Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-09-12
Words:
1,969
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
19
Hits:
625

Beg More, Kuro

Summary:

Kuro tidak pernah membayangkan betapa angan-angannya menjadi nyata. Namun, ia harus memohon untuk itu.

Notes:

Heyyy. I'm not really good at writing smut, but I do really open for thoughts and critics (the appropriate ones). Please share what you think about it and let me know ^^.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Yak, posenya tetap begitu, tahaaaannnn… oke!” Suara Kuro membahana di ruangan. Di depannya model berambut panjang dengan warna ombre itu berpose, menunjukkan produk yang akan segera diluncurkan. Secara keseluruhan, penampilannya sederhana dengan kemeja satin panjang berwarna netral dan celana satin sepaha, tata rias yang terlihat clean dan hanya menonjolkan bagian bibir yang terlihat moist —lembab—dan sehat. Konsep lazy dan comfy untuk iklan pelembab bibir kali ini benar-benar sempurna. Siapapun yang mengusulkan menggunakan Kozume Kenma sebagai model produk kali ini patut diberi bonus tahunan sedikit lebih besar. Kuro beberapa kali menyerukan agar Kozume mengganti pose, yang sangat cepat tanggap dan langsung berpose mengikuti arahan, membuat sesi fotografi sore itu berlangsung lebih cepat daripada yang dijadwalkan.

 

Aaaand, we’re done!!!” Seru Kuro. Ia segera mengecek beberapa kali foto-foto yang telah diambil selagi beberapa personal assistant Kozume dan beberapa orang lainnya dari tim tata rias bergerak menuju si model untuk memberikan minum, memperbaiki riasan, dan semacamnya. 

 

“Kerja bagus hari ini, Kozume. Untuk foto website , kita bisa pakai beberapa yang sudah diambil hari ini, jadi besok sisa foto produk untuk shades -nya ya.” 

 

Okay. Thanks , Kuroo-san.” Kozume mengangguk sambil mengangsurkan botol air minumnya ke Fukunaga, si personal assistant . Kozume meninggalkan Kuro, mengikuti sang manajer untuk berganti pakaian. Tak lama setelahnya, si Kepala Puding pamit meninggalkan lokasi pemotretan. 

 

Kuro juga segera menyimpuni barang-barangnya, “gue balik duluan ke studio, ya, Tora.” pamitnya pada Taketora, asisten fotografi sekaligus mentee- nya. “Aman. Gue bareng anak-anak ntar nyusul.” 

 

“Oke, sip. See you, ya.” Tora mengacungkan jempol.

 

Kuro segera menuju parkiran mobil. Tak perlu waktu lama untuk mencari mobilnya, satu-satunya CRV warna merah yang terparkir di basement. Kuro membuka pintu pengemudi lalu menumpahkan semua barang bawaannya disana, kecuali kamera DSLRnya. Sebelum menstarter mobil, Kuro mengecek kembali hasil photoshoot yang telah ia ambil hari ini. Kuro berlama-lama mengecek setiap foto. Matanya bolak-balik menelusuri wajah dan tubuh cowok yang berpose di depannya beberapa jam yang lalu. Ia tidak sedang mencari kesalahan atau hal-hal lain yang perlu disunting nantinya. Ia hanya menikmati garis wajah dan lekuk tubuh dari model kali ini. Kuro bukanlah laki-laki mata keranjang yang suka mengamati wajah memikat dan tubuh molek para model. Kalau bukan karena urusan pekerjaan, Kuro tidak bakal berlama-lama memelototi foto-foto para model yang telah ia ambil.

 

Tapi, Kozume Kenma berbeda. 

 

Kozume, yang jadi model karena tidak sengaja viral setelah beberapa street photografer memotretnya di jalanan Shinjuku. Style fashion- nya yang unik dan wajahnya yang androgini, membuat Kenma segera dihubungi beberapa agensi modelling untuk tandatangan kontrak. Pada akhirnya, si Kepala Puding menandatangani kontrak dengan agensi independen bernama Nekoma. Sudah sekitar dua tahunan ini nama Kozume Kenma malang melintang di dunia periklanan sebagai model produk kecantikan dan fesyen.

 

Tatapan Kuro tertuju pada salah satu foto yang ia ambil. Kozume yang cantik dan juga ganteng disaat yang bersamaan, dengan bibir basah yang tidak terlalu penuh, tapi juga tidak terlalu tipis, berwarna merah muda, terlihat alami dan berkilau karena gloss . Kuro berlama-lama melihat foto tersebut, membayangkan bagaimana rasanya bibir merah muda berkilau itu, bibir yang montok… 

 

Kuro yang seolah-olah tersihir, segera memindahkan memory card kameranya ke laptop, mengklik beberapa foto Kozume yang ia ambil tadi, lalu memperbesar fotonya hingga seluruh layar laptop Kuro penuh dengan wajah Kenm–Kozume. Kuro mengelus gundukan yang membuat celananya sempit sambil menatap foto Kozume. Tatapannya tertuju pada bibir merah basah yang menggoda itu. Tangannya yang seperti punya pikiran sendiri, membuka resleting celananya, menurunkan perlindungan terakhir dari kejantanannya, dan membebaskan batang penisnya yang sudah tegak dan berair. “Shit.” Gumam Kuro. Tangan kirinya naik turun memompa batang kejantanannya, sementara tangan kanannya memegang laptop dengan hati-hati. Imajinasi Kuro meliar. 

 

Ia membayangkan lidah Kozume yang lembut menjilat pucuk kejantanannya seperti ia menjilat es krim kesukaannya. Lidah Kozume kemudian naik turun menjilati batangnya juga, lalu menghisap pucuknya yang mulai mengeluarkan pre-cum. Beberapa kali Kozume mengecup ujungnya yang basah, lalu turun ke batangnya yang menegang, kemudian naik lagi lalu memasukkan puncak batangnya ke dalam mulutnya yang hangat. Tangan kanan Kozume akan meremas kedua zakarnya, sementara tangan kirinya akan memuaskan dirinya sendiri, entah mengocok batangnya juga atau melonggarkan lubang hangatnya. 

 

Semakin liar Kuro memompa kejantanannya, semakin liar bayangannya dengan Kozume Kenma. Kali ini ia membayangkan bagaimana kejantanannya dipompa oleh lubang hangat Kozume, semetara bibir si Kepala Puding yang penuh dan lembab itu ia lumat. Bayangan Kozume yang mendesah kehabisan napas dan keenakan bermain di kepala Kuro. Kenma akan memohon meminta pelepasan dengan mata yang sedikit berair dan wajah yang memerah hingga leher, ia akan memanggil nama Kuro di sela-sela suara desahannya. Sementara Kuro semakin mempercepat temponya, membuat Kenma mendesah makin keras dan liar, lalu saat puncaknya tiba, mereka berdua melepaskan hasrat yang sedari tadi mendesak ingin keluar. Cairan putih keduanya, berada di tempat yang berbeda. Milik Kenma berada di dada Kuro, sementara milik Kuro memenuhi lubang Kenma, membuatnya semakin panas dan panas. 

 

Kuro membuka matanya pasca pelepasan. Ia melihat cairan putih yang kini mengotori tangannya, laptopnya mulai masuk ke dalam sleep mode. Kuro mengatur nafasnya yang tidak beraturan sebelum ia mengangkat kepala dan meraih tisu yang berada di dasbor mobil. Tangan Kuro membeku, tatapannya terpaku, pada seseorang yang berdiri tidak jauh disana, di depan mobilnya. Walaupun orang tersebut memakai bucket hat berwarna hitam dan kacamata besar serta masker putih menutupi seluruh wajahnya, namun Kuro dapat dengan cepat mengenali orang tersebut. Siapa lagi yang memiliki rambut ombre panjang yang berada disini kecuali Kozume Kenma?

 

Kuro segera membersihkan dirinya, berharap kaca mobilnya cukup gelap supaya Kenma tidak menyaksikan perbuatannya. Entah mengapa Kuro merasa bersalah, seolah-olah ia telah melakukan sesuatu yang jahat. Kuro terlonjak ketika mendengar suara ketukan di kaca jendelanya. Rasa beku menjalari tangannya saat ia melihat Kozume Kenma lah yang mengetuk jendelanya. Ia menarik napas dalam-dalam sebanyak dua-tiga kali, sebelum menurunkan kaca jendelanya.

 

“Kuroo-san, bisa tolong antarkan aku pulang? Mobilku mendadak rusak, jadi dibawa mobil derek ke bengkel, Fukunaga lagi ngurusin itu.”

 

Kuro cengo. Otaknya mendadak kosong. Butuh waktu sepuluh detik hingga Kozume menjentikkan jarinya di hadapan Kuro, dan bergumam, “hey!”, baru Kuro bisa merespon. 

 

“Oh, iya, oke. Bisa kok. Haha. Sebutin aja alamatnya. Aku anterin. Eh, bentar.” Kuro buru-buru melemparkan semua barangnya di kursi penumpang ke kursi belakang, lalu ia keluar mobil dan membukakan pintu untuk si model fantasinya.

 

“Silakan,” gumam Kuro canggung, mempersilahkan Kozume menaiki CRV-nya.

 

Thanks.” Tukas Kozume pendek sambil naik ke mobil.

 

Kuro berusaha meredam debaran jantungnya sebelum ia kembali ke kursi pengemudi dan tancap gas, meninggalkan parkiran.  


 

Kejadiannya begitu cepat. 

 

Sesuai permintaan Kozume, ia mengantarkan si cowok pirang cantik itu ke apartemennya yang berlokasi sekitar 3 kilometer dari lokasi pemotretan. Kuro pikir Kozume bakal menyinggung ‘insiden kecil’ tadi, namun, Kozume cuek-cuek saja. Ia memainkan game sesuatu di ponselnya, sambil sesekali menanyai Kuro. Apakah dia suka main game, Kuro suka makan apa, sejak kapan Kuro bekerja sebagai fotografer, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak bersinggungan dengan masturbasi. Percakapan mereka lumayan mencairkan situasi hingga Kuro bisa dibilang merasa lega dan segera melupakan bahwa sekitar tiga puluh menit sebelumnya ia membayangkan ejakulasi di dalam Kozume Kenma.

 

Kozume yang berterima kasih mengundang Kuro untuk makan malam di apartemennya. Well, lebih tepatnya di restoran BBQ yang terletak di lantai dasar gedung apartemennya. Kuro hendak akan menolak ajakan tersebut dengan dalih tidak lapar, namun perutnya mengkhianatinya. Kozume tertawa—tawa pertamanya yang tulus hari itu, terdengar seperti lantunan musik di telinga Kuro—segera duduk di meja kosong terdekat dan memesan paket barbeque untuk dua orang. Kuro merasa ia tidak punya pilihan lain, ikut mendudukkan diri di hadapan Kozume. Mereka makan malam seperti biasa. Mereka mengobrol walau sesekali Kozume memainkan game -nya. “Aku tahu ini tidak sopan, tapi, ada quest yang menunggu untuk diselesaikan.” 

 

You do you , Kozume. Selama kau menanggapiku, aku tidak masalah.” Kuro menyesap bir dingin.

 

“Kenma, Kuro-san.”

 

“Hah?”

 

“Kenma aja.”

 

“Oh, okay.” Kuro terlihat bingung, tiba-tiba saja anak ini minta dipanggil dengan namanya. Kuro mencoba membaca wajah Kenma, tapi Kenma tidak berekspresi apapun kecuali beberapa kali mengernyit karena game -nya.

 

Saat makanan mereka habis, Kenma dan Kuro masih duduk disana selama beberapa menit, mengobrol tentang pekerjaan, hobi, dan lain-lain. Kuro sudah akan beranjak dan memanggil supir pengganti, namun ajakan Kenma menahannya. 

 

“Mau minum Whiskey di tempatku?”

 


 

 

Mereka tidak pernah minum whiskey.

 

Baru selangkah Kuro menjejakkan kaki di apartemen studio Kenma, si cowok pirang langsung mendekatinya, dan berbisik, “gimana rasanya,” dengan suara rendah dan serak, membuat bulu kuduk Kuro berdiri, “mencapai puncak sambil membayangkan aku ?”

 

Kuro tahu dia tahu, tidak, lebih tepatnya Kuro menduga . Dan dia tahu Kuro menduga ia tahu. Jadi segala macam meminta tumpangan, makan malam, dan ajakan minum itu hanyalah alasan agar Kuro bisa masuk dengan sukarela ke penghakiman Kenma.

 

“Kozume…” Kuro menyentuh bahu Kenma, membuat cowok itu melihat matanya. 

 

Kenma .”

 

“Baiklah, Kenma, sori. Aku tahu aku tidak sopan, dan ini masuk ke ranah kriminal. Aku minta maaf. Tapi aku berharap ini bisa selesai secara personal saja diantara kita, aku…”

 

“Kau… nggak mau,” Kenma mengambil tangan Kuro dan mengarahkannya ke pipinya, “membuat semua fantasi itu jadi nyata?”

 

Kuro bengong. Kenma memandang Kuro sungguh-sungguh. “Wow…”

 

Kejadiannya begitu cepat.

 

Saat Kenma mendekatkan kepalanya dengan bibir yang sedikit terbuka, Kuro segera menyambutnya dengan semangat. Ia melahap bibir itu dan mengecupnya beberapa kali. Kecupan tidak cukup, Kuro membujuk Kenma agar membuka mulutnya lebih lebar dan menghisap lidahnya habis-habisan. Mereka baru berhenti ketika kehabisan napas. 

 

Sambil meraup oksigen yang berada di ruangan, Kenma mengecup leher dan rahang Kuro. Kuro mendesah, “Ken… Please… ”. Kuro mengambil tangan Kenma yang melingkar di pinggangnya, mengarahkan tangan kecil dan halus itu ke gundukan yang berada diantara kedua kakinya. Kenma menyeringai, “ please apa? Bikin permohonan yang lengkap, dong.” Goda Kenma di telinga Kuro, dengan suaranya yang rendah dan serak, sambil mengelus-elus gundukan di bawah perut Kuro. Membuatnya seolah tersengat jutaan volt listrik.

 

“Sss… Suck me… ” Pinta Kuro, antara geli dan nikmat dengan elusan Kenma di tonjolannya dan kecupan ringan Kenma di sekitar leher dan dadanya. 

 

Beg more. ” Perintah Kenma. “ Memohon, Kuro. Bukan minta.”

 

Kenma menjauh dari Kuro, mundur dua langkah ke belakang, meninggalkan si pria jabrik yang merasa kehilangan. 

 

“Kenma, I’d do anything, so… please. Suck me. Suck my dick.”

 

Kenma menyeringai, lalu menunjuk sofa dengan kepalanya, “ As long as you suck my hole.”

 

Maka disanalah mereka, Kuro berbaring di atas sofa bed dengan Kenma yang berada diatasnya, menunjukkan gairah yang berwarna merah muda dan disumpal buttplug. Cairan lubrikasi menetes dari lubang tersebut, membuatnya berkali-kali lipat terlihat menggugah. ‘Selamat makan.’ Batin Kuro sebelum menjilati Kenma. Kenma pun mengecup dan menjilat pucuk kenikmatan Kuro yang bersimbah cairan precum. Kenma mengocok batang kejantanan itu dengan kedua tangannya. Mulutnya sesekali mengulum pucuk hingga ketengah, dan mengemut kedua zakar Kuro, seperti permen. Shit, Kenma Kozume ternyata lebih jago dari dugaan.

 

Kepala Kenma naik turun semakin cepat, seiring dengan Kuro semakin brutal mengobrak-abrik Kenma di dalam sana. Tidak hanya lidah, sesekali ia menggunakan jari dan buttplug berwarna merah itu, membuat Kenma menggelinjang nikmat, nyaris tidak mampu memompa Kuro. Masing-masing berlomba-lomba, ada taruhan tak terucap diantara mereka berdua, untuk membuat yang lain keluar duluan. Semakin brutal gerakan lidah Kuro di dalam Kenma, semakin cepat Kenma memompa Kuro dengan mulutnya. 

 

Dan Kuro lah yang keluar sebagai pemenang. 

 

Kenma melenguh panjang, dengan penis Kuro masih di dalam mulutnya, diiringi dengan putihnya yang keluar, mengotori dada pria di bawahnya. Tak lama setelah Kenma keluar, Kuro memuntahkan putihnya di dalam mulut Kenma. Barulah Kenma terengah mengeluarkan batang itu dari mulutnya.

 

Kuro menyeringai. Ia merasa menang banyak sekali malam ini. Kenma menjatuhkan diri ke samping. Terengah setelah pertarungan yang nikmat tadi. Baru Kenma akan terlelap, Kuro mendekatinya, menjilat sisa-sisa sperma di mulutnya, dan mengelus-elus pinggangnya. Membuat Kenma berjengit, seolah ribuan voltase listrik menyengatnya.

 

“Kyanma…” Panggil Kuro disela-sela jilatan dan kecupannya yang kini turun ke leher dan dada. Kenma mendesah, antara pasrah dan senang, mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

 

“Sekali lagi, plis.”

 

Dengan sisa-sisa tenaganya, Kenma menempatkan tangannya di dagu Kuro, mensejajarkan wajah pria itu dengan wajahnya. Kedua bola mata dengan pupil keemasan itu memancarkan kilat nakal dan nafsu, menantang pria di atasnya, membuat Kuroo Tetsurou menyeringai. 

 

Beg more, Kuro.”

 

 

 

 

 


Fin

cr: @kentangglowwing

Notes:

P.s: gue nulis ini di kantorrr aaaaaaaaa