Actions

Work Header

mau mas juyeon

Summary:

Juyeon tidak sengaja mendengar anak dari asisten rumah tangganya mendesah sambil menyebutkan namanya. Ternyata si cantik naksir, ya?

Notes:

read the tags first, so, kalau tidak cocok jangan dilanjut. Kalau masih mau, selamat membaca :)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Juyeon tuh, nggak se clueless itu. Ia tau gelagat anak ART (asisten rumah tangga) yang mencuri pandang ke arahnya sejak Juyeon mendudukan diri di sofa ruang TV lima belas menit yang lalu. Juyeon sengaja mengabaikan dan pura-pura tidak menyadari keberadaannya, seperti biasa.

Iya, ini bukan untuk yang pertama kalinya. Sudah hampir tiga bulan keluarga Juyeon memutuskan untuk mengganti asisten rumah tangga. Seorang wanita paruh baya yang seringkali izin membawa anak semata wayangnya untuk ikut membantunya bekerja, dikarenakan masih menganggur di rumah setelah lulus kuliah. Tidak ada yang mempermasalahi, toh sang anak sangat rajin dan tidak macam-macam, tidak merugikan siapa-siapa. Malah menguntungkan. Anak itu pintar masak, juga gemar memberi makan ikan-ikan di kolam. Orang tua Juyeon sering membelikannya jajan, juga uang bonus karena ikut membantu.

Anak laki-laki berusia dua puluh satu tahun (dua tahun dibawah Juyeon). Perawakannya tinggi, walau tidak setinggi Juyeon. Wajahnya manis, mata bambinya cantik. Rambutnya ikal, berwarna coklat, halus. Senyumnya manis, pipinya gampang berubah menjadi merah muda ketika ia dipuji. Oh, iya, namanya Hyunjae.

Jarang sekali terjalin percakapan antar keduanya. Selain karena memang jam kerja membuat Juyeon tak begitu punya banyak waktu di rumah, Hyunjae juga terlalu pemalu. Setiap kali mereka berkontak mata, selalu Hyunjae yang memutuskannya lebih dulu. Setidaknya begitu untuk dua bulan pertama. Namun satu belakangan ini, Juyeon menyadari sesuatu. Anak itu seperti menunjukkan ketertarikan padanya. Juyeon sering merasa diperhatikan dari jauh, juga dari dekat. Ada waktu dimana mereka sedang mengobrol dan Hyunjae terus menatap ke arah bibirnya.

Juyeon menyadarinya, tentu saja. Mungkin karena.. ia juga memperhatikan Hyunjae. Hyunjae yang sering datang ke rumah setelah jam makan siang, lewat pintu belakang. Hyunjae yang sering membantunya membukakan pagar setiap ia pulang kerja, membuatkan pudding coklat untuk Juyeon jika sedang libur. Pakaiannya terkadang rapih, terkadang santai hanya memakai kaos polos dan celana pendek. Tanpa sadar, Juyeon mulai lebih sering berada di luar kamar jika ia sedang WFH ataupun libur. Ia lebih sering menghabiskan waktu di ruang TV, maupun sengaja sering berjalan bulak-balik ke dapur hanya sekedar untuk membuka kulkas, karena ia akan melewati di mana Hyunjae biasa duduk. Bisa dibilang, Juyeon sengaja agar Hyunjae bisa lebih memperhatikannya lagi, agar Hyunjae semakin tertarik kepadanya.

Puncaknya satu minggu yang lalu, saat Juyeon baru pulang kerja dan tidak sengaja mendengar suara aneh yang berasal dari kamar sempit itu ketika ia sedang lewat di depan pintu.

 

“Aahh, mas Juyeon— hmmmh mau mas Juyeon.”

 

Well, Juyeon sangat menyukai permainan ini. Mulai hari itu, Juyeon sengaja menarik perhatian si cantik sampai ia yang akan menangkapnya sendiri.


 

Juyeon tidak suka menunda-nunda terlalu lama. Maka keesokan harinya, saat rumah sedang sepi karena Ayah Bunda sudah berangkat kerja dan si Ibu (Juyeon memanggil ART nya dengan sebutan Ibu) kebetulan memiliki jadwal belanja bulanan ditemani pak supir, Juyeon melancarkan aksinya. Mengecek keberadaan Hyunjae di dalam rumah yang lumayan besar ini dan menemukan lelaki cantik itu sedang duduk di anak tangga paling bawah dekat dengan kamar si Ibu.

“Hyunjae,” panggil Juyeon seraya mendekat.

“Eh, mas, butuh sesuatu?” dari raut wajahnya sangat kentara bahwa Hyunjae terkejut, seperti baru saja melihat hantu. Tapi kalau dipikir-pikir, lebih seperti habis melihat pujaan hati. Lihat saja kedua pipinya yang mendadak berubah warna menjadi pink, juga bibir yang berkali-kali mencoba dibasahkan. “Mas WFH lagi ya?”

“Iya, butuh ngobrol sama kamu. Di situ bisa?” Juyeon menunjuk kamar.

 

 

 

 

“M-mas Juyeon? Kok pintunya dikunci?” Juyeon memberi tanda agar Hyunjae diam, menempelkan jari telunjuknya di bibir sembari memastikan sekali lagi bahwa pintu kamar tersebut sudah terkunci. Kemudian ia mendekat, membuat Hyunjae melangkah mundur dengan takut—entah benar takut atau ia hanya bingung.

“Mas, yang sopan ya. Aku bisa teriak.”

“Teriak aja, coba. Nggak ada siapa-siapa lagian.”

“Ma-mas,”


Bak mesin scanner, mata Juyeon menelisik Hyunjae dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sebelah bibirnya tertarik naik, merasa lucu melihat Hyunjae hari ini. Lelaki itu hanya memakai kaos putih polos, dipadukan dengan celana merah selutut. Hyunjae benar-benar terlihat seperti anak kecil, walau usianya sudah berkepala dua. Tapi, anak kecil mana yang ketahuan mendesahkan nama orang lain dengan begitu nikmatnya.

“Aku cuma mau kamu tunjukin gimana kamu main waktu itu, Hyunjae.”

“Ma-maksudnya?”

Juyeon mengejek dengan dengusan, tubuhnya semakin maju menghimpit Hyunjae sampai punggung si cantik mentok ke tembok. Tatapan matanya turun, berhenti pada bibir merah muda yang terbuka itu untuk beberapa detik.

“Mas Juyeon,”

“Ini,” telunjuknya di bawah ia letakkan tepat di depan labia Hyunjae yang masih tertutupi celana lengkap. Kemudian ia gerakan dengan halus mengikuti garis lipatannya yang mulai kerasa karena ia tekan. “Biasanya kamu apain kalo lagi bayangin aku?”


Kamar dengan tembok berwarna putih tulang ini sempit, karena memang dibuat hanya untuk kamar istirahat tidur siang sang ART. Kasur kecil yang cuma muat untuk satu orang, namun cukup empuk untuk ditiduri. Tidak ada AC, melainkan hanya kipas dinding yang saat ini sedang tidak menyala. Juga sebuah lemari dan meja kecil di pojok ruangan.

“M-mas Juyeonhhh..”

“Emangnya kamu pikir aku nggak denger, waktu itu kamu ngedesah bilang mau mas Juyeon?”

Hyunjae menggeleng kencang. Malu. Ia merasa semua ini hanya khayalannya, terlalu tidak mungkin untuk menjadi nyata. Bagaimana bisa, anak sang majikan yang selama ini selalu ia perhatikan dari jauh, kini sedang berlutut di atas kasur. Berlutut menghadap Hyunjae yang mengangkang lebar tanpa celana. Jari-jari Juyeon menari di atas kemaluannya, menekan klitoris dan bergerak asal tak menentu. Cairan precum Hyunjae ia ratakan, mengabaikan tubuh Hyunjae yang mengelinjang tanpa henti.

"Becek banget. Enak ya memeknya diteken-teken gini?”

Yang ditanya enggan menjawab, sibuk melenguh dan mengerang. Gatal, rasanya ia ingin Juyeon menggaruk vaginanya dengan jari-jari sialan itu. Gerakan Juyeon semakin tidak sopan, brutal dan berantakan. Dua jarinya menggoda dengan bermain di sekitar bibir vagina, Hyunjae sampai mengangkat pinggulnya dengan gemetar, sengaja agar jari Juyeon semakin menekan.

“Aku mau pipis ahhhh nggak kuat aku—“ ucapannya belum selesai ketika akhirnya ia memuncratkan cairan bening hingga mengotori lengan Juyeon, deras membasahi sprei kasur berwarna oranye itu. “Hahhh.. mas maaf, aku nggak sengaja..”

Sedangkan Juyeon hanya diam, disusul kekehan pelan setelahnya. He’s amazed, melihat Hyunjae squirting sebanyak itu… sexy as fuck.

Satu jari Juyeon meraba bibir vagina sebelum ia dorong masuk, mendapat respon berupa Hyunjae yang reflek hampir merapatkan kedua pahanya kalau saja tidak Juyeon tahan. Satu jari ditambahkan, membuat Hyunjae kelepasan menjerit. Kedua jari Juyeon tenggelam ditelan lubangnya yang hangat, dan Juyeon tidak bisa menahan untuk tidak mengacak isinya walau hanya dengan dua jari. Racauan Hyunjae tak karuan, bibir tipisnya terus mengeluarkan kalimat-kalimat yang semakin kurang ajar. Ahhhh mas, enak banget jari kamu. Mas Juyeon ahhhhh duh barusan jempol kamu nyentuh klitoris aku, teken lagii mmmhh. Sedangkan bibir Juyeon bermain di dadanya, puting merah muda yang mencuat itu ia hisap dan jilat dengan gerakan memutar. Menciptakan suara kecipak basah yang berasal dari dua sumber.

Belum sempat Hyunjae mencapai klimaks, Juyeon sudah mencabut kedua jarinya. Hyunjae ingin protes kalau saja ia tak melihat Juyeon yang terburu-buru melepas seluruh celananya, menampilkan batang penis yang sudah menegang sempurna akibat ereksi. Besar dan panjang, berurat. Cukup untuk membuat Hyunjae menganga tidak percaya. Yaa Hyunjae sudah membayangkan, sih, milik Juyeon pasti besar. Tapi tetap saja, diperlihatkan depan mata seperti ini membuat ia tak berkutik karena melampaui ekspetasi.

“Sampe nganga gitu. Kamu mau nggak memeknya dimasukin kontol?”

“Mau.” Jawaban cepat yang Hyunjae berikan lantas mengundang tawa keras.

“Mau apa? Coba jelasin.”

“Mau.. mau mas Juyeon.” Oh, rupanya sudah terbang entah kemana rasa malu Hyunjae yang sebelumnya masih ia pertahankan. Mungkin ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan hanya untuk mengikuti rasa malu. Belum tentu besok mendapat tawaran seperti ini lagi, kan?

“Iya mau mas Juyeon apain, ngomong.”

“Mau memek aku dimasukin kontol mas Juyeon..”

Juyeon tampakkan senyum miring, mulai mengurung tubuh Hyunjae di bawahnya. Ia sengaja menggesekan kepala penisnya di bibir Vagina yang sudah lengket dan menganga minta dimasuki. Digerakan ke atas dan ke bawah. “Sampe ancur nggak? Sampe susah jalan?”

“Ma-mau sampe hancur, sampe Hyunjae nggak bisa jalan.” Detik kemudian jeritan Hyunjae menyapa telinga Juyeon saat Juyeon mendorong pinggul hingga seluruh batang penisnya masuk tertelan lubang senggama Hyunjae. Ia memang tidak berniat pelan-pelan. Suara isakan yang berasal dari bibir si manis ia redam menggunakan bibirnya sendiri. Ia raup, ia kulum dengan rakus penuh nafsu sebelum kemudian ia jauhkan kembali wajahnya, tak mau melewati suara desahan serta erangan frustasi dari yang lebih muda.

Ah fuck— kamu sempit banget. Anjing, enak.”

“Mas ahhhh enak, mau sampe mentok,”

Dengan begitu pinggulnya mulai bergerak, maju mundur menghujam lubang Hyunjae tanpa ampun. Sempit, becek, hangat. Kepalanya pening, penisnya di bawah sana terasa dipijat nikmat. Apalagi mendengar desahan berat dari si cantik. Suara Hyunjae seribu kali jauh lebih baik dan merdu dibanding suara aktris film bokep di luar sana.

 

 

 

 

 

 

“Kamu udah pernah diewe siapa aja?” tanya Juyeon disela-sela genjotannya. Ia menatap wajah Hyunjae, menunggu jawaban. Sebelah tangannya membelai wajah si manis, mengelus daun telinganya yang menjadi salah satu titik sensitif Hyunjae. “Jawab, ini memeknya udah pernah dimasukin siapa aja?”

“T-temen aahhh, temen kuliah.”

“Berapa orang?”

“Dua— ahhh mmhh!”

Ada setitik rasa kecewa yang tidak ingin Juyeon akui. Tanpa sadar pinggulnya bergerak semakin kencang, menghajar Hyunjae habis-habisan sampai tubuh yang di bawah terhentak kuat. Hyunjae mengerang, mendesah kuat sambil mencakar bahu lelaki di atasnya.

Kamar ini tidak ber AC, menjadikan keduanya mandi keringat sebab tidak ada yang mau repot-repot menyalakan kipas angin terlebih dahulu. Di atas kasur yang sekecil ini, pergerumulan dua tubuh yang hampir sama besar itu membuat ujung sprei mulai tertarik dan terbuka, berantakan. Hawa kamar juga sudah bercampur keringat dan bau sperma.

Aahhhh, mas Juyeon…!” Butuh hanya delapan kali hentakan untuk Hyunjae mencapai klimaksnya lagi. Sedang Juyeon di atasnya masih bergerak, sebelum akhirnya lenguhan panjang ia keluarkan bersamaan dengan penis yang menembakkan sperma di dalam Hyunjae.

Ulangi, di dalam.

Ia sengaja, sengaja menancapkan penisnya dalam-dalam dan menumpahkan semuanya di sana. Nafasnya tak kalah memburu dengan Hyunjae, menatap tepat pada bola mata yang lebih muda. “Belum ancur kan? Masih bisa lagi?”

Hyunjae bisa apa selain mengangguk setuju? Belum hancur, masih sanggup menampung sperma yang lebih tua, “masih bisa, diisi sperma kamu sampe luber.” Menjawab begitu sama saja seperti setuju, memberi izin Juyeon untuk kembali bergerak, menghujam lubang kemaluannya tanpa ampun dengan nafsu yang masih saja memuncak tidak berkurang.

“Muka doang polos, keliatan kayak anak baik-baik. Tapi memeknya mau dibikin hancur.”

“Mas Juyeon juga, kelihatan begitu. Tapi anak ART sendiri ditidurin aahhhh sakit!”

Well, keduanya sama-sama benar. Not only bad guys can bring heaven to you.


 

 

 

Tin! Tin!

 

“Mas! Ibu aku udah balik, mas!”

Bola mata Hyunjae membelalak saat suara klakson mobil yang familiar terdengar, tanda sang Ibu sudah pulang dari belanja. Ia jelas tidak bisa membiarkan dirinya dan Juyeon kepergok sedang melakukan seks di kamar tempat istirahat ibunya ini. Juyeon belum berhenti, masih berusaha mencari nikmat. Padahal spermanya sudah tumpah kemana-mana, merembes dari vagina Hyunjae yang sudah tidak sanggup menampung lagi. Banjir, bocor. Namun Juyeon masih setia menggenjot penisnya di dalam sana, membuat yang di bawah menangis tanpa suara.

Hyunjae sudah tidak punya banyak tenaga untuk mendorong tubuh Juyeon, pasrah menerima segala nikmat yang ia rasakan. Sudah berkali-kali mencapai klimaks, ia terkejut sendiri karena ternyata masih bisa mengeluarkan sperma. Hangat cairan Juyeon di dalamnya merembes keluar, pahanya pegal dan pinggul rasanya ingin rontok.

“Mas.. nanti ketahuan Ibu..”

“Sebentar, aku hampir crot lagi.”

Setelah berhasil mencapai klimaks yang kesekian kalinya, Juyeon menarik penisnya sampai sepenuhnya tercabut. Ringisan dari keduanya terdengar. Ada rasa puas yang membuncah ketika Juyeon melihat bagaimana bentuk kemaluan Hyunjae yang berantakan. Warnanya jelas memerah, bengkak, penuh cairan putih menutupi. Berkedut tidak berhenti, membuat Juyeon mati-matian menahan untuk tidak menyentuhnya lagi.

“Mau liat nggak bentuk memek kamu sekarang?” jawabannya dibalas gelengan, Hyunjae perlahan menduduki diri, meringis keras saat dirasakan perih. Juyeon gila. Namun dirinya juga sama gila.

Hyunjae sudah tidak tau bagaimana cara merapihkan kekacauan ini. Kamar istirahat sang Ibu sudah seperti kamar-kamar sewaan di club yang memang hanya dipakai untuk bersetubuh. Spreinya sudah terlepas, cairan sperma dimana-mana. Untung saja ranjangnya bukan terbuat dari kayu, atau dipastikan sudah roboh.

Walaupun sang Ibu tidak mungkin langsung masuk ke kamar ini, tetap saja memikirkannya sudah membuat ia pusing duluan. Matanya melirik Juyeon yang kini memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai untuk ia pakai lagi menutupi tubuh. Lelaki yang lebih tua itu membalas lirikan Hyunjae, memberikan senyuman tipis yang mungkin tidak dapat diterima oleh mata Hyunjae.

“Kamu bangun, beres-beres. Itu kakinya jangan ngangkang aja, memek dowernya diliatin kemana-mana.”

“Ish, mas Juyeon jorok.”

“Ya lagian. Bisa bangun nggak? Ayo pake baju terus ganti sprei nya.”

“Mas Juyeon mau kemana?”

Sebelah alisnya terangkat, “keluar lah.” Ada helaan nafas kecewa dari Hyunjae mendengar jawaban santainya. Namun Juyeon melanjutkan, “aku tahan Ibu biar nggak ke sini, mau aku minta tolong gorengin ikan dan lain-lain. Kamu pelan-pelan aja beresinnya.”

Dengan begitu, Juyeon mengecek pakaiannya sekali lagi sebelum akhirnya membuka pintu dan buru-buru menutupnya dari luar. Meninggalkan Hyunjae dengan wajah merah bak kepiting rebus, menunduk ke bawah dan meringis melihat bekas kelakuan bringas Juyeon pada dirinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Hyunjae gila. Emang boleh se naksir ini sama anak majikan lu sendiri? Noh baju lu semua baju shopee non-mall, dia kaos aja Versace.”

Tidak ada yang tau bagaimana dengan besok. Apakah Juyeon akan berlagak seperti tidak pernah terjadi apapun pada mereka, atau malah Juyeon akan menghindarinya lebih parah lagi. Seperti tidak kenal, seperti tidak melihat.

 

Notes:

and eum.. thank you so much for reading this jorok fic sampai selesai. Hope y’all have a pleasant day errday.