Work Text:
33 menit.
Jeno mengecek arloji di tangannya ketika ia membuka pintu depan rumah mereka.
Dia berhasil sampai di rumah sebelum tenggat waktu yang diberikan Chenle habis. Disapunya ruang tamu yang temaram dengan kedua bola matanya, dimana Chenle?
Bergerak meletakkan tas kerja serta peralatan gym nya, Jeno mengecek ponselnya yang sejenak terlupakan karena dia terburu-buru pulang ke rumah.
Baba♥️
Langsung ke bathroom.
Jeno tersenyum simpul, ia membayangkan apa yang sudah suaminya siapkan untuknya.
Masih berpakaian lengkap, Jeno melangkahkan kakinya menuju kamar mandi utama di rumah mereka.
Senyum langsung tersungging di bibirnya ketika pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Chenle yang sudah berendam di dalam bathtub yang terisi penuh. Samar tercium aroma bunga lily kesukaan Jeno. Suaminya memang tahu yang terbaik untuknya.
Namun senyum Jeno langsung memudar ketika Chenle memandangnya tajam. Tanpa kata, pria itu melambaikan tangannya, seolah meminta Jeno mendekat. Jeno melangkah patuh, berhenti tepat di sisi bathtub.
"Strip."
Oh, so it's one of these days.
Jeno bergerak patuh dan mulai melepas pakaiannya satu per satu. Dirasakannya tatapan Chenle yang tak lepas memandangnya dari atas ke bawah.
Jeno merasa seperti ditelanjangi.
Ketika semua pakaian sudah terlepas dari badannya, Jeno berdiri tegap kembali. Memandang Chenle yang sedang memandangnya.
"Kenapa diem doang?"
Jeno menggeleng,
"Masuk ke sini."
Chenle menepuk air di depannya, meminta Jeno untuk masuk ke dalam bathtub bersamanya.
"Nggak muat, Mas."
Jeno menggeleng pelan.
"Lee Jeno."
Jeno bergidik mendengar intonasi Chenle ketika memanggil namanya. Perlahan dia masuk ke dalam bathtub yang harusnya hanya muat untuk satu orang dewasa. Berdiri di hadapan Chenle, Jeno agak kikuk karena tidak tahu harus bagaimana untuk menempatkan dirinya.
Tiba-tiba Chenle menariknya sehingga dia terjatuh ke dalam pelukan Chenle. Suaminya itu kemudian memanuvernya sehingga Jeno sekarang duduk membelakangi Chenle, dengan punggungnya bersandar di dada Chenle.
Jeno menghembuskan napas panjang. Air panas di bathtub temperaturnya sesuai yang Jeno inginkan, langsung merilekskan otot-ototnya yang sudah mulai terasa pegal setelah seharian beraktifitas dan diakhiri dengan gym.
Menyandarkan kepalanya di leher Chenle, Jeno memejamkan mata sejenak. Dirasakannya tangan Chenle memeluk pinggangnya dengan erat.
Tiba-tiba, tangan Chenle merambat ke atas. Kemudian mencubit puting kiri Jeno dengan agak keras. Jeno berjengit sedikit.
"Nakal ya, ngegym nggak pakai baju. Kamu mau pamer susu biar semua orang lihat?"
"Ngh- enggak Mas. Tadi AC di gym lagi bermasalah jadi aku buka baju karena kegerahan."
Jeno menggelinjang karena Chenle mulai memilin puting kanannya dengan kedua jarinya sementara tangan satunya menahan paha Jeno agar dia tidak bergerak menjauh.
"Halah alasan, bilang aja butuh belaian. Susu kecil kayak gini mana ada yang mau."
Jeno terisak ketika Chenle meraup dadanya.
"Lihat, segenggam aja ga ada."
"S-susu aku nggak kecil Mas."
Pikiran Jeno mulai berkabut. Dia tidak suka payudara kecil. Payudara yang kecil tidak bisa memuaskan suaminya.
"Kamu mau susunya digedein?"
Kedua tangan Chenle sudah beralih ke puting Jeno. Masing-masing mengusap ujungnya yang sudah menegak, memberikan sensasi geli yang membuat Jeno beringsut menjauhi Chenle namun malah berakhir dengan ia makin merapat di dada Chenle karena pria itu tiba-tiba menariknya kembali.
"M-mau Mas. Tapi nggak mau sakit."
Chenle mulai menggigiti cuping telinga jeno kecil-kecil, membuatnya meremang karena itu adalah salah satu titik sensitif Jeno.
"Mas mana pernah sih bikin kamu sakit."
Dikecupnya pelipis Jeno, kemudian turun ke leher. Jeno masih diam menikmati remasan Chenle di dadanya.
"Biar gede, susunya tuh harus diremes-remes terus. Kamu suka kalau diremes gini?"
"Suka Mas.. Tapi-
Ah-
Geli Mas-"
Jeno memejamkan matanya. Indranya tidak sanggup menerima sentuhan-sentuhan Chenle. Sementara tangan Chenle masih terus aktif memijat, memilin, dan menarik-narik puting Jeno.
Rangsangan demi rangsangan dari Chenle benar-benar membuat Jeno gelisah. Tangannya yang dari awal hanya berpegangan di pinggir bathtub mulai bergerak turun. Namun belum sempat mencapai yang dituju tangan Chenle sudah menahannya duluan.
"Eh, nakal bener ya. Mau ngapain? Memek kamu udah basah baru diremes-remes gini?"
"M-mas aku panas Mas.. Gatel.."
Chenle berdecih mendengar jawaban Jeno.
"Emang dasarnya kamu aja yang gatel. Inget ya, no touching. Atau nggak sama sekali."
Jeno mengangguk kecil, kembali berpegangan ke tepi bathtub. Kecupan-kecupan kecil kembali menghujani sisi wajahnya.
"Good girl. Good girl deserves a reward, right? Kamu mau apa Sayang?"
"..."
"Mau apa, mas nggak denger?"
Jeno memejamkan matanya sebelum menjawab pertanyaan Chenle.
"Mau mas nenen ke aku."
"Oh, Precious. Tapi susu kamu masih kecil. Kamu tau kan mas nggak suka susu kecil."
Jeno terisak, dia tahu betul Chenle tidak suka payudara kecil. Bagaimana caranya agar payudaranya menjadi besar untuk memuaskan Chenle.
"Cup, cup. Jangan nangis dong. Mas remes-remes lagi ya? Nanti kalau udah gedean mas nen."
"T-tapi, nanti jadi pengen pipis, Mas."
"Ya nggak papa kamu pipis aja."
Tangan Chenle berganti turun mengelus pangkal paha Jeno sambil menekan-nekan otot yang menegang. Jeno ingin berontak tapi dia tahu betul dia tidak boleh bergerak kecuali dia mau ditarik kembali oleh Chenle. Jadi dia hanya bisa diam sambil mendesah kecil.
"M-mas..."
"Ya, Sayang?"
Jeno terlonjak sedikit ketika tangan Chenle menyelusup ke bawah penis nya. Menggoda lubangnya yang sudah tidak tahan ingin disentuh sedari tadi. Tangan Chenle berhenti sejenak ketika satu buku jarinya dapat dengan mudah masuk ke dalam lubangnya.
PLAKK
Tamparan keras di paha Jeno membuatnya berjengit.
"Beneran nakal ya kamu, udah main duluan? Siapa yang udah ngobel-obel memek kamu?"
"N-nggak ada Mas aku main sendiri tadi nggak tahan-"
"Kamu main sendiri di kamar mandi gym? Kurang gatel apa kamu hah??"
Chenle tiba-tiba membalikkan badan Jeno sehingga mereka saling berhadapan, membuat Jeno kelabakan memposisikan badannya, berakhir dengan kakinya berada di sisi kanan dan kiri Chenle sementara badannya berada di antara kungkungan suaminya itu. Chenle menariknya makin mendekat, membuat Jeno berakhir di pangkuannya.
Diangkatnya sedikit pantat Jeno sehingga ia bisa dengan leluasa menyentuh bagian belakangnya. Kembali diarahkan jari-jari nya ke lubang Jeno, meraba rim nya sebelum langsung memasukkan satu jari ke dalam.
"Lihat ini, udah longgar kayak gini. Susu kecil, memek longgar. Siapa yang mau sama kamu."
Air mata menetes dari kedua bola mata Jeno. Dia menyembunyikan wajahnya di leher Chenle karena merasa malu. Jeno mencoba mengetatkan lubangnya, menjepit jari Chenle yang masih berada di dalam sana.
"Masih sempit Mas. Aku cuma mau Mas."
Jeno mulai bergerak naik turun, mencoba membuktikan pada Chenle bahwa lubangnya masih seketat perawan. Jeno tidak peduli, ia harus bisa memuaskan Chenle.
Tangan Chenle menahan badannya yang bergerak, kemudian dirasakannya jari kedua perlahan masuk. Air mata kembali menetes dari mata Jeno karena jari Chenle dapat masuk dengan mudah.
"Kayak gini kamu bilang sempit?"
Chenle mulai menyodokkan kedua jarinya tanpa ritme yang pasti. Terkadang cepat, terkadang pelan. Jeno ingin bergerak, ingin jari Chenle masuk lebih dalam. Namun satu tangan Chenle masih menahan pinggangnya.
"N-nanti sempit- ah.. sempit buat penis Mas.."
Jari Chenle mulai membuat gerakan menggunting. Membuka menutup dengan cepat hingga menekan bagian empuk di dinding dalam rektum Jeno, membuatnya membusurkan badan walau masih ditahan oleh Chenle. Jeno yakin esok hari akan ada bekas tangan tercetak di pinggangnya.
"Hhah.. Mmas . Lagi Mas.. di situ Mas ."
Jeno sudah mulai hilang, dia tidak peduli lagi dengan rengekannya yang makin sering terdengar. Masih menyembunyikan wajahnya di cerukan leher Chenle, Jeno kembali berusaha menggerakkan badannya. Mencoba mendapatkan kenikmatan sesaat yang telah dirasakannya tadi.
Namun Chenle malah mengeluarkan kedua jarinya dari dalam lubang Jeno. Membuatnya seketika mendongak dan memandang Chenle dengan tatapan terluka. Chenle balik memandangnya dengan tatapan tajam.
"Mana tadi yang katanya mau nenenin."
Jeno langsung tersadar dan membusungkan dadanya. Rambut halus di tengkuknya meremang merasakan tatapan Chenle ke payudaranya.
Plak
Plak
Masing-masing payudara Jeno ditampar oleh Chenle, membuatnya meringis kecil.
"Susu kecil kayak gini aja dipamerin dimana-mana."
"Hnh, enggak.. Susu aku cuma buat Mas.."
Jeno makin membusungkan dadanya. Menyodorkan payudaranya tepat ke depan muka Chenle.
"Mau dinen Mas.. Mau dinen biar gede.."
Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Jeno, membuat tangan Chenle meraih wajahnya dan mengusap pipinya. Namun Jeno malah membawa tangan Chenle ke depan bibirnya. Mengecup satu per satu jari Chenle, kemudian memasukkan telunjuk dan jari tengah nya ke mulutnya.
Chenle mendesis ketika merasakan Jeno mengulum dan menjilati jarinya di dalam mulutnya. Wajahnya menggelap kemudian menarik kasar tangannya dari wajah Jeno.
Satu tangannya kembali ke bagian belakang Jeno dan langsung memasukkan dua jarinya ke sana, menyodok-nyodok dengan cepat. Jeno hanya bisa menutup mata dan berpegangan di bahu Chenle, sementara tangan satunya meremas-remas payudara kirinya.
Chenle akan memasukkan jari ketiga ketika ia merasakan sedikit hambatan. Sigap diambilnya botol pelumas yang sudah dia siapkan di tepi bathtub. Kemudian ia tuangkan cukup banyak ke jari-jarinya. Perlahan ia masukkan kembali jarinya satu per satu. Jari ketiga terasa agak sempit, tapi tetap dapat masuk seluruhnya.
Chenle mendiamkan jarinya di dalam sana sejenak, memandang Jeno yang sedang memejamkan mata dan menggigit bibirnya, menahan berbagai sensasi yang dia rasakan di bawah sana.
Jeno sudah berhenti menyentuh payudaranya, jadi Chenle berganti menggigit kecil puting kanannya yang sudah mencuat. Jeno melonjak kaget sehingga jari-jari Chenle hampir terselip keluar dari lubangnya.
"Ssh.. Tenang Sayang. Nikmatin aja."
"Mh.. Mas-"
"Ya Sayang.."
Chenle mulai menggerakkan ketiga jarinya dengan perlahan. Membiarkan Jeno meraup kepalanya dan menenggelamkan Chenle di antara payudaranya.
"Nnen.. Nen yang banyak Mas.. biar- ah . Biar susu aku cepet gede.."
Tangan Chenle yang bebas bergerak meraup payudara kiri Jeno sementara bibirnya masih sibuk menyedot dan menjilati puting kanan Jeno. Tak jarang digigitnya sambil ditarik, membuat Jeno merintih dan makin membusungkan dadanya. Pinggang jeno juga sudah bergerak cepat naik dan turun di jari Chenle. Membuat lubang yang awalnya sangat sempit untuk 3 jari melonggar.
Chenle melepaskan kulumannya pada payudara Jeno, mendongak sedikit untuk menarik perhatian suaminya yang sudah ditelan kenikmatan. Tangannya kembali turun menahan pinggang Jeno, sementara tangan satunya memasukkan jari keempat, membuat Jeno melonjak kembali.
"Nnn-!!"
Empat jari Chenle bergerak keluar masuk, berusaha melonggarkan lubang Jeno semaksimal mungkin. Sengaja Chenle tidak mencari prostat Jeno, agar pria itu tidak orgasme terlebih dulu.
Chenle menatap Jeno yang sudah melonjak-lonjak di pangkuannya sembari masih memejamkan mata. Air di bathtub beriak heboh, sebagian tumpah ke luar karena pergerakan mereka. Peluh membasahi pelipis Jeno dikarenakan air panas di dalam bathtub dan juga hasil dari segala sentuhan Chenle.
"M-mas.."
Jeno membuka matanya. Menatap Chenle dengan tatapan sayu.
"Mas.. Aku udah siap.. ngh-
Masukin Mas.. Tolong dimasukin.. Ah- aku nggak tahan.."
Chenle pun menarik keluar keempat jari tangannya. Kemudian ia membalikkan kembali tubuh Jeno, mengangkat badannya supaya berdiri kemudian memposisikannya menungging membelakangi Chenle, berpegangan di ujung bathtub. Dia dapat mendengar Jeno kembali terisak.
"M-mmas... Tapi mau- mau Mas nenen aku.."
"Shh, kamu sayang sama mas, kan?"
Chenle bangkit dan menggesek-gesekkan penisnya yang sudah menegang sempurna di antara belahan pantat Jeno.
"Kamu harus bisa puasin mas pake memek kamu, nanti baru mas nenen kamu sampe muncrat-muncrat.."
Jeno hanya diam terisak.
Chenle kemudian mengarahkan penisnya ke lubang Jeno yang masih agak terbuka berkat keempat jari tangannya tadi. Tanpa aba-aba Chenle langsung memasukkan penisnya ke dalam lubang Jeno. Membuatnya menjerit.
"Ahh- Mas- !"
Namun Chenle tidak berhenti. Dia terus mendorong hingga penisnya tertanam sempurna di lubang Jeno dan pinggulnya bertemu dengan pantat Jeno.
"Uhn.. rupanya memek kamu masih sempit, Sayang."
Chenle memeluk Jeno dari belakang, kemudian mengangkat torso Jeno sehingga bagian atas badan Jeno tertempel seluruhnya dengan badan Chenle. Gigitan-gigitan kecil ia berikan di tengkuk Jeno sembari salah satu tangannya memainkan puting Jeno.
"Masih sempit, cuma buat mas.."
"C-cuma buat Mas.."
Tangan Jeno meremas tangan Chenle yang memeluk badannya, menandakan Chenle untuk bergerak. Perlahan, Chenle menarik penisnya hingga hanya kepalanya yang tersisa di dalam lubang Jeno. Kemudian menghentakkannya dengan kencang, membuat badan Jeno terlonjak ke depan. Diulangnya berkali-kali. Makin cepat, makin keras, sampai Jeno meremas tangan Chenle yang masih ia genggam karena stimulasi yang dirasakannya.
"Ah-
Mmn!
M-mas!!
Hng- Mas . Jangan-n ngan dalem ahh, dalem"
"Kenapa, hn-
Kenapa, Sayang? Kamu takut kalo-"
Badan Jeno mendadak menegang, bebarengan dengan sodokan keras Chenle di titik manisnya, lubangnya mengetat. Membuat pria itu menggigit leher Jeno dan menekan penisnya kuat-kuat di titik yang sama.
"Ahh- Mas-.. Mm-as.. tolong . Aku- gabisa- AHH-"
Jeno menggelinjang heboh, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Chenle, namun Chenle bergeming.
Membiarkan tubuh Jeno bergetar di dalam pelukannya tanpa mengendurkan tusukannya di titik nikmat Jeno.
Kemudian tahu-tahu dia mengeluarkan penisnya dari lubang Jeno dan merubah posisi mereka, dia duduk di tepi bathtub kemudian membawa Jeno yang masih gemetar ke dalam pangkuannya.
Diarahkan kembali penisnya ke lubang Jeno. Ketika seluruh penisnya telah tertanam kembali, tanpa aba-aba Chenle menampar pantat Jeno, membuatnya tersentak. Payudara Jeno yang berada di depannya langsung digigit dengan gemas. Sudah tidak tergambarkan berapa banyak bekas gigitan dan hisapan di daerah dada dan puting payudara Jeno. Chenle sangat menyukai hasil karyanya.
"Gerak, sayang. Katanya kamu mau nenenin sambil naikin aku."
Jeno melenguh lemah mendengar perintah Chenle. Namun tetap menurut dan mulai menarik-turunkan badannya.
Di posisi ini penis Chenle terasa masuk lebih dalam dan Jeno bisa mengatur kapan dia ingin Chenle menyentuh prostat nya. Tapi tenaganya sudah hampir terkuras habis, apalagi setelah denial yang Chenle berikan tadi. Jadi dia hanya bisa bergerak dengan pelan, walau dia sangat menikmati gesekan penis Chenle di dalam lubang hangatnya.
"M-mas, nenen-"
"Iya sayang, ini mas lagi nenen susu kamu biar gede."
Chenle mulai menggerakkan pinggulnya berlawanan arah dengan Jeno sehingga memberi sensasi lebih kepadanya. Sembari mulutnya bergantian menyedot, menjilati dan menarik-narik puting kanan dan kiri Jeno secara bergantian.
"Susumu bakal nambah gede- sh. Kalau nanti udah isi. Nanti anak kita bisa nenen yang banyak. Hah-!"
"Iya- iyaiyaiyaiyaiya-"
Jeno memejamkan matanya dan makin menenggelamkan kepala Chenle di payudaranya.
Sungguh dia tidak dapat menggambarkan apa yang dia rasakan saat ini. Jilatan dan hisapan Chenle di payudaranya, penis Chenle yang memenuhi memeknya, bergerak makin brutal karena Jeno sudah tidak sanggup bergerak. Rasanya Jeno sudah mau menyerah dan meminta Chenle untuk menyentuhnya. Kepalanya sudah seringan kapas.
"M-mas . Lebih nnn, lebih kenceng Mas.."
Chenle tidak menjawab, namun dia kembali merubah posisi mereka. Kali ini dia tidak mengeluarkan penisnya dari lubang Jeno, namun separuh menggendong Jeno keluar dari bathtub dan membaringkannya di lantai kamar mandi yang ternyata sudah dilapisi dengan handuk.
Ketika Jeno sudah terbaring sempurna, tak sengaja penis Chenle terlepas, membuat Jeno merengek kecil. Chenle yang juga sudah di ambang batas segera menaikkan kedua kaki Jeno, menampakkan lubangnya yang masih menganga berkat gempuran Chenle. Tanpa aba-aba penis Chenle langsung masuk.
Tidak menunggu lagi, Chenle menggerakkan pinggulnya dengan cepat. Menghentakkan dengan keras demi mendapat teriakan Jeno tiap kali Chenle menyentuh prostat nya.
"Mas- ah! Aku mau keluarr- m-as !"
Airmata sudah mengalir deras dari mata Jeno namun tidak ada yang peduli. Ini terlalu nikmat bagi keduanya.
"Hh- keluarin Sayang. Keluarin yang banyak-
Sampe pipis-pipis. Ja- ngm- ngan- di-tahan -nn."
Chenle menghentak-hentakkan pinggulnya, menekan titik manis Jeno di setiap perkataannya.
Puncaknya adalah ketika Chenle menunduk dan menggigit puting Jeno kemudian menariknya dengan kencang.
Jeno sampai dengan teriakan.
Badannya bergetar dengan hebat dan spermanya keluar membasahi kedua badan mereka yang masih basah bercampur dengan keringat dan air dari bathtub. Rasanya Jeno habis menghilang. Air mata tidak berhenti keluar dari matanya.
Sementara Chenle masih meneruskan penetrasinya. Gerakannya tidak melambat walau Jeno masih orgasme. Dia menurunkan kaki Jeno yang langsung dilingkarkan oleh empunya ke pinggang Chenle. Walau masih lemas karena orgasme, Jeno sangat menikmati sensasi sensitif ketika Chenle menyodoknya tanpa henti.
"Mas juga.. ayo keluar
Yang banyak, di dalem-
Ah- biar- biar perut aku anget-"
Chenle makin mempercepat gerakannya ketika mendengar ucapan Jeno.
Dia juga hampir mencapai puncaknya. Penisnya yang diselimuti dinding jeno yang sempit dan hangat, sungguh merupakan surga dunia.
"Hn- kasih aku, kasih aku adek bayi Mas. !"
Chenle menarik pinggang Jeno dengan kencang, berusaha menanam penisnya sedalam-dalamnya ke dalam lubang Jeno. Spermanya keluar dengan kencang sembari ia masih menghentak-hentakkan pinggulnya semakin dalam.
"Fuck. Aku hamilin kamu ya. Sampai banjir-banjir."
"Ah- !, iya mas. Anget-
anget banget mas. Mau yang banyak sampai luber dari memek aku.
Mau semua masuk ke rahim aku-"
Chenle masih menggerakkan pinggulnya, menikmati sisa-sisa orgasme yang luar biasa sambil berusaha memasukkan spermanya ke bagian terdalam Jeno. Jeno di bawahnya terlihat lelah namun puas.
Suaminya itu terlihat belum kembali sepenuhnya.
Dapat dimaklumi, sudah lama mereka tidak melakukan scene, dia tidak menyangka akan seintens ini.
Chenle menopang badannya di atas Jeno dengan kedua lengannya. Dia menundukkan badannya kemudian mengecup kelopak mata Jeno satu per satu, dilanjutkan kecupan kecil di hidungnya, lalu menempelkan bibirnya di bibir Jeno.
Perlahan Jeno menutup mata, kemudian membuka matanya kembali. Mengerjap-kerjap beberapa kali, hingga pandangannya fokus kepada Chenle yang masih mengamatinya.
"Hey, Love."
Chenle tersenyum, mengecup kembali bibirnya yang disambut Jeno dengan rangkulan di bahu.
Kecupan-kecupan kecil mulai berubah menjadi pagutan. Ini waktunya Chenle bersikap untuk mereka berdua.
"Hei, hei. Udah ya. Kita harus bersih-bersih. Ini udah malem banget besok kita masih harus kerja."
Chenle beranjak untuk melepas penyatuan mereka, namun ditahan oleh kaki Jeno yang masih melingkar di pinggangnya.
"Nggak mau dilepas."
Chenle menghela napas.
"Jen, ini sperma kamu hampir kering di badan kita. Kita harus mandi lagi, belum harus bersihin lubang kamu."
"Mau disimpen sampe pagi."
"Jeno-"
"Please, Le. Sekali aja?"
Chenle ingin menjawab ini bukan yang pertama kalinya dia meminta hal itu tapi melihat ekspresi Jeno siapa yang tega menolaknya sih?
Maka dia hanya bisa menghela napas sekali lagi dan meraih kotak yang dia letakkan di lantai pinggir bathtub.
Diambilnya butt plug berukuran sedang berwarna biru transparan. Salah satu kesukaan Jeno setiap dia ingin merasa penuh. Kemudian melumurinya dengan pelumas walau Jeno tidak suka sensasi pelumas yang dingin.
Perlahan, Chenle mengeluarkan penisnya dari lubang Jeno. Berusaha supaya spermanya tidak ikut tercecer keluar. Jeno ikut membantu dengan mencoba mengetatkan lubangnya ketika penis Chenle keluar, membuatnya tertawa melihat ekspresi Jeno yang berkonsentrasi.
Setelah penisnya keluar, Chenle langsung memasukkan butt plug ke lubang Jeno. It slips easily walau seharusnya Jeno kesulitan di hari-hari biasa. Bukti bahwa mereka hari ini cukup liar.
"Bisa berdiri nggak?"
Chenle meraih kedua tangan Jeno, membantunya berdiri.
"Bisalah, tapi punggungku tu sakit. Handuknya kasar banget."
Jeno menerima uluran tangan Chenle sembari menggerutu.
"Itu bukan karena handuknya, Baobei. Tapi emang karena kita mainnya di lantai. Lantainya keras, jadi punggungmu sakit."
"Salah siapa coba."
Jeno manyun ketika Chenle meninggalkannya sebentar untuk menghidupkan shower dan menguras air di bathtub. Dia tidak bisa duduk karena butt plug nya mempunyai ujung yang lumayan menonjol. Jadi Jeno hanya bisa bersandar di wastafel.
"Lho ya jelas salah kamu, lah. Siapa coba yang minta, "Mas, lebih kenceng. Mas-"."
"LALALALALALA LALALA UDAH HANGAT BELUM AIRNYAAA"
Nyanyian Jeno yang agresif membuat Chenle tertawa. Dia keluar dari bilik shower dan menuntun Jeno masuk. Kemudian memandikan dan mencuci rambutnya dengan kilat.
Mereka sudah terlalu lama di dalam air, jari-jari mereka sudah mulai mengeriput.
Selesai mandi, mereka langsung ke kamar karena Jeno sudah terlihat mengantuk. Namun mereka bahkan belum mengeringkan rambut. Jadi Chenle meletakkan kepala Jeno di pangkuannya kemudian mengeringkan rambutnya dengan cepat, sambil menahan Jeno untuk tidak tertidur di pangkuannya.
"Up up up, ayo pake baju dulu."
Chenle mengangkat kepala Jeno dari pangkuannya, mencoba menopang badan Jeno yang sudah bersandar sepenuhnya ke badan Chenle.
"Gamau pake bajuu."
"Nanti plug nya lepas kamu tu kalo tidur kan pecicilan."
"Ih mana ada ya-"
"Udah udah ini udah lewat tengah malem, mau pake piyama apa?"
Chenle berusaha memanuver tubuh mereka berdua sambil berjalan ke arah lemari.
"Mau pake kigurumi."
"Ok."
"Yang panda."
"Panda, got it."
Chenle mengambil kostum hitam putih itu dari lemari.
"Kamu pake dinosaurus."
"Jeno kamu kan tau aku suka kegerahan-"
"Please, Leee."
"Astaganaga ini hari apa sih kenapa kamu manja banget."
Chenle menggerutu namun tetap mengambil satu kostum berwarna dominan hijau dari sana.
"Hehehe, love you."
Jeno mengecup pipi Chenle sekilas sebelum bangkit dan masuk ke dalam kigurumi yang sudah dibuka kancingnya oleh Chenle. Dia kemudian langsung melompat ke atas kasur sambil menunggu Chenle berpakaian.
"Tidur, tidur."
Jeno menepuk-tepuk kasur di sebelahnya kemudian merentangkan tangannya lebar-lebar, yang langsung disambut Chenle dengan pelukan.
Mereka terdiam beberapa saat sampai Jeno memperbaiki posisi mereka, ndusel ke dalam pelukan Chenle.
"Makasih ya Le."
Teredam terdengar gumaman Jeno di dalam pelukan Chenle.
"Mhm, anything for you, Baobei."
Chenle mengecup puncak kepala Jeno yang tertutup kigurumi, kemudian mengeratkan pelukannya.
"Sekarang ayo tidur."
"Besok mau dibersihin sama kamu ya."
"Mhm," Chenle menggumam.
"Mau dimakan.."
"Nanti kamu telat kerja, kamu tiap abis dimakan gamau gerak satu jam."
"Yaudah pagian,"
"Yaudah lihat besok."
Chenle sudah sangat mengantuk dan tidak ingin berdebat dengan Jeno.
Lagi pula, apa salahnya menuruti permintaan suami tercinta?
•~•
