Actions

Work Header

are you still stuck in traffic?

Summary:

Dan segala dinamikamu yang berisi luka, kan kuseka dengan tawa suka, kurengkuh hingga kau lupa angka.

Notes:

tw / suicide attempt , mental instability , post - traumatic stress disorder (PTSD)
Ada flashback tentang hubungan tidak sehat dan menyinggung trauma. But still, we’ll find the happy ending :)
Sorry for any typos!!

Work Text:

chan bersandar di kasur, matanya sibuk pada aplikasi chatting yang terbuka di ponselnya. obrolan di ruang chat itu berhenti ketika pacarnya membahas tentang lokasi tempat tinggal mereka setelah menikah nanti. sejujurnya, chan sangat menghindari obrolan tentang masa depan, karena entah mengapa, rasanya ia belum siap untuk apapun yang akan terjadi.

untungnya, pacarnya itu sangat pengertian, tak pernah sekalipun mempermasalahkannya, malah saat sadar chan terlihat tidak nyaman saat hal tersebut dibahas, wonwoo akan buru buru mengganti topik obrolan mereka.

disisi lain, dalam hati yang paling dalam, chan ingin saja menikah dengan wonwoo, tidak, ia bahkan tidak bisa memimpikan pernikahan lain jika bukan dengan wonwoo. namun entah mengapa ia merasa segala sesuatu tentang pernikahan dan percakapan masa depan terlampau jauh masih di kepalanya.
menurut chan, ia masih terlalu mentah untuk seseorang sesempurna wonwoo, ia belum pantas untuk bersanding dan memiliki wonwoo selamanya, walaupun jelas ia ingin.

tapi justru menurut wonwoo, ia lah yang beruntung mendapatkan kekasih sebaik chan. kekasihnya itu benar benar tak pernah sekalipun merepotkannya, padahal wonwoo berkali kali mengatakan bahwa chan bebas bergantung padanya.

di dalam fikiran chan, ia masih tidak cukup dewasa, padahal jika ditanyai kepada wonwoo, chan adalah satu satunya orang yang bisa menghadapi segala sesuatu dengan dewasa. ia bisa kokoh menjadi tiang tempat wonwoo bersandar saat semua tak berjalan sesuai keinginannya. yang menjadi benteng penghadang atas segala rasa sakit wonwoo. pula menjadi bahu yang nyaman sehingga wonwoo bisa bebas menangis tanpa dihakimi. jadi wajar saja bila wonwoo tak terima bila chan menganggap dirinya tidak dewasa hanya karena ia belum siap. sungguh, wonwoo tak masalah jika chan siap kapan kapan, di masa depan, wonwoo tidak masalah. berkali kali yakinkan kekasihnya bahwa tak apa apa berjalan perlahan, tidak perlu berlari, karena tidak ada yang mereka kejar.

“sayang, astaga, aku kirain kamu kemana”

pintu kamar terbuka bersamaan dengan kehadiran kekasihnya yang terlihat panik di depan pintu.

harusnya mas bisa sama orang lain yang lebih mampu. harusnya mas bisa sama orang yang cintanya gak butuh alasan kayak aku.

di ruang kamar chan saat itu, wonwoo buru buru berjongkok di hadapan chan, ia seka air mata yang entah apa penyebabnya.

“hey, sayang, kenapa nangis? sayang kenapa nangisnya tiba tiba begini? mas ada salah ngomong tadi di chat ya?” tanya wonwoo.

chan menggeleng, bukan itu, masalahnya bukan di wonwoo. masalahnya ada pada dirinya sendiri.

yang lebih muda tiba tiba berhenti menangis, menarik nafas dalam dalam sebelum mengambil kedua tangan wonwoo, meletakkan di depan dadanya.

“mas, i wish you will find someone who could love you better than me”

“hey, chan, sayang, kenapa ngomongnya begitu? mas gak suka. you are the best for me, mas gak mau orang lain” wonwoo kecupi dahi chan buru buru, sudah mengerti alasan kekasihnya akhir akhir ini banyak diam dan tak menjawab pertanyaannya. pantas saja, ia sudah lewati masa masa ini berulang kali, hafal ketakutan kekasihnya itu.

chan dan masa lalunya, lukanya yang terlalu besar. walau sering terjadi, wonwoo masih sering kecolongan. jujur saja, bukannya wonwoo tidak peduli dengan kondisi chan saat ini, namun, anggap saja dirinya yang memang sudah di usia menikah, berada di lingkungan yang tidak ada lagi status bujangan, membuatnya terkadang ikut ikutan membicarakan hal itu ketika bertemu chan.

“mas.. akunya gak cukup, akunya lama… belum siap” sedu chan sambil kepalanya bersender pada dada wonwoo. kini keduanya terduduk di lantai kamar, saling berhadapan.

“bisa mas tunggu, sayang. gak perlu buru buru, ya?”

wonwoo selalu ulang kata kata itu setiap chan begini. dengan sabar peluk kekasihnya bahkan sampai rela izin dari kerjaannya. pernah sekali wonwoo tak hampiri kekasihnya, pulangnya ia dapati kekasihnya tergeletak di lantai, overdosis , kata dokter. maka tak mau ia ulangi kesalahannya dengan pura pura tak peduli.

“mas.. akunya rusak” kelu itu tertahan di ujung lidah. “mas, mungkin apa yang dibilang mas seungcheol dulu bener… aku gak akan bisa mas.. selamanya aku gak akan pernah siap”

suaranya lirih sekali, tapi berhasil gores hati wonwoo, yang kemudian menggeleng, tidak setuju dengan pernyataan chan.

wonwoo ingat awal bertemu dengan wira yang beberapa tahun lebih muda darinya itu. 7 tahun yang lalu. wonwoo tidak langsung pulang malam itu, ia mampir ke salah satu bar langganannya saat ia temui anak itu naik ke atas panggung dalam keadaan mabuk. tawanya lebar dan gerakannya heboh, buat wonwoo tak lepas pandang sama sekali. kebetulan, turun dari panggung, yang lebih muda duduk di sampingnya, ingin memesan satu gelas lagi dan dihentikan wonwoo.

malam itu juga pertama kalinya wonwoo membawa seseorang ke apartemennya. seorang stranger yang mabuk berat. menangis di pelukannya sepanjang malam. menangisi kekasih yang meninggalkannya demi yang lain, katanya ia belum dewasa, tak akan siap bila diajak menikah. ia tak akan bisa, masih terlalu muda. rumah tangga akan hancur bila kekasihnya menikah dengannya. dan hal itu yang sampai saat ini menjadi beban fikirannya, berada di alam bawah sadarnya dan memancing traumanya.

“ chan.. gapapa sayang. kita jalan pelan pelan ya. mas pegangin kamu biar enggak jatuh lagi, mas gak akan lepasin kamu. tapi janji ya kamu jangan pernah lepas tangan mas? aku gak bisa tuntun kamu kalau kamunya enggak mau genggam aku, sayang”

“akunya gak akan bisa mas…”

“bisa. aku percaya kamu bisa. kamu cuma lagi berhenti. kamu cuma lagi terjebak di lampu merah, chan. kita bisa tunggu sama sama, kita bisa tunggu lampu hijau kamu sama sama. lampu merah itu gak selamanya, sayang. akan ada masanya kamu berada di lampu kuning. masa dimana kamu akan mulai berani. ada juga masanya kamu di lampu hijau. sekarang, kamu cuma lagi berhenti di lampu merah sebentar. dan mas gak masalah nunggu lampu hijau sama kamu. nanti kita jalannya barengan ya, sayang?”


Hari ini chan girang sekali. akhirnya hari yang ia tunggu tunggu tiba. hari dimana dirinya siap. hari dimana seluruh kesabaran hati wonwoo akan dibalas.

sepanjang hari, chan berkali kali mengintip ke dalam kotak beludru biru itu, sepasang cincin cantik berada di dalamnya. ia terkikik lagi, membayangkan malam ini ia akan makan di salah satu restoran mewah dengan kekasihnya, hasil merengek semalaman. malam ini juga ia akan duluan melamar wonwoo, kejutan, setelah penantian panjang yang wonwoo alami.

kali ini, ia benar benar sudah siap. kegelisahan hatinya sudah tak pernah muncul lagi. mungkin karena wonwoo yang paling pandai hadapi dirinya. mungkin karena wonwoo yang berkali kali ucapkan kata penenang padanya. mungkin juga, karena wonwoo-lah orangnya.


“seneng banget ya kamu?” wonwoo gandeng jemari chan saat keduanya sampai di restoran bintang lima itu. yang berjalan disebelahnya mengangguk angguk tanggapi wonwoo, senyumnya lebar sambil sesekali bersenandung ria. bahkan sampai keduanya sudah duduk di meja, lalu appetizer keduanya sudah disajikan pun, chan masih saja dengan senyum salah tingkahnya itu. wonwoo berkali kali penasaran dan bertanya, yang didapat hanya jawaban singkat bahwa ia senang bisa makan di restoran ini setelah sekian lama.

dessert di piring chan habis terlebih dahulu, meninggalkan wonwoo yang fokus dengan tart kiwi di depannya. selagi pacarnya tidak melihat, chan rogoh saku jas hitam yang ia kenakan, lalu mengeluarkan sekotak cincin yang ia siapkan dari hari senin lalu.

“mas wonwoo”

wonwoo sampai membuka kacamata dan mengucek matanya saking ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. chan duduk di depannya sambil menyodorkan kotak itu, terlihat kedua cincin bersanding indah di dalamnya.

“mas, sama aku terus yuk? jangan tinggalin akunya. sampai nanti kita sama sama tua dan hilang dari bumi. mas, mau gak nikah sama aku?”

kata kata tercekat di tenggorokan wonwoo. ia tak sanggup keluarkan suara sedikitpun. yang ada, air mata lolos dari ujung matanya.

“mas.. kok nangis… mas gamau ya?” yang lebih muda miringkan kepalanya, raut wajahnya berubah sedih, bisikan bisikan jelek mulai muncul di kepalanya. wonwoo langsung bangkit dari duduknya, berlutut disebelah kursi si sayang, menggeleng tidak setuju. ia raih tangan kekasihnya.

“sayang… bukan gitu. mas mau. mas cuma… mas mau terimakasih sama kamu… sayangku.. terimakasih sudah yakin… terimakasih sudah jadi sayangnya saya ya.. chan? makasih banyak sayang… iya ayo kita nikah dan jalan sama sama ya sayang?” wonwoo kecupi tiap buku jari chan tanpa putuskan kontak mata antara keduanya. chan ikut teteskan air mata, bersyukur bertemu dan dicintai seseorang yang hatinya seluas samudera.

mungkin selama ini benar. seharusnya ia tak takut dari dulu. seharusnya ia yakin pada dirinya sendiri. dan yang seharusnya paling ia tahu adalah bahwa wonwoo bukanlah seungcheol. wonwoo adalah orang lain yang hapus luka lukanya.


pukul 9 malam, mobil yang mereka kendarai melaju membelah jalanan kota. wonwoo tetap elus tangan kesayangannya walau chan di kursi sebelahnya merengut, tak mau tatap wonwoo, sengaja buang muka keluar jendela.

“katanya mau nikah sama aku. tapi kenapa cincinnya disuruh disimpan aja?” tanya chan setelah keheningan landa mereka selama beberapa menit. ia tatap kesal wajah wonwoo yang hanya terkekeh sambil matanya fokus pada jalanan.

“iya… nanti aja sayang… mas lagi nyetir” ucap wonwoo masih sambil elus elus punggung tangan chan.

“tadi kan nggak nyetir!! emangnya di restoran mas nyetir!! aku sebel sama mas” keluh chan, menyingkirkan tangan wonwoo yang ada di pangkuannya.

ia kunci mulutnya rapat rapat, abaikan seluruh pertanyaan dan obrolan wonwoo sampai mereka tiba di depan rumah wonwoo. wonwoo turun duluan, niatnya ingin buka pintu kekasihnya. tapi chan buru buru keluar mobil, menolak dibukakan pintu.

“jangan ngambek dong sayang..” wonwoo rengkuh pinggang chan masuk ke dalam rumah. sang kekasih masih saja diam tak tanggapi wonwoo walau tak menolak juga direngkuh sambil dicium cium begitu.

“tunggu sebentar di sofa ya sayang. mas mau ambil sesuatu”

chan rebahkan tubuhnya pada sofa empuk di ruang tengah itu. kembali keluarkan kotak cincin dalam sakunya.

“sayang, duduk dulu hadap sini” wonwoo hampiri chan, duduk tepat disebelahnya. chan kini duduk berhadap hadapan dengan wonwoo yang tersenyum lebar. ia sebenarnya sedikit bingung, tapi karena sedang merajuk, ia tak mau lontarkan pertanyaan.

“sayang, mau gak nikah sama aku?”

mata chan mengerjap saat wonwoo keluarkan sekotak cincin berwarna merah dari belakang tubuhnya. cincin itu persis seperti cincin yang wonwoo pakai di hari hari biasanya. ah, sekarang chan paham. selama ini, cincin yang wonwoo pakai itu sepasang. hanya saja yang miliknya tak pernah wonwoo keluarkan, jika mengingat chan yang selalu berakhir sakit.

“sayang, aku ngerasa cupu banget karena keduluan kamu ngelamarnya. tapi mas tetap senang. mas bangga sama chan. sayang, boleh gak biarin mas yang lamar kamu? cincin kamu nanti bisa kita pake pas nikahan. mau ya sayang? semoga sayang nggak marah ya, sama mas” ucap wonwoo pelan pelan, biarkan chan puas tatap cincin yang masih berada dalam kotaknya itu.

kini chan angkat wajahnya yang ternyata sudah basah, sadar bahwa begini bahagianya dicintai dan dianggap cukup oleh seseorang. maka chan angguki pertanyaan wonwoo sebelum ia tarik kerah baju pacarnya dan meraup puas bibirnya. di bawah redup lampu ruang tengah itu, wonwoo balas kecupan chan, ia buka mulutnya untuk ambil lebih banyak nafas chan. ia rengkuh tubuh yang lebih muda dalam pelukannya— chan terduduk diatas pangkuan wira yang lebih tua. keduanya sama sama serakah, tak mau mengalah. sampai saat chan tepuk bahu wonwoo keras, nafasnya habis, ia menyerah.

“mas”, ada jeda yang cukup lama sebelum chan lanjutkan ucapannya, “aku mau nikah sama kamu”.

“iya sayang”, wonwoo masih sibuk cium ujung bibir chan, curi beberapa kecup sambil chan mengatur nafasnya, “kita nikah ya…”

chan bisa lihat senyuman di wajah kekasihnya. senyum yang menular. senyum yang buat ia ikut rapatkan tubuh dan wajah keduanya sampai hidung mereka saling bertemu.

“so, are you still stuck in traffic?”

chan lepas kacamata wonwoo—sengaja agar ia bisa kecupi wajah sang kekasih sampai basah.