Work Text:
Suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangan. Seorang pegawai membuka dan menunjukkan wajahnya dari balik pintu.
“Permisi pak Abel, tukang service AC udah datang di depan pak,”
Abel segera bangkit dari kursinya. Ia kemudian mengikuti pegawainya menuju depan ruang kantor divisi untuk menemui seseorang yang sudah ia tunggu sejak tadi.
Di depan ruangan kantor, seorang laki-laki berotot, mengenakan pakaian luar biru tua dengan kaos hitam di dalamnya berdiri sambil memegang sekotak perkakas.
“Halo, selamat siang,” pegawai yang menemani Abel menyapa laki-laki itu lebih dulu.
Laki-laki itu pun berbalik. Pada pakaiannya, siapapun bisa melihat nama dan pekerjaan laki-laki itu. Tukang service AC yang bernama Dirga membalas sapaan dengan senyum ramah. Ia mengulurkan tangannya lebih dulu “Halo, saya Dirga yang bertugas memperbaiki AC kantor bapak,” katanya.
“Halo juga mas Dirga, saya Rizal dan ini manager saya Pak Abel,”
Mereka pun saling menjabat tangan satu sama lain. Ketika Abel menjabat tangan Dirga, ia pikir laki-laki itu akan memiliki tangan yang kasar, ternyata tidak.
“Boleh saya pastikan dulu keluhan yang bapak ajukan?” kata Dirga sambil mengeluarkan ponselnya dari saku setelah mereka berjabat tangan.
Saat pegawainya sedang sibuk berbicara dengan Dirga, Abel hanya diam memperhatikan mereka. Tidak, lebih tepatnya hanya memperhatikan Dirga. Ia pikir, Dirga tidak seperti tukang service AC yang ada dalam bayangannya. Laki-laki itu terlihat sopan, ramah, dan polos. Penampilannya pun cukup rapi untuk seorang tukang service AC . Rasa penasaran semakin memenuhi dirinya.
“Mas Dirga bisa cari saya kalo ada pertanyaan karena Pak Abel belum terlalu lancar bahasa indonesia-nya,”
Abel tersadar dari lamunanya, “tidak, saya sudah bisa bicara indonesia lebih baik. Kamu serahkan saja sama saya,”
Abel menatap pegawainya yang menatapnya khawatir. Ia pun menghela napas. Ia tahu apa yang pegawainya itu khawatirkan, tetapi Abel benar-benar sudah bisa berbahasa Indonesia lebih baik sekarang.
“Oh? Pak Abel engga bisa bahasa Indonesia? Kalau bahasa Inggris bisa? Saya pernah belajar bahasa Inggris di sekolah,” ucap Dirga yang membuat dua laki-laki di depannya menoleh ke arahnya.
“Baguslah. Kamu dengar sendiri, kan? Tidak akan ada masalah,”
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam kantor, menunjukkan Dirga dua AC yang harus dirinya perbaiki. AC itu berada tepat di dekat ruang kerja Abel dan di dalam ruang kerja Abel. Sudah dua hari ini memang kedua AC itu tidak berfungsi dengan baik, terlebih di ruangan Abel. Ia harus rela kerja hanya mengenakan kemeja yang beberapa jam setelahnya akan basah akibat keringat.
Dirga mulai memeriksa AC di dekat ruangan Abel. Ia memeriksanya sesuai keluhan yang diberikan padanya. Dengan cekatan, Dirga bekerja tanpa peduli para pegawai kantor yang masih bekerja di ruangan itu sesekali melirik ke arahnya.
Tidak terkecuali tatapan mata Abel yang selalu menatap Dirga dari belakang. Tatapan mata yang tajam dan menusuk itu mustahil bagi Dirga untuk tidak menyadarinya. Ia selalu merasa tatapan dari laki-laki asing berperawakan jangkung itu seperti seekor elang yang sedang memperhatikan gerak-gerik mangsanya. Bohong kalau Dirga tidak selalu merasa gugup saat melakukan pekerjaannya.
Sementara Abel yang tidak sadar tatapannya membuat Dirga tidak nyaman sedang memikirkan sesuatu. Ia sedang berpikir tentang keanehan yang terjadi pada dirinya. Sejak pertemuan pertamanya dengan Dirga, Abel tidak bisa melepaskan pandangannya dari laki-laki itu. Awalnya, Abel kira itu hanya bentuk rasa penasaran yang singkat terhadap orang asing. Namun, Abel semakin tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Dirga saat melihat laki-laki itu duduk di atas tangga portable .
Tidak ada yang salah, hanya saja Abel merasa bokong Dirga mencuri perhatiannya. Ia tidak memperhatikannya saat Dirga berdiri, tetapi saat laki-laki itu duduk, bokongnya terlihat bulat, sintal, dan besar. Abel belum pernah melihat bokong laki-laki yang seperti milik Dirga.
“Pak Abel, saya sudah selesai. AC selanjutnya di mana, pak?”
Abel kembali tersadar dari lamunannya. Kini Dirga sudah berdiri di hadapannya, hanya mengenakan kaos hitam sementara baju luarannya ia ikat pada pinggangnya. Abel meneguk ludahnya, dia engga sadar kan aku liatin terus dari tadi?
Abel menunjukkan AC di kantornya yang perlu Dirga perbaiki. Tanpa melakukan basa-basi, Dirga langsung mulai memperbaiki AC kantor Abel. Sedangkan Abel lagi-lagi memperhatikan Dirga bekerja dari meja kerjanya.
“Mas Dirga, benar? Sudah berapa lama kerja jadi tukang service ?”
Tiba-tiba Abel mengajak Dirga mengobrol. “Baru dua tahun pak,” balas Dirga.
“Hm…dulu pernah olahraga rutin? Badannya bagus,”
Dirga langsung membeku saat mendengar pujian tiba-tiba dari laki-laki bule di dekatnya itu. Ia hanya membalas dengan tawa pelan lalu berkata, “saya dulu kerja di gym pak,”
“Oh ya? Kenapa tidak lanjut saja?”
Sesaat setelah Dirga menjawab pertanyaan Abel, mereka mulai mengobrol tentang pekerjaan yang pernah mereka lakukan di masa lalu. Abel merasa ini sangat aneh. Ia biasanya tidak cepat akrab ketika mengobrol bersama orang asing, terlebih yang baru pertama kali ia temui. Namun, berbicara bersama Dirga rasanya menyenangkan dan membuatnya betah berceloteh ke sana ke mari.
Tidak terasa pekerjaan Dirga pun selesai. Ia langsung meminta Abel untuk mengecek semua hasil pekerjaannya. Ia menjelaskan semua perbaikan yang sudah ia lakukan hingga tanpa sadar kalau laki-laki bule di sampingnya hanya melihat wajah dan dadanya secara bergantian.
Benar, Abel tidak bisa fokus saat berdekatan dengan Dirga. Selain wajahnya yang manis, dadanya yang besar di balik kaos hitam yang ketat membuat Abel penasaran. Apa dada itu memang sebesar itu? Dada itu juga terlihat sangat empuk. Abel jadi sangat sangat sangat penasaran dengan dada milik Dirga.
“Gimana pak Abel? Apa masih ada keluhan lagi?” tanya Dirga yang berhasil kembali menyadarkan Abel dari lamunannya.
“Engga. Engga ada. Terima kasih mas Dirga. Pembayarannya nanti akan saya kirimkan segera,”
“Baik pak. Kalau begitu saya pamit dulu,”
“Tunggu!”
Abel menahan Dirga dengan menarik pergelangan tangan Dirga. Abel tidak tau kenapa ia melakukan ini. Ia secara spontan menggerakkan tangannya, berharap Dirga tidak segera pergi dari hadapannya. Namun, apa yang mau ia bicarakan pada laki-laki itu sekarang?
“Dirga,” Abel diam sejenak, “kamu mau langsung pulang?”
“Sepertinya saya mau istirahat sebentar di sekitar sini sebelum pulang pak,”
“Ah… begitu,” Abel melepaskan tangannya, “selamat menikmati waktu istirahat. Hati-hati di jalan,”
“I–iya pak Abel, terima kasih,”
Dengan ucapan terima kasih dari Dirga, pembicaraan mereka pun berakhir dan Abel melihat Dirga pergi dari kantornya.
Abel benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya. Hari ini ia menjadi bertingkah aneh ketika berkenalan dengan Dirga. Abel pun bahagia bukan main saat melihat Dirga yang ternyata masih ada di lantai kantornya berada. Laki-laki itu sedang merokok di balkon kantor di tengah siang bolong.
Abel segera merogoh kantongnya, mencari rokok dan pemantiknya. Ia pun ke balkon, menghampiri Dirga yang tidak melihat kedatangannya. Abel cukup terkejut saat mendekati Dirga, ternyata laki-laki itu sedang tidak mengenakan kaos hitamnya. Ia bisa melihat otot pergelangan tangan Dirga yang terbakar sinar matahari. Laki-laki itu terlihat semakin seksi di matanya.
“Halo Dirga, kamu belum pulang?”
Sapaan Abel membuat Dirga menoleh. Ia menatap laki-laki asing di sampingnya itu, kemudian melepaskan rokok dari mulutnya.
“H–halo pak Abel,” balas Dirga gugup.
Tidak pernah terpikirkan oleh Dirga kalau Abel akan menyapanya. Mereka baru saja kenal hari ini dan bertukar cerita sedikit, tetapi agaknya Abel terlihat senang saat bertemu dengannya.
“Saya ngerokok juga ya,” ucap Abel lalu mengeluarkan satu batang rokok dan pemantiknya.
Sepanjang mereka merokok bersama tidak ada yang mulai pembicaraan. Hanya ada suara embusan asap rokok yang keluar dari mulut dan hidung. Abel kembali melirik Dirga. Badan laki-laki itu benar-benar tipenya. Kalau ia bisa menilai dari 1-10 nilai tubuh Dirga 100/10 buatnya.
Abel mencoba memulai pembicaraan dengan Dirga, tentu saja tidak jauh dari percakapan tentang pekerjaan. Meski begitu, mereka ternyata bisa mempertahankan obrolan sampai satu batang rokok yang habis terbakar berganti menjadi batang rokok berikutnya, begitu seterusnya.
Abel menopangkan tangannya yang memegang rokok pada pagar, “saya pikir orang Indonesia tidak suka panas-panasan, tapi kamu malah buka bajumu siang-siang,” ucapnya.
Dirga membalasnya dengan tawa pelan, “kalau pakai baju malah lebih gerah pak,”
“Oh gitu,”
Abel kembali menghisap rokoknya sambil terus menatap tubuh Dirga yang ada di hadapannya. Terlalu fokusnya Abel pada tubuh Dirga—lebih tepatnya dadanya saja, membuatnya tidak menyadari ada angin kencang yang datang saat ia mengisap rokok. Alhasil bara dari rokok Abel berterbangan dan tidak sengaja mengenai dada Dirga.
“AH!” teriak Dirga saat merasa perih pada dadanya.
Abel tentu saja menjadi panik. Ia segera mematikan rokoknya, berulang kali meminta maaf kepada Dirga, dan menyentuh bagian yang terkena bara rokok secara spontan. Ia menatap bagian yang terkena bara rokok begitu serius dan terus bertanya kondisi Dirga. Tanpa sadar kedua tangan Abel juga ikut memegang dan mengusap dada Dirga.
“Sepertinya tidak akan membekas, tapi kelihatan merah. Dirga, apa benar kamu baik-baik saja? Saya bisa antar kamu ke rumah sakit bila perlu,” ucap Abel yang terdengar khawatir.
“Umm… engga apa pak Abel. Saya baik-baik aja kok–ahhh!”
Mereka berdua sama-sama terkejut saat Dirga melenguh ketika Abel menyentuh bagian yang memerah. Namun, bukannya berhenti menyentuh, Abel malah kembali menyentuh bagian dada Dirga yang terkena bara rokoknya. Kali ini sentuhannya pun berbeda. Ia menyentuh luka bakar itu menggunakan jari telunjuk yang sudah ia berikan air liur lebih dulu.
“Ahhh…”
Lenguhan yang keluar dari mulut Dirga membuat Abel semakin bersemangat. Tanpa sadar ia semakin mendekatkan wajahnya pada dada Dirga. Entah setan apa yang merasuki Abel siang itu, ia tiba-tiba mengeluarkan lidahnya dan menjilat luka bakar pada dada laki-laki di hadapannya.
“Mnnggh… pak Abel, t–tunggu, ahh… kenapa bapak jilat lukanya?”
Abel yang tersadar langsung mendongak, melihat wajah Dirga yang ternyata juga sedang menatap ke arahnya. Wajah manis yang merona, manik mata berwarna emas yang menatapnya sayu, dan bibir bawah yang digigit membuat sesuatu yang telah tertidur lama dalam diri Abel kembali bangkit. Seketika Abel ingin sekali menjamah laki-laki di depannya ini.
Ia pun berdiri di depan Dirga, merangkul pinggang laki-laki itu kemudian berbisik, “maaf saya telah lancang, Dirga. Tapi saya sungguh tertarik padamu,” Abel semakin mengeratkan rangkulannya membuat penisnya yang mulai ereksi dapat dirasakan oleh Dirga.
“Saya rasa kita butuh tempat yang aman untuk mengurus sesuatu di bawah sana,” ucap Abel sebelum akhirnya mereka pergi menuju tempat yang tidak banyak didatangi oleh banyak orang.
Abel langsung menutup pintu dan mengunci pintu toilet sesaat dirinya dan Dirga sampai di toilet kantor yang tidak pernah didatangi oleh orang lain. Tanpa basa-basi, Abel langsung menarik Dirga ke dalam dekapannya kemudian mencium bibir laki-laki itu. Abel bisa merasakan bibir Dirga yang terasa kasar dan pahit akibat rokok yang sebelumnya ia hisap. Tidak peduli dengan rasanya, Abel semakin dalam melumat bibir laki-laki dalam dekapannya itu.
Ia memojokkan Dirga agar laki-laki itu duduk di atas wastafel. Abel membelai dada Dirga dengan satu tangannya, lalu meremasnya sedikit sampai membuat Dirga melenguh dalam ciuman mereka.
“Mmpphh…puuaahh hhngghh pak Abel geli,”
Abel bisa merasakan pundaknya dicengkram kuat oleh Dirga saat jari-jari tangannya sedang mencubit puting sebelah kiri milik Dirga. Ia menatap laki-laki di depannya, Dirga sedang menutup kedua matanya seakan ia menikmati sentuhannya pada dada montok itu.
“Kamu suka saya mainin putingmu?” bisik Abel pada telinga Dirga.
Laki-laki itu tidak menjawab dengan mulutnya, ia hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Abel. Dengan begitu, Abel tidak lagi sungkan untuk menyentuh dada Dirga yang lain. Ia kembali menjilat luka bakar pada dada Dirga lalu berpindah menjilat puting Dirga yang mulai tegang.
“Mmnggh~! Pak Abel… tunggu, nenen saya jangan dikenyot nngghh…”
Tentu saja Abel tidak mendengarkan. Ia masih saja sibuk memilin dan mengisap kedua puting Dirga. Ia pun bisa merasakan kaki Dirga yang tidak bisa diam berkat rangsangan pada putingnya. Hal itu membuat Abel semakin memperpendek jarak mereka. Ia menempelkan penisnya yang sudah tegang di dalam celana pada selangkangan Dirga.
“Dirga, apa kamu pernah memasukanya di bawah sana?” tanya Abel berterus terang.
“A-anu… apa kita harus melakukannya sekarang?”
Abel menyunggingkan senyum di bibirnya, “kenapa? Apa ini pertama kalinya buat kamu? Saya akan pelan-pelan,”
“B-bukan itu, a-anu… saya…”
Belum sempat Dirga menyelesaikan ucapannya, tangan Abel sudah mulai meraba selangkangan Dirga. Ia membuka celana yang dikenakan Dirga, melepasnya lalu melemparnya sembarangan. Kini di hadapannya Dirga hanya mengenakan celana dalam berbentuk segitiga warna abu-abu. Tangannya mulai kembali meraba selangkangan Dirga hingga sampai pada lubang anal laki-laki itu Abel menyentuh sesuatu yang aneh.
Abel menyelinapkan tangannya ke dalam celana dalam Dirga, menjelajahi pantat sintal Dirga dan mendapati sebuah benda yang menghalangi lubang laki-laki itu. Abel pun menarik benda yang menghalanginya, membuat Dirga mengeluarkan erangan pelan dari bibirnya.
“Apa kamu selalu memakai butt plug kemanapun kamu pergi?” bisik Abel tepat di telinga Dirga.
“Nnghh…tidak mmngghh… cuma hari ini, mmnghh… cuma hari ini saya mau ada yang mengisi di bawah sana aahh… pak Abel,”
Benda yang menyumbat lubang anal Dirga pun telah keluar sempurna. Abel langsung melemparnya sembarangan, lalu menggantikannya dengan tiga jari tangannya pada lubang Dirga.
“Saya tidak tau kalau kamu secabul ini, Dirga,”
Merasa lubang Dirga sudah sangat longgar, Abel menyuruh Dirga menungging dan memamerkan lubang cabulnya. Tentu saja Dirga menurut. Dengan matanya, Dirga menglihat ke belakang dan memperhatikan Abel yang mengeluarkan penisnya dari celana. Penis Abel besar bukan main, Dirga pikir itu lebih mirip senjata mematikan daripada penis.
“Kamu bilang ingin ada yang mengisi lubang cabul ini seharian kan?” Abel menggosok-gosokkan kepala penisnya di depan lubang anal Dirga, “akan saya berikan apa yang kamu mau. Tentu saja, punya saya lebih nikmat daripada mainan bodohmu itu,”
Dengan perlahan Abel mendorong masuk penisnya ke dalam lubang Dirga. Ia bisa merasakan lubang yang ia pikir sudah longgar itu mencengkram kepala penisnya begitu erat.
“Santailah sedikit, Dirga,”
Abel memegang kedua dada kenyal Dirga kemudian meremasnya dan memilin kedua puting Dirga yang sudah sangat tegang. Tak lupa bibirnya menjamah tengkuk laki-laki yang ada dalam dekapannya membuat kulit Dirga yang berwarna sawo matang dipenuhi bekas cupang dimana-mana.
Perlahannya Abel memasukan penisnya membuat dirinya sendiri semakin tidak tahan. Ia menoleh ke bawah, hanya tinggal sedikit lagi penisnya akan masuk seutuhnya. Dalam satu hentakan, Abel mendorong kencang pinggulnya membuat Dirga tersentak ketika merasakan penis besar Abel masuk dan memenuhi lubangnya.
“Pak Abel… haa… tolong pelan-pelan,” pinta Dirga lirih.
Abel membenarkan posisinya, memegang pinggul Dirga dengan kedua tangannya yang besar. “Tentu saja,” Namun, ucapan dan perilakunya berbanding terbalik. Abel menghantam kencang lubang Dirga dengan penisnya tanpa ampun.
Ia tidak pernah bisa berhenti menggerakkan pinggulnya bergerak maju-mundur, memasuk-keluarkan penisnya pada lubang Dirga yang cabul. Ini pertama kali dalam hidupnya merasakan lubang yang sangat pintar. Setiap kali Abel menghantam penisnya ke dalam, dinding-dinding anal Dirga akan meremas miliknya seakan ingin melahap penisnya selamanya.
Abel mendekap tubuh Dirga, membuat tubuh laki-laki itu berdiri dalam dekapannya. Ia mengecup telinga dan pipi Dirga, meremas dada dan penisnya, dan menyebut nama Dirga di dalam bisikannya. Abel menatap refleksi mereka pada cermin toilet. Ia pikir, mereka berdua benar-benar sudah berantakan sekarang, terlebih Dirga yang wajahnya sudah penuh dengan keringat dan air mata. Abel merasa tampilan Dirga sangat seksi dan menggoda.
“Dirga, lihatlah ke depan,” ucap Abel yang langsung direspons oleh Dirga, “lihatlah betapa seksi dan cantiknya tubuhmu,” lanjut Abel sambil memperlihatkan kedua tangannya yang sedang meremas kedua dada Dirga yang sangat empuk.
“Hmmnghh… pak Abel…”
“Kamu menyukainya kan? Saat saya remas dadamu dan mendorong masuk penisku?” ucap Abel yang secara bersamaan melakukan apa yang baru saja ia katakan. Sementara Dirga hanya melenguh sambil menyebut nama Abel tanpa henti.
Abel tau kalau Dirga pun jadi semakin terangsang saat melihat refleksi dirinya sendiri terpampang di cermin, sebab Abel bisa merasakan penisnya dicengkram kuat oleh dinding lubang Dirga di bawah sana. Abel jadi tambah ingin menggoda Dirga yang sedang menjambak rambutnya. Ia menurunkan satu tangannya, menjelajahi tubuh indah Dirga kemudian berhenti tepat di pusar milik Dirga. Ia menggoda pusar Dirga dengan jari telunjuk, mengitari pusar membentuk lingkaran dan menekan-nekannya. Kemudian, jarinya berpindah meraba bagian bawah perut Dirga begitu cepat yang berhasil membuat Dirga mengerang sangat keras akibatnya.
Abel tidak ada hentinya menggoda Dirga yang sudah tidak karuan dalam dekapannya. Ia tetap mengocok penis Dirga meski tubuh laki-laki itu sudah bergetar dan mengeluarkan racauan tidak jelas berkat perilakunya.
“Bagaimana? Ini lebih enak daripada mainan konyolmu itu, kan?” tanya Abel pada Dirga yang kesadarannya sudah melayang entah kemana.
“Ahhh… pak Abel… berhenti jangan dikocok begitu hhnghh… pak Abel haaa… enak pak,” balas Dirga tak karuan.
“Jadi saya harus berhenti atau terus mengocok punyamu?” goda Abel.
“Berhenti mmnghh… aahhh tidak, gerakin lagi pak nnghh… penis bapak gerakin lagi haa… pak Abel, gerakin lagi pak,”
Abel menggigit bibirnya. Ia jadi makin bersemangat mendengar permintaan Dirga yang diluar dugaannya, laki-laki itu sudah membuatnya gila. Abel mendekap Dirga makin erat, memegangi dada Dirga dengan satu tangannya, lalu yang lain masih sibuk mengocok penis Dirga.
“Lihat baik-baik bagaimana kamu memohon untuk saya setubuhi, Dirga,” ucap Abel sebelum mengecup telinga Dirga, “Mengerang dan desahkan lah nama saya yang kencang, saya akan kabulkan semua permintaan tubuh cabulmu ini,”
Sedetik kemudian Abel langsung menghantam keras penisnya ke dalam lubang anal Dirga. Ia memasukkan miliknya begitu kasar dan mencoba mencari titik terdalam milik Dirga. Kedua tangannya pun ikut sibuk, satu tangan mengocok penis Dirga tanpa henti sementara yang lain memilin puting.
Dirga yang mendapatkan stimulasi tanpa henti pada bagian-bagian ternikmatnya tidak bisa berhenti memangil nama Abel dan meminta laki-laki itu menyetubuhinya semakin dalam. Ia pun tanpa sadar sudah menaikkan satu kakinya pada wastafel agar bisa menopang tubuhnya dan memudahkan Abel bergerak di bawah sana.
“Abel… aahh mmnghh pak Abel,” Dirga menjambak kuat rambut Abel tiap kali penis besar laki-laki itu mengenai titik nikmatnya.
Dirga menatap refleksi tubuhnya yang ada di cermin. Berantakan banget, cabul banget, aku kelihatan kayak lonte , batin Dirga tiap kali melihat penis Abel yang keluar masuk dari lubangnya. Ia menyentuh puting dadanya yang tidak disentuh oleh Abel, lalu ia pilin putingnya sendiri sekuat yang ia inginkan. Dirga merasa dirinya sudah hampir pencapai puncaknya.
“Apa kamu sudah mau keluar?” tanya Abel yang dibalas anggukan oleh Dirga, “baiklah, kita keluar bersama,”
Abel mengangkat paha kaki Dirga yang bertumpu di atas wastafel membuat Dirga harus mengganti tumpuannya dengan kedua tangannya di atas wastafel. Dengan begitu, Dirga bisa melihat semakin jelas dan dekat wajah erotisnya pada cermin. Ia tanpa sadar mengencangkan lubang analnya membuat Abel meringis dibuatnya.
Meskipun begitu, Abel tetap menghantam tanpa ampun lubang ketat milik Dirga. Tidak hanya kencang, tetapi gerakan pinggul Abel juga makin cepat dan tidak sabaran hingga menghantam berkali-kali titik nikmat Dirga.
“Pak Abel nnnggg aaa–abel mmngghh…”
“Dirga, keluarkan semuanya,” Abel semakin beringas menghantam lubang Dirga.
“Aaahh! Mmnggh… Abel, pak Abel aku mau keluar ngghh… pak Abel keluar di dalem, pak nnghh… keluar di dalem–mmngghh~!”
Dirga menyemburkan semua air maninya yang telah tertahan hingga membasahi wastafel dan lantai toilet. Abel juga begitu, menyemburkan air maninya di dalam lubang Dirga sesuai permintaan laki-laki itu.
“Haaa… penuh, pak Abel, perutku penuh peju punya pak Abel,” ucap Dirga yang masih berbicara tak karuan.
“Hahaha iya. Saya kan sudah janji penuhin lubang kamu,”
Abel mencium bibir Dirga begitu lembut tetapi juga dalam, menautkan lidahnya pada milik Dirga membuat mereka bertukar saliva pada saat yang sama. Ia lepaskan ciuman itu saat menyadari Dirga yang kesulitan bernapas. Ia menatap refleksi mereka di cermin, mereka lebih berantakan dari sebelumnya dan itu membuat Abel senang dan bangga.
Dengan perlahan Abel mengeluarkan penisnya dari lubang Dirga. Melihat cairan ejakulasinya ikut keluar bersamaan dengan penisnya membuat Abel sedikit kecewa. Namun, kekecewaan itu tidak berlangsung lama. Ia meminta Dirga menutupi lubangnya sendiri dengan jari-jari, sementara dirinya mengambil butt plug yang ia lemparkan ke lantai. Abel mencuci bersih butt plug milik Dirga, lalu memakaikannya kembali di lubang Dirga.
“Sekarang lubangmu akan selalu penuh sampai pulang ke rumah,”
Abel pun mengecup pipi dan bibir Dirga sambil mengelus-elus bibir anal Dirga yang sudah disumbat butt plug .
“Lain kali kalau kamu ingin lubang cabul itu terisi penuh, hubungi saya. Saya akan penuhi sebanyak yang kamu mau sampai yang kamu membuang mainan konyol ini,” ucap Abel sambil menekan butt plug Dirga dan mengecup bibirnya.
