Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-12-21
Words:
1,200
Chapters:
1/1
Kudos:
11
Bookmarks:
1
Hits:
432

I'm not fine

Summary:

Haechan thinks it's just bout hair, but not for him. And in this time he must to stop himself for being fooled by his own love. Jeno.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

…..
“Haechan, let's dye your hair”.


Haechan rolling his eyes “oh, good morning, Mr. Canada”.


Mark mendengus, merapatkan badannya pada Haechan. “Well, bad morning. I need dye my hair and i want you do that too”
Haechan diam dan memilih untuk melanjutkan tulisannya “you know, i can't, Markie”.


“Why tho? I mean you always dream bout having red hair. Aren't you?”
Mark mengharapkan Haechan akan tertawa dan menarik tangannya ke salon langganan mereka. Tapi jawaban Haechan menghadirkan kerutan di dahi si pria blonde.


“He likes my brown hair, Mark”
Belum lepas kata dari pita suaranya Mark, Haechan kembali bersuara. Kali ini argumen yang diharapkan bisa menghentikan ocehan sahabatnya “stop, Mark! Could you?”


Mark terkekeh “are you serious, dude?”


Ups, harapan Haechan menghentikan temannya kini tinggal kenangan, Mark can't easily stop. “You guys already pass 3 fucking months. I mean you can see. He loves you anyway, right?”
Haechan kembali bungkam. But not in his head. “Mark, please!”


“Why, Chan? Lo udah lihatkan dia sayang sama lo atau dude? Don't say that you can't see that? DAMN LEE HAEC...”
Suara laptop yang ditutup dengan keras. Haechan mengemasi barangnya dengan cepat dan segera beranjak dari sofa yang menemaninya menunggu sang sahabat.
“Shut up, Mark. Just shut up!”

__________

 


Seingat Haechan dirinya tidak mudah marah jika bersangkutan dengan Mark, but he can't hold himself. Oh right, Haechan ingat. Mark menjadi sangat menyebalkan semenjak Haechan berkencan dengan kekasihnya. 3 bulan lalu. Haechan ingat malam itu, Haechan berlari ke rumah Mark dan menerobos masuk ke dalam kamar sahabatnya “He asking me out, Mark. Can you believe it? Cause i can't believe my own ears, dude”


Haechan kembali ingat, malam itu hanya dirinya yang senang. Mark hanya diam sebelum memeluknya dan bilang berbisik “then don't, chan”.


Haechan menghela napasnya kasar. Dia memutuskan untuk turun dari mobilnya dan melanjutkan refleksi dirinya, Mark dan kekasihnya di kamarnya mungkin sambil menangis. Itu rencananya.
Tapi, sepertinya tidak ada tangisan pikir Haechan. Karena Haechan melihat kekasihnya berdiri dekat gerbang rumahnya. Kekasihnya yang tampan. Lee Jeno.


“Kau tak ingin memelukku, Lee Haechan?” Tak ingin membuat Jeno menunggu Haechan langsung menghambur dalam dekapan sang kekasih. Pelukan kali yang sangat erat, Pikir Jeno. Jeno hanya memberi tepukan ringan secara berulang.


“Jeno, you're fine. You always be fine” membisikan mantra yang selalu dia ucapkan untuk Jeno. Haechan tapi karena suasana depan rumahnya sangat hening, suaranya malah membuat jeno agak kaget. Lee Jeno hanya tertawa. “Thank you”


“Say it in another way, Jeno” jujur Haechan tidak biasa meminta. Karena dalam hubungan ini Haechan selalu menempatkan Jeno diatas dirinya. Harusnya begitu, kan?


"Please, love" Tapi kali ini, Haechan hanya ingin meminta. Jeno harus memberi. Tapi Jenonya hanya diam. Haechan sangat ingin berteriak kalau tolong lakukan itu untuk hati dan kepalaku. Haechan menyerah mungkin malam ini dia memang harus menangis. Pelukannya pelan-pelan melemah. Haechan mulai memberi jarak dengan Jeno. Tapi genggaman pada pinggulnya mengerat menolak Haechan untuk pergi.


Jeno mendekatkan kepalanya pada milik Haechan. Ranum keduanya beradu. Tidak ada desakan nafsu, this is usual Jeno kiss. And Haechan loves that so much. cause he believes Jeno's kiss will make all his doubt away. Harusnya kan? Tapi kenapa isi kepalanya semakin runyam? “I like you brown hair, Lee Haechan” bisik Jeno di depan ranumnya. Kini kepalanya sangat-sangat berantakan.
___________

 

Sudah 2 hari ciumannya dengan Jeno berlalu, tapi sesuatu yang membebani jiwanya tidak mau pergi. Pagi ini kamarnya diterobos oleh oknum berambut pirang yang muncul sambil berteriak di dalam kamarnya. “Dude, i know you still want red hair. Now get your fucking ass now!” Detik itu Haechan menyesal mengirimi pesan bahwa hari ini dia mau mewarnai rambutnya. Apapun untuk membuat perasaannya menjadi lebih ringan.


“Tidak sia-sia aku memaksamu. Red is always yours, Haechan. You're so gorgeous ” itu pujian ke 15 kali yang Haechan dengar hari ini. Jujur dia merasa sangat cantik nope, Haechan merasa sangat indah. Harusnya kekasih tampannya merasakan hal yang sama kan?
Tepat saat itu, handphone menunjukan panggilan dari sang kekasih.


“Hai, ya aku sedang di luar”
..............

 


“Kau serius? Tentu aku sangat ingin coba cake nya. Mark bilang sangat enak” senyum Haechan semakin terkembang. Mark yang melihat itu ikut tersenyum. Haechannya sangat cocok dengan senyuman.


.......

 

“Tidak, aku bisa kesana sendiri. Mark akan mengantarkan ku”

.......

 

”...iya sayang, aku akan hati-hati. Bye, love”

 


Haechan menyimpan kembali handphonenya. “Mark, ayo antarkan aku”
“Ya apapun untukmu, manis”


Mark tertawa saat Haechan menunjukan ekspresi muntah. “Bodoh, ayo cepat!”.
Haechan datang lebih dulu. Jeno memang bilang akan terlambat.

 

Haechan menyantap cake yang ternyata memang sangat enak. Mark menyebalkan tapi dia tidak pernah bohong.
Tapi tiba-tiba perasaan yang 2 hari lalu menganggunya muncul lagi. Seketika Haechan tidak peduli dengan cake dihadapannya. Haechan takut, dia ingin pulang. Dia merapihkan tasnya. Namun gerakannya terhenti saat dia melihat Jeno di pintu masuk Cafe.

Tidak ada tatapan teduh milik Jeno yang bertemu tatap cinta milik Haechan. Keduanya kaget. Tapi Jeno lebih dari kaget. Dia berjalan dengan cepat. Jeno menarik tangan Haechan kencang. Menyeretnya untuk keluar dari cafe.
Tidak ada pujian yang keluar dari mulut Jeno sebagaimana harapan Haechan atas rambut barunya melainkan geraman marah dari sang kekasih “What are you doing, Lee Haechan?”

Haechan menunduk, badannya menabrak sisi kiri mobil Jeno. Tapi sial, hatinya justru terasa sangat sakit.
“Did you forget what i said Lee Haechan?"

"You love my brown hair" Jawab Haechan nyaris tidak terdengar.

 "YES I LOVE YOUR FUCKING BROWN HAIR” Haechan menatap mata Jeno. Gila, ini gila. Apakah Jeno marah hanya karena rambut?

Tubuh Haechan bergetar. Pikirannya terang seketika. Oh ini ternyata! Perasaan 2 hari lalu yang membebaninya. Haechan marah. Sangat sangat marah.

“Gak ada yang berubah dari aku, Jeno. Aku tetap Lee Haechan yang mencintaimu”
Telinga Jeno seolah tuli. Dia kembali berteriak marah “Are you deaf? Berapa kali gue bilang. I LIKE YOUR FUCKING BROWN HAIR. HARUSKAH GUE INGATKAN LAGI SETIAP DETIK THAT I LOVE YOU....”

“SHUT UP LEE JENO! STOP SAYING YOU LOVE MY HAIR. SAY YOU LOVE ME, JENO! SAY IT”
Jeno diam, tiba-tiba amarahnya hilang. Matanya berubah sedih.

 


Haechan melihat itu. Dia mencoba peruntungannya. “Jen, please. Can you say you love me? Please, Love. I'm begging you. Say it and i will dye it brown and never change it. Please” isakan Haechan mulai terdengar.

 


“Jeno, please” pinta Haechan putus asa.


Tidak ada jawaban. Hanya keheningan seolah-olah semesta ikut menahan napas agar tidak menambah kegaduhan ini.
Haechan menyerah. Dia tidak akan lagi meminta.

 

“Haechan” lirih terdengar yang berasal dari suara kekasihnya. Lee Jeno masih kekasihnya kan?

 

 
“Are you still remember what you said, im fine and i always will be fine, right”


Haechan tertawa lirih. Tentu dia sangat ingat. Dia ingat ucapan yang dilontarkan saat melihat Jeno hancur di pemakaman kekasihnya. Ya Kekasih Lee Jeno, Huang Renjun. And he has beautiful brown hair. Seperti yang selalu Jeno sukai.

“You always said I'm fine, Lee Haechan. But i'm not fine at all. Never even once. Im sorry”
That's the cue. Haechan mendapatkan jawaban atas keraguannya. Mark benar, harusnya dari awal Haechan tidak mempercayai telinganya sendiri. Lee Haechan harus pergi. Bukan karena waktunya sudah habis, melainkan memang dia tidak pernah mendapatkan apapu, sejak awal. Haechan tertawa. Menyedihkan.

 

 

 

 
….You said im fine and you throwing the hand of yours. But mine was slip, Haechan. Im sorry
But red suit you the most, Lee Haechan.

-once yours, J

 

Notes:

Sebenernya ini hadiah ulang tahun, Lee Jeno. Maaf teteh baru bikin sekarang jen. I love you tapi kamu jahatin Haechan disini ;(. Left kudos wont hurt you. Thanksss