yang lalu. Namun, untuk ukuran taman yang baru saja dipugar, taman ini terlampau sepi akan presensi manusia.
Oh, tentu saja.
Memangnya, siapa yang mau menghabiskan waktu berjalan-jalan santai di tempat bekas orang bunuh diri?
Sungchan mengamati lamat pemuda paruh baya yang ada jauh di depannya. Ia berdiri di tepian pagar jembatan dengan tangan mencengkram pagar kuat sampai buku-buku kukunya memutih. Sungchan jadi tahu kenapa spot ini kerap dijadikan opsi untuk tempat mengambil nyawa sendiri. Sungchan bisa melihat bagaimana rautnya dipenuhi oleh banyak sekali pikiran yang berkelindan; carut-marut layaknya benang jahit yang berselilit satu sama lain. Sungchan pikir, ia mempelajari satu atau dua hal tentang mereka-mereka yang memutuskan untuk menjemput kematian dengan kedua tangan sendiri: mereka membutuhkan lebih banyak tenaga untuk membulatkan desisinya melakukan bunuh diri daripada melakukan bunuh diri itu sendiri.
Kematian itu sementara, tetapi pikiran tentang mati akan mencekik manusia selamanya.
Tinggal sepuluh menit lagi.
Rasanya seperti tercekik — Sungchan paham. Bagi manusia, ada lebih dari sekadar ketidakinginan untuk hidup lebih lama, tetapi juga ketidakpuasan, ketidakpantasan, keputusasaan, dan kelelahan. Ada lebih daripada sekadar ketidaksanggupan ketika memutuskan untuk mengakhiri hidup sendiri.
Sungchan mengerti.
Sungchan melirik lagi ke arah arlojinya. Hanya tinggal menunggu tujuh menit sebelum waktu kematian pemuda itu tiba. Jika waktu kematian pemuda itu tepat pada waktunya, maka ia akan melompat melewati pagar jembatan dalam dua menit, jatuh dan tenggelam selama satu menit, dan menunggu sampai air dari sungai itu memenuhi paru-paru dan menghancurkan semua kerja sistem tubuhnya selama empat menit lamanya. Total tujuh menit sampai Sungchan bisa mengantar arwahnya ke alam baka.
Tiba-tiba pemuda itu terisak, ia jatuh terduduk dengan satu tangan masih berpegangan erat pada pagar. Samar-samar dari kejauhan, Sungchan bisa mendengar erangannya.
“Ibu … aku tidak mau melakukan ini,” tangisnya. “Ibu kalau hidup tanpa aku, bisa, ‘kan?”
“Wonbin, kalau kamu hidup tanpa aku, bisa, ‘kan?”
Sungchan merasakan kepalanya berdenging, seperti sebuah mikrofon dinyalakan tepat di samping telinga. Ia memegangi kepala sebab degung itu membuat tubuhnya sejenak terhuyung dan ia dibuat tidak mampu menopang berat tubuh seperti seharusnya. Suara barusan … kenapa datang lagi?
“Wonbin, hiduplah lebih baik daripada aku. Janji, ya?”
Persetan.
Pemuda di depannya lalu bangkit kembali. Ia merenggangkan jari-jari tangannya, memasok jumlah napas begitu banyak ke dalam paru-paru. Air matanya barangkali sudah kering, begitu juga dengan yang sudah ia cucurkan dari hari-hari sebelum ia memutuskan untuk datang kesini di ambang keputusasaannya.
Satu menit tersisa.
Beberapa sekon selanjutnya, kaki pemuda itu kemudian memanjat pagar, berpindah ke sisi yang berbatasan langsung dengan sungai gelap di bawah kakinya. Ia mengambil napas hingga bahunya terangkat.
Tiga puluh detik tersisa.
Tangannya masih mencengkram pagar erat. Mungkin saja, ia tengah mencoba mengumpulkan kepingan diri yang sedang hancur berantakan; mencari kepingan diri dimana ia merasa takut mati.
Sepuluh detik.
Barangkali, pemuda itu telah sadar di sana kalau ia sudah menelan keputusan ini bulat-bulat.
Mungkin kepingan-kepingan itu juga turut larut dalam air matanya yang tumpah.
Lima detik.
Lima detik selanjutnya, pemuda itu melepaskan cengkeraman dari pagar dan menjatuhkan diri ke sungai. Sungchan memegangi lehernya yang terasa seperti dicekik. Paru-parunya terasa penuh dan ia hampir tidak bisa mengambil napas. Matanya memerah dan penuh darah. Ia lalu memegangi dadanya yang naik turun seiring ia mencoba untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
“Kau ini malaikat maut tapi masih tidak kuat dengan momen yang seperti itu?”
Sungchan menoleh ke sumber suara. Ia mendapati presensi lelaki dengan surai menutupi nyaris seluruh bagian matanya. Si lelaki mengenakan coat hitam panjang yang lebih formal dan lebih rapi dari miliknya. Tangannya dilipat ke belakang punggung. Lelaki itu lantas mengikis jarak dari Sungchan.
“Aku cuma perlu seratus tahun untuk terbiasa dengan rasa sakitnya. Tapi kamu? Ini sudah tiga ratus tahun untukmu, Sungchan. Tiga ratus tahun. Itu waktu yang sangat lama sekali di dunia manusia.”
Sungchan tak menjawab apa-apa. Seiring rasa sesak di dadanya perlahan pergi dan matanya kembali normal, manik Sungchan lalu beralih ke arloji untuk mengamati waktu kematian dari si pemuda sebelumnya. Beberapa saat selanjutnya, ia menyaksikan roh sang pemuda yang muncul di tempat ia terakhir kali memijakkan kaki sebelum melompat ke sungai. Sungchan mengeluarkan sebuah bel dan mendetingkannya empat kali. Roh itu lalu berubah wujud menjadi asap dan menghilang dari hadapannya. Sungchan mengembuskan napas lega.
“Kamu sudah memikirkan tawaranku yang sebelumnya?” tanya lelaki itu.
“Diam, Shotaro. Aku sedang bekerja.”
“Kau masih bisa diajak mengobrol, ‘kan? Berbicara itu cuma perlu mulut, tahu.”
Sungchan hanya memberikan lirikan tajam sebelah mata.
“Aku memang bisa mengajak Minjeong atau Heeseung, tapi kurasa kali ini akan lebih seru jika mengajakmu.”
“Karena aku lahir di sana?”
“Nah, itu, kau juga paham cara kerjanya.” Shotaro menurunkan lipatan tangannya. “Tidakkah kamu mau pulang ke kampung halamanmu?”
“Aku tidak tertarik.”
“Jangan bilang kamu trauma dengan dosa yang kamu lakukan sendiri.”
“Aku tidak tertarik dengan Konferensi Seratus Tahun atau apalah itu, Shotaro. Jangan libatkan aku pada urusan politik seperti itu. Cari saja orang lain.”
“Semuanya saja kau tidak tertarik.”
Sungchan memasukkan kembali loncengnya, “Aku duluan.”
Lelaki itu—Shotaro—melipat kedua tangan di depan dada begitu menyaksikan bagaimana Sungchan hendak melengang pergi tanpa mendengarkan perkataannya terlebih dahulu.
“Memang kamu tidak penasaran akan sesuatu?” tanya Shotaro, lantang. Sontak membuat Sungchan berhenti melangkahkan kaki tetapi tak cukup membuat Sungchan menoleh.
“Kamu tidak penasaran kenapa roh kekasihmu dulu tak pernah terlihat melewati Jembatan Alam Baka padahal sudah tiga ratus tahun berlalu?” []
¹) Referring to Ashihara no Nakatsukuni (葦原の中つ国, transl. The middle country of reed beds) which is, in Japanese mythology, the world between takamagahara (heaven) and yomi (hell).
