Work Text:
Kali ini grup anak baik-baik lagi pengen short trip ke villanya Kala di puncak. Karena cuma bertujuh, mobil yang dibawa cuma dua, mobilnya Jingga sama Naren. Namun sialnya Jingga, ia harus semobil bareng pasangan paling sangean di dunia.
“Ka, gue sama Rendi beli makan dulu. Lo mau nitip?” tanya Jingga sesaat mereka sampai di rest area. Marka melepas earphonenya lalu melihat ke sebelahnya, Ailo masih tidur ternyata. Ia menitip sebungkus rokok dan onigiri untuk Ailo. Tak lama kemudian, Jingga dan Rendi meninggalkan mereka berduaan di mobil.
Angin malam berhembus membuat Jingga kedinginan. Buru buru ia menempelkan tubuhnya ke tubuh mungil Rendi. “Gue tabok ya. Minggir gak lu bongsor” marahnya.
Jingga memanyunkan bibirnya. Masalahnya ia lupa bawa jaket, dan kausnya setipis kesabaran Rendi. “Dingin banget anjir. Lo kok kuat sih?” tanya Jingga. Rendi menatap sinis Jingga, Pikir aja bagaimana bisa kuat? udah jelas jelas Rendi pakai sweater. “Nempel dulu please” ucap Jingga.
--------
Di sisi lain mobil Naren baru saja sampai di rest area. Ia langsung memarkirkannya di samping mobil Jingga,. Dilihatnya Marka yang tertidur berdampingan dengan Ailo yang sama tertidur. Saat ini hanya Kala dan dirinya yang terbangun. Dari awal Naren sudah wanti-wanti agar Kala mau menemaninya menyetir. Kalau Jidan? Jidan mah bodo amat, dia tidur sepanjang jalan.
“Kal, makan yuk. Laper” ajak Naren sembari menengok ke belakang.
“Jidan gimana ege?” tanya Kala.
“Ya bangunin” ucap Naren lalu mematikan mesin mobil. Ia bersiap turun dari mobil. Jujur saja menyetir selama dua jam tanpa henti itu agak melelahkan.
Tepukan Kala di pundak Jidan berhasil membuatnya bangun. Untung Jidan tipikal yang gampang bangun, sekali Kala tepuk langsung bangun. Jidan menganggukan kepalanya, padahal aslinya dia masih ngawang tuh. Ia membawa handphonenya dan turun dari mobil. Dilihatnya Marka yang tidur di mobil sebelahnya.
Tok…. Tok….
Jendela diketuk Jidan iseng membuat Ailo terbangun dan menatap sekitarnya. Setelah memberi Jidan acungan jari tengahnya, ia bangun dari tidurnya. Kini hanya ada dirinya dan Marka. Rasa lapar di perutnya membuat ia membangunkan Marka. “Ka. Ka bangunnn” tepuk Ailo pelan di pipi kekasihnya.
“Kenapa sayang?” tanya Marka dengan mata yang tertutup.
Ailo mendengus pelan, ia membuka ponselnya lalu mencari roomchat group. “Kita ditinggalin anjrit. Kamu laper gak?” tanya Ailo sembari berniat untuk menelfon Rendi Marka menggeleng lalu menarik lengan Ailo ke pelukannya. Tangan Marka memeluk pinggang Ailo, kepala Ailo bersandar di dada Marka.
Ailo seperti mempunyai firasat buruk akan ini.
“Sayang, ange” ucap Marka lalu terkekeh pelan.
Ailo memukul gundukan di celana Marka pelan. “Sagapung anjing. Lagi di mobil aja sange” ucap Ailo lalu menjauh dari kekasihnya itu. Namun Marka langsung tarik kembali tubuh kekasihnya agar mendekat. Ia kikis jarak mereka berdua, tak peduli nantinya akan diintip atau kepergok teman-teman mereka.
Marka mencium bibir Ailo lembut, melumatnya dengan penuh kasih. Tangannya masih bertengger di pinggang Ailo, mengusap pinggang si manis dan tak lupa bagian favoritnya, pantat Ailo. Mata Marka terpejam menikmati setiap lumatan yang ia beri. Lidah Ailo bermain disana.
French kiss, tipe ciuman favorite Marka.
Marka jujur udah gak kuat nahan sangenya sendiri. Daritadi tangannya udah nakal ke badan pacarnya itu. “Handjob aja, yang cepet tapi yang” ucap Marka di pertengahan ciuman mereka. Entah apa yang merasuki Ailo saat itu, ia yang tadinya menolak malah langsung nurut dengan ucapan kekasihnya.
Tangan Ailo membuka resleting Marka, mengeluarkan penis kekasihnya itu lalu ia meludah ke tangannya sendiri sebelum mengocok penis Marka perlahan. Ia membungkukan dirinya lalu meludahi penis Marka lagi. Biar makin licin katanya.
“Kamu lebih mau diblowjob atau handjob?” goda Ailo sembari menjulurkan lidahnya ke penis Marka.
“Yang mana aja please... Aku udah ngaceng banget” ucap Marka tak fokus. Kepalanya terangkat ke atas setiap lidah Ailo menyentuh ujung penisnya. Ailo mengemut kepala penis Marka sembari memainkan lidahnya disana. Batang penis itu dikocok dengan lihai olehnya. Tak tahan dengan godaan yang diberikan, Marka mencengkram rambut Ailo.
“Mulut– nyahh anget banget ai–hh mmmhhh” desah Marka. Sebisa mungkin ia mengontrol ekspresi wajahnya. Takut ketahuan sekitarnya kalau lagi berbuat mesum di mobil. Berusaha untuk tetap menunduk, menatap kekasihnya yang sedang melahap setengah dari kemaluannya itu. “Aihh mmhhh! ssshhh ahhhh” mulut Ailo menjepit batang penis Marka dengan lihai. Lidahnya menjilat lurus batang penis itu membuat Marka merem melek keenakan sekarang.
Ailo mendongak menatap kekasihnya penuh goda. Sial batin Marka. Wajahnya bagai pelacur yang sedang memuaskan pelanggannya. Marka menaik turunkan pinggulnya cepat. Ia ingin keluar cepat, takut Jingga datang.
Ailo batuk karena hentakan dari Marka. Tenggorokannya penuh sekarang, penis Marka masuk sempurna ke mulutnya. Susah payah Marka menggenjot tenggorokan Ailo pelan. Ia mau bucat di dalam disana.
“Ahhh anjing– mulut perek ahhh! . Mulutnya sempit banget sayanghh” eranngnya tak karuan. Cairan Marka muncrat di mulut dan pipi merah Ailo. Penisnya ikut basah akibat liur Ailo dan spermanya sendiri. Buru buru Marka mengambil tisu dan membersihkan cairannya di muka Ailo. “Enak banget deh kalau punya pacar kayak perek gini” kekeh Marka .
Ia menangkup pipi kekasihnya lalu mengecup bibir Ailo singkat dan berkata “Pinternya perek aku” lalu memeluk tubuh kekasihnya erat-erat. Ailo memutar matanya malas, emang semua cowok tuh sama aja. Kalau abis disepong pasti langsung sok baik.
Dilihatnya Jingga dan Rendi yang membawa satu bucket ayam dan cola di tangannya. Buru buru Ailo merapihkan rambutnya, Marka juga merapikan celana dan bajunya. Ailo mengecup bibir Marka lembut. “Kamu yang tanggung jawab ya, aku mau tidur lagi” ucapnya lalu kembali tertidur di pelukan lelakinya itu.
“Gue cuma beli ayam sama cola gapapa?” ucap Jingga sembari masuk ke mobil.
Ailo hanya mengangguk menandakan tidak apa apa. Namun ia menyadari ekspresi Rendi yang berubah. “Jing kok mobil bau peju gini sih” tanya Rendi lalu memberi tatapan tajam ke arah Marka.
“YANG BENER AJA ANJIIIING” teriak Jingga.
Maaf deh… Emang salah ya sange di mobil?
