Work Text:
Read the fake chat HERE
Jeonghan terkekeh saat dia membaca chat nya dengan teman-temannya. Pria manis itu akhirnya meletakkan ponselnya di saku, dan mengambil laptop miliknya lalu berjalan menuju meeting room. Di sana, Jeonghan dapat melihat teman-temannya sudah memenuhi ruangan tersebut. Seorang pemuda berambut pirang melambaikan tangan ke arah Jeonghan, menunjukkan kursi kosong di sebelahnya.
“Kak Hani! Sini kak, duduk sebelahku!” kata si pemuda berambut pirang itu.
Jeonghan tersenyum melihat sosok berambut pirang itu. Dengan santai, pria manis itu berjalan menghampiri pemuda itu lalu duduk di sebelahnya. Setelah selesai meletakkan laptop dan juga ponselnya, Jeonghan dan si pemuda pirang di sebelahnya langsung terkekeh bersama dan melakukan tos berdua.
“Untung udah kamu simpenin kursi Chan, kakak tadi masih ditahan sama mas Baekho buat meeting soalnya.” ucap Jeonghan sambil tersenyum.
“Santai kak, tadi aku gak sengaja liat kakak lagi ama mas Baekho, jadi sekalian deh kujagain tempatnya.” Chan tertawa sambil menarik laptopnya, lalu mencolokkan kabel hdmi yang kemudian menampilkan deck presentasi mereka untuk pitching plan.
Dengan sigap Jeonghan langsung memulai meeting pitching dan mulai menjelaskan beberapa poin yang perlu mengalami revisi yang hanya dibalas dengan gerutuan dan juga erangan pasrah dari tim pitching yang terlibat. Jeonghan terkekeh melihat reaksi rekan-rekan kerjanya dan kembali melanjutkan presentasinya. Overall meeting berjalan cukup lancar dan semua stakeholder yang terlibat sudah mendapatkan brief yang lebih jelas hingga mereka bisa memulai untuk melakukan revamp terhadap deck yang akan disubmit ke calon client nantinya. Seusai meeting Jeonghan mengajak Chan bergabung dengan Jun dan Minghao yang saat itu tengah merevisi content plan yang harus disubmit juga.
Semua pekerjaan dan juga deadline berhasil diselesaikan cukup cepat. Jeonghan cukup kagum dengan timnya kali ini yang seolah-olah sangat fokus dan menyelesaikan semua deadline tepat waktu. Sebuah pop up notification muncul di layar laptop Jeonghan, menampilkan notifikasi mengenai ‘Night Out Woohoo!!’ dan langsung bikin Jeonghan refleks tepuk jidatnya sendiri. Pantes aja ya itu anak-anak semuanya on-fire. Ternyata biar semua bisa ikutan acara night out yang kali ini mereka adakan di J-Sparrow, mem-booking satu restaurant & bar itu malam ini khusus untuk kantor mereka saja.
‘Pantes aja ini tuyul-tuyul pada napsu beresin deadline. Makan gratis minum gratis we’re coming ini mah!’ batin Jeonghan sambil bersiul dan memasukkan laptop ke dalam tas kerjanya. Nggak berapa lama serombongan budak-budak agency itu kini mulai memenuhi J Sparrow, bar dan restaurant yang sudah disewa oleh kantor untuk acara malam ini. Jeonghan langsung menghampiri Jun, Minghao, Chan dan juga beberapa anak-anak intern yang sudah duduk di meja yang mereka incar. Strategis soalnya mejanya dekat dengan kolam air mancur. Asal kalau udah mabuk nggak nyemplung harusnya aman.
Jeonghan meletakkan tas kerjanya dan melambaikan tangan kepada waiters, dan menyebutkan pesanannya yang langsung ditimpali juga oleh Jun dan Minghao.
“Beb, mau gin & tonic double ya buat gue, sama bukain 1 jameson deh buat ini bocah2, billnya masukin gua aja, jangan campur bill kantor.” kata Jeonghan sambil membuka buku menu.
“Campurannya cola aja Jamesonnya, sama mau grey goose satu botol plus campurannya cranberry ya. Yang itu masuk tab gue.” tambah Jun.
“Eh kantor mesenin Tomahawk kan beb?” tanya Minghao.
“Iya Kak Hao, dipesenin Tomahawk sama kantor. Kak Hao ada mau nambah pesanan?” balas sang waiters.
“Hmmm… gue lagi males makan daging sapi. Cemilan mau lemongrass calamary dong, trus makannya mau crispy pork belly. Kak Hani, Ko Jun, Ichan ama yang lain mau makan apa?”
“Aku mau Fish and Chips beb, Hani mau Salmon ala Crema, si Ichan katanya tadi mau aglio olio prawn sama yang laen katanya mau cemil2 aja soalnya udah pada ngincer tomahawk-nya.”
“Busyehhh, anak-anak muda pecinta daging semua ini bocil-bocil. Gua keknya sekarang kalo kebanyakan daging udah mule pusing deh.” balas Jeonghan sambil meneguk air mineralnya.
“Ya itu mah elunya aja kali yang jompo. Makanya olahraga, punya gym membership itu dipake, gak dijadiin pajangan doang.” Minghao menimpali sambil mencemil nachos di hadapannya.
“Lah, kak Hani ngegym?? Mau barengan aku gak kak? Aku biasanya ngegym pagi di sebelah. Gak pernah euy ngeliat kak Hani di gym.” Chan menimpali sambil memiringkan kepalanya dan menatap Jeonghan yang tampak speechless di hadapannya.
“Dia mah gak ngegym di sebelah Chan, katanya sayang udah bayar delapan ratus ribu trus datengnya kalo dia inget doang. Noh dia daftarnya di Fithub ITC Kuningan tuh. Lebih murah jadi dia gak guilty-guilty amat ye kalo madol dari gym.” kekeh Jun dan dibalas dengan lemparan nachos ke wajahnya tentu saja dilakukan oleh Hani yang sekarang cemberut.
“Bwahahahaha, mageran akut ya kak Hani. Tiati kak, kalo makin mager tu ntar malah badan jadi lebih cepet loyo. Senin besok kakak ikutan aku ama anak-anak deh joging keliling Mega Kuningan. Bisa kan kak??” tanya Chan sambil menatap Jeonghan dengan penuh harapan.
Jeonghan semakin speechless dikarenakan permintaan Chan. Niatnya untuk joging ada, cuma tentu saja kemauannya masih selalu di awang-awang. Jeonghan tentu saja lebih memilih untuk tiduran sambil main game di kantor daripada harus panas-panasan joging keliling komplek perkantoran. Si manis itu kemudian teringat ajakan pacarnya, si mas welldone untuk joging bareng pagi tadi dan Jeonghan hanya membalas dengan memajukan bibirnya, manyun karena si mas welldone malah bangunin Jeonghan subuh-subuh *FYI subuh menurut Jeonghan itu jam 6 pagi, padahal aslinya jam 6 itu udah mulai rame orang bangun ya kannn*.
Jun terkekeh melihat Jeonghan yang merengut lagi dikarenakan kejompoannya dibahas langsung merangkul pundak sahabatnya itu lalu berkata,
“Udahlah Chan, ga usah deh bahas olahraga ke ini anak. Satu-satunya olahraganya dia itu ya cuma kardio. Itu aja bisa diitung jari kayaknya seminggu dia kardio berapa kali.” kekeh Jun sambil menaikturunkan alisnya dan langsung dibalas dengan jitakan dari Jeonghan beserta kekehan dari para penghuni meja mereka karena mereka tahu yang dimaksud kardio jenis apa itu.
Suara tawa dan canda memenuhi J Sparrow malam itu. Tanpa sadar setelah semua hidangan tersaji dan perut sudah kenyang, perlahan alkohol pun mulai mengalir membasahi kerongkongan para budak agency tersebut. Saat itu di dekat mini stage yang ada di area outdoor J Sparrow, tampak Chan sudah menyanyi dengan sangat bersemangat. Of course semangatnya extra karena doppingan alkohol di badan. Jun tampak terbahak-bahak bersama Minghao yang sibuk merekam tingkah laku Chan. Jeonghan memijit kepalanya karena anak magang kesayangannya itu sepertinya sudah sangat mabuk. Jeonghan beberapa kali mencoba untuk merebut microphone di tangan Chan tapi selalu dihalangi oleh yang lebih muda dengan cara kabur mendekati gerombolan teman-temannya yang juga tak kalah heboh.
“Ayo kita nyanyi lagunya Dewa 19!!” teriak Chan dan bocah itu mulai menyanyikan lagu roman picisan berbarengan dengan geng intern-nya dan Jeonghan semakin menepuk jidatnya, pusing melihat segerombolan bocah setengah matang heboh karaokean.
“Heh Junpi bantuin gue anjir! Ini bocah-bocah makin gendeng woyyy!” teriak Jeonghan dan hanya dibalas Jun dengan tawa kencang.
“Sekali-sekali gantian lah Han, lu yang jadi babysitter yekannn.” balas Jun sambil tertawa senang.
“Sianying lu Junpiiii! Duhhh Ichann, yuk Chan, udahan yukkk. Udah malem ini, ayok siap-siap pulang Chaaannn.” pinta Jeonghan sambil mencoba menarik Chan dan memisahkannya dari gerombolan pemabuk di hadapannya.
“Han, udah biarin ajalah itu si Chan ama anak-anak lainnya. Toh besok libur ini biar pada gila, seru liat bocil-bocil heboh!”
Mas Seojun yang terkekeh dari seberang meja sambil meneguk whisky nya sontak membuat Jeonghan jadi semakin cemberut. Enak bener jadi boss ya, tinggal liatin trus ngomporin. Ntar yang beresin masalah anak buahnya yang disuruh turun. Jeonghan yang saat itu sibuk mengurus bocah-bocah rare ini tidak sadar tiba-tiba muncul sesosok pria yang dia sangat kenal, yang kini terkekeh sambil menepuk pundak Jun dan Minghao dari belakang.
“Eh mas Seungcheol, ada acara juga di J Sparrow mas?” tanya Jun sambil mem-pause rekaman videonya.
“Nggak, gue jemput adek gue Jun.”
“Hah? Adeknya mas di sini??”
“Tuhh bocahnya, yang lagi heboh karaoke itu tuh. Lho lho? Hani ngapain sampe berlutut gitu?”
“Bwahahahahahah adudududuh, Hao kerekam gak Hao??” tanya Jun sambil terbahak melihat Jeonghan yang kini berlutut sambil menarik kemeja Chan meminta anak itu turun dari kursi dan segera pulang karena sudah mabuk banget.
“Aduduh, jarang-jarang liat kak Hani ampe speechless gitu, hiburan banget buat sebulan ke depan kita ungkit ini mah muahahahaha!!” kekeh Minghao sambil terus merekam.
Seungcheol terkekeh saat melihat kelakuan sahabat pacarnya itu. Sesungguhnya Seungcheol sudah tahu kalau Chan join kantor Jeonghan sebagai intern untuk 3 bulan ke depan dikarenakan anak itu tidak mau sekantor dengan Seungcheol dan Minho. Chan juga yang meminta Seungcheol untuk tidak memberitahu siapapun selain management dari DigiTech bahwa Chan adalah adiknya. Hal ini yang membuat Jun dan Minghao kaget saat mengetahui bahwa Chan adalah adik dari Seungcheol.
Tapi rasa kagetnya sih hanya mampir saja. Saat ini baik Jun dan Minghao malah sibuk merekam dan menertawakan Jeonghan yang tampak repot mengendalikan bocah-bocah kelebihan hormon dan kebanyakan alkohol di hadapannya sampai mau menangis sepertinya. Seungcheol terkekeh melihat kekasihnya yang kini sedang berusaha membopong Chan dan kelihatan sangat kepayahan. Dihampirinya Jeonghan dan Seungcheol langsung dengan sigap membopong Chan yang refleks langsung disambut dengan celotehan si bungsu.
“Waaa, ada mas Cheol… Ichan gak ngimpi kan?? Muhehehehe mas Cheollll…”
Jeonghan terkejut dikarenakan Chan mengenal Seungcheol. Pria manis itu menatap pacarnya dan menaikkan sebelah alisnya yang dibalas dengan kekehan dari pria yang lebih tua itu.
“Sini mas bantuin. Sekalian mas ceritain yuk sambil jalan.” balas Seungcheol mengelus kepala Jeonghan, sementara tangan satunya mengamankan posisi Chan di punggungnya.
“Jun, Hao, gue balik dulu ya sama Hani sama Ichan. Kalian ati-ati di jalan ya!” pamit Seungcheol kepada Jun dan Minghao yang dibalas dengan anggukan kepala dari pasangan itu.
Seungcheol berjalan menuju mobilnya yang sudah disiapkan oleh vallet di lobby, pria itu kemudian menurunkan Chan dan menempatkan tubuh adiknya itu di jok belakang. Tak lupa Seungcheol menggandeng Jeonghan dan membuka pintu penumpang untuk pacarnya itu. Semburat merah tampak menghiasi telinga dan leher Jeonghan dikarenakan perlakuan Seungcheol dan si manis itu membalas kekasihnya dengan senyuman tipis.
Selama dalam perjalanan, Jeonghan kerap kali memainkan tangannya di tangan Seungcheol dan dibalas dengan genggaman oleh pria yang lebih tua itu. Keduanya tersenyum sambil menatap jalanan malam Mega Kuningan yang sudah cukup sepi itu hingga tanpa terasa tiba-tiba mereka sudah memasuki komplek apartemen Seungcheol. Pria itu memarkirkan mobilnya dengan handal, lalu membantu Jeonghan keluar dan setelahnya tak lupa menggendong Chan di punggungnya. Sesampainya di unit apartemennya, Seungcheol langsung menuju ke kamar tamu, melepas semua atribut outdoor adiknya itu dan mengakhirinya dengan menyelimuti sang adik.
Jeonghan yang menunggu dari pintu kamar tersenyum lembut. Sepertinya dugaannya bahwa Chan adalah adik Seungcheol tepat. Setelah menidurkan Chan, Seungcheol pun menggandeng Jeonghan memasuki kamarnya, lalu pria itupun memeluk tubuh sang kekasih sambil sesekali mencium pipi pacarnya itu.
“So… Ichan adeknya mas?” tanya Jeonghan sambil mengelus pipi Seungcheol.
“Iya. Maaf ya mas nggak bilang. Soalnya Ichan memang request buat nggak kasi tahu siapa-siapa kalau dia adeknya mas.”
“Hehe ngga papa mas. Makasih malahan kamu nggak kasitahu aku kalo Ichan adek kamu, jadinya aku nggak bias juga ke Ichan di kantor.”
“So far gimana Ichan? Aman di kantor?” tanya Seungcheol sambil menyodorkan cleansing balm kepada Jeonghan.
“Bagus bangettt, aku gak nyangka anaknya sebagus itu. Bisa dibilang Ichan kesayanganku sih di kantor. Kerjaan apapun yang aku assign ke Ichan semua beres tanpa masalah loh mas.”
“Good deh. Mas juga seneng kalo kamu puas sama kinerjanya Ichan. Ngomong-ngomong tumben pulangnya dadakan? Biasanya ngabarin jauh-jauh hari kamu.” tanya Seungcheol sambil membersihkan wajah Jeonghan.
Ya, saling membersihkan wajah dan gosok gigi bersama entah kenapa sudah menjadi rutinitas sepasang kekasih ini. Tampak Jeonghan kini tengah membilas muka dan menggosok gigi, hal yang sama dilakukan juga oleh Seungcheol. Setelah keduanya selesai membersihkan diri dan ganti baju, keduanya pun berbaring di ranjang Seungcheol. Jeonghan memposisikan tubuhnya di pelukan Seungcheol seperti biasa. Si manis itu mendusalkan kepalanya ke dada pacarnya, menikmati irama detak jantung kekasihnya itu. Seungcheol paham bila Jeonghan butuh waktu untuk bercerita alasan kenapa ia harus pulang. Dielusnya rambut Jeonghan sambil sesekali pria tersebutjuga mengecup ujung kepala yang lebih muda sambil mengelus punggung yang lebih kecil itu.
Sambil menghela nafas, Jeonghan akhirnya memutuskan berbicara jujur kepada Seungcheol, YOLO ajalah batin si manis itu.
“Mas, masi inget kan aku pernah cerita kalau Mami sama papiku cerai?” tanya Jeonghan.
“Yes, mas inget. Ada hubungannya kah ini sama hal itu?”
“Mami pernah cerita kalau Mami dikenalin ke orang gitu, and looks like they’re serious about being together. Jadi weekend nanti mau ada pertemuan keluarga gitu mas.”
“Kamu masih ada yang ngeganjel ya? Udah coba ngobrol sama Mami?” Seungcheol merubah sedikit posisinya hingga kini ia dan Jeonghan saling bertatapan.
Jeonghan tersenyum kecil, dan mengelus pipi Seungcheol perlahan.
“Jujur i’ve never seen Mami this happy mas. Ini kayak pertama kalinya aku ngeliat Mami genuinely happy sama si om. Aku jujur happy juga, Mami akhirnya nemuin sosok yang bisa bikin Mami happy dan complete. Cuma gimana ya, wajar nggak sih mas kalau aku masih ada yang ngeganjel?”
Seungcheol tersenyum dan merengkuh tubuh Jeonghan dengan lembut. Dikecupnya dahi Jeonghan dan dirapatkannya tubuh yang lebih kecil itu di pelukannya.
“Mas bilang sih wajar ya kamu masih ada yang ngeganjel karena gimana juga kan kemarin ada kejadian nggak enak sama keluarga kamu. Wajar kamu jadi lebih waspada juga. Kalau menurut mas, kamu coba ngobrol sama pasangannya Mami kamu supaya kamu lebih yakin.”
Jeonghan mengangguk dan mengecup bibir Seungcheol dengan lembut. A fleeting kiss to close the day and both of them smiled fondly to each other.
Keduanya nggak pernah menyangka kalau at this point in their lives, they have finally found someone to whom they are willing to tell everything about themselves, whether it is something happy or something sad; everything will be communicated. Jeonghan tersenyum sambil memejamkan mata, tak lupa merapatkan tubuhnya ke pelukan Seungcheol.
Ya, Jeonghan bersyukur keputusannya untuk jujur kepada Seungcheol disambut dengan baik oleh yang lebih tua. Bahkan Seungcheol pun tak ragu untuk menemani Jeonghan ketika si manis itu memutuskan untuk menghadiri lagi sesi terapinya dengan psikolog kemarin hingga akhirnya Jeonghan dapat lebih terbuka dalam mengutarakan perasaannya. Dipeluknya Jeonghan dan tak lupa pria itu mengecup lagi puncak kepala Jeonghan. Both of them slept really well that night, feeling safe and content with each other’s presence.
—
“Hoaheemmmmm….”
Jeonghan menguap. Lagi. Entah untuk berapa kali pagi ini. Resiko kalau flight pagi memang Jeonghan pasti harus bangun pagi dan berangkat dengan nyawa masih setengah. Untungnya saja sekarang ada Seungcheol, setidaknya pagi Jeonghan jauh lebih tenang dikarenakan Seungcheol sudah membantu Jeonghan untuk membereskan semua hal dan Jeonghan cukup duduk manis di mobil menikmati peran sebagai passenger princess seperti biasa.
Masih ada waktu kurang lebih tiga jam sebelum flight sehingga baik Jeonghan maupun Seungcheol dapat menikmati sarapan pagi bersama di bandara. Sambil mengunyah sarapannya, Jeonghan tampak masih setengah terpejam hingga membuat Seungcheol tertawa pelan. Rasanya sih seperti sedang lihat kelinci makan sambil ngantuk, batin Seungcheol.
Pria itu kemudian mencubit pelan pipi pacarnya, dan dibalas dengan cengiran oleh Jeonghan yang kini menelan makanannya dan mulai menyeruput kopi hangatnya.
“Mas, makasih ya udah mau anterin aku pagi gini.” ucap Jeonghan sambil tersenyum.
“Nggak masalah sama sekali Han, aku malah seneng bisa nemenin kamu kayak gini.” balas Seungcheol sambil menyeka bekas makanan di bibir Jeonghan.
Jeonghan tersenyum, dan sebuah ide usil terlintas di kepalanya ketika Seungcheol menyeka bibirnya. Si manis itu kemudian memiringkan kepalanya, dan menatap Seungcheol dengan tatapan sayu. Seungcheol mengangkat alisnya, sepertinya ia tahu pacarnya ini akan melakukan entah keisengan apalagi. Tiba-tiba saja lidah Jeonghan terjulur, menjilat pelan ibu jari Seungcheol yang masih berada di bibirnya, lalu tak lupa Jeonghan memberikan kecupan juga di jemari Seungcheol.
Seketika rahang Seungcheol mengeras dan tatapan Seungcheol langsung menggelap. Jeonghan terkekeh dan pria manis itu langsung mencubit pipi kekasihnya itu lalu berkata,
“Nanti ya, kalo aku pulang baru aku kasih jatah hehe. Senin ama selasa jadinya aku ambil cuti soooo… kalau kamu mau cardio ama akuuu, aku bisa banget loh masku~~” bisik Jeonghan manja dan dibalas dengan kekehan oleh Seungcheol.
“Duly noted then. I’ll make sure to claim you thoroughly on that day. Just be prepared Han..” bisik Seungcheol sambil menarik dagu Jeonghan, dan tak lupa mengecup bibir pink kesukaannya itu.
Terkekeh, Jeonghan pun membalas kecupan Seungcheol dengan cubitan di pipi Seungcheol lagi sambil berkata, “Great! Surprise me ya kalo gitu mas hehe. Yaudah yuk ah aku musti siap-siap boarding. Sejam lagi harusnya take off nih.”
Seungcheol mengangguk dan membereskan semua pembayaran pesanan mereka. Kedua pria itu kini berjalan menuju pintu masuk terminal keberangkatan. Sebelum Jeonghan masuk, Seungcheol memeluk pacarnya itu dan tak lupa mengecup lagi bibir sang pacar yang dibalas Jeonghan dengan antusias juga. Tak lama setelah itu Jeonghan berjalan masuk untuk check in dan bersiap untuk terbang menuju Semarang, tempat di mana Jeonghan lahir dan dibesarkan untuk menghadapi pertemuan keluarga yang Jeonghan yakin akan cukup membuat kepalanya sakit setelah ini.
—
Sesampainya di Semarang, Jeonghan berjalan santai menuju lobby kedatangan. Di sana tampak seorang gadis manis sedang meminum kopi sambil memankan ponselnya. Tersenyum, Jeonghan langsung menghampiri gadis itu dan memeluk Wonyoung, adik perempuan satu-satunya yang sangat Jeonghan sayang.
“Adeeekkk!!” kekeh Jeonghan sambil memeluk adiknya dan tak lupa mencubiti pipi tembam sang adik hingga membuat gadis di pelukannya itu cemberut.
“Ihhh, mas Han jangan cubit-cubit ih!! Ntar merah pipikuuuu!”
“Muhehehe, kangennnnn. Mas kelamaan di bdsm ama kerjaan jadi ga sempet pulang huhuu…”
“Halah, bilang aja kamu tu sibuk pacaran. Pake alesan sok sibuk lembur aja ih.” balas Wonyoung sambil melingkarkan lengannya di pinggang Jeonghan.
Jeonghan tertawa pelan dan mengacak rambut panjang adiknya itu, “Hehehe, yaudah sih. Mas udah lama gak pacaran juga ini, boleh lahh sekali-sekali hilap gitu dek. Eh mana sini kunci mobil. Mas aja yang nyetir.”
“Emoh. Aku gak percaya kalo kamu yang nyetir pagi-pagi. Mukamu aja masi muka ileran banget gitu masa mau nyetir.”
“Heh, mas sakit ati nih digituin. Udah seger seriusan iniii wehhh.”
“Udah ah mas nurut aja ama aku. Sekalian makan siang di Paragon mau gak?” tanya Wonyoung sambil memasang kacamatanya, dan mulai menyalakan mesin mobil.
“Hmm, boleh deh. Sekalian mas pengen cari jajan juga nih ama beli sabun muka. Mas lupa gak bawa soalnya.”
“Yowes kalau gitu. Kita mam siang, trus abis itu belanja trus balik. Mami bilang sih acaranya ntar malem di hotel Tentrem, ketemu ama calonnya Mami plus anak cowoknya.”
“Ohh, akhirnya ikut anaknya om Yohannes?”
“He eh. Kan namanya juga pertemuan keluarga pasti ngikut lah. Emangnya mas Hani, hobinya taichi mulu.”
“Hehehehe, ya kamu tau lah kenapa kemarin-kemarin mas taichi mulu. Sekarang udah mendingan kok mas. Udah terapi lagi dan kebetulan pacarnya mas support juga mas terapi lagi.”
“Good then. Aku juga seneng kalo mas sekarang udah lebih legowo. Pacarnya mas sekarang jauh lebih mature ya kayanya.”
“Literally dia lebih tua 4 tahun daripada mas, dek.” kekeh Jeonghan.
“Widiii, akhirnya yaa, masku ini akhirnya pacaran ama yang lebih tua. Dah capek ya ama yang seumuran ples brondong? Udah stop kan berarti main-mainnya ama mas Igu?”
“Dah tobat dah tobat masmu iniiii, galak bener deh adeknya mas ini. Lagian si Igu sekarang juga udah naksir orang lain juga kok. Ya gak mungkin lah mas masih wleo-wleo ama Igu lagi. Ada-ada aja kamu ni dek.”
“Ya kan aku make sure aja. Mas Hani sama mas Igu tuh sama aja sebenernya kelakuannya. Kalo ada masalah malah nyari pelampiasan lain. Coping mechanism kalian ni patut dipertanyakan banget soalnya. Coba deh, mas ama mas Igu udah berapa tahun jadi fwb?” tanya Wonyoung sambil menyetir mobil dengan santai.
Jeonghan terdiam dan berpikir sejenak. Dia sendiri bahkan nggak ingat sejak kapan baik dia dan Mingyu memulai hubungan sebagai friend with benefits. Jeonghan berusaha mengingat awal mula kenapa dia dan Mingyu memulai hubungan tersebut. Saat ingat penyebab mengapa mereka berdua memulai hubungan itu, Jeonghan langsung menghela nafas lelah lagi.
Of course it had to be because of the stress when Jeonghan broke up with Hyungwon dan juga ketika Jeonghan mendapat kabar bahwa sang ayah akan menikah lagi. Jeonghan yang saat itu tengah linglung, ditambah dengan Mingyu yang saat itu juga tengah lelah menghadapi begitu banyak penjilat dan orang-orang yang hanya mengincar Mingyu dikarenakan background keluarganya.
Keduanya butuh pelampiasan, dan saat itu entah siapa yang memulai tiba-tiba saja mereka berdua sudah saling berciuman, Jeonghan duduk di pangkuan Mingyu, dan Mingyu yang tengah meremas pinggang Jeonghan yang mendesah pelan ketika lidah Mingyu mulai menelusuri rongga mulutnya. Hubungan itu terus berlanjut hingga bertahun-tahun hingga tanpa sadar Mingyu akhirnya menemukan sosok Wonwoo dan Jeonghan menemukan sosok Seungcheol. Sambil menghela nafas, Jeonghan menutup matanya dan menyandarkan dirinya di kursi mobil. Suasana sunyi menyelimuti mobil tersebut, hingga akhirnya Jeonghan berbicara pelan.
“Mas kekanakan banget ya ternyata. Cari pelampiasan mulu nggak kelar-kelar.” Jeonghan tersenyum perih ketika mengingat hal-hal yang dilakukannya untuk dapat mendistrak rasa sakit di hatinya saat itu.
Wonyoung terdiam sebentar, dan gadis itu kemudian meremas tangan Jeonghan perlahan, “It’s okay mas. It all happened in the past. Mas sekarang fokus ke gimana mas bisa happy ya sekarang. Termasuk nanti coba mas ngobrol ama Om Yohannes. Aku tau banget mas pasti masih ada sesuatu yang ganjel juga yang pengen diobrolin kan sama si om?”
“Ehehe, susah nih emang bohong ama calon psikolog handal kayak kamu dek. Kamu tau aja mas lagi kepikiran soal itu. Iya, nanti malem mas bakalan ngobrol sama Om Yohannes. Kamu tolong distrak Mami ya, biar mas bisa coba ngobrol dulu sama si om.”
“Aman itu mah, mas pokoknya just do the things to ensure that you’re happy and confident enough to accept om Yohannes ya. Nanti urusan Mami biar aku yang ngatur, okay?” balas Wonyoung sambil tersenyum.
Jeonghan terkekeh dan kembali mengacak rambut adiknya. Kadang Jeonghan juga heran, kenapa adiknya bisa jauh lebih dewasa daripada dia. Saat keduanya turun dari mobil, Jeonghan langsung menggamit lengan adiknya, dan berjalan sambil menggandeng sang adik sambil tersenyum. Keduanya saling menatap, dan terkekeh berbarengan, lalu berjalan memasuki mall untuk makan siang dan window shopping bersama hingga akhirnya keduanya sama-sama capek dan memutuskan untuk pulang ke rumah, beristirahat sejenak sebelum bersiap-siap untuk pertemuan keluarga nanti malam.
—
Sebuah private dining room sudah dipesan di sebuah restaurant yang terletak di dalam Hotel Tentrem, salah satu hotel termewah di Semarang. Jeonghan, Woonyoung dan juga Mami mereka sudah duduk bertiga di dalam private room tersebut. Jeonghan tampak sibuk memainkan rambut panjang Wonyoung di sebelahnya dan dibalas sang adik dengan mencubit lengan kakaknya itu. Mami tersenyum melihat tingkah kedua anaknya itu yang selalu saja ramai dan selalu ada saja keributan yang mereka lakukan.
Sebuah ketukan refleks membuat Jeonghan dan Wonyoung menyudahi candaan mereka dan langsung saja keduanya fokus ke arah tamu yang datang. Seorang pria yang tampak seumuran dengan Mami memasuki ruangan tersebut dan disusul dengan sesosok pria lebih muda yang berada di belakangnya. Jeonghan seketika terbelalak ketika melihat sosok di belakang Om Yohannes dan refleks berteriak,
“Johnny??!!”
“Lah??? Hani??!!” balas Johnny tak kalah kaget.
Reaksi kedua pria di ruangan itu refleks membuat semua orang di dalam ruangan itu menoleh dan menatap kedua pria tersebut. Mami tampak menatap Jeonghan dan memberi tatapan meminta penjelasan. Jeonghan yang masih terkejut hanya bisa melongo melihat sosok Johnny di hadapannya. Johnny yang melihat Jeonghan masih kaget, terkekeh dan memposisikan dirinya untuk duduk di sebelah ayahnya.
“Halo halo semuanya, maaf baru sempet join sekarang buat ketemuannya. Tante Kiyo kebetulan sudah kenal sama saya, Hani juga. Cuma Sama Wonyoung ya saya belum kenalan?” ucap Johnny sambil mengulurkan tangan ke Wonyoung dan dibalas gadis itu dengan menyalami balik Johnny.
“Halo mas Johnny, kenalin, Wonyoung. Bungsunya Mami Kiyo. Umm.. Mas Johnny udah lama kenal ya sama mas Hani?” tanya Wonyoung.
“Lumayan sih, kayak udah setahunan ini kenal sama Hani. Kebetulan juga kan Hani pacarnya Seungcheol, temen deketnya saya. Papah inget kan sama Seungcheol?” balas Johnny ke papanya, Pak Yohannes Simanjuntak itu.
“Wah, pacarnya Seungcheol temen kecil kamu itu?? Kok papah baru tau? Kalian baru jadian, Hani sama Seungcheol?”
Jeonghan sontak speechless. Sungguh dia tidak menyangka bahwa calon suami Maminya ternyata adalah ayah dari Johnny, sahabat mas welldone-nya. Si manis itu refleks menendang kaki Johnny meminta pria yang lebih tua itu untuk tidak terus-terusan menceritakan tentang Seungcheol walaupun sepertinya usahanya itu tidaklah berhasil karena Mami masih menatap Jeonghan meminta penjelasan dari putranya itu.
“Euh… Iya nih Mi, Om. Hani kebetulan baru jadian sekitar dua bulanan ini apa ya, sama mas Cheol. Kebetulan mas Cheol temennya bang Johnny, dan kita sering ketemu kalau nongkrong bareng.” balas Jeonghan sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.
Mami tersenyum dan meremas tangan Jeonghan perlahan. Wanita itu entah kenapa merasa senang mendengar kabar putranya akhirnya mau memiliki pacar lagi setelah sekian lama menjomblo.
“Mami seneng deh mas akhirnya mau pacaran lagi. Nanti kalau mas udah nyaman, boleh ya pacarnya dikenalin ke Mami?” tanya Mami kepada Jeonghan dan dibalas dengan anggukan kepala Jeonghan.
Dari situ, obrolan mengalir lancar. Pembahasan mengenai keseriusan dari om Yohannes dan Mami untuk menikah sangatlah kentara dan Jeonghan akhirnya merelakan Maminya untuk dapat mengejar kebahagiannya lagi.
Jeonghan pun berpamitan sejenak, berjalan menuju smoking area di dekat kolam renang. Diambilnya sebuah rokok elektrik dari kantongnya yang entah kenapa Jeonghan seolah merasa butuh sedikit asupan nikotin di lidahnya. Saat Jeonghan tengah asik menghisap rokoknya, sebuah tepukan refleks membuat Jeonghan menoleh. Dapat dilihat Johnny menyusulnya, sambil membawa sekotak Marlboro Ice Burst yang disodorkannya kepada Jeonghan, dan Jeonghan hanya terkekeh sambil melambaikan IQOS nya.
“So, lu jadi adek gue sekarang nih?” tanya Johnny sambil menyalakan rokoknya dan duduk di sebelah Jeonghan.
“Anjir dunia sempit bener sih. Jadi sekarang gua manggil lu abang nih?” tanya Jeonghan.
“Agak merinding sih sebenernya cuma bebas lah terserah lu mau manggil apaan.” balas Johnny sambil terkekeh.
Jeonghan balas terkekeh. Dihisapnya lagi batang nikotin itu sambil menatap kolam renang di hadapannya. Johnny dapat melihat bahwa ada sesuatu yang dipikirkan oleh Jeonghan. Pria itu kemudian merangkul bahu Jeonghan dan menepuk pelan kepala calon adiknya itu.
“Apapun yang lu pikirin sekarang, gue bisa assure lu kalo bokap gue serius banget sama nyokap lu. Gue udah jadi anaknya dia puluhan tahun jujur baru pertama ini gue lihat bokap seolah hidup lagi. Sejak nyokap gue gak ada waktu gue masih SD, bokap sendirian ngasuh gue di US sampai akhirnya bokap pulang dan akhirnya ketemu nyokap lu. Dan dari situ gue mulai ngerasa bokap jadi lebih hidup? At that time jujur gue cuma bisa lega. Akhirnya setelah bokap selalu prioritasin gue, sekarang bokap udah mulai bisa mikirin kebahagiannya dia juga.” ucap Johnny sambil tersenyum menatap riak-riak air di hadapannya.
“I know, gua pun ngerasa gitu ke nyokap. Sekian tahun dia sendirian ngegedein gua sama adek, selalu prioritasin kita berdua over anything dan baru sekitar setahunan ini nyokap mulai berasa happy-nya. Your dad brings the best on her and i like it. Udah lama rasanya gua nggak lihat nyokap sehappy ini, so i don’t want to ruin her happiness over my worry sih bang.” balas Jeonghan sambil tersenyum, dan memasukkan lagi IQOS nya ke dalam kantong kemejanya.
Johnny mengangguk. Sedikit banyak dia sudah mendengar cerita mengenai calon ibunya itu dari ayahnya dan Johnny maklum kenapa Jeonghan cukup khawatir dengan ibunya. Johnny pun sama, dia juga tak kalah khawatir dengan ayahnya tapi setelah melihat bagaimana bahagianya sang ayah Johnny pun merasa lega. Ditambah ternyata sosok calon ibunya ternyata ibu dari Jeonghan membuat Johnny semakin yakin bahwa keluarga mereka adalah keluarga yang baik. Bisa dibilang Johnny sudah mengenal Jeonghan lebih lama daripada Seungcheol.
Keduanya bertemu di Caspar sekitar setahun yang lalu. Jeonghan yang ternyata sahabat dari Ten, sosok yang saat ini tengah berusaha untuk Johnny dekati dan beberapa kali mereka sering ngobrol bareng walau biasanya berakhir dengan Johnny dan Mingyu yang saling debat entah dikarenakan apa, sementara Jeonghan akan menertawakan kelakuan mereka berdua berbarengan dengan teman-temannya yang lain dan juga Ten.
Johnny pun menepuk kepala Jeonghan, kemudian berdiri dan memasukkan satu tangannya di saku celana, sementara yang satunya lagi mematikan rokoknya dan membuangnya di tempat sampah yang tak jauh dari tempat keduanya berada. Ditatapnya Jeonghan dan kemudian pria itu berkata,
“Jadi lu kapan mau ngasih tahu Seungcheol soal ini?” tanya Johnny.
Jeonghan terkekeh kemudian berdiri dan meregangkan tubuhnya yang cukup pegal.
“Besok mau posting foto gak? Lumayan bisa bikin timeline heboh hehehehehehhh.”
“Gue udah kebayang si Igu misuh sih ini, trus bilang ke elu jangan deket-deket ke gue ntar hamil.” balas Johnny sambil bergidik.
“Bwahahahaha, ya abisan elu. Udah tau naksir Ten masih suka gandeng kanan kiri. Udah tau juga si Igu ni teritorial kalo ke temen-temennya masih lu pancing mulu, gimana gak mencak-mencak itu anak tiap ketemu elu??”
“Reaksi temen lu terlalu lucu buat gue lewatin soalnya, makanya sayang banget kalo gak gue kerjain anaknya.” ucap Johnny sambil terkekeh.
“Orang gilaaaaaa lu bwankk! Dahlah, gua mo ke kamar aja deh, mo molor. Nitip sampein makasih ke om papi ya, udah dibukain kamar di hotel cakep.” kata Jeonghan sambil tersenyum dan menepuk pundah Johnny.
“Santai aja. Lu bentar lagi juga jadi adek gue. Wonny juga. Technically kita udah keluarga tinggal nunggu sahnya aja ini, jadi ya gak usah ngerasa sungkan-sungkan sih. Siap-siap aja beberapa bulan ke depan kita bakalan sibuk. Mami ama bokap nikahan bakalan dalam waktu deket jadi yaaa kita siapin body aja deh kalo tiba-tiba disuruh ini itu.”
“Aishh, gua bayanginnya udah mau mager. Keknya bakal makin sering gua pijet ke Meiso atau kretek-kretekin badan di Karada.”
“Astaga jompo bener sih lu jadi manusia. Mana lakik lu macem si Seungcheol apa gak makin jompo lu kalo digeber si Seungcheol.” balas Johnny sambil tertawa terbahak-bahak. Dia sangat tahu bahwa sahabatnya itu staminanya terlalu gila, dan melihat Jeonghan dengan segala kejompoannya ini dia jadi cukup heran bagaimana Jeonghan bisa menghadapi Seungcheol.
“Ya gua kalo abis cardio sama mas Cheol seharian jadi ikan asin aja di kasur. Semuanya diurusin ama dia soalnya emang beneran ampe lemes??” Jeonghan membalas sambil menaikkan alisnya dan hal ini semakin membuat Johnny tertawa terbahak-bahak.
Keduanya terus berbincang, tanpa sadar dari arah dalam ruangan, tiga pasang mata memperhatikan mereka. Mami, Om Yohannes dan Wonyoung tersenyum melihat interaksi Jeonghan dengan Johnny. Setidaknya Om Yohannes dapat bernafas lega karena kehadirannya dan juga Johnny diterima dengan baik oleh keluarga Mami. Sambil tersenyum, Om Yohannes memeluk Mami dan keduanya tersenyum. It looks like everything is going well between the two families, and this is definitely making everyone in the meeting happy and looking forward to whatever will happen in the near future, as the family is now complete again.
