Work Text:
Hidup sebagai wanita di Indonesia tidaklah mudah. Coret lagi – hidup sebagai wanita di dunia ini tidak mudah. Banyak sekali tuntutan, cacian, dan juga komentar-komentar yang sama sekali seharusnya tidak dilontarkan dari mulut orang berpikiran sehat. Ditambah jika komentar-komentar itu juga dikeluarkan oleh sesama wanita.
Yoon Jeonghan adalah seorang janda tidak dikaruniai anak. Mantan suaminya sudah pergi, bukan meninggal, namun ia ceraikan karena, apa yang anak-anak zaman sekarang bilang, mokondo? Ya, mokondo. Jeonghan sendiri tinggal di bangunan kontrakan yang sudah ingin menampungnya semenjak ia pisah dengan mantan suami. Kabar terakhir dari mantan suami bahwasanya lelaki itu sudah menikah lagi dengan perempuan yang terlihat lebih mapan dan bermartabat dari Jeonghan.
Entah bagaimana lelaki itu mendapatkan istri barunya, mungkin dengan cara yang sama saat dahulu kala menggoda Jeonghan hingga ia seharusnya menyelesaikan kuliah namun tidak karena harus menikah? Mungkin. Jeonghan sendiri baru bisa merasakan kebebasan tinggal sendiri beberapa tahun terakhir di umur 20-nya. Lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Jeonghan diberi dukungan oleh orangtuanya agar tetap bisa hidup sendiri walaupun hanya di kontrakan kecil ini.
Walaupun hubungan Jeonghan dengan kedua orangtuanya tidak terlalu harmonis semenjak ia memutuskan untuk menikah muda beberapa tahun lalu, namun setelah pernikahan itu selesai, Jeonghan sendiri sadar mungkin orangtuanya memang tidak ingin dirinya untuk menikah terlebih dahulu. Jeonghan juga sadar kalau dia memang terlalu naif saat itu. Namun semuanya sudah terlewatkan dan Jeonghan juga bahagia tinggal di kontrakan ini dalam kurun waktu setahun lebih menuju dua. Jeonghan bekerja sebagai pemilik warung yang berada di depan kontrakan, ayahnya mendapat izin dari pemilik kontrakan untuk membangun usaha agar bisa menyokong kehidupan anak perempuan sulungnya itu.
Usaha warung itu sudah berlangsung selama setahun. Keuntungan yang didapat bisa dibilang lebih dari cukup untuk menyokong keseharian Jeonghan. Tentu saja ia masih pusing dengan hidup dengan ekonomi seperti ini yang tentu saja didukung besar-besar oleh pemerintah negaranya. Namun Jeonghan masih menyisihkan hasil itu untuk diberikan kepada keluarganya, khususnya kepada sang adik.
Lalu, bagaimana dengan lingkungan kehidupan Jeonghan? Bisa dibilang ia mendapatkan keuntungan juga di sini. Sebelum pindah, Jeonghan memang selalu dibicarakan tentang statusnya sebagai janda. Ditambah dirinya berpisah tanpa dapat apa-apa juga dari mantan suami. Namun Jeonghan bertemu dengan beberapa orang yang membuat dirinya menerima statusnya sebagai janda dan berpikiran bahwa status itu memang tidak jelek-jelek amat.
Terik matahari di pagi hari ini sudah menembus ke jendela rumah. Jeonghan sendiri sudah bangun dari tidur. Memulai hari dengan membersihkan ruang tamu yang masih bisa ditempati setidaknya oleh anggota keluarga utamanya. Kecil, tapi Jeonghan bersyukur akan hal itu.
Setelah membersihkan ruang tamu, Jeonghan membuka pintu rumah untuk siap-siap memulai hari sebagai pemilik warung. Dimulai dengan membersihkan lantai warung dari debu-debu yang sudah menumpuk sampai memastikan stok-stok makanan maupun minuman sudah terpenuhi. Jika sudah mendekati kosong, Jeonghan akan mulai membuat pesanan selanjutnya. Tidak lupa dengan barang-barang lain yang juga termasuk kebutuhan manusia pada umumnya seperti kebutuhan mandi dan lain-lain.
Warung Jeonghan sendiri memang tidak hanya menyediakan makanan dan minuman. Bisa dibilang warungnya ini sering menjadi alternatif warga sekitar jika harga supermarket setempat sedang naik. Karena Jeonghan menjualnya dengan harga yang sedikit lebih murah, namun barangnya banyak. Sempat menuai argumen juga antara Jeonghan dan orangtuanya, namun ia juga berakhir masih bisa merasakan keuntungan dari penjualan nya sendiri.
Pagi hari sekitar jam 8, Jeonghan masih sibuk menyapu lantai warung saat pembeli pertama pun datang. “Teteeehhh! Beliiii!” Jeonghan tersentak sedikit, bergegas menyandarkan gagang sapu itu sebelum berlari ke bagian depan warung. Sosok salah satu teman dekatnya itu membuat hati Jeonghan hangat sejenak, “Seungkwan! Tumben baru belanja lagi. Udah kurang stok di rumah?” Seungkwan mengerucutkan bibir, “Harusnya Hansol kemarin belanja, tapi tiba-tiba lembur kerjaan. Jadi nggak sanggup. Aku juga dapet jadwal malem di rumah sakit.” Jeonghan menganggukkan kepala, “Tapi nanti Hansol hari ini bakal belanja di sini. Supermarket lagi mahal lagi, teh.”
“Nanti suruh dia WA teteh dulu biar teteh siapin barang-barangnya.”
“Suka lupa ya dia mau beli apa?”
“Iya, beneran dah tuh anak.”
Seungkwan hanya bisa tertawa meringis mengingat kelakuan suaminya itu. Jeonghan sudah mengenal Seungkwan semenjak ia pindah ke pemukiman ini. Seungkwan sendiri merupakan anak dari keluarga ternama yang juga mengurus kepindahan Jeonghan ke tempat tinggal barunya. Orang tua Seungkwan sendiri juga pernah bertemu dengan orang tua Jeonghan, maka dari itu saat dia menikah dengan Hansol beberapa bulan lalu, keluarga Jeonghan diundang walaupun baru mengenal satu-sama lain tidak begitu lama.
Keseharian Jeonghan tidak jauh-jauh dari melayani pelanggan-pelanggan warungnya. Biasanya ia akan mulai sibuk saat waktu-waktu warga mulai pergi bekerja. Walaupun Jeonghan tidak menjual sarapan seperti warga-warga lain, masih banyak pelanggan yang datang hanya untuk berbelanja tambahan makanan pagi mereka seperti susu kotak dan minuman berenergi lain nya. Jeonghan sendiri percaya diri dengan stok barang warungnya yang bisa menyaingi supermarket di wilayahnya.
“Teh,” panggil Seungkwan lagi yang dibalas dengan deheman lembut dari Jeonghan, “Tau nggak ada warga baru pindah lagi minggu ini. Seokmin kan baru nikah minggu kemarin.” Dahi Jeonghan mengernyit sejenak, mencoba mengingat siapa orang yang dimaksud Seungkwan. “Oh, Seokmin anaknya pak RT sebelah?” Seungkwan mengangguk, “Yang nikah kemarin… oh, yang di gedung? Teteh nggak dateng soalnya jauh gedungnya. Nggak ada kendaraan.” Seungkwan menganggukkan kepala, “Iya, aku juga nyadar teteh nggak ada. Istrinya cantik sih, terus aku sama bunda disuruh ngajak ngobrol sama ngajak main aja. Tapi kan aku bingung ya gimana ngobrolnya, ditambah lagi sibuk kerja juga. Teteh mau nggak bantu?” Mendengar permintaan yang lebih muda, Jeonghan hanya bisa tertawa renyah sebelum menerima permintaan tersebut, “Iya nanti teteh coba bantu. Bakal ada kumpul-kumpul kan minggu ini? Nanti ajakin aja. Teteh juga udah lama nggak ngobrol sama ibu-ibu yang lain.”
Orang awam biasanya memanggil kegiatan itu dengan julukan arisan. Namun Jeonghan sendiri tidak bisa menjuluki kegiatan kumpul-kumpul dengan julukan tersebut. Karena memang hanya kumpul-kumpul saja, berujung makan siang bersama. Biasanya kalau Jeonghan harus pergi bersosialisasi dengan warga lain, warungnya harus tutup beberapa jam sebelum dibuka lagi di sore hari saat warga mulai meramaikan jalanan bersama anak-anak mereka.
Jeonghan sendiri sebenarnya tidak terlalu menyukai acara ini. Karena kadang ia harus kembali mendengar komentar-komentar aneh dari beberapa warga yang sama sekali tidak mengenalnya. Namun kadang orangtua teman-teman nya ikut membantu untuk menghentikan topik pembicaraan tersebut. Satu waktu bundanya Seungkwan pernah memarahi salah satu ibu-ibu yang melontarkan komentar tentang presensi Jeonghan sebagai janda tanpa dikaruniai anak.
“Sama ini teh,” Jeonghan memberikan tas belanja Seungkwan kembali ke pemiliknya, “Kontrakan kosong di ujung gang, tahu nggak?” Ia mengangguk sejenak, “Nah, itu tuh mau diisi lagi tapi nggak tau sama siapa. Katanya sih yang punya, mau rapi-rapi tapi karena kotor banget bakal ditempatin dulu.” Jeonghan sedikit mencoba mengingat kontrakan yang dimaksud oleh Seungkwan. “Deretan teteh?” Seungkwan mengangguk semangat, “Iya, yang katanya horror.” Seungkwan bergidik ngeri, “Katanya yang ngisi bakal cowok, teh. Hati-hati, kalo ada apa-apa, tendang aja kontolnya serius. Tutup aja warungnya kalo udah mau malem atau telepon aku aja kalo ada apa-apa.”
“Iya, iya. Nanti Hansol gimana kalo kamu nemenin teteh?”
“Udah biasa ditinggal dia mah. Aman aja.”
Setelah perbincangan pagi itu selesai, Seungkwan izin melanjutkan perjalanan kerjanya. Jeonghan juga melayani pelanggan-pelanggan lain. Kebanyakan ibu-ibu dan juga anak mereka yang sedang berangkat sekolah di pagi hari. Sampai waktu menunjukkan sekitar pukul 8:30, Jeonghan melayani pelanggan terakhir.
Jeonghan menghela napas pelan, merasakan suara kelaparan dari perutnya. Baru sadar juga ia belum mengkonsumsi apa-apa dari bangun tidur, hanya sebatas air putih saja. Maka dari itu, Jeonghan menutup warungnya sejenak untuk memasak sarapan sekaligus makan siang nanti. Warung akan kembali dibuka di jam dekat makan siang.
Seraya menghabiskan waktu sendiri di ruang tamu, Jeonghan juga memanfaatkan momen untuk melanjutkan pelajaran karya yang ia tekuni seraya menonton Youtube. Hanya karya menjahit saja. Jeonghan sudah melakukan ini semenjak beberapa bulan lalu karena terlalu bosan jika hanya menghabiskan waktu untuk menjaga warung. Melanjutkan karya jahitnya juga bisa dilakukan jika di waktu-waktu senggang begini saja, kalau warung sedang ramai, Jeonghan sendiri bahkan tidak memiliki waktu untuk kembali ke rumah.
Apakah Jeonghan pernah berniat untuk mencari karyawan baru? Tentu. Namun beberapa kali ia mempekerjakan beberapa orang hanya untuk membantunya, namun hasilnya nihil. Keuangan Jeonghan juga masih belum bisa dipakai untuk membayar orang lain selain diberikan kepada keluarganya sendiri. Maka dari itu Jeonghan memutuskan untuk memikul semuanya sendirian.
Menyelesaikan beberapa karya jahitan nya, Jeonghan memutuskan untuk kembali ke warung. Biasanya jam-jam segini beberapa pelanggan sudah mulai datang untuk dibikinkan kopi, terkadang membeli gorengan juga. Pelanggan-pelanggan nya biasanya satpam pemukiman, kadang pak RT juga kalau beliau sedang datang ke kantor agak siangan karena jalanan masih ramai. Namun saat Jeonghan kembali ke warung, ia tidak menemukan pelanggan-pelanggan tersebut.
Melainkan sesosok lelaki muda yang sedang kebingungan mencoba mengintip ke beberapa etalase warung.
Jeonghan otomatis langsung merapikan daster yang dikenakan. Tidak ada yang tahu bagaimana karakter orang baru itu mengetahui status Jeonghan nantinya. Menyadari pemilik warung sudah kembali, lelaki itu tersentak sedikit sebelum membungkuk menyapa (atau meminta maaf). Jeonghan dibuat kikuk, hanya bisa membalas dengan gestur yang serupa.
“Halo, selamat siang,” Jeonghan mencoba menutup belahan dadanya yang tersingkap, “Ada yang bisa dibantu?” Semburat merah terpancar jelas di pipi sang tuan. Rasa canggung bermekaran di ujung pagi menjelang siang ini. “Ah, nggak. Saya cuman mau liat-liat sekitar. Warga baru soalnya,” lelaki itu teringat sesuatu, “Oh, saya bakal tinggal di kontrakan ujung gang. Jadi mau tahu ada fasilitas apa aja sebelum ditawarin ke orang lain.” Jeonghan mengangguk mengerti, berjalan mendekat ke etalase depan warungnya sendiri, “Kalo gitu mau minum kopi dulu, ‘a? Jam segini keburu masih sepi. Kalo mau ngobrol-ngobrol, biasanya satpam bakal nongkrong di sini kok.”
“Ah, boleh, boleh. Oiya, saya Seungcheol.”
“Jeonghan. Salam kenal, ya.”
Seungcheol, lelaki itu, masih terlihat malu-malu. Dari ujung pandangnya, Jeonghan mencoba untuk menilai dari bagaimana paras sang tuan. Sama sekali tidak memperlihatkan kasta setara dengan nya. Mapan, tampan, Jeonghan bahkan harus mengela napas pelan saat menyadari jam tangan melingkar di lengan.
Bukan jam murah, Jeonghan sekejap langsung memberi peringatan kepada dirinya sendiri. Menyuguhkan kopi hitam segar di hari menjelang siang ini, Seungcheol mengucapkan terima kasih sebelum meneguk minuman itu. Jeonghan sendiri tidak memiliki pekerjaan lain selain ada pelanggan datang untuk membeli barang-barang di warungnya. Alhasil ia hanya meminta izin kepada Seungcheol untuk melayani pelanggan itu dulu.
Hingga mendekati siang, pelanggan setia warung Jeonghan mulai berdatangan. Beberapa dari mereka sepertinya sudah mengenal Seungcheol pula. Jeonghan sendiri sedikit aneh dengan itu. Apa dia yang tidak pernah keluar rumah? Atau memang ada orang yang belum pernah mampir ke warungnya?
“Neng Hani,” panggil pak RT Lee, ayah dari Seokmin, “Ini Seungcheol yang bakal tinggal di kontrakan ujung gang kamu. Nanti ditemenin dulu buat kenalan sama temen-temen kamu itu. Wonwoo kayaknya butuh temen buat main keluar daripada dimarahin sama abahnya mulu.” Jeonghan hanya bisa menganggukkan kepalanya. “Oiya, di rumah Seokmin juga ada istri barunya tuh, si Jisoo. Nanti kamu temenin, ya. Dia kerja juga sih, tapi masih belum punya temen di sini,” tambah si Pak RT, “Oh, iya, tadi Seungkwan udah cerita. Maaf ya pak, belum bisa dateng kemarin.” Jeonghan membungkukkan tubuhnya untuk gestur minta maaf, walaupun yang lebih tua sama sekali tidak mempermasalahkan itu, “Eh, nggak apa-apa. Kadang jaga warung emang lebih penting dari yang lain. Asal kamu masih inget buat istirahat aja, neng. Takut kenapa-kenapa kalo tinggal sendiri mah. Jangan sungkan ngasih tau warga sekitar, ini ada Seungcheol juga yang tinggal sendiri.”
Bukan pertama kalinya Jeonghan selalu dijodoh-jodohi oleh pemuda setempat. Biasanya ia merasa tidak nyaman dengan hal itu. Ditambah dengan intonasi mereka yang biasanya memang hanya ingin mengejek statusnya sebagai seorang janda. Namun untuk sekarang, entah mengapa Jeonghan merasa pipinya panas.
Ditambah dengan lirikan yang diberikan oleh Seungcheol. Dengan surai hitam legam terlihat sehabis dicukur rapi sebelah kanan kiri, jam tangan di pergelangan, dan kaos putih oblong dipakai terlihat pas di tubuh kekarnya. Kapan terakhir kali Jeonghan merasa salah tingkah seperti ini? Tidak pernah mungkin. Bersama mantan suaminya saja hanya merasa dicintai di malam pertama dan, jujur saja, Jeonghan sama sekali tidak menyukai perasaan itu.
Mantan suaminya yang mandul dan tidak bisa membuat Jeonghan hamil. Namun Jeonghan yang harus memikul malu di sisa hidupnya. Jeonghan sendiri tidak sadar kalau ia sedang melamun, terlalu laput dalam pikiran nya dan memori-memori yang seharusnya sudah dibiarkan terpendam di belakang kepala. Suara di sekitarnya yang berhasil menarik Jeonghan kembali ke realita.
“– Hani.”
“Hm?”
“Kopinya,” Jeonghan melirik ke Seungcheol, “Kopinya berapa?” pandangan perempuan itu sedikit melengos. Seungcheol kira ia sedang pusing atau bagaimana. “Oh, iya. 3.000 aja, ‘a,” balas Jeonghan. Setelah memberikan kembalian, Seungcheol mengeluarkan ponselnya, “Boleh minta nomornya, teh? Siapa tau bisa nanya-nanya. Sama mau belanja juga biar nggak kosong-kosong banget di kontrakan,” semburat merah tidak bisa ditahan untuk terpancar di kedua pipinya, “Iya, iya, boleh. Ini nomor Hani, ‘a.”
Setelah bertukar nomor ponsel pribadi, Jeonghan tidak bertemu dengan Seungcheol hingga hari mulai gelap. Ia tidak bisa bohong kepada diri sendiri bahwa dirinya menunggu lelaki itu tiba-tiba muncul. Entah dibawa oleh Seokmin atau Hansol, paling di luar perkiraan kalau Seungcheol sudah mengenal Wonwoo. Namun Jeonghan hanya bertemu dengan Hansol yang datang untuk mengambil titipan belanja sesuai permintaan nya di pagi hari tadi.
Di kamar kontrakan nya, Jeonghan menghabiskan waktu untuk melamun. Membayangkan wajah Seungcheol yang anehnya masih berputar-putar di dalam kepala. Jeonghan sama sekali tidak pernah merasakan hal seperti ini sejak lama. Apakah ini pertanda? Mungkin pertanda patah hati kesekian nya.
Keesokan harinya, Jeonghan memulai hari seperti biasa. Namun rutinitasnya dimulai sedikit berbeda. Saat membuka warung, ia sudah disapa oleh pemandangan Seokmin dengan istri barunya yaitu Jisoo. Jeonghan langsung menyapa pasangan mempelai baru itu seraya mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.
“Oiya teh, ini Jisoo, istri gue,” ujar Seokmin dengan senyuman lebar di bibir. Jeonghan dan Jisoo bersalaman, “Aku Jisoo, teh. Istrinya Seokmin, salam kenal ya.” Seokmin juga memberitahu bahwa mereka berdua memiliki umur yang sama. Alas, Jeonghan pun mengetahui informasi tambahan mengenai dinamika hubungan keduanya, “Oalah, Seokmin sukanya yang lebih tua? Kok teteh nggak tau soal yang ini,” mendengar itu, pipi Seokmin langsung memerah dan Jisoo hanya dibuat tertawa, “PDKT-nya lumayan cepet, Han. Ada yang mau buru-buru nikah, nggak tau kenapa.”
Sebelum keduanya pergi berangkat untuk bekerja, Jeonghan menghabiskan waktu demi berbincang basa-basi dengan Jisoo. Mempelajari bahwa wanita sebayanya itu bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di salah satu sekolah internasional di kota. Informasi itu tentu sudah membuat Jeonghan tertegun. Bukan iri, lebih ke bangga karena wanita seumuran nya masih bisa mendapat kesempatan untuk mengejar mimpi dan ambisinya sendiri, ditambah dengan dukungan dari lingkungan yang tentu sangat dibutuhkan.
“Hani,” Jisoo berujar seraya menggenggam kedua tangan Jeonghan erat-erat, “Kalau misalnya butuh bantuan, kasih tau aja ya. Kadang kalo hari libur, Seokmin suka ngikut bapak ke kelurahan. Nggak tau deh ngapain, tapi aku nggak punya temen. Biar bareng-bareng aja aku main di warung kamu.” Mendengar itu, Jeonghan tertawa kecil sebelum menganggukkan kepala. “Kamu nggak sendiri loh yang ada niat mau ngumpet di warung. Nanti ada Seungkwan, Hansol, Chan. Seokmin juga sering ngumpet di sini sampe disamperin sama bapaknya,” balas Jeonghan yang membuat Jisoo menatapnya tidak percaya. Setelah keduanya bertukar nomor ponsel dan mengetahui waktu sudah lama terlewat, pasangan mempelai baru itu pun pergi meninggalkan warung Jeonghan menuju tujuan masing-masing.
Sampai menjelang siang, Jeonghan melakukan rutinitasnya di warung. Mengisi waktu senggang untuk kembali melanjutkan karya menjahitnya. Beberapa hasil karya jahit pun berhasil dihasilkan. Jeonghan kali ini bisa menjahit pakaian untuk dirinya sendiri, setidaknya menutupi payudara.
Ia tahu kalau pakaian itu termasuk tidak senonoh, tapi Jeonghan sendiri kerap memakai pakaian seperti itu di rumah. Di saat tidak ada yang mengomentari bagaimana ia berpakaian layaknya mereka tahu siapa dirinya. Jeonghan hanya ingin orang yang bisa menerima bagaimana dia berekspresi lewat busana dan pilihan hidupnya. Saat sedang menyelesaikan jahitan pakaian nya itu di warung, tiba-tiba Jeonghan dikejutkan oleh suara familiar.
“Neng? Lagi di warung, kah?” Seungcheol, satu nama yang sudah tinggal lama di pikiran Jeonghan. Padahal durasinya baru sehari saja. Jeonghan langsung beranjak berdiri, menempatkan hasil jahitan nya dan barang-barang lain ke satu tempat di mana mereka harusnya disimpan sebelum didorong keluar dari pandangan Seungcheol. “Hai!” Seungcheol sedikit tersentak, namun senyum tipis terulas di bibir, “Hai, apa kabar? Maaf dateng lagi hari ini. Semoga nggak ganggu.”
“Nggak, nggak ganggu sama sekali.”
“Aku mau kopi lagi boleh? Sekalian ngobrol. Lagi males di kontrakan sendiri.”
“Boleh, boleh. Aku siapin kopinya dulu, ya.” Setelah menerima anggukan dari Seungcheol, Jeonghan pun bergegas ke dapur warung untuk menyiapkan pesanan sang tuan. Perempuan itu tidak bisa menahan rasa bebungaan yang muncul di dalam benak. Pakaian yang digunakan Jeonghan tidak terlalu menutupi lekukan tubuh mungil nan ramping, termasuk kedua payudaranya. Rambut hitam dikuncir kecil memperlihatkan tengkuk dan ceruk leher itu seharusnya sudah cukup untuk menggoda lelaki yang sedang duduk di bagian depan warungnya.
Jeonghan terlihat resah dan gelisah. Apa yang harus ia lakukan agar Seungcheol menoleh ke arahnya? Setidaknya bukan hanya dia saja yang merasa dibikin gila oleh interaksi mereka berdua. Pandangan Jeonghan mengarah ke dua gundukan payudara yang terlihat sesak dari balik pakaian nya. Perlahan ia meremas payudaranya dari luar, mendesah kecil seraya mengusap pentil tegang itu.
Kedua kaki sedikit bergetar karena perlakuan yang diberikan olehnya sendiri. Jeonghan sudah lama tidak memuaskan dirinya sendiri karena sibuk mengurus urusan warung dan lain-lain. Saat Jeonghan mulai merasa kaosnya itu basah, ia menurunkan pakaian yang dikenakan untuk mengeluarkan kedua payudara. Segelas kopi yang sudah dibuatkan hanya untuk Seungcheol pun perlahan dicampur oleh perasan susu payudaranya, cukup membuat Jeonghan mendesah panjang merasa setiap remasan yang diberikan membuat kepalanya semakin pusing.
Setelah cukup takaran susu yang diperkirakan oleh Jeonghan itu dituangkan, ia menarik kembali pakaian nya. Mencoba menutupi bercak basah di kaos ketat itu yang memperlihatkan pentil tegangnya dari luar. Dengan tekun, Jeonghan mengaduk kopi itu hingga larutan hitam pekat dan susu tersebut bercampur sempurna. Jeonghan membawa segelas kopi untuk disuguhkan kepada sang tuan yang sudah beberapa menit menunggu pesanan nya.
“Makasih, ya,” ujar Seungcheol seraya mulai menyeruput kopi yang disuguhkan. Jeonghan hanya bisa memeluk nampan di genggaman nya, perlahan menunggu reaksi dari lelaki itu. Dahi Seungcheol sedikit mengkerut, membuat Jeonghan langsung memancarkan ekspresi panik sekejap. “Ini ditambah susu, ya? Biasanya aku nggak suka pake susu sih,” bilah bibir Jeonghan terbuka sedikit untuk mengeluarkan pembelaan, “Tapi ini susunya enak. Susu dari warung sendiri kah atau gimana?” pertanyaan itu langsung membuat sang puan kikuk sendiri.
Karena bagaimana ia harus menjelaskan bahwa susu itu berasal dari tubuhnya sendiri? Apakah Seungcheol akan beranjak berdiri dan meninggalkan nya begitu saja? Bagaimana kalau ia sama saja dengan lelaki lain di kehidupan Jeonghan?
Namun Jeonghan menutup kedua matanya sejenak. Mungkin dirinya memang naif dan setelah ini ia akan kembali dicaci maki. Saat dirinya kembali membuka mata, Jeonghan mendapatkan tatapan lekat-lekat dari sang tuan. Seperti lelaki itu sedang memberinya harapan yang terlalu bagus untuk digapai di kehidupan nyata.
“Itu pake susu aku, ‘a,” jawab Jeonghan dengan pelan. Seungcheol mengejapkan kedua matanya sekejap, “Susu kamu?” pertanyaan itu dibalas oleh anggukan dari sang puan. Jeonghan mengangkat tangan nya untuk meremas payudaranya dari luar kaos ketat itu. “Dari toket aku, ‘a. Enak, kan? Udah lama nggak aku peres soalnya buat siapa juga. Tapi aku kasih buat ‘aa biar ‘aa nyobain masih enak atau nggak,” semburat merah kembali muncul di kedua pipi Jeonghan; perempuan tidak tahu malu adalah dia sebenarnya.
Jeonghan menunggu reaksi dari Seungcheol lagi. Matahari sudah di puncak dan pelanggan-pelanggan setia warung Jeonghan masih belum datang. Bulu mata lentik Seungcheol bergerak demi pandangan nya menatap ke arah Jeonghan. Entah apa maksud dari pandangan itu namun tangan sang tuan bergerak menggenggam lengan perempuan di hadapan nya.
Hal selanjutnya yang Jeonghan lakukan adalah menarik tubuh Seungcheol hingga beranjak berdiri. Keduanya berpindah ke bagian lebih dalam di warungnya. Menghindari bagian depan yang bisa terlihat orang-orang. Bilah bibir Jeonghan pun dicium lembut oleh sang tuan dengan kedua tangan kekarnya merengkuh tubuh kecil nan ramping wanita itu.
Jeonghan terkesiap di sela cumbuan panas mereka. Mencengkram kuat kedua lengan lelaki yang merengkuh tubuhnya, terasa besar dan kekar di bawah sentuhan nya itu. Cumbuan Seungcheol pun perlahan berpindah ke ceruk leher Jeonghan. Meninggalkan perempuan itu mendesah pelan, membuka mulutnya hanya untuk melolongkan lenguhan-lenguhan sensual bak melodi merdu bagi telinga Seungcheol.
“‘Aa – ahh! Nnnh…” jilatan pertama diberikan sang tuan di pentil tegang milik perempuan itu. Seungcheol menjilat kedua pentil Jeonghan bergantian dari luar kaos yang dikenakan olehnya. Menambah bercak basah di material pakaian itu, membuat tubuh Jeonghan semakin lemas. Jemari lentiknya digerakkan untuk menyisir surai legam rapi milik Seungcheol, menarik akarnya erat-erat saat hisapan kuat diberikan, “Hhhah! Ahh! ‘A! ‘Aa – Seungcheol… Cheollie…”
Seungcheol, dengan kekuatan nya, menarik Jeonghan untuk duduk di pangkuan nya. Membiarkan perempuan itu bersandar ke dinding warung. Dengan lahap, ia masih menghisap dan menjilat kedua payudara Jeonghan dari luar pakaian yang dikenakan. Membuat seluruh tubuhnya bergidik merinding dibuat, walaupun matahari masih berada di puncak-puncaknya.
Desahan sang puan semakin menggema di tempat pekerjaan nya itu. Setiap jilatan yang diberikan Seungcheol membuat Jeonghan meringis penuh kenikmatan. Kedua kakinya bergetar ingin menutup, namun karena posisinya berada di pangkuan Seungcheol, alhasil ia harus tetap membuka tungkai rampingnya itu. Sedikit menyibak rok mini yang dikenakan hingga celana dalamnya bergesekan dengan gundukan besar milik Seungcheol.
“Neng –” desahan Seungcheol terdengar di telinga Jeonghan. Membuat perempuan itu menggulingkan kedua matanya ke belakang, “Susu eneng enak banget. Manis, manis banget kaya eneng.” Jeonghan mengusap tengkuk Seungcheol lembut sebelum kembali menautkan kedua bibir mereka. “Nyusu terus aja ‘a. Hani suka nyusuin orang, mau nyusuin kamu aja dari sekarang,” gesekan kasar di celana dalamnya membuat Jeonghan tersedak kembali, bibirnya bergetar akan kenikmatan yang dirasa lebih dari biasanya, “Nyusu lagi aja, ‘a. Lagi sepi juga. Sini eneng remes-remes terus biar ngalir susunya ke mulut ‘aa.”
Kaos merah muda yang dikenakan Jeonghan itupun disingkap. Memperlihatkan kedua payudara besar nan kenyal tanpa dilindungi sehelai bra. Mengetahui Jeonghan hanya memakai pakaian nya seperti membuat tenggorokan Seungcheol terasa dicekik. Bagaimana ia harus hidup ke depan nya mengetahui perempuan paling cantik di hidupnya itu berpakaian seperti ini dan bukan hanya untuknya saja? Jeonghan menatap Seungcheol dengan tatapan penuh nafsu.
Bilah bibir terbuka sedikit, tangan yang ditempatkan di selangkangan karena dalaman nya itu mulai bergesekan cepat dengan gundukan kontol sang tuan. Saat Seungcheol menyundulkan kontol besarnya itu, Jeonghan seperti dilempat ke surga dalam sepersekian detik. Hentakan keras yang sudah tidak pernah ia rasakan membuat kepalanya pusing. Ditambah dengan seberapa besar daging kontol Seungcheol yang sepertinya tidak akan muat masuk ke dalam liang memeknya.
“‘Aa,” atensi Seungcheol kembali fokus ke wajah perempuan di pangkuan nya. Jeonghan masih mendesah, wajahnya merah merona bak bidadari yang selalu didamba Seungcheol sejak kecil. “Nyusu lagi, ‘a. Pake aja susu Hani terus-terusan. ‘Aa ke warung aja buat nyusu nanti Hani rela cuekin pelanggan lain buat nyusuin ‘aa aja,” ujar Jeonghan dengan suara kecilnya itu. Kembali meremas payudaranya dan menempatkan pentil basah nan tegang ke bilah bibir Seungcheol, lelaki itu pun tidak bisa berkata lain selain mulai menghisap tiap aliran susu yang masuk ke dalam mulutnya, “Nyusu yang banyak, ‘a. Mmmh… ‘aa pinter banget. Udah keker, ganteng, suka sama susu Hani. Mau disimpen aja sama ‘aa.”
Geraman pelan terdengar dari dalam tubuh Seungcheol. Suara itu membuat Jeonghan semakin tertawa kecil. Melingkarkan kedua tangannya di pundak sang tuan untuk lebih mendekatkan kepala Seungcheol ke kedua payudaranya. Membiarkan lelaki itu menenggelamkan wajahnya ke dua daging besar dan kenyal milik Jeonghan.
Selagi dipilin dan dihisap kedua pentil tegangnya, Jeonghan hanya bisa melolongkan desahan yang semakin nyaring di bagian lebih dalam warungnya. Bisa dibilang keduanya tidak akan terlihat jika ada pelanggan datang. Namun kalau pelanggan itu sampai mencari masuk ke warung, keduanya akan ketahuan. Tetapi Jeonghan tidak terlalu memikirkan hal itu.
Kepalanya hanya diisi dengan seberapa nikmatnya hisapan Seungcheol dan gesekan keras yang didapat di celana dalamnya sekarang. Kopi Seungcheol yang tersisa masih di etalase depan warung juga pasti sudah dingin.
Seungcheol mendesah pelan seraya membuka mulutnya lebar-lebar. Jeonghan mengusap bekas cairan susu di bibir lelaki itu hingga bersih. Mengecup kembali mulut sang tuan dengan lembut. Membiarkan tubuh rampingnya itu direngkuh erat-erat oleh yang lebih kekar.
Pandangan Jeonghan sedikit buram karena kenikmatan dahsyat yang sedang mengalir di darahnya. Enggan ia melepas Seungcheol begitu saja dari sekarang. Seperti napasnya hanya ingin dihisap dekat lelaki itu. Namun dunia memang tidak selalu berpihak kepadanya.
Suara getaran terdengar dari saku celana sang tuan. Atensi Seungcheol pun pecah untuk melihat layar ponselnya sejenak. “Mmmh… siapa ‘a?” Bisik Jeonghan seraya menggesekkan hidungnya ke ceruk leher lelaki itu, “Temen kerja, neng. ‘Aa harus pulang buat ngurus administrasi kontrakan.” Rengekan pun terdengar dari bibir Jeonghan, membuat Seungcheol menjadi iba sekejap, “Besok ‘aa dateng lagi, ya? ‘Aa nyusu lagi nanti ke eneng. ‘Aa temenin dari pagi mau? Tapi eneng harus udah selesai ngelayanin pelanggan warung dulu.”
“Tapi Hani maunya ngelayanin ‘aa.”
“Iya, nanti abis itu ngelayanin ‘aa. Bajunya jangan seksi-seksi kalo buat yang lain. Buat ‘aa aja seksinya, ya?”
Jeonghan berdehem, memeluk tubuh kekar Seungcheol erat-erat sebelum mengangguk kecil, “Seksinya buat ‘aa aja.” Sebelum Seungcheol pergi, keduanya berciuman sejenak dengan mesra dan lembut. Jeonghan bergumam pelan di sela cumbuan mereka. Mengusap pipi Seungcheol seraya membiarkan lelaki itu memeluk pinggangnya erat-erat.
Sepi pun melanda benak sang puan saat presensi Seungcheol sudah hilang di warung. Jeonghan memutuskan untuk menutup warung sejenak di siang hari ini dan kembali ke rumah. Tidak mungkin ia memakai kaos bekas hisapan lelaki dambaan nya itu ke depan orang lain. Atas permintaan Seungcheol, mulai sekarang Jeonghan hanya akan menggodanya dengan pakaian-pakaian tidak senonoh.
‘aa seungcheol 🖤
‘aa
udah bobo?
belum neng
baru selesai mandi
kenapa?
hani juga baru selesai mandi!
hehehe
mau kirim foto toket hani
boleh?
boleh cantik
mana sini ‘aa liat
[sent a photo]
tegang banget ‘a
diisep kuat2 ya besok
iya cantik
tegang banget
‘aa dateng terus ya buat enakin hani
dateng terus aja ‘a
temenin hani🥺
iya nenengnya ‘aa
sampe ketemu besok ya
pake baju cantik seksi buat ‘aa🖤
iya ‘aa hani nurutnya sama ‘aa aja🖤
Sesuai permintaan sang kembang desa, Seungcheol pun menjadi sering datang menemani Jeonghan di warung. Tentu untuk berhubungan intim, namun tidak sampai melesak masuk. Apakah Seungcheol memiliki niat tersebut? Tentu ada. Siapa yang tidak ingin menjamah tubuh kembang desa bernama Yoon Jeonghan itu? Seungcheol sendiri awalnya tidak berani mengenal lebih jauh takut ternyata sang puan sudah memiliki suami atau kekasih.
Namun melihat bagaimana Jeonghan bereaksi dari setiap sentuhan nya. Lirikan mata penuh nafsu dan afeksi setiap Seungcheol meremas payudara dan mengusap selangkangan nya. Desahan-desahan nama yang terdengar merdu di pojokan warung membuat Seungcheol yakin kalau Jeonghan sepenuhnya memberikan tubuhnya itu kepadanya. Seungcheol juga banyak memanfaatkan waktu untuk mengenal lebih rinci tentang sang puan idaman nya tersebut dari beberapa warga sekitar.
Seperti sekarang di mana Jeonghan melebarkan kedua kakinya. Tubuh bersandar ke dinding warung dengan daster yang sudah melorot jatuh melewati pundak. Kedua payudaranya terekspos bebas keluar. Posisi keduanya tidak berada di pojokan belakang lagi, hanya menunggu waktu di mana orang lain mendapati mereka sedang berhubungan intim.
Namun Jeonghan sendiri tidak memperdulikan itu. Tidak di saat liang memeknya sedang dihisap kuat-kuat oleh lelaki kekar di bawah sana. Waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi, tetapi Seungcheol sudah datang ke warung Jeonghan beberapa menit sebelum warungnya buka. Bahkan seharusnya Jeonghan sudah membuka warung untuk melayani pelanggan-pelanggan nya.
Seungcheol sendiri juga salah satu pelanggan Jeonghan di pagi hari ini.
“Ahh! Hhhah – ‘aa… ‘aa!” Desah Jeonghan kencang menggema sembari meremas kedua payudaranya kuat-kuat. Suara kecipak basah dan becek di waktu yang sama membuat tubuh perempuan itu bergetar hebat. Pusing dibuat saat ia sendiri tidak bisa membayangkan memeknya kembali dimakan rakus oleh seorang laki-laki. “‘Aa, ‘aa, ‘aa –! ahh… ahh… jorok… jijik ‘aa…” surai rambut Jeonghan bahkan sudah terjatuh dari sanggulnya, menjambak sedikit kepala Seungcheol untuk mendongak menatap matanya, “‘Aa… Cheollie… sodok aja, ‘a. Kobelin… kobelin sambil nenen ke toket Hani sini. Mau nyusuin kamu lagi.”
Area mulut Seungcheol sudah basah campur air liurnya sendiri dan cairan orgasme Jeonghan sebelumnya. Lelaki itu hanya membalas dengan anggukan kecil sebelum bergerak mendekat. Mencium selangkangan Jeonghan dengan lembut dan kecupan nya perlahan bergerak ke atas. Mengecup perut sang puan, dada, dan kembali bertemu dengan pentil tegang Jeonghan.
Desahan puas pun lolos dari bilah bibir Jeonghan saat ketiga jari Seungcheol melesak masuk ke dalam liang kewanitaan nan sempitnya itu. Merah merona sensitif dibuat hanya untuk disuguhkan kepada tuan Choi Seungcheol. Jemari Jeonghan diangkat untuk mengusap tengkuk sang tuan dengan lembut. Menautkan kedua bibir mereka kembali ke dalam satu cumbuan lembut di pagi hari ini.
Seungcheol menghembuskan napas pelan sedangkan Jeonghan mendesah kecil saat jemari-jemari besar itu mulai menyentuh titik kenikmatan nya. “Enak, cantik?” bisik Seungcheol kini merengkuh, menarik tubuh yang lebih kecil darinya mendekat ke tubuhnya. Jeonghan hanya bisa mengangguk, “Enak, enak. Hhahh… lagi… lagi, sayang.” Semburat merah kembali terpancar di pipi sang tuan, membuat Seungcheol sendiri gemas dibuat olehnya, “Oke, lagi buat sayangnya ‘aa.”
Sebelum Jeonghan sendiri dapat mencerna panggilan yang diberikan, napasnya tercekat di tenggorokan saat titik kenikmatan nya ditumbuk kencang oleh sang tuan. Kedua pentil tegangnya pun kembali dihisap. Membuat kepalanya terasa ringan merasakan aliran susu mulai kembali mengalir masuk ke dalam rongga mulut Seungcheol. Di kala seperti ini, Jeonghan membiarkan tubuhnya terkulai lemas di bawah sentuhan lelaki dambaan nya itu.
Kedua kakinya melingkar erat-erat di pinggang Seungcheol. Semakin mempermudah lelaki itu untuk menenggelamkan ketiga jarinya di dalam tubuh sang empu warung. Suara motor dan mobil berlalu-lalang di dekat mereka sama sekali tidak membuat keduanya lengah. Jeonghan sendiri bahkan mulai menggenjot jemari-jemari Seungcheol yang sudah terkubur dalam-dalam di memeknya.
Bercak-bercak merah di leher dan pundak Jeonghan terlihat seperti baru memekar. Bak bunga yang terkena sinar matahari di pagi hari. Yoon Jeonghan adalah bunga-bunga itu di kehidupan Choi Seungcheol. Kanvas putih pucat dengan sentuhan warna merah muda dan biru keunguan tidak pernah terbesit di kepala Seungcheol betapa indahnya pahatan ciptaan Tuhan yang satu ini.
“Hani –” Jeonghan berdehem, menyandarkan kepalanya ke pundak Seungcheol untuk menatap kedua mata lelaki itu lekat-lekat, “Kamu cantik banget.” Pujian itu tiba-tiba keluar dari mulut sang tuan. Sama sekali tidak hanya berniat untuk membuat suasana menjadi canggung atau lebih buruk dari apa yang mereka lakukan sekarang; hanya sebuah pujian yang memang sudah terpendam lama sejak pandangan nya jatuh ke pemandangan perempuan cantik itu. Jeonghan mengedipkan kedua mata, bulu mata lentik itu terlihat jelas bergerak di bawah hamparan sinar matahari yang masuk ke warung, “Hmmm. Makasih, ‘a. ‘Aa juga ganteng banget. Hani suka,” balas perempuan itu dengan memeluk tubuh Seungcheol erat-erat, “Kapan-kapan hamilin Hani, ‘a. Biar ‘aa bisa milikin Hani seutuhnya.”
“Kamu mau?”
“Mau. Hani mau punya anak sendiri.”
Intonasi yang digunakan perempuan itu terdengar sedih. Seungcheol sama sekali tidak ingin membuat Jeonghan sedih. Maka dari itu, ia mengecup lembut pucuk kepala sang puan. Mengangkat pandangan Jeonghan agar kedua mata mereka kembali bertemu, “Nanti ‘aa hamilin, ya? Biar bisa ngandung anak ‘aa dan jadi ibu yang hebat buat anak-anak kita nanti,” hati Jeonghan luluh dibuat, menganggukkan kepala dengan air mata berkumpul di matanya, “Iya, iya, mau, ‘a. Mau hamil anak ‘aa aja. Hani sayang sama ‘aa.”
Jeonghan berakhir melewati puncak orgasme paling intens di hidupnya. Selama bersama Seungcheol, memang yang dirasakan oleh Jeonghan selain kasih sayang melimpah adalah orgasme di luar nalar. Jeonghan kerap merasa sangat lelah dan energinya terkuras lebih banyak dari biasanya setiap berhubungan intim dengan sang tuan. Seungcheol sendiri juga memastikan Jeonghan untuk tidak sampai menyakiti dirinya sendiri karena ia juga ikut andil dalam hubungan intim tersebut.
Maka dari itu, Seungcheol kerap juga yang melayani pelanggan-pelanggan warung Jeonghan saat perempuan itu sedang mengumpulkan energi di bilik belakang. Terkadang bahkan Jeonghan kembali tertidur saking lelahnya. Sekaligus ia harus mengganti pakaian karena Seungcheol tidak ingin ada orang lain yang melihat keseksian lekukan tubuhnya. Jeonghan sendiri senang dengan perasaan posesif Seungcheol yang membelenggu keseharian nya; memang siapa lagi yang bisa membuat Yoon Jeonghan menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang wanita?
Setelah energinya sudah perlahan kembali, Jeonghan pun kembali ke area depan warungnya untuk mengambil alih kegiatan jual-beli di tempat miliknya itu. Tidak lupa membiarkan Seungcheol mengecup pipinya di depan warga sekitar yang membuat mereka tersentak kaget juga. “Lah,” celetuk Hansol, “Loh?” Mulut Seungkwan menganga lebar, “Bah,” Wonwoo mengunyah keripik pisang yang ada di genggaman nya. Seokmin mengedipkan kedua mata, “Sayang, coba mata aku masih minus nggak sih,” Jisoo hanya bisa menoyor dahi suaminya itu.
Jeonghan dibuat salah tingkah bukan kepalang. Karena Seungcheol benar-benar memperlihatkan afeksinya kepada publik atau warga sekitar. Selama ini, Jeonghan hanya dicap sekedar janda yang meninggalkan suami. Istri yang tidak baik, tidak nurut; hanya ingin tinggal sendiri bebas dari kekangan lelaki.
Pemikiran nya tidak luput dari bagaimana warga sekitar mengetahui hubungan nya dengan Seungcheol yang notabenenya seorang warga baru dan juga lelaki tampan. Jeonghan juga belum menceritakan apa-apa kepada orangtuanya. Hanya kepada sang adik tentang lelaki tampan yang tinggal di kontrakan ujung gang. Pikiran Jeonghan semakin menumpuk di benak hingga ia lupa kalau dia sudah tidak sendirian lagi di warung.
“Hani,” suara Seungcheol membuat perempuan itu bebas dari rentetan pemikiran yang tidak penting. Jeonghan melirik ke arah Seungcheol, “Ya?” Lelaki itu memberinya senyuman kecil di bibir, “Kamu bengong mulu. Nanti ada yang nggak bayar terus kamu nggak sadar gimana? Jangan bengong-bengong.” Seungcheol duduk di kursi yang tersedia, tidak lupa untuk membiarkan Jeonghan duduk di sampingnya, “Lagi mikirin apa, sih? Coba cerita sama ‘aa.” Kedua tangan Jeonghan digenggam erat-erat oleh lelaki itu dan dikecup lembut, membuat isi perut si kembang desa hanya bisa dipenuhi oleh bunga-bunga maupun kupu-kupu, “Nggak, ‘a. Aku cuman baru ngerasain disayang sebegitunya di depan orang banyak setelah sekian lama. ‘Aa tau sendiri aku janda.”
“Ya, terus kenapa kalo kamu janda?”
“Tapi aku nggak punya anak.”
“Terus kenapa, cantik? Kalo kamu nggak punya anak kenapa?” Seungcheol menarik kursinya agar semakin dekat dengan di mana Jeonghan duduk, “Sini, sini, dengerin aku. Aku suka sama kamu karena kamu cantik, itu salah satunya. Kedua, kamu keren banget bisa ngelola bisnis warung kayak gini sendirian. Aku juga tau kok soal asal-usul warung ini gimana dari pak RT terus dari orang tua Seungkwan juga. Kamu keren banget soalnya kamu sendirian, aku juga tahu gimana rasanya ngelola kayak gini sendirian tuh capek pasti. Tapi kamu sama sekali nggak mundur. Kamu tetep baik, profesional juga buat ngelayanin pembeli-pembeli kamu yang dari kalangan berbeda. Aku aja nggak tau sih bisa apa nggak kayak kamu. Aku cuman laki-laki yang hidup di negara ini.” Jeonghan mencibir pelan, “Karena kamu laki-laki.” Seungcheol tertawa kecil, lalu mengecup bibir Jeonghan sepersekian detik sampai membuat perempuan itu terkejut sejenak. “Karena aku laki-laki makanya mau ngerti gimana perempuan hebat kayak kamu ngejalanin ini semua. Aku juga mau belajar, cantik. Jadi, biarin aku belajar, ya? Nggak bakal langsung bagus, pasti bikin kamu marah juga nantinya. Tapi biarin aku berusaha untuk memantaskan diri buat kamu, ya?” Jeonghan pun tersipu malu, namun ia menegakkan tekadnya untuk mencubit kedua pipi tembam Seungcheol sampai lelaki itu meringis, “Iya, aku izinin. Jangan liat orang lain kalo sama aku. Aku udah nggak pake baju seksi di depan orang lain.”
Keduanya berbagi tawa yang hanya bisa disalurkan oleh mereka saja. Sebelum Jeonghan kembali merangkul pundak Seungcheol untuk mempertemukan kedua bibir mereka di ciuman lembut. Hari bahkan belum menyentuh waktu siang, namun Jeonghan sudah rasa ingin hidup hingga akhir zaman bersama lelaki itu. Apakah ia terkesan buru-buru? Entahlah, Jeonghan sudah lama tidak memakai akal sehatnya semenjak mendapati Choi Seungcheol berdiri di depan warung.
Saat warung tutup sejenak setelah waktu ramai di pagi hari selesai, Jeonghan kini bersimpuh di hadapan sang tuan. Lidahnya menjilat gundukan besar yang bersembunyi di balik celana itu. Kaos yang dikenakan Jeonghan sudah dilepas. Menurunkan celana Seungcheol hingga kontol besar itu dapat dijilat oleh lidah Jeonghan dengan rakus.
Seungcheol mengerang, meremas, dan menjambak helai rambut Jeonghan pelan-pelan. “Hahh… sayang,” desah sang tuan membuat Jeonghan berbunga-bunga di dalam perut, “Hmmm? Kenapa, ‘a?” Bulu mata lentiknya terlihat jelas dari perspektif Seungcheol. Lelaki itu hanya bisa mendesah kencang saat Jeonghan mulai mengulum kepala kontolnya. Membiarkan daging besar nan panjang itu hingga menyentuh tenggorokan nya.
Yoon Jeonghan memang lahir untuk membuai nafsu Choi Seungcheol yang sudah lama tidak dikerahkan karena realita. Seungcheol tidak membohongi dirinya sebagai seorang perjaka. Tidak, lelaki seperti dia belum pernah bersenggama? Sama sekali tidak mungkin. Namun lelaki seperti dia akan menolak jika bidadari seperti Yoon Jeonghan hadir di kehidupan nya? Jawaban nya sama; tidak mungkin.
Ditambah dengan bagaimana kedua mata Jeonghan berguling ke belakang di setiap sodokan yang diberikan Seungcheol di dalam mulutnya. Jeonghan membuka mulutnya lebar-lebar. Membiarkan memeknya itu digesekkan ke kaki Seungcheol hingga kembali memuncratkan cairan orgasme di lantai warung. Tidak lama bagi Seungcheol untuk memuncratkan cairan orgasmenya di dalam mulut Jeonghan, membiarkan perempuan itu menampung tiap tetesan yang jatuh hingga tidak ada yang terjatuh mengotori lantai.
Jeonghan masih dengan nikmat mengulum kepala kontol Seungcheol. Mengocok daging besar itu sampai beberapa muncratan peju mengenai wajah cantiknya. Sang kembang desa itu juga mengarahkan kontol Seungcheol untuk memuncratkan pejunya di kedua payudara besar nan kenyal. Jeonghan tertawa kecil, menjilat kontol Seungcheol hingga bersih sebelum diusap dagu dan wajahnya, menikmati usapan lembut dari yang lebih dominan.
‘aa🖤
‘aa ati-ati pulangnyaa
bakal kangen banget😔😔😔😔😔
iyaaa
ketemu di weekend ya sayang
‘aa kerja duluu
nanti ‘aa cerita ke ibu bapak juga soal kamuu
ih malu😔😔😔😔
ibu bapak bakal suka ngga sama aku?
sukaaa pastiii
siapa yang gasuka kamu emang
mantan suamiku
hm becandanya jelek
hihihi
‘aa suka aku🖤
‘aa suka kamu sayang🖤
‘aa nanti aku banyak kirim foto yaa
mau foto cantik apa seksi
bebass
aku mau liat kamu terus pokoknya
okee🖤
“Abang ke mana katanya?” tanya Seokmin seraya memakan keripik pisang kesukaan Wonwoo dari warung Jeonghan, “Kemarin bilang mau pulang dulu. Ada urusan kerjaan sama keluarga.” Wonwoo menyeruput jus jeruk yang barusan dibeli dari tukang jus langganan nya. “Oh iya, dia kan kerjaan nya kayak kerjaan keluarga gitu. Banyak tuh duitnya,” alis Wonwoo otomatis naik-turun seraya menatap Jeonghan, “Boleh tuh, teh. Ambil terus kabur.” Alhasil lengan Wonwoo langsung dipukul oleh Jeonghan, “Apaan sih. Teteh mah nggak nyari harta. Tau dia suka sama teteh aja udah syukur.”
Seungcheol hanya pulang beberapa hari saja. Namun dalam beberapa hari itu, Jeonghan rutin mengirimkan foto-foto maupun rekaman berisi dirinya sesuai permintaan sang tuan. Beberapa kali Jeonghan mengirim foto hasil rajutan nya. Karena keluarga Seungcheol memiliki seekor anjing, Jeonghan sedang berusaha untuk menjahit pakaian khusus binatang dengan rutin setiap harinya.
Selain itu keseharian nya, Jeonghan juga mengirimkan foto dan rekaman provokatif yang membuat Seungcheol harus menahan diri agar tidak meledak saat jarak memisahkan mereka. Rekaman di mana Jeonghan sedang memuaskan dirinya di kamar. Kamera difokuskan ke arah liang memek sempit nan merah itu, becek karena cairan orgasmenya sendiri. Lengkingan keras saat Jeonghan mencoba menyodok memeknya sendiri dengan ketiga jarinya hingga muncrat mengenai kamera ponselnya.
“Hani makin nakal kalo ditinggal ‘aa,” rengek Seungcheol di panggilan video mereka. Saat Seungcheol sedang tidak sibuk oleh pekerjaan nya dan waktu sibuk di warung sudah mereda, keduanya sering melangsungkan panggilan video dengan Jeonghan hanya memakai celana dalam saja. Jeonghan tertawa kecil, menggigit ujung jemari lentiknya seraya memperlihatkan liang memeknya lebar-lebar ke arah kamera. “Hani nggak sabar dientot ‘aa soalnya,” bisik Jeonghan kini mulai pelan-pelan mengusap itil merahnya, “‘Aa langsung entot Hani di warung aja. Perkosa Hani, ya? Nanti Hani loncat-loncat di kontol ‘aa biar ‘aa enak terus muncrat di rahim Hani sampe penuh. ‘Aa nggak usah gerak, biar Hani aja yang gerak. Hani jago kok.”
“Sejago apa emang? ‘Aa belum liat.”
“Ih! Jago tau. Mmmh… sebentar. Hani dapet ini dari Jisoo. Katanya enak kalo lagi sange dipake pas Seokmin harus bantuin pak RT.”
Jeonghan membawa dildo panjang pemberian Jisoo kemarin. Di mana sahabatnya itu sudah mengetahui tentang cerita hubungan romansa Jeonghan dan Seungcheol. Keinginan Jeonghan sendiri yang ingin dibuahi anak oleh lelaki tampan idaman nya itu. Sedangkan Seungcheol hanya bisa menganga lebar, bingung di waktu yang sama karena Jeonghan.
Perlahan ia membasahi batang dildo itu dan ditempatkan di depan bibir memeknya. Jeonghan mendesah pelan, meremas kedua payudaranya. Membiarkan Seungcheol menikmati suguhan pertunjukan langsung lewat ponselnya. Gesekan kepala dildo di itil merah Jeonghan membuat perempuan itu semakin melempar kepalanya ke belakang.
“Ahhh… kontol ‘aa nggak segede ini… kurang gede,” rengek Jeonghan kecewa. Seungcheol hanya bisa menelan ludahnya, “Dicoba dulu aja, neng. ‘Aa mau liat.” Jeonghan mengangguk kecil, menuruti permintaan kekasihnya. “Iya, ‘a. Hani nurut maunya ‘aa aja,” ditempatkan dildo itu tepat di depan bibir memek Jeonghan, mengangkat sedikit tubuhnya sebelum perlahan diturunkan, “Mmmmh! Nnnh. Nnngh… sakit… sakit, ‘a. Ahhh…”
Desahan Jeonghan semakin kencang saat tubuhnya berhasil melahap dildo panjang masuk ke dalam liang memek sempit itu. Tubuh ramping nan kecil itu bergetar. Bahkan Seungcheol saja dapat melihat betapa kewalahan nya Jeonghan dengan kenikmatan yang sedang dirasakan. Penuh adalah satu kata yang tepat untuk menjelaskan situasinya.
Pandangan Jeonghan kembali diarahkan ke kamera. Kedua kakinya pelan-pelan dibuka lebar-lebar untuk memperlihatkan dildo yang sudah masuk ke dalam memek itu. Tangan Seungcheol juga sudah tidak terlihat dari kamera. Perlahan desahan pun terdengar dari di mana lelaki itu berada.
“Hani,” panggil Seungcheol dengan suara yang tertahan di tenggorokan. Pergerakan sedikit yang dilakukan Jeonghan membuat kepala dildo itu menumbuk semakin dalam. Kepala sang puan semakin terlontar ke belakang, tubuh melekuk sempurna bagaikan pahatan Tuhan paling terlarang. “Hhah… iya, ‘a – ahh.. anjing…” Jeonghan meringis, mencoba menutup kedua kaki sembari menggigit bibir bawah, “Hhahh… penuh, ‘a. Penuh banget. Tapi kurang gede. Maunya kontol kamu.”
Seungcheol mengerang panjang di layar ponsel Jeonghan. Deru napas keduanya dapat terdengar menggema di pendengaran masing-masing. Perlahan Jeonghan mulai menggenjot dildo itu. Bergerak naik-turun membiarkan rasa sakit pelan-pelan berubah menjadi nikmat.
Ringisan sakit pun berubah menjadi desahan kenikmatan. Merasakan tiap hentakan kepala kontol yang jauh berbeda dari milik Seungcheol, namun setidaknya masih bisa memuai nafsu terbelenggu beberapa hari ke belakang. Jeonghan pun menemukan ritmenya. Pandangan nya kembali difokuskan ke arah Seungcheol di kamera yang juga sibuk mengocok kontolnya.
“‘Aa… ‘aa, sodok Hani,” bisik Jeonghan, “Sodokin, ‘a. Sampe mentok – mentokin… mmmh.” Seungcheol mengocok kontolnya, memperlihatkan kejantanan itu ke kamera. Jeonghan mendesah lebih kencang. Mulutnya terbuka lebar seraya menjulurkan lidah, “Hahh – lagi… lagi, ‘a. Nnh! Nnhhh… sodok lagi.”
“Hani – anjing. Kamu sempit banget.”
“Hhh! Iya, iya. Sempit – sempit buat ‘aa. Hhhah!”
Pergerakan tubuh Jeonghan semakin dipercepat. Tiap hentakan membuat tubuhnya terkulai lemas. Energi yang dikuras pun sudah lebih dari biasa. Tanpa aba-aba dan bibir bergetar kencang, Jeonghan meraih puncak orgasmenya.
Dildo itu dilepas untuk memuncratkan cairan orgasme ke arah kamera dan juga kasur tidurnya. Bersamaan dengan Seungcheol yang juga mencapai puncak orgasmenya. Cairan putih kental yang disukai Jeonghan itu hanya bisa dinikmati lewat layar kamera. Jeonghan tidak memiliki waktu untuk merengek karena tubuhnya masih merinding dengan puncak orgasme yang baru saja tercapai.
“Hhhhah… liat, ‘a. Merah banget,” Jeonghan membuka lebar kedua kakinya seraya diarahkan ke kamera. Sekali ia memukul kencang liang memeknya, menjerit kecil seraya meringis sakit. “Jangan dipukul, sayang. Nanti ‘aa aja yang pukul di warung,” ujar Seungcheol sekaligus memberi janji. Jeonghan mengangguk, “Kangen banget, ‘a. Abis ini teleponan lagi mau? Aku mau mandi dulu.” Seungcheol mengangguk, senyum kecil terulas di bibir, “Nanti kita telponan sampe kamu bobo, sayang. Yaudah mandi dulu sana, pake baju yang bener, sayangnya ‘aa.”
Kalau boleh jujur, Jeonghan masih sangat malu-malu dengan status hubungan mereka yang baru. Sepasang kekasih, satu status yang sangat asing didengar oleh telinga Jeonghan. Perempuan itu malah sama sekali tidak pernah berekspektasi kalau ia akan menemukan cinta kembali setelah apa yang ia lewati. Pernikahan tidak jelas, komentar-komentar tentang statusnya sebagai janda, sekaligus tinggal sendiri dengan ditemani usaha warungnya itu.
Hanya berbincang beberapa hari hingga berhubungan intim. Jeonghan rasa ia memang sedang terburu-buru. Namun perasaan tidak enak atau ganjal sekalipun tidak terbesit di hati selama ia berada di samping Seungcheol. Berarti itu perasaan yang baik, kan? Sudah lama sendiri, Jeonghan bahkan tidak mengetahui apa yang ia rasakan selama ini.
Dia hanya tahu rasa nyaman yang diberikan lelaki itu.
Sesuai permintaan Jeonghan, sepasang kekasih itu pun bertukar pesan melalui panggilan telepon hingga salah satunya tertidur. Seungcheol sendiri akan pulang di esok hari. Menambah satu alasan untuk Jeonghan agar semangat memulai hari. Setidaknya ia tidak akan sendirian lagi; tidak lagi.
Saat esok hari tiba, Jeonghan memulai pagi dengan seperti biasa. Merapikan kamar dan kasur, membersihkan barang-barang yang sudah dipakai. Termasuk dildo pemberian Jisoo, Jeonghan tidak lupa mengirim pesan tentang apa yang terjadi semalam kepada perempuan itu. Ia berakhir mendapat balasan beberapa stiker tidak senonoh dari Jisoo.
jisoo
aaaaaaaaa
hani hamil minggu depan
doain aja huhuh
mau hamil
kamu kapann
belum lagi
seokmin nya sibuk bolak-balik kerja
capek banget dia
sepongin dong
udah!!
abis dimuncratin aku tadi malem emang kamu doang
eh kamu kan ldr
ih
ke warung sinii
aku mau cerita
iyaaa
aku ajak minghao yaa!
Seraya menyapa para pembeli dari semua kalangan di Sabtu pagi, Jeonghan menyempatkan waktu untuk berbincang dengan kedua teman nya. Bahkan Minghao yang harus datang menggunakan motornya dengan Jisoo duduk di jok penumpang. Mendengarkan keluh kesah berasal dari keluarga kecil mereka masing-masing. Jeonghan memang sudah biasa menjadi pendengar dari cerita-cerita kehidupan teman-teman nya.
Karena hari libur, warung sedikit sepi menjelang siang. Kebanyakan warga juga memilih untuk tetap di rumah atau sudah belanja dari kemarin-kemarin. Harga supermarket juga sedang tidak melonjak parah, jadi Jeonghan sudah merencanakan aktivitas lain untuk mengisi senggangnya. Salah satunya adalah melanjutkan rajutan untuk Kkuma, anjing keluarganya Seungcheol.
Tetapi sebelum Jeonghan berniat ingin menutup warung, langkahnya terhenti saat mendapati pemandangan yang sudah didambakan sejak beberapa hari lalu. Seungcheol, dengan memakai kaos hitam dan celana panjang seperti biasa, sedang berjalan menuju warungnya. Senyum lebar terpatri di bibir seraya melambaikan tangan ke arah kekasihnya. Jeonghan ingin menangis, betapa besarnya rasa rindu di dalam dada.
“Sayang,” panggil Seungcheol melangkah masuk ke dalam warung Jeonghan. Tubuhnya langsung bereaksi cepat saat perempuan itu melempar dirinya ke pelukan sang tuan. Jeonghan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Seungcheol, membiarkan lelaki itu membawa keduanya ke bagian warung yang tidak terlalu kelihatan orang-orang dari luar. “Kangen,” bisik Jeonghan kecil dan Seungcheol tertawa renyah, menarik wajahnya untuk menatap si kekasih lekat-lekat, “Aku juga kangen kamu, sayang. Mau ciuman sama kamu. Udah kangen banget,” perempuan itu mengangguk semangat, mendesah kecil saat merasakan remasan di bongkahan pantat diberikan oleh sepasang tangan kekar, “Mmmh. Cium, cium aku, ‘a. Pake aku sampe kamu puas.”
Warung masih belum sepenuhnya tutup. Tetapi Jeonghan sudah tidak memperdulikan itu sejak Seungcheol kembali ke rengkuhan nya. Dramatis? Tentu saja, ia seorang wanita yang hanya rindu dengan kekasihnya. Jeonghan hanya ingin disayangi kembali oleh orang yang peduli dengan siapa dirinya.
Daster yang digunakan Jeonghan disibak untuk Seungcheol semakin meremas bokong sang puan. Membuat Jeonghan melenguh pelan di cumbuan mesra penuh rindu yang sedang berlangsung. Kedua tangan Jeonghan merengkuh leher Seungcheol erat-erat, menarik tubuh yang lebih tua untuk semakin mendekat ke tubuhnya. Jeonghan bersandar ke dinding warung, mengangkat satu kakinya melingkar di pinggang Seungcheol sebelum membiarkan lelaki itu menarik ke bawah daster yang ia kenakan demi meremas kedua payudara besarnya.
Cumbuan dan gigitan mesra Seungcheol perlahan bergerak dari bibir menuju leher. Jeonghan hanya bisa menengadahkan kepala bersandar ke dinding. Membiarkan lelaki itu melakukan apa yang harus ia lakukan. Meninggalkan banyak tanda kepemilikan bahwa Yoon Jeonghan hanya milik Choi Seungcheol.
Jeonghan memekik kecil saat Seungcheol merubah posisi keduanya untuk duduk. Kembali ke pangkuan lelaki itu, bersiap untuk menyusui bayi besarnya. Seungcheol sendiri kini sedang mengecup belahan buah dada Jeonghan dengan lembut. Sesekali menggesekkan pipinya ke pentil tegang milik kekasihnya dengan mata tertutup.
“Kangen susu kamu,” bisik Seungcheol seraya mengangkat pandangan nya, “Kangen kamu banget, banget, banget. Besok-besok aku bawa kamu aja ke mana-mana. Biar kamu istirahat juga nggak jaga warung terus.” Jeonghan tertawa kecil, mencubit pucuk hidung Seungcheol dengan gemas. Saat Seungcheol membalas dengan meringis kesakitan, Jeonghan mencium dahi lelaki itu seraya menyisir helai rambut hitam legamnya. “Mau bawa aku ke mana, sayang?” tanya Jeonghan sedikit berharap jika ia benar-benar ingin dibawa pergi, “Ke mana aja. Aku punya kebun di deket sini atau mau kebun yang di luar kota juga bisa. Mau ngasih tau orang-orang kalo pacarku cantik, mandiri, pinter ngejahit juga.”
“Seksi nggak?”
“Kalo seksi cuman penilaian aku aja. Nggak usah nanya-nanya yang lain.”
“Hmmm, ya, ya. Nyusu dulu sini,” Jeonghan tertawa saat Seungcheol membuka mulutnya. Sang puan pun menempatkan pentil tegangnya di ujung bibir kekasihnya. “Nyusu yang banyak, sayang. Nanti abis itu ngewe, ya? Hamilin pacar seksi kamu ini,” bisik Jeonghan seraya mengusap pipi Seungcheol dengan lembut. Lelaki itu mengangguk, mulai menghisap susu dari payudara Jeonghan yang membuat perempuan di pangkuan nya hanya bisa mendesah, “Mau, mau hamilin kamu, sayang. Mau jadi ayah dari anak-anak kamu.”
Jeonghan mengangguk, menggerakkan tubuhnya pelan-pelan naik-turun untuk menggesekkan celana dalamnya di balik daster itu ke gundukan besar milik Seungcheol. Dengan pandai Jeonghan mengikat lebih kencang kunciran rambut sebelum memeluk leher kekasihnya erat-erat. Memompa payudaranya agar mengalirkan cairan susu setiap Seungcheol menghisap ke kedua pentilnya secara bergantian. Jeonghan melepas dasternya dan membuangnya asal ke lantai, meninggalkan tubuh rampingnya itu hanya sisa memakai celana dalam berenda yang sudah mulai basah karena gesekan ke gundukan milik sang kekasih.
Seungcheol pun mengikuti apa yang Jeonghan lakukan. Perlahan melepas kaos hitamnya dan dilempar sembarang sebelum kembali menghisap kedua payudara milik kekasihnya. Jeonghan hanya bisa memeluk tubuh lelakinya erat-erat. Menjerit kecil saat Seungcheol menyundul pinggangnya tepat ke arah bibir memeknya, meninggalkan Jeonghan dengan pikiran penuh nafsu tak terkendali.
“Teh Jeonghan, mau beli,” tiba-tiba ada suara dari depan warung yang membuat Seungcheol berhenti. Lelaki itu menatap Jeonghan dengan mata terbelalak lebar, “Hani –” Jeonghan membungkam mulut lelakinya itu, “Nggak… nggak apa-apa. Aku.. mmmh.. aku mau sama kamu.” Jeonghan semakin memuncratkan cairan nya hingga membasahi celana dalam di bawah sana. “Hhahh… maaf, lagi tutup sebentar. Balik lagi nanti siang aja,” balas sang pemilik warung dengan energi yang bisa dia pakai untuk berteriak, “Yah, yaudah deh. Makasih, teh,” Jeonghan pun kini kembali menatap Seungcheol, “Mau ngewe, ‘a. Mmmh.. aku aja yang genjot buat sekarang. Nanti lanjut di rumah sampe pingsan, ya?”
Seungcheol hanya bisa menganggukan kepala. Fokus masih diberikan di aktivitas menghisap tiap tetesan susu yang dialirkan dari payudara kekasihnya. Merasa sudah lebih kenyang, Jeonghan melepas hisapan Seungcheol agar kedua bibir mereka bertemu di satu ciuman lembut. Menangkup wajah lelaki itu seraya melumat bibir kekasihnya dengan lihai.
Membiarkan Jeonghan mengambil alih ciuman mereka, Seungcheol perlahan melepas celananya bersamaan dengan celana dalam sang puan. Kedua organ intim mereka bergesekan, membuat Jeonghan menghentikan ciuman mereka hanya untuk mendesah. Bibir bawahnya bergetar pelan, kewalahan akan kenikmatan yang dirasa. Namun Seungcheol kembali mempertemukan kedua bibir mereka, mengusap pinggang dan punggung Jeonghan dengan lembut.
Seraya masih menautkan kedua bibir mereka, Seungcheol berbaring di alas karpet dengan Jeonghan masih duduk di pangkuan. Jeonghan menggesekkan kedua hidung mereka satu-sama lain. Merasakan tiap sundulan kontol Seungcheol yang sudah menegang di bibir memeknya. Membuat dia hanya bisa mendesah dan melenguh merasakan betapa besar kejantanan kekasihnya.
“Kamu mau ngeliatin aku gimana genjot kontol kayak semalem, sayang?” bisik Seungcheol saat Jeonghan menegakkan tubuhnya di pangkuan sang tuan. Mengangguk cepat seraya semakin menggesekkan kontol besar itu di depan bibir memek. “Mmmh… iya. Mau loncat-loncat di kontol ‘aa aja. Kayak kelinci mau kawin,” Jeonghan tertawa kecil seraya menjulurkan lidahnya keluar, “Biar ‘aa nggak nyari yang lain. Cuman sama Hani aja.” Tenggorokan Seungcheol terasa kering, apalagi saat Jeonghan mencoba melesakkan kepala kontolnya masuk ke dalam memek sempitnya, “Mmmh… nggak, sayang. ‘Aa nggak nyari yang lain kalo udah ada kamu.”
Jeonghan tahu itu, karena hal yang sama akan dilakukan olehnya hanya untuk Seungcheol. Ia mengecup bibir Seungcheol dengan lembut sebelum kembali menggesekkan kontol besar itu ke memeknya. Perlahan menggoda sang kekasih dengan mendorong kepala kontolnya saja masuk ke memeknya. Mulut Jeonghan alhasil terbuka lebar, merasa ada sesuatu lebih besar dari apa yang pernah ia rasakan masuk ke dalam tubuhnya.
Mengatur deru napas pelan-pelan, Jeonghan mengangkat tubuhnya dan kembali diturunkan untuk melahap kejantanan Seungcheol. Membiarkan daging besar nan panjang itu masuk ke dalam liang kewanitaan nya. Rasa sakit pun menyebar ke seluruh sistem saraf. Membuat Jeonghan harus memejamkan kedua mata erat-erat, meremas genggaman tangan Seungcheol seraya menahan untuk tidak menjerit kencang di warungnya sendiri.
Saat kontol besar itu sudah sepenuhnya terkubur di dalam tubuh, Jeonghan baru bisa melenguh panjang. Menggeram seraya merasakan dirinya sesak di dalam, nikmat di kepala. Pusing, namun nikmat di waktu yang sama. Tidak bisa dideskripsikan secara rinci, tenggelam di lautan nafsu dan afeksi seorang Choi Seungcheol.
“Sayang,” suara Seungcheol menarik Jeonghan kembali ke realita. Pandangan sayu seraya mengedipkan mata, membiarkan bulu matanya berkibas cantik. “Mmmmh… hnnn… enak. Penuh banget, ‘a,” Jeonghan mengusap perutnya, merasakan kontol Seungcheol yang terasa di dalam tubuh, “Ahhh… sesek. Gede banget, lebih gede dari dildo yang aku pake semalem.” Sang kembang desa itu kembali melenguh kencang saat Seungcheol bergerak sedikit, membuat kontolnya semakin terkubur di dalam, “Hhahh… ahhh. Nnnh… aku – mmmh… aku genjot. Mau genjot sendiri.”
“Iya, sayang. Aku pegangin sini.”
“Mmmh… sayang, sayang, sayang. Ahh…”
Jeonghan menggenggam tangan Seungcheol erat-erat. Perlahan ia menggerakkan badan naik-turun. Membiarkan kontol Seungcheol menegang di dalam tubuhnya. Meremas-remas kontol besar itu yang terus menumbuk titik kenikmatan di dalam sana.
Seungcheol hanya bisa menggeram dari dalam dada. Merasakan tiap remasan keras di sekitar kontolnya. Tidak pernah ia merasakan hal seperti ini selagi bercinta dengan orang lain. Kecuali bersama Yoon Jeonghan; perempuan tercantik yang pernah ia temui selama ini.
Pergerakan tubuh Jeonghan semakin dipercepat. Ritme yang ditentukan membuat kedua payudaranya ikut bergerak sesuai pergerakan tubuhnya. Seungcheol seperti sedang di surga saat ini. Entah apa yang pernah ia lakukan di zaman dahulu sampai berhak mendapat kenikmatan lewat perantara presensi Yoon Jeonghan.
“Ah! Ah! Ahhh! Enak! Enak! Enak banget, ‘aa,” Jeonghan mendesah kencang. Tubuhnya semakin melompat-lompat di pangkuan sang tuan. “Hahhh… ahhh… enak… lagi, lagi. Aku mau lagi, ‘a,” meremas payudaranya kuat-kuat, membiarkan tetesan susu itu keluar dan jatuh di tubuh Seungcheol, “Mmmhh! Nnnhhh. Sodok, sodokin lagi. Ahhh –!” hentakan kencang yang diberikan lelaki di bawahnga hampir membuat Jeonghan tersungkur ke depan. Memeluk tubuh Seungcheol erat-erat seraya membiarkan lelaki itu menjamah liang memeknya sepanjang batas waktu yang tidak ditentukan; selamanya, kalau bisa, “Nnnhh! Hhhhhhh – enak… enak banget ‘a. Hamilin… hamilin Hani, ‘a. Mau hamil anak ‘aa.”
Tubuh Jeonghan terkulai lemas di pangkuan Seungcheol. Kepalanya terjatuh bergantung ke belakang. Membiarkan sang kekasih memakai tubuhnya demi mengejar puncak orgasme masing-masing. Jeonghan bahkan tidak merasa dirinya sudah memuncratkan banyak cairan orgasme di bawah sana.
Melumuri kedua organ intim mereka hingga mempercepat gerakan kontol Seungcheol di dalam tubuhnya. Erangan-erangan berat terdengar dari bilah bibir Seungcheol. Bercak merah dan biru keunguan mendekorasi ceruk leher kedua insan saling mencintai di Sabtu pagi menuju siang. Jeonghan hanya bisa mendesah, memuncratkan cairan orgasme, dan juga meneteskan tiap tetesan susu dari payudara besarnya.
“Hani – anjing, aku mau bucat,” desah Seungcheol di sela hentakan kencangnya. Jeonghan menganggukkan kepala, energinya sudah terkuras habis. “Di dalem – mmmh.. di dalem ‘a,” pandangan sayu dikerahkan demi menatap kedua mata sang kekasih lekat-lekat, “Di dalem, sayang. Hamilin aku – jadi ayah dari anak-anakku. Seungcheol, S-seungcheol –! Ahhh!” Jeritan pun akhirnya lolos dari bibir Jeonghan bersamaan dengan hentakan kencang sebelum Seungcheol memenuhi rahimnya. Cairan kental berwarna putih itu kini sudah bersarang di dalam tubuh Jeonghan, sesuai keinginan perempuan itu sejak beberapa tahun lalu.
“Jeonghan – sayang –”
“Seungcheol – ohhh… mmmh… penuh.”
Seungcheol memeluk tubuh Jeonghan erat-erat. Membiarkan cairan orgasmenya memenuhi tubuh Jeonghan sejenak seraya keduanya turun dari puncak kenikmatan masing-masing. Jeonghan menyandarkan kepala di pundak sang kekasih. Peluh keringat berkumpul di pelipisnya, namun peduli setan; dirinya sudah dibuahi oleh Choi Seungcheol.
Keduanya tentu tahu bahwa mereka tidak akan berhenti di sini saja. Hari masih panjang dan Seungcheol tidak akan ke mana-mana. Jeonghan juga tidak akan membiarkan kekasihnya pergi dalam waktu dekat. Coret – tidak akan membiarkan kekasihnya pergi untuk selamanya.
“Ahh! Hhahhh! Ah, ah, ah. Lagi, lagi, ‘a.”
“Sempit banget – ahh… sempit banget memek kamu, sayang.”
“Buat kamu –! Nnnh… memek lonte sempit buat kamu, sayang.”
Posisi Jeonghan kini berbaring di karpet. Meremas daster di lantai kuat-kuat seraya mengangkat bokongnya menungging hanya untuk sang tuan. Kedua kakinya diperlebar, tubuh melekuk sempurna bagai pahatan Tuhan. Desahan yang dikerahkan tidak semakin mengecil; mengeras, menggema di warung miliknya ini.
Kunciran rambut Jeonghan sudah tidak teratur. Beberapa helai jatuh bersamaan dengan seberapa kencang hentakan kontol besar Seungcheol dari belakang. Membiarkan lelaki itu menjambak rambutnya sesukanya. Karena memang Jeonghan hanya lahir untuk menampung cairan peju kental milik Choi Seungcheol.
Puncak orgasme kelima kali Jeonghan pun tercapai. Tubuhnya sudah terkulai lemas berbaring di karpet. Namun tetap melebarkan liang kewanitaan nya untuk dijamah oleh sang kekasih. Kembali menampung tiap tetesan cairan bercinta keduanya yang akan menghasilkan buah hati di dalam rahim.
Sampai di mana Seungcheol pun menyusulnya. Memenuhi rahim Jeonghan dengan cairan orgasme kental itu. Kedua mata Jeonghan berguling ke belakang. Mulutnya terbuka lebar, melolongkan desahan panjang sekaligus pekikan kecil guna mengekspresikan kenikmatan yang dirasa saat ini.
“Ahhh… mmhh… aw!” Ringis Jeonghan kecil disusul oleh tawa renyah setelah Seungcheol menampar bokongnya. Meninggalkan bercak merah di sana penuh kebanggaan dimiliki oleh lelaki itu. Seungcheol memeluk tubuh Jeonghan erat-erat, menolehkan kepala sang puan agar keduanya kembali bertemu di satu ciuman lembut. “Aku puas banget, neng,” bisik Seungcheol sembari mengecup bibir si kembang desa, “Apalagi aku, ‘a. Mmmh… sampe serak ini. Belum nanti kalo mau dipake lagi badan nya sama kamu. Aku belum pingsan jadi bakal ngewe terus.”
Seungcheol hanya tertawa mendengar permintaan Jeonghan. Ia memang tidak bisa menolak permintaan sang kekasih sekaligus calon ibu dari anak-anaknya nanti. Jeonghan menautkan kedua bibir mereka lagi. Melumat lembut bilah bibir kekasihnya itu hingga mendengar suara getaran notifikasi dari ponselnya.
Fokus Jeonghan perlahan terbagi karena syahwat zinanya sudah mulai menurun. Membiarkan Seungcheol menarik tubuhnya kembali duduk di pangkuan. Mengecup ceruk leher Jeonghan seraya mengusap lembut selangkangan perempuan itu. Membiarkan sang kekasih membuka ponselnya sejenak.
kwani
teteh
teteh lagi bercinta ya
😭
iya adikk
kenapaa?
kedengeran tadi pas mampir
hansol mau es krim tapi pas denger lg ngewe muter balik
apakah sudah selesai?
udahhh
maaf huhu lagi enak
gapapa teteh aku juga 2 ronde jdnya hihiy
teteh buka warung ga tapi siangg
hansol masih mau es krim
buka koo
ini mau bersih2 dulu baru buka
sekalian mampir makan siang bareng yaa
bosen di rumah
iyaaa sini ajaa
okeee
“Seungkwan, ya?” Seungcheol mengecup pipi Jeonghan lembut. Jeonghan mengangguk, menggenggam kedua tangan kekasihnya yang melingkar erat di perut. “Katanya kita kedengeran sampe luar, ‘a,” ujar Jeonghan seraya mengunci ponsel pintarnya lagi. Seungcheol hanya berdehem, menempatkan dahu di pundak wanitanya, “Yaudah kalo kedengeran. Berarti semua orang tau kalo kamu lagi keenakan,” Jeonghan tertawa lepas, kembali mencium bibir sang kekasih, “Mmmh. Lagi enak sama sayangku sampe dihamilin beronde-ronde. Nanti lagi, ya? Aku mau mandi dulu. Mau makan siang, sayang. Aku mau masak buat kita berdua.”
Namun Jeonghan kadang memang terlalu berpikiran bahwa ia masih sendirian. Sebuah hubungan, lebih tepatnya hubungan romantis, memiliki dua orang di satu ikatan. Kamus tentang hubungan romansa di kehidupan Jeonghan terkadang hanya berat di satu sisi. Alas, dia selalu lupa jika ada seseorang yang rela berdiri di sebelahnya, bukan di samping, apalagi di belakang.
Maka saat Jeonghan hendak berdiri dan kedua kakinya terasa lemas, Seungcheol dengan sigap langsung menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Jeonghan memekik pelan, seketika sadar bahwa ia sedang bersama Seungcheol. Tubuhnya meringkuk sejenak di dekapan lelaki itu. Deru napas terdengar cukup keras untuk didengar oleh telinga Seungcheol.
“Hani, kamu nggak apa-apa? Kaki kamu lemes banget, sayang. Aku aja yang masak nanti, kamu mandi aja, ya?” Seungcheol menyisir helai rambut Jeonghan. Perlahan menguncir rambut perempuan itu dan memastikan ikatan nya tidak terlalu kuat. “Sayang? Hey,” Jeonghan tidak sadar kalau ia melamun, “Hm? Iya, ah… maaf. Aku bengomg tadi.” Seungcheol berdehem, mengecup pipi Jeonghan lagi dengan lembut, “Nggak apa-apa, sayang. Aku di sini. Nemenin kamu sampe kamu nggak mau ditemenin.”
“Aku – aku mau ditemenin terus.”
“Yaudah berarti ditemenin terus-terusan sampe tua.”
Bukan bermaksud untuk dramatis atau yang lain. Jeonghan baru pertama kali berada di hubungan sehat semenjak pernikahan terakhirnya. Banyak sekali yang sedang dipikirkan di pikiran nya saat ini. Bagaimana ia menceritakan ke kedua orangtuanya tentang Seungcheol? Bukan dia tidak percaya dengan lelaki itu.
Bahkan sebaliknya, Jeonghan amat sangat mempercayai Seungcheol. Ia sangat percaya dengan lelaki itu hingga hampir lupa kalau manusia bisa berubah dengan sekejap. Namun Jeonghan memutuskan untuk tidak menenggelamkan diri di pikiran-pikiran aneh terlebih dahulu. Hal paling penting saat ini adalah Seungcheol masih berada di sisinya, rela menemaninya, dan juga merengkuhnya setiap saat.
Jeonghan dibaringkan di kasur tidurnya sejenak seraya menunggu Seungcheol yang bebersih terlebih dahulu. Mengiyakan penawaran sang tuan yang sebelumnya ingin memasak makan siang untuk mereka berdua. Jeonghan perlahan merubah posisinya untuk duduk di kasur. Menghadap ke kaca yang terdapat di sebelah tempat tidurnya.
Bercak-bercak kemerahan dan tanda kepemilikan Seungcheol terlihat jelas di tiap sudut maupun lipatan tubuhnya. Jeonghan menghembuskan napas pelan, mengusap lembut tiap tanda itu dengan senyum tipis di bibir. Selanjutnya ia mulai mengusap perutnya. Impian menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya nanti mungkin bukan hanya khayalan belaka saja.
Saat Seungcheol keluar kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya, ia menemukan Jeonghan sedang menatap ke arahnya. “Kenapa, sayang?” tanya lelaki itu mengecup pucuk kepala Jeonghan dengan lembut. Jeonghan hanya menatap kedua manik milik sang tuan lekat-lekat seraya menggenggam tangan nya erat-erat. “Makasih, ya,” ujar Jeonghan tiba-tiba, “Makasih udah ngabulin permintaan aku, ‘a,” Seungcheol terdiam sejenak, handuk itu masih bergantung di pundaknya, “Sama-sama, sayang. Sama-sama.”
Seungcheol terlihat kebingungan sejenak. Memang ia belum tahu seberapa rinci masa lalu Jeonghan. Sebuah topik sensitif yang tidak ingin ia ungkit sebelum Jeonghan sendiri yang membawa obrolan tersebut. Tetapi mendengar kalimat itu keluar dari mulut kekasihnya, Seungcheol hanya bisa membalas dengan apa yang harusnya dibalas.
Jeonghan pertama kali membiarkan lelaki lain masuk ke dapur kontrakan nya. Tentu selain ayahnya sendiri. Setelah Jeonghan berganti baju, keduanya memindahkan makan siang mereka ke warung sembari menunggu kedatangan Hansol dan Seungkwan. Terkadang Jeonghan memang suka mengundang teman-teman nya datang di hari libur seperti ini sekedar untuk sekedar berbincang.
Hansol dan Seungkwan datang dengan mengendarai vespa otentik. Kedua pasangan itu pun duduk di tempat masing-masing seraya menikmati hidangan makan siang mereka. Hansol tidak lupa untuk mengambil es krim yang sedari tadi sudah didambakan. Omong-omong soal es krim, Hansol teringat sesuatu.
“Teteh kalo diewe enak ya, bang?” celetuk Hansol di siang bolong. Jeonghan tersedak dan Seungkwan menganga. Seungcheol berdehem sejenak sebelum menganggukkan kepala. “Parah,” jawab Seungcheol yang dibalas dengan ekspresi wajah menerima jawaban lelaki itu dari Hansol, “Anjay, gacor bos.”
Hansol berakhir dipukul lengan nya oleh sang istri. Sedangkan kedua pipi Jeonghan sudah memancarkan semburat merah. Tidak ada tempat baginya untuk bersembunyi. Namun Seungcheol hanya tertawa kecil, menarik tubuh Jeonghan agar lebih mendekat.
Sisa hari Sabtu itupun dihabiskan hanya bersama Seungcheol. Jeonghan belum pernah beristirahat dari menjaga warung tetapi ada orang lain yang bekerja di depan. Betul, Seungcheol bersikukuh memintanya untuk beristirahat dan membiarkan dirinya melayani pembeli-pembeli warung itu. Seungcheol juga kelihatan nya punya pengalaman dalam mengurus sebuah toko kecil setidaknya.
Masih banyak hal yang belum Jeonghan ketahui tentang Seungcheol. Lelaki itu memang sudah terbuka tentang keluarganya, Jeonghan juga merasa diakui jika Seungcheol bisa sampai membicarakan hal itu. Namun hal seperti kontrakan Seungcheol di ujung gang saja Jeonghan belum sempat menghampiri kediaman lelaki itu. Jeonghan hanya pernah melewati saja, itupun juga diberitahu oleh Jisoo tempat pastinya.
Saat langit perlahan mulai menggelap, situasi warung sudah mulai sepi. Hanya jalanan yang dipenuhi oleh motor dan mobil berlalu-lalang. Maklum, malam minggu semua orang pasti keluar rumah. Tidak semuanya, tapi pasti ada beberapa.
Jeonghan menyuguhkan 2 gelas teh manis untuk dirinya dan Seungcheol. Menikmati heningnya warung seraya menunggu waktu kapan Jeonghan akan menutup harinya di malam ini. Jeonghan menyandarkan kepalanya di lengan sang kekasih. Membiarkan Seungcheol menggenggam tangan nya erat-erat seraya keduanya menatap jalan raya ramai di hadapan mereka.
“Hani,” Jeonghan berdehem, “Kamu mau tutup warung jam berapa?” Seungcheol bertanya. Jeonghan berpikir sejenak sebelum menjawab, “Paling bentar lagi. Kenapa emang, ‘a?” tanya perempuan itu penuh keingintahuan. Hembusan napas pelan pun lolos dari hidung Seungcheol. Perlahan si lelaki membiarkan jemari-jemari mereka bertautan dengan satu-sama lain di bawah sinar rembulan dan lampu warung, “Nggak, aku mau ngajak kamu pulang ke rumah.”
“Rumah aku kan di belakang doang.”
“Bukan rumah kamu. Tapi rumah aku, sayang.”
Kedua mata Jeonghan berkejap kembali. “Rumah yang ada ibu sama bapak?” Jeonghan hanya ingin memastikan sekali lagi. Mendengar itu, Seungcheol langsung tertawa lepas. “Bukan, sayang. Rumahku di ujung gang itu loh. Kamu belum pernah, kan? Sekalian nginep aja. Besok buka warung bareng-bareng lagi sama aku,” ujar Seungcheol seraya mengusap pipi Jeonghan lembut. Satu kecupan pun diberikan di bibir si perempuan, “Rumah yang ada ibu sama bapak juga boleh sih. Tinggal atur jadwal aja, nanti kita berangkat.”
Benak Jeonghan pun bergejolak tanpa sepengetahuan Seungcheol. Entah perasaan apa yang sedang dirasakan olehnya sekarang. Senang? Tentu; panik? Apalagi; takut? Sangat – sangat, sangat takut. Bagaimana kalau keluarganya Seungcheol tidak menerima seorang janda sebagai seseorang yang pantas bersanding di samping anak bungsu mereka? Jeonghan sudah tidak ingin mendengar berbagai komentar dari orang lain yang tidak mengenalnya lebih dalam.
Lebih tepatnya Jeonghan tidak ingin berseteru dengan keluarga besar orang lain lagi. Kembali disalah-salahkan, padahal dia korban nya. Jeonghan juga mengetahui keluarganya tidak ingin dirinya melewati hal-hal seperti itu lagi. Selama setahun ke belakang, Jeonghan hanya punya sisa harga dirinya dan usaha warung ini saja.
Pandangan Jeonghan sedikit mengabur hingga perlahan kembali berfokus ke sosok Seungcheol yang kini sedang menatap ke arahnya. Jeonghan terdiam sebelum rasa malu mulai menggerogoti benaknya. “Aku bengong lagi, ya?” tanya Jeonghan dengan rasa malu sudah berkali-kali berlagak seperti demikian di depan Seungcheol. Lelaki itu hanya menjawab dengan anggukan, “Hey, aku masih nggak tau apa-apa soal kamu. Nggak yang terlalu rinci, termasuk masa lalu kamu. Nggak apa-apa kok nggak langsung diceritain semua ke aku. Itu bukan kewajiban sama sekali, oke? Aku udah nyaman banget sama kamu yang sekarang. Kamu nggak harus balik lagi jadi Yoon Jeonghan yang dulu. Jadi kamu diri sendiri kayak sekarang aja udah lebih dari cukup,” Seungcheol mengusap helai rambut Jeonghan dengan lembut, “Kita juga nggak usah buru-buru buat ngomongin kemana hubungan kita bakal berakhir. Untuk hal pastinya, hubungan kita nggak abu-abu. Aku sayang kamu terus kamu juga sayang aku. Ekonomi dan tenagaku cukup buat ngebantu kehidupan kamu. Jadi biarin aku nemenin kamu bener-bener, ya? Kamu udah nggak sendiri lagi, Jeonghan.”
Untuk beberapa saat, Jeonghan hanya bisa tertegun. Apa yang ia lakukan sehingga membuat lelaki ini berpikiran sampai sana? Apa yang bisa dibanggakan dari seorang Yoon Jeonghan? Perempuan ini hanya seorang anak sulung yang tidak selesai kuliahnya. Naif, masa mudanya dibiarkan direnggut oleh tanggung jawab sebagai istri. Berkhayal di siang hari adalah salah satu kemampuan nya untuk bertahan hidup.
Dari lensa perspektif mana Seungcheol bisa sampai berpikiran sejauh itu? Jeonghan saja tidak pernah terbesit memikirkan hal-hal itu tentang dirinya. Beberapa tahun ia percaya bahwa dirinya memang tidak pantas sebagai seorang istri. Alasan nomor satu mengapa mantan suaminya lebih berpihak ke orang lain daripada membelanya di depan keluarga besar. Jeonghan merasa kewalahan dengan semua kalimat yang dilontarkan oleh Seungcheol hingga tidak sadar bahwa air matanya mulai terjatuh di pipi.
Seungcheol, kembali lagi ia, sigap menyeka air mata di pipi Jeonghan. Karena hal terakhir yang ingin ia saksikan adalah melihat Jeonghan sedih.
“Maaf –” Seungcheol menggelengkan kepala, meraih tisu untuk diberikan kepada Jeonghan, “Jangan minta maaf. Kamu nggak salah.” Jeonghan perlahan mengusap air matanya dengan tisu. Tertawa kecil entah untuk menertawakan hidupnya yang memang sudah mulai sedikit lebih baik atau mempertanyakan apakah ini realitanya. “Aku bukan nya trauma buat berhubungan romantis lagi. Cuman kayak –” berhenti sejenak, mengambil napas pelan, “aku masih nggak tahu kalo aku emang masih layak dikasih kesempatan. Tanggung jawab pernikahan itu gede banget, ‘a. Aku juga sampe mikir kalo aku nggak bisa jadi seorang ibu. Aku sayang banget sama anak kecil, pengen punya sendiri nantinya. Cuman gimana kalo emang akunya aja udah dicap jelek sebagai janda yang jadi alesan kenapa mantan suamiku pergi. Padahal aku korban, aku yang sakit.”
Jeonghan mencibir, ia tidak berniat untuk seperti ini awalnya. Kembali dengan dirinya yang selalu membuat suasana menjadi lebih canggung. Namun Seungcheol sama sekali tidak berpikiran seperti itu. Seungcheol pun menarik tubuh Jeonghan kembali ke dekapan nya, membiarkan perempuan itu menangis sejenak menumpahkan isi hatinya.
Setelah Jeonghan mulai tenang sedikit, Seungcheol mengecup mesra bilah bibir kekasihnya itu. Mengusap lembut pipi seraya menyeka air mata yang masih membekas. Seperti bagaimana ia menghilangkan tiap luka tidak terlihat di benak hati Yoon Jeonghan. Kedua bibir mereka terpisah, Seungcheol menggesekkan hidungnya dengan hidung Jeonghan.
Sang kekasih hanya bisa tertawa kecil. Mengecup lembut kembali bibir Seungcheol penuh afeksi dan terima kasih. “Aku sayang kamu,” bisik Jeonghan, “Aku mau sama kamu, ‘a.” Seungcheol mengangguk, “Sama aku terus, sayang.”
Jeonghan berakhir menutup warung tepat di pukul 7 malam. Ia juga mengambil beberapa pakaian nya untuk menginap di kediaman Seungcheol. Awalnya Jeonghan berniat untuk tidak membawa pakaian apapun, karena rumahnya juga tidak terlalu jauh. Namun ada kalanya antisipasi kalau ia mungkin tidak keluar dari rumah Seungcheol karena sibuk bercinta semalaman, Jeonghan pun merubah niatnya.
Sebelum sampai rumah, Seungcheol masih mengajak Jeonghan untuk jalan-jalan terlebih dahulu. Hanya belanja sedikit demi kemakmuran hidupnya di kontrakan. Ditambah ia akan memiliki tamu baru menuju permanen di bawah atapnya nanti. Jeonghan hanya bisa tersipu malu, kadang mencubit pinggang Seungcheol karena selalu mengujarkan kata-kata gombalnya itu.
Seraya membawa belanjaan di kedua tangan nya, Seungcheol membiarkan Jeonghan yang membuka pintu kontrakan. Interior kontrakan itu terlihat lebih mewah daripada kontrakan-kontrakan lain di pemukiman mereka. Alhasil membuat Jeonghan tertegun sejenak. Dalam nya luas, ada ruang tamu dan 2 kamar tidur.
“Kamu ngontrak atau beli rumah ini, ‘a?” tanya Jeonghan saat Seungcheol menempatkan belanjaan nya di atas meja dapur, “Ini kontrakan aku. Rumahku sebenernya bareng bapak sama ibu. Tapi aku disuruh rapi-rapi di sini sebelum mau dijual lagi.” Mendengar itu, Jeonghan otomatis terkejut. “‘A, berarti nggak boleh dikotorin dong,” ujarnya seraya menutup mulutnya. Seungcheol mengangkat sebelah alis, mencoba mencerna apa yang baru saja diucapkan kepadanya, “Oh, nggak apa-apa lah. Kan belum ada yang mau. Jadi ini masih punya aku,” tangan nya perlahan melingkar di pinggang ramping sang kekasih, “Aku bisa ngotorin tempat ini sepuasnya.”
“Mmmh.. mau ngotorin siapa emang?”
“Ngotorin kamu semaleman. Mau, kan?”
“Mau… hhh – mau, ‘a,” Jeonghan menutup matanya pelan saat Seungcheol mulai meremas payudaranya dari luar kaos yang ia kenakan, “Ewe lagi, ya. Mau ngewe lagi sama kamu, ‘a. Sampe lemes lagi kayak tadi.” Seungcheol mengulas senyum kecil seraya melepas barang-barang Jeonghan yang menghalangi keduanya. “‘Aa sodok kamu sampe lemes nggak bisa berdiri lagi,” bisik Seungcheol seraya mendorong tubuh Jeonghan semakin mendekat ke pinggir meja makan, “Sampe kamu nggak bisa inget nama orang lain selain ‘aa.” Jeonghan mengangguk, perlahan melepas celananya sekaligus dalaman nya dan duduk di atas meja makan, “Mmhhh… Seungcheol, Seungcheol, Seungcheol – Jeonghan cuman punya Seungcheol. Hhhh… makan dulu ‘a. Bikin aku muncrat-muncrat lagi.”
Mulut Jeonghan kembali terbuka, mengeluarkan desahan panjang saat jemari-jemari besar Seungcheol mulai menjamah bibir memeknya. Mengusap pelan memek yang masih terasa sensitif itu. Tubuhnya bergetar, memekik pelan saat Seungcheol memukul area intimnya. Jeonghan hanya bisa berpegangan ke pundak Seungcheol dengan erat-erat, menurunkan kaos yang dikenakan hingga mengeluarkan kedua payudaranya untuk kembali disantap layaknya makan malam.
Jemari-jemari besar itu perlahan masuk ke liang memek Jeonghan. Membuat sang puan hanya bisa mendesah, mencengkram kuat pundak lebar nan kekar milik kekasihnya. Seungcheol membungkam bibir Jeonghan dengan mencumbu lembut perempuan itu. Membiarkan Jeonghan mendesah ke dalam mulut seraya menangkup wajah Seungcheol dengan sentuhan-sentuhan dari jemari lentiknya itu.
“Ahhh… mmmh… dalem, dalem banget,” Jeonghan mendesah, meremas kedua payudaranya pelan seraya mulai menggenjot jemari-jemari Seungcheol di dalam tubuhnya, “Seungcheol, Seungcheol, Seungcheol – lagi, lagi. Sodok lagi, ‘a. Mau muncrat lagi.” Seungcheol menghisap ceruk leher Jeonghan kuat-kuat. Menggigit, mengulum, dan menjilat hingga meninggalkan bercak tanda kepemilikan yang baru untuk dipamerkan di hari esok. “Mau jadi makan malamku, sayang?” Bisikan Seungcheol dibalas dengan anggukan penuh semangat dari Jeonghan, rintihan sakit dibalut nikmat pun semakin terasa setiap ketiga jari besar itu bergerak di dalam tubuhnya, “Mau… hhahh… mau, mau. Santap aku, sayang. Sampe habis nggak tersisa.”
Apa yang harus Seungcheol lakukan selain langsung menyantap makanan nya? Kedua kaki Jeonghan sudah terbuka lebar di atas meja makan. Seungcheol kini memposisikan diri berlutut di hadapan selangkangan kekasihnya itu. Memberi kecupan di bagian dalam kedua paha Jeonghan dengan lembut. Membuat perempuan di atasnya hanya bisa merasakan bulu kuduk berdiri menjalar ke sekujur tubuh.
Jilatan pertama mengirim Jeonghan ke langit ketujuh. Tubuhnya melekuk sempurna, kaki bergetar tak karuan. Jeonghan hampir menutup kedua kakinya, mengapit kepala Seungcheol di bawah sana. Seungcheol sendiri tidak terlalu memikirkan itu; bahkan ia ingin sekali kepalanya diapit oleh kaki Jeonghan.
“Hahh! Ahhh – Cheollie… Cheollie…” desah Jeonghan seraya membiarkan jemarinya menyusuri rambut hitam legam milik sang kekasih, “Enak, enak, enak. Mmmh… jilatin terus, sayang.” Hisapan-demi hisapan pun diberikan, kepala Jeonghan sendiri hanya bisa menggantung menengadah ke belakang. Perlahan menggerakkan pinggangnya demi memberikan sekujur tubuhnya hanya untuk disantap oleh sang kekasih. “Enak… enak banget. Lagi, lagi, lagi,” Jeonghan terus mendesah manja, memekik keras saat Seungcheol menampar memeknya, “Aw! Aaw… hhh… sakit. Sakit, ‘a. Maaf… maaf, enak banget soalnya. Lagi, lagi, lagi.”
Suara tamparan semakin terdengar menggema di ruang makan. Tiap tamparan itu cukup membuat Jeonghan memuncratkan cairan orgasmenya langsung masuk ke rongga mulut Seungcheol. Mengucek itilnya membiarkan cairan itu terus mengalir untuk sang kekasih. Tubuh Jeonghan sudah terasa lemas, namun ia tahu ini baru permulaan saja.
Seungcheol menjilat tiap tetesan yang keluar dari liang memek Jeonghan hingga bersih. Meninggalkan kecupan-kecupan lembut bak menyembah pahatan Tuhan di hadapan nya itu dengan seksama dan penuh khidmat. Dimulai dari selangkangan hingga ujung kaki. Perlahan bergerak menuju perut, dada, payudara, dan kembali ke wajah cantik Jeonghan yang tiada duanya di kehidupan seorang Choi Seungcheol.
Jeonghan mengalungkan kedua tangan nya di pundak Seungcheol. Melumat lembut bibir kekasihnya hingga terasa sesak di dada. Napasnya hanya dikeluarkan untuk hidup bersama lelaki itu. Tidak ada tujuan lain untuknya hidup jika tidak bersama Seungcheol.
“Aku sayang kamu,” bisik Seungcheol saat kedua bibir mereka terpaksa terlepas sejenak demi mengambil oksigen masuk ke paru-paru. Jeonghan mengangguk, mengusap tengkuk Seungcheol dengan lembut. “Aku juga sayang kamu,” bisik Jeonghan, “Pegang aku selamanya di hidup kamu, ‘a.” Hembusan napas pelan terdengar dari bilah bibir Seungcheol, sedikit mendongakkan dagu Jeonghan agar kedua manik mereka bertemu di tengah-tengah, “Aku nggak bakal lepasin kamu. Nggak sekarang, nggak besok, dan nggak selamanya. Maaf Jeonghan, tapi kamu bakal berada di samping aku di waktu yang lama.”
Jeonghan sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Jika boleh, ia hanya ingin mengakhiri zaman bersama Seungcheol di sampingnya. Kedua insan yang jatuh cinta dengan satu sama lain itu kembali memagutkan bibir mereka. Jeonghan mendesah pelan seraya membuka mulut, membiarkan lidah Seungcheol masuk ke dalam untuk menjamah rongga mulutnya.
Kedua kaki Jeonghan diangkat ke atas meja makan. Bersamaan dengan Seungcheol yang mulai menurunkan celananya. Cukup untuk mengeluarkan kontol besar yang sudah menegang itu. Jeonghan mengusap bibir memeknya cepat, meringis kesakitan setelah menampar organ intimnya sendiri sebelum Seungcheol kembali mendorong masuk kontolnga ke dalam tubuh sang puan pelan-pelan.
Desahan kembali menggema di ruang makan tersebut. Menghiraukan belanjaan yang sudah dibeli sebelumnya tertinggal di atas meja dapur. Ada makanan yang lebih mahal dan berharga di meja makan saat ini. Setidaknya makanan yang bisa membuat Choi Seungcheol terus merasa lapar selama ia masih hidup.
“Ahhh… mmhh… lagi, lagi,” Jeonghan memiringkan kepalanya ke samping sedikit. Membiarkan Seungcheol menghirup aroma parfum manis cukup untuk memabukkan lelaki itu di ceruk lehernya. Hentakan yang diberikan semakin cepat seiring waktu berjalan, kembali membuat Jeonghan hilang akal di setiap detiknya. “Hhhhh –! Ngghh… Seungcheol, Seungcheol, Seungcheol,” nama sang tuan disebut berkali-kali bagaikan doa, “Sodok lagi –! Mmmmh… mentokin, mentokin, mentokin. Ah, ah, ah, ah.”
Kecupan Seungcheol berpindah ke kedua payudara kekasihnya. Membiarkan Jeonghan berbaring di atas meja makan itu. Semakin dalam hentakan nya; semakin nyaring suara jeritan Jeonghan yang menggema di dalam kediaman milik Seungcheol. Sang empu rumah tidak peduli setan dengan penilaian orang lain, ia sedang sibuk menyantap kekasihnya hingga tidak ada yang tersisa di akhir.
Jeonghan mengangkat kedua kakinya agar melekuk tepat di atas perut. Merasakan tiap sodokan semakin kencang dan menumbuk titik kenikmatan nya di dalam tubuh. Tiap hisapan dan aliran susu mengalir dari payudaranya berhasil membuat Jeonghan menyentuh puncak kenikmatan dalam beberapa detik saja. Menghasilkan ia kembali memuncratkan cairan orgasmenya, mempermudah pergerakan kontol Seungcheol di dalam liang memek sempitnya itu.
“‘A –! Mmmh.. mau – nnnh… mau muncrat.”
“Muncrat sayang – hhahhh… sempit banget.”
“Mau – mau, mau kencing… mau pipis – hhhnnn! Mmmmmh!”
Aliran cairan kencing Jeonghan pun ikut keluar dari liang memeknya. Tubuhnya melengkung sempurna di atas meja makan bak hidangan nikmat yang disuguhkan oleh Tuhan langsung. Pergerakan pinggang Seungcheol semakin cepat. Menghentak ke titik kenikmatan Jeonghan hingga membuat tubuh kekasihnya bergetar hebat.
Jeonghan menjerit kencang merasakan kontol Seungcheol semakin membesar di dalam tubuhnya. Gerakan pinggangnya pun dipercepat, tidak memberi ruang bagi Jeonghan untuk bernapas sejenak. Hingga saat Seungcheol akhirnya memenuhi rahim sang puan, Jeonghan hanya bisa mendesah dan menangis. Tangisan kenikmatan tiada tara merasakan rahimnya kembali terasa hangat karena cairan kental kesukaan nya itu.
“Sayang –” Seungcheol merasa tenggorokannya kering. Tercekat sedikit, seakan hidupnya hanya bergantung kepada presensi Jeonghan. “Sayangku,” panggil Seungcheol lagi kini menarik tubuh Jeonghan untuk kembali duduk di ujung meja, “Sayang, sayang,” Jeonghan mengucapkan kata-kata itu dengan pandangan kosong dan air liur berceceran di mulutnya, “Sayang, anget banget. Hhhhh… enak. Enak, enak.” Seungcheol mencium bibir Jeonghan dengan lembut, mendekatkan kedua tubuh mereka agar semakin terikat secara mental dan fisik, “Kamu enak banget. Mmmh… aku sayang kamu, Jeonghan.”
Keseharian Yoon Jeonghan pun akhirnya bertambah. Selain merajut benang-benang berwarna pastel menjadi sebuah baju, lalu menjaga warung sebagai kewajiban, ia kini menjadi kekasih hati Choi Seungcheol. Ditambah dengan rutinitas-rutinitas lain saat ia sudah menyandang status sebagai nyonya Choi. Terlalu cepat? Mungkin iya, bagi beberapa orang.
Namun Seungcheol sendiri sudah memperlihatkan keseriusan dengan niatnya yang ingin menikahi Jeonghan. Memasuki umur sebulan hubungan romantis mereka, Jeonghan memantapkan hati untuk mengenalkan Seungcheol kepada keluarganya. Lebih tepatnya kepada kedua orangtuanya. Karena sang adik sudah pernah bertemu Seungcheol di warung dan balasan nya lumayan bisa membuat hati Jeonghan lebih tenang.
Tidak lupa Jeonghan untuk berdoa seserius mungkin agar tidak ada drama setidaknya dari pihak keluarganya. Ia tahu pasti kedua orangtuanya tidak bisa menahan perasaan mereka jika ada berita mengaitkan pernikahan. Orangtua mana yang rela melihat anaknya kembali disakiti oleh orang lain? Tidak ada, jika mereka waras. Jeonghan sampai meminta tolong adiknya jika ada hal-hal yang tidak diekspektasikan terjadi, dia bisa membantunya.
Namun saat orang tuanya bertemu Seungcheol, reaksi mereka berbeda. Entah mungkin dari tutur kata Seungcheol yang memang sudah berbeda dari mantan suaminya. Jeonghan sedikit merasa gelisah dan masih mencoba untuk menyembunyikan perasaan itu saat ayahnya mulai melontarkan pertanyaan-demi pertanyaan kepada Seungcheol. Termasuk dengan intensi lelaki itu datang menghampiri kediaman mereka.
“Kamu ada niat serius sama anak saya?” Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar di tengah pembicaraan menuju makan siang. Jeonghan melebarkan matanya ke sang ayah sedangkan ibunya memukul lengan suaminya sekilas. Seungcheol terlihat tidak tergoyahkan sekalipun. “Kalau bapak mengizinkan, saya ada niat kok. Tapi saya juga harus dapet izin dari Jeonghan nya juga. Karena keinginan dia yang harus saya dengar lebih dahulu daripada keinginan saya sendiri. Masih banyak pertimbangan yang belum kita bicarakan soal itu, namun saya juga mengetahui tentang mimpi-mimpi dia yang belum tercapaikan selama di pernikahan nya dulu. Jadi saya lebih ingin membantu mencapai mimpi-mimpi itu selama saya diizinkan di hidup di sampingnya,” jawab Seungcheol dengan tenang sembari mengulas senyum di bibir.
Ayahnya Jeonghan terdiam sejenak. Seperti bapak-bapak pada umumnya, beliau mengusap janggut yang tak kasat mata. Jeonghan dan adiknya hanya bisa menahan malu. Ibunya meminta maaf mewakilkan suaminya sebelum sang suami sendiri tiba-tiba berujar.
“Kok yang ini lebih laki ya, Han.”
“Ayah, apaan sih.”
“Lah, bener. Tanggung jawabnya gede ini. Ayah nggak pernah denger dari mantan suami kamu dia mau ngewujudin mimpi kamu punya anak.”
Jeonghan mengerucutkan bibirnya, membiarkan sang ibu menenangkan suaminya. “Ayah, udah. Jangan bawa-bawa nama orang yang nggak ada di sini,” ujar wanita itu seraya meminta maaf kepada Seungcheol, “Maaf, nak Seungcheol. Saya nggak tau kalo kamu tau tentang pernikahan Jeonghan yang dulu atau nggak. Tapi, memang sedikit melukai hati kami jika harus diingat-ingat.” Seungcheol menggenggam tangan Jeonghan seraya mengecup punggung tangan perempuan itu, “Nggak apa-apa, bu. Saya juga nggak tau terlalu rinci, tapi saya mampu jadi pengganti mantan suaminya.” Lelaki tua itu pun bertepuk tangan, “Boleh, boleh. Kalo yang ini ayah bolehin.”
Tentu Seungcheol tidak mendapat restu segampang itu. Keluarga Jeonghan memberi keduanya waktu lebih lama untuk berpacaran dan meyakinkan satu sama lain jika ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Jeonghan juga mengerti mengapa kedua orangtuanya sampai meminta seperti itu. Untungnya, Seungcheol menghargai keputusan tersebut.
Beberapa kali Jeonghan juga dibawa ke kebun yang katanya menjadi ladang pekerja bagi karyawan-karyawan pekerjaan keluarga Seungcheol. Jeonghan masih tidak mengerti pekerjaan apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu. Karena sampai sekarang juga, Seungcheol masih tinggal di kontrakan yang seharusnya dia cari calon pembelinya. Jeonghan terkadang masih berpikir kalau misalnya ia harus ikut Seungcheol pindah, bagaimana dengan nasib warungnya nanti.
“Kasarnya tuh kontrakan aku, terus kebun ini, semuanya aset keluarga,” ujar Seungcheol, kedua matanya memicing karena terik matahari sedikit mengenai matanya. Padahal mereka berdua sudah duduk di gazebo samping kebun. “Aku cuman karyawan kerjaan bapak doang,” lanjutnya dengan senyuman lebar. Mulut Jeonghan masih menganga terbuka mendengar kalimat enteng yang baru saja didengar, “Nepotisme dong,” Seungcheol langsung mengerucutkan bibir, “Orang-orang bilangnya aku orang kaya. Kamu doang yang bilang nepotisme.”
“Mengenal bagaimana negara ini bekerja –”
“Ssshh. Sini ciuman aja.”
Bibir Jeonghan pun dibungkam oleh Seungcheol. Rentetan sisa kalimat yang ingin dilontarkan berhenti di tenggorokan. Fokus Jeonghan seketika terpecah belah. Menikmati tiap lumatan yang diberikan oleh sang kekasih.
Jeonghan melenguh di sela ciuman mereka. Menggerakkan kepalanya seraya membuka mulut. Membiarkan lidah Seungcheol kembali menjamah rongga mulutnya. Tiap sela deretan gigi, bersilat lidah yang tidak akan dimenangkan oleh dia; karena kontrol kembali hanya didominasi oleh Seungcheol.
“‘Aa,” desah Jeonghan saat kedua bibir mereka terlepas, “Mau di sini?” pandangan yang diberikan perempuan itu mulai dipenuhi oleh nafsu. Gazebo yang mereka tempati sangat terbuka dan dapat terlihat dari samping maupun depan. Namun Jeonghan masih menurunkan kaosnya, meremas payudaranya pelan seraya mencubit pentil tegangnya. “Keliatan orang nanti, sayang,” Seungcheol menarik tubuh Jeonghan hingga kaki kanan perempuan itu melingkar di pinggang lelakinya, “Nnnh… nggak apa-apa. Biar mereka tau kalo kamu udah punya aku.”
Seungcheol mengangguk pelan, mengikuti apa yang dimau oleh kekasihnya itu. Karena memang dia hanya ada untuk mengikuti Jeonghan. Ciuman lembut diberikan di bilah bibir merah merona milik perempuan nya. Kedua tangan Jeonghan melingkar erat di pundak sang tuan, menarik tubuh Seungcheol semakin mendekat ke tubuhnya.
Perlahan cumbuan Seungcheol berpindah ke leher lalu pucuk payudara. Kedua kaki Jeonghan dilebarkan seraya menarik rok yang dikenakan. Membiarkan memek yang tidak memakai dalaman dari berangkat bergesekan dengan gundukan besar di balik celana Seungcheol. Sebelumnya keduanya juga sudah bercinta di pagi hari, maka dari itu Jeonghan masih merasa sensitif.
“Hhahh…” desah Jeonghan penuh kepuasan saat pentilnya kembali dihisap nikmat oleh Seungcheol. Memompa pelan payudaranya agar aliran susu itu mengalir masuk ke tenggorokan Seungcheol tanpa ada penghalang. “Enak, sayang? Manis ya susunya Hani?” Seungcheol mengangguk, mengangkat pandangan nya untuk memandang Jeonghan seraya menggesekkan pipi ke payudara wanita hebat itu, “Enak, gede, manis. Kesukaan nya aku.” Jeonghan tertawa kecil, mengecup dahi Seungcheol penuh kegemasan, “Bayiku. Sebentar sayang, aku kocok kontol kamu dulu ya. Terus masukin sampe mentok, nanti aku yang genjot aja.”
Seungcheol menganggukkan kepala, membiarkan Jeonghan melakukan apa yang harus ia lakukan. Jeonghan perlahan berpindah dari pangkuan sang tuan. Menarik turun celana yang dipakai oleh Seungcheol sehingga gundukan itu pun terbebas dari persembunyian nya. Posisi Jeonghan sedikit menungging, membiarkan Seungcheol mengusap lembut bongkahan pantatnya yang terekspos seraya rok yang dikenakan itu jatuh.
Kocokan pelan yang dikerahkan oleh perempuan itu membuat Seungcheol hanya bisa mendesah. Membiarkan jemarinya menyusuri helai rambut Jeonghan yang disanggul sempurna. Bahkan ikatan sanggulan nya sendiri sudah longgar. Karena sejak pagi Seungcheol sudah menjambak rambut Jeonghan seraya menghentakkan kontolnya dari belakang.
“Anjing –” kembali umpatan terlontar dari bilah bibir Seungcheol. Bersamaan dengan kuluman nikmat yang diberikan Jeonghan di kepala kontolnya. Kedua mata Jeonghan menjuling ke belakang seraya melonggarkan rongga mulutnya, membiarkan kontol besar nan panjang itu masuk sepenuhnya ke dalam mulut. “Sayang –” suara Seungcheol tercekat di bibir, sedangkan Jeonghan hanya bisa tertawa kecil, membiarkan cairan peju lelakinya muncrat keluar membasahi area bibirnya, “Nnnh… enak, sayang. Ah!Aw… lagi… pukul lagi, ‘a,” Jeonghan menggoyangkan pantatnya dan memekik centil saat Seungcheol kembali melayangkan pukulan keras di pantatnya, “Mmmh… kontol gede kesukaan Hani. Pejuin nya di dalem ya sekarang, ‘a.”
Mengocok kontol Seungcheol di genggaman nya itu untuk terakhir kali sebelum menggesekkan ke bibir memek perlahan. Jeonghan menghela napas pelan, membiarkan Seungcheol memegang kedua lengan nya. Memegangi tubuhnya seraya mulai bergerak turun perlahan melahap kontol besar di genggaman nya itu. Setiap saat kontol Seungcheol masuk ke dalam tubuhnya, walaupun sudah pelan-pelan, Jeonghan selalu merasa dirinya dibagi dua secara paksa.
Ringisan sakit perlahan berubah menjadi kenikmatan di setiap dorongan itu adalah suatu perasaan yang tidak bisa dibandingkan dengan hal lain untuk Jeonghan. Setelah kontol besar itu sepenuhnya terkubur di dalam tubuh yang lebih ramping, Seungcheol memeluk tubuh Jeonghan erat-erat. Mempertemukan kedua bibir mereka di tengah-tengah; satu ciuman lembut yang tidak bisa dipisahkan oleh Tuhan sekalipun. Jeonghan menghela napas pelan di sela ciuman mereka, mendesah ke dalam rongga mulut Seungcheol saat merasakan kontol kekasihnya mulai bergerak di dalam tubuh.
“Hhhh –” Jeonghan menyanggul rambutnya di tengah menggerakkan tubuh naik-turun. Mengencangkan kunciran sanggulan nya sebelum menempatkan kedua tangan di atas pundak Seungcheol. Kaos yang ia kenakan sudah terjatuh di pinggang, memperlihatkan payudara besarnya bergerak sesuai irama pergerakan tubuhnya. “Ah, ah, ah,” desah Jeonghan setiap kepala kontol Seungcheol menumbuk titik kenikmatan nya, “Enak, enak – ahh… enak banget, ‘a. Gede banget di dalem perutku.” Seungcheol membiarkan telapak tangan nya bergerak mengusap di permukaan perut Jeonghan, merasakan bagaimana kontolnya bergerak di bawah kulit kanvas putih pucat milik sang puan, “Kamu – hh… kamu sempit banget. Udah aku entot terus setiap hari masih sempit banget memeknya.”
“Mmmmh… harus – ahh… harus sempit terus biar diewe sama ‘aa.”
“Diewe tiap hari, sayang? Sampe pingsan?”
“Sampe pingsan – nnnhhh… gatel. Kucekin itil Hani ‘a – ah, ah, ah.”
Seungcheol pun mengucek itil Jeonghan sesuai permintaan perempuan itu. Membuat sekujur tubuh Jeonghan merinding dan bergetar di bawah sentuhan nya. Seungcheol mengusap tubuh Jeonghan dengan lembut, membiarkan perempuan itu bergerak hingga mencapai puncak orgasmenya. Jeonghan menjerit kencang seraya tubuhnya bergetar hebat sebelum memuncratkan cairan orgasme itu dan mempermudah pergerakan kontol Seungcheol di dalam.
Seraya cairan nya masih menetes keluar, Jeonghan merubah posisi menjadi menungging. Kembali menyuguhkan tubuhnya untuk dipakai sepuasnya oleh Seungcheol. Merasakan liang memeknya kembali dilesakkan masuk dengan kontol besar itu. Jeonghan hanya bisa bereaksi dengan desahan panjang sembari helai rambutnya dijambak oleh Seungcheol.
Seungcheol memuncratkan cairan pejunya di dalam rahim Jeonghan kembali saat mereka berada di ronde ketiga bercinta di gazebo. Tidak peduli dengan mata memandang dari orang sekitar. Pakaian Jeonghan sudah tidak terlihat bentuknya, namun sang puan hanya peduli dengan rasa hangat yang diberikan oleh kekasihnya. Cairan Jeonghan banyak menetes ke lantai gazebo, bercampur dengan air kencingnya karena kewalahan akan kenikmatan yang dirasa.
“Hani – mmmhm..” Jeonghan masih meneteskan cairan nya dengan tubuh gemetar. Berpegangan erat-erat ke pelukan Seungcheol di pinggangnya, “Aku sayang kamu,” bisik sang tuan yang dibalas oleh anggukan kepala dari Jeonghan, “Aku juga – ahhh… nnh… aku sayang kamu, ‘a.”
jisoo
toket ku nambah gede deh
toket kamu juga ngga
iya deh kayaknya
si aa makin suka nete
[sent a video]
meuni kek bayi pisan
suamiku jg gitu
[sent a video]
gimana kalo punya bayi ya berantem kali mereka
iya aku jg khawatir😞
oiya han km kan ngomong kemarin2 kalo ada rencana mau nyari income baru
sekolahku ada loker buat guru
ada beberapa sih guru tk, guru bahasa, sama ada admin biasa
kamu mau ngga?
aku ga lulus kuliah tapi
gapapaaa
ada trainingnya kok
coba aja daftar
hmmm okedeh
persiapan nikah gimana? aman?
sampe sekarang masih amann
aku masih di rumah ibu bapaknya aa
besok pulang mau makan bareng nggaa
sekalian nyusuin
mauuuu
kalo aku dikobel sm brondongku gapapa ya
kobel tinggal kobell
aku jg mau dikobel aaku
aku abis diewe 5 ronde tadi malem hhhh masih disumpel sampe sekarang
aku jugaaa
sampe kencing nnnhhh
bentar hhh digenjotblhg
nanit yaa
“Seungcheol –” genggaman Jeonghan terhadap ponselnya melonggar. Seungcheol mulai menggerakkan pinggangnya, menghentakkan kontol besar yang tertanam di dalam liang memek kekasihnya. “Lagi ngobrol sama siapa, sih?” intonasi yang diberikan Seungcheol bercampur antara keingintahuan dan sedikit kesal fokus Jeonghan terbagi dua. Jeonghan mendesah pelan, menempatkan ponselnya di meja sebelah kasur kamar tidur Seungcheol sejak kecil, “Jisoo, sayang – mmmh… dia nawarin kerjaan sama besok mau makan bareng. Mau nyusuin kamu bareng-bareng sama Seokmin. Kan, udah aku kasih tau kemarin-kemarin,” lelaki itu menyembunyikan wajahnya di belahan payudara Jeonghan, “Aku lupa.”
“Kalo aku jadi guru, nanti murid-muridku nggak tau kalo aku secabul ini sama calon suaminya.”
“Mmmh… murid-muridnya nggak tau kalo gurunya suka kencing pas ngewe.”
“Jorok banget – ahhh… nnnh. Sodokin lagi sayang.”
Matahari perlahan sudah naik ujung laut di luar jendela. Menandakan bahwa pagi sudah menyapa dunia dan beberapa negara. Namun hal itu tidak mungkin membuat kedua insan ini terhalang untuk bercinta. Bahkan, jika bisa, mereka hanya ingin bercinta terus-terusan tanpa henti.
Sudah beberapa hari Jeonghan menginap di kediaman keluarga Choi. Salah satu proses untuk persiapan pernikahan mereka yang akan berlangsung beberapa bulan ke depan. Seungcheol sendiri sudah menjelaskan tentang tabiatnya ingin menikahi sang kekasih kepada keluarganya sebelum mengenalkan Jeonghan. Menunggu bagaimana opini keluarganya itu.
Balasan dari keluarga Seungcheol sangat terbuka dan membuat Jeonghan terasa diterima. Kadang Jeonghan harus fokus mendengarkan tiap cerita yang diberikan oleh ibunya Seungcheol, sampai lupa untuk memberi atensi kepada kekasihnya sendiri. Selama di kediaman keluarga Seungcheol, Jeonghan memang banyak menghabiskan waktu dengan calon ibu mertuanya. Karena Seungcheol juga selalu ditarik bapaknya untuk ikut pergi mengecek beberapa aset keluarga mereka hingga harus pulang malam.
Keduanya baru bisa memiliki waktu bermesraan satu sama lain di malam hingga pagi hari. Seungcheol juga kadang menahan Jeonghan agar tidak bangun dari kasur terlebih dahulu. Karena kalau bapaknya melihat Jeonghan sudah keluar kamar, berarti anak bungsunya juga sudah bangun. Maka dari itu, ia akan ditarik kembali untuk bekerja.
Seungcheol menghabiskan waktu bercinta dengan Jeonghan hingga memenuhi rahim sang puan beberapa kali oleh cairan senggamanya. Jeonghan menghela napas panjang, mencengkram pundak Seungcheol kuat-kuat. Lampu kamar di mana mereka tidur masih gelap gulita, hanya dibantu dengan sinar matahari yang berusaha masuk dari balik gorden milik Seungcheol. Namun hal itu tidak menghalangi Jeonghan untuk mempersatukan kedua bibir mereka di ciuman lembut, melumat pelan bibir kekasihnya seraya melesakkan lidahnya masuk ke dalam rongga mulut lelaki itu.
Seraya keduanya sedang bersilat lidah dibalut afeksi dan kasih sayang, suara pintu diketuk pun terdengar dari luar. “Neng? Kamu udah bangun belum? Sarapan udah jadi semua. Makan dulu yuk,” panggil ibunya Seungcheol, “‘Aa juga jangan lupa disuruh bangun. Dicariin bapak tuh, katanya mau ke kebun hari ini.” Seungcheol menjatuhkan dahinya di pundak Jeonghan, sedangkan kekasihnya itu hanya tertawa lepas. “Iya, ibu. Nanti Hani keluar ya, sebentar,” Jeonghan terkesiap di tengah saat kontol Seungcheol bergerak semakin dalam di memeknya, “Mmmh… ‘a, ayo sarapan.”
“Aku maunya sarapan kamu.”
“‘Aa jangan gitu. Nanti kalo nggak jadi nikah gimana?”
“Nggak bakal mungkin. Orang mereka mau makan ke rumah orang tua kamu minggu depan.”
Nggak salah juga sih, batin Jeonghan berkata. Kedua keluarga akan bertemu minggu depan untuk makan malam dan berdiskusi tentang bagaimana pernikahan mereka berlangsung nantinya. Hanya keluarga inti saja, sesuai permintaan Jeonghan. Permintaan lain dari Jeonghan adalah tidak usah merayakan resepsi besar-besar, hanya keluarga dan beberapa undangan teman-teman dekat mereka.
Awalnya Seungcheol ingin merayakan pernikahan mereka dengan megah, karena dia sendiri juga memiliki finansial yang cukup untuk itu. Namun seiring waktu, Seungcheol juga mengerti mengapa Jeonghan lebih memilih pernikahan mereka tidak usah terlalu diumbar-umbar. Karena permasalahan personal Jeonghan tidak hanya ditinggal oleh mantan suami dan lain-lain. Seungcheol berusaha untuk mengerti dari perspektif calon istrinya itu.
Setelah harus merengek kepada Seungcheol untuk mengeluarkan kontolnya, akhirnya Jeonghan bisa memakai pakaian rumah yang lebih sopan dan keluar dari kamar untuk membantu calon mertuanya di dapur. Hari ini Seungcheol tidak akan terlalu lama bekerja bersama bapaknya, karena mereka harus pulang ke rumah setelah makan siang. Memiliki agenda tersendiri di esok hari, yang notabene nya hari libur, dan juga Jeonghan sudah tidak menjaga warung beberapa hari terakhir ini. Jeonghan akhirnya mencoba mempekerjakan Mingyu dan Chan untuk menjaga warungnya, sampai sekarang ia hanya menerima berita-berita bagus dari kedua karyawan barunya itu.
Sudah beberapa minggu juga Jeonghan pulang ke kontrakan Seungcheol. Lelaki itu sedang dalam diskusi dengan orang tuanya sendiri tentang ingin menempati kontrakan itu karena lebih dekat dengan di mana warung Jeonghan berada. Selain itu juga, keduanya sudah banyak membuat memori di bawah atap kontrakan satu lantai namun luas ke belakang. Seungcheol sudah membayangkan bagaimana mereka akan merubah beberapa kamar untuk keluarga kecilnya nanti.
Jeonghan perlahan juga meninggalkan kontrakan nya. Ia memberikan kontrakan itu kepada Mingyu sebagai pendatang baru di pemukiman mereka. Setelah itu Jeonghan mencoba untuk mengikuti saran Jisoo sebelumnya. Tentu ia bertanya tentang opini pilihan nya kepada Seungcheol di tengah perjalanan mereka kembali ke rumah.
“Deket kan dari rumah? Atau mau pindah?” adalah pertanyaan pertama yang diberikan Seungcheol seraya memutar stir mobil ke kiri, “Gampang sih, kita bisa punya dua rumah kalo gitu. Biar kamu nggak jauh-jauh juga.” Ekspresi wajah Jeonghan menandakan kalau ia memang belum bisa beradaptasi dengan fakta bahwa calon suaminya adalah orang kaya. “Aku aja masih nggak tau bakal daftar atau nggak,” bisik Jeonghan kecil. Seungcheol menoleh sekilas ke jok penumpang di samping sebelum tertawa kecil, mengangkat tangan kirinya untuk mengusap rambut Jeonghan lembut, “Nggak apa-apa. Coba pikirin lagi aja sampe mateng, sayang. Aku bakal ngelakuin apa aja buat bantu kamu biar nggak kesusahan.”
Jeonghan menggenggam tangan Seungcheol erat-erat. Membiarkan lelaki itu mencium punggung tangan nya seraya masih memegang setir mobil. Suatu pemandangan yang sangat membuat Jeonghan ingin melepas sabuk pengaman dan berpindah duduk di pangkuan calon suaminya. Betul, status mereka kini sudah memanggil satu sama lain sebagai calon suami dan istri; suatu hal yang, sekali lagi, tidak pernah dibayangkan Jeonghan selama beberapa bulan hubungan mereka berprogres.
Sesampainya di kediaman mereka, Jeonghan menyempatkan waktu untuk menghampiri warungnya. Membawa beberapa oleh-oleh untuk Mingyu dan Chan yang sedang sibuk melayani pembeli. Jeonghan juga bertemu dengan teman-teman lain nya yang ternyata sedang berbincang di sana. Beberapa pertanyaan pun terlontarkan kepadanya, karena fakta Jeonghan sudah tidak tinggal di kontrakan nya dan berpindah untuk tinggal bersama Seungcheol di ujung gang menimbulkan banyak pertanyaan.
“Ada yang mau nyebar undangan nih,” Jisoo memulai perbincangan seraya memeluk pinggang Jeonghan yang berdiri di sampingnya. Alhasil semua atensi pun diarahkan ke pemilik warung. “Seriusan, teh?” Kedua mata Mingyu terbuka lebar, “Udah harusnya nggak sih? Ngewe mulu lagian kerjaan nya,” tambah Wonwoo seraya menghisap puntung rokoknya. Kembali dipukul lengan lelaki itu oleh Jisoo yang hampir membuat rokoknya terlempar ke jalanan, “Wonwoo, nanti teteh laporin abah ya suka nongkrong di warung teteh. Bukan nya pergi kerja.”
“Ada Mingyu soalnya.”
“Eh, baru kerja berapa minggu sama teteh. Jangan diapa-apain anaknya.”
“Apa sih, orang nggak ngapa-ngapain.”
Chan mencibir, “Kerja sendirian gue dari kemarin. Gaji harus nambah sih.” Mingyu menggelengkan kepalanya seraya memeluk Chan erat-erat. Hansol hanya bisa menepuk punggung Wonwoo penuh empati. “Eh, apa sih, undangan apa, teh? Pada diem dulu kenapa sih,” Seungkwan mengerucutkan bibirnya, “Oh iya, teteh mau nikah sama ‘aa. Doain semoga lancar-lancar ya. Nanti undangan nya dikasih satu-satu kok. Semuanya kebagian.”
Pengumuman tersebut tentu disambut meriah oleh kerabat dekat Jeonghan di tempat di mana ia tinggal. Sekali lagi ia merasa sangat bahagia tinggal di tempat ini. Memang tidak selalu bahagia hari-hari yang ia lewati selama setahun ke belakang ini. Tapi setidaknya Jeonghan bertemu dengan mereka.
Tidak lama setelah Jeonghan memberitahu tentang rencana pernikahan nya, Seungcheol muncul dari belakang. Memeluk tubuh Jeonghan dengan erat sebelum membalas beberapa kata selamat dari teman-teman nya yang lain di warung. Ekspresi Seungcheol menunjukkan kebingungan, karena dia sendiri baru saja menyelesaikan urusan di rumah. Jeonghan tertawa sebelum mengecup pipi calon suaminya itu, membiarkan tangan kekar Seungcheol masih melingkar di pinggangnya.
“Kenapa ini? Kok selamat-selamat? Wonwoo keluar rumah abah jadinya?” Wonwoo mengerutkan dahinya, “Kenapa jadi gue dah yang kena anying. Bubar lah bubar.” Seungcheol menjulurkan lidah ke arah salah satu teman dekatnya itu. “Aku udah ngasih tau soal kita mau nikah, ‘a,” ujar Jeonghan. Seungcheol mengeluarkan kata ohhh yang panjang, “Iya, guys. Gue bakal nikahin cewek paling cantik sekampung,” pernyataan itu pun dibalas gelengan kuat dari beberapa laki-laki di sana, “Cantikan istri gueee,” balas Hansol sembari memamerkan Seungkwan yang sedang menahan malu.
Mereka menghabiskan 30 menit ke depan hanya untuk berbincang. Jeonghan juga menyempatkan diri untuk ikut andil mengurus warung sejenak. Rasa rindu berbisnis di warung yang sudah dirintis sejak awal menggerogoti benaknya beberapa hari ke belakang. Seungcheol juga menyadari hal itu dan dia mengerti mengapa Jeonghan bisa sampai merasakan perasaan tersebut.
Karena hari belum masuk ke waktu yang malam banget, Jeonghan memutuskan untuk mengajak Jisoo dan Seokmin ke rumah Seungcheol. Janji yang sebelumnya ditentukan untuk esok hari dibatalkan dengan alasan Jeonghan tahu Seungcheol tidak akan membiarkan dirinya keluar rumah kecuali saat dia ingin pergi ke warung. Selain itu juga Jeonghan masih ingin bertanya-tanya perihal penawaran pekerjaan dari Jisoo. Kedua pasangan itu pun duduk di karpet ruang tamu kediaman Seungcheol.
“Kamu belum ngasih tau teteh sama abang?” tanya Seokmin tiba-tiba saat Jeonghan menurunkan dasternya. Seungcheol sudah mencium belahan payudaranya dan menghisap pentil tegang Jeonghan. “Kasih tau apa?” Jeonghan menatap ke arah sahabatnya itu. Jisoo meghela napas pelan sebelum mengangkat daster yang ia pakai untuk memperlihatkan perutnya. “Aku hamil,” ujar perempuan itu tiba-tiba yang membuat kedua mata Seungcheol dan Jeonghan terbuka lebar, “Lah, anjing.”
“Maksud lo apa ngomong anak gue anjing.”
“Bukan itu maksudnya buset.”
Jisoo mendengus dan Seungcheol menjulurkan lidahnya. Mereka berdua memang memiliki dinamika hubungan yang unik, Jeonghan kadang pusing menghadapinya setiap hari. Jeonghan meraih tangan Jisoo untuk menggenggamnya erat-erat. Tidak sadar air mata mulai berkumpul di matanya.
“Dari kapan?” Jeonghan bertanya dengan intonasi penuh harap. Mendengar itu, Seungcheol bertukar pandang dengan Seokmin sejenak. “Baru 2 minggu kok. Ketauan nya kapan, ya? Abis ngewe. Kayaknya aku nggak sadar udah nggak mens tapi Seokmin kan tau jadwalku. Jadi dia nanya, terus aku juga baru sadar. Abis itu positif deh,” Jisoo bercerita dengan penuh semangat. Seokmin menganggukkan kepala di samping sang istri, membantu Jisoo untuk menurunkan dasternya, “Marah-marah mulu lagian, terus tiap malem minta nyepong, abis itu marah-marah lagi. Kan aku bingung ya. Curhat ke bapak malah disuruh nanya langsung,” ekspresi wajah Seungcheol sangat datar mendengar apa yang baru saja ia dengar, “Ya iya emang harus nanya langsung dongo.”
Malam itu berakhir dengan kedua perempuan memuncratkan cairan orgasme mereka beberapa kali atas perlakuan lelaki mereka masing-masing. Jeonghan mendesah kencang seraya memeluk tubuh Jisoo erat-erat. Berpegangan kepada sahabatnya saat liang memeknya dihentak kencang oleh Seungcheol. Sedangkan Jisoo juga mendapat perlakuan sama dari Seokmin, membiarkan suaminya kembali memenuhi rahim yang sebelumnya sudah dibuahi itu.
Seungcheol dan Jeonghan kembali bercinta setelah kedua teman mereka pulang. Membiarkan Jeonghan melompat-lompat di kontol besar calon suaminya. Meremas kedua payudara kuat-kuat hingga meneteskan cairan susu membasahi tubuh Seungcheol di bawah sana. Jeonghan menjerit kencang saat Seungcheol memuncratkan cairan senggamanya di dalam rahim, hampir tersungkur ke depan saking nikmatnya.
“Sayang –” pandangan Jeonghan terlihat sayu, kedua matanya berguling ke belakang merasakan tiap tetesan di dalam rahimnya, “Aku mau hamil. Bikin aku hamil sampe pagi.” Seungcheol mencium bibir Jeonghan dengan lembut. Mengusap tengkuk perempuan itu seraya melumat bibir bawahnya. “Mau lagi, sayang?” bisik sang tuan yang dibalas dengan anggukan semangat dari Jeonghan, “Lagi, lagi. Sampe aku hamil beneran, sayang. Aku mau hamil anak kamu.”
Sesuai ekspektasi, Jeonghan tidak keluar rumah seharian di rumah. Tubuhnya tidak pernah terlepas dari dekapan Seungcheol. Membiarkan liang memeknya disumpal hingga waktu harus memisahkan. Jeonghan selalu merengek kesepian dan merasa kosong jika Seungcheol harus menarik kontolnya keluar.
Saat Jeonghan tertidur pulas di siang hari, Seungcheol menyempatkan diri untuk menghampiri warung. Seperti apa yang calon istrinya kerap lakukan, Seungcheol mengecek beberapa stok dan juga aktivitas di sana. Beberapa saat ia juga membantu Mingyu dan Chan untuk menyuguhi minuman maupun pembeli yang datang. Terakhir sebelum pulang, ia memutuskan untuk berbelanja.
“Seungcheol…” bisik Jeonghan mengusap kedua matanya terbuka. Kepala menoleh ke kanan kiri, merasakan dingin di kasur tidur milik keduanya. “Seungcheol?” suaranya ditinggikan dan pintu kamar pun terbuka, “Hai, cantik. Udah bangun? Aku abis masak nih.” Jeonghan masih mengantuk, menarik selimut itu untuk menutupi tubuh telanjangnya, “Makasih, sayang. Kamu abis dari mana emang?” Seungcheol menempatkan meja kecil itu di depan sang puan, “Dari warung. Sama sekalian belanja tadi buat masak-masak kita. Aku beli testpack juga, buat jaga-jaga.”
“Aw, perhatian banget sih.”
“Iyalah. Kan mau jadi suami kamu.”
“Hmmmm. Bener, mau jadi suami aku.”
Jeonghan terkekeh kecil dan mempertemukan kedua bibir mereka. Dengan lembut ia melumat bibir bawah Seungcheol. Membiarkan sang tuan mengusap tengkuknya yang penuh bercak merah dan kebiruan. Tanda-tanda kepemilikan yang tidak akan hilang hingga waktu tentukan nantinya.
Di kamar mandi, Jeonghan berdiri sejenak. Menggenggam beberapa bungkus testpack yang sudah dibelikan oleh Seungcheol sebelumnya. Benaknya terasa hangat mengetahui lelaki itu memiliki inisiatif untuk membeli barang-barang seperti ini. Tidak hanya sekali Seungcheol gigih ingin mengetahui tentang semua yang berkaitan dengan kehidupan sebagai perempuan.
Hal selanjutnya yang dipandang Jeonghan adalah 2 garis di testpack itu.
“‘Aa!” Jeonghan berteriak dari kamar mandi. Beberapa detik kemudian terdengar suara orang berlari kencang dari luar. “Kenapa?” Hampir berteriak, raut wajah memancarkan panik seraya membuka pintu kamar mandi itu lebar-lebar. Tangan Jeonghan bergetar, namun ia masih berusaha memperlihatkan hasil yang didapat, “Aku hamil.”
Jeonghan tidak sesering itu melihat Seungcheol menangis. Sepertinya tidak pernah juga; atau saat mereka berbeda pendapat yang membuat lelaki itu sedikit sesegukan juga terhitung? Berarti lumayan sering. Seungcheol memang tidak pernah sejago itu dalam menyembunyikan perasaan nya. Itu termasuk perasaan bahagia, terharu, marah, dan kecewa.
Kedua kaki Seungcheol terasa lemas, namun ia memaksakan diri untuk memeluk tubuh Jeonghan dengan erat. Membiarkan sang calon istri menangis di pelukan nya. Membisikkan beberapa kata selamat dan juga penyemangat. Mengetahui apa yang sudah diimpikan telah tercapai.
Jeonghan memperlihatkan tidak hanya satu testpack saja. Bahkan ia mencoba mengecek lagi dengan Seungcheol di dalam kamar mandi. Seungcheol ikut melihat saat hasil di testpack itu berubah menjadi 2 garis tanda positif. Menunjukkan bahwa Jeonghan benar-benar mengandung anaknya.
Keesokan harinya, Jeonghan langsung ditemani oleh Seungcheol untuk memeriksa kesehatan si calon bayi. Bersama-sama keduanya mendengarkan penjelasan dari dokter tentang apa yang harus dilakukan dan juga tidak. Ditambah dengan acara pernikahan mereka yang sebentar lagi akan diselenggarakan. Seungcheol harus memastikan kondisi Jeonghan tidak sampai membuatnya stress, mengetahui ia sudah tidak hanya membawa satu nyawa saja.
Setiap hari, jika ada kesempatan, Jeonghan selalu membiarkan Seungcheol menyandarkan kepala ke perutnya. Walaupun jabang bayinya belum terbentuk sempurna, namun calon suaminya tetap kekeh ingin mencoba segala cara untuk mendeteksi kehidupan di dalam sana. Hanya menghitung minggu menuju acara pernikahan mereka dan Jeonghan sama sekali tidak sabar. Mengetahui ia akhirnya akan memiliki keluarga kecil sendiri untuk menghiasi hari-harinya.
“Kamu keren banget,” ujar Seungcheol tiba-tiba. Kepalanya masih bersandar di perut Jeonghan seraya menatap wanita itu. “Hm? Keren kenapa, ‘a?” Jeonghan terlihat kebingungan dengan pujian yang tiba-tiba diberikan, “Kamu nggak nyerah sama apa yang kamu mau. Kamu pantes banget buat dicintai orang, secara romantis dan platonik. Kamu udah ngasih banyak ke orang-orang dan aku sangat beruntung bisa ngasih hal yang sama ke kamu. Mungkin nggak setara dengan apa yang kamu kasih ke orang-orang sekitar, tapi aku berusaha buat mastiin kamu tetep bahagia sampe kita tua nanti.” Ekspresi Jeonghan melembut, menahan tangisan yang hampir keluar, “Terima kasih, sayang. Kamu harus tau kalo kamu udah ngasih aku lebih dari yang aku kasih ke orang-orang. Kamu berhasil dan akan terus berhasil buat aku nyaman maupun merasa dicintai setiap harinya. Jangan pernah pergi ke mana-mana, ya? Aku butuh kamu disampingku sampai ajal memisahkan nanti.”
“Kita nikah aja sekarang mau nggak?”
“Nikah atau nggak, status kayak gitu nggak bakal ngurangin rasa cinta aku ke kamu.”
“Nah, itu baru cewekku.”
Jeonghan tertawa seraya mengalungkan kedua tangan nya di leher Seungcheol. Mencumbu lembut nan mesra bibir lelaki itu. Membuka rongga mulutnya sedikit untuk membiarkan lidah Seungcheol melesak masuk. Kedua kakinya terbuka membuat ruang yang cukup untuk tubuh kekar Seungcheol berbaring di sana.
Pakaian yang dikenakan kembali dilepas dan dilempar asal ke lantai. Jeonghan mendesah saat merasakan cairan lubrikasi yang dingin itu menyentuh lubang pantatnya. Tetap meremas kedua payudara untuk memompa cairan susu ke mulut sang calon suami yang rakus menghisap pentil tegangnya. Saat kepala kontol Seungcheol bergesekan dengan lubangnya, Jeonghan hanya bisa melenguh panjang, merasakan daging besar itu masuk ke dalam lubang pantatnya yang sempit.
“Gede –” napas Jeonghan tercekat di tenggorokan, “Hhahh… gede banget, ‘a. Sakit – sakit tapi enak.” Pandangan penuh nafsu diberikan oleh wanita itu di bawah sinar rembulan yang masuk dari jendela kamar. Seungcheol menghembuskan napas pelan, mengusap pinggang ramping Jeonghan dengan hati-hati. “Sodok aja, ‘a. Pake badan aku sampe pingsan lagi. Sampe pagi, sampe aku tidur tetep disodok aja,” pinta Jeonghan di sela desahan nya, “Ah, ah… nnnhh… suka, suka digenjot ‘aa. Ah! Hhhhnnn.”
Hormon Jeonghan selama beberapa minggu awal kehamilan tidak bisa ditebak. Ada di mana ia akan merasa terangsang dan sedih di waktu yang sama. Seungcheol berusaha keras untuk selalu membuat perasaan Jeonghan agar tidak terlalu berantakan. Memang pekerjaan yang sulit, namun kesulitan yang seorang laki-laki alami tidak bisa dibandingkan dengan perasaan seorang ibu hamil.
Saat hari pernikahan mereka tiba, Jeonghan belum bertemu dengan Seungcheol beberapa hari. Karena tradisinya memang kedua mempelai harus dipisahkan terlebih dahulu. Stress? Tentu saja, Jeonghan bahkan menangis setiap waktu jika ia merindukan Seungcheol. Satu-satunya cara yang bisa ia lakukan adalah menghirup aroma parfum pakaian sang calon suami yang diberikan kepadanya sebelum mereka berpisah.
Ibunya dan juga ibu Seungcheol memastikan Jeonghan agar tidak terlalu stress. Karena takut mempengaruhi perkembangan calon bayi di rahimnya. Jeonghan berusaha keras juga untuk tidak membiarkan emosinya dikendalikan oleh pikiran nya sendiri. Ia memilih untuk selalu menenangkan diri dengan menghirup aroma parfum Seungcheol dan, kalau ada waktu, mendengar suara lelaki itu walaupun sebatas panggilan telepon.
Jeonghan sebenarnya sudah lupa dengan euforia pernikahan. Ia tidak pernah berekspektasi untuk merasakan perasaan itu lagi setelah pernikahan terakhirnya. Tidak pernah membayangkan kalau ia bisa menemui seseorang yang bisa memantaskan diri untuk mencintainya. Bahkan Jeonghan juga tidak pernah terpikirkan untuk mencintai orang lagi.
Namun melihat Choi Seungcheol berdiri di altar seraya menahan tangisan saat ia berjalan menyusuri lorong menuju di mana lelaki itu berada, Jeonghan sadae kalau ia masih berhak bahagia. Ia masih pantas memiliki keluarga impian nya. Masih pantas bersanding dengan lelaki yang setara dengan nya. Jeonghan menahan tangisan nya saat sudah berdiri berhadapan dengan sang tuan, lalu Seungcheol mengecup dahinya lembut sebelum keduanya bertukar cincin pernikahan.
“Kamu cantik banget,” bisik Seungcheol tiba-tiba, “Nggak berubah cantiknya dari pertama ketemu. Mau ada rias wajah atau nggak, masih perempuan paling cantik yang pernah aku sayang selama hidup.” Jeonghan mengerucutkan bibir, jika ia menangis sekarang berarti rias wajahnya akan berantakan. “Jangan bikin nangis ih,” cibir perempuan itu seraya mencubit lengan Seungcheol keras-keras. Seungcheol meringis dan tertawa setelahnya, mengecup pipi Jeonghan penuh saking gemasnya, “Aku sayang kamu, cantik.”
“Aku juga sayang kamu, ‘a. Kita udah nikah.”
“Mau dimakan nggak malem ini?”
“Mau, mau banget. Udah nggak lama dimakan ‘aa. Makan Hani semaleman ya, ‘a.”
Selama resepsi, fokus Jeonghan otomatis pecah. Karena terkadang Seungcheol menghembuskan napas di ceruk lehernya. Mengecup tiap tanda kepemilikan yang mulai pudar di sana. Jeonghan juga tidak suka jika tanda-tanda kepemilikan Seungcheol sudah pudar di tubuhnya; terasa tidak sempurna jika ia hidup tanpa dimiliki sang suami.
Acara resepsi mulai selesai sekitar jam 8 malam. Jeonghan sudah menahan dirinya agar tidak tertidur selama menunggu Seungcheol yang sedang berbincang dengan beberapa teman-teman nya. Terkadang Seungcheol juga harus pergi keluar untuk merokok. Jeonghan sendiri sudah di tengah-tengah membersihkan rias wajah sekaligus berganti baju ke pakaian yang lebih kasual.
Walaupun pakaian kasual itu langsung dilepas saat Jeonghan sudah kembali ke kamar. Menghembuskan napas pelan, sang mempelai baru memposisikan tubuh telanjangnya di tengah kasur luas yang diberikan oleh hotel. Esok hari mereka sudah masuk ke masa bulan madu. Jeonghan akan menghabiskan bulan madu dengan Seungcheol sekitar seminggu sebelum kembali ke rutinitas, ia juga ada wawancara pekerjaan di sekolah di mana Jisoo bekerja.
aa🖤
[sent a photo]
‘aa makan malem dulu yuk
udahan ngobrolnya itu seokmin hansol juga pada dicariin sama istri2nya
oke
otw
Jeonghan mengirimkan beberapa foto memeknya kepada Seungcheol. Karena ia sudah lama menunggu lelaki itu dari tadi. Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu hotel terbuka dan Seungcheol yang sudah melepas jas yang dipakai selama resepsi. Jeonghan menghela napas pelan seraya melebarkan kedua kakinya.
“Hani –” Seungcheol perlahan merangkak di atas kasur. Mencium ujung kaki Jeonghan dengan lembut sampai ke selangkangan istrinya. “Ahhh… lama banget sih,” cibir Jeonghan seraya menjambak helai rambut suaminya itu. Seungcheol meringis, lidahnya masih menjulur untuk menjilat itil Jeonghan, “Maaf, sayang. Aku lupa udah jam berapa tadi,” balas lelaki itu dengan cemberut, “Aku makan, ya? Aku enakin kamu semaleman.”
Jeonghan sendiri tidak ingin menolak penawaran tersebut. Karena sudah berapa hari ia tidak dienakkan oleh kontol besar Seungcheol. Alhasil, Jeonghan hanya bisa mengangguk. Mengizinkan suaminya untuk memakai tubuhnya hingga keduanya merasa puas.
Malam pertama sebagai Choi Jeonghan merupakan perasaan yang tidak pernah akan dilupakan oleh wanita itu selama hidupnya. Merasakan tiap afeksi yang disalurkan oleh Seungcheol di setiap cumbuan ditempatkan di kulitnya. Pelukan erat saat liang memeknya kembali dijamah. Membiarkan kulit mereka bersentuhan satu sama lain setelah resmi menjadi sepasang suami istri.
Hingga matahari terbit, Jeonghan hanya berlagak sebagai pembuang cairan orgasme suaminya. Kedua lubang, sesuai permintaan nya di tengah hentakan kencang sang suami, dipenuhi oleh cairan kental tersebut. Tubuh Jeonghan kembali hanya didekorasi oleh gigitan kepemilikan kembali. Bercak-bercak merah segar dapat ditemui di setiap lipatan tubuhnya.
Jeonghan melenguh pelan di sela tidurnya. Merasakan kontol Seungcheol menyumpal padat di liang memeknya. Lelaki itu sudah bangun lebih cepat dari tidur hanya untuk menghisap payudara besar sang istri. Tidak akan pernah selesai untuk jadwal menyusui suaminya hingga waktu tua kelak.
“Sayang,” panggil Jeonghan lembut seraya menyisir surai rambut Seungcheol yang kini sudah memanjang, “Hhhah… sprei – mmh… sprei udah kamu ganti pas aku pingsan tadi?” Suara kecipak hisapan di payudaranya membuat perempuan itu pusing sedikit. Seungcheol menghembuskan napas kasar, menggesekkan pipinya ke payudara Jeonghan. “Udah, sayang. Kamu mau minum? Kita masih lama check out -nya juga. Pulang dulu kan baru besok pergi ke pantai?” Jeonghan mengangguk, mengecup bibir Seungcheol penuh afeksi dan kasih sayang, “Sayangku, sayangku, sayangku. Mmmhh… penuh banget aku disumpel sama kontol kamu semaleman.” Sang suami tertawa kecil seraya membalas kecupan istrinya di bibir, “Kamu juga masih sempit banget, sayang. Enak disodoknya sampe pingsan tadi malem. Tapi masih mau disodok terus soalnya sange banget nggak ngewe berapa hari.”
“Aku mau genjot lagi. Mau jadi kelincinya ‘aa.”
“Hhah… oke, sebentar sayang. Kamu minum dulu, ya.”
“Iya, ‘aa. Hani cuman nurut sama ‘aa aja.”
Bohong jika Jeonghan tidak merasa energinya terkuras habis karena bercinta dengan suaminya. Namun apa boleh buat, ia sudah menunggu momen ini sejak lama. Menyandang status sebagai istri dari Choi Seungcheol. Wanita yang beberapa bulan kedepan akan melahirkan anak kandung dari lelaki kaya raya itu.
Setelah beberapa ronde bercinta hingga pukul 8 pagi, Jeonghan baru bisa bangun dari tempat tidur. Seungcheol sudah bebersih lebih dahulu untuk rapi-rapi koper mereka demi persiapan check out. Jeonghan merasa di surga saat tubuhnya berendam di bathtub. Baru terasa sakit dan ngilu di sekujur tubuhnya saat berendam, karena sebelumnya adrenalin mematikan rasa di tengah sesi bercintanya dengan sang suami.
Sesuai rencana mereka sebelumnya bahwa keduanya akan pergi bulan madu mulai besok. Menginap di hotel pinggir pantai untuk beberapa hari sebelum kembali ke rutinitas masing-masing. Tidak usah jauh-jauh sampai ke luar negeri, karena Jeonghan juga sedang di masa awal-awal hamil. Seungcheol berencana baru ingin mengajak Jeonghan ke luar negeri saat anak mereka sudah menginjak umur yang diperbolehkan untuk dibawa liburan.
Walaupun jadwal mereka lumayan padat, Jeonghan masih menyempatkan diri untuk menghampiri warungnya. Mingyu yang sedang menjaga warung bahkan sampai kaget melihat kedatangan Seungcheol dan Jeonghan. Karena yang dia tahu keduanya akan pergi bulan madu esok hari. Orang normal seharusnya menghabiskan waktu berduaan kalau baru saja menikah, tapi mereka malah lebih mementingkan bisnis warung.
“Si teteh kayaknya nggak bisa diem sedetik aja ya,” timpal Chan yang sedang membawa beberapa kardus stok warung dari bagian belakang. Komentar itu alhasil membuat telinga lelaki yang lebih muda dijewer oleh Jeonghan. “Kamu tuh, nggak suka banget kayaknya kalo teteh dateng ke warung. Ada apa sih emang? Ini warung jadi tempat pacaran, kah?” Seungcheol menyeruput kopinya dengan tenang, “Tempat ngewe juga bisa.” Mingyu tersedak dan Chan melipat kedua tangan nya di dada, “Noh, si abang juga tau kalo warung bisa jadi tempat zina – iya, iya! Teteh, maaf, maaf.”
Jeonghan tidak lupa untuk memastikan karyawan warungnya mendengar tiap instruksi yang diberikan. Seungcheol hanya bisa menganggukkan kepala di samping wanita itu. Di saat-saat seperti ini, Jeonghan terlihat lebih cantik dari biasanya. Memang mengenal Jeonghan sebagai pemilik bisnis warung adalah hal pertama yang membuat Seungcheol tertarik dari awal.
Sesampai di rumah, Seungcheol menahan agar Jeonghan tidak banyak bergerak. Biar dia saja yang merapikan dan memisahkan baju-baju mereka untuk dibawa pergi besok. Seharian itu Jeonghan hanya berbaring di kasur, kadang bolak-balik kamar dan dapur untuk memotong buah lalu memberikannya kepada sang suami. Memastikan Seungcheol tidak dehidrasi karena terlalu memikirkan bagaimana liburan mereka besok.
Jeonghan mengecup pucuk kepala Seungcheol dengan lembut. Membisikkan kata-kata penenang memberitahu bahwa jadwal liburan mereka tidak akan berantakan. Walaupun berantakan juga, mereka akan melewatinya bersama. Karena seperti apa yang Seungcheol pernah bilang sebelumnya, kalau mereka berdua tidak sendirian lagi.
Perjalanan mereka menuju tempat penginapan dan juga pantai memang tidak mulus-mulus amat. Namun setidaknya mereka berdua sampai dengan selamat. Lebih tepatnya Jeonghan dengan kondisi sedang hamil. Walaupun Jeonghan selalu menekankan ia masih di umur kehamilan yang sangat muda kepada Seungcheol, suaminya masih tetap berpikiran hal buruk akan terjadi kepada istri kesayangan nya itu.
Setelah selesai proses check in ke hotel dan lain-lain, Seungcheol menggandeng tangan Jeonghan menyusuri pasir pantai hingga menemukan tempat yang pas untuk mereka berdua berbaring sejenak. Bikini yang dikenakan Jeonghan sama sekali tidak menyembunyikan payudara dan liang memeknya. Karena memang niat Jeonghan tidak ingin menyembunyikan organ tubuh yang amat sangat dibanggakan olehnya itu. Niatnya yang lain hanya untuk memuaskan nafsu Seungcheol.
Jeonghan mengenyampingkan celana bikininya di atas wajah Seungcheol. Tubuhnya bergetar saat lidah Seungcheol mulai menjilat memeknya di bawah sana. “Hhhh… ‘aa,” panggil Jeonghan dengan suara kecil, “Mmmmh… makan yang enak, ‘a. Jangan marah-marah lagi, ya? Sodok aja istri kamu biar nggak marah-marah sama orang lain.” Seungcheol menggeram pelan, menggesekkan ujung hidungnya ke lipatan memek Jeonghan yang masih sensitif itu, “Nnnh –! ‘Aa, ‘aa, ‘aa. Enak, jilatin lagi aja. Ahh – oh… oh, Seungcheol, Seungcheol, Seungcheol.”
Meremas payudaranya kuat-kuat seraya perlahan menggerakkan pinggang. Menggesekkan memeknya semakin nikmat sembari lidah tebal Seungcheol memaksa masuk ke dalam liang memeknya. Jeonghan hanya bisa mendesah panjang dengan ditemani suara ombak bertabrakan satu sama lain. Melepas bra bikininya demi meremas payudara lebih kuat, meneteskan banyak cairan susu ke saat ia bergerak ke bawah untuk menggesekkan memek ke kontol besar milik Seungcheol.
Setelah kontol Seungcheol kembali masuk ke liang memeknya, Jeonghan melakukan apa yang harus ia lakukan. Menggenjot kontol besar itu hingga menumbuk titik kenikmatan di dalam liang memeknya. Membiarkan Seungcheol berbaring di atas alas yang mereka bawa seraya ditemani oleh terik matahari perlahan menyentuh ujung laut nan jauh di sana. Pemandangan yang didapatkan oleh Seungcheol saat ini tidak ada duanya.
“Hhahh –! ‘Aa, ‘aa, ‘aa – ‘aa gede banget.”
“Enak, sayang? Masih mau diewe ‘aa?”
“Mau, mau, mau. Mau genjot – ahhh, enak. Kontolnya gede banget. Sodokin – sodokin ‘a.”
Kedua kaki Jeonghan terbuka lebar seraya melompat di atas kontol Seungcheol dipercepat. Payudaranya bergerak naik-turun sesuai ritme yang ditentukan. Sebelum akhirnya kedua mempelai baru itu memuncratkan orgasme mereka di waktu yang bersamaan. Tubuh Jeonghan tersungkur ke depan, merasakan sensitif dan ekstasi bercinta di sekujur tubuhnya.
Seungcheol dengan sigap langsung merengkuh tubuh Jeonghan erat-erat. Menautkan kedua bibir mereka di ciuman lembut nan mesra. Melumat bibir bawah istrinya dengan penuh kasih sayang seraya mengusap punggung Jeonghan. Melingkarkan kedua tangan di pinggang ramping wanita hebat yang sedang duduk di pangkuan.
Jeonghan menarik tubuh Seungcheol agar berdiri setelah keduanya melucuti pakaian masing-masing. Bergandengan menuju di mana air itu berada sampai setidaknya setinggi pinggang mereka. Jeonghan melingkarkan tangan nya di pundak Seungcheol. Berpegangan agar ia tidak terbawa arus, karena tubuh Seungcheol lebih kekar darinya.
“Dingin ya kalo telanjang,” bisik Jeonghan seraya menggesekkan kontol Seungcheol ke memeknya di bawah air. Lelaki di hadapan nya itu hanya tertawa lepas. Mengecup bibir istrinya lagi dengan lembut, “Iya, sayang. Tapi lebih enak aja sih. Apalagi kalo cuman berduaan aja sama kamu.” Semburat merah muncul di kedua pipi Jeonghan, ia memutuskan untuk mencubit lengan Seungcheol hingga membuat lelaki itu meringis kesakitan, “Suka banget gombal deh.”
Seungcheol mengerucutkan bibirnya dan Jeonghan amat sangat gemas dengan suaminya itu. Bersamaan dengan tenggelamnya matahari di ujung sana, kedua mempelai baru itu kembali mempertemukan bibir mereka. Hanya ciuman lembut nan mesra, romantis penuh kasih sayang yang sudah kerap dilakukan sejak mereka memutuskan untuk berhubungan. Namun di setiap ciuman itu, Jeonghan merasa terus jatuh cinta ke lubang paling dalam milik Choi Seungcheol.
“Aku sayang kamu, Seungcheol,” ujar Jeonghan di bibir lelaki itu, “Aku sayang sama kamu banget, banget, banget, suamiku.” Seungcheol tersenyum tipis, menangkup wajah Jeonghan dengan telapak tangan nya sebelum kembali mencium bibir istrinya itu, “Aku juga sayang sama kamu, istriku.”
