Work Text:
Basque di hari jumat malam itu sesungguhnya hal yang sangat Jeonghan hindari. Cuma karena for the sake of Jeonghan malas menembus macetnya Jalan. Satrio di hari Jumat, akhirnya Jeonghan dan teman-temannya memutuskan untuk TGIF di Basque yang terletak di lantai 8 di gedung kantor mereka. Jeonghan menghela nafas sambil menatap handphonenya. Pikirannya tertuju pada pesan singkat dari Seungcheol yang mengajaknya dan kawan-kawannya bertemu di Basque.
Deep down Jeonghan knows that perhaps this meeting is not gonna be a simple meeting. Especially setelah pertemuannya tanpa sengaja dengan Seungcheol di SoHo seminggu yang lalu hingga saat ini terkadang masih membuat Jeonghan merinding ketika ingat. Jujur ini adalah pertama kalinya bagi Jeonghan ditaksir seseorang dengan intensitas yang sangat tinggi. Jeonghan yang hanya terbiasa dengan casual relationship sungguh kaget dengan bagaimana cara Seungcheol mendekatinya.
Bisa dibilang Jeonghan juga bukan seseorang yang minim pengalaman, malah dia lumayan banyak pengalamannya dalam berpacaran hingga akhirnya menyebabkan dia merasa jenuh dan memilih jalur friend with benefits bersama Mingyu yang juga berpemikiran serupa.
Daripada jajan sembarangan much better to do this with someone we’re close right?
Begitu yang dipikirkan oleh Jeonghan. Kehadiran Seungcheol selama kurang lebih sebulan terakhir ini jujur cukup membawa huru hara baru dalam kehidupan Jeonghan. Semua rutinitas Jeonghan berubah total sejak kehadiran Seungcheol. Dari pesan singkat di pagi hari menanyakan kabar, kiriman-kiriman goput saat makan siang dan juga snack di jam-jam nanggung, dan bahkan tiba-tiba ada buket bunga atau entah pernak pernik apa dititipkan ke resepsionis apartemennya.
Hari-hari Jeonghan yang biasanya hanya berputar di sekitar geng 40% dan juga pekerjaan kini mulai berubah dengan tambahan kehadiran seorang Seungcheol. Di satu sisi, Jeonghan merasa tidak nyaman saat semua rutinitas yang sudah dijalani selama bertahun-tahun ini menjadi berubah; tapi di satu sisi lain dia mulai merasakan rasa nyaman akan kehadiran Seungcheol yang mewarnai hari-harinya, dan jujur dia merasa takut apabila terbuai dengan kenyamanan yang diberikan oleh pria yang lebih tua itu dan worst case scenario setelah dia nyaman, tiba-tiba dia ditinggalkan.
Jeonghan’s penchant for anticipating the worst-case scenario has proven to be a double-edged sword for him.
Kadang itu menjadi kekuatan Jeonghan, dan kadang juga menjadi kelemahannya. Dan kali ini sudah jelas bahwa ini menjadi kelemahannya terutama dalam hal hubungan romantis. Semua pelarian dan denial yang dilakukan Jeonghan tidak lain salah satunya dikarenakan oleh kondisi keluarganya yang sempat kacau dikarenakan perceraian kedua orang tua Jeonghan, yang sampai saat ini masih menyisakan luka batin yang cukup dalam bagi Jeonghan. Kelima sahabatnya yang sangat mengerti keadaan Jeonghan selalu memberikan dukungan kepada pria manis itu hingga Jeonghan akhirnya mampu berdiri sendiri dan perlahan sembuh dari traumanya saat itu. Namun satu hal yang mereka juga tahu pasti, Jeonghan masih butuh waktu untuk dapat membuka hatinya dalam memulai sebuah hubungan yang serius dikarenakan ia tidak ingin mengulang kejadian serupa dalam hidupnya, cukup orang tuanya saja yang berpisah, Jeonghan will make sure that this will never happen to him.
Menghela nafas, Jeonghan kemudian menghampiri Joshua, Seokmin dan Mingyu yang sudah berada di ground floor berbarengan dengan Jun dan Minghao juga. Sesampainya mereka di lobby, Joshua bersiul melihat penampilan sahabatnya itu dan mencubit pipi Jeonghan gemas.
“Ihhh Hani cakep amatttt, games deh.” kata Joshua.
“Gilee, totalitas lu kak. Mau banget dibungkus sama mas welldone?” sebuah pertanyaan dari Mingyu yang berbonus injakan di kakinya, tentu saja injakannya dari Jeonghan.
“Igu kalo bawel gua jitak ya abis ini.” senyum Jeonghan sambil kembali menginjak kaki Mingyu dan dibalas dengan rengutan dari yang lebih muda seperti biasa.
Mereka pun tertawa lalu berjalan menuju lift menuju lantai 8, tempat di mana Basque berada. Suasana malam itu belum terlalu ramai karena kebetulan masih jam 8 malam, masih banyak orang-orang yang makan malam daripada mulai party. Mereka pun berjalan menuju meja yang telah dibooking oleh Seungcheol yang terletak cukup strategis, dekat dengan dance floor dan juga bar.
Saat Jeonghan dan geng 40%-nya sampai, kebetulan belum nampak tuh wujud Seungcheol di Basque. Si manis itu langsung melambaikan tangan ke salah satu waiter yang mereka cukup kenal, meminta diambilkan buku menu dan memesan makan malam sekaligus aperitif sebelum waktu berpesta tiba.
“Beb, mau croquetas yang Jamón Ibérico 1, Nachos Guacamole 1, gua makannya Pan Seared Salmon with Cream Sauce, yang laen gimana?” tanya Jeonghan.
“Gua kayak biasa ajalah kak, Striploin Steak ya.” tambah Mingyu.
“Gue sama Hao mau Pork Chop ala Brasa ya, dua.” Jun menimpali juga.
“Kak Joshy sama gue mau Pollo ala Crema sama Braised Beef Cheeks ya kak.” kini Seokmin menambahkan juga.
Jeonghan mengangguk, menyelesaikan pesanan mereka dengan memesan air mineral dan sebotol Bodegas Castano untuk menyempurnakan hidangan mereka. “Wine after meat is always a wise choice,” gumamnya. Saat dia selesai memesan, pandangannya terarah menuju pintu masuk. Dua pria berjalan mendekati meja mereka, dan Jeonghan dengan cepat mengenali salah satunya sebagai Seungcheol. Yang lainnya, seorang pria muda dengan penampilan yang agak asing baginya.
Tanpa disadarinya, bibirnya melengkung dalam senyuman kecil yang tidak luput dari perhatian Jun, yang kemudian mengangguk perlahan. Sepertinya hanya tinggal menunggu waktu sampai Jeonghan mau mengakui perasaannya. Jun dengan ramah melambaikan tangan ke arah Seungcheol, mempersilakan dia duduk di sebelah Jeonghan, sementara temannya duduk di seberang Seungcheol, kemudian mereka menyapa kedua pria itu dengan hangat.
“Pakabar mas? Oiya ini sama siapa nih mas?” tanya Jun dan dibalas dengan kekehan Seungcheol.
“Baik Jun, udah seminggu juga ya gak ketemu, sorry kemaren gue lagi ada meeting di luar kota jadinya pas WIP ga bisa bareng kalian. Oiya sekalian kenalin nih, adek sepupu gue, Vernon. Dia baru join full time di Choi Tech sebagai UI/UX Designer. Ntar kalian bakalan ada tektokan sama dia kalo mau beta testing app minggu depan. Ver, kenalan gih sama temen-temennya Hani.” kata Seungcheol sambil tersenyum ke arah sepupunya itu.
“Halo kak, my name is Vernon Chwe, sepupunya mas Seungcheol, maaf ya tiba-tiba ngintil mas Seungcheol ya hehe.” senyum Vernon dan refleks membuat mereka semua tertawa gemas.
Anak fresh graduate memang selalu menggemaskan, batin bocah-bocah 40% itu.
“Santai aja Ver, kita semua gak gigit kok, paling Hani aja tuh yang gigit.” kekeh Jun.
“Dih, gua diem??” cibir Jeonghan dan refleks membuat Seungcheol tertawa.
“Kak Hani is the one that you’re trying to date rite mas?” tanya Vernon dengan santai dan refleks membuat Jeonghan tersedak wine yang sedang diminumnya.
‘Anjir mulutnyaaaaaaa… bule mulutnya ceplas ceplos apa gimana dah anjirrrr…’ batin Jeonghan.
Seungcheol refleks tertawa dan menepuk pelan punggung Jeonghan yang masih terbatuk, dengan santai pria itu menjawab pertanyaan sepupunya seolah tanpa dosa, “Yeah, he is the one i’m trying to date. Doain gue cepet diterima ya Ver.”
“You should just date mas Cheol already deh Kak,” goda Vernon sambil tertawa. “Karyawan kantor banyak tuh yang ngefans sama mas Cheol. Even they made me an errand boy buat nitip kado buat mas Cheol di kantor.” tambah Vernon yang tertawa geli melihat Jeonghan yang kembali tersedak.
Jeonghan merasa wajahnya memanas saat mendengar kata-kata Seungcheol. Ia melirik ke arah Seungcheol yang masih tersenyum dan menepuk punggungnya dengan lembut.
“Tenang aja Han,” ujar Seungcheol dengan lembut. “Biarpun kata Vernon aku banyak yang naksir, tapi aku maunya sama kamu aja kok.”
Kata-kata itu membuat Jeonghan semakin terkejut, sehingga ia tersedak lagi. Sementara itu, Seungcheol memandangnya dengan senyum hangat. Malu, Jeonghan perlahan beringsut bergerak ke arah Mingyu yang tengah sibuk dengan steaknya. Namun, sebelum ia bisa mendekati Mingyu, tiba-tiba Jeonghan merasa sebuah rengkuhan di pinggangnya, membuatnya refleks menoleh ke arah Seungcheol, pelaku dari rengkuhan tersebut.
“Udah stay aja, udah gak digodain kok Han.” ucap Seungcheol sambil tersenyum dan diiringi kekehan dari yang lain.
Waktu tak berasa kini menunjukkan pukul 11 malam. Para penikmat dunia malam sudah mulai berdatangan, dan Jeonghan sudah melihat Seokmin dan Joshua tengah asyik berdansa berdua di dekat meja bar, Jeonghan dan Minghao tampak berbincang dengan bartender kenalan mereka. Sementara Seungcheol dan Vernon?
Well, not so good on their side.
Vernon tampak terlihat jengah dengan kerumunan wanita-wanita ajaib yang sering disebut sebagai bule hunter. Perawakan Vernon yang terlihat lebih ke bule otomatis menarik perhatian para hunter tersebut. Vernon menatap sepupunya yang juga tak kalah ribet dikarenakan diajak berkenalan dengan another kind of magical creature of the night alias ani-ani para pencari gadun. Penampilan Seungcheol yang sungguh menggiurkan, casual but screamed thick as fuck wallet from him, otomatis membuat para ani-ani langsung lapar.
Seungcheol being his gentleman self tentu saja tidak serta merta mengusir para wanita tersebut, berusaha meminimalisir interaksi walaupun para wanita itu tampak tidak peduli dengan ketidaknyamanan Seungcheol. Jeonghan yang melihat hal itu dari arah meja bar, mencibir dan meneguk lagi gin & tonic nya, dan langsung meminta bartender untuk membuatkan segelas cocktail lagi untuknya.
“Dave, mau gin & tonic lagi dong, yang strong ya!” kata Jeonghan kepada bartender langganan mereka itu.
Jun yang melihat Jeonghan memesan cocktail lagi, kemudian mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dengan yang dilihat Jeonghan, lalu mengangguk paham kenapa sahabatnya itu mendadak bad mood. Seungcheol yang sedang dikerumuni oleh ani-ani rupanya cukup membuat Jeonghan mendadak bad mood dan langsung menambah asupan alkoholnya lagi. Baru saja Jun mau ngajakin Jeonghan ngobrol, tiba-tiba muncul seorang pria yang mendekati Jeonghan dan mengajak sahabatnya itu untuk ngobrol.
“Hi there! Are you currently alone? Would you mind some company?” tanya pria berperawakan asing tersebut yang kini tersenyum sambil menyodorkan sebotol beer kepada Jeonghan.
Jeonghan melirik dengan ekor matanya ke arah Seungcheol yang masih dikerubuti oleh para penggemar, lalu tersenyum ke arah pria asing di hadapannya. Ia menerima sebotol Corona lengkap dengan irisan lime, sesuai dengan selera pribadinya. Tersenyum, Jeonghan pun mengambil botol tersebut dan berkata, “Sure thing, Tiger. Thanks for the treat.”
Si manis itu melihat ekspresi Jun yang memutar bola matanya lelah melihat tingkah lakunya seperti biasa, namun Jeonghan hanya tersenyum lebar, menikmati momen santai di tengah keramaian tersebut. Jeonghan kini asik mengobrol dengan pria asing tadi, sambil sesekali mencuri lirik ke arah Seungcheol yang sudah lumayan terbebas dari gerombolan para ani-ani, dan kini menatap Jeonghan dengan intens. Jeonghan yang merasakan tatapan Seungcheol tanpa sadar menjilat pelan bibirnya.
He damn well knows Seungcheol wants him right now, but lord help us.
Jeonghan tersenyum sambil menikmati botol Corona yang baru saja diterimanya. Jeonghan menatap Seungcheol dengan senyum nakal, menikmati kesenangan kecil dari mengetahui bahwa dia memikat perhatian pria itu. Meskipun dia sadar akan perasaan Seungcheol, Jeonghan merasa senang dengan permainan godaan yang dia mainkan. Baginya, itu adalah cara yang sempurna to spice up whatever play he’s playing with Seungcheol right now.
Jeonghan masih menatap Seungcheol dengan senyum khasnya yang penuh dengan keusilannya. Dengan mata yang penuh dengan kilatan nakal, ia menikmati momen ketika Seungcheol memperhatikan bagaimana ia menjulurkan lidahnya ke bibir botol birnya, mencicipi sensasi lemon yang terpadu dengan cairan berkarbonasi, lalu meneguknya perlahan.
Tatapan menggoda Jeonghan semakin intens saat ia tahu bahwa diam-diam Seungcheol juga menikmati pertunjukan tersebut. Ia senang menyulut perasaan Seungcheol, menikmati setiap momen jelas-jelas menunjukkan adanya unresolved sexual tension between them. Di balik senyumnya, Jeonghan merasakan kegembiraan atas permainannya dan menikmati sensasi dari permainan godaan yang kini sedang ia mainkan.
Seungcheol merasa rahangnya semakin mengeras saat ia menyaksikan pria asing di depannya menyentuh pinggang Jeonghan. Tanpa ragu, ia melangkah cepat menuju Jeonghan dan dengan tegas menarik pinggang si manis ke dalam pelukannya.
“Sorry, i was a bit occupied over there, Honey,” ucap Seungcheol sambil merengkuh erat pinggang Jeonghan. Ia menatap pria asing di hadapan mereka dengan pandangan tajam, yang sekarang terlihat kaget dengan kehadiran tiba-tiba Seungcheol.
“Kamu nggak mau ngenalin.. Who is this guy?” tanya Seungcheol dengan suara yang sedikit lebih tegas, menunjukkan ketidaksenangannya.
Jeonghan melirik ke arah Jun dan Minghao yang memberikan tanda silang dengan tangan mereka, tanda tidak ingin ikut campur lebih lanjut dengan urusan Jeonghan yang jelas-jelas diakibatkan karena keisengan teman mereka itu dan dibalas dengan rengutan Jeonghan. Seungcheol yang melihat Jeonghan kini tengah cemberut, tersenyum dan semakin merengkuh si manis itu, hingga Jeonghan seolah-olah tenggelam dalam pelukan Seungcheol.
Seungcheol, yang masih memeluk Jeonghan dengan erat, akhirnya menatap pria asing di hadapan mereka. Dengan nada yang tenang namun tegas, ia menyampaikan, “Sorry, but it seems like you’ve got the wrong target. Jeonghan already has a boyfriend.”
Pria asing itu terlihat sedikit terkejut mendengar pernyataan Seungcheol, namun kemudian ia tersenyum sopan. “Oh, I’m sorry, I didn’t know. Thank you for letting me know,” ucapnya sambil mengangguk.
Seungcheol kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke Jeonghan, memberikan senyuman lembut kepada Jeonghan. Pria itu kemudian menekan tubuh Jeonghan hingga sepenuhnya berada di pelukannya, dan Seungcheol pun mengarahkan bibirnya mendekat ke telinga Jeonghan lalu berbisik,
“Someone is really naughty tonight, and naughty boy shall be punished.” bisik Seungcheol, suaranya lembut namun penuh dengan otoritas, yang langsung membuat Jeonghan merinding.
Jeonghan merasakan detakan jantungnya berdegup lebih cepat saat mendengar kata-kata Seungcheol yang menggoda itu. Matanya berkilat pelan saat ia merasakan sensasi geli dan nikmat dari bisikan Seungcheol di telinganya. Meskipun terkejut, Jeonghan tidak bisa menahan senyum nakal yang terbentuk di bibirnya, tanda bahwa ia menikmati permainan ini. Ia menarik napas dalam-dalam, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya setelah ini.
Jeonghan menangkap tatapan Seungcheol dengan mata yang penuh dengan keinginan. “Oh, you think you can handle a naughty boy like me?” ucapnya dengan nada menggoda, senyum nakal terukir di bibirnya.
Seungcheol mengangkat alisnya dengan penuh tantangan. “Oh, I can handle more than just that, Honey,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan kepercayaan diri.
Jeonghan membalas dengan senyum yang menggoda. “Well, show me then,” ujarnya sambil tersenyum, menunggu dengan antusias apa yang akan terjadi selanjutnya dalam permainan godaan mereka.
Seungcheol merasakan getaran gairah yang semakin membara di antara mereka. Dengan senyum yang penuh arti, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Jeonghan sekali lagi.
“Consider it a promise,” bisiknya dengan nada rendah, membiarkan kata-katanya menggantung di udara, menciptakan ketegangan erotis yang mengalir di antara mereka.
Jeonghan merasakan detakan jantungnya semakin cepat, mengantisipasi apa yang akan terjadi selanjutnya dalam petualangan malam mereka yang penuh dengan keintiman dan hasrat. Sebelum keduanya pergi, Seungcheol menghampiri Jun dan Vernon yang saat itu sedang berbincang sambil menenggak cocktail mereka.
“Guys, sorry gue musti balik duluan. Ada bocah tengil minta dijewer soalnya yang musti gue urus nih.” kekeh Seungcheol.
“Hahaha i knew it! Udah bawa pulang aja mas itu si bokem, ntar Vernon biar gue ama Hao aja yang anterin balik, gapapa kan Ver?” tanya Jun kepada Vernon.
“Well, to be honest, udah nebak ujung-ujungnya bakalan balik sendiri sih,” jawab Vernon sambil tertawa.
Seungcheol mengangguk sambil tersenyum. “Thanks ya, Jun. Ver nggak usah minta aneh-aneh ntar pas dianter Jun ya,” pesan Seungcheol sambil melirik Vernon dengan penuh arti.
Vernon mengangguk mantap. “Oh c’mon bro! I’m not fucking five years old, santai ajalahhh, aman ntar pasti sampe rumah kok,” ucapnya penuh keyakinan dan dibalas Seungcheol dengan lambaian tangan.
Setelah memberi selamat tinggal kepada teman-temannya, Seungcheol dan Jeonghan pun berjalan meninggalkan tempat tersebut, menuju apartemen Seungcheol and we knows what will happen next right? ;-)
—
Jeonghan terbagun pagi itu dengan kondisi bengong. Otaknya seolah berfungsi lebih lambat dari biasanya. Ketika ia berusaha mengingat kejadian semalam, tiba-tiba rasa hangat memenuhi pipinya.
‘Anjir gua ngapain semaleeemmmmm astagaaa Jeonghaan!!!’ batin Jeonghan sambil menggigit selimutnya.
Dia teringat semua yang terjadi semalam. Dari Seungcheol yang digoda oleh ani-ani, disusul Jeonghan yang memanas-manasi Seungcheol dengan menanggapi flirting-an orang asing, dan mereka yang berakhir di ranjang. That tied hand, cock ring, and Seungcheol’s bloody Prince Albert piercing. Jeonghan kembali mengerang ketika teringat semuanya. Pria manis itu kemudian membalikkan badan, dan memukul2 bantal dikarenakan rasa malu yang terlambat datang itu. Dibekapnya wajahnya di bantal dan Jeonghan pun berteriak frustasi.
“Aghh!! Jeonghan dodooollllll!!! Huhuhu aduhhhh malu banget huweeeeeee mami anak mami malu-maluin banget miiii huhuhuhuuu!!!”
Tanpa Jeonghan sadari, Seungcheol yang sedaritadi memperhatikannya dari pintu kini terkekeh. Refleks Jeonghan langsung berbalik dan melihat Seungcheol yang tertawa langsung menarik selimut untuk bersembunyi dari pria berlesung pipi di hadapannya itu. Seungcheol yang masih terkekeh kini berjalan sambil membawa nampan berisikan toast, scramble egg, bacon dan segelas orange juice. Pria itu kemudian meletakkan nampannya di ranjang, dan membuka selimut Jeonghan yang langsung disambut dengan rengutan dari si manis.
“Udah, malu sama cemberutnya nanti aja. Makan dulu yuk, biar ada tenaga.” ucap Seungcheol sambil mengambil meja lipat dan menyajikan sarapan untuk Jeonghan.
Jeonghan menatap Seungcheol dan pria manis itu menggigit bibirnya perlahan. Rasanya seperti tiba-tiba perutnya diserang segerombolan kupu-kupu ketika melihat perlakuan Seungcheol terhadapnya. Menghela nafas, Jeonghan kemudian memutuskan untuk mengeluarkan hal yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya itu.
“Mas, kenapa kamu baik banget sih sama aku?” tanya Jeonghan.
“Loh, manggilnya balik mas lagi? Nggak manggil nama nih sekarang?”
“Ishh! Jangan ngalihin topik ihh, aku serius nanya mas Seungcheooolll!” Jeonghan merengutkan bibirnya dan dibalas dengan kekehan oleh Seungcheol.
“I told you already kan. I really like you, as in like ‘like’ ya, bukan sekedar like to fuck with you.” balas Seungcheol.
“Why though? Kita ketemu juga baru aja banget, selain urusan kantor, ya kita cuma pernah seks dua kali, kenapa mas Seungcheol sampai yakin kalau mas Seungcheol suka ama aku?” tanya Jeonghan heran.
Tersenyum, Seungcheol pun mengacak pelan rambut Jeonghan lalu berkata, “Kadang yang namanya rasa suka itu bisa datang tanpa direncanain. Oke memang starting poin kita agak jelek nih, kita tidur bareng dulu baru kenal setelahnya. Cuma dari beberapa bulan aku kenal kamu, i saw Jeonghan who’s always working hard from my point of view sebagai client kamu,” Seungcheol berkata sambil mengelus pelan rambut Jeonghan,
“Sebelum kamu protes kalo kamu cuma mau professional, put that aside. I saw the performance report sejak kantor kamu handle Choi Tech. Improvement selalu kelihatan dan your team sama my team juga never say bad thing tentang kamu. Mereka bahkan bilang sejak account nya kamu yang handle, mereka jadi lebih seneng karena kamu selalu clear dan ensure semua hal itu sesuai dengan brief. Semisal kamu ada yang nggak ngerti, kamu pun nggak sungkan untuk nanya. That thing alone, udah bikin aku impressed sama kamu.”
Jeonghan refleks menundukkan wajahnya. Ia merasa sangat malu dan tidak menyangka bahwa Seungcheol sampai segitunya saat mengecek tentang dirinya. Diletakkannya garpu dan pisau di atas piring, dan ditatapnya Seungcheol.
“Mas, jujur aku sebenernya juga apa ya… i don’t know.. Maybe i like you too? Cuma aku belum siap mas… it feels weird to be liked and desired at the same time.” bisik Jeonghan.
Seungcheol pun menyingkirkan meja lipat di pangkuan Jeonghan ke lantai. Pria itu kemudian memangku Jeonghan, dan memeluk tubuh si manis itu dengan erat sambil sesekali mengelus punggungnya.
“It’s okay Han. I can wait. Atau mungkin kalau kamu mau trial period dulu sama aku, that would be okay too. I will show you that i’m so fucking serious with you, dan aku nggak cuma main-main sekedar cuma mau badan kamu. Yes, i do like to have sex with you but put that aside. Perasaanku nggak sekedar cuma hubungan badan and during this period, aku bakalan kasih lihat ke kamu seberapa serius aku sama kamu. Aku nggak tahu kamu kenapa sampai sedemikian rupanya sulit buat nerima perasaanku, but i’ll give you however long the time sampai kamu nyaman untuk ceritain semuanya ke aku, okay?”
Jeonghan tiba-tiba merasakan pelupuk matanya memanas. Pria manis itu kemudian mendusal ke dada Seungcheol dan memeluk erat pria yang lebih tua itu. Seungcheol tersenyum, dan memeluk erat si manis di pangkuannya itu. Dielusnya punggung Jeonghan sambil sesekali pria itu mencium rambut Jeonghan. Setelah beberapa saat saling berpelukan, Jeonghan perlahan bangun dan menatap Seungcheol.
“Jadi, sekarang kita probation dulu gitu ya mas?” tanya Jeonghan.
Tersenyum, Seungcheol pun mengecup lembut bibir si manis di hadapannya itu lalu berkata, “Yes. Kita masa probation. Cuma kalau aku ngasih syarat juga ngga apa-apa kah?” tanya Seungcheol.
“Syarat apa mas?”
“Aku mau kita jadi exclusive partner in bed. Means kamu cuma boleh have sex sama aku aja, nggak boleh sama cowok lain.”
“Sounds fair sih mas…”
“Berarti no more sex with Mingyu lho.”
“Hmm…… berarti aku musti mecat Igu dari jabatan temen bobo dong. Mas Cheol, eh gapapa kan aku manggil gitu?” tanya Jeonghan yang dibalas dengan anggukan Seungcheol, “Mas Cheol punya sticky note sama pulpen nggak? Boleh minta kah?”
“Ada sih, emang mau kamu pake buat apa?”
“Mau bikin termination letter buat Igu hehehehe…”
Seungcheol refleks tertawa begitu mendengar jawaban Jeonghan. Pria itu kemudian menurunkan Jeonghan dari pangkuannya, dan kembali menaruh meja lipat beserta sarapan Jeonghan lalu berjalan menuju ruang kerjanya untuk mengambil barang yang diminta oleh his soon to be little devil. Disodorkannya sticky note dan juga pulpen kepada Jeonghan, dan dia pun membiarkan Jeonghan menuliskan apapun yang ingin ditulisnya di sticky note itu.
Setelah selesai, Jeonghan menunjukkan hasil karyanya kepada Seungcheol dan langsung saja membuat Seungcheol terbahak-bahak. Dipeluknya erat tubuh yang lebih kecil itu sambil dihujaninya wajah si manis itu dengan kecupan hingga membuat Jeonghan terkekeh lucu.
“Dasar kamu ya, iseng banget sih sama Mingyu.” kekeh Seungcheol.
“Biarin aja, dia juga sering iseng soalnya. Mas siap-siap aja ya nanti, Igu bakalan neror kita most of the time karena emang dia passionnya kayaknya gangguin aku ama anak-anak yang lain. Yang pasti mas nggak boleh cemburu ama Igu soalnya ya itu si Igu, dia ke semua orang bakalan kayak gitu.”
“Iya-iya, mas usahain nggak jealous sama Igu hahahaha, haduh haduhh dasar kamu ni, bener-bener little devil.”
“Little devil gini tapi kamunya aja suka weee!” balas Jeonghan sambil bermain-main dengan pulpen di tangannya.
Keduanya saling bertatapan dan kemudian tertawa terbahak-bahak bersama. Seungcheol yang senang bahwa setidaknya Jeonghan mau untuk mencoba serius dengannya, dan Jeonghan yang senang bahwa Seungcheol tidak keberatan dengan kekurangannya itu. Setidaknya mereka sudah mendapatkan a very nice win-win solution bukan?
