Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2016-02-14
Words:
1,332
Chapters:
1/1
Comments:
7
Kudos:
64
Hits:
7,425

Hyung, Aku Takut

Summary:

Ketika Taehyung merindukan kata-kata itu dari Jungkook.

Notes:

Keju! Kentang keju goreng, Tulisan ini super 'apaan sih' banget. Maafkan ke-keju-an ini, maafkan juga kalau ada salah tata bahasa dan kehancuran diksi, tapi, selamat membaca! #sorrynotsorry

Selamat hari kasih sayang!

Work Text:

Pagi itu, Taehyung terbangun dalam pelukan Jungkook. Tidurnya semalam  begitu pulas hingga ia tidak menyadari saat Jungkook datang ke kamarnya. Tapi ia tidak terkejut saat mendapati Jungkook berada di kasurnya karena Jungkook memang sering ‘menyelinap’ ketika ia tertidur seperti ini.

Taehyung memandang wajah Jungkook yang masih terlelap. Rambut hitamnya terlihat berkilau memantulkan cahaya matahari pagi, tampak begitu kontras dengan kulit putih pucatnya yang terasa begitu dingin terutama di musim seperti ini. Tapi, nafas dan dengkuran kecilnya terasa begitu hangat saat uap itu menyentuh kulit Taehyung. Sejenak, Taehyung menikmati momen seperti ini, saat ketika ia terjaga dan Jungkook terlelap di sampingnya. Hanya saat mata tajam itu terlelap, Taehyung bisa berani memandang wajah itu dan memerhatikannya dalam-dalam, tanpa harus merasa kikuk. Taehyung menyingkirkan rambut yang menutup kening Jungook, memperlihatkan sepasang alis yang -hanya saat pemiliknya tertidur- tampak tidak berkerut. Jungkook terlihat begitu rileks dan tenang seolah semua kekhawatiran-kekhawatiran yang biasa ia simpan sendiri itu lenyap.

Taehyung memainkan jarinya di wajah yang terlelap itu. Menyentuh setiap lekuk wajah itu dengan pelan. Ia memang tidak ingin membangunkan Jungkook, tapi, Taehyung tahu pasti kalau saat Jungkook terlelap, ia tidak akan mudah dibangunkan, bahkan cenderung sulit. Meskipun saat Taehyung memainkan jarinya di atas wajah itu, menyentuh garis hidungnya yang tegas, atau bahkan sedikit menekannya hingga membuat Jungkook bergumam dalam tidurnya, Jungkook tidak akan semudah itu terbangun. Jari Taehyung terus berjalan di atas wajah pulas itu, menekan pelan pipinya, pipi yang dulu pernah begitu bulat. Selanjutnya, tangan Taehyung sampai pada bagian yang paling Taehyung sukai dari wajah pulas Jungkook: bibir lembutnya yang selalu terlihat seperti cemberut disaat ia tidur. Seolah ia selalu mengalami mimpi yang menyebalkan bahkan dalam tidurnya.

Dari segala yang melekat dalam tubuh Jungkook, Taehyung memang sangat menyukai bibir itu. Bibir yang sering melengkung manja dan begitu menggambarkan emosi Jungkook. Bibir itu pula yang sering menggumamkan pernyataan-pernyataan polos pada Taehyung. Taehyung masih ingat ketika Jungkook sering menceritakan kekhawatirannya dan meminta perlindungannya setiap ia takut akan sesuatu. Saat ia ketakutan, Jungkook selalu memainkan bibirnya dan itu adalah alasan kenapa Taehyung sangat menyukai bibir Jungkook.

 “hyung, aku takut”

“kenapa? Kamu melakukan kesalahan?”

“Hyung, Janji tidak akan bilang siapa-siapa?

“Iya.”

Orang tuaku bertengkar. Mereka akan bercerai. Aku tidak ingin kehilangan mereka. Aku takut.

Sejak mereka masih di sekolah dasar, Jungkook selalu datang pada Taehyung jika ia merasa takut akan sesuatu. Taehyung masih sangat mengingatnya, saat pertama kali Jungkook datang dan menyatakan ketakutannya pertama kali pada Taehyung. Taehyung masih mengingat bagaimana mata bulat besar itu terlihat berkaca-kaca saat berusaha membendung tangis yang bisa pecah kapan saja. Saat itu Taehyung tidak memberikan nasihat dan kata-kata manis untuk menenangkan Jungkook. Daripada menyuruhnya untuk kuat, Taehyung meminta Jungkook untuk menangis di pelukannya. Dan sejak saat itu, Jungkook kecil selalu datang pada Taehyung jika ia takut akan sesuatu. Jungkook menyukai saat-saat ketika tangan hangat Taehyung mengelus-elus punggung Jungkook, atau saat sebuah kecupan di kening atau di kepala Jungkook selalu berhasil membuat Jungkook merasa aman dan terlindungi.

 “Hyung, aku heran, kenapa orang tuaku harus bercerai? Bukannya mereka saling mencintai?”

“Ya, mereka pasti pernah saling mencintai, Jungkook.”

“Jadi, cinta itu tidak abadi?”

“Mmm...,  iya.”

“Jadi, suatu saat hyung akan meninggalkanku juga?”

“Tidak, aku tidak akan pergi.”

“Jangan pergi, hyung. Aku takut kalau hyung pergi.”

 

Tapi, waktu dapat mengubah segalanya, termasuk Jeon Jungkook. Waktu juga yang pada akhirnya membuat Jungkook berubah menjadi laki-laki yang kuat. Ia juga menjadi lebih kuat dan berani. Saat itulah, ia mulai berhenti menunjukkan ketakutannya di depan Taehyung. Hingga akhirnya, di sekolah akhir, Jungkook benar-benar melepaskan segala ketergantungannya pada apapun, termasuk pada Taehyung. Ia seolah telah membuang segala kapabelitasnya untuk takut akan sesuatu.

“Kamu merokok?”

“Ya, hanya saat aku ingin.”

“Kamu tidak takut ketahuan guru?”

“Kenapa? Aku melakukannya tidak di depan orang lain. Aku melakukannya hanya saat aku sendiri. Aku tidak menganggu siapa pun, Aku tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.”

“Tapi itu merugikan dirimu sendiri, Jungkook. Selain itu, kamu juga dibawah umur, dan -”

“Diam, Taehyung.”

 

Ada saat ketika Jungkook memberontak. Taehyung paham soal itu. Pertengkaran hebat terkadang terjadi dalam hubungan mereka. Saat-saat ketika Jungkook menolak diperlakukan seperti anak kecil, menolak perhatian-perhatian Taehyung dan menerjemahkan itu sebagai sesuatu yang mengekang. Taehyung paham soal itu. Ia berusaha memakluminya. Bahkan ketika Jungkook tidak memanggilnga hyung. Bahkan ketika Jungkook membentaknya, menepis tangannya yang berusaha menggapai Jungkook, menolak usahanya untuk membantu Jungkook agar ia bisa kembali bangkit. Taehyung bisa menerima penolakan itu karena Taehyung berpegangan pada sedikit harapan kalau Jungkook akan kembali dan bergantung padanya lagi.

“Maaf, hyung. Aku sangat putus asa.”

“Tidak apa-apa, Jungkook. Aku mengerti. Apa kamu takut akan sesuatu? Kamu bisa menceritakannya padaku, Jungkook.”

“Apa? Apa ada alasan bagiku untuk takut akan sesuatu? Tidak, hyung. Aku bukan anak kecil yang akan menangis saat aku ketakutan. Selain itu, aku bisa mengurus masalahku sendiri.”

“Tapi, ...”

“Tidak apa-apa, hyung. Aku bisa sendiri.”

Sejak itu, Jungkook berhenti menunjukan kelemahannya di hadapan Taehyung. Ia bukan lagi anak kecil yang berlari memeluk Taehyung sambil menangis karena ketakutan. Jungkook menjadi jauh lebih kuat dari itu. Pubertas membuat tubuh Jungkook lebih besar dari Taehyung. Jungkook menjadi lebih tinggi dan badannya lebih bidang dari Taehyung. Dan itu yang membuat Taehyung merasa kalah. Ia tidak bisa lagi menjadi sosok hyung yang kuat tempat Jungkook bergantung. Taehyung sedih karena ingin merasa dibutuhkan, terutama oleh Jungkook. Ia sangat ingin melindungi Jungkook, membela Jungkook. Taehyung ingin untuk selalu ada di sisi Jungkook.

***

Jungkook membuka matanya perlahan, tersenyum begitu melihat Taehyung masih berada dalam pelukannya.

“Kamu bangun?” bibir manis Jungkook tersenyum nakal, membuat Taehyung sedikit tersipu karena ia telah tertangkap basah memerhatikan wajah itu.

 “Ya, kalau ini bukan mimpi, berarti iya.” Taehyung menjawab sambil berusaha memposisikan dirinya untuk bangun, yang sia-sia karena Jungkook menahannya.

“Jangan pergi. Jadwalmu kosong hari ini.” Jungkook memeluk Taehyung dengan erat, mengabaikan protes Taehyung.

“Iya. Aku tahu, tapi aku butuh melakukan sesuatu daripada tidur seharian.”

“Kamu tahu? Tadi aku bermimpi soal masa lalu.” Jungkook mengabaikan protes Taehyung lagi.

“Benarkah? Bagian mana?”

“Aku dulu adalah seorang pecundang, iya kan? Selalu berlari sambil menangis kepadamu setiap aku merasa takut. Dan kamu selalu memeluku seperti ini karena dulu aku juga lebih kecil darimu.”

Taehyung terdiam.

“Tapi, sekarang aku lebih tinggi dan kuat. Kamu tidak bisa melindungiku lagi, hyung.” Jungkook melanjutkan, dan Taehyung merasa ada sesuatu yang pecah dalam dirinya. Pernyataan itu adalah pernyataan yang sangat Taehyung takutkan.

“Daripada dilindungi olehmu, ini saatnya aku yang melindungimu, hyung.” Jungkook tersenyum sambil memainkan rambut coklat lembut Taehyung.

“Bukan seperti itu, Jungkook. Ini bukan soal aku atau aku yang harus melindungi siapa. Ini soal kita yang harus melindungi satu sama lain.” Taehyung meluruskan.

 “Kamu selalu seperti itu. Kalau kamu terus begitu, kamu hanya akan membuatku lemah, hyung.” Jungkook berhenti sejenak, menatap Taehyung dengan mata tajamnya, lalu memposisikan tubuhnya agar lebih dekat dengan Taehyung. Sekarang wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Tidak ada celah untuk Taehyung agar bisa menghindar dari kedalaman mata Jungkook yang memandangnya dengan tajam. Seolah berusaha menyayat setiap lapisan pertahanan Taehyung. Meruntuhkan semua tembok pertahanan dirinya yang tersisa. Biasanya Taehyung selalu bisa memalingkan pandangan dari mata pekat itu. Tapi, kali ini ia membiarkan mata itu menguasainya, menyerahkan diri sepenuhnya pada pemilik mata tajam itu.

“Kamu selalu membiarkanku menjadi lemah, hyung. dan aku membencinya. Saat aku lemah, aku akan sangat takut...” Jungkook berhenti, memberikan Taehyung waktu untuk menerjemahkan setiap perkataannya. Mengelupas makna yang terkandung di dalamnya.

“Terutama saat ini, hyung, aku takut... aku sangat takut.”

 “Aku takut jika suatu hari, aku harus kehilanganmu.”

Kata-kata itu terasa seperti bara api panas yang membuat Taehyung meleleh. Taehyung memang terbiasa memeluk Jungkook setiap Jungkook mengutarakan ketakutan-ketakutannya. Tapi, kali ini, ketakutan yang baru saja Jungkook ucapkan membuatnya menyadari bahwa bahkan dirinya tidak bisa melawan ketakutan itu karena di dalam dirinya, Taehyung juga memiliki ketakutan yang sama. Ia tidak ingin membuat Jungkook kehilangan dirinya sama halnya dengan dirinya yang tidak ingin kehilangan Jungkook. Tapi, cinta tidak abadi, dan masa depan begitu jauh. Yang bisa Taehyung lakukan kala itu hanya mengecup bibir itu. Menelan ketakutan-ketakutan yang terucap dan mengubahnya menjadi janji-janji manis. Janji yang mungkin suatu saat akan teringkari. Tapi, masa bodoh soal waktu. Masa bodoh soal nanti. Saat itu lebih penting daripada kekhawatiran-kekhawatiran soal kelak.