Work Text:
Seperti habit dari karyawan kantoran, Chan yang merupakan karyawan baru, sudah pasti selalu ditugaskan untuk melakukan persiapan untuk memulai kerja, seperti hari ini, ia disibukkan untuk menyiapkan ruangan meeting untuk divisinya melakukan presentasi bulanan. Tidak hanya itu, ia sudah disibukkan dari beberapa hari yang lalu untuk mempersiapkan PPT bagi divisinya. Mungkin karena ia masih karyawan baru, Chan masih semangat dalam mempersiapkan agenda rapat hari ini.
Meeting yang diadakan hari ini adalah meeting perdana bagi Chan, dimana dia akan bertemu dengan para atasan kantor. Chan mengetahui beberapa nama atasan di sana, tetapi ia belum pernah bertemu langsung dengan para atasannya tersebut. Hari masih menunjukkan pukul 8.15, dan meeting baru akan diadakan pada pukul 8.30, Chan masih mempunyai cukup waktu mempersiapkan diri untuk presentasi pertamanya.
Pukul 8.25 karyawan satu persatu mulai memasuki ruangan meeting, hingga pada pukul 8.30 semua karyawan dan atasan sudah berkumpul di sana, kecuali satu orang, yaitu CFO dari perusahaannya. Setelah 5 menit menunggu, pintu ruanganpun kembali terbuka dan menampilkan sosok tak asing bagi Chan. Yaa, dia adalah orang yang beberapa hari ini mengganggu fikiran Chan, orang yang membuat Chan maju mundur untuk mulai menghubungi duluan, dia adalah Seungcheol, pria rupawan dan juga gagah dalam segala hal, yang ia temui di MRT. Melihat kedatangan Seungcheol, Chan sedikit kehilangan fokusnya hingga ia mendapat teguran dari kepala devisinya. "kenapa dia ada disini?" batin Chan mempertanyakan kehadiran Seungcheol di ruang meeting.
"gotcha" ucap Seungcheol yang entah bagaimana bisa didengar Chan.
"Chan.. Lee Chan, ayo mulai presentasinya" kepala devisinya membangunkan Chan dari lamunannya.
"Baik pak, akan saya mulai"
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan saya Lee Chan yang akan melakukan presentasi pada pagi hari ini.."
Presentasi yang dilakukan Chan berjalan lancar, walaupun sedikit terganggu oleh tatapan dan smirk yang dikeluarkan oleh CFO-nya itu, ia tetap berusaha untuk menyelesaikan presentasinya. Beberapa kali Chan bertatapan dengan Seungcheol, dan saat menyadari itu, Chan langsung mengalihkan tatapannya, karena jantungnya tidak kuat untuk menatap Seungcheol lama-lama.
"Sekian presentasi dari divisi kami, atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih" penutup Chan untuk presentasinya.
"Chan kamu ke ruangan saya jam 11" ucap Seungcheol sebelum ia meninggalkan ruangan meeting. Sebagai karyawan biasa tentu saja Chan tidak berani menolak, walaupun keringat dingin membasahi tubuhnya, Chan tetap mengiyakan perkataan Seungcheol. Seperti dugaannya, dia akan menjadi bahan perbincangan bagi karyawan lain, hal itu tidak akan dapat dipungkiri dan Chan memilih untuk bersikap bodoh amat jika dia menjadi bahan gosipan.
Sesuai yang diperintahkan, Chan menuju ruangan Seungcheol dan bertemu sekretarisnya untuk memberi tahu bahwa ia sudah di depan ruangan. sekretaris itu pun mempersilahkan Chan untuk masuk ke ruangan. Baru saja Chan membuka pintu ruangan, Seungcheol dengan segera merengkuh pinggang Chan dan mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Chan. Chan yang secara tiba-tiba mendapatkan ciuman itu, hanya bisa terkejut dan membelalakkan matanya. Seungcheol yang merasa ciumannya tidak mendapat balasan dari Chan, mulai menggigit bibir bawah Chan. Setelah membuka bibirnya, Seungcheol mulai memasukkan lidahnya dan mulai mencari lidah sang empu.
"eungghh.." desahan berhasil lolos dari bibir Chan, ia mengalungkan lengannya ke leher seungcheol dan membuat Seungcheol sedikit tersenyum, karena ia tahu bahwa Chan sudah mulai mengikuti permainannya. Setelah berpagutan beberapa menit, Chan menepuk dada Seungcheol yang menandakan iya sudah kehabisan napas. Mereka pun melepaskan ciuman itu dan Chan mulai meraup oksigen sebanyak-banyaknya, dengan semburat merah yang tercetak dipipinya.
"Imut" bisik Seungcheol tepat di telinga Chan dan sedikit menggigit telinganya. Seakan tidak tahan dengan ekspresi Chan, Seungcheol mulai melepaskan dasi Chan dan membuka kancing baju Chan. Ciumannya mulai turun ke leher Chan dan tulang selangkanya.
"Pak, please jangan tinggalkan bekas disana"
Seungcheol yang memang pada dasarnya tidak menghiraukan perkataan Chan, tetap meninggalkan jejak kemerahan itu di leher Chan.
"Ini hukuman buat kamu karena membuat saya menunggu kabar darimu. Kenapa lama sekali untuk kamu mulai menghubungi saya?"
Chan kaget dengan perkataan Seungcheol, ia tidak menyangka bahwa pria itu akan menunggu telfon dari dirinya. Chan yang tidak tau mau jawab apa, hanya membalas dengan desahan yang ditahannya.
"eunggh.. paakk.. ahh.." desah Chan saat Seungcheol mulai bermain dengan pentilnya.
"Desah yang bear Chan, ruangan ini kedap suara"
"AAHHH... pentiill sayaahh jangann ditariikkhh....."
Larangan adalah perintah bukan? Maka Seungcheol semakin liar menggigit dan menarik pentil Chan.
"aahhh paakk... aahh.. enaakk bangheet.. eungghh.."
"apanya yang enak Chan?"
"ahh paak.. pentilnyaah enakkh digigitinnhhh.."
Tangan Seungcheolpun semakin turun ke celana Chan, dan mulai melucutinya. Dia mulai meraba memek Chan dari luar celana dalam Chan.
"Chan kamu udah sebecek ini, padahal baru saya cium"
"ahh enaakk.. bibir bapak enak bangeett.. bikin memek Chan banjirr.."
"Lonte anjing, baru keluar yaa sifat perek lo"
"iyaah.. Chann lontenya pak Seungchell.. aahh.. memek Chan mau disumpel samahh kontolnyaa bapakkhhh.... aaahhhhh" desah Chan akibat permainan jari seungcheol pada kemaluannya.
"aahhh.. paakkhh.. itill Chan gateell... ahhhnnn.. maau muncraattt..."
"muncrat aja Chan, yang banyaakk" ucap seungcheol sambil kobelin itil Chan dan menepuk memek Chan.
"aahhhhh... maauu ke..luarrnnnn...hhhh" memek Chan keluarin banyak banget cairan dan udah muncrat kemana-mana.
"sekarang giliran lo muasin guee, jongkok lo sekarang"
Chan mengerti maksud Seungcheol dan menuruti perkataannya, ia mulai jongkok dan membuka celana Seungcheol, akhirnya ia melihat kembali kontol gede dan berurat yang udah bikin dia kepikiran beberapa hari ini.
"Jangan diliatin aja lonte, pake mulut lo"
Seakan sudah ditunggu-tunggu, Chan mulai memasukkan kontol gede itu ke dalam mulutnya, ia mulai memaju mundurkan kepalanya. Mulutnya tidak muat untuk menelan semua kontol itu, jadi ia menggunakan tangannya untuk memijat dua gundukan bola itu. Seperti menjilat permen lolipop, Chan mulai menjilat kontol Seungcheol dari pangkal sampai ujungnya, Chan dengan nakal menatap mata Seungcheol dengan tatapan binalnya dan ia merasa puas akan reaksi Seungcheol.
"eungghhh.. fuckk.. fuckk.. enak banget mulut loo.."
Seungcheol sudah hampir tiba di pelepasannya, dia mulai memasukkan kontolnya ke dalam mulut Chan dan mulai memaju mundurkan kepala Chan dengan hentakan yang cepat. Kontolnya menyentuh tenggorokan Chan dan membuat Chan sedikit tersedak. Tidak butuh waktu lama, Seungcheol pun mengeluarkan pejunya dalam mulut Chan.
"Fuuckk ngghhhh... gue keluarrr..."
Chan menelan peju yang ada dalam mulutnya, dan menjilat peju yang berceceran di sekitar kontol Seungcheol.
Seakan belum puas dengan permainan mereka, Seungcheol membawa Chan ke atas sofa dan mulai menunggingkan pantat Chan. Tanpa aba-aba, Seungcheol langsung memasukkan kontolnya ke dalam memek Chan.
"aahhh.. paakkh.. memekk chaan penuuhh..."
"dasarr lontee, keenakan lo yaa"
"iyaa..nhh.. enaakk.. kontoll bapak enakkhh bangg..geett..hh.. ahh.. ahh.. mentok..hinn pakkhh... aahhh.."
Seungcheol yang mendapati reaksi seperti itu, semakin menghentakkan kontolnya dengan cepat dan kasar. Tangannya tidak tinggal diam, dia mulai mengkucek itil Chan yang membuat sang empu makin mendesah lebih keras.
"aahhh.. paakk.. enakk.. aahh itiill Chaann gateellhh.."
"lontee, memek lo sempit bangeett.. kontol guee dijepit kenceenghh..."
Chan yang mendapat overstimulation, sudah hampir mencapai puncaknya untuk ke dua kali.
"paakkhh.. Chaann mauu kelua...rrrnnhhh....."
Cairan Chan yang keluar muncrat kemana-mana karena Seungcheol masih menggenjot memek Chan dengan brutal. Chan yang sudah lemas didudukkan oleh Seungcheol, sehingga posisi mereka sekarang chan berada di pangkuannya, dengan punggung yang disandarkan pada dada bidang Seungcheol, dan tubuhnya ditahan oleh tangan agar Chan tidak jatuh dari pengkuannya.
"ahh.. pakhh.. saya masiih sensi..tiff.."
Seakah tidak dihiraukan, Seungcheol tetap menggenjot Chan dengan tempo semakin cepat, hingga ia pun mencapai klimaksnya.
"pakkk.. chan mau keluarr..."
"Barengg sama guee Chaann... hhnnggghhh... aahhhh"
Mereka pun mencapai puncaknya bersamaan, dan keduanya terkulai lemas setelah pertempuran yang mereka lakukan.
"Makasih buat hari ini, kedepannya lo bakal pulang bareng gue, dan gue gk menerima penolakan." ucap Seungcheol sambil mengecup bibir dan melumatnya sedikit. Chan hanya bisa mengangguk karena ia sudah terlalu lelah untuk menjawab.
