Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-09-11
Words:
2,948
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
18
Bookmarks:
2
Hits:
232

Dua puluh

Summary:

Aku dan Rin sudah dua puluh tahun menikah. Hari ini, kami akan bercerai. /sunaosa, bl/

Work Text:


i.

Pernikahan kami tidak terbilang mewah.

Rin hanya mengundang orang tua dan adiknya, serta teman-teman setimnya, juga anggota berikut staf tim voli nasional.

Aku hanya mengundang Ibu dan Atsumu, dan teman-teman setim di Inarizaki.

Matanya yang sipit selalu melihat ke wajahku, tersenyum. Dia seperti begitu mengasihi wajah itu dan itulah yang semua orang lihat. Namun seperti yang kubilang, dia hanya mengasihi wajah itu.

Dia tidak mencintai Miya Osamu.

“Aku bersedia,” dan kepalaku tersentak. Jujur saja aku tidak peduli ucapan sumpah, ikatan janji, apa pun itu. Saat bibir Rin selesai mengata satu frasa sakral, aku merasa kakiku lemas seperti jeli.

Begitu, begitulah dia. Akan melakukan segala cara untuk bisa mencapai keinginannya.

Aku hanyalah orang bodoh yang dengan sukarela mengikuti permainannya.

“Aku bersedia.”


ii

Rin tertidur di sofa lagi.

Dia sangat jarang tidur di kamar kami. Latihan yang berat dan pertandingan-pertandingan yang selalu berpindah-pindah membuatnya terlalu lelah untuk berbaring di kasur yang nyaman. Kakinya sudah tak sanggup berjalan dan memutuskan untuk rebah di sofa.

Saat pertama kali membeli kasur untuk kamar utama, dia memilih untuk tidur di bagian kanan. Aku tak pernah keberatan. Tempat tidurku di rumah hanya kasur tingkat yang menyambung dengan punya Atsumu, memiliki kasur yang lebih besar dibagi dua rasanya juga sama saja.

Kini kasur itu jadi milikku sendiri. Aku mengisi bagian kirinya dengan boneka dan bantal yang banyak. Bermacam-macam bentuknya. Ada onigiri, takoyaki, telur mata sapi, bahkan okonomiyaki.

Aku tidur di bagian kanan kasur.

Berharap dengan tidur di sana, aku dapat merasakan Rin memelukku di malam hari.


iii

Restoranku hari ini ramai pembeli.

Mereka mengenaliku sebagai pemilik Onigiri Miya, juga pasangan dari Suna Rintarou. Walau dalam dokumen resmi, Rin menambahi namanya menjadi Suna Rintarou Miya.

Aku diminta untuk tetap menggunakan nama Miya. Aku sepakat, karena restoranku jadi tidak perlu mengganti nama, dan orang-orang tetap akan mengenaliku sebagai Miya Kembaran Atsumu dari MSBY Black Jackals.

Televisi di dalam restoran menampilkan pertandingan EJP Raijin melawan Sendai Frogs. Itu pertandingan uji coba untuk melihat performa Sendai Frogs agar bisa masuk Divisi 1.

Nama di punggung Rin tidak lagi Suna, melainkan Rintarou.

Aku tidak pernah menanyakan alasannya.


iv

Atsumu berkunjung ke rumah kami sebulan sekali.

Hari ini dia membawa anak laki-laki yang sepertinya baru belajar berjalan. Kembaranku itu menggendongnya dengan sayang sembari mengusap-usap pipinya pada pipi anak itu.

Saat kami masih kecil, dia selalu melakukannya padaku. Dia beralasan karena pipiku sangat gembul dan kenyal, mengadunya dengan pipinya sendiri sangat menyenangkan.

Sekarang dia memiliki pipi gembul dan kenyalnya sendiri agar bisa diusap-usap sepanjang hari. Atsumu mengadopsinya dari panti asuhan di Perancis dan memutuskan untuk membawanya ke Jepang.

Aku bahagia untuknya. Untuk keluarga kecilnya.


v

“Aku akan mengadopsi anak,” kalimatku bahkan bukan “ayo kita mengadopsi anak”, dan bukan pula sebuah permintaan. Aku hanya menyampaikan fakta kalau aku akan mengadopsi anak.

Rin biasanya tidak punya banyak waktu, dia akan mengalihkan topik yang kubicarakan jadi mengenai dirinya. Atau mengenai teman-teman volinya. Bahkan mengenai Atsumu.

Dia hanya akan terpaku dengan ponselnya dan cekikikan sendirian tanpa menatapku. Kemudian akan menjelaskan apa yang sedang dia lihat tanpa kutanya. Seolah dia melakukannya agar aku tidak marah karena mengabaikanku.

Tetapi kali ini dia memandang ke arah wajahku, mengabaikan ponselnya. Lalu bertanya dengan nada paling menghakimi yang pernah kudengar, “kau kesepian?”

Aku menyamarkan isak di antara bunyi cucian piring yang beradu.


vi

Anak yang kubawa pulang adalah gadis kecil bermata sayu. Dia selalu tampak kesepian dan pemalu. Teman bermainnya hanya boneka rubah yang sudah usang dan matanya lepas satu.

Gadis kecil itu sama sepertiku.

Usianya enam tahun saat itu, sama seperti usia pernikahanku.

Aku ingin menyelamatkannya, seperti dia telah menyelamatkan aku dari rasa kesepianku.


vii

Atsumu berkunjung sendirian pagi ini.

Dia menerima pesanku yang bilang akan menutup toko selama satu minggu. Belahan nyawaku penasaran, apakah aku akan pergi berlibur?

“Istirahat,” aku berkata sembari membawakannya onigiri isian salmon. Dia melahapnya selagi panas dengan bahagia.

Tatap bahagianya cuma sebentar, Atsumu segera memperhatikanku dan aku merasa seolah ditelanjangi. Kakak kembarku itu selalu peka akan hal yang salah dariku, dalam keadaan apa pun.

“Suna memperlakukanmu dengan baik?”

Dan dia selalu tepat sasaran. Aku benci itu.

“Ya, tentu,” bodoh, aku tahu mengulas senyum seperti itu akan selalu terlihat aneh. Mata orang lain pasti tertipu, tapi tidak dengan Atsumu.

“Berarti tidak,” dia memutuskan, aku menarik napas. Selalu saja memutuskan untukku bahkan tanpa persetujuanku. “Ceraikan saja dia, dia tidak mencintaimu.”

Aku membalikkan badanku ke bak cuci piring, memunggunginya.

“Aku tidak sebodoh itu untuk tidak menyadarinya.”


viii

Putriku bilang dia ingin sekali bermain voli seperti ayahnya.

Kami baru saja membongkar lemari dan mendapati album foto lamaku. Isinya foto-fotoku dan Atsumu sejak kami masih dalam kandungan hingga lulus SMA. Banyak sekali kenangan bersama Atsumu di dalamnya.

Aku merindukan kembaranku. Kuharap dia selalu berbahagia bersama anaknya. Bulan lalu saat berkunjung, dia bilang anaknya akan segera masuk taman kanak-kanak, dan putriku langsung menyukainya sebagaimana kakak kepada adiknya.

Aku dan Atsumu merasa tenang, kami selalu memiliki satu sama lain. Tak pernah terbayangkan apabila salah satu dari kami menghilang. Mungkin itu juga alasan Atsumu marah besar padaku saat aku bilang kalau aku akan berhenti dari dunia voli.

Atsumu tidak ingin kehilanganku.

Aku pun tak ingin kehilangan dia.

Kami bahagia karena anak-anak kami juga akan selalu memiliki.


ix

Olimpiade hanya berlangsung dua minggu.

Tetapi Rin tidak kembali ke rumah selama dua bulan.

Aku kebingungan mencari alasan yang tepat kepada putriku, mengapa Rin tidak pernah pulang. Dia hanya akan berhenti bertanya ketika aku sudah menghela napas sambil membawakannya onigiri isi tuna mayones.

Aku telah memintanya berulang kali untuk selalu memanggil Rin dengan ayah, sama sepertiku. Putriku mengerjap dengan wajahnya yang polos sambil mengunyah onigirinya.

“Rin tidak pernah berusaha bersikap seperti ayahku. Jadi aku tidak bisa memanggilnya ayah. Itu akan membuatnya tidak nyaman.”


x

Suatu malam, Rin pulang dalam keadaan mabuk berat.

Dia baru mendapat kabar kalau Atsumu telah menikah dengan seseorang dan sudah berlangsung selama lima tahun. Rin patah hati, melangkah menuju bar, minum beberapa gelas whiskey dan kembali ke rumah dengan bau alkohol di sekujur tubuhnya.

Dia terus mengatakan sesuatu seperti pengkhianat, pembohong, dan semacamnya. Dia juga berusaha memukulku saat mendapati aku telah mengetahui pernikahan Atsumu sejak awal. Aku balas memukulnya hingga dia pingsan.

Kubawa dia menuju kamar kami yang gelap dan dingin. Untungnya putriku tidak terbangun akan suara pukulanku yang menghantam rahang Rin.

Kurasa wajar kalau aku mengetahui segalanya soal Atsumu. Bagaimanapun, aku belahan dirinya. Tidak ada satu hal pun tentang Atsumu yang tidak aku ketahui.

Rin terlalu mempedulikan itu.


xi

Rin menjadi lebih pendiam saat mendapati lebam di pipinya. Mungkin dia menyadari kalau aku menonjoknya saat mabuk. Putriku sarapan dengan mata tak lepas dari lebam di wajah Rin, penasaran apa yang membuatnya begitu.

“Osamu, aku — ”

“Kau pasti kecewa,” aku memotongnya. Rasa teh di cawanku seperti kelat yang tak punya kesan apa pun. “Atsumu memiliki orang lain, dan tidak memberitahumu. Kalian sudah berteman sejak SMA.”

Aku melirik mata Rin yang sipit, melebar sebentar sebelum kembali diam. Ada napas yang ia tahan saat mendengar kalimatku. Aku melanjutkan, “sangat menyakitkan melihat orang yang kaucinta memilih orang lain.”

Lalu Rin berdiri dari kursinya, mengagetkan putriku. Tak pernah kulihat wajahnya jadi seperti itu. “Kau — ”

“Sejak awal, Rin.”

Putriku memutuskan untuk lari, dia bertindak sungguh cerdas di usianya yang belum remaja. Aku melahap roti yang kusiapkan dengan sungguh-sungguh pagi itu seakan tidak terjadi apa-apa.

“Aku tahu sejak awal.”


xii

Terlepas dari apa pun yang terjadi tahun lalu, Rin tetap memperlakukanku dengan baik.

Baik di sini adalah seperti biasa, seperti saat dia tidak mempedulikanku sejak awal. Pulang ketika dia ingin, tidur di sofa yang dingin, memakan makananku yang dihangatkan di microwave.

Itu keadaan kami yang biasa. Tidak ada hal yang terjadi selain itu.

Atsumu tetap berkunjung sebulan sekali seperti biasa. Aku adalah orang yang akan menahannya saat dia berkomentar, “cerai saja” atau “dia tidak mencintaimu”.

Aku paham dia berkata begitu karena mengkhawatirkan aku. Atsumu tetap bersikap seperti kakak walau kami kembar.

Seandainya menceraikan Rin lebih mudah daripada mencintainya.


xiii

Sepertinya malam itu Rin tidak sadar.

Dia sudah terkapar di kasur saat aku pulang. Pemandangan yang sangat langka mendapati dia menuju tempat tidur kami saat dia terlalu lelah.

Aku memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian, lalu tidur di depan Rin. Menggenggam tangannya sambil merasakan napasnya di dahiku. Kasur bagianku terasa terlalu sempit, namun tak apa, dengan begitu aku bisa lebih dekat dengan Rin.

Tampaknya dia terlalu lelah untuk bangun dan pergi dari sana. Aku pun terlalu nyaman untuk meninggalkan Rin.

Aku sangat merindukan wajah Rin. Suaranya. Rambutnya. Tatap matanya. Selalu kuharap semuanya ditujukan untukku, menjadi milikku. Tanpa ada yang perlu mengganggu.

Dalam mimpiku, Rin mencintaiku.

Masih kurasakan hangat tangan Rin yang kugenggam saat tidur. Dia sudah tidak ada saat aku terbangun.


xiv

Aku menonton pertandingan Rin bersama putriku dan Akaashi – sekarang Bokuto – Keiji, mantan setter Fukurodani. Dia menggendong bayi yang memiliki rambut serupa dengan Bokuto. Tertidur lelap di dadanya.

“Anakmu?” kutanya dia, Keiji mengangguk dengan wajah paling bahagia yang pernah kutemui. “Dia mirip Bokuto. Bagaimana — ?”

Aku sengaja tidak menyelesaikan kalimatku, bingung seperti apa cara menanyakannya. Tapi Akaashi Keiji selalu menjadi orang yang cerdas sejak dulu. “Kami menggunakan jasa ibu pengganti.”

Jasa ibu pengganti cukup populer belakangan ini. Pasangan yang tidak bisa punya anak dapat memakai jasa seorang wanita untuk meminjam rahimnya, lalu mengandung dan melahirkan anak untuk mereka.

Aku tak menyangka keluarga Bokuto akan menggunakannya. Dari pengamatanku, Bokuto sangat menyayangi Keiji. Namun yang keluar dari bibirku hanya seutas, “kenapa?”

Keiji tersenyum sangat tipis. Matanya lelah dan wajahnya terlihat kebas karena letih. Bibirnya kering, seperti ia tak tidur berhari-hari dan tak makan karenanya.

“Kou san ingin punya anak,” kemudian mata sendu di balik kacamata itu mencari-cari Bokuto, ada helaan napas lega saat dia sudah menemukannya di antara belasan pemain yang sedang bersiap-siap.

“Selagi tubuh dan hatiku mampu, akan kukabulkan segala keinginannya.”

Tapi di mataku, tubuh dan hati Keiji sudah tidak bisa dibilang mampu lagi.


xv

Rin banyak berdiam di rumah akhir-akhir ini. Ada pembicaraan mengenai kariernya yang akan menanjak dan pindah dari EJP, bukan tidak mungkin ke luar negeri. Aku mendengarnya dari berita, dan kutanyakan pada Rin langsung.

“Ada, tapi kurasa tidak akan kuambil,” ia mengata sambil terduduk di sofa. Putriku belum pulang dari sekolah, sehingga sofa yang nyaman itu milik Rin seutuhnya sebelum jam tidur tiba.

Ingin kutanya mengapa, tapi bibirku terdiam. Kurasa apa pun alasannya, tidak ada hubungannya denganku. Tetapi Rin justru memutar tubuhnya padaku lalu memandangku. “Osamu.”

Tidak pernah kudengar dia memanggilku seperti itu. Suaranya rendah tapi ringan, seperti kapas yang terbang di awan-awan. Aku berusaha untuk tidak mengulang-ulang suara itu di dalam kepalaku.

Suara Rin seakan mengajakku bersamanya, membuatku jatuh. Membuatku ingin berharap dirinya akan melihatku barang sebentar. Tidak ada siapa pun selain kami, dan seperti itulah Rin yang aku mau.

“Kalau kubilang aku ingin menanjak karierku di luar negeri bersama Atsumu, apa kau akan mengizinkan?”

Ah, dia selalu, akan selalu seperti itu.

Melayangkan aku ke balik awan, lalu menghempasku kuat-kuat ke dasar neraka tanpa belas kasih.


xvi

Kemudian Rin pergi mengikuti pertandingan-pertandingan lagi. Terkadang begitu jauh, kadang dapat ditempuh satu jalur kereta dari rumah.

Dia tidak pernah membahas tentang kariernya lagi. Sejujurnya aku pun tidak begitu cemas akan hal itu, Rin bebas menjangkau kariernya kemana pun dia mau. Keputusan apa pun yang akan dia buat, bagiku, tidak begitu berpengaruh dengan hubungan kami.

Dia akan tetap tak acuh, dan aku akan tetap berharap. Dia akan tetap terlelap di sofa, dan aku akan tetap menungguinya pulang. Dia akan tetap mengasihi Atsumu, dan aku akan tetap mencintainya.


xvii

Pada akhirnya Rin tidak pergi ke mana pun.

Dia di sini, bersama EJP, tetap di Jepang dan tinggal di Osaka bersamaku dan putriku. Rin memutuskan untuk tidak berlaga di luar negeri seperti yang didedas-desuskan orang, dia tidak berangkat bersama Atsumu sekalipun dia telah meminta izin padaku.

Hatiku sesak akan tanda tanya. Aku tak ingin mendengar jawaban apa pun. Semua harap dan permohonan yang kulancar di dalam hatiku, tidak pernah kuutarakan. Tanganku secara refleks tidak lagi berusaha menggapai.

Aku takut.

“Kenapa?” itu suara putriku yang sedatar air tenang. Rin melahap nasinya, menatapku dengan matanya yang sipit dan penasaran.

“Atsumu tidak bisa pergi karena dia tidak mau jauh darimu. Aku pun juga.”


xviii

Putriku akan masuk kuliah tahun ini.

Rumahku akan jadi milikku sendiri. Tidak ada orang lain yang akan menempatinya kecuali aku. Terkadang Atsumu, kalau dia kangen dan memutuskan menginap, atau kalau dia sedang bertengkar dengan pasangannya, yang sebagian besar pertengkaran pasti selalu dimulai dari kembaranku itu.

Terkadang Rin, walau dalam sebulan, bisa dihitung jari berapa hari dia akan tidur di rumah.

“Kau tidak lelah, Samu?” suatu saat Atsumu berceloteh, aku tersenyum renyah mendapati dia masih menggunakan panggilan kecil kami. “Tak ada perubahaan sama sekali dengan sikap Suna, dan dirimu. Melihatmu membuatku sakit.”

Aku menggenggam topi hitam dengan lambang restoranku, sebentar lagi waktunya buka. Belasan tahun sudah aku menggeluti bidang ini, hingga tanganku sudah kebas dengan nasi dan kapalan karena garam.

“Kau khawatir, Tsumu?”

“Ya, jelas!” dia bangkit dari sofanya, menatapku seolah perkataanku barusan sama sekali bukan hal yang bisa seorang manusia ucapkan. “Aku tahu kau sudah dewasa dan apa pun keputusanmu, aku tak berhak menentukan. Tapi kumohon… kejarlah bahagiamu sendiri.”

Bahagiaku?

Aku bahkan tak tahu bahagiaku dapat berbentuk seperti apa.


xix

Rin memutuskan untuk pensiun.

Dia sudah menceburkan diri dalam dunia voli profesional selama dua puluh tahun. Setelahnya, dia bilang akan menjadi pelatih atau manajer entah di mana.

Aku tidak menanyakan kemana dia akan pergi, di mana saja dia sudah mendaftar, atau apa rencananya secara detail. Dia bebas memutuskan, dan aku akan tetap menunggu.

Rin akan menghabiskan waktu bersamaku lebih banyak dari sebelumnya. Karena tak akan ada lagi pertandingan-pertandingan yang berpindah-pindah dari kota ke kota. Tidak akan ada lagi perjalanan ke luar negeri untuk mengikuti olimpiade.

Aku begitu rindu, begitu ingin menghabiskan waktu bersamanya. Dahulu sekali di altar, dia memegang tanganku dengan gugup. Kali ini, maukah dia menggenggam tanganku dengan penuh cinta?

Aku kira begitu.

Nyatanya, sekali lagi aku dijatuhkan dari langit tertinggi.

Rin melakukan segala cara yang dia bisa agar tidak bertemu denganku. Baik di rumah maupun di restoranku..

Aku memutuskan untuk tidak menanyakan apa pun.


xx

Aku menyerah.

Di atas meja, sudah kusiapkan selembar surat cerai, Rin hanya perlu menandatanganinya.

Dia menemukan benda itu saat akan berangkat menuju lapangan tim tempatnya menjadi pelatih utama. Tidak untuk bekerja, hanya berlatih santai saja, karena jabatannya memberikan keuntungan untuk memakai lapangan dengan bebas.

Terdiam, Rin mencari-cari keberadaanku. Aku melihatnya dari pintu dapur, meletakkan celemek di atas kulkas lalu menyambar sebuah pulpen agar dia bisa segera menyelesaikannya.

“Kau tidak pernah menyerahkannya, jadi akan kuserahkan duluan,” karena wajahnya menyiratkan kata kenapa tanpa suara. “Apa kau heran kenapa aku tak menyerahkannya sejak awal?”

Kubawa tubuhku duduk di atas sofa, tempatnya selalu tidur selama dia tinggal di rumah ini. Aku mengisyaratkan dia untuk duduk bersamaku.

Dapat kulihat dadanya naik-turun, nampaknya terkejut dan kesulitan bernapas. Melihat reaksinya yang seperti itu, justru sekarang aku yang keheranan. Sekaligus khawatir, apa yang terjadi padanya?

“Rin — ”

“Osamu!” dia memotong panggilanku, mencengkeram kedua bahuku dengan tangannya yang menebal karena selalu memukul bola. “Aku tahu aku tak berhak menanyakan ini, tapi… kenapa sekarang? Kenapa kau tak memukulku lalu menceraikan aku sejak dulu?”

Jujur saja aku tak menyangka bahwa Rin selama ini menyadari tindakannya padaku adalah kesalahan. Namun tak ada siapa pun di antara kami yang memutuskan kalau tindakan itu tidak bisa dibenarkan.

Yang aku bisa bayangkan hanya hidup Rin yang akan tetap sama setelah ini, dan hidupku yang akan berbeda sama sekali. Tak pernah kubayangkan hidupku tanpa adanya Rin di dalamnya. Sementara Rin, aku yakin dia mengharapkannya.

Maka aku menarik napas, berusaha membuangnya pelan-pelan di balik sesak yang terasa seperti disayat dari dalam. “Kau pasti ingin bersama dengan orang yang kaucinta, benar? Apa pun bentuknya, tak masalah walaupun hanya separuh darinya.

“Aku pun sama, Rin. Aku ingin hidup bersama orang yang kucintai, sembari menunggu.”

Ada jeda yang panjang sekali, tak satu pun dari kami yang mengeluarkan suara. Rumah itu terasa begitu sunyi yang berbeda dari biasanya. Sunyi yang menyesakkan. Diam yang memilukan. Hening yang menyakitkan.

Tak berani kutatap matanya, walau aku rasa harus. Aku takut akan kembali jatuh, dan goyah. Berakhir di neraka bernama cinta yang sehitam tinta, tidak akan pernah bersambut.

“Aku menunggu saat aku sudah kehabisan cinta yang kumiliki untukmu. Ketika cinta itu benar-benar habis, aku akan melepasmu seutuhnya.”

Aku tahu dia tak melepas pandangnya dariku, walau yang aku lihat adalah apa pun selain wajahnya. Aku paham dia terlihat kecewa, dan sedih. Tetapi kurasa inilah akhirnya.

Suaraku bergetar, dan aku tak sanggup memikirkan apa yang akan keluar dari mulutku. Mataku basah akan air mata yang tanpa kusadari turun begitu deras di pipiku.

“Setelah dua puluh tahun, Rin… Cinta itu tidak pernah habis… Bahkan masih banyak sekali yang ingin kuberikan padamu…”

Aku memutuskan untuk menyerah dari Rin.

Cintaku kupaksa habis, dan akan kukubur begitu dalam di benakku selamanya.

Rin tidak kuizinkan melakukan apa pun. Meskipun aku tahu dia juga tidak akan melakukan apa pun.

Hari ini, semua suratan kisah diantara kami sudah selesai.


haikyu dan segala karakter beserta dunianya sepenuhnya milik furudate haruichi


Haloo

Terima kasih sudah membaca sampai akhir

Jangan amukin saya dong saya cinta Miya Osamu banyak banyaakkkk ❤️❤️❤️

Sampai jumpa di karya selanjutnyaa


.

.

.


0

Bagiku Osamu istimewa.

Dia manis dan baik, hatinya bersih dan dewasa. Dia terlihat seperti kebalikan dari Atsumu, namun mereka sebenarnya tidak begitu beda jauh.

Maka, saat aku menjawab iya saat dia mengajakku hidup bersama, kuharap bayangan Atsumu yang selalu menghantuiku akan pergi dan tergantikan. Karena Osamu berhak diperlakukan istimewa.

Tapi setelah bertahun-tahun bersama, aku menyadari kalau aku tak bisa memperlakukannya istimewa.

Aku berusaha untuk memberikan Osamu pilihan, membiarkannya meninggalkan. Kuharap dengan begitu Osamu bisa berhenti dan mengejar bahagianya sendiri.

Namun dia tidak pernah berhenti, dan aku adalah orang jahat yang tak punya keberanian untuk menghentikannya.

Dan cintaku kini sudah disambut orang lain.

Kurasa tidak masalah, walau hanya separuh dirinya.

Walaupun Osamu hanya separuh dari Atsumu, asal bersama belahan dirinya, aku pun juga tak akan berhenti.

Osamu sangat berhak mengutukku pergi ke dasar neraka.