Work Text:
Hal yang Nagi rasakan pertama kali saat itu adalah hawa sekitarnya menjadi panas, dan Nagi berkeringat. Terlalu panas, padahal pendingin ruangan sudah diatur menjadi enam belas derajat celcius. Kedua, Nagi merasa seluruh dunia terlalu berisik, terlalu menyengat. Matanya menangkap terlalu banyak warna, telinganya berisik, dan hidungnya mencium bau feromonnya sendiri yang begitu menyengat, menyebar ke segala penjuru, menarik perhatian siapapun di dekatnya. Nagi masih mengantuk, jujur, tapi bagaimana dirinya bisa tidur dengan kondisi badannya yang meraung-raung meminta respon aroma tertentu hingga menegang sendiri. Memang rut tidak menyenangkan, begitu pikir Nagi, sebelum sepasang tangan merengkuhnya dari belakang, dan bau mint bercampur lavender mulai menyebar di hidungnya.
"Good morning, Sei."
Ah iya, Reo di sini. Reo berjanji padanya untuk menghabiskan rut Nagi bersama. Seluruh kebutuhannya ketika rut pun sudah disiapkan. Seketika, Nagi merilekskan tubuhnya, bersandar pada Reo yang kini ada di belakangnya,
"Reo, badanku sakit semua, malesin."
Nagi merasakan Reo mengangguk, mengusap rambutnya yang hampir lepek karena keringat, "Iya, Sei. Bagian mana yang sakit?"
Nagi mendengus, "Semuanya, Re. Sakit semua, panas pula. Ini aku lepas baju aja ngga apa-apa, 'kan, Re? Biar ngga panas."
Reo mengiyakan, membantu Nagi melepas bajunya, membiarkan pendingin ruangan bekerja mendinginkan tubuh Nagi. Reo kemudian keluar kamar, beberapa menit, sebelum Ia kembali dengan nampan berisi makanan dan dua minuman dingin.
“Sei, makan dulu. Rut bikin capek, tahu.”
“Suapin,” Nagi berkata, memberi gestur telunjuk ke mulutnya sendiri. Reo tersenyum, mengusak rambut Nagi,
“Boleh, Sei.”
Ruangan itu kemudian hening, hanya terdengar suara sendok beradu dengan piring, dengan sesekali celotehan Reo dan Nagi yang mengiyakan. Lima belas menit, semuanya selesai, dan Nagi kini tengah meminum lemon tea miliknya, mengurangi rasa panas yang masih saja menjalar di tubuhnya. Nagi menatap Reo yang tengah membereskan alat makan, kemudian ikut duduk di sampingnya dan meminum kopi susu, membuat Nagi salah fokus pada bibir yang tengah menyeruput segelas minuman berwarna kecoklatan tersebut. Nagi rasanya ingin mencium bibir itu saat ini juga, tanpa menyadari mulutnya telah berkata hal-hal yang harusnya tidak dikatakan, "Reo, mau cium. Cium boleh, ya?"
Tapi, surprisingly, Reo mengangguk, "Boleh, Sei. Lebih dari cium juga ngga apa-apa."
Walau Nagi tidak sengaja mengatakan pikirannya dengan keras, kalimat Reo seperti lampu hijau di mata Nagi. Perlahan, Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Reo, mengusap pipinya perlahan, sebelum mencium bibir Reo yang sudah Ia idamkan dari tadi. Ciuman itu pelan, awalnya. Hanya kecupan demi kecupan, menyalurkan rasa sayang. Tapi, Nagi merasa kurang, karena badannya semakin panas. Perlahan, Ia menggenggam kedua sisi tubuh Reo, membawanya ke dalam pangkuan Nagi. Ia menjilat bibir bawah Reo, meminta izin halus untuk bermain lidah dengannya. Nagi merasa bahwa Reo mengerti, karena sedetik kemudian, Reo membuka belah bibirnya, membiarkan lidah Nagi masuk dan mengacak-acak di dalam mulutnya.
"Hmph—,"
Desahan Reo tidak membuat Nagi berhenti. Sebaliknya, Ia makin memperdalam ciumannya, menuju langit-langit mulut, gigi, hingga akhirnya mengajak lidah Reo berdansa bersamanya, mencecap rasa lemon tea yang samar-samar tercampur dengan kopi susu. Lama lidah mereka saling berlomba mendominasi satu sama lain, sebelum akhirnya Reo menepuk dada Nagi, meminta dilepaskan untuk meraup oksigen. Nagi melepasnya, melihat saliva—entah milik siapa mengalir dari bibir Reo yang kini terengah-engah.
Mereka hanya berciuman, tapi, sungguh, Reo menggoda sekali, begitu pikir Nagi. Wajahnya sudah memerah, rambutnya berantakan, pasrah di atas pangkuan Nagi. Nagi tidak hanya diam, tentu saja. Cepat-cepat, Ia menanggalkan seluruh pakaian Reo dan perlahan, kedua tangannya merayap menuju dada Reo, mengusapnya sambil sesekali menyentuh kedua tonjolan merah muda yang kini mencuat tegak. Nagi dapat merasakan bagaimana tubuh Reo bergetar, merasakan sensasi geli dan panas dari kedua putingnya sendiri.
"Hyanh—Sei, jangan disitu, hn—"
Nagi tidak mengindahkan perkataan Reo. Ia terus mempermainkan kedua puncak merah muda tersebut, sesekali menjilati bergantian, memberikan friksi terus-menerus. Nagi terlalu asik dalam permainannya sendiri, hingga Ia tidak menyadari bahwa kedua tangan Reo sudah menggenggam kedua bahunya begitu kuat. Nagi terkejut, seketika tubuhnya dihempaskan di atas kasur. Ia mengerjap pelan, masih memproses keadaan bahkan ketika Reo telah berada di atasnya, dengan wajah mendekati ceruk lehernya, mengendus feromon milik Nagi yang menguar karena siklus rut,
"Aku juga seorang alpha, Sei."
Oh, Reo mengucapkannya dengan geraman, alpha di dalam dirinya menolak dominasi dari Nagi yang sibuk menjajah tubuhnya, dan sebaliknya, kini berusaha mendominasi alpha berambut putih tersebut. Nagi melihat bagaimana Reo menatapnya dengan tatapan penuh hawa nafsu, mengatur nafasnya sendiri sebelum meraih bahu Nagi dan memberinya tanda-tanda kecil sebagai tanda kepemilikan.
Tidak hanya itu, tangan Reo ikut menjelajah bagian dadanya, berusaha melakukan hal yang sama seperti dirinya persis beberapa menit yang lalu. Sesekali, jarinya berputar, sesekali Ia menjilat, dan sesekali bergerilya di salah satu lebih lama. Ia melakukan hal itu terus-menerus, sebelum kemudian tangannya menjelajah ke tempat lain, berusaha meraih penis Nagi yang dari awal sudah tidak tertutup apapun.
Nagi—sebelum Reo bisa menyentuhnya lebih jauh, mengandalkan insting alpha-nya untuk membalikkan dominasi—sekali lagi, menukar posisi Nagi menjadi di atas Reo, menaunginya dengan bayangan Nagi sendiri.
Reo—dengan insting alpha yang sama kuatnya, masih berusaha mengambil alih dominasi Nagi, kini berusaha meminta Nagi tunduk dengan feromonnya yang perlahan memenuhi Nagi, berkonsentrasi penuh agar Nagi mau mengikutinya.
Nagi tidak tinggal diam, tentu saja. Ia tetap mempertahankan feromonnya sendiri, dengan tangan yang mulai diam-diam mengambil lubricant di atas nakas, dengan cepat mengoleskannya pada jarinya sendiri. Reo masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi, merasakan Nagi telah perlahan menyusuri bagian bawahnya dengan jarinya yang terlapisi oleh lubricant. Perlahan, jari pemuda itu menerobos masuk, satu demi satu, perlahan, tanpa menunggu Reo yang masih menahan napas ataupun mendesah nikmat, mencari titik nikmat yang belum diraih oleh jari-jari tersebut.
“Ah!”
Satu desahan dari Reo, dan Nagi bisa menyimpulkan bahwa ketiga jari miliknya telah berhasil menemukan apa yang diinginkannya. Dengan cepat, Ia terus menabrak titik itu, membuat Reo kewalahan, berusaha menyuruh Nagi untuk berhenti, sedikit meneriakkan namanya dan berkata bahwa Ia tidak mau keluar lebih dulu.
Nagi tidak suka berbasa-basi. Ketika Ia telah mengeluarkan jarinya, Ia membawa Reo ke atas pangkuannya kembali, kali ini dengan punggung Reo bersentuhan tepat dengan dadanya. Ia mengangkat kedua kaki Reo, memposisikan dirinya sendiri tepat di depan lubang yang telah Ia stimulasi.
Nagi, berkata pelan, “Reo, aku mau kamu. Boleh, ya?”
Sebuah anggukan Ia dapatkan, maka dengan perlahan Ia mulai menerobos, merasakan sempit dan panas luar biasa, serta pemandangan Reo yang berusaha menahan rasa sakit di bawahnya. Nagi berhenti sejenak, mencondongkan tubuhnya dan mengecup seluruh wajah Reo dengan sayang, serta memberikanya stimulasi dengan beberapa jilatan di bagian leher dan tulang selangka.
Kala Ia melihat wajah Reo mulai membaik, Ia mendorong kembali tubuhnya, meraih ujung dalam sekali hentak, membuat Reo sedikit terpekik. Nagi tanpa aba-aba langsung bergerak—walau perlahan, menghasilkan sensitivitas berlebih pada Reo yang belum mempersiapkan dirinya. Tak lama, Ia mulai mempercepat gerakannya, mengaduk dan memberi ransangan pada pemuda di pangkuannya.
"Reo, Reo, lihat ke kaca, Reo," ujar Nagi dengan nafas yang masih tertahan, terus menggerakkan miliknya dengan ritme yang teratur. Reo, yang baru sadar bahwa sedari tadi mereka bercinta sembari menghadap sebuah cermin, bersusah payah mengatur pikirannya agar bisa berpikir jernih dan tidak hanya memikirkan penis Nagi, mendongakkan kepalanya, melihat refleksi dirinya di cermin, mendapati wajah keenakan dirinya yang kini membuka kedua kakinya lebar-lebar, dengan penis alpha berada di dalam lubangnya.
Memalukan, namun begitu mengundang birahi. Reo menggeliat, memejamkan mata, tidak ingin memandang dirinya, seorang alpha, yang belum apa-apa sudah terlihat seperti omega sewaan di tengah kota. Nagi menyadari, tidak habis akal agar Reo terus memandang dirinya sendiri. Tangan Nagi mengusap perut Reo, perlahan dari bagian abdomen atas, memberi sedikit perhatian pada bagian yang menonjol dan membentuk penis Nagi di dalam, kadang semakin menurun, kadang semakin ke atas, mengikuti irama Nagi yang tengah menggagahinya.
"Reo, lihat lagi. Lihat, aku ada di dalam kamu, jejaknya jelas banget." Nagi terus mengusap tangannya pada perut Reo, kini bersama dengan tangan Reo sendiri, membuat Reo mau tak mau membuka matanya dan melihat bagaimana perutnya menampilkan jejak penis Nagi di dalam tubuhnya.
Astaga, Reo merasa semakin panas, pikirannya tidak karuan. Gerakan Nagi tidak bertambah cepat, tapi Nagi terasa semakin besar di dalamnya. Lihatlah, perutnya sudah terbentuk oleh milik Nagi, ditandai dalam-dalam. Reo tidak bisa berpikir, mengikuti insting, menggerakkan tubuhnya berlawanan arah dengan Nagi, memperdalam tusukan ketika gerakan mereka saling bertemu. Lambat, cepat, lambat, cepat. Suara Reo semakin keras seiring dengan kerasnya permainan mereka, terlebih ketika penis Nagi terasa menekan sesuatu yang membuat Reo makin melayang.
"Ah—Sei. Lagi, lagi, lagi! Di situ! Lebih ce—anh. Cepat, Sei."
Reo melantur, entah apa yang ada di pikirannya ketika Nagi mempercepat gerakannya. Ia hanya merasa tubuhnya terlalu panas, Ia terlalu tegang dan seluruh tubuhnya bergetar, mengikuti gerakan Nagi yang kini memegang kedua sisi pinggangnya dan tanpa sadar membuat Reo menerima apa yang dilakukan Nagi dengan dirinya.
Nagi melihat Reo bersusah payah mengatur napasnya, air liur terus menetes dari mulutnya, serta wajah keenakan yang terus mendongak ke atas.
Astaga, Nagi jadi ingin menghamilinya dan menjadikannya seorang omega.
Dan, Nagi mengucapkannya, mengikuti insting alpha yang Ia miliki, berbisik ke telinga Reo, "Reo, mau jadi omega punyaku, 'kan? Reo harus mau," sembari terus menggerakkan tubuhnya dan menekan prostat milik Reo.
Sekali lagi, Reo tidak bisa berpikir, berusaha mencerna kata-kata Nagi yang aneh ketika Ia sedang digagahi adalah hal yang cukup sulit. Walau begitu, Reo sadar, Ia tetap seorang alpha, dan Ia bukan seorang omega. Reo ingin mengejek Nagi atas pikiran tak berdasar, tapi Nagi memotong pikirannya terlebih dahulu, menekan dalam di dalam dirinya, “Reo pasti cocok sekali jadi omega punya Sei. Jadi omega mate punya Sei. Jadi omega yang punya anak dari Sei. Reo mau, ‘kan?”
Perkataan Nagi masuk perlahan dalam pikiran Reo yang tidak jernih, menggerogoti akal sehat yang tersisa. Pikiran itu, pikiran di mana Reo bisa menjadi omega sepenuhnya milik Nagi Seishirou, dengan tubuh yang bisa mengandung anak-anak alpha yang tengah menggagahinya ini, begitu indah ketika dibayangkan. Reo mengangguk-angguk, mengiyakan perkataan Nagi, “Iya, Sei. Hngh—Aku mau—aku mau jadi omega Sei. Aku mau jadi mate Sei, aku mau jadi omega yang punya anak dari kamu, Seishirou.”
Entah apa yang diberikan Reo dalam perkataannya, tapi Nagi tiba-tiba saja mengeluarkan miliknya dari lubang Reo, membantingnya ke atas kasur, sebelum menarik kedua kakinya ke atas, kembali memasuki dirinya dengan tempo yang sangat cepat. Reo bahkan tidak bisa bersuara apapun, hanya desahan dan nama Seishirou yang Ia ucapkan seperti mantra.
Gerakan Nagi semakin acak, Ia dekat dengan pelepasan. Reo merasakannya, bagaimana penis Nagi serasa semakin besar di dalam tubuhnya, memaksa ruang untuk terus melebar, masuk semakin dalam, serasa ingin menumpahkan seluruh spermanya pada rongga yang ada di dalam Reo.
Nagi melihat bagaimana penis Reo ikut membesar, menandakan bahwa Ia juga dekat, seorang alpha yang tengah digagahi dan membentuk knot tanpa rongga menjepit, hingga akhirnya Nagi menggenggam penis tersebut dengan tangannya.
“Sei…!”
Reo berteriak, bersamaan dengan miliknya yang muncrat ketika Nagi menggenggamnya, menjepit ruang bawah yang kini membuat Nagi ikut meringis dan tidak bisa bertahan, bergerak semakin acak, tidak memberi jeda pada Reo dan terus mengejar orgasme miliknya sendiri.
“Reo, aku kelu—ugh,”
Nagi keluar, memenuhi rongga dalam Reo, dengan penisnya membentuk sebuah simpul, mencegah tumpahannya sendiri agar tidak mengalir menuju kasur yang berantakan. Nagi jatuh di atas Reo. Mereka terengah-engah, menikmati pelepasan bersama. Lima belas menit kemudian, Reo, dengan seluruh tubuh yang masih tremor, perlahan mengelus rambut Nagi, “Good boy, Sei.”
“Salah besar, Reo. Salah besar,” begitu pikir Nagi. Apabila Reo memanggilnya seperti itu, Nagi mana bisa tahan. Reo—as clueless as he could be, terheran dengan diamnya Nagi ketika Ia memujinya. Biasanya, Nagi akan semakin lemas dan menggugam sesuatu seperti “yes, boss” ataupun sejenisnya.
“Sei?”
“…o tidak adil,” Reo mendengar Nagi menggumam. Reo mengernyitkan alisnya, tidak terlalu mendengar dan tidak paham.
“Apa, Sei?”
“Reo tidak adil,” kini suara Nagi sedikit lebih keras, cukup untuk Reo mendengarnya, dan membuat Reo semakin terheran. Reo tidak adil kenapa?
“Ada apa, Sei? Aku tidak adil dari man—ah!” perkataan Reo terputus ketika Ia merasa Nagi—yang simpulnya masih terbentuk, tiba-tiba bergerak cepat, mengacak-acak sperma yang ada di dalam dirinya.
Reo ingin bertanya mengapa tiba-tiba, tapi yang Reo bisa keluarkan hanyalah sederetan desahan “ah, ah, ah” karena sungguh—dirinya masih sensitif dengan lubangnya yang menampung penis besar Nagi serta spermanya, dan kini Nagi dengan seenaknya menggerakkan tanpa alasan. Ia hanya bisa mengalungkan tangannya pada leher Nagi, membiarkan Nagi bermain sesukanya, merasakan dirinya perlahan bangkit kembali, kabut nafsu menguasai tubuhnya.
“Reo tidak adil,” Nagi berkata kembali. Ia semakin mempercepat gerakannya, menghantam prostat Reo terus-menerus, membuat sperma yang semulanya tenang di dalam sana berlomba-lomba keluar karena tidak muat menampung keseluruhannya. Nagi melanjutkan, “Kalau Reo memanggilku anak baik, aku ngga bisa tahan, maunya masuk lagi. Aku jadi turned on.”
Reo mendengar seluruh perkataan Nagi, tapi Ia tidak bisa berbuat apapun selain terlonjak di atas kasur, mendesah, dan membiarkan Nagi melakukan apapun kepadanya. Reo merasa seluruh tubuhnya begitu sensitif, tiga kali lipat daripada biasanya, jantungnya berdebar begitu keras. Tubuhnya panas dan Ia merasa pusing, pusing atas seluruh perlakuan Nagi kepada tubuhnya seakan-akan Ia hanya seorang pemuas nafsu—dan entah kenapa, Reo tidak masalah dengan itu.
“Sei—Sei—Seishirou!” racaunya, memanggil nama Nagi berkali-kali, berharap panas tubuhnya sedikit berkurang, walau kenyataannya hal itu hanya menambah sensasi yang Ia rasakan, karena Nagi bergerak semakin cepat, tidak memberinya ampun sedikit pun.
Reo keluar untuk kedua kalinya. Tapi, Nagi tetap tidak berhenti, terus menggerakkan tubuhnya di tengah orgasme Reo, membuat Reo merasakan nikmat yang terlalu hingga terkesan menyakitnya. Prostat Reo terus-menerus diberi stimulasi, membuat Reo semakin meracau, semakin merasa melayang, hingga tanpa aba-aba, Reo mengetatkan jepitannya, mendongakkan kepalanya, mengeluarkan cairan yang tentunya bukan sperma. Ia tidak bersuara kali ini, tidak mendesah—atau dia tidak mendengar desahannya sendiri, Reo tidak tahu, karena Ia tidak bisa merasakan sensasi apapun selain diangkat menuju langit yang entah terasa begitu nikmat.
“Oh—Reo bisa squirt,” suara Nagi—yang sejak kapan menghentikan gerakannya, terdengar samar di telinganya yang berdengung kencang, tapi Ia bisa menangkap apa yang dimaksud alpha di atasnya ini.
Reo, seorang Mikage Reo, alpha dengan garis keturunan keluarga Mikage, baru saja mengalami squirting karena digagahi sampai bodoh oleh seorang alpha lain bernama Nagi Seishirou. Reo merasa malu, merasa dirinya tidak punya harga diri lagi. Walau, entah kenapa, di sisi lain, Ia merasa senang, karena hanya Nagi Seishirou yang membuatnya seperti ini.
Reo memeluk Nagi, berkata—entah karena begitu senang atau hanya mengikuti insting yang kini memenuhi seluruh otaknya, “Sei, ayo—ayo make love sama aku. Sei bisa buat aku jadi omega Sei sekarang juga, mark aku, Sei juga bisa hamilin aku sekarang jug—ah, Sei!”
Reo tidak perlu menyelesaikan seluruh perkataannya untuk membuat Nagi melanjutkan gerakannya, kali ini semakin cepat daripada tempo sebelum-sebelumnya. Nagi berkali-kali menekan titik prostat Reo secara keras, berusaha membuat Reo hilang akal hanya karena digagahi olehnya. Nagi memandang Reo di bawahnya, memandang ekspresi Reo yang terkendali penuh oleh hawa nafsu, berusaha menyimpannya dalam memori otaknya untuk diingat-ingat setiap hari.
Nagi merasa simpulnya kembali membesar, siap untuk memberi Reo tumpahan kedua darinya. Ia mempercepat gerakannya, mencari ruang feromon Reo. Tiga kali Nagi menggerakkan tubuhnya, sebelum Ia mengeluarkan sperma miliknya—sekali lagi, dengan mulut yang sudah menggigit kelenjar feromon Reo begitu dalam, hingga darah mengalir, meninggalkan mark yang menjadikan Reo sebagai mate-nya. Spermanya terus mengalir, entah kenapa, tidak ada niat untuk berhenti, lebih keras dan deras dibandingkan pelepasannya yang pertama, dan entah kenapa lebih hangat dan seperti terlapisi oleh sesuatu yang begitu panas. Ia melihat Reo, yang matanya bergulir ke atas dengan aliran air mata, dengan mulut menganga, melepaskan pelepasannya sendiri.
Nagi mencium kelenjar milik Reo, tersenyum kecil, “Reo looks so fucked out, cute.”
Nagi mengeluarkan miliknya satu jam kemudian, dengan Reo yang tiga puluh menit sebelumnya kembali dari langit—setelah merasakan orgasme dan proses marking yang begitu hebat. Reo belum tertidur hingga saat ini, sedari tadi menemani Nagi dalam diam. Nagi menatap Reo, melihat dari ujung kepala hingga ujung kaki, fokusnya tertuju pada perut Reo yang sedikit menggembung, akibat terlalu penuh, serta bagian bawahnya yang begitu becek karena pelepasannya sendiri dan sperma milik Nagi. Bagian kakinya masih tidak bisa diam, kadang kala mengejang karena intensitas seks yang begitu kuat sebelumnya.
Nagi baru saja akan mengambil handuk basah di meja ketika Ia mencium bau lavender yang begitu kuat dari Reo. Aneh, bau lavender Reo tidak biasanya tercium menyengat, biasanya hanya samar karena aroma mint lebih sering mendominasi dirinya.
“Se—sei,” suara Reo memecahkan pikirannya. Nagi memfokuskan pandangannya pada wajah Reo yang begitu merah, entah kenapa.
“Kenapa, Reo? Kok, mukamu merah? Ada yang sakit?” Nagi mendekatkan wajahnya pada wajah Reo yang makin merekah, matanya menghindari pandangan Nagi. Reo terlihat meneguk ludah, sebelum menarik Nagi dalam pelukan, membenamkan dirinya sendiri dalam bahu Nagi, berbisik pelan, dengan nada yang terdengar gugup,
“Aku ngeluarin slick, Sei.”
Nagi melongo, berkali-kali mengerjapkan mata kelabunya, sebelum Ia menyadari apa yang telah Ia lakukan pada Reo. Slick hanya dimiliki omega, dan Reo mengeluarkan slick. Otak Nagi telah menyambungkan seluruh benangnya, tapi entah kenapa, wajah dan mulutnya berkhianat, karena di mata Reo, Nagi hanya memasang ekspresi seperti orang dongo dan Ia tidak berkata apapun, selain satu kata,
“Hah?”
