Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-07-30
Words:
706
Chapters:
1/1
Kudos:
7
Hits:
127

Should I or Should I Not

Summary:

Sawamura Daichi dan Sugawara Koushi, keduanya berhasil lulus dari SMA Karasuno. Seperti biasa, tetap bersama di pesta kelulusan yang diadakan secara impromptu dan bebas.

Notes:

Pertama kali nulis haikyu ((kyaa kyaa)) I tried to keep it kinda safe karena batas underage tiap negara beda gitu loh, but semoga ini tetap okeh karena mereka udah lulus.

Work Text:

They’re graduated.

Garis bawahi, mereka semua lulus.

Senior-senior di Karasuno maksudnya. Setelah ramai pengumuman dan prosesi kelulusan sebulan lalu, sebagian dari mereka mengadakan pesta perpisahan yang tidak disatukan dengan perpisahan sekolah. Bahu membahu para senior berpatungan satu angkatan dan berhasil menyewa semacam venue untuk mereka berpesta dengan acara yang jauh lebih tidak formal dan bebas. Tidak ada dress code tertentu atau apapun, setiap orang bebas patungan dan membawa apa saja untuk memeriahkan.

Of course, alcohol is involved.

Daichi dan Koushi sejak tadi sudah memisahkan diri setelah mengantar Asahi naik taksi tadi. Teler setelah gelas ketiga alkohol yang diminum malam ini. Keduanya duduk di pinggir kolam renang, sebotol minuman diantara keduanya. They’re fine with crowd, tapi, ya malam sudah kian larut dan keduanya sudah sadar diri mulai agak oleng sana-sini setelah mengobrol dengan banyak kawan seangkatan.

Keduanya berdiam. Alcohol actually took their mind off things. Muka Koushi sudah bersemu merah, Daichi yakin pasti mukanya merah juga. Keduanya tidak berbicara namun keheningan antara keduanya tidak terasa canggung sama sekali. They’re already used to it. Keduanya sudah berteman sedikit terlalu lama untuk mempermasalahkan keheningan.

”Dai, udah ini kita jadi orang dewasa beneran, loh.” Koushi nyengir. Sepertinya sudah terlalu mabuk untuk menyadari ia sudah mengucapkan hal yang sama lima kali dalam rentang waktu sejam terakhir. Tapi, Daichi tidak masalah.

Daichi suka Koushi sejak lama. Mungkin ia memang selalu menyukai Koushi, baru disadarinya saat SMA dan Koushi tampak menyukainya juga. Meski Daichi tak pernah berani untuk bilang.

”Dai,” Koushi kembali bersuara. Daichi menoleh, melihat wajah Koushi yang bersemu dan terbias sinar lampu yang terpantul dari kolam renang.

Indah. Koushi itu indah.

”Dai, makasih udah mau stay jadi temen terbaik gue sampai sekarang.”

Temen.

Temen.

Daichi menelan ludah susah payah. Benaknya masih jernih, maka dia bisa mengenali sejentik kesal karena Koushi menyebutnya teman. Baru saja ia mau protes saat Koushi tersenyum. Lebih lembut dari cengirannya sebelumnya.

Mata Koushi, meski sesekali tampak tidak fokus, ikut tersenyum. Dengan setitik tahi lalat di dekat mata yang berhiaskan semu merah. Helai-helai keperakan di sekeliling wajahnya berkilauan memantulkan bayangan cahaya dari kolam renang.

Dan bibir Koushi.

Ya, Tuhan, Daichi bahkan tak tahu harus memikirkan apa jika ia melihat bibir Koushi.

”Kenapa, Dai?”

Daichi mengalihkan tatapan, sempat menangkap setitik bekas minuman di sudut bibir temannya itu.

”Ini, lo belepotan.” Daichi bergumam, refleks menjulurkan tangan untuk mengusap titik noda itu saat ia sadar wajah keduanya sudah terlalu dekat.

Daichi, sadar. Benaknya terus-menerus berteriak. Tapi kali ini ia ingin menyalahkan saja alkohol karena sudah meracuni benaknya dengan bayangan bibir Koushi yang kelihatannya manis itu.

”Lo kayak mau cium gue, tau nggak?” Koushi terkekeh.

Daichi hanya bisa menelan ludah susah payah. Should I or should I not?

Dan Daichi takluk pada perasaannya.

May I?” Ia tetap harus bertanya, takut Koushi tak setuju dan hanya berniat menggoda. Koushi malah balik memberi senyum tipis.

I dare you.

Mungkin, hanya imajinasi Daichi saja, but for a moment, diantara kabut kemabukan yang sejak tadi ada di mata Koushi, he saw that Koushi actually wants him too.

So they kissed.

Daichi dapat merasakan jejak alkohol dari bibir Koushi yang empuk. But he wants more, he craves more, so he didn’t care about that.

And Koushi did kiss him back.

Sampai akhirnya ponsel Daichi berbunyi.

Fuck.

Daichi lupa, ia tadi memesan taksi untuk pulang. Keduanya sepakat agar Daichi tak perlu membawa motor karena tahu akan ada alkohol yang terlibat. Sebelum semuanya tidak terkendali, Daichi sempat menjadwalkan taksi untuk datang menjemput.

Lalu ia berbisik singkat mengenai taksi pada Koushi, yang kini tampak mabuk beneran dan oleng hingga ia harus memapah lelaki berambut keperakan itu menuju mobil.

Keduanya sepakat mendatangi rumah Daichi, yang waktu itu sedang kosong untuk menghindari pertanyaan dan amuk orangtua. Perjalanan berlangsung dalam keheningan meski Koushi benar-benar menumpukan tubuhnya pada Daichi. Look dazed. Sampai keduanya tiba di tempat tujuan, membayar, dan Daichi lagi-lagi memapah Koushi—nyaris memangku—ke dalam rumah.

Keduanya bahkan sempat berciuman lagi, dua-tiga kali. Beberapa kali terantuk furnitur di dalam rumah, menuju kamar Daichi yang sudah Koushi datangi ribuan kali. Daichi sempat bilang suka, berharap banyak akan Koushi yang kelihatannya cukup sadar saat ia bilang suka sebelum akhirnya Koushi tumbang di kasur Daichi yang lebar dilapisi bed cover yang tebal dan empuk.

But Koushi didn’t remember anything happened that night in the morning.