Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-05-15
Words:
1,729
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
44
Bookmarks:
2
Hits:
735

Temali

Summary:

Ketika Akaashi Keiji pulang ke rumah, yang ia dapati adalah Bokuto Koutarou yang sedang tidak baik-baik saja. // BL, NSFW, BokuAka post-timeskip era

Notes:

Haikyuu milik Furudate Haruichi

warning; mengandung unsur b/b (spesifik Bokuaka alias Bokuto x Akaashi), nsfw, omegaverse, R-18, minor jangan baca, mengandung spoiler manga, post timeskip era, ada kuroken sedikit

Work Text:

Malam itu hujan mengguyur bak air bah, Akaashi Keiji baru saja pulang dari pekerjaannya yang menyiksa. Untung saja dia masih sempat mampir ke kedai Onigiri Miya dan membeli beberapa onigiri yang tersisa. Pemilik kedai itu, Miya Osamu, hampir saja mau menutup etalase tokonya sebelum melemparkan semua onigiri yang tidak terjual ke kulkas pribadi miliknya.

Helaan napasnya terendam bunyi rintik air yang saling bersahutan. Kakinya kedinginan karena ternyata payung tak cukup berguna untuk melindunginya dari cipratan. Sekarang ia khawatir enam buah onigiri tuna yang dibelinya jadi dingin sebelum sampai ke rumah.

Keiji mengangkat tangannya, hendak memanggil taksi. Ia ingat keluar dari kantornya jam sebelas malam, dan kepalanya terlalu berat untuk dibawa naik kereta. Ia ingin segera tidur agar besok dapat menikmati hari libur dengan maksimal.

Tidak begitu banyak orang-orang yang berkeliaran di jalan. Selain karena sudah hampir tengah malam, hujan deras juga menjadi faktor utama. Tak butuh waktu lama sampai Keiji tiba di gedung apartemennya yang sepi sembari menenteng bawaannya yang setiap langkah terasa semakin berat.

“Kou-san? Kubawakan onigiri — ” mendadak ia menghentikan langkah. Pintu di belakangnya cepat-cepat ia tutup, lalu menjatuhkan plastik onigirinya di genkan tanpa sadar. Dengan terburu-buru Keiji melepas sepatu sebelum meluncur menuju kamar tidur.

Keiji tak tahu, dan ia tak perlu mencari tahu. Ia seorang beta yang tak mampu membaui feromon apa pun, tak mampu mengerti. Meski begitu, ia paham bahwa saat ini, di sini, orang terkasihnya sedang menderita.

Didapatinya Bokuto Koutarou, kekasihnya, sedang meringkuk di atas tempat tidur. Mukanya memerah karena kepanasan, giginya gemelutukan, dan rambut yang biasanya ditata ke atas kini turun lemas. Air mukanya menyirat kesakitan dan tangannya memegangi alat kelamin yang semakin lama semakin kelihatan menyiksa.

Buru-buru Keiji menuangkannya segelas air. Namun sebelum ia bisa memberikannya, tangan Koutarou segera mencengkeram lengannya, membuat gelas di tangannya itu jatuh hingga pecah berkeping-keping.

“Keiji — ” panggilnya dalam, dengan suara paling rendah yang pernah Keiji dengar. Dia tak tahu Kou-sannya bisa bersuara seperti itu. Matanya yang seharusnya lurus dan jujur kini menatap Keiji tanpa bayangan, seperti cahaya yang sejatinya ada menghilang darinya seketika.

Pria yang lebih muda menarik napas, ia harus tetap tenang apabila tak ingin ikut terlahap. Bibirnya berusaha mengulas senyum dengan hati-hati. “Ya, Kou-san. Ini aku. Aku sudah pulang. Ayo duduk dan minum air sebelum kembali tidur.”

Namun cengkeram di lengannya tak hendak melepas, Koutarou masih tetap menggenggam lengan itu hingga pemiliknya mau menurut. Dan sebagaimana Keiji, ia senantiasa mengikuti. Ah, apa maunya kali ini?

Lamat-lamat Koutarou bersuara pelan seperti burung hantu dalam kegelapan, kemudian mengayak Keiji sebagai mangsa dalam genggamannya. Tak terusik, tak terlihat. Senyap.

“Aku ingin kau. Sekarang juga.”

Apalah Keiji yang tak bisa melawan. Mangsa.


.


Keiji bukanlah omega, tetapi Koutarou membelainya seperti mengelus berlian termahal di dunia. Ada jejak-jejak kelelahan di mata Keiji yang selalu lembur karena pekerjaannya. Lalu Koutarou menatapnya kasihan.

“Keiji-ku, Keiji-ku yang cantik…” ia menggumam lesu sembari mencuri kecup di ceruk leher Keiji yang kedinginan. Ada sekirat wangi apel segar di rambutnya yang basah. Sekiranya, Koutarou membasahi diri di kamar mandi sebelum Keiji pulang.

Keiji kemudian melepas kacamatanya, saat itu juga Koutarou menyambar tangannya, melemparkan kacamata itu entah kemana, sebelum membanting Keiji yang tak berdaya ke tempat tidur. Kuasanya tak lagi ada padanya, hanya ada Keiji, dan insting alpha Koutarou.

Pakaian kekasihnya ia lepas paksa, beberapa kancing bahkan ikut terlepas dan sobek di satu bagian. Koutarou menciumi leher Keiji dan mengisapnya seperti tak ada hari esok. Lalu tangannya, jari-jarinya yang terbiasa ia gunakan untuk memukul bola, kini melesak masuk ke lubang anal Keiji. Memaksanya membuka seperti wanita.

Keiji tak lagi bermain voli, ia tak sekuat Koutarou. Lagipula, ia hanya seorang beta, manusia biasa, ia tak memiliki organ yang liat seperti omega. Yang ia bisa lakukan hanya memanggil nama terkasihnya, berusaha memberinya tenang daripada melawannya.

“Kou-san, tenanglah. Ini aku, Keiji, aku tak akan kemana-mana,” kedua tangannya merentang ingin memeluk orang kecintaannya. Namun Koutarou adalah predator sejak awal, ketika ia melihat mangsanya menyerahkan dirinya, ia akan melahapnya hingga tak bersisa.

Begitulah yang ia lakukan.

Semua kecup itu, semua cium dan jilatan yang lembut, tak sungkan binasa. Berubah jadi liar tanpa aba-aba. Keiji yang semula berpikir ia mampu membuat Koutarou tenang, kini meragukan dirinya. Perlahan dia tak mampu memutar otak, hanya merasakan saat jari-jari di analnya bertambah, dibarengi dengan gerakan maju-mundur yang kian cepat.

Keiji sangat-sangat paham bahwasannya seorang alpha yang sedang mengalami masa rut tidak bisa diajak menunggu, namun Koutarou bersedia mempersiapkannya walau dengan tempo yang tak masuk akal. Demikian, tetapi dengan itu Keiji tahu, Koutarou menyayanginya tulus.

Gigi seniornya saat sekolah itu gemetaran di bahunya, menggumam-gumam ingin menandai Keiji menjadi miliknya. Keiji terdiam letih, tersenyum miris di dalam hati. Dia hanya beta, tidak akan bisa ditandai sekeras apa pun Koutarou mencoba. Meski begitu Koutarou tetap menyetubuhinya gusar seperti dikejar-kejar, takut mangsanya dilahap orang.

Sesaat dibiarkan, sentuhan jari Koutarou di analnya terlepas, tepat sebelum Keiji hampir saja meneriakkan nama Koutarou di pelepasannya. Ia melepaskan semua hasrat meluap yang telah ia tahan sejak tadi. Cairan kental menodai dada dan perutnya, namun Koutarou melihat itu seperti menemukan oasis di padang pasir.

Napasnya terengah-engah, kadang tersedak udara lantaran respirasi yang begitu intens. Matanya memandang lemas Koutarou yang kini memosisikan batang kemaluannya tepat di hadapan lubang Keiji.

“Tung – Kou-san, aku – nghh!”

Koutarou menjarah masuk, dan Keiji tidak memiliki pilihan lain selain meneriakkan namanya.

Sakit. Sakit sekali. Tetapi Koutarou tetap memasukkan alat kelaminnya ke dubur Keiji tanpa ampun. Menggempurnya seolah dia adalah omega yang dilahirkan untuknya. Menghujaninya dengan panggilan, sahutan, serta kecupan sayang. Terkadang meracau, namun Keiji terlalu letih untuk berpikir dan menanggapinya.

Koutarou tidak seperti biasanya, ketika dia begitu baik hati dan bersabar selaik tadi. Meskipun benda tegang di antara kakinya berkedut-kedut minta dimanja. Kali ini (dan seperti kali-kali lain saat dia sedang rut), Koutarou tidak punya niat sama sekali untuk bersabar dan bermain perlahan-lahan.

Tidak masalah, Keiji berbisik pada dirinya sendiri. Ini bukan pertama kali. Tahun-tahun yang mereka lalui bersama sejak SMA, salah satunya adalah menghadapi ketidaksabaran Kou-san saat sedang rut. Setelah semuanya berakhir, Kou-sannya akan kembali menjadi dirinya sendiri, seperti sedia kala.

Di sela-sela hentakan, Koutarou seperti menggumamkan sesuatu, wajahnya terlihat kalut. Keiji berusaha memasang telinga sembari menahan perih di selangkangannya.

“Keiji, Kenma hamil,” ia berucap lirih. Kelopak mata Keiji sedikit bergerak karena terkejut. Ia pun menggeram rendah supaya Koutarou tahu ia mendengarkannya.

Kenma seorang omega, dia telah berpacaran dengan Kuroo sejak lama. Kuroo adalah sahabat lama Koutarou sejak SMA, praktis menjadikan Kenma yang teman kecil Kuroo menjadi sahabat Keiji juga. Kini Kuroo bekerja sebagai bagian pemasaran asosiasi voli sementara Kenma sendiri telah berhenti bermain voli dan bekerja di rumah sebagai gamer profesional.

Lalu, kenapa tiba-tiba kekasihnya ini menceritakan kondisi tubuh Kenma saat ini?

Seakan membaca pikirannya, Koutarou menghentakkan pinggangnya lalu menggumam.

“Aku… juga ingin punya anak. Darimu, Keiji…”

Ah, ini dia.

Tentu saja semua alpha menginginkan anak. Semua alpha ingin memiliki keturunannya sendiri. Memiliki anak kandung yang mampu mereka sayangi tanpa syarat. Karena itulah kebanyakan dari mereka menikahi wanita atau omega. Tak banyak alpha yang memacari bahkan menikahi lelaki beta seperti Keiji.

Keiji tak bisa memberi, atau menjanjikan apa pun untuknya. Ia hanya bisa tersenyum sedih saat melihat omega dan wanita yang memiliki anak bersama dengan pasangannya.

Ia pun, juga ingin bahagia bersama pasangannya. Bersama Bokuto Koutarou. Memiliki anak bersamanya.

“Kou-san tahu aku tak bisa – AH!”

Keiji memekik lantaran Koutarou menghentak lagi dengan keras. Benda itu menghujam begitu dalam di lubangnya, menabrak lapisan terdalam organ penerimaannya. Perutnya seolah penuh oleh Koutarou yang memilikinya seutuhnya.

Napas Keiji putus-putus, seiring dengan mulutnya yang membuka untuk mencoba menjelaskan, di saat yang sama Koutarou pasti akan segera menabrakkan pinggulnya lagi sejauh yang ia bisa.

Begitu dalam dan intens, sehingga Keiji terlena oleh rasa nikmat luar biasa. Membuatnya sekali lagi mengeluarkan air mani yang kini ikut membasahi mukanya.

“Keiji, pasti akan sangat menyenangkan kalau kita bisa punya anak…” Koutarou kembali meracau. Matanya bahkan tidak melihat lurus kepada Keiji. Dia hanya seperti melihat mangsa, melihat seorang omega, bukan Keiji, orang yang dikasihinya.

Orang-orang bilang, perkataan seseorang yang setengah sadar selalu yang paling jujur. Begitu pula Koutarou. Keinginan terpendamnya adalah memiliki anak, meski ia tahu Keiji tak akan pernah bisa mengabulkannya.

Entah sejak kapan, semua desahnya berubah menjadi isak tangis.


.


Saat terbangun, Keiji mendapati tangannya digenggam erat. Seluruh badannya terasa nyeri luar biasa, namun sama sekali bersih. Seprai dan bantalnya berbau seperti apel segar, dan ada sedikit wangi tanah yang basah di udara.

Cahaya mentari masuk sekelibat di jendela, sinarnya hangat menyapu muka. Selembar selimut di melintang menutupi tubuhnya yang tidak berbalut apa-apa.

Koutarou tidur sembari duduk di samping kasurnya. Barangkali sebelum tidur, dia membersihkan sisa-sisa kegiatannya semalam dan merawat Keiji yang pasti sudah tak sadarkan diri sebelum mereka selesai.

“Kou-san…” Keiji hendak bersuara, tapi yang ia dengar hanyalah serak menyedihkan di tenggorokannya yang kering kerontang. Badannya terlalu letih untuk digerakkan, sehingga dia mengguncang kecil tangannya yang digamit Koutarou untuk membangunkannya.

Kekasih bermata emasnya terbangun dalam sekali sentak. Awalnya setengah sadar, kemudian mendadak berwajah panik. “Keiji! Keiji! Astaga, apa yang telah kulakukan!”

Mulutnya berucap maaf berulang-ulang kali, tapi Keiji membiarkannya. Koutarou membuat kemajuan dengan melakukan persiapan untuknya terlebih dulu, dan itu progres yang bagus.

Helaian hitam menggeleng lemas, tersenyum seperti apa yang telah dilakukan kekasihnya sangatlah normal dan bukan perkara besar. Dia tak pernah khawatir soal itu, yang selalu ia khawatirkan adalah…

“Kou-san, mau punya anak?”

Wajah di hadapannya begitu sedih dan terluka, namun Keiji yakin bukan itu yang membuatnya berduka.

Kepala Koutarou menggeleng cepat-cepat, sesuatu yang jarang ia lakukan. Dia tak pernah berkata tidak pada Keiji, sejak dulu. Malah, Keiji lah yang lebih banyak mengucap tidak padanya. Kecuali untuk yang ini.

“Tidak mau kalau bukan sama Keiji!”

Keiji terkekeh lemah. Respon yang sangat Koutarou. Dia sudah bisa menebaknya.

“Akan kucarikan omega untukmu kalau Kou-san betul-betul mau punya anak. Kou-san… suka yang seperti apa?”

Tangannya digamit semakin erat, Koutarou menciumi tangan itu seolah itu adalah harapan terakhir hidupnya. “Tidak, Keiji. Maafkan aku. Kumohon jangan pernah lagi bilang begitu. Aku tidak masalah kalau kita tidak bisa punya anak. Jangan tinggalkan aku.”

Koutarou sangat mencintai Keiji. Tapi begitu pula Keiji. Jika keinginan dan kebahagiaan Koutarou bukan ada padanya, ia tak akan segan melepas Koutarou lalu membiarkannya bebas.

Toh, alpha tidak ditakdirkan bersama dengan beta. Tidak ada yang bisa ia lakukan dengan itu.

Suatu saat, Koutarou akan menemukan omeganya sendiri dan meninggalkan Keiji. Itu adalah skenario paling normal dalam kehidupan alpha. Menikahi omega, membina keluarga.

Sejak awal, Keiji sudah mempersiapkan hatinya.

“Aku tidak mau melepasmu…”

Tapi, bolehkah ia berlaku egois sebentar saja?

Setidaknya, hingga sang omega datang, Bokuto Koutarou adalah milik Akaashi Keiji.