Work Text:
Kalau mau hubungan langgeng, harus banyak-banyak memberi perhatian pada pasangan—satu diantaranya senang menggoda.
Melanie mengernyit saat membaca artikel di ponselnya. Dia membaca ini tanpa alasan, sekadar membunuh waktu demi menunggu sang suami datang. Namun, beberapa puluh menit telah berlalu membuatnya bosan. Dia tak mungkin pulang sendiri karena lelaki itu akan lebih banyak bicara (protes).
Tampak figur lelaki berambut abu kebiruan keluar dari gua—tempat proyeknya—melangkah menghampiri.
"Udah?" Ia bertanya. Terdapat jejak tanah cokelat pada kaos hitam sebagai dalaman dan kemeja putih sebagai luaran juga debu bekas tanah galian. Ah ya, lelaki ini seorang Arkeolog. Kebetulan juga ada pekerjaan penting yang memakan waktu hampir seminggu, tetapi belum juga rampung. Maka itu Melanie diajak untuk menemani prianya bekerja (sebagai penyemangat katanya), tetapi dia benar-benar tak kuasa menahan kantuk melanda. Dia tak melakukan apapun selain menunggu dan bermain ponsel sampai artikel entah apa ikut dibaca. Dia juga menjaga jarak pada rekan kerja sang suami yang kebanyakan laki-laki.
Shaw mengusap keringat di dahi guna lengan atas yang tertutup kemeja, meninggalkan jejak keringat dan tanah yang menempel dari wajah lelaki itu. Hasil hawa panas dan gerakan intens saat bekerja dilap paksa dengan baju, hal tersebut dilihat jelas oleh Melanie—yang lebih sering—melakukan pekerjaan rumah, satu diantaranya mencuci baju. Wanita itu mendecak, lantas berdiri dari kursi dan memegang kemeja yang dikenakan prianya.
"Aku udah bilang jangan lap pakai baju," protesnya. "Dilepas aja, biar kau cuma pakai kaos." Ia meminta. "Lagian kenapa kau malah pakai kemeja putih sih? Kemeja lain 'kan banyak."
"Ya gimana, waktu mau pergi dapatnya ini doang." Shaw menjawab, karena memang dia tak mau banyak merepotkan sang istri untuk mencari bajunya. "Udah biarin aja, nanti aku yang cuci kemejanya."
Melanie mendecak lagi. "Aku gak percaya," responnya. "Terakhir kau mengatakan itu, bajumu terendam tiga hari sampai kemejamu sobek."
"Enggak, ini beneran aku cuci." Shaw meyakinkan.
Akan tetapi, melihat bagaimana sang istri melotot—yang pasti akan lebih banyak kata-kata omelan meluncur setelahnya—membuat Shaw pasrah. Ia melepas kemejanya, dipegang Melanie. Lebih baik dia menurut daripada wanitanya banyak menguras energi untuk mengomel—karena tenaga itu bisa digunakan untuk hal lain. Rasa gemas tingkah Melanie membuat Shaw menyentil dahi sang istri.
"Sakit!" gerutunya, mengelus dahi dan menatap Shaw kesal sembari mengepal tangan.
Pria itu terkekeh, mengelus pipi Melanie. "Dikit lagi, bentar." Sekali lagi ia memberi keyakinan pada belahan jiwanya jika pekerjaannya akan selesai sebentar lagi—untuk hari ini.
"Jangan lama-lama."
Shaw menyatukan ibu jari dan telunjuk membentuk simbol "OK", lalu berjalan meninggalkan Melanie yang berada tenda. Senyum tipis terpatri di wajahnya, seakan mendapat energi secara tak langsung oleh sang wanita. Padahal mereka hanya bercengkrama dan tak lama, tetapi Shaw begitu semangat untuk menyelesaikannya cepat-cepat.
Hembusan napas kasar kasar. Dia harus menunggu lagi sampai prianya menyelesaikan pekerjaannya. Kalau tahu begini, Melanie akan membawa pekerjaannya yang belum dia selesaikan—mengoreksi tugas mahasiswanya—tetapi, karena dia diseret untuk menemani Shaw, maka dia harus memberi tuntutan pada pria tersebut untuk menemaninya begadang. Imbalan karena sudah menunggu lelaki itu bekerja sampai selesai.
Melanie melipat baju kotor Shaw, memasukkannya ke dalam kantong plastik dan menyimpannya di totebag. Jejak tanah tadi mengenai meja yang menjadi peneman kursinya duduk, maka dia mengeluarkan tisu basah dari dalam tas selempangnya untuk membersihkan meja. Namun, di saat dia berkemas, seorang wanita datang menghampiri.
"Loh, sekarang jadi tukang bersih-bersih?"
Tak direspon Melanie yang membersihkan mejanya, membuat si wanita geram dan tersenyum miring.
"Berapa gajimu di sini?"
"Haruskah aku membersihkan mulutmu juga?" Melanie bertanya sembari mengangkat tisu basah—bekas mengelap meja—di hadapan wanita itu, membuat lawannya mundur.
"Jauhi itu! Nanti wajahku kotor," ungkapnya. "Aku baru saja perawatan wajah seharga lima juta!"
"Masih jelek."
Si wanita kesal dan menghentakkan kaki. "Melanie! Kau benar-benar sok ya!" Ia menunjuk Melanie. "Suamimu hanya memegang proyek sementara di sini!"
"Lalu apa yang mau kau lakukan? Memberitahu suamimu?" tanyanya, menatap si wanita dari bawah ke atas. "Aku bingung dengan selera Pak John yang memilihmu."
Amarah si wanita semakin memuncak. Ia terus menghentak kaki dan mengayunkan kedua kepalan tangan ke udara. Melanie yang memandang itu mengernyit dahi, berpikir bahwa wanita dengan pakaian dress ketat merah selutut, mengenakan topi bundar senada dengan baju, dan meninting tas tangan merah mengkilap itu stres. Oh, jangan lupa dengan riasan berlebih apalagi warna bibirnya yang merah mencolok.
"Kau jangan bicara macam-macam ya!"
Melanie memutar kedua bola mata, berpindah meja dan menjauh dari wanita gila itu. Daripada meladeni orang tidak jelas, lebih baik dia menjauh. Tas ransel Shaw dan totebag ia tinting seorang diri, lalu diletakkannya di atas meja barunya.
Siapa sangka, wanita itu mengikutinya.
"Kau harus tahu, kalau aku adalah Nyonya besar Zhang! Nama keluargaku yaitu Zhou yang begitu berpengaruh, tak ada apa-apanya dengan keluargamu apalagi suamimu!" hunusnya, meletakkan satu tangan di dada. "Aku, Vivian Zhou, yang akan mengambil banyak keuntungan dari proyek ini."
Mendengar omong kosong wanita bernama Vivian itu membuat Melanie memijat dahi. Harusnya dia izin pulang saja dengan Shaw walau harus menggunakan ojek online, jika akhirnya dia harus menunggu sang suami dan bertemu orang gila.
Singkat cerita, Vivian adalah makhluk (Melanie tak sudi menyebutnya teman) yang sekelas dengan Melanie saat SMA. Percaya tidak percaya, seorang Melanie yang tak banyak teman dan tertutup, menjadi obsesi seorang Vivian Zhou. Memang saat masa sekolah Melanie pintar, jarang sekali dia keluar dari tiga besar. Hal itulah yang membuat Vivian tak suka dan entah bagaimana menyimpan dendam masa muda sampai saat ini.
Melanie sudah menghindar, jarang mendatangi reuni karena tak mau bertemu dengan dedemit di hadapan. Siapa sangka suami wanita itu juga seorang arkeolog. Entah kebetulan atau memang si Vivian memiliki obsesi tidak sehat dengannya.
Namun, hei, Melanie benar-benar tak mau berurusan dengan makhluk seperti ini. Dulu saja dia sering menghindar karena tahu sifat wanita itu dan Vivian beruntung jika di masa lalu Melanie tak bisa melawan. Dia selalu merasa menang ketika Melanie tak bisa menjawabnya dan semakin senang memijak (walau dia tetap tak bisa berkutik saat dibungkam denga prestasi). Sekarang, Melanie bersyukur sejak menjalin hubungan dan menikah dengan Shaw, entah bagaimana sifat lelaki itu terciprat ke dirinya. Sifat tak terlalu peduli dan tidak memikirkan hal tak penting menjadi perubahan pada sifatnya. Dia tak peduli dengan sikap Vivian, juga tak memikirkan apa pun yang dilakukan wanita itu. Melanie akan melawan karena dia tak suka diinjak seperti dulu..
Tentu ia tak merespon lagi, malah menguap karena Melanie benar-benar mengantuk. Namun, sikap tak acuh tersebut membuat Vivian geram, mendorong Melanie sampai meja yang ada di sampingnya ikut bergeser. Vivian terkejut karena tenaganya tak begitu kuat, tetapi mejanya bisa bergerak seperti ditolak penuh tenaga.
Mendengar ribut di tenda pun membuat Shaw langsung datang—melangkah cepat dan melihat istrinya memegang pinggang lalu berakting seperti kesakitan.
"Kau diapain?" Shaw bertanya, menatap Melanie khawatir. Ia memegang bahu sang istri, melihat wajah Melanie yang menahan rasa sakit, juga tangannya memegang bagian yang menjadi sumber sakitnya.
Ia menunjuk Vivian, menatap Shaw lemah. "Dia ... mendorongku."
Vivian pun panik ketika menerima tuduhan tersebut. "A-Aku tidak mendorongmu!"
"Kalau tidak, kenapa istriku sampai begini?" tanya sang pria, menatap Vivian geram. Dia tidak suka ketika ada orang yang menyakiti istrinya. Di saat yang sama, pria yang lebih rendah dari Shaw masuk ke tenda dan menghampiri Vivian. "Hei, ajari istrimu sopan santun,” Shaw berbicara spontan ketika melihat pria itu.
"Apa yang kau lakukan?" John bertanya pada sang istri, tetapi wanita itu menggeleng kuat.
"Aku tidak melakukan apapun!"
"Dia mendorongku ... sepertinya mengenai tulangku ...." Melanie mengeluh, menatap Shaw tak berdaya. Vivian tak terima dengan respon Melanie, menatap suaminya sendu.
"Aku—Aku memang mendorongnya tapi tidak sekuat itu!"
"Jadi, maksudmu istriku berbohong?" Shaw bertanya geram, tangannya terkepal dan hampir melangkah menuju Vivian.
Emosi prianya sedang tidak stabil karena lelah bekerja, ditambah keributan yang tak seharusnya terjadi sampai membuat Melanie celaka—apalagi pelakunya jelas di depan mata—membuat Shaw tak terima. Pria itu melangkah cepat dengan tangan terkepal kuat—tampak hendak menghajar si pria—atau mungkin Vivian. Melanie yang menyadari itu pun menahan tubuh sang pria, mencekal tangan sang suami dan menatapnya dengan mata berkaca.
"Mungkin aku yang salah ... aku selalu membuatnya marah, maka itu dia mendorongku begitu keras." Ia berucap pelan, tetapi perkataan tersebut semakin membuat Shaw marah—karena tidak boleh ada yang menyakiti istrinya. Namun, Melanie berusaha untuk tetap menenangkan prianya agar tidak meluapkan kekesalannya. Tangannya mengelus punggung tangan Shaw, menatapnya memohon. "Kita pulang saja ... dadaku sakit."
"Kau tidak mau menungguku menghajar perempuan ini?"
Melanie menggeleng. "Jangan kotori tanganmu menyentuh sampah, sayang."
"Apa maksud—" Vivian ingin membalas, tetapi Shaw menatapnya penuh ancaman dan menunjuknya—seperti memberi isyarat untuk tidak bersuara.
Mereka pun berjalan meninggalkan tenda, dengan Melanie yang menggandeng tangan Shaw dan bersandar di tubuhnya. Shaw masih merasa kesal, tetapi ia menuruti permintaan sang istri untuk pulang. Kalau dipikir lebih baik mengurus sang istri terlebih dulu.
Melanie menoleh ke belakang sejenak, tersenyum miring dan menoleh pada Vivian yang dimarahi suaminya. Hal itu membuatnya puas karena bisa melawannya walau tak lama. Lagipula, Melanie yang dulu bukan yang sekarang. Dia tidak akan diam ketika dirinya dikata-katai seperti tadi. Orang sepertinya pun tak kuasa mencari masalah, hidupnya sudah ribet dengan berbagai macam hal. Semoga saja ini pertemuannya yang terakhir, walau tak bisa dihindari jika dirinya akan bertemu lagi karena Shaw dan suami Vivian berada di lapangan kerja yang sama.
Yah, setidaknya dia lebih berani jika wanita itu muncul lagi di hadapannya.
Ia masuk mobil lebih dulu, lalu diikuti Shaw yang duduk di kursi supir dan meletakkan barang-barangnya di kursi belakang. Setelah meletakkan semua barang-barang mereka, pria itu menatap sang istri khawatir.
"Kita periksa ke rumah sakit dulu."
Gelengan tercipta. "Gak usah, gak papa," jawab Melanie. "Aku hanya ingin membuatnya bersalah, dan lagi sakitnya sudah mulai menghilang."
Shaw menghembus napas kasar. "Aku tak terpikir kalau kau akan menyelakakan dirimu sendiri demi orang gila itu, tapi kau yakin sudah membaik?"
Melanie mengangguk, tetapi ada rasa tak percaya di mata Shaw. Ia meminta sang wanita mengangkat sedikit kemejanya guna memastikan tidak ada luka atau memar. Mau tak mau Melanie mengiyakan, mengeluarkan kemeja yang dituck di dalam rok dan mengangkatnya. Ia tak bisa melihatnya dengan mudah, tetapi Shaw dapat menangkap ada memar biru tak begitu besar di bawah dada wanitanya.
"Ada memar."
"Ah ...," Wanita itu menjawab sambil mengangguk. "Lama-kelamaan juga hilang. Jangan khawatir, oke?" Ia meyakinkan Shaw sembari menurunkan kemejanya.
Pria itu mendecak. "Harusnya tadi kita langsung pulang aja."
"Udah gak papa, sayang," Melanie berucap sembari mengelus pipi Shaw dan tersenyum tipis. Tiba-tiba kecupan singkat mendarat di bibir Shaw, membuatnya terkejut.
"Wah ...."
Melanie terkekeh. "Tuh, aku beneran baik-baik aja."
Tak terima karena sang istri bergerak lebih dulu, Shaw menyondongkan tubuh dan mendekat pada wanitanya, menempel bibirnya dengan milik Melanie dan bermain guna lidahnya. Tangan mereka saling tertaut, bibir dan indera pengecap saling beradu. kedua mata terpejam—menikmati momen intimasi yang terjadi tanpa aba-aba.
Usai melepas ciuman, Melanie tertawa kecil dan menatap Shaw. Tampak di wajah lelaki itu sisa-sisa pasir yang melekat. Dia pun mengambil tisu basah, mengusap wajah Shaw dan membersihkannya. Sela-sela membersihkan wajah, wanita itu mengecup bibir suaminya lagi membuat Shaw mendesah.
"Hei, berhenti menggodaku," Shaw mengingatkan.
"Apa salahnya aku menggoda suamiku?"
Shaw memegang tangan Melanie sampai tisu basah dari genggaman wanita itu terlepas, satu tangan lainnya menarik tuas kursi mobil hingga kursi yang didudukinya menjauh dari setir. Ia menggendong dan memangku Melanie, membuat sang wanita menjerit lalu tertawa spontan.
"Tiba-tiba banget?!" Melanie merespon, menoleh pada Shaw sembari memukul dada prianya. "Mau ngapain?!"
"Menurutmu?" Lelaki itu menatapnya jahil, menyentuh tubuh sang istri yang masih berbalut kemeja biru tua. Punggung kecil Melanie pun kini berhadapan dengannya.
Refleks Melanie memukul tangan sang pria. "Ada memar di tubuhku, masa' kau mau melakukan itu di sini?!"
"Padahal niatnya aku hanya mau memelukmu, tapi kau sudah menyebutnya. Sayang juga kalau tidak dilakukan." Shaw menjawab—menggoda, membuat Melanie terkesiap.
"H-Hei! Ini masih di luar!"
"Apa salahnya?"
Terdengar suara klik, menjadi tanda bahwa semua pintu mobil tersebut telah dikunci. Shaw melingkar satu tangannya di pinggang Melanie, mendekatkan bibir di telinganya dan berbisik, "Aku melihatmu sangat seksi saat melawan orang gila itu." Satu tangannya yang bebas pun melepas kancing kemeja Melanie dari paling atas. "Sejak kapan istriku jadi begitu liar, hm?"
Kedua tangan Melanie menggenggam setir berbalut sarung kulit begitu kuat. Ia tak mampu menahan hasrat dari sentuhan yang diberikan dari sang pria. Ada nafsu membara ketika belaian lembut menemui tubuhnya.
"T-Tentu saja ... karena kau."
"Padahal banyak hal baik yang kulakukan," Kancing ketiga terlepas, tampak bra merah muda berenda menumpu kedua gundukan milik Melanie.
"Kau hanya meniru itu?"
Tangan Shaw yang tadinya melingkar di pinggang sang wanita kini beralih pada rok yang dikenakan Melanie, menggelitik paha berbalut kain putih tersebut, lalu menyusup ke selangka wanitanya. Rengkuhan spontan pun tercipta, membuat Shaw tersenyum miring.
Ia melepas kaos hitamnya, meninggalkan tubuh bagian atasnya tanpa balutan kain apapun. Melanie menoleh ke belakang—melihat dan menyadari dada dan perut kotak Shaw terekspos pun langsung menutupnya dengan tubuhnya yang masih mengenakan kemeja—walau kancingnya sudah dilepas Shaw.
"Kenapa bajumu kau lepas?!"
"Aku baru ingat kalau kaosku kotor," ujarnya, melirik Melanie yang mana kulit mereka saling bertemu--kecuali bagian dada karena Melanie memakai bra. Terulas seringai di wajah sang lelaki. "Kau beneran mau melakukannya ya?"
Melanie menggeleng kuat. "Kau tiba-tiba membuka bajumu, kalau orang lain lihat gimana?!"
"Ya, ya udah. Mereka juga maklum kalau kita melakukannya di mobil."
Wanita itu memukulnya, membuat Shaw tertawa puas. Namun, pukulan yang tak terasa apa-apa tidak membuat Shaw goyah. Tangannya melingkar lagi di pinggang Melanie, wajah mereka yang begitu dekat mencipta adu tatap. Tiba-tiba suara ketukan jendela dari kursi di samping Shaw membuat sang pria mendekap Melanie, lalu merapikan kemeja dan rok wanitanya—sementara agar tidak terlihat orang. Shaw membuka sedikit jendela di kursi penumpang, tampak seorang pria yang seumuran dengannya berdiri di sana. (Bukan John).
"Shaw, berkasmu ketinggalan."
"Ah, benar," responnya. "Masukkan dari celah jendela juga tak apa, bro."
"Mapnya lumayan tebal. Bagaimana?"
Shaw sempat menatap Melanie, jelas dia tak mau jika orang lain melihat istrinya apalagi dalam keadaan setengah telanjang seperti ini. Namun, keterbatasan kain yang membuatnya sulit untuk menutup tubuh Melanie pun membuatnya mendekap sang istri erat—mengunci wanitanya agar tidak ada sedikitpun celah intim terlihat. Ia lalu membuka jendela sampai setengah. Rekannya pun dapat melihat Shaw tanpa baju dan istrinya yang saat ini berada di pelukannya. Melanie tersenyum kikuk, tetapi Shaw menutup wajah sang wanita dengan tangannya. Satu tangan yang bebas pun mengambil map dari rekan kerjanya.
"Maaf sudah mengganggu waktu kencan kalian."
"Santai, kami juga baru mulai."
"Hei!" Melanie protes, memukul lengan sang pria. Shaw tertawa, lantas menutup jendela setelah rekannya pergi. Wajah memerah wanitanya begitu kentara, membuatnya mendecak. "Malu tahu!" Ia protes. "Makanya, kalau di luar itu susah!"
"Oke, kalau begitu kita lakukan di rumah saja." Ia mengecup bibir Melanie lalu menyeringai. "Jangan coba-coba lari, darling."
Entah bagaimana, Melanie menerapkan apa yang dibaca dari artikel saat menunggu Shaw tadi. Tak disangka hal tersebut malah membawanya terjebak.
