Actions

Work Header

mami jackpot

Summary:

Nama: Jeon Wonwoo
Pekerjaan: CEO. Mami kaya.

Notes:

tidak ada beta read, murni aku seonggok alfa dicocok hasrat.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Begitu Wonwoo buka pintu kamar hotelnya, dia langsung diserbu sama Mingyu yang ciumin dia nggak pakai permisi. Wonwoo dipepetin ke pintu, dan Mingyu segera jejak leher sama bawah rahangnya Wonwoo. Wonwoo yang masih ada tenaga, ngedorong Mingyu biar mereka langsung ke deket kasur. Mingyu misahin diri buat duduk di tepian kasur.

 

"Kamu beneran kangen aku?"

 

"Tebak."

 

"Bukan kangen duitku, ya?"

 

"Mami kok, yang aku kangenin banget."

 

Wonwoo cuma senyum.

 

Mingyu itu brondong yang beda 10 tahun sama dia. Mingyu masih 23, sedangkan Wonwoo udah 33. Wonwoo tau kalau dia punya usia yang dipandang mantep buat nikah, apalagi dia udah mapan dan dapat dikatakan punya segalanya. Sayangnya, belum ada yang bisa memenuhi kriteria dia karena yang dia punya belum tentu bisa dipergunakan baik sama orang lain.

 

Segalanya, tidak terkecuali adalah dia punya memek yang tembam dan kenceng. Segalanya, tidak terkecuali juga sifat perek Wonwoo yang cinta sama kontol gemuk buat dia tunggangin. Segalanya, tidak terkecuali pada kesukaan Wonwoo dibikin merasa cantik sama lelaki lain.

 

Kim Mingyu hadir sebagai salah satu jackpot yang dia dapet seumur hidup selain warisan keluarganya. Wajah cakep, badan bagus banget, jago lamot sama genjot. Di luar itu, dia juga temen ngobrol yang baik dan nggak pernah ngelewatin batas. Lengkap sesuai kriteria. Jadi, gimana kalau bukan jackpot?

Apalagi Wonwoo sekarang beruntungnya lagi satu kota. Tiga minggu nggak ketemu bikin ada kebutuhan tersendiri di tengah lagi diusahain mau dipinang sama beberapa kenalan. Wonwoo nggak tertarik ambil sama satu orang pun karena belum ada yang bisa geser brondongnya.

 

“Kamu mau berapa?”

 

“100 juta, mi. Boleh?”

 

Tantangan Mingyu kalo minta sesuatu, dia nggak takut minta angka tinggi. Cuma, Wonwoo ini juga jackpotnya dia. Duit segitu nggak ada apa-apanya buat pemimpin perusahaan gede kayak dia, makanya Mingyu juga nggak takut.

 

“Iya, sayang.”

 

Semudah itu dan Mingyu tetep yang dapet memek yang capitannya nikmat.  Belum lagi Wonwoo itu cantiknya bukan main. Kulitnya putih bersih gampang dicupang, dadanya gede, pinggangnya singset, pinggulnya nggak main-main kalo goyang. Dan, Wonwoo itu orangnya surprisingly gampang buat diajak kerjasama (mengingat posisinya CEO) di banyak hal termasuk curhatan Mingyu. Gimana Mingyu nggak sayang, sih, sama maminya?

 

Mingyu melepas kaos dan sweatpants-nya, terus dia buang asal di ruangan. Dia sekarang tinggal boxeran, terus kakinya ngebuka lebar bikin banyak ruang di tengah. Sambil usep-usep pahanya sendiri, tatapannya ada nantangin Wonwoo buat ngelakuin sesuatu.

 

“Malem ini mau aku gimana, mi?”

 

“Puasin kangenku, pokoknya, Min.” Wonwoo melepas cardigan putih dan menampakkan torsonya masih dibalut tank top garis hitam putih ketat yang bikin bahu sama dada bersihnya keliatan lebar, lalu dikunci pinggang ramping cantik yang selalu nyenengin buat dicengkram. Wonwoo jalan pelan ke arahnya, ngebuang  cardigan ke lantai, hingga kemudian berakhir berdiri di ruang kedua paha Mingyu yang buka lebar. “Mulai jarang ketemu, loh, sayang.”

 

Jemari lentik Wonwoo ngusap dagu Mingyu, dan perlahan turun tengkuk dan menetap di sana, ngusep melingkar sama sesekali mijitin rambut belakang. Katakanlah dia payah dirayu laki-laki dewasa nan seksi, karena kuduk Mingyu meremang bukan main dan ereksinya makin keras gara-gara dipijitin sama disuguhin dada Wonwoo yang wangi bunga nyatu sama wangi alami kulit. Paha mulus Wonwoo yang mampang karena celana biru satin kependekan juga nggak ngebantu. Yang kayak gini harus dimanjain setengah mati dan Mingyu siap melayani sampai akhir.

 

Jemari telaten Mingyu menarik kedua strap tank top maminya ke bawah, membiarkan dada kencangnya menyembul keluar. Mingyu meremas mereka dan bikin kedua tonjolan mungil maminya mulai tegang, desahannya mengundang supaya segera dijamah. Jadi, dicium dan dihisapnya mereka oleh Mingyu dengan senang hati. Wonwoo makin mendesah dan meremat rambut Mingyu ketika putingnya yang nggak disibukkin mulut malah ditekan kuku sampai akhirnya makin memuncung dan merah. Wonwoo menggesek-gesek ujung lututnya kepada gembungan ereksi Mingyu yang membuat si brondong mengerang enak dan memajukan diri. Celana pendek Wonwoo dilepas, menyisakan dirinya dengan celana dalam yang sudah basah.

 

“Lagi sange banget ya, mi.”

 

“Salah kamu, kok…”

 

Walau begitu, Wonwoo makin membusungkan dadanya biar tetep dimanja-manja. Lutut juga masih sibuk gesek kontol Mingyu yang makin tegang bukan main tapi tetep ada ambisi nahan diri buat manjain maminya. Mingyu pun meluk Wonwoo dan langsung banting dia ke kasur nyaman hotel mahal pesenannya.

 

Yang namanya perek, udah tau dikasarin bukannya takut malah makin nagih. Wonwoo memaksa badan buat sedikit duduk, menjulurkan lidahnya buat Mingyu, biar langsung disedot sama dia sambil remesin dada-pinggang si mami. Ciuman mereka berisik kecipak liur, Wonwoo udah nggak tau liur yang nurunin dagunya ini punya siapa. Yang pasti, ketika celana dalemnya makin basah, Wonwoo nggak sabar buat dikobel. Jadi, dia bawa tangan Mingyu ke memeknya, minta digesek, digaruk, atau apapun yang bisa bikin memeknya buat berhenti gatel.

 

Mingyu seneng bukan main begitu jarinya ngerasain basah yang kental. Sambil sibuk ciuman, Mingyu sibuk ngucek dan menekan-nekan lipatan Wonwoo menggunakan jarinya yang tebal dari balik celana. Basah bertemu kering, sebuah sensasi yang melambungkan nafsunya berlipat-lipat. Mata Wonwoo hampir juling waktu telunjuk Mingyu malah  intens menggaruknya sampai celana dalamnya udah kuyup, pekat lendir bening. Wonwoo remat-remat kontol tegang Mingyu yang masih dilapisin boxer. Udah kebayang kepala sama urat kontolnya nyiumin dindingnya seberisik dan sebasah ciuman mereka. Lebih, bahkan.

 

Begitu pagutan mereka lepas dan ketika tangan sama bibir Mingyu merambat ke sekitar leher, Wonwoo baru ingat akan sesuatu.

 

“Min, jangan ke atas banget. Aku besok sore ke luar kota.”

 

Mingyu mengangkat kepala. Satu tangannya masih di leher Wonwoo dan ekspresinya bete.

 

“Ck, gimana sih? Mami kok nggak bilang aku dari awal kita cuma sebentar?”

 

“Lupa. Maaf.”

 

Ada secercah ketidaksukaan di kerut alis Mingyu. Ekspresi menuntut itu tanpa sadar bikin Wonwoo langsung buka kakinya lebih lebar. Badan Wonwoo jadi kayak wahana dia misal lagi berani tamak.

 

“Lupa, apa mulai nggak peduli sama aku?”

 

“Lup—Akh—” Lehernya makin kerasa dicekik, memek Wonwoo kedutan dan telunjuk Mingyu yang masih di sana jadi saksi. “Min, aku udah bilang maaf….”

 

“Terserah. Pokoknya puasin kangen, kan?” Mingyu mencium pipi Wonwoo lembut dan tersenyum manipulatif. Celana dalam Wonwoo ditarik ke atas hingga lipatan memeknya mengapit kain yang merenggang. Wonwoo mendesah oleh sensasi tekanan yang sedikit perih. “Aku kan juga kangen Mami. Mau make mami sepuasnya dulu sebelum pergi lagi. Boleh kan, mi?”

 

Wonwoo mengangguk lemas, mulai tolol. Di otaknya, malam ini dia harus dirojok kontol brondongnya. “Boleh…”

 

Makin konak Mingyu kala dikocok maminya yang mulai teler dibuai sange. Mingyu menyeringai. Apa sih yang Wonwoo nggak mau?

 

“Mami pinternya Mingyu. Suka deh.”

 

Mingyu melepaskan celana dalam Wonwoo dan mulai turun ke bawah, mau ciuman sama bibir Wonwoo yang satunya. Wonwoo nelan ludah sama gigit jari doang gara-gara hidung bangir Mingyu sempet gesek ke kulitnya yang udah sensitif.

 

Memek Wonwoo itu tembem. Merah muda. Rambut di sekitarnya tipis rajin di-trimming . Orang bilang kalau yang bersih licin itu menyenangkan, tapi bagi Mingyu, yang tipenya memang orang yang lebih matang, punya Wonwoo sempurna. Apalagi perkara jepitan di dalemnya. Udah deh, pacar-pacar terdahulunya Mingyu nggak yang bisa nyaingin. Mau sesange dan sebasah apapun, maminya satu ini rapet enak. Kalau ada waktu buat cockwarm, Mingyu bakal pake Wonwoo seharian utuh buat enakin kontolnya doang sampai pagi. Mingyu yakin Wonwoo juga pasti mau-mau aja kalo ada waktu.

 

“Mingyu jangan diliatin doang….”

 

“Sori. Cantik, soalnya.”

 

Mingyu nontonin bibir memek cantik dilebarin sama dua jari Wonwoo sendiri. Ada cairan pekat turun dari lubang, bikin makin pink mengkilap.

 

“Dicium dong, makanya. Katanya mau dipake kamu, sayang?”

 

Wonwoo senyum. Nantang. Lonte.

 

Mingyu, gimanapun juga, masih muda pula kalah jauh sama binal dan pengalamannya Wonwoo. Mingyu ngebuka kedua kaki Wonwoo, lalu nunduk, ngeludah di atas merah yang berkedut mendesak cepetan dimanja.

 

“Mingyu cium ya, mi.” 

 

Desah pecah dari mulut Wonwoo begitu Mingyu ciuman sama bibir bawahnya rakus persis menghisap lidahnya tadi. Tonjolan diemut-emut, kemudian dipijet jari begitu lidahnya dibuat tegang buat rojokin lubang yang udah licin. Wonwoo mendesah dan mendesah, Mingyu makin kepacu buat manjain memek maminya pake mulutnya yang pinter lamot.

 

“Akh—Mingyu, Mingyu—Enak banget—”

 

Suara seruput di bawah bikin Wonwoo makin kerangsang sampai keringetan. Dipilin dan ditariknya sendiri kedua putingnya, sesekali diteken kayak caranya Mingyu, sampai akhirnya mereka ngacung bengkak. Tangan yang satu dipake buat remes dan stimulan tetenya sendiri, sedangkan yang lain turun, jambak-jambakin pelan rambut Mingyu. Pinggulnya nggak berhenti goyang sendiri, makin gesekin memek buat nyumpel mulut Mingyu yang udah cemong liur sama keluarannya. Wonwoo keringet kepanasan sebadan-badan. Mingyu nikmati paha Wonwoo yang jepit kepalanya, sesekali ditancepin kuku dan bikin bekas.

 

“Min ampun.... Aaah... Mmmhm... Kekencengan...." 

 

Selalu penuh kontradiksi, tumit Wonwoo justru ngedorong punggung Mingyu agar ia semakin maju. Paha Wonwoo kemudian dikaitkan sama lengan Mingyu, dikunci, lalu bawa bibirnya biar makin sibuk cipokan sama daging tembam Wonwoo yang udah luber-luber. Wonwoo keliyengan sendiri gara-gara si brondong selain nunjukin kalo dia kuat, kemampuannya jago lamot enggak pernah mengecewakan nafsu Wonwoo, sampai akhirnya dia muncrat orgasme untuk yang pertama kali. 

 

Kakinya langsung gemeteran gara-gara Mingyu tetep ngisep muncratannya dan kobel-kobelin lubangnya. Dia nggak berani nunduk, bales liat Mingyu yang matanya udah gelap sama sange sambil kocokin punyanya sendiri.

 

“Mingyu... Mingyu... Ah... Mami.... Nggak bisa lagi....”

 

Waktu Wonwoo masih terengah-engah, Mingyu melepaskan celananya sendiri, lalu narik Wonwoo duduk dan menepuk-nepuk pipinya, minta buat buka mulut. Memeknya yang udah banjir itu tetep diusep-usep sama jemari Mingyu, biar nggak kaget ditinggal.

 

Dan karena Wonwoo baik hati, dia buka mulutnya selebar-lebarnya. Mingyu ngeludahin mulutnya, terus Wonwoo tetep buka mulut biar Mingyu liat mami jalangnya mangap nampung ludah sama cairannya sendiri. 

 

Begitu Mingyu udah puas, Mingyu bilang. “Telen, mi.”

 

Jadi, ditelanlah mereka sama Wonwoo tanpa protes. Apapun, buat disayang Mingyu malem ini. 

 

Mingyu langsung cium Wonwoo lagi, terus bawa tangannya Wonwoo buat ngocokin kontolnya. Wonwoo yang dasarnya anak pinter, justru kasih pijetan yang enak. Cairan dari memeknya dia ambil dikit, terus kontolnya diurut, uratnya dirasa-rasain. Mingyu mendesah kepalang nggak sabar mentokin. Wonwoo masih deg-degan mampus, karena punya Mingyu bukan main yang paling seratus, belum lagi staminanya nggak masuk akal. Tapi dia pengen. Dia selalu pengen dientot Mingyu sampe bego dan gak bisa jalan.

 

"Mau dikawinin Mingyu," Wonwoo mengaduh lirih di bibir bengkak Mingyu, "mau sekarang...."

 

Mingyu nepuk-nepuk kepala kontolnya di atas gunung tembam Wonwoo, betah godain karena ekspresi maminya udah kosong selain minta cepetan dirojok itu nagih banget.

 

“Kondom?”

 

“Nggak usah. Kan mau dikawinin kamu.”

 

Sebuah kenyataan: Mingyu dari awal nggak ada rencana bawa kondom. Biasanya kalau nggak dibawain si mami, ya emang nggak pake aja karena Wonwoo yang mau. Malem ini, Mingyu saking antusiasnya ketemu maminya lagi sampai nggak ada rencana mentokin dia pakai pengaman—karena Mingyu tau apa yang maminya suka, teler dipejuin sampe netes-netes ke lantai. Dan Wonwoo tuh nggak pernah malu sama apa yang dia suka, bahkan bakal nagih terus-terusan.

 

Mingyu bawa Wonwoo buat nungging, kepala di bawah disangga bantal, pantat diangkat pamer memek. Pantatnya yang mulus diremes-remes Mingyu sama sesekali tampar, lubang pink Wonwoo kedutan, ngegoda Mingyu buat cium, kobel, atau sumpel buru dipuasin. Mingyu yang pusing dibikin tegang, ngambil langkah ngukung badan Wonwoo dari belakang, numpu badannya pake lengan.

 

"Gini kok bisa dipercaya jadi pemimpin perusahaan, sih?” tanya Mingyu yang nada manisnya dibuat-buat, padahal kepala kontolnya udah ketemu sama lipatannya Wonwoo, dan gesek-gesek pelan, diajak cipokan basah, “padahal paling suka dikobelin brondongnya, kan?”

 

Mingyu majuin pinggulnya. Kontolnya udah masuk. Wonwoo ngedesah nganga sama mundurin pinggul sampe ketemu paha Mingyu buat nelen dalem-dalem.

 

“Mmm, Mingyu,…. Ayo, dong,.... Stop godain..."

 

“Tuh, kan, lacur.”

 

Mulai genjot, Mingyu sekarang ngisepin telinganya Wonwoo, salah satu bagian sensitifnya. Wonwoo langsung melek begitu daun telinganya ada basah yang bikin dia merinding, terus rojokan Mingyu mulai makin kenceng dan bikin pinggulnya otomatis goyang biar liangnya makin diaduk.

 

“Ah, rapet banget. Bangsat. Bangsat.”

 

Dada kiri Wonwoo diremes Mingyu dari belakang dan putingnya dicubitin, tangan yang lain ngucek memeknya yang lagi nyapit kontol gemuk Mingyu yang mentokan dia.

 

Wonwoo yang gak kuat nahan beban pun keteken ke kasur. Gaya kawinnya udah mirip binatang. Wonwoo ngiler sama nangis gemeteran. Ini enak banget. Parah. Sinting. 

 

Parahnya lagi, Mingyu sekarang gigitin potongan lehernya. Nyetak cupang, di bagian atas badannya yang sebenernya nggak boleh. Cetak cupang yang nyeri bakal jadi hantu nafsunya besok. Kelak, ketika ia rapat, di hadapan jajaran direktur dan tokoh-tokoh penting yang terhormat, Wonwoo bakalan dibayang Mingyu tamak ngegrepe badannya  demi pelepasan beralasan kangen. Nyeri gesekan kemeja kepada puting yang bengkak bakal ngingetin dia, kalau tempat si mami sepantasnya berada itu di bawah kuasa Mingyu yang konak, nyodokin lubangnya kenceng biar banjir bucatan Mingyu sampai ngeluber.

 

Ketika Mingyu menumbuk titik enak yang spontak memutus imajinasinya, Wonwoo ngetatin lubangnya, dinding makin mencium urat kontol Mingyu yang merojok tanpa ampun. Wonwoo merem melek gigit bibir, diciumin Mingyu dari bawah sama atas.

 

“Ahhh, Mingyu, please enak banget please jangan stop… Oh… Oh… Fuck…”

 

Wonwoo merintih dan menggeliat dibawa nungging lagi. Rona merah semakin padam dari pipi hingga rusuk memadu apik kulit yang rapuh. Kilap peluh kian mempercantik kulitnya seperti pelapis lukisan mahal. Wonwoo udah kayak mahakarya yang Mingyu pengen curi dari pandangan dunia dengan caranya. Mami cantiknya nggak akan bisa nemuin kontol seenak Mingyu yang bikin dia sesenggukan.

 

Seringai Mingyu makin gila. Nafsu dan kemenangan adalah raja segala raja, memang.

 

"Yang lacur itu aku atau kamu, sih? Diludahin mau nelen, dirojok ketagihan. Diapain aja mau. Yang lacur siapa?"

 

"Mami. Mami yang lacur.” 

 

Wonwoo membubuhkan ciuman putus asa di sisi wajah Mingyu. Begitu Mingyu nengok ngamatin wajahnya Wonwoo, dia makin tegang dan gede.

Wonwoo udah bego. Abis. Nggak bibir bawah atau atas sama-sama mangap cengap, merah, bengkak, basah. Yang dia tau cuma mau dirojok sama ngetatin lubang buat meres peju, jadi alat muasin brondong kesukaannya.

 

"That's my girl," Lengan Mingyu melingkari lehernya dari belakang, mencuri kelancaran lajur nafas Wonwoo, "my princess."

 

"Oh," Wonwoo ngedongak juling. Pandangannya memutih waktu kontol gendut Mingyu, makin ga masuk akal gede, neken titik enaknya nggak kenal maaf. Penyatuan mereka lekat basah oleh becek alami Wonwoo, menciptakan benang buih putih setiap Mingyu menarik mundur. "Mingyu, ampun...." Rintihnya disela tangis dan kejangan kecil.

 

"Sinting," desis Mingyu keenakan, sambil ciumin sisi wajah Wonwoo, "kamu cantik banget. Anget, mi. Enak."

 

Wonwoo nangis nunduk, ngebiarin dirinya diancurin nafsu brondong. Erang keenakan Mingyu deket telinganya Wonwoo jadikan pedoman untuk akalnya yang tengah digempur. Kepala Wonwoo tak lebih merupakan ruang kosong hingga ia lupa namanya sendiri. Dia bukan Jeon Wonwoo. Bukan sang CEO atau lulusan berprestasi. Dia lonte cewek punya Mingyu yang bisa dipake buat nampungin luberan peju anget. Cuma itu.

 

"Your girl—", ucap Wonwoo yang berliur tolol, dengan semampunya, " ceweknya Mingyu—"

 

"Mmm. My fucking pretty wife."

 

Wonwoo ngedesah rusak. Punggung Wonwoo melengkung dan matanya nyalang menatap langit-langit ketika tangan bebas Mingyu tiba-tiba melebarkan kakinya biar makin pisah dan buka. Wujud posesif ambisi kawinin Wonwoo punya Mingyu makin dalem, seakan niat beneran mau ngehamilin.

 

"Mingyu, Mingyu, Mingyu, jangan , Mingyu, ohF—uckAh —"

 

"Bisa, cantik. Bisa," ibu jari Mingyu mengusap memeknya terus cairannya disebarin di selangkangan, "Wonwoo mami pinterku, kan?"

 

Kemudian, kontol tebal Mingyu makin enak melesak masuk ke dalam lubang becek acak-acakan Wonwoo. Cairan dan liur mereka muncrat-muncrat ke kasur. Mingyu menggeram rendah di atasnya. Ini nggak cuma ngehentakin redain nafsu tapi juga ngilangin akal sehat.

 

Parau menyedihkan Wonwoo gabungan dari kenikmatan dan sesak yang memutih. Titik-titik kuning dan putih melayang di pandangannya. Jalar sengat tipis berkedut-kedut di kulit. Seluruh tubuhnya merasakan remang ekstasi. Mingyu nyoba ambil jeda buat cek si mami yang lemes banget.

 

"Won? Mi?"

 

"Ah…?" Wonwoo merespon kosong.

 

“Gimana, sayang?” Rambut Wonwoo disisir sama dijambak pelan.

 

Wonwoo cuma bisa ngerengek sama gigitin bibir, gerakin pinggul maju mundur, tapi ditahan sama Mingyu. Murni iseng dan sebenernya udah tau jawabannya.

 

“Jawab, dulu dong. Malah goyang aja. Mulut Mami nggak cuma bawah doang, loh, hmm?”

 

Mingyu mencium pelipis dan memijat pinggul belakangnya. Sebuah ejekan yang tersirat untuk kewarasan dan komprehensinya berpikir. Namun, Wonwoo udah gak peduli. Dia udah berantakan parah, wajahnya basah tangis sama keringet yang ngucur nurunin leher.

 

"Mingyu. Mingyu. Lanjutin mentok—”

 

"My bad, pretty,” leher Wonwoo dijilat Mingyu yang tersenyum memenangkan 100 juta dan memek becek, "fucked you this stupid already,"

 

Mingyu menghentak tajam. Wonwoo lagi-lagi jadi seonggok daging meracau dengan liur menuruni dagu hingga lengan Mingyu yang menguncinya.

 

Mingyu membawa mereka untuk berlutut hingga punggung Wonwoo melekat dengan dada Mingyu. Begitu Wonwoo coba nengok ke bawah, ternyata perutnya nonjol-nonjol. Nonjol gara-gara dindingnya ciuman sama sodokan kepala kontol Mingyu. 

 

Dihamilin sama brondongnya bukan hal yang nggak mungkin. Nafsu udah menyihir otaknya, mengubah rasa malu menjadi senang karena denger Mingyu ngerang 'Mami, mami, sempit, anget—'.

 

"Fuck, fuck, fuck, Mingyu ngentotnya mesti enak banget—Akh—”

 

Mingyu menekan bawah perut Wonwoo. Terstimulasi, Wonwoo memblalak begitu ngerasa akan ada sesuatu yang keluar mengucur menuju puncak.

 

"Mau pipis, mi?"

 

Wonwoo menggeleng hebat, merah oleh malu dan penyangkalan. Yang tau dia dientot sampai kencing nanti nggak cuma Mingyu tapi satu hotel.

 

"Nggak, Mingyu, tolong, aku enggak—"

 

Permohonannya jatuh pada telinga yang menuli. Mingyu makin menekan perut, lalu mengusap lubang kencingnya kencang sambil mencium Wonwoo, yang sebenernya lebih mirip jilat-jilat mulut mangap maminya yang butuh nafas. Tangan Wonwoo menutup mulutnya meredam isakan, tubuhnya menggeliat tak tentu oleh stimulasi yang menggempur tubuhnya mengantar ke pucuk.

 

Lengan kokoh mengikat kedua lengan Wonwoo ke belakang hingga dadanya membusung dengan puting mengacung. "Give me your best, princess,"  Mingyu mencabut kontolnya dari lubang Wonwoo, nampar bokongnya keras terus diremes, “Muncrat yang banjir, mami sayang."

 

Sambil nahan kontolnya biar ga langsung keluar, Mingyu naruh tangannya di bawah memek Wonwoo. Wonwoo kenceng dan gemeteran sama ombak orgasme. Mingyu girang sendiri nonton cairan Wonwoo bening menyemprot ranjang sama tangannya. Wonwoo nangis ngejan, dadanya yang sensitif naik turun, dan mulutnya tetep tolol ngebuka ngeluarin nafas panas. Maminya cantik banget kalo rusak.

 

“Good girl,” Mingyu menepuk-nepuk memeknya yang udah kuyup nggak karu-karuan pakai tangan yang nggak kalah berair, “kamu cantik banget, mi. Banjir. Pinter. Suka.”

 

Mingyu tiba-tiba didorong ke kasur. Wonwoo udah naikin badannya dan pegangan bahu Mingyu. Ekspresinya tetep kosong tapi makin kentel sange.

 

“Mau. Kamu.” Kontol Mingyu udah dicapit lubang Wonwoo lagi, “Dalem. Aku.”

 

"Won... Mami... Ah... Ahhh, sinting..."

 

Rapet, anget, lengket. Kali ini, Mingyu yang sepuasnya ditunggangin Wonwoo yang ngangkang genjotin diri pake kontolnya. Mingyu pegangan sama paha maminya, mengerang, ngedesah gila gara-gara goyangan maminya yang rakus biar dipejuin di dalem sama dia. Kalau Mingyu naik, Wonwoo makin turun, terus muterin pinggulnya nikmat sama ngusap perut si brondong dan manggilin nama dia.

Mingyu yang dasarnya juga udah diujung tanduk, akhirnya bucat, sambil ngeremes dada bengkak Wonwoo yang sekarang udah banyak bekas kuku dan masih merah. 

Mingyu keluar di dalem dan pejunya nggak seutuhnya kena tampung. Ada yang bocor keluar, ngalir nurunin sisa kontol Mingyu yang nggak masuk. Wonwoo tersenyum mabuk dan kosong, ngambil jemari Mingyu buat dibawa ke daerah basah memeknya yang masih nyatu ngejepit kontol. Mingyu dituntun buat ngambil cairannya sedikit. Mingyu mulai pusing nanggung kecanduan ngadepin Wonwoo.

 

“Lagi.”

 

Mingyu nelen ludah, tapi nggak ada niat buat gentar. Masih muda, gengsi buat kalah.

 

“100 juta lagi, berani, mi?" Goda Mingyu. "Kamu bukannya besok ke luar kota?"

 

“Iya, sayang. Terserah.” Wonwoo ngejilat jemari kuyup Mingyu nikmat, seakan itu adalah kontol si brondong. Seringainya lapar. "Lagi."

 

Binal maminya Mingyu emang tiada dua.

 

(Gratis pun, Mingyu sebenarnya akan memanjakan mami cantiknya. Tapi Mingyu itu lebih suka menang. Bayangkan dimanja cowok cantik, dikasih ratusan juta, dan dipijet memek lembut yang rapet. Siapa sih, yang nolak?)





Notes:

ya, begitulah kehidupunk.

Series this work belongs to: