Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-07-12
Words:
561
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
38
Hits:
1,290

For AtsuOsa Day 2024

Summary:

Atsumu mendapati adiknya tidur di ruang ganti. / bl, incest, polisi fandom jangan baca

Notes:

haikyuu milik furudate haruichi

Work Text:

Atsumu baru saja mau mengganti baju ketika teman-temannya sudah bersiap untuk pulang. Dia adalah satu dari yang selalu telat pulang berlatih, selain Kita san, tentunya. Kali ini, sang kapten memintanya untuk mengunci pintu ruang loker karena dia harus mengikuti pelajaran tambahan untuk kelas tiga.

“Bye, Kembar, sampai jumpa besok!”

Satu per satu teman-teman setimnya pergi, menyisakan dirinya sendirian bersama adik kembarnya yang sedari tadi diam saja.

“Samu, pulang nanti mau makan apa?” tanyanya sambil memasang celana seragam. Kaos latihannya dia jejalkan asal ke dalam tas, menyangkal bau keringat yang ada di sana tidak lebih baik daripada punya Osamu.

Tidak ada jawaban, ini aneh. Miya Osamu tidak bisa dipisahkan dengan yang namanya makanan. Telinganya akan selalu berdiri saat mendengar sesuatu tentang makan.

Setelah memakai blazernya, Atsumu membalikkan badan, hanya untuk melihat adik kecilnya tertidur di bangku panjang dengan seragam lengkap dan sepatu yang terayun lelah.

Mulutnya yang selalu mengunyah itu terbuka sedikit, dengan dengkur pelan dan napas yang mendesah teratur. Anak itu menutup matanya yang sayu seperti putri tidur kebanyakan makan. Atsumu bahkan dapat mendengar suara nyam nyam pelan di sela-sela dengkuran.

Ah, Osamu dan makan. Dua unsur yang tidak terpisahkan. Bagaimana mungkin adik kecilnya bisa membayangkan tentang makanan bahkan saat bermimpi.

“Dasar Samu, malah ketiduran di saat begini,” katanya menggerutu, namun bukannya membangunkan, Atsumu justru mendekati Osamu secara perlahan, seperti tidak berniat membuatnya terjaga. Badannya pelan-pelan berjongkok tanpa suara dan memosisikan dirinya di samping kepala adiknya.

Osamu tetap pada kondisinya semula, tidur lelap dengan bibir mencuap-cuap dan suara perut yang lapar.

Adik kecilnya yang seperti itu, di mata Atsumu, terlihat begitu manis. Dia jarang melihat Osamu menutup matanya, biasanya paruh dirinya terlihat malas, suaranya kurang hidup, dan dia hanya bersemangat atas apa pun yang bernama makanan.

Tetapi, lihat Osamu sekarang. Dia manis, pipi gembulnya sangat imut, rambut abunya sedikit basah oleh keringat, alisnya tebal dan kecoklatan, bulu matanya pendek tapi lentik di saat yang bersamaan, dan bibirnya…

Atas dasar semua kakak yang ada di dunia, semua kembar tertua, semua saudara tertua dan semua lelaki yang sehat di muka bumi, Miya Atsumu dengan sadar mengakui, kalau adik kembarnya punya bibir paling imut yang pernah dia temui.

Atsumu tak sadar, yang dia tahu sekarang dia sedang membawa dirinya mendaratkan kecup kecil di sudut bibir itu. Kemudian ke pipi gembulnya. Ke bulu matanya. Ke alisnya. Ke rambutnya. Membaui seluruh unsur Miya Osamu luruh-luruh ke napasnya. Sebelum menjauh tanpa gerakan berarti.

Atsumu hanya ingin mengerti, kalau orang ini berarti untuknya. Terlepas dari mereka punya wajah dan genetik yang mirip atau tidak. Dia ingin memahami dirinya. Ingin menjaganya. Ingin menguasainya.

Ia belum puas, tapi afeksi harus berhenti, dan Atsumu tahu. Maka kini ia lepas semua rasa itu dan mulai membangunkan Osamu.

“Samu sial, cepat bangun! Nanti kutinggal!”

Atsumu mendengus ketika adiknya pelan-pelan membuka mata, mengerang dengan suara agak serak, tak ayal mengerjap-ngerjap. Dia mengucek-kucek matanya yang letih sebelum meregangkan kedua tangan dan lehernya.

“Apa?” tanya Osamu datar, saat melihat Atsumu sama sekali tidak mengalihkan pandang padanya sedetik pun. “Baru kali ini lihat orang ganteng bangun tidur?”

Miya pirang menggumpal jaketnya, sebelum melempar pakaian itu tepat ke muka Osamu. “Buruan bangun! Kita pulang!”

“Iya, iya…”

Selagi Osamu melipatkan jaket tersebut untuk sang kakak, ia hanya dapat melihat sosok punggung Atsumu. Alis kecoklatannya tergerak ketika mendapati telinga kembarannya memerah.

Osamu tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Jemarinya pun dibawanya menyentuh bibirnya sendiri.

‘Tsumu bego, kelihatan jelas, tahu.’